IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (1)

Senin 21 Mei 2018 16:0 WIB
Share:
Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (1)
Dalam sebuah hadits yang cukup panjang di mana Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya perihal islam, iman, dan ihsan, beliau menuturkan tentang ihsan sebagai berikut:

أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Artinya: “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR Muslim)

Imam Nawawi dalam menjelaskan definisi ihsan tersebut menuturkan bahwa bila seseorang di dalam ibadahnya mampu melihat secara nyata Tuhannya maka sebisa mungkin ia tidak akan meninggalkan sedikit pun sikap khusyuk dan khudlu’ (merendah diri) di dalam ibadahnya tersebut (Imam Nawawi, al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim ibnil Hajjâj, Kairo: Darul Ghad Al-Jadid, 2007, jilid I, juz 1, halaman 161).

Untuk menggambarkan bagaimana seseorang berlaku ihsan sesuai definisi di atas bisa dibuat satu ilustrasi sebagai berikut.

Anda datang menemui seorang pejabat penting di kota Anda, katakanlah ia seorang walikota. Anda dipersilakan duduk di kursi tamu persis berhadapan dengan tempat duduknya sang walikota. Ketika Anda berbincang dengannya, akankah di hadapan seorang walikota Anda bersikap tak semestinya, seperti mengangkat satu kaki di atas kaki yang lain, mengumbar pandangan mata ke segenap penjuru ruangan atau perilaku tak layak lainnya?

Kiranya kita sepakat untuk tidak melakukan perlaku-perilaku demikian di hadapan seorang walikota. Yang akan kita lakukan adalah duduk dengan tenang, sopan, dan berbicara dengannya penuh penghormatan.

Atau, ketika Anda telah duduk di ruang tamu namun sang walikota belum juga menemui Anda. Hanya saja Anda tahu bahwa di setiap pojok ruangan terdapat seperangkat CCTV di mana dari bagian dalam sang walikota bisa mengetahui gerak gerik Anda melalui layar monitor. Dalam kondisi seperti itu akankah Anda akan berperilaku tak layak di ruang tamu tersebut? 

Pun kiranya kita sepakat untuk tetap berperilaku tenang dan sopan, karena meskipun sang walikota tidak ada di hadapan kita namun ia bisa melihat perilaku kita melalui CCTV yang ada.

Barangkali demikian makna ihsan yang hendak diajarkan oleh Rasulullah kepada umatnya. Saat kita menyembah Allah kita mesti menghadirkan Allah di depan kita dan merasa bahwa kita sedang berhadap-hadapan dengan-Nya. Dengan demikian maka ketika seseorang sedang melakukan peribadatan kepada-Nya ia tak akan berani melakukan tindakan-tindakan yang tak semestinya dilakukan di hadapan Allah ta’ala. Yang akan dilakukan adalah bagaimana sebisa mungkin ibadah yang sedang dilakukannya terlaksana dengan baik dan sempurna, khusyuk dan khudlu’.

Orang yang berihsan dalam beribadah akan berpenampilan sebaik mungkin karena ia merasa sedang berhadapan langsung dengan Tuhan yang disembahnya. Ia gunakan pakaian terbaiknya, dengan wewangian, rambut tersisir rapi, tanpa ada kotoran yang menempel di badannya, dan sebagainya. Hal ini pula yang akan ia lakukan dalam beribadah meski ia tak benar-benar melihat Tuhannya, karena ia merasa selalu dilihat oleh-Nya.

Lebih jauh dari itu berperilaku ihsan bukan saja ketika seseorang sedang melakukan aktivitas peribadatan kepada Allah. Kalimat an ta’buda (engkau menyembah) pada hadits di atas bisa dipahami secara luas dari makna kata ta’buda. Kata ini berasal dari kata ‘abdun yang berarti budak atau hamba sahaya. Dari arti dasar kata ini maka kalimat an ta’buda Allah pada hadits di atas bisa diartikan sebagai engkau menjadi budak atau hamba sahayanya Allah atau engkau menghambakan diri kepada Allah.

Bila demikian adanya maka ihsan dalam hadits di atas dapat didefinisikan sebagai “engkau menjadi hamba sahayanya Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Ia selalu melihatmu.”

Satu pertanyaan mendasar, di waktu kapan dan di tempat mana kita menjadi hambanya Allah? Apakah ketika sedang shalat, membaca Al-Qur’an, berpuasa atau ketika sedang melakukan aktivitas ibadah mahdlah lainnya saja? Apakah seseorang menjadi hambanya Allah ketika ia sedang berada di masjid dan mushalla saja?

Bila seseorang menjadi hamba Allah ketika melakukan aktifitas ibadah tertentu saja, maka menjadi hambanya siapakah ketika ia sedang tidak beribadah? Bila seseorang menjadi hambanya Allah ketika ia sedang berada di masjid dan mushalla saja, maka menjadi hambanya siapa ketika ia sedang berada di pasar, kantor, jalanan dan tempat lainnya?

Tidak demikian tentunya. Kapanpun dan di manapun, sedang diam atau bergerak, sedang beraktifitas ibadah atau lainnya seseorang selalu menjadi hambanya Allah. Tak sedetikpun waktu berlalu kecuali setiap orang menyandang status sebagai abdullah, hamba Allah.

Dalam kondisi demikian ini perilaku ihsan dituntut untuk dilakukan. 

Dengan berihsan seorang yang sedang mengendarai sepeda motor misalnya, tak akan pernah ugal-ugalan karena ia merasa malu sedang dilihat oleh Allah. Seorang pedagang tak akan berbuat curang pada dagangannya karena merasa selalu diperhatikan oleh Allah. Seorang pegawai tak akan melakukan perilaku curang dan korup karena ia sadar sebagai hamba Allah tak pernah luput dari pengawasan-Nya. Seorang atasan tak akan pernah bertindak sewenang-wenang kepada bawahannya karena ia merasa sedang berada di hadapan Allah. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Dengan berihsan di manapun seorang hamba berada tak akan pernah mampu berlaku menyimpang, curang, zalim, menyalahi aturan dan perilaku negatif lainnya karena ia merasa di manapun selalu dalam pengawasan Allah.

Dengan berihsan seseorang tak akan pernah berbuat sewenang-wenang kepada orang lain, siapapun itu, mengingat Allah selalu mengawasinya. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Tags:
Share:
Ahad 20 Mei 2018 18:30 WIB
Etika Meludah dalam Islam
Etika Meludah dalam Islam
Islam adalah agama yang sangat indah. Semua lini kehidupan diatur sedemikian rupa. Mulai ibadah primer maupun sekunder, masing-masing diatur. Termasuk di antaranya adab meludah maupun berdahak. 

Abdullah bin Umar pernah bercerita, satu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat ada air ludah pada sisi arah kiblat dalam sebuah masjid. Rasulullah pun mengambil kayu atau tongkat, kemudian mengerok tempat ludahan tersebut lalu beliau bersabda: 

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَبْصُقْ فِي قِبْلَتِهِ فَإِنَّمَا يُنَاجِي رَبَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

Artinya: “Jika salah satu dari kalian shalat, hendaknya tidak meludah ke arah kiblat. Sebab orang yang shalat adalah orang yang sedang bermunajat kepada Allah tabâraka wa ta’âla.” (Musnad Ahmad: 4645)

Dengan sikap Baginda Nabi yang hanya mengerok liur saja tanpa menyucikan dengan air sebagaimana di atas, al-Khatthâbi dalam Ma’âlimus Sunan juz 1, halaman 144 menyatakan, air liur itu suci. Pendapat ini senada dengan perkataan para ulama kecuali Ibrahim an-Nakhai yang berpendapat najis.

Pesan Rasulullah yang perlu digarisbawahi, adab meludah ketika shalat tidak boleh ke arah kiblat. Selain ke arah kiblat, masih bisa ditoleransi, asalkan shalatnya tidak di dalam masjid. Jika shalat di masjid dan menyebabkan kotor, dalam syarah al-Muhadzab dikatakan, ini haram. Apabila ingin meludah, hendaknya meludah ke arah pakaian yang dikenakan semisal pada bagian kerah baju yang kiri.

Dalam satu hadits riwayat Abu Hurairah diceritakan, Rasulullah pernah berpesan untuk orang yang shalat, kalau mau meludah hendaknya menghindari arah kiblat, karena ia sedang bermunajat kepada Allah. Sedangkan ke arah kanan perlu dihindari sebab ada malaikat (pencatat amal kebaikan) di sana. 

Lalu bagaimana adab meludah jika berada di luar shalat? 

Imam Syihabuddin al-Qalyubi dan Umairah dalam Hâsyiyatan menjelaskan adab meludah di luar shalat sebagai berikut:

وَيُكْرَهُ الْبُصَاقُ خَارِجَ الصَّلَاةِ، قِبَلَ وَجْهِهِ مُطْلَقًا وَلِجِهَةِ الْقِبْلَةِ، وَجِهَةِ يَمِينِهِ أَيْضًا

Artinya: “Dimakruhkan meludah di luar shalat menuju arah depannya sendiri secara mutlak, ke arah kiblat dan ke arah kanan.” (Syihabuddin Ahmad al-Qalyubi dan Umairah, Hâsyiyatân, Alepo, 1956 M / 1375 H, juz 1, halaman 194) 

Selain itu, masih dalam kitab yang sama disebutkan, hokum meludah lalu mengenai benda milik orang lain adalah haram. 

يَحْرُمُ الْبُصَاقُ إذَا اتَّصَلَ بِغَيْرِ مِلْكِهِ

Artinya: “Haram meludah jika mengenai benda yang bukan miliknya.” (Syihabuddin Ahmad al-Qalyubi dan Umairah, Hâsyiyatân, Alepo, 1956 M / 1375 H, juz 1, halaman 194)

Dengan demikian, dapat disimpulkan, adabmeludahjika dalam shalat makruh ke arah kiblat dan kanan. Adapun di luar shalat, makruh meludah ke arah depan, kiblat, dan kanan. Sedangkan meludah yang mengotori masjid atau mengenai benda milik orang lain hukumnya haram. Wallahua’lam. (Ahmad Mundzir)

Selasa 8 Mei 2018 6:0 WIB
Etika Sedekah Setiap Saat
Etika Sedekah Setiap Saat
Sedekah merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ada banyak dalil dalam Al-Qur’an dan hadits yang menunjukkan keutamaan ini. Di antaranya adalah firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 195:

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  

Artinya, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri  dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk selalu berbuat baik dan menginfakkan harta yang dimiliki di jalan Allah atau untuk kebaikan.

Sedekah adalah salah satu cara untuk berbuat baik. Selain mendapatkan pahala, sedekah sangat membantu orang-orang yang sedang kesulitan dan butuh pertolongan.

Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu‘in menganjurkan agar sedekah setiap saat, walaupun sedikit. Ia mengatakan:

وينبغي للراغب في الخير أن لا يخلي كل يوم من الأيام من الصدقة بما تيسر وإن قل وإعطاؤها سرا أفضل منه جهرا

Artinya, “Orang yang ingin berbuat baik seharusnya tidak melewatkan kesempatan bersedekah setiap hari semampunya, meskipun sedikit. Bersedekah dengan diam-diam lebih baik daripada memperlihatkannya.”

Perintah sedekah tidak dikhususkan bagi orang yang kaya saja. Orang yang miskin pun bisa bersedekah. Menurut penjelasan di atas, sedekah dianjurkan setiap saat, minimal satu kali sehari. Tidak ada aturan berapa banyak harta yang disedekahkan. Walaupun sedikit jumlahnya, kalau diberikan dengan ikhlas, Allah akan membalasnya.

Orang yang bersedekah dianjurkan memberikan sedekahnya dalam keadaan diam-diam. Maksudnya tidak perlu mengumumkan ke orang lain kalau kita sudah bersedekah. Karena itu nanti bisa menghapus pahala sedekah kita, bila di dalam hati ada unsur riya.

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah mengatakan bahwa ada tujuh kelompok yang akan mendapatkan naungan di hari akhirat kelak. Salah satunya:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْننُهُ

Artinya, “Orang yang sedekah dan menyembunyikannya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang sudah disedekahkan  tangan kanannya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sedekah sangat dianjurkan. Tapi jangan sampai sedekah yang kita keluarkan tidak mendapatkan pahala lantaran pamer dan dilihat orang lain. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)
Jumat 4 Mei 2018 19:30 WIB
Ketika Hubbud Dunia Tertancap di Hati Menurut Ibnu Athaillah
Ketika Hubbud Dunia Tertancap di Hati Menurut Ibnu Athaillah
(Foto: ss.lv)
Hati adalah salah satu ruang penting dalam kehidupan manusia. Bahkan fungsi ruang ini sangat menentukan warna hidup keseharian mereka. Pertikaian atau peperangan antarnegara, antarakelompok, atau antarfaksi politik berangkat dari keruhnya hati manusia yang penuh dengan dunia.

Pentingnya ruang ini digambarkan oleh Syekh Ibnu Athaillah. Menurutnya, ruang ini dibersihkan sedapat mungkin dari hubbud dunia yang mengantarkan manusia ke aneka jalan celaka.

تمكن حلاوة الهوى من القلب هو الداء العضال

Artinya, “Kedudukan kenikmatan hawa nafsu di hati adalah penyakit kronis.”

Hati adalah ruang kosong yang bisa diisi apa saja. Tetapi orang beriman sebaiknya mewarnai hati dengan keimanan, makrifat, dan keyakinan. Hal ini disampaikan oleh Syekh Ibnu Abbad dalam Ghayatul Mawahibil Aliyah fi Syarhil Hikam Al-Athaiyyah yang kami kutip berikut ini:

القلب محل الإيمان والمعرفة واليقين

Artinya, “Hati adalah tempat keimanan, makrifat, dan keyakinan,” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Ghayatul Mawahibil Aliyah fi Syarhil Hikam Al-Athaiyyah, [Semarang, Thaha Putra: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 35).

Hanya saja ketika hati telah mengalami penyakit kronis berupa hubbud dunia, maka keimanan, makrifat, dan keyakinan tidak mendapat tempat di dalamnya. Bahkan semua itu tidak bisa memulihkan hati yang menderita sakit hubbud dunia itu sebagai keterangan Syekh Syarqawi berikut ini:

تمكن حلاوة الهوى) الهوى ميل النفس والمراد به المهوي وهو الشهوات أي تمكن حب شهوات الدنيا (من القلب هو الداء العضال) أي الذي لا تنفع فيه الحيل والأسباب والأدوية كالإيمان والمعرفة فإن الداء إذا تمكن من القلب لم يبق للدواء محل فلذا أعضل أمره وتعذر برؤه فلا يفيد فيه إلا وارد إلهي

Artinya, “(Kedudukan kenikmatan hawa nafsu) hawa adalah kecenderungan nafsu. Kecenderungan yang dimaksud adalah sesuatu yang diinginkan. Itu tidak lain adalah syahwat. Dengan kata lain, kedudukan hubbud dunia yang menggiurkan (di hati adalah penyakit kronis) yang mana segala upaya, sebab, dan aneka “obat” baik itu iman maupun makrifat, tidak bermanfaat. Pasalnya, ketika penyakit tertancap kuat di hati, maka tiada lagi tempat bagi obat di dalamnya dan karenanya penyakit menjadi kronis dan sulit sembuh. Dalam kondisi seperti ini, apapun tidak akan bermanfaat kecuali pertolongan ilahi (apapun bentuknya),” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, [Semarang, Thaha Putra: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 35).

Orang yang batinnya mengalami sakit kronis akan tenggelam dalam hubbud dunia. Ia tidak pernah puas dengan apapun di dunia ini. Bahayanya, orang yang tengah mabuk dunia ini akan mengejar bayang-bayang dunia dengan jalan kehinaan dan jalan yang merusak sekalipun. Satu orang yang mengalami sakit  kronis ini berdampak pada dunia yang luas.

Nasihat apapun tidak akan menyadarkannya. Hanya kondisi khas yang mencekam dan menakutkan orang ini dapat mengembalikannya ke jalan Allah. Hal lain yang memaksanya pulang ke jalan Allah adalah suasana tertentu yang membuatnya rindu kepada-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)