IMG-LOGO
Tasawuf/Akhlak

Etika Meludah dalam Islam

Ahad 20 Mei 2018 18:30 WIB
Share:
Etika Meludah dalam Islam
Islam adalah agama yang sangat indah. Semua lini kehidupan diatur sedemikian rupa. Mulai ibadah primer maupun sekunder, masing-masing diatur. Termasuk di antaranya adab meludah maupun berdahak. 

Abdullah bin Umar pernah bercerita, satu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat ada air ludah pada sisi arah kiblat dalam sebuah masjid. Rasulullah pun mengambil kayu atau tongkat, kemudian mengerok tempat ludahan tersebut lalu beliau bersabda: 

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَبْصُقْ فِي قِبْلَتِهِ فَإِنَّمَا يُنَاجِي رَبَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

Artinya: “Jika salah satu dari kalian shalat, hendaknya tidak meludah ke arah kiblat. Sebab orang yang shalat adalah orang yang sedang bermunajat kepada Allah tabâraka wa ta’âla.” (Musnad Ahmad: 4645)

Dengan sikap Baginda Nabi yang hanya mengerok liur saja tanpa menyucikan dengan air sebagaimana di atas, al-Khatthâbi dalam Ma’âlimus Sunan juz 1, halaman 144 menyatakan, air liur itu suci. Pendapat ini senada dengan perkataan para ulama kecuali Ibrahim an-Nakhai yang berpendapat najis.

Pesan Rasulullah yang perlu digarisbawahi, adab meludah ketika shalat tidak boleh ke arah kiblat. Selain ke arah kiblat, masih bisa ditoleransi, asalkan shalatnya tidak di dalam masjid. Jika shalat di masjid dan menyebabkan kotor, dalam syarah al-Muhadzab dikatakan, ini haram. Apabila ingin meludah, hendaknya meludah ke arah pakaian yang dikenakan semisal pada bagian kerah baju yang kiri.

Dalam satu hadits riwayat Abu Hurairah diceritakan, Rasulullah pernah berpesan untuk orang yang shalat, kalau mau meludah hendaknya menghindari arah kiblat, karena ia sedang bermunajat kepada Allah. Sedangkan ke arah kanan perlu dihindari sebab ada malaikat (pencatat amal kebaikan) di sana. 

Lalu bagaimana adab meludah jika berada di luar shalat? 

Imam Syihabuddin al-Qalyubi dan Umairah dalam Hâsyiyatan menjelaskan adab meludah di luar shalat sebagai berikut:

وَيُكْرَهُ الْبُصَاقُ خَارِجَ الصَّلَاةِ، قِبَلَ وَجْهِهِ مُطْلَقًا وَلِجِهَةِ الْقِبْلَةِ، وَجِهَةِ يَمِينِهِ أَيْضًا

Artinya: “Dimakruhkan meludah di luar shalat menuju arah depannya sendiri secara mutlak, ke arah kiblat dan ke arah kanan.” (Syihabuddin Ahmad al-Qalyubi dan Umairah, Hâsyiyatân, Alepo, 1956 M / 1375 H, juz 1, halaman 194) 

Selain itu, masih dalam kitab yang sama disebutkan, hokum meludah lalu mengenai benda milik orang lain adalah haram. 

يَحْرُمُ الْبُصَاقُ إذَا اتَّصَلَ بِغَيْرِ مِلْكِهِ

Artinya: “Haram meludah jika mengenai benda yang bukan miliknya.” (Syihabuddin Ahmad al-Qalyubi dan Umairah, Hâsyiyatân, Alepo, 1956 M / 1375 H, juz 1, halaman 194)

Dengan demikian, dapat disimpulkan, adabmeludahjika dalam shalat makruh ke arah kiblat dan kanan. Adapun di luar shalat, makruh meludah ke arah depan, kiblat, dan kanan. Sedangkan meludah yang mengotori masjid atau mengenai benda milik orang lain hukumnya haram. Wallahua’lam. (Ahmad Mundzir)

Tags:
Share:
Selasa 8 Mei 2018 6:0 WIB
Etika Sedekah Setiap Saat
Etika Sedekah Setiap Saat
Sedekah merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ada banyak dalil dalam Al-Qur’an dan hadits yang menunjukkan keutamaan ini. Di antaranya adalah firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 195:

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  

Artinya, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri  dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk selalu berbuat baik dan menginfakkan harta yang dimiliki di jalan Allah atau untuk kebaikan.

Sedekah adalah salah satu cara untuk berbuat baik. Selain mendapatkan pahala, sedekah sangat membantu orang-orang yang sedang kesulitan dan butuh pertolongan.

Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu‘in menganjurkan agar sedekah setiap saat, walaupun sedikit. Ia mengatakan:

وينبغي للراغب في الخير أن لا يخلي كل يوم من الأيام من الصدقة بما تيسر وإن قل وإعطاؤها سرا أفضل منه جهرا

Artinya, “Orang yang ingin berbuat baik seharusnya tidak melewatkan kesempatan bersedekah setiap hari semampunya, meskipun sedikit. Bersedekah dengan diam-diam lebih baik daripada memperlihatkannya.”

Perintah sedekah tidak dikhususkan bagi orang yang kaya saja. Orang yang miskin pun bisa bersedekah. Menurut penjelasan di atas, sedekah dianjurkan setiap saat, minimal satu kali sehari. Tidak ada aturan berapa banyak harta yang disedekahkan. Walaupun sedikit jumlahnya, kalau diberikan dengan ikhlas, Allah akan membalasnya.

Orang yang bersedekah dianjurkan memberikan sedekahnya dalam keadaan diam-diam. Maksudnya tidak perlu mengumumkan ke orang lain kalau kita sudah bersedekah. Karena itu nanti bisa menghapus pahala sedekah kita, bila di dalam hati ada unsur riya.

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah mengatakan bahwa ada tujuh kelompok yang akan mendapatkan naungan di hari akhirat kelak. Salah satunya:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْننُهُ

Artinya, “Orang yang sedekah dan menyembunyikannya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang sudah disedekahkan  tangan kanannya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sedekah sangat dianjurkan. Tapi jangan sampai sedekah yang kita keluarkan tidak mendapatkan pahala lantaran pamer dan dilihat orang lain. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)
Jumat 4 Mei 2018 19:30 WIB
Ketika Hubbud Dunia Tertancap di Hati Menurut Ibnu Athaillah
Ketika Hubbud Dunia Tertancap di Hati Menurut Ibnu Athaillah
(Foto: ss.lv)
Hati adalah salah satu ruang penting dalam kehidupan manusia. Bahkan fungsi ruang ini sangat menentukan warna hidup keseharian mereka. Pertikaian atau peperangan antarnegara, antarakelompok, atau antarfaksi politik berangkat dari keruhnya hati manusia yang penuh dengan dunia.

Pentingnya ruang ini digambarkan oleh Syekh Ibnu Athaillah. Menurutnya, ruang ini dibersihkan sedapat mungkin dari hubbud dunia yang mengantarkan manusia ke aneka jalan celaka.

تمكن حلاوة الهوى من القلب هو الداء العضال

Artinya, “Kedudukan kenikmatan hawa nafsu di hati adalah penyakit kronis.”

Hati adalah ruang kosong yang bisa diisi apa saja. Tetapi orang beriman sebaiknya mewarnai hati dengan keimanan, makrifat, dan keyakinan. Hal ini disampaikan oleh Syekh Ibnu Abbad dalam Ghayatul Mawahibil Aliyah fi Syarhil Hikam Al-Athaiyyah yang kami kutip berikut ini:

القلب محل الإيمان والمعرفة واليقين

Artinya, “Hati adalah tempat keimanan, makrifat, dan keyakinan,” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Ghayatul Mawahibil Aliyah fi Syarhil Hikam Al-Athaiyyah, [Semarang, Thaha Putra: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 35).

Hanya saja ketika hati telah mengalami penyakit kronis berupa hubbud dunia, maka keimanan, makrifat, dan keyakinan tidak mendapat tempat di dalamnya. Bahkan semua itu tidak bisa memulihkan hati yang menderita sakit hubbud dunia itu sebagai keterangan Syekh Syarqawi berikut ini:

تمكن حلاوة الهوى) الهوى ميل النفس والمراد به المهوي وهو الشهوات أي تمكن حب شهوات الدنيا (من القلب هو الداء العضال) أي الذي لا تنفع فيه الحيل والأسباب والأدوية كالإيمان والمعرفة فإن الداء إذا تمكن من القلب لم يبق للدواء محل فلذا أعضل أمره وتعذر برؤه فلا يفيد فيه إلا وارد إلهي

Artinya, “(Kedudukan kenikmatan hawa nafsu) hawa adalah kecenderungan nafsu. Kecenderungan yang dimaksud adalah sesuatu yang diinginkan. Itu tidak lain adalah syahwat. Dengan kata lain, kedudukan hubbud dunia yang menggiurkan (di hati adalah penyakit kronis) yang mana segala upaya, sebab, dan aneka “obat” baik itu iman maupun makrifat, tidak bermanfaat. Pasalnya, ketika penyakit tertancap kuat di hati, maka tiada lagi tempat bagi obat di dalamnya dan karenanya penyakit menjadi kronis dan sulit sembuh. Dalam kondisi seperti ini, apapun tidak akan bermanfaat kecuali pertolongan ilahi (apapun bentuknya),” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, [Semarang, Thaha Putra: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 35).

Orang yang batinnya mengalami sakit kronis akan tenggelam dalam hubbud dunia. Ia tidak pernah puas dengan apapun di dunia ini. Bahayanya, orang yang tengah mabuk dunia ini akan mengejar bayang-bayang dunia dengan jalan kehinaan dan jalan yang merusak sekalipun. Satu orang yang mengalami sakit  kronis ini berdampak pada dunia yang luas.

Nasihat apapun tidak akan menyadarkannya. Hanya kondisi khas yang mencekam dan menakutkan orang ini dapat mengembalikannya ke jalan Allah. Hal lain yang memaksanya pulang ke jalan Allah adalah suasana tertentu yang membuatnya rindu kepada-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 30 April 2018 23:30 WIB
AL-HIKAM
Ini Hakikat Anugerah Allah Menurut Ibnu Athaillah
Ini Hakikat Anugerah Allah Menurut Ibnu Athaillah
(Foto: pixabay)
Pemberian manusia sambil melupakan Allah hakikatnya adalah terluput dari pemberian itu sendiri. Lupa terhadap Allah di tengah pemberian manusia dapat menutup pandangan penerima anugerah itu.

Hal ini diisyaratkan oleh Syekh Ibnu Athaillah sebagai berikut:

العطاء من الخلق حرمان والمنع من الله إحسان

Artinya, “Pemberian makhluk hakikatnya terluput. Sedangkan penangguhan dari Allah adalah kebaikan.”

Yang tidak boleh dilupakan saat menerima pemberian manusia adalah mengingat siapa sejatinya yang melakukan pemberian di balik itu. Hal ini dimaksudkan agar penerima tidak tertutup dari makrifat yang begitu kaya.

Orang yang melupakan Allah di balik pemberian manusia–tanpa mengabaikan anjuran berterima kasih terhadap manusia–sama saja menetapkan kepemilikan manusia yang sejatinya tidak memiliki apapun. Orang seperti ini bisa jadi jatuh ke lembah syirik yang sangat halus sebagai keterangan Al-Iqshara’i berikut ini:

شهود نسبة العطاء منهم مثبت للملك لهم بعد إثبات وجودهم فبذلك يحصل حرمان شهود وحدة وجود الحق ووحدة ملكه ووحدة فعله في العطاء

Artinya, “Memandang hubungan sebuah pemberian dari manusia sama saja menetapkan kepemilikan mereka dengan menetapkan kehadiran mereka. Dengan demikian memandang keesaan wujud Allah, keesaan kuasa, dan perbuatan-Nya dalam pemberian menjadi luput,” (Lihat Syekh Al-Iqshara’i, Ihkamul Hikam, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2008 M/1429 H], cetakan pertama, halaman 74).

Sebaliknya, penangguhan Allah atas permohonan seseorang bisa jadi adalah sebuah kebaikan. Dengan penangguhan itu, seseorang bisa menyadari bahwa segala sesuatu baik itu pemberian maupun penangguhan terletak di tangan Allah. Allah memiliki kuasa atas segalanya sebegai keterangan Al-Iqshara’i berikut ini:

وشهود المنع من الله إحسان لاقتضائه توحد الفعل له والملك في الوجود المعطى حال المنع ليشهده الصديق من أهل العرفان فهو آية تعطى في كل حال

Artinya, “Memandang penangguhan dari Allah adalah sebuah kebaikan karena meniscayakan keesaan perbuatan-Nya dan kepemilikan zat anugerah itu ketika penangguhan agar ahli makrifat dapat menyaksikannya. Penangguhan itu merupakan tanda yang diberikan pada setiap hal,” (Lihat Syekh Iqshara’i, Ihkamul Hikam, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2008 M/1429 H], cetakan pertama, halaman 74).

Dari sini dapat dipahami bahwa penangguhan dan pemberian itu hanya gejala saja. Yang paling penting dari semua itu adalah kondisi terjaga bahwa Allah hadir di balik pemberian dan penangguhan Allah. Di sini hakikat tauhid di dalam memandang realitas. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)