IMG-LOGO
Ramadhan

Mengapa Jumlah Rakaat Tarawih Berbeda-beda? Ini Penjelasannya

Selasa 7 Mei 2019 20:15 WIB
Share:
Mengapa Jumlah Rakaat Tarawih Berbeda-beda? Ini Penjelasannya
Ilustrasi (via Pinterest)
Salah satu perdebatan yang muncul tiap bulan Ramadhan adalah polemik jumlah rakaat shalat Tarawih. Di Indonesia, setidaknya ada dua kubu soal tarawih ini: kalangan yang shalat tarawih 8 rakaat, dan kalangan yang tarawih 20 rakaat. Tentu hal ini mudah kita dapati.

Mulanya pemahaman akan adanya shalat tarawih di bulan Ramadhan ini adalah bentuk riil dari hadits Nabi: 

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa bangun (shalat malam) di bulan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Istilah tarawih sendiri belum ada pada masa Nabi. Nabi hanya mencontohkan shalat malam yang beliau lakukan selama Ramadhan. Baru belakangan di masa Khalifah Umar bin Khattab, shalat di malam hari Ramadhan ini disebut tarawih, dan mulai diselenggarakan secara berjamaah.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, disebutkan Nabi shalat di masjid Nabawi pada suatu malam Ramadhan. Para sahabat yang tahu lantas mengikutinya. Seiring waktu semakin banyak yang mengikuti aktivitas Nabi ini. 

Dua malam setelahnya, Nabi masih melakukan shalat tersebut, dan semakin banyak yang mengikuti. Namun setelah hari keempat dan beberapa hari setelahnya, Nabi tidak muncul di masjid. Orang-orang heran. Pada suatu pagi, para sahabat menanyakan hal ini kepada Nabi. Nabi menjawab, “Sebenarnya tidak ada yang menghambatku untuk turut serta bersama kalian. Hanya saja aku takut nanti hal ini akan menjadi wajib.”

Beberapa mazhab fiqih pada dasarnya tidak banyak berbeda tentang pendapat seputar jumlah rakaat tarawih. Sebagaimana disebutkan Ibnu Rusyd dalam Bidâyatul Mujtahid, beda jumlah ini adalah soal afdhaliyah saja. Imam Malik bin Anas pada salah satu pendapatnya, kemudian Imam Abu Hanifah, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan begitu pula Dawud azh Zhahiri, memilih untuk tarawih dengan 20 rakaat. Ada juga pendapat yang menyatakan tarawih itu sejumlah 36 rakaat, meski tidak populer.

Imam Ibnu Qudamah mencatat dalam al-Mughni bahwa sebab perbedaan ini adalah dasar hadits dan riwayat sahabat yang digunakan. Imam Malik bin Anas, sebagaimana ulama lain, menggunakan riwayat dari Yazid bin Ruman yang mauquf atau disandarkan pada perilaku sahabat, bahwa orang-orang sembahyang tarawih pada masa Umar bin Khattab dengan dua puluh rakaat, diimami sahabat Ubay bin Ka’ab.

Hal ini berbeda dengan keterangan yang disampaikan salah satu ahli hadits generasi awal, yaitu Abu Bakar bin Abi Syaibah, yang juga guru Imam Malik. Ia menyebutkan menemui orang-orang di Madinah shalat sebanyak 36 rakaat.

Kalangan yang berpendapat bahwa tarawih dilakukan delapan rakaat menyandarkan pada hadits berikut:

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ -رضي الله عنها-: كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فِي رَمَضَانَ؟ قَالَتْ: مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً: يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ تَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟ قَالَ: تَنَامُ عَيْنِي وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Salamah, ia pernah bertanya kepada Aisyah: “Bagaimana shalat Nabi Muhammad di bulan Ramadhan?”

Aisyah menjawab,“Beliau tak menambah pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat: shalat empat rakaat, yang betapa bagus dan lama, lantas shalat empat rakaat, kemudian tiga rakaat. Aku pun pernah bertanya: Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum menunaikan shalat witir? Beliau menjawab: “mataku tidur, tapi hatiku tidak.”

Hadits ini yang menjadi dasar kalangan yang bertarawih dengan delapan rakaat – plus tiga rakaat witir. Kendati demikian, hadits di atas oleh banyak ulama dinilai sebagai hadits yang berkaitan dengan jumlah rakaat dan tata cara witir, bukan tarawih.

Dengan begitu, jumlah rakaat tarawih ini berbeda disebabkan perbedaan pemahaman atas hadits. Bila Anda hendak memilih delapan, dua puluh, atau lebih banyak dari itu, ketahuilah bahwa tidak ada keterangan eksplisit dalam hadits Nabi seputar jumlah rakaat tarawih.

Menurut keterangan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari, sebagaimana dikutip KH Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Hadits-Hadits Palsu Seputar Ramadhan, pada dasarnya tiada ketetapan tertentu dari Nabi dalam hadits seputar rakaat tarawih.

Para ulama yang memilih pendapat 20 rakaat di atas, memilih berdasarkan sisi keutamaannya, karena dalilnya masih disandarkan pada perbuatan sahabat di masa Umar bin Khattab dan tidak dikomentari oleh sahabat lain. Pun jika ada yang memilih jumlah rakaat yang berbeda, jelas bukan masalah. Semoga ibadah kita di bulan Ramadhan, khususnya tarawih, mendatangkan ridla Allah. Wallahu a'lam.  (Muhammad Iqbal Syauqi)


::::
Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada 21 Mei 2018, pukul 15.15. Redaksi mengunggahnya kembali pada Ramadhan kali ini dengan minor penyuntingan
Tags:
Share:
Selasa 7 Mei 2019 23:30 WIB
Kebiasaan Nabi Muhammad saat Bulan Ramadhan
Kebiasaan Nabi Muhammad saat Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan merupakan bulan kesembilan dari kalender Hijriyah. Bulan ini menjadi bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Di bulan inilah, umat Islam diseluruh dunia diwajibkan untuk berpuasa selama satu bulan penuh. Di bulan ini pula mereka berlomba-lomba –pagi, siang, dan malam- mengerjakan ibadah dan amal kebaikan seperti shalat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, ngaji, umrah, memberikan santunan kepada fakir-miskin, dan lainnya.

Hal itu tidak mengherankan mengingat bulan Ramadhan adalah bulan dimana amal ibadah dilipatgandakan, pintu kebaikan dibuka seluas-luasnya, dosa-dosa diampuni, dan doa-doa diijabahi. Oleh karena itu umat Islam tidak rela kalau melewatkan bulan Ramadhan begitu saja, tanpa diisi dengan amal ibadah sebanyak-banyaknya. 

Lantas bagaimana dengan kebiasaan Nabi Muhammad selama bulan Ramadhan? Apa saja yang dilakukan beliau saat bulan bulan Ramadhan?

Nabi Muhammad berpuasa sembilan kali Ramadhan sepanjang hayatnya: delapan kali berpuasa selama 29 hari dan sekali berpuasa selama 30 hari. Dalam sistem kalender Hijriyah –yang dipakai umat Islam- setiap bulannya itu 29 hari dan terkadang 30 hari, tidak sampai 31 hari sebagaimana sistem kalender Masehi.

Nabi Muhammad sangat memuliakan, merindukan, mengenang, dan mengistimewakan bulan Ramadhan. Beliau mengerjakan hal-hal positif dan amal ibadah saat bulan Ramadhan, baik sebelum ataupun setelah beliau diangkat menjadi Rasul. Merujuk buku Puasa pada Umat-umat Dulu dan Sekarang (Sismono, 2010), Nabi Muhammad berkhalwat (memencilkan diri) atau bertahannus (mengheningkan pikiran) di Gua Hira ketika bulan Ramadhan tiba. Dengan bekal roti kering, kurma, dan air yang disiapkan istrinya, Sayyidah Khadijah, beliau berada di Gua Hira sebulan penuh dan baru pulang ke rumah setelah bulan Ramadhan habis. 

Beliau bermunajat, bertaqarrub, dan bermujahadah kepada Tuhan. Nabi Muhammad melakukan itu beberapa kali setiap bulan Ramadhan tiba sampai benar-benar dirasakan terbukanya hijab bagi hati dan pikirannya. Hingga suatu saat, Malaikat Jibril mendatangi dan memberinya wahyu dari Allah, Tuhan sekalian alam. Dan sejak saat itu, Nabi Muhammad dikukuhkan menjadi Rasul Allah.

Sementara ketika sudah menjadi nabi dan rasul, Nabi Muhammad lebih giat lagi mengerjakan ibadah, baik yang bersifat personal ataupun sosial. Diantaranya tadarus Al-Qur’an. Selama bulan Ramadhan, Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad setiap malamnya. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Beliau selalu mentadaruskan Al-Qur’an di hadapan Jibril setiap malam bulan Ramadhan. 

Kegiatan tadarus bersama itu baru berhenti ketika Nabi Muhammad melaksanakan i’tikaf terakhir di Masjid Nabawi. Pada saat itu, Nabi Muhammad menyampaikan kepada putrinya bahwa Malaikat Jibril tidak akan datang lagi pada bulan Ramadhan berikutnya. Itu menjadi isyarat bahwa tahun depan Nabi Muhammad tidak akan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan. Dan benar, pada tahun itu Nabi Muhammad wafat setelah musim haji selesai. 

Sebagaimana satu riwayat, puasa dan Al-Qur’an yang dibaca pada malam Ramadhan akan memberikan syafaat kepada orang yang mengerjakannya kelak pada hari kiamat. 

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: “Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari”, ِAl-Qur’an juga berkata: “Aku mencegahnya dari tidur dimalam hari, maka kami mohon syafaat buat dia.” Beliau bersabda: “Maka keduanya dibolehkan memberi syafaat.” (HR. Ahmad)

Ibadah lainnya yang digiatkan Nabi Muhammad selama bulan Ramadhan adalah bersedekah kepada sesama. Dalam satu hadits riwayat Tirmidzi, Nabi Muhammad menegaskan bahwa sedekah yang paling baik adalah sedekah pada bulan Ramadhan. Selain itu, Nabi Muhammad mengatakan kalau siapapun yang memberi makan orang yang sedang berpuasa maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa.

Di samping itu, Nabi Muhammad juga menggiatkan ibadah umrah pada bulan Ramadhan. Beliau menekankan bahwa pahala umrah pada bulan Ramadhan itu sama seperti pahala haji. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 7 Mei 2019 21:0 WIB
Puasa Ramadhan, Qais bin Shirmah, dan Turunnya Al-Baqarah 187
Puasa Ramadhan, Qais bin Shirmah, dan Turunnya Al-Baqarah 187
Ilustrasi.
Qais bin Shirmah al-Anshari adalah sahabat Nabi dari kalangan Anshar. Dia sehari-harinya bekerja sebagai seorang buruh di kebun kurma. Meski demikian, Qais bin Shirmah merupakan sahabat yang menjadi ‘penyebab’ turunnya Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 187 tentang ketentuan dan batasan boleh dan tidaknya mengerjakan suatu hal ketika berpuasa di bulan Ramadhan. 

Dikisahkan, suatu ketika Qais bin Shirmah sedang berpuasa Ramadhan. Ketika waktu berbuka tiba, dia pulang ke rumahnya. Ia bertanya kepada istrinya apakah ada makanan atau tidak untuk dibuat berbuka puasa. Istri Qais menjawab bahwa pada saat itu tidak ada makanan sama sekali di rumahnya.

“Maafkan aku, suamiku. Hari ini kita tidak punya makanan apapun. Tunggulah sebentar, aku akan mencarikan makanan untukmu,” kata istri Qais, dikutip buku Pesona Ibadah Nabi (Ahmad Rofi’ Usmani, 2015).

Seketika itu, istri Qais keluar rumah dan mencari sesuatu untuk dimakan suaminya. Sementara Qais bin Shirmah yang seharian sudah bekerja keras tertidur, tanpa sempat menelan sesuap makanan pun. Beberapa saat kemudian, istri Qais datang dengan membawa makanan. Namun melihat suaminya yang sudah tertidur pulas, istri Qais tidak jadi membangunkannya.

“Kasian engkau, suamiku,” gumam istri Qais.

Keesokan harinya, Qais bin Shirmah yang tidak makan dan minum sejak sehari sebelumnya, pingsan. Kejadian ini kemudian dilaporkan kepada Nabi Muhammad. Tidak lama berselang, lalu turunlah Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 187 yang berbunyi:

“Dihalalkan bagi kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian pada malam hari bulan puasa. Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasannya kalian tidak bisa menahan nafsu kalian. Karena itu, Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka kini campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian. Dan, makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga (datang) malam, tetapi janganlah kalian campuri mereka, sementara kalian sedang beri’tikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah. Karena itu, janganlah kalian mendekatinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertakwa.”
Memang, belum ada ketentuan yang jelas mengenai batasan-batasan kapan boleh makan-minum dan kapan tidak boleh pada saat awal-awal diwajibkannya puasa Ramadhan. Ada sebagian sahabat yang berpuasa tertidur sebelum berbuka hingga sepanjang malam. Bahkan, ada yang tidurnya kebablasan sampai waktu sahur. Akibatnya, mereka tidak sempat berbuka dan sahur namun harus berpuasa di hari berikutnya sebagaimana yang dialami Qais bin Shirmah tersebut.

Turunnya QS. al-Baqarah ayat 187 tersebut menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Terutama tentang waktu berpuasa Ramadhan, yaitu dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Di dalam surat tersebut juga dijelaskan perihal diperbolehkannya berhubungan suami-istri pada malam hari bulan Ramadhan. (Muchlishon)
Selasa 7 Mei 2019 14:0 WIB
Lapar Bukan Alasan Bermalas-malasan: Belajar dari Syekh Abu al-Wafa
Lapar Bukan Alasan Bermalas-malasan: Belajar dari Syekh Abu al-Wafa
Mengatur waktu sehari-hari memang sulit. Terbukti sebagian dari kita lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kontraproduktif. Gawatnya kita terus terjebak dalam bayang-bayang pembelaan diri, untuk kepentingan diri kita sendiri. Salah satunya adalah “Saya sedang lemas.”

Di bulan Ramadhan ini, rasa malas sudah tentu ada. Rasa kantuk dan lemah tiba-tiba saja merambat ke sekujur tubuh dengan alasan lapar. Walhasil sebagian dari kita pun lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur di bulan Ramadhan.

Ada nasihat dari Imam al-Hârits al-Muhâsibi mengenai anjuran untuk menjadikan waktu kita produktif:

وَحصل الْأَوْقَات واعرف مَا يذهب بِهِ ليلك ونهارك

“Produktifkanlah waktu-waktu, dan ketahuilah apa saja yang hilang dari waktumu, siang dan malamnya.” (Imam al-Hârits al-Muhâsibi, Risâlah al-Mustarsyidîn, Dar el-Salâm, halaman 144)

Nasihat di atas adalah anjuran bagi kita untuk memanfaatkan waktu kita sebaik mungkin, juga anjuran untuk mencatat apa saja yang telah kita kerjakan setiap harinya. Perlu diketahui juga, waktu adalah salah satu nikmat yang sering kita lupakan dan sia-siakan. Sebagaimana Nabi Saw bersabda:

نِعْمَتَان مَغْبُونٌ فيهما كَثِيرٌ من النَّاس الصّحّة والفراغ

“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, kesehatan dan waktu luang.” (HR al-Bukhâri)

Untuk menginspirasi, mungkin kita perlu belajar kepada Syekh Abu al-Wafa bin ‘Uqail al-Hanbali. Beliau adalah salah satu ulama Islam yang sangat produktif, dilahirkan pada tahun 431 H dan wafat pada tahun 513 H. Salah satu perkataan beliau yang sangat mengisnpirasi di antaranya:

إنّي لا أحلّ لي أن أضيع ساعة من عمري حتّى إذا تعطّل لساني عن مذاكرة ومناظرة وبصري عن مطالعة أعملت فكري في حال راحتي وأنا منطرح، فلا أنهض إلا وقد خطر لي ما أسطره، وإني لأجد من حرصي على العلم وأنا في عشر الثمانين أشدّ مما كنت في أجده وأنا ابن عشرين سنة

“Sesungguhnya aku mengharamkan diriku untuk menyia-nyiakan satu waktu dari umurku, hingga apabila lisanku tidak difungsikan untuk diskusi, dan pandanganku untuk menelaah, aku pun menggunakan akalku ketika istirahat sedangkan aku sedang berbaring, maka tidaklah aku bangkit melainkan sesuatu yang telah aku rencanakan akan muncul dalam pikiran. Dan sesungguhnya aku mendapati diriku lebih rakus terhadap ilmu ketika usiaku 80 tahun dibanding ketika 20 tahun.” (Imam al-Hârits al-Muhâsibi, Risâlah al-Mustarsyidîn, Dar el-Salâm, halaman 144)

Melihat cara Syekh Abu al-Wafa memanfaatkan waktunya, kita dapat melihat beliau hampir tidak sama sekali menyia-nyiakan waktunya. Ada saja hal produktif yang dikerjakannya. Tidak ada alasan untuk bermalas-malasan, apalagi puasa. Syekh Abu al-Wafa pernah menuturkan:

وأنا أقصر بغاية جهدي أوقات أكلي حتّى أختار سفّ الكعك وتحسّيه بالماء على الحبز

Aku sangat berusaha mempersempit waktu makanku, hingga aku memilih kue dan membasahinya dengan air dan roti. . (Imam al-Hârits al-Muhâsibi, Risâlah al-Mustarsyidîn, Dar el-Salâm, halaman 144).

Jika diperhatikan, jenis makanan yang dipilih Syekh Abu al-Wafa tidaklah mewah, bahkan sepertinya tidak mengenyangkan, namun hal tersebut beliau pilih supaya tidak menyurutkan semangat belajar dan juga untuk membuat waktu-waktunya menjadi produktif, tidak dihabiskan dengan makan saja.

Al-Hafiz Ibnu Rajab mengatakan, Syekh Abu al-Wafa bin ‘Uqail al-Hanbali memiliki karangan yang banyak dalam berbagai fan ilmu. Kira-kira ada 20 kitab yang ditulis oleh beliau. Di antaranya adalah kitab al-Funûn, sebuah kitab yang sangat tebal dan memiliki banyak faedah dan manfaat. Isinya berupa nasihat, tafsir, fiqih, ushul fikih, tauhid, nahwu, gramatikal bahasa, syair, sejarah, kisah-kisah dan masih banyak lagi. Bahkan al-Hafiz adz-Dzahabi merespon kitab ini, “Belum pernah dikarang di dunia ini kitab setebal kitab al-Funûn.” (Imam al-Hârits al-Muhâsibi, Risâlah al-Mustarsyidîn, Dar el-Salâm, halaman 145).

Dari pemaparan di atas, ayolah kawan jangan kita sia-siakan waktu kita. Terkhusus di bulan Ramadhan ini. Banyak sekali amalan yang dilipatgandakan pahalanya. Mari baca Al-Qur'annya, mari kaji kitab turatsnya, mari berbagi kepada sesama di bulan yang suci ini. Semoga Ramadhan kita tahun ini lebih bermanfaat dari tahun sebelumnya. Amiin.

(Amien Nurhakim)