IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (2)

Selasa 22 Mei 2018 23:30 WIB
Share:
Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (2)
Ilustrasi (najva12.ir)
Kata ihsân atau hasan di dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan kata “baik”. Di dalam bahasa Arab ada banyak kata yang sering kali bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka akan diartikan dengan arti yang sama. Padahal di dalam bahasa aslinya sejatinya masing-masing kata itu memiliki makna sendiri yang spesifik sehingga berbeda dengan makna kata yang lain yang sama arti ketika diterjemahkan.

Di antara kata yang demikian itu adalah kata khair, ma’rûf, hasan atau ihsân, shâlih dan birr. Umumnya kata-kata itu diterjemahkan dan dipahami dalam bahasa Indonesia dalam arti “baik”. Padahal masing-masing di dalam bahasa Arabnya memiliki spesifikasi makna yang berbeda. “Baik”-nya kata khair tidak sama dengan “baik”-nya kata ma’rûf, juga tidak sama dengan “baik”-nya ihsân dan sebagainya.

Baca: Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (1)
Banyak para ulama yang mengungkapkan makna “baik” yang terkandung di dalam kata ihsân dengan mengambil kalimat dari Nabi Isa ‘alaihis salâm yang menyatakan:

ليس الإحسان أن تحسن إلى من أحسن إليك ذلك مكافأة، إنما الإحسان أن تحسن إلى من أساء إليك

Artinya: “Ihsan bukanlah engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, itu namanya berbalasan. Hanya dikatakan ihsan bila engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu.” (Syekh Nawawi Banten, Tafsîr Marâh Labîd, Beirut: Darul Fikr, juz I, hal. )

Ungkapan tentang ihsan sebagaimana disebut di atas dapat dipahami dengan penggambaran sebagai berikut:

Ketika tetangga Anda memberikan semangkok opor ayam lalu keesokan harinya Anda membalas dengan juga memberinya semangkok opor ayam, maka apa yang Anda lakukan itu adalah perbuatan baik namun tidak pada makna ihsan. Kebaikan yang Anda lakukan itu hanyalah kebaikan sepadan untuk membalas kebaikan yang Anda terima. Namun bila Anda membalas pemberian itu dengan opor ayam seekor utuh maka itulah yang disebut kebaikan dalam makna ihsan.

Contoh yang lain, ketika seorang teman sedang sakit Anda dengan senang hati membesuknya dengan membawa buah tangan yang disenangi teman itu. Namun ketika Anda sakit sang teman tidak membesuk Anda meski ia tahu keadaan Anda. Ketika kemudian sang teman sakit lagi Anda tetap membesuk dengan membawa buah tangan kegemarannya. Dan satu saat Anda kembali sakit sang teman tak juga membesuk Anda meski ia tahu Anda sedang sakit. Ketika untuk yang ketiga kalinya teman Anda sakit lagi dan Anda mengetahui itu, akankah Anda tetap dengan senang hati membesuknya seraya membawa buah tangan kesukaannya?

Bila Anda tak lagi membesuknya karena kebaikan Anda selama ini tak pernah dibalas, maka kebaikan membesuk yang selama ini Anda lakukan kepada sang teman bukanlah kebaikan dalam makna ihsan. Namun bila Anda tetap berkenan membesuknya sebagaimana sebelumnya, maka Anda telah melakukan sebuah kebaikan dalam makna ihsan.

Di dalam A-Qur’an surat Ali Imron ayat 134 ada tiga golongan orang yang disebut Allah sebagai orang yang berbuat ihsan (muhsin). Pertama, orang-orang yang selalu berinfak baik dalam keadaan senang maupun susah, ketika kaya atau miskin, dan baik diberikan kepada orang yang ia sukai maupun yang tak ia sukai.

Kedua, orang yang mampu menahan amarahnya meskipun ia memiliki kesempatan dan kemampuan untuk melampiaskannya kepada orang yang membuatnya emosi.

Ketiga, orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, menghapus kesalahannya sehingga tak lagi dibicarakan dengan siapapun, serta tanpa menyimpan dendam kepada yang berbuat salah itu.

Ketiga golongan tersebut disebut Allah sebagai orang-orang yang berlaku ihsan. Mereka yang suka berinfak disebut berlaku ihsan karena memberi manfaat bagi orang lain, meski dirinya sendiri sedang membutuhkan, atau bahkan meski yang diberi orang yang tak ia sukai. Mereka yang menahan amarahnya disebut berlaku ihsan karena semestinya ia mampu untuk membalas kejahatan yang ia terima, namun ia lebih memilih meredam kemarahannya sehingga orang yang berbuat jelek kepadanya tak menerima kejelekannya dalam bentuk amarah. Mereka yang memaafkan orang yang berbuat salah disebut berlaku ihsan karena pemaafannya telah menghindar orang yang bersalah dari tuntutan di hari kiamat kelak.

Kepada orang-orang yang demikian, kepada orang-orang yang berlaku ihsan dengan melakukan kebaikan lebih dari yang semestinya, Allah dengan tegas menyatakan rasa cintanya. Wallâhu yuhibbul muhsinîn. Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Tags:
Share:
Senin 21 Mei 2018 16:0 WIB
Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (1)
Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (1)
Dalam sebuah hadits yang cukup panjang di mana Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya perihal islam, iman, dan ihsan, beliau menuturkan tentang ihsan sebagai berikut:

أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Artinya: “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR Muslim)

Imam Nawawi dalam menjelaskan definisi ihsan tersebut menuturkan bahwa bila seseorang di dalam ibadahnya mampu melihat secara nyata Tuhannya maka sebisa mungkin ia tidak akan meninggalkan sedikit pun sikap khusyuk dan khudlu’ (merendah diri) di dalam ibadahnya tersebut (Imam Nawawi, al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim ibnil Hajjâj, Kairo: Darul Ghad Al-Jadid, 2007, jilid I, juz 1, halaman 161).

Untuk menggambarkan bagaimana seseorang berlaku ihsan sesuai definisi di atas bisa dibuat satu ilustrasi sebagai berikut.

Anda datang menemui seorang pejabat penting di kota Anda, katakanlah ia seorang walikota. Anda dipersilakan duduk di kursi tamu persis berhadapan dengan tempat duduknya sang walikota. Ketika Anda berbincang dengannya, akankah di hadapan seorang walikota Anda bersikap tak semestinya, seperti mengangkat satu kaki di atas kaki yang lain, mengumbar pandangan mata ke segenap penjuru ruangan atau perilaku tak layak lainnya?

Kiranya kita sepakat untuk tidak melakukan perlaku-perilaku demikian di hadapan seorang walikota. Yang akan kita lakukan adalah duduk dengan tenang, sopan, dan berbicara dengannya penuh penghormatan.

Atau, ketika Anda telah duduk di ruang tamu namun sang walikota belum juga menemui Anda. Hanya saja Anda tahu bahwa di setiap pojok ruangan terdapat seperangkat CCTV di mana dari bagian dalam sang walikota bisa mengetahui gerak gerik Anda melalui layar monitor. Dalam kondisi seperti itu akankah Anda akan berperilaku tak layak di ruang tamu tersebut? 

Pun kiranya kita sepakat untuk tetap berperilaku tenang dan sopan, karena meskipun sang walikota tidak ada di hadapan kita namun ia bisa melihat perilaku kita melalui CCTV yang ada.

Barangkali demikian makna ihsan yang hendak diajarkan oleh Rasulullah kepada umatnya. Saat kita menyembah Allah kita mesti menghadirkan Allah di depan kita dan merasa bahwa kita sedang berhadap-hadapan dengan-Nya. Dengan demikian maka ketika seseorang sedang melakukan peribadatan kepada-Nya ia tak akan berani melakukan tindakan-tindakan yang tak semestinya dilakukan di hadapan Allah ta’ala. Yang akan dilakukan adalah bagaimana sebisa mungkin ibadah yang sedang dilakukannya terlaksana dengan baik dan sempurna, khusyuk dan khudlu’.

Orang yang berihsan dalam beribadah akan berpenampilan sebaik mungkin karena ia merasa sedang berhadapan langsung dengan Tuhan yang disembahnya. Ia gunakan pakaian terbaiknya, dengan wewangian, rambut tersisir rapi, tanpa ada kotoran yang menempel di badannya, dan sebagainya. Hal ini pula yang akan ia lakukan dalam beribadah meski ia tak benar-benar melihat Tuhannya, karena ia merasa selalu dilihat oleh-Nya.

Lebih jauh dari itu berperilaku ihsan bukan saja ketika seseorang sedang melakukan aktivitas peribadatan kepada Allah. Kalimat an ta’buda (engkau menyembah) pada hadits di atas bisa dipahami secara luas dari makna kata ta’buda. Kata ini berasal dari kata ‘abdun yang berarti budak atau hamba sahaya. Dari arti dasar kata ini maka kalimat an ta’buda Allah pada hadits di atas bisa diartikan sebagai engkau menjadi budak atau hamba sahayanya Allah atau engkau menghambakan diri kepada Allah.

Bila demikian adanya maka ihsan dalam hadits di atas dapat didefinisikan sebagai “engkau menjadi hamba sahayanya Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Ia selalu melihatmu.”

Satu pertanyaan mendasar, di waktu kapan dan di tempat mana kita menjadi hambanya Allah? Apakah ketika sedang shalat, membaca Al-Qur’an, berpuasa atau ketika sedang melakukan aktivitas ibadah mahdlah lainnya saja? Apakah seseorang menjadi hambanya Allah ketika ia sedang berada di masjid dan mushalla saja?

Bila seseorang menjadi hamba Allah ketika melakukan aktifitas ibadah tertentu saja, maka menjadi hambanya siapakah ketika ia sedang tidak beribadah? Bila seseorang menjadi hambanya Allah ketika ia sedang berada di masjid dan mushalla saja, maka menjadi hambanya siapa ketika ia sedang berada di pasar, kantor, jalanan dan tempat lainnya?

Tidak demikian tentunya. Kapanpun dan di manapun, sedang diam atau bergerak, sedang beraktifitas ibadah atau lainnya seseorang selalu menjadi hambanya Allah. Tak sedetikpun waktu berlalu kecuali setiap orang menyandang status sebagai abdullah, hamba Allah.

Dalam kondisi demikian ini perilaku ihsan dituntut untuk dilakukan. 

Dengan berihsan seorang yang sedang mengendarai sepeda motor misalnya, tak akan pernah ugal-ugalan karena ia merasa malu sedang dilihat oleh Allah. Seorang pedagang tak akan berbuat curang pada dagangannya karena merasa selalu diperhatikan oleh Allah. Seorang pegawai tak akan melakukan perilaku curang dan korup karena ia sadar sebagai hamba Allah tak pernah luput dari pengawasan-Nya. Seorang atasan tak akan pernah bertindak sewenang-wenang kepada bawahannya karena ia merasa sedang berada di hadapan Allah. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Dengan berihsan di manapun seorang hamba berada tak akan pernah mampu berlaku menyimpang, curang, zalim, menyalahi aturan dan perilaku negatif lainnya karena ia merasa di manapun selalu dalam pengawasan Allah.

Dengan berihsan seseorang tak akan pernah berbuat sewenang-wenang kepada orang lain, siapapun itu, mengingat Allah selalu mengawasinya. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Ahad 20 Mei 2018 18:30 WIB
Etika Meludah dalam Islam
Etika Meludah dalam Islam
Islam adalah agama yang sangat indah. Semua lini kehidupan diatur sedemikian rupa. Mulai ibadah primer maupun sekunder, masing-masing diatur. Termasuk di antaranya adab meludah maupun berdahak. 

Abdullah bin Umar pernah bercerita, satu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat ada air ludah pada sisi arah kiblat dalam sebuah masjid. Rasulullah pun mengambil kayu atau tongkat, kemudian mengerok tempat ludahan tersebut lalu beliau bersabda: 

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَبْصُقْ فِي قِبْلَتِهِ فَإِنَّمَا يُنَاجِي رَبَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

Artinya: “Jika salah satu dari kalian shalat, hendaknya tidak meludah ke arah kiblat. Sebab orang yang shalat adalah orang yang sedang bermunajat kepada Allah tabâraka wa ta’âla.” (Musnad Ahmad: 4645)

Dengan sikap Baginda Nabi yang hanya mengerok liur saja tanpa menyucikan dengan air sebagaimana di atas, al-Khatthâbi dalam Ma’âlimus Sunan juz 1, halaman 144 menyatakan, air liur itu suci. Pendapat ini senada dengan perkataan para ulama kecuali Ibrahim an-Nakhai yang berpendapat najis.

Pesan Rasulullah yang perlu digarisbawahi, adab meludah ketika shalat tidak boleh ke arah kiblat. Selain ke arah kiblat, masih bisa ditoleransi, asalkan shalatnya tidak di dalam masjid. Jika shalat di masjid dan menyebabkan kotor, dalam syarah al-Muhadzab dikatakan, ini haram. Apabila ingin meludah, hendaknya meludah ke arah pakaian yang dikenakan semisal pada bagian kerah baju yang kiri.

Dalam satu hadits riwayat Abu Hurairah diceritakan, Rasulullah pernah berpesan untuk orang yang shalat, kalau mau meludah hendaknya menghindari arah kiblat, karena ia sedang bermunajat kepada Allah. Sedangkan ke arah kanan perlu dihindari sebab ada malaikat (pencatat amal kebaikan) di sana. 

Lalu bagaimana adab meludah jika berada di luar shalat? 

Imam Syihabuddin al-Qalyubi dan Umairah dalam Hâsyiyatan menjelaskan adab meludah di luar shalat sebagai berikut:

وَيُكْرَهُ الْبُصَاقُ خَارِجَ الصَّلَاةِ، قِبَلَ وَجْهِهِ مُطْلَقًا وَلِجِهَةِ الْقِبْلَةِ، وَجِهَةِ يَمِينِهِ أَيْضًا

Artinya: “Dimakruhkan meludah di luar shalat menuju arah depannya sendiri secara mutlak, ke arah kiblat dan ke arah kanan.” (Syihabuddin Ahmad al-Qalyubi dan Umairah, Hâsyiyatân, Alepo, 1956 M / 1375 H, juz 1, halaman 194) 

Selain itu, masih dalam kitab yang sama disebutkan, hokum meludah lalu mengenai benda milik orang lain adalah haram. 

يَحْرُمُ الْبُصَاقُ إذَا اتَّصَلَ بِغَيْرِ مِلْكِهِ

Artinya: “Haram meludah jika mengenai benda yang bukan miliknya.” (Syihabuddin Ahmad al-Qalyubi dan Umairah, Hâsyiyatân, Alepo, 1956 M / 1375 H, juz 1, halaman 194)

Dengan demikian, dapat disimpulkan, adabmeludahjika dalam shalat makruh ke arah kiblat dan kanan. Adapun di luar shalat, makruh meludah ke arah depan, kiblat, dan kanan. Sedangkan meludah yang mengotori masjid atau mengenai benda milik orang lain hukumnya haram. Wallahua’lam. (Ahmad Mundzir)

Selasa 8 Mei 2018 6:0 WIB
Etika Sedekah Setiap Saat
Etika Sedekah Setiap Saat
Sedekah merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ada banyak dalil dalam Al-Qur’an dan hadits yang menunjukkan keutamaan ini. Di antaranya adalah firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 195:

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  

Artinya, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri  dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk selalu berbuat baik dan menginfakkan harta yang dimiliki di jalan Allah atau untuk kebaikan.

Sedekah adalah salah satu cara untuk berbuat baik. Selain mendapatkan pahala, sedekah sangat membantu orang-orang yang sedang kesulitan dan butuh pertolongan.

Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu‘in menganjurkan agar sedekah setiap saat, walaupun sedikit. Ia mengatakan:

وينبغي للراغب في الخير أن لا يخلي كل يوم من الأيام من الصدقة بما تيسر وإن قل وإعطاؤها سرا أفضل منه جهرا

Artinya, “Orang yang ingin berbuat baik seharusnya tidak melewatkan kesempatan bersedekah setiap hari semampunya, meskipun sedikit. Bersedekah dengan diam-diam lebih baik daripada memperlihatkannya.”

Perintah sedekah tidak dikhususkan bagi orang yang kaya saja. Orang yang miskin pun bisa bersedekah. Menurut penjelasan di atas, sedekah dianjurkan setiap saat, minimal satu kali sehari. Tidak ada aturan berapa banyak harta yang disedekahkan. Walaupun sedikit jumlahnya, kalau diberikan dengan ikhlas, Allah akan membalasnya.

Orang yang bersedekah dianjurkan memberikan sedekahnya dalam keadaan diam-diam. Maksudnya tidak perlu mengumumkan ke orang lain kalau kita sudah bersedekah. Karena itu nanti bisa menghapus pahala sedekah kita, bila di dalam hati ada unsur riya.

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah mengatakan bahwa ada tujuh kelompok yang akan mendapatkan naungan di hari akhirat kelak. Salah satunya:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْننُهُ

Artinya, “Orang yang sedekah dan menyembunyikannya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang sudah disedekahkan  tangan kanannya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sedekah sangat dianjurkan. Tapi jangan sampai sedekah yang kita keluarkan tidak mendapatkan pahala lantaran pamer dan dilihat orang lain. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)