IMG-LOGO
Ramadhan

Hukum Menghirup Inhaler atau Minyak Angin saat Puasa

Kamis 24 Mei 2018 12:30 WIB
Share:
Hukum Menghirup Inhaler atau Minyak Angin saat Puasa
Ilustrasi (corren.se)
Saat berpuasa, kita berharap dapat nyaman menjalaninya dan tetap melangsungkan aktivitas seperti biasa. Tapi tanpa disangka kadang ada saja hal yang mengganggu. Semisal tiba-tiba sakit saat berpuasa, yang rupanya tidak terlampau parah.

Penyakit ringan ini umumnya bikin tidak nyaman. Secara fisik badan dirasa masih kuat berpuasa. Namun karena sakit ini, aktivitas jadi terganggu dan malas betul melakukan hal lain selain beristirahat.

Gejala-gejala seperti demam, yang kerap disertai batuk dan pilek tiba-tiba menyerang. Dalam istilah medis, hal ini disebut common cold. Penyakit ini disebabkan virus, dan kita sulit mengantisipasi kapan bisa terpapar olehnya. Tanpa disangka badan meriang, plus pilek dan hidung tersumbat yang sangat tak nyaman.

Saat hidung tersumbat, untuk melegakan napas orang-orang biasa menghirup minyak angin atau inhaler. Aroma yang dihirup, biasanya berupa aroma menthol atau mint yang menyejukkan. Lantas, bagaimana status puasa jika menghirup minyak angin atau inhaler?

Rukun puasa, selain niat, adalah meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa. Salah satunya, makan dan minum. Para ulama menyebutkan secara lebih umum makan dan minum termasuk memasukkan sesuatu ke rongga tubuh yang terbuka. Secara lebih detail, Syekh Zakariya al-Anshari menyebutkan dalam Fathul Wahhab bahwa puasa itu:

تَرْكُ وُصُولِ عَيْنٍ لَا رِيْحٍ وَلَا طَعْمٍ مِنْ ظَاهِرٍ فِي مَنْفَذٍ مَفْتُوحٍ

Artinya: “Meninggalkan sampainya ‘ain – tidak termasuk aroma atau rasa sesuatu yang dhahir (bukan datang dari dalam badan) – ke dalam lubang yang terbuka.”

‘Ain yang membatalkan puasa ini bermacam-macam. Jika terkait hidung dan mulut, ‘ain bisa berupa makanan, minuman, obat, atau benda lainnya yang bisa masuk ke rongga pencernaan atau pernapasan. Bagaimana dengan aroma?

Di atas telah disinggung bahwa aroma tidak termasuk ‘ain. Diperjelas oleh para ulama bahwa menghirup aroma uap itu tidak membatalkan puasa, sebagaimana menghirup aroma kemenyan atau aroma masakan. Syekh Abdurrahman Ba’alawi dalam Bughyatul Mustarsyidin menyebutkan:

لاَيَضُرُّ وُصُولُ الرِّيحُ بِالشَّمِّ وَكَذَا مِنَ الْفَمِ كَرَائِحَةِ الْبُخُورِ أَوْ غَيْرِهِ إِلَى الْجَوْفِ وَإِنْ تَعَمَّدَهُ ِلأَنَّهُ لَيْسَ عَيْنًأ. 

Artinya: “Tidak dianggap membatalkan puasa aroma yang dihirup, sebagaimana aroma asap kemenyan atau lainnya, yang terasa mencapai tenggorokan meskipun disengaja, karena bukan termasuk ‘ain (benda yang bisa membatalkan puasa).”

Dengan demikian, menghirup bau-bauan seperti minyak angin dan inhaler, tidak membatalkan puasa. Hal yang terpenting, jangan lupa menjaga kesehatan dan kebersihan diri selama berpuasa. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)
Tags:
Share:
Kamis 24 Mei 2018 18:0 WIB
Hukum Baca Shalawat dan Radhiyallahu Anhu saat Tarawih
Hukum Baca Shalawat dan Radhiyallahu Anhu saat Tarawih
(Foto: pinterest)
Sudah menjadi tradisi sebagian Muslim Indonesia, shalat tarawih di sela-sela dengan doa dan shalawat, ditambah membaca doa untuk Khualafaurrasyidin (empat pengganti Nabi: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali). Namun pernahkah kita bertanya-tanya, apa hukum membaca keduanya ketika selesai salam shalat tarawih?

Sebelum kita melangkah kepada rincian hukum membaca shalawat dan membaca radhiyalahu ‘anhu untuk empat khalifah di sela-sela shalat tarawih, baiknya kita mengetahui hukum memisah dua shalat dengan berpindah tempat atau berbicara.

Hukum memisah dua shalat dengan berpindah tempat dan berbicara adalah sunah. Sebagaimana Al-Khatib Asy-Syirbiny menjelaskan dalam Kitab Mughnil Muhtaj:

وَيُسَنُّ (أَنْ يَنْتَقِلَ لِلنَّفْلِ) أَوِ الْفَرْضِ (مِنْ مَوْضِعِ فَرْضِهِ) أَوْ نَفْلِهِ لِتَكْثِيْرِ مَوَاضِعِ السُّجُود فَإِنَّهَا تَشْهَدُ لَهُ.قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ فَإِنْ لَمْ يَنْتَقِلْ فَلْيُفْصِلْ بِكَلَامِ إِنْسَانٍ

Artinya, “Disunahkan berpindah dari tempat ia melaksanakan shalat fardhu ataupun sunah ke tempat yang lain untuk melaksanakan shalat sunah atau fardhu, supaya memperbanyak tempat-tempat sujud, sesungguhnya itu akan menjadi saksi baginya. Imam Nawawi mengatakan, dalam Al-Majmu’, ‘Apabila ia tidak pindah, maka hendaknya memisah dengan ucapan manusia,’” (Lihat Al-Khatib Asy-Syirbiny, Mughnil Muhtaj ilâ Ma’rifati Alfâzhil Minhâj, [Beirut, Darul Fikr], juz I, halaman 183).

Dalil praktik ini bersandar pada hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya:

Dari As-Saib bin Yazid bahwasannya Mu’awiyah RA berkata kepadanya:

إذَا صَلَّيْتَ الْجُمْعَةَ فَلَا تَصِلْهَا بِصَلَاةٍ حَتَّى تُكَلِمَ أَوْ تَخْرُجَ فَإِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ أَمَرَنَا بِذَلكَ، أَنْ لَاتُوْصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ

Artinya, “Apabila engkau selesai shalat Jumat, maka jangan kau sambung dengan shalat lain sampai kau berbicara atau keluar. Sesungguhnya Rasulullah SAW telah memerintahkan kami dengan itu, supaya tidak menyambung shalat hingga kita berbicara ataupun keluar.”

Dalam sabda Rasulullah Saw yang berbunyi: (أَمَرَنَا بِذَلكَ، أَنْ لَاتُوْصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ) kalimat shalat disana umum, tidak terikat apakah ia shalat wajib atau tidak, intinya sunah untuk memisahnya.

Penjelasan ini menjadi akar disunahkannya membaca shalawat Nabi dan membaca radhiyallahu ‘anhu di setiap sehabis salam saat tarawih. Mengapa tidak berpindah tempat saat shalat tarawih? Bayangkan saja jika masing-masing orang harus berpindah tempat, proses shalat tarawih tentunya akan menyulitkan.

Adapun hukum membaca shalawat di setiap dua rakaat tarawih, dijelaskan oleh Zainuddin bin Muhammad Al-Aydarus dalam Kitab Ittihaful Anam bi Ahkamis Shiyam menjelaskan:

وَأَمَّا الصّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ رَكَعَاتِ التَّرَاوِيْحِ الْمُعْتَادَّةُ فِي بَعْض الْبُلْدَانِ فَهِيَ مِنْ جُمْلَةِ الْأَذْكَارِ الْمُتَقَدِّمَةِ وَهِيَ حَسَنَةٌ وَمَطْلُوْبَةٌ وَمَرْغُوْبٌ فِيهَا عَلَى الدَّوَامِ، فَغَالِبًا مَا يُصَلِّي عَلَى النَّبِي ثُمَّ يُعَقِّبُها دُعَاءٌ، وَيَخْتَمُ بِهَا أَيْضًا مَعَ الثَّنَاءِ عَلَى اللهِ تَعَالَى، وَهَذَا ثَابِتٌ مُجْتَمَعٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ مِنْ أَسْبَابِ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ.

Artinya, “Adapun shalawat kepada Nabi SAW di antara beberapa rakaat tarawih yang sudah biasa dilakukan di beberapa negara, yaitu kalimat zikir permulaan, adalah baik, dianjurkan dan disunahkan secara kontinu, pada biasanya membaca shalawat kemudian diikuti dengan doa, dan ditutup pula dengan shalawat serta pujian kepada Allah SWT, dan tradisi ini tetap dan telah disepakati, dan ia adalah sebab-sebab diistijabahnya doa,” (Lihat Zainuddin Al-‘Aydarus Al-Ba’alawy, Ittihaful Anam bi Ahkamis Shiyam, [Maktabah Al-Mujallad Al-‘Arabi], halaman 197).

Kemudian, diterangkan dalam kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubrâ, tanya jawab mengenai hukum membaca shalawat di setiap sesudah salam shalat tarawih.

ـ (وَسُئِلَ) فَسَّحَ اللَّهُ فِي مُدَّتِهِ هَلْ تُسَنُّ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بَيْنَ تَسْلِيمَاتِ التَّرَاوِيحِ أَوْ هِيَ بِدْعَةٌ يُنْهَى عَنْهَا؟

Artinya, “Imam Ibnu Hajar Al-Haitami–semoga Allah melapangkannya–apakah shalawat kepada Nabi SAW di antara salam shalat tarawih disunahkan atau bidah yang dilarang?”

ـ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ الصَّلَاةُ فِي هَذَا الْمَحَلِّ بِخُصُوصِهِ. لَمْ نَرَ شَيْئًا فِي السُّنَّةِ وَلَا فِي كَلَامِ أَصْحَابِنَا فَهِيَ بِدْعَةٌ يُنْهَى عَنْهَا مَنْ يَأْتِي بِهَا بِقَصْدِ كَوْنِهَا سُنَّةً فِي هَذَا الْمَحَلِّ بِخُصُوصِهِ دُونَ مَنْ يَأْتِي بِهَا لَا بِهَذَا الْقَصْدِ كَأَنْ يَقْصدَ أَنَّهَا فِي كُلِّ وَقْتٍ سُنَّةٌ مِنْ حَيْثُ الْعُمُومُ بَلْ جَاءَ فِي أَحَادِيثَ مَا يُؤَيِّدُ الْخُصُوصَ إلَّا أَنَّهُ غَيْرُ كَافٍ فِي الدَّلَالَةِ لِذَلِكَ.

Artinya, “Imam Ibnu Hajar menjawab, shalawat dalam keadaan ini dengan kekhususannya tidak ada dalilnya dalam sunah, juga tidak pada perkataan sahabat kami (ulama), maka itu adalah bidah yang dilarang bagi orang  yang melaksanakannya dan menganggap hal itu adalah sunah, dan tidak termasuk bidah yang terlarang, orang yang melaksanakannya bukan karena tujuan ini, seperti menganggap bahwa shalawat itu disunahkan di setiap waktu dari segi keumumannya, akan tetapi ada beberapa hadits yang menguatkan kekhususan shalawat, dengan catatan tidak cukup menjadikannya dalil,” (Lihat Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Fatawa Al-Fiqhiyyatul Kubra, Al-Maktabah Al-Islamiyyah], juz I, halaman 186).

Kemudian Imam Ibnu Hajar menerangkan:

وَمِمَّا يَشْهَدُ لِلصَّلَاةِ عَلَيْهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بَيْنَ تَسْلِيمَاتِ التَّرَاوِيحِ أَنَّهُ يُسَنُّ الدُّعَاءُ عَقِبَ السَّلَامِ مِنْ الصَّلَاةِ وَقَدْ تَقَرَّرَ أَنَّ الدَّاعِيَ يُسَنُّ لَهُ الصَّلَاةُ أَوَّلَ الدُّعَاءِ وَأَوْسَطَهُ وَآخِرَهُ وَهَذَا مِمَّا أَجْمَعَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ

Artinya, “Salah satu dalil yang mendukung membaca shalawat di antara rakaat-rakaat shalat tarawih, yaitu disunahkan membaca doa setelah salam, dan sudah ditetapkan bahwa orang yang berdoa disunahkan membaca shalawat, di awal, di tengah, dan di akhir doa,” (Lihat Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Fatawa Al-Fiqhiyyatul Kubra, [Al-Maktabah Al-Islamiyyah], juz I, halaman 186).

Dari keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa membaca shalawat di antara dua rakaat tarawih adalah sunah sesuai dengan kadar niatnya.

Kemudian bagaimana hukum membaca radhiyallahu anhu atau taradhdhi untuk Khulafaurrasyidin saat tarawih?

Zainuddin bin Muhammad Al-Aydarus dalam Kitab Ittihaful Anam bi Ahkamis Shiyam mengutip dari kitab Fatawa Ramadhan karya Sayyid ‘Abdullah bin Mahfudz Al-Haddad sebagai berikut:

وَهُوَ فِعْلٌ حَسَنٌ وَلَيْسَ بِدْعَةً ضَلَالَةً وَلَا أَنَّهُ سُنَّةٌ، فَمَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ أَحْسَنَ، وَمَنْ تَرَكَهُ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ، وَالتَّرَضِّي عَنِ الصَّحَابَةِ دُعَاءٌ يُثَابُ عَلَيْهِ.

Artinya, “Membaca taradhdhi adalah perbuatan yang bagus, bukan bid'ah yang sesat, dan bukan pula sunnah. Siapa yang mengerjakannya, maka ia telah berbuat baik, siapa yang meninggalkannya maka tak ada dosa baginya, dan membaca radhiyaLlahu ‘anhu untuk sahabat Nabi adalah doa yang diberikan pahala,” (Lihat Zainuddin Al-‘Aydarus Al-Ba’alawy, Ittihaful Anam bi Ahkamis Shiyam, [Maktabah Al-Mujallad Al-‘Arabi], halaman 201).

Kesimpulannya, membaca shalawat dan membaca radhiyallahu ‘anhu setiap sehabis salam saat tarawih adalah sunah mengingat hadits nabi yang menganjurkan untuk memisah shalat sunah dengan berpindah atau berbicara. Hakikatnya, membaca shalawat dan radhiyallahu ‘anhu adalah doa.

Demikianlah penjelasan hukum membaca shalawat Nabi dan radhiyallahu ‘anhu di setiap sehabis salam saat tarawih. Semoga doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT dikabulkan dengan membaca shalawat, begitu pula semoga mendapat berkah melalui para sahabat Nabi SAW. Wallahu a‘lam. (Amien Nurhakim)
Selasa 22 Mei 2018 16:30 WIB
Hukum Gosok Gigi dengan Pasta bagi Orang Berpuasa
Hukum Gosok Gigi dengan Pasta bagi Orang Berpuasa
Ilustrasi (eyeni.info)
Sudah maklum, orang yang berpuasa dilarang memasukkan benda apa pun ke dalam tubuh (jauf) melalui lubang tujuh yang dimiliki setiap manusia. Namun bagaimana apabila masuknya benda tersebut merupakan efek samping dari hal yang diwajibkan atau disunnahkan oleh agama? 

Efek samping dalam perintah syara’ memang terdapat konskuensi toleransi. Seperti orang yang berwudhu disunahkan berkumur tiga kali. Bagi orang yang berpuasa, selama berkumurnya hanya sampai batas tiga kali saja pada setiap akan wudhu, itu masih tetap disunahkan oleh syara’.  Efek sampingnya, apabila ada air yang tertelan secara tidak sengaja, tidak membatalkan wudhu asalkan berkumurnya tidak berlebih-lebihan.

Begitu pula mandi wajib atau sunnah, selama tidak berlebihan dalam menghentakkan, jika tidak sengaja, kemudian ada air yang masuk, puasanya tidak batal.

Baca juga: Hukum Menyelam saat Puasa
Lalu bagaimana orang yang bersiwak atau gosok gigi dengan pasta yang kemudian menyebabkan pasta atau ada air yang masuk melalui mulut? 

Imam Nawawi, dalam al-Majmu’, syarah al-Muhadzdzab menjelaskan: 

لو استاك بسواك رطب فانفصل من رطوبته أو خشبه المتشعب شئ وابتلعه افطر بلا خلاف صرح به الفورانى وغيره

Artinya: Jika ada orang yang memakai siwak basah. Kemudian airnya pisah dari siwak yang ia gunakan, atau cabang-cabang (bulu-bulu) kayunya itu lepas kemudian tertelan, maka puasanya batal tanpa ada perbedaan pendapat ulama. Demikian dijelaskan oleh al-Faurani dan lainnya. (Abi Zakriya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, juz 6, halaman 343)

Dari redaksi di atas dapat kita pahami, apabila air yang bukan barang inti atau bahkan bulu kayu yang merupakan salah satu bagian inti dari siwak itu sendiri membatalkan puasa apalagi pasta gigi yang sama-sama tidak diperintahkan syara’?

Oleh karena itu, orang yang berpuasa dengan gosok gigi menggunakan pasta, jika tidak ada air atau pasta yang masuk tenggorokan sama sekali, puasanya tidak batal. Namun apabila ada sedikit saja dari air atau pasta yang tertelan walaupun tanpa sengaja, puasanya batal. 

Solusinya, bagi orang yang berpuasa, demi kehati-hatian hendaknya menggosok gigi dahulu sebelum waktu imsak tiba. Jika sudah siang, cukup gosok gigi dengan kayu siwak (arok) atau dengan sikat gigi tanpa menggunakan pasta. 

Jika ingin menutupnya dengan air, sambungkan gosok gigi yang seperti demikian beriringan dengan berkumur sebelum wudhu selama tiga kali. Sehingga masing-masing aman. Demikian solusinya.  Wallahu a’lam. (Ahmad Mundzir) 

Selasa 22 Mei 2018 15:30 WIB
Tentukan Awal Bulan, Nabi Tak Bisa Hisab atau Tak Mau Hisab?
Tentukan Awal Bulan, Nabi Tak Bisa Hisab atau Tak Mau Hisab?
Ilustrasi (Pinterest)
Nahdlatul Ulama sebagai organisasi, dalam penetapan awal bulan hijriyah berpegang pada standar rukyatul Hilal. Hal ini didasarkan pada hadits:


قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ


Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal Dan berhari-rayalah kalian karena melihat hilal Apabila terhalang dari kamu sekalian, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh (HR. Bukhari)

Baca: Memahami Dalil Rukyat Hilal Melalui Bahasa
Walaupun demikian sebagai sebuah mazhab klasik, pendukung rukyat mendapat tantangan dari pendukung hisab sebagai mazhab yang datang kemudian. Hujjah mazhab hisab ini didasarkan pada hadits (selain juga ayat-ayat kawniyyah tentang peredaran matahari dan bulan) yang menjelaskan tentang status ke-ummi-an Nabi Muhammad ﷺ dan para umat beliau. Hadits tersebut adalah 

إنا أمة أمية ، لا نكتب ولا نحسب ، الشهر هكذا وهكذا . يعني مرة تسعة وعشرين ، ومرة ثلاثين

Kita adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu demikian dan demikian, yakni suatu kali 29 hari dan suatu 30 hari. (HR. Bukhari)

Aliran Hisab beralasan bahwa pada zaman dahulu umat islam tidak bisa menghitung sebagai pemaknaan dari kata ummi, jadi wajar jika Nabi ﷺ memerintahkan untuk menggunakan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan hijriyah. Sedangkan pada masa kini, umat Islam sudah bisa menghitung dengan berbagai teknologi yang semakin canggih. Jadi seharusnya umat Islam harus beralih pada hisab.

Kedua adalah hadits

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ menyebut-nyebut ramadhan kemudian bersabda, “janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal (tanggal satu Ramadan). Dan janganlah kalian berhari raya sehingga kalian melihatnya. Apabila  terhalang dari kalian, maka perkirakanlah. (HR. Bukhari) 

Baca: Tahap-tahap Penentuan Awal Bulan Qamariah Perspektif NU
Hadits di atas menurut mazhab hisab menunjukkan dibolehkan menggunakan hisab (uqdurulah) apabila langit mendung.

Jika ditelusuri, terkait makna ummi, dalam Tafsir al-Qurtubi, Ibn Abbas menyatakan bahwa:

الأميون العرب كلهم، من كتب منهم ومن لم يكتب؛ لأنهم لم يكونوا أهل كتاب

“Orang-orang ummi adalah semua bangsa Arab, baik yang menulis ataupun tidak. Karena mereka bukan ahli kitab.” 

Jadi konteks kata ummi di sini adalah orang Arab yang bukan golongan Yahudi atau Nasrani yang oleh orang-orang Arab disebut sebagai ahli kitab. Orang Yahudi pun sebaliknya menyebut orang Arab sebagai ummi. (QS Ali ‘Imran: 75)

Adapun makna lâ (tidak) menulis (mencatat) dan tidak menghitung, berdasarkan pemaknaan kata ummi di atas berarti “tidak mau” dan bukan “tidak bisa”. Sebagai pembanding coba lihat pernyataan Arab yang konon berasal dari khalifah Umar bin al-Khattab.

نحن أمة لا تنتصر بالعدة والعتاد ولكن ننتصر بقلة ذنوبنا وكثرة ذنوب الأعداء فلو تساوت الذنوب انتصروا علينا بالعدة والعتاد

Kita adalah umat yang ‘tidak’ mengandalkan jumlah dan peralatan perang. Tetapi kami mengandalkan sedikitnya dosa kami dan banyaknya dosa musuh kami. Jika jumlah dosa sama, mereka bisa mengandalkan jumlah dan peralatan perang untuk mengalahkan kita.

نحن قومٌ لا نأكل حتى نجوع، وإذا أكلنا لا نشبع

“Kami adalah kaum yang ‘tidak’ makan sampai kami lapar. Dan apabila kami makan tidak sampai kenyang.”

Pernyataan tersebut di atas menurut sejarawan, al-Halbi, adalah penyataan Nabi ﷺ kepada dokter yang dikirimkan raja Muqawqis kepada beliau. 

Baca: Beda Pendapat Ulama soal Penetapan Awal Ramadhan
Dalam dua pernyataan tersebut kata ‘’ bukan bermakna tidak bisa, tetapi bermakna tidak mau. Dalam konteks penentuan awal bulan hijriyah, maksud hadits tersebut adalah bahwa umat Islam tidak menggunakan hisab sebagaimana orang ahli kitab. 

Terkait dengan hadits yang membolehkan digunakannya hisab pada saat mendung, maka perlu mempertimbangkan hadits ini.
  
عَنْ عُمَيْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنْ الْأَنْصَارِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالُوا غُمَّ عَلَيْنَا هِلَالُ شَوَّالٍ فَأَصْبَحْنَا صِيَامًا ، فَجَاءَ رَكْبٌ مِنْ آخِرِ النَّهَارِ فَشَهِدُوا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ رَأَوْا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ ، فَأَمَرَ النَّاسَ أَنْ يُفْطِرُوا مِنْ يَوْمِهِمْ ، وَأَنْ يَخْرُجُوا لَعِيدِهِمْ مِنْ الْغَدِ

“Hilal bulan Shawwal tidak tampak bagi kami, maka kami puasa keesokan harinya. Kemudian datanglah para pelancong di akhir siang, dan bersaksi kepada Rasulullah ﷺ bahwa mereka melihat hilal kemarin. Maka Nabipun memerintahkan orang-orang untuk berbuka pada hari itu juga dan melaksanakan shalat hari raya pada keesokan harinya.” (HR Ahmad)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketika hilal tidak terlihat, maka Nabi ﷺ tidak menggunakan hisab tetapi menyempurnakan bulan Ramadan menjadi tiga puluh hari. Dengan demikian perkirakanlah (uqdurulah), seharusnya tidak bermakna hitunglah, tetapi bermakna sempurnakanlah tiga puluh hari.

Jadi penggunaan rukyat sebagai penentuan awal bulan Hijriyah masih relevan walaupun sains dan teknologi semakin berkembang. Sebab rukyatul hilal sebagai penciri khas umat sehingga tidak menyerupai (tasyabbuh) dengan umat agama yang lain. 


Ahmad Musonnif, Pengurus Lembaga Falakiyah NU PCNU Tulungagung