IMG-LOGO
Trending Now:
Quote Islami
MUTIARA RAMADHAN

Puasa yang Kosong Pahala

Sabtu 26 Mei 2018 20:45 WIB
Share:
Puasa yang Kosong Pahala
Sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Artinya: “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad)

Berpuasa dengan menghindari segala yang membatalkannya dari subuh hingga maghrib tiba adalah sah, gugurlah kewajiban sebagai muslim dan mukmin. Hanya saja, adakah pahalanya?

Mereka yang berpuasa bukan karena tunduk dan patuh terhadap perintah Allah, yang jauh dari keikhlasan, yang hanya karena menyesuaikan keadaan dan lingkungan, tak ada pahala baginya.

Mereka yang tetap membiarkan matanya melihat yang tak pantas, telinganya mendengarkan yang tak layak, lisannya menuturkan yang tak semestinya dituturkan, dan anggota badan lainnya melakukan apa-apa yang tak diridhai oleh Allah, adalah mereka yang mendapatkan lapar dan dahaga saja dari puasanya.

Puasa yang dilakukan tanpa keikhlasan, kosong tanpa pahala. (Yazid Muttaqin)

Tags:
Share:
Jumat 25 Mei 2018 19:0 WIB
MUTIARA RAMADHAN
Memberi Utang Allah Ta’ala
Memberi Utang Allah Ta’ala
Allah subhânahu wa ta’âla berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Artinya: “Siapakah yang mau memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah akan melipatgandakan pembayaran baginya dengan penggandaan yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan rezeki. Dan hanya kepada-Nya kalian akan dikembalikan.” (QS al-Baqarah: 245)

Tiga golongan manusia setelah mendengar atau membaca ayat ini:

Pertama, golongan yang rendah dan buruk. Mereka yang mengatakan Allah fakir. Allah membutuhkan kita dan kita adalah orang-orang kaya. Mereka adalah orang-orang bodoh.

Kedua, gologan yang ketika mendengar atau membaca ayat ini mereka lebih memilih sikap bakhil dan pelit. Mereka lebih mengedepankan harta, tak mau menginfakkannya di jalan Allah, tak mau menolong sesama. Mereka malas untuk melakukan ketaatan, lebih condong kepada kehidupan dunia.

Ketiga, golongan yang ketika mendengar atau membaca ayat ini bersegera untuk melaksanakannya. Segera ia sedekahkan apa yang mereka punya demi menggapai balasan dan ridlo Tuhannya.

Demikian Ibnul Arabi, sebagaimana dikutip Al-Qurtubi dalam tafsirnya. (Yazid Muttaqin)

Kamis 24 Mei 2018 15:0 WIB
MUTIARA RAMADHAN
Ciri Orang Takwa (3): Pemaaf
Ciri Orang Takwa (3): Pemaaf
Firman Allah:


الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَـــافِينَ عَنِ النَّــاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُـحْسِنِــينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada saat sarrâ’ (senang) dan pada saat dlarrâ’ (susah), dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134)

Memaafkan (al-‘afwu) berarti al-mahwu, menghapus. Allah itu al-‘afuww, Maha Memaafkan kesalahan hamba-Nya. Itu berarti Allah menghapus kesalahan tersebut.

Seorang anak yang menulis sebuah kalimat yang salah di buku tulisnya, ia akan menghapusnya hingga tak terbaca lagi. Bila kalimat yang salah masih bisa dibaca itu artinya sang anak tak menghapusnya dengan benar.

Demikianlah orang yang bertakwa yang memaafkan kesalahan orang lain. Ia akan menghapus kesalahan tersebut hingga tak akan ia baca lagi. Ia tak akan mengungkit-ungkit kesalahan tersebut baik kepada pelakunya maupun kepada orang lainnya. Baginya kesalahan itu adalah masa lalu.

Bila seorang yang memaafkan masih saja membicarakan dan mengungkit kesalahannya, mungkin saja ia tak benar-benar menghapusnya, tak benar-benar memaafkannya.

Ramadhan mencipta hamba yang ringan memaafkan, tidak mendendam. (Yazid Muttaqin)

Kamis 24 Mei 2018 3:30 WIB
MUTIARA RAMADHAN
Ciri Orang Takwa (2): Menahan Amarah
Ciri Orang Takwa (2): Menahan Amarah
Firman Allah:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَـــافِينَ عَنِ النَّــاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُـحْسِنِــينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada saat sarrâ’ (senang) dan pada saat dlarrâ’ (susah), dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134)

Kata al-kâdhim (orang yang menahan) adalah satu rumpun dengan kata al-kadhîmah yang berarti termos.

Sebuah termos, sepanas apapun air yang ada di dalamnya, ia mampu meredam panas isinya hingga orang yang memegangnya tak merasakan panasnya. Sebuah termos hanya akan mengeluarkan air panasnya bila jelas manfaatnya.

Maka demikianlah orang yang bertakwa, yang mampu menahan amarahnya. Ia mampu menyembunyikan amarahnya hingga orang-orang yang ada di sekitarnya tak tahu bahwa ia sedang marah. Sebagaimana termos, orang yang bertakwa hanya akan melampiaskan kemarahannya bila nyata kemanfaatannya.

Sesungguhnya ia memiliki peluang dan kemampuan untuk marah. Namun karena ketakwaannya ia lebih memilih untuk menahan dan meredamnya. 

Ramadhan mencipta hamba yang tak mudah marah. (Yazid Muttaqin)