IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Mengapa Merokok Dapat Membatalkan Puasa?

Senin 28 Mei 2018 17:0 WIB
Share:
Mengapa Merokok Dapat Membatalkan Puasa?
Ilustrasi (via theconversation.com)
Berpuasa adalah menahan diri, demikian dinyatakan para ulama. Salah satu hal yang membatalkan puasa dan mesti harus dihindari adalah memasukkan sesuatu ke dalam lubang tubuh yang terbuka secara sengaja.

Menurut bahasa fiqih, sesuatu yang masuk ke dalam lubang tubuh yang terbuka dan dapat membatalkan puasa ini disebut sebagai ‘ain. Syekh Zakariya al-Anshari menyebutkan dalam Fathul Wahhab, ‘ain ini adalah benda apa pun, baik makanan, minuman, atau obat (Lihat Syekh Zakariya Al-Anshari, Fathul Wahhab ‘ala Syarhi Manhajut Thullab, Beirut, Darul Fikr, 1994, juz 1, halaman 140). 

Kebanyakan benda yang kita tahu membatalkan puasa, berwujud padat atau cair. Nah, bagaimana jika wujud gas, asap, atau uap?

Asap atau uap, ternyata dianggap mayoritas ulama tidak membatalkan puasa jika dihirup. Karena itulah puasa kita tidak batal dengan menghirup uap masakan yang beraroma. Begitu pula dengan menghirup asap kemenyan atau minyak angin, juga dinilai tidak membatalkan puasa. 

Baca: Hukum Menghirup Inhaler atau Minyak Angin saat Puasa
Namun, di balik asap dan uap yang disebut tidak membatalkan puasa, ada satu substansi yang sedikit rumit dipaparkan, yaitu soal rokok. Apakah menghisap rokok membatalkan puasa?

Banyak masyarakat Indonesia merokok setiap harinya. Perilaku merokok, Anda tahu, tentu adalah membakar tembakau yang telah dilinting, untuk kemudian dihisap dan diembuskan asapnya.

Kendati tampaknya hanya mengisap, merokok dalam bahasa Arab disebut syurbud dukhan, atau jika diartikan secara literer artinya minum/mengisap asap. Karena nama merokok secara adat adalah asy-syurbu, serta perilaku yang tampak adalah mengisap, mayoritas ulama berpendapat bahwa merokok itu membatalkan puasa dengan berpegangan pada makna ini.

Baca juga: Bahtsul Masail tentang Hukum Merokok
Selain soal definisi dan pelaksanaan merokok itu sendiri, diskusi lebih lanjut seputar hukum merokok saat puasa juga berasal dari pertanyaan: apakah asap yang diisap dari rokok itu termasuk ‘ain?

Salah satu ulama mazhab Syafii bernama Syekh Sulaiman al-‘Ujaili menyebutkan dalam kitabnya Hasyiyatul Jamal:

وَمِنْ الْعَيْنِ الدُّخَانُ لَكِنْ عَلَى تَفْصِيلٍ فَإِنْ كَانَ الَّذِي يَشْرَبُ الْآنَ مِنْ الدَّوَاةِ الْمَعْرُوفَةِ أَفْطَرَ وَإِنْ كَانَ غَيْرَهُ كَدُخَانِ الطَّبِيخِ لَمْ يُفْطِرْ هَذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ

Artinya: “Dan termasuk dari ‘ain (hal yang membatalkan puasa) adalah asap, tetapi mesti dipilah. Jika asap/uap itu adalah yang terkenal diisap sekarang ini (maksudnya tembakau) maka puasanya batal. Tapi jika asap/uap lain, seperti asap/uap masakan, maka tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat yang mu’tamad (dirujuk ulama karena kuat argumentasinya).” (Lihat Sulaiman al-‘Ujaili, Hasyiyatul Jumal ‘ala Syarhil Minhaj, Beirut, Darul Fikr, juz 2 halaman 317)

Begitu pula dalam Tuhfatul Muhtaj dinyatakan bahwa asap tembakau yang diisap itu membatalkan puasa. Penulis kitab tersebut, Imam Ibnu Hajar al-Haitami, menyebutkan bahwa rokok dianggap membatalkan puasa karena memiliki ‘sensasi’tertentu yang dapat dirasakan dari kandungan tembakaunya (Lihat Ibnu Hajar al Haitamin, Tuhfatul Muhtajfi Syarhil Minhaj, Mesir, al-Maktabah at-Tijariyah al-Kubra, 1983 M, juz 3 halaman 400-401).

Sebagai penjelas, Ibnu Hajar menyertakan kisah seorang ulama yang menemui murid-muridnya sedan membawa pipa untuk menghirup tembakau saat puasa. Syekh yang bernama Az-Ziyadi ini lantas memecahkan pipa itu di depan mereka, dan melihat ada ampas dari asap di dalamnya. 

Sebelum mengecek hakikat ‘asap yang diisap dari rokok’, Syekh az-Ziyadi ini mulanya berpendapat bahwa rokok itu boleh. Namun setelah mengetahui lebih detil, ia pun menilai adanya bekas dari asap yang dihirup, dan menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah ‘ain yang membatalkan puasa.

Karena dinilai sebagai ‘ain, asap yang diisap dari rokok ini membatalkan karena diisap secara sengaja. Berikut keterangan dalam Syekh Nawawi al-Banteni dalam kitab Nihayatuz Zain:

يفْطر صَائِم بوصول عين من تِلْكَ إِلَى مُطلق الْجوف من منفذ مَفْتُوح مَعَ الْعمد وَالِاخْتِيَار وَالْعلم بِالتَّحْرِيمِ ...وَمِنْهَا الدُّخان الْمَعْرُوف

Artinya: Sampainya ‘ain ke tenggorokan dari lubang yang terbuka secara sengaja dan mengetahui keharamannya itu membatalkan puasa...seperti mengisap asap (yang dikenal sebagai rokok). (Lihat Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Nihayatuz Zain fi Irsyadul Mubtadiin, Beirut: Darul Fikr, juz 1, halaman 187)

Seorang ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes menyusun kitab berjudul Irsyadul Ikhwan fi Bayanil Qahwah wad Dukhan (Kitab Kopi dan Rokok). Selain menyodorkan berbagai perdebatan seputar hukum rokok, ia juga menyertakan masalah merokok saat puasa. 

Ulama asal Kediri ini mengumpulkan pendapat para ulama tentang hukum merokok saat puasa, dan berkesimpulan bahwa hal tersebut memang membatalkan puasa. Kendati semisal ‘ain dari asap yang diisap dari rokok ini sulit diidentifikasi secara fisik, tapi secara 'urf ia adalah ‘ain, seperti dicatat Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj.

Dapat juga dipahami mengapa orang yang terpapar asap rokok (secondhand smoker/perokok pasif), tidak membatalkan puasa. Batalnya puasa hanya jatuh bagi sang perokok saja, toh yang melakukan syurbud dukhan adalah perokoknya. Orang di sekitarnya hanya menghirup asap yang diembuskan perokok.

Saat ini kita juga mengenal alat vape, atau shisha, yang kerap digunakan sebagai alternatif rokok. Jika merujuk beberapa argumentasi di atas, maka keduanya juga membatalkan puasa. Penggunaan di atas menggunakan cairan/gel yang diuapkan, serta tentu sengaja dihirup.

Demikianlah mengapa merokok itu membatalkan puasa, meskipun hanya tampak mengisap asap belaka. Menahan diri untuk sejenak tidak merokok, meski berat, adalah satu pembelajaran tersendiri di bulan puasa ini. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Share:
Ahad 27 Mei 2018 15:0 WIB
Tiga Alasan Mengapa Rukyatul Hilal Bersifat Lokal, Bukan Global
Tiga Alasan Mengapa Rukyatul Hilal Bersifat Lokal, Bukan Global
Perbedaan dalam penentuan hari raya di kalangan umat Islam, oleh sebagian pihak dianggap sebagai kemunduran umat Islam. Hal ini mendorong beberapa pihak dari umat Islam untuk mencari metode dan landasan syar’i agar umat Islam seluruh dunia melaksanakan hari raya secara serentak, sebagaimana umat agama lain.

Walaupun gagasan tersebut sangat ideal, tetapi pada realitasnya mengalami banyak kendala. Pertama,  bentuk bumi yang bulan menyebabkan perbedaan kemungkinan terlihatnya hilal antara yang satu dengan yang lain (www.crescentwatch.org). Kedua, perbedaan siang dan malam di berbagai daerah di belahan bumi yang menyebabkan perbedaan waktu di bumi. 

Baca juga: Tahap-tahap Penentuan Awal Bulan Qamariah Perspektif NU
Ketiga, ada beberapa landasan normatif yang menjadi pertimbangan mengapa umat Islam di seluruh dunia tidak bisa bersatu. Di antara landasan normatif tersebut adalah sebagai berikut.  

Diriwayatkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali:

أَنَّ أَمِيرَ مَكَّةَ خَطَبَ ثُمَّ قَالَ عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا 

“Bahwasanya gubenur Makkah (al-Harits bin Hatib) berkhutbah seraya berkata, ‘Rasulullah SAW telah meminta janji kita untuk melakukan manasik karena melihat (hilal), jika kita tidak melihatnya dan dua orang saksi yang adil menyaksikan, maka kita bermanasik dengan kesaksian keduanya.  (HR Abu Dawud) 

عَنْ كُرَيْبٍ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ فَقُلْتُ أَوَ لَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لَا هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Kuraib: Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Harits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata : Lalu aku datang ke Syam, kemudian aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku hilal (Ramadlan), sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ; “Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan) ? maka aku menjawab : “Kami melihatnya pada malam Jum’at”.Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?” maka aku menjawab : “Ya ! Dan orang-orang juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah juga berpuasa”.Ia berkata : “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami  terus berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihatnya (hilal Syawwal) “. Aku bertanya : “Apakah tidak cukup dengan ru’yah dan puasanya Mu’awiyah ? Jawabnya : “Tidak ! demikianlah Rasulullah SAW, memerintahkan kepada kami”. (HR. Muslim)

Baca juga: Kesaksian Rukyatul Hilal Perlu Diverifikasi, Mengapa?
Dalam kitab al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan:

عَنْ أَبِي وَائِلٍ ، قَالَ : " أَتَانَا كِتَابُ عُمَرَ وَنَحْنُ بِخَانقِينَ ؛ أَنَّ الأَهِلَّةَ بَعْضُهَا أَكْبَرُ مِنْ بَعْضٍ ، فَإِذَا رَأَيْتُمَ الْهِلاَلَ نَهَارًا فَلاَ تُفْطِرُوا ، حَتَّى يَشْهَدَ رَجُلاَنِ مُسْلِمَانِ أَنَّهُمَا رَأَيَاهُ بِالأَمْسِ

Diriwayatkan dari Abu Wa’il yang berkata, “surat Umar datang kepada kami sedngkan kami berada di Khanaqin (suatu daerah di Irak), ‘bahwa hilal (pada suatu bulan) lebih besar dari hilal yang lain. Jika kalian melihat hilal di siang hari janganlah berhari raya sampai ada dua orang laki-laki muslim yang melihatnya di hari kemarin’.” 

Dari beberapa hadits tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kota Makkah, negeri Syam, dan kota Khanaqin, tidak mengikuti hasil rukyatul hilal kota Madinah, tetapi masing-masing daerah melakukan rukyatul hilal mandiri. Alasan rasionalnya adalah bahwa masing-masing daerah tersebut letaknya berjauhan dan visibilitas hilalnya beragam.  


Ahmad Musonnif, pengurus Lembaga Falakiyah PCNU Tulungagung

Sabtu 26 Mei 2018 21:45 WIB
Kesaksian Rukyatul Hilal Perlu Diverifikasi, Mengapa?
Kesaksian Rukyatul Hilal Perlu Diverifikasi, Mengapa?
Ilustrasi (Getty Images)
Rukyatul Hilal sebagai sebuah metode penentuan awal bulan Hijriyah terkadang mengalami kendala. Mata manusia sebagai sarana satu-satunya alat untuk membuktikan penampakan hilal terkadang salah dalam melakukan pengamatan.

Sebagai contoh di Arab Saudi. Negara ini menetapkan awal bulan Ramadhan dan Syawal dengan rukyatul hilal sehingga memunculkan para praktisi rukyatul hilal. Salah satunya adalah Abdullah bin Muhammad Al-Khudlairi. Mahkamah Agung Saudi telah menerima laporannya selama 30 tahun terakhir. Kesaksian Abdullah Al-Khudlairi telah diterima oleh pemerintah Saudi selama 10 tahun. Padahal, tim resmi Komite Hilal pemerintah Saudi yang juga melakukan observasi di waktu dan daerah yang sama tidak dapat melihat hilal. Akhirnya pada saat penentuan awal bulan Ramadhan 1435 H, seorang anggota Komite Hilal menemani Al-Khudhairi dalam melakukan pengamatan hilai di petang hari Jum’at, 27 Juni 2014. Matahari tidak tampak saat itu karena cuaca penuh debu dan pada saat itu al-Khudlairi menyatakan tidak melihat hilal. (blog.al-habib.info)
Pada 2015 lembaga astronomi di kota Jeddah menyatakan bahwa yang dilihat para saksi adalah planet saturnus (kawkab zuhal) dan bukan hilal bulan Syawwal 1436 H. Sehingga penetapan hari raya yang dilakukan oleh pemerintah Saudi terlalu dini. Sebagai bentuk tanggung jawab, pemerintah Saudi mengeluarkan dana sebesar satu miliar enam juta riyal untuk membayar kaffarat warga Saudi yang tidak berpuasa pada hari itu. (ar.yabiladi.com) 

Verifikasi kesaksian hilal biasanya dilakukan dengan dua hal. Pertama, saksi harus seorang Muslim. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ : جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلاَلَ - قَالَ الْحَسَنُ فِي حَدِيثِهِ : يَعْنِى : رَمَضَانَ - فَقَالَ : أَتَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ؟ ، قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : (يَا بِلاَلُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ فَلْيَصُومُوا غَداً 

“Datang seorang Badui kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata: Sesungguhnya aku telah melihat hilal. (Hasan, perawi hadits menjelaskan bahwa hilal yang dimaksud sang badui yaitu hilal Ramadhan). Rasulullah Saw. bersabda: Apakah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah? Dia berkata: Benar. Beliau meneruskan pertanyaannya seraya berkata: Apakah kau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah? Dia berkata: Ya benar. Kemudian Rasulullah berkata, “wahai Bilal, umumkan pada orang-orang untuk puasa besok. (HR Abu Dawud)

Kedua, pembuktian bahwa penampakan hilal bukan penampakan semu. Karena bagaimanapun penglihatan manusia memiliki keterbatasan. Dalam kitab Wafiyyatul A‘yan wa Abna’ Abna’ al-Zaman, sejarawan Ibnu Khalikan menceritakan sebuah kisah menarik tentang Iyas bin Mu’awiyah

وتراءى هلال شهر رمضان جماعة فيهم أنس بن مالك رضي الله عنه وقد قارب المائة، فقال أنس: قد رأيته، هو ذاك. وجعل يشير إليه فلا يرونه، ونظر إياس إلى أنس وإذا شعرة من حاجبه قد انثنت، فمسحها إياس، وسواها بحاجبه، ثم قال له: يا أبا حمزة، أرنا موضع الهلال. فجعل ينظر، ويقول: ما أراه

“Sekelompok orang mengamati hilal bulan Ramadhan, di antara mereka ada Anas bin Malik radliyallahu ‘anh, yang berusia hampir seratus tahun. Anas berkata, ‘aku melihatnya, itu dia’ sambil menunjuk ke arahnya, tetapi orang-orang tidak melihatnya. Iyas melihat Anas dan melihat sehelai rambut pada alisnya. Kemudian Iyas mengusap rambut itu dan merapikan alis Anas. Kemudian Iyas berkata, ‘wahai Abu Hamzah tunjukkan posisi hilal. Maka Anas mengamati lagi dan berkata, ‘aku tidak melihatnya.”
Selain itu terkadang seseorang melihat hilal bukan pada waktu yang tepat. Sebagaimana terjadi pada masa sahabat.

 عن سالم بن عبد الله بن عُمَرَ: أَنَّ نَاسًا رَأَوْا هِلَالَ الْفِطْرِ نَهَارًا ، فَأَتَمَّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا صِيَامَهُ إلَى اللَّيْلِ ، وَقَالَ: لاَ ، حَتَّى يُرَى مِنْ حَيْثُ يُرَى بِاللَّيْلِ

Diriwayatkan dari Salim bin Abdullah bin Umar, “bahwa orang-orang melihat hilal idul Fitri di siang hari. Maka Abdullah bin Umar radliyahhu ‘anh tetap menyempurnakan puasanya sampai malam, dan berkata,‘tidak, sampai hilal terlihat malam hari’.” (HR Baihaqi)

Dalam atsar tersebut Ibnu Umar menolak kesaksian hilal tidak pada waktunya. 

Pada saat ini, seiring perkembangan ilmu astronomi, waktu munculnya hilal, tinggi bulan (irtifa’ hilal), posisi bulan (azimuth hilal) dan lamanya bulan di atas ufuk (muksul hilal) dapat dihitung secara matematis. Dengan demikian ilmu falak dapat menjadi alat bantu untuk melakukan verifikasi kesaksian rukyatul hilal. Sehingga tidak ada lagi kesaksian hilal berdasarkan penampakan semu. 


Ahmad Musonnif, Pengurus Lembaga Falakiyah PCNU Tulungagung
Sabtu 26 Mei 2018 20:30 WIB
Puasa Meneladani Sifat-sifat Allah
Puasa Meneladani Sifat-sifat Allah
Beragama menurut sementara pakar adalah upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk. Dalam hal ini, kekuasaan Allah baik dalam wujud ayat-ayat qauliyah (wahyu) maupun ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam) bisa menjadi washilah bagi manusia merenungi sekaligus memanifestasikan sifat-sifat Allah.

Menurut Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dalam karyanya Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (2000) menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan, takhallaqu bi akhlaq Allah (Berakhlaklah (teladanilah) sifat-sifat Allah).

Di sisi lain, manusia mempunyai kebutuhan beraneka ragam, dan yang terpenting adalah kebutuhan fa'ali, yaitu  makan, minum, dan hubungan seks Allah SWT memperkenalkan diri-Nya antara lain sebagai tidak mempunyai anak atau istri:

“Bagaimana Dia memiliki anak, padahal Dia tidak memiliki istri?” (QS Al-An'am [6]: 101)

“Dan sesungguhnya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak pula beranak.” (QS Al-Jin [72]: 3).

Al-Qur’an juga memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan:

“Apakah aku jadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan...?” (QS Al-An'am [6]: 14).

Dalam karya lainnya Membumikan Al-Qur’an (1999), Quraish Shihab menerangkan, manusia dapat mempertanyakan mengapa puasa menjadi kewajiban bagi umat Islam dan umat-umat terdahulu? Manusia memiliki kebebasan bertindak memilih dan memilah aktivitasnya, termasuk dalam hal ini, makan, minum, dan berhubungan seks. 

Binatang—khususnya binatang-binatang tertentu--tidak demikian. Nalurinya telah mengatur ketiga kebutuhan pokok itu, sehingga--misalnya--ada waktu atau musim berhubungan seks bagi mereka. Itulah hikmah Ilahi demi memelihara kelangsungan hidup binatang yang bersangkutan, dan atau menghindarkannya dari kebinasaan.

Kebebasan yang dimilikinya bila tidak terkendalikan dapat menghambat pelaksanaan fungsi dan peranan yang harus diembannya.

Kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang yang memenuhi syahwat perutnya melebihi kadar yang diperlukan, bukan saja menjadikannya tidak lagi menikmati makanan atau minuman itu, tetapi juga menyita aktivitas lainnya kalau enggan berkata menjadikannya lesu sepanjang hari.

Syahwat seksual juga demikian. Semakin dipenuhi semakin haus bagaikan penyakit eksim  semakin digaruk semakin nyaman dan menuntut, tetapi tanpa disadari menimbulkan borok.

Potensi dan daya manusia--betapa pun besarnya--memiliki keterbatasan, sehingga apabila aktivitasnya telah digunakan secara berlebihan ke arah tertentu --arah pemenuhan kebutuhan fa’ali misalnya—maka arah yang lain, --mental spiritual--akan terabaikan. Nah, di sinilah diperlukannya pengendalian.

Dengan berpuasa, manusia berupaya dalam tahap awal dan minimal mencontohi sifat-sifat tersebut. Tidak makan dan tidak minum, bahkan memberi makan orang lain (ketika berbuka  puasa), dan tidak pula berhubungan seks, walaupun pasangan ada.

Tentu saja sifat-sifat Allah tidak terbatas pada ketiga hal itu, tetapi mencakup  paling  tidak  sembilan  puluh sembilan sifat yang kesemuanya harus diupayakan untuk diteladani sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk ilahi.

Misalnya Maha Pengasih dan Penyayang, Mahadamai, Mahakuat, Maha Mengetahui, dan lain-lain. Upaya peneladanan  ini dapat mengantarkan manusia menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya, dan bila hal itu berhasil dilakukan, maka takwa dalam pengertian di atas dapat pula dicapai.

Karena itu, nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran tersebut --bukan pada sisi lapar dan dahaga-- sehingga dari sini dapat dimengerti mengapa Nabi Muhammad menyatakan bahwa, "Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga." (Fathoni)