IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Jalan Takwa Melalui Puasa

Jumat 1 Juni 2018 4:30 WIB
Share:
Jalan Takwa Melalui Puasa
Puasa di bulan suci Ramadhan bermuara pada ketakwaan kepada Allah SWT seperti yang dijelaskan Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183, la’allakum tattaqun. Meskipun memang, puasa bukan satu-satunya ibadah yang dapat membawa manusia pada ketakwaan, tetapi level takwa telah dijamin oleh Allah untuk orang-orang beriman yang menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

Berbicara tentang, Pakar Tafsir Prof Dr Muhammad Qiraish Shihab dalam buku karyanya Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (2000) menjelaskan, takwa terambil dari akar kata yang bermakna menghindar, menjauhi, atau menjaga diri. Kalimat perintah ittaqullah secara harfiah berarti, hindarilah, jauhilah, atau jagalah dirimu dari Allah.

Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dapat dilakukan makhluk. Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari Allah atau menjauhi-Nya. Sedangkan Dia (Allah) bersama manusia di mana pun manusia berada.

Karena itu perlu disisipkan kata atau kalimat untuk meluruskan maknanya. Misalnya kata siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.
Sebagaimana kita ketahui, siksa Allah ada dua macam:

Pertama, siksa di dunia akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan yang ditetapkan-Nya berlaku di alam raya ini. Seperti misalnya, "Makan berlebihan dapat menimbulkan penyakit", "Tidak mengendalikan diri dapat menjerumuskan kepada bencana", atau "Api panas, dan membakar", dan hukum-hukum alam dan masyarakat lainnya.

Kedua, siksa di akhirat, akibat pelanggaran terhadap hukum syariat, seperti tidak shalat, puasa, mencuri, melanggar hak-hak manusia, dan lain-lain yang dapat mengakibatkan siksa neraka.

Syekh Muhammad Abduh dalam Quraish Shihab (2000) menulis, "Menghindari siksa atau hukuman Allah, diperoleh dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya.”

Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah SWT). Rasa takut ini, pada mulanya timbul karena adanya siksaan, tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah SWT (yang menyiksa).

Dengan demikian, yang bertakwa adalah orang yang merasakan kehadiran Allah SWT setiap saat, "bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak, menyadari bahwa Allah melihatnya," sebagaimana bunyi sebuah hadis.

Tentu banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencapai derajat takwa, antara lain dengan jalan berpuasa seperti yang dijelaskan di awal. Puasa seperti yang telah dipahami bersama adalah satu ibadah yang unik. Keunikannya antara lain karena ia merupakan upaya manusia meneladani Allah SWT.

Sebab, beragama menurut sementara pakar adalah upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk. Dalam hal ini, kekuasaan Allah baik dalam wujud ayat-ayat qauliyah (wahyu) maupun ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam) bisa menjadi washilah bagi manusia merenungi sekaligus memanifestasikan sifat-sifat Allah. (Fathoni)
Tags:
Share:
Jumat 1 Juni 2018 21:15 WIB
Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (3-Habis)
Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (3-Habis)
Pada dua artikel sebelumnya telah dijelaskan nama-nama lain bulan Ramadhan. Banyaknya julukan pada Ramadhan menandakan betapa istimewanya bulan suci ini. Kata "ramadhan" sendiri berakar kata dari ramidla (رمِض) yang bararti “panas terik”. Makna ini bisa dipahami sebagai kiasan atas beban dahaga atau panasnya kerongkongan yang dialami orang-orang puasa selama Ramadhan.

Ada setidaknya enam belas nama, sebagaimana diungkap kitab Ittihaf al-Anam bi Ahkam ash-Shiyam karya Dr. Zainuddin bin Muhammad bin Husain bin al-‘Aydarus al-Ba’alawy. Berikut artikel pamungkas yang memaparkan beberapa poin lanjutan dari nama-nama yang sudah disampaikan pada tulisan terdahulu—(Redaksi)

Baca:
Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (1)
Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (2)
11. Bulan Jihad

Bulan Ramadhan disebut juga sebagai bulan jihad, sebab ada beberapa perang yang dilaksanakan ketika bulan Ramadhan. Namun jihad hawa nafsu termasuk jihad yang berat, dimana kita akan berhadapan dengan diri kita sendiri. Contoh saja, kita harus menahan diri dari berkata yang tidak baik ketika puasa, sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadits Nabi ﷺ:

إذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

"Apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan puasa, maka janganlah dia berkata rafats (kotor) dan jangan pula bertengkar sambil berteriak. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan 'Aku orang yang sedang puasa."

Kemudian makna dari salah satukata shaum adalah menahan, tentunya menahan hawa nafsu adalah jihad yang harus kita lakukan.

12. Bulan Keberkahan

Dalam hadits ‘Ubadah terdapat redaksi:

أتاكم رمضان شهر بركة

"Telah dating bulan keberkahan kepada kalian."

Ini yang menjadi dasar penamaan bulan Ramadhan sebagai bulan berkah. Makna berkah sendiri adalah bertambahnya kebaikan, tentunya ini sangat selaras, dimana kaum Muslimin berlomba-lomba memperbaiki kualitas ibadah mereka di bulan ini.

13. Bulan Masjid

Malam bulan Ramadhan, khususnya lima belas terakhir, banyak diisi dengan i’tikaf, atau ibadah dengan berdiam diri di masjid. I’tikaf hukumnya sunnah, Rasulullah senantiasa melakukan I’tikaf ketika malam di bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam hadits dalam kitab Shohih Bukhari dan Muslim:

أَنَهُ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إِعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوْسَط مِنْ رَمَضَانَ، ثُمَّ اِعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ وَلَازَمَهُ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ تَعَالَى

"Sesungguhnya Rasulullah ﷺ beri'tikaf pada sepuluh hari pertengahan bulan Ramadhan, kemudian juga di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau selalu melaksanakan i'tikaf hingga Allah mewafatkannya (meninggal)."

Sudah maklum bahwa i’tikaf mesti dilaksanakan dilaksanakan di masjid yang sudah diwakafkan, oleh sebab itu Ramadhan dinamakan pula bulan masjid, dimana masjid-masjid lebih ramai dari biasanya, bahkan di malam hari.

14. Tuannya Bulan-bulan yang Lain

Rajanya hari adalah hari Jumat, begitu pula rajanya bulan adalah bulan Ramadhan. Sebagaimana riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri RA:

سيد الشهور شهر رمضان وأعظمها حرمة ذو الحجة

Penghulu bulan-bulan adalah bulan Ramadhan dan yang paling agung kesuciannya Dzulhijjah (HR. Baihaqi)

15. Bulan Ibadah

Sebagaimana banyak dijelaskan di atas, bulan suci Ramadhan adalah bulan yang dipenuhi dengan rahmat sehingga hambaNya dapat melaksanakan ibadah puasa, bahkan kualitas ibadah Muslim pada bulan ini meningkat, berdasarkan hadits dalam yang diriwayatkan oleh Abu Darda, Nabi ﷺ bersabda:

لكل شيء باب وباب العبادة الصيام 

"Segala sesuatu itu terdapat pintu, sedangkan pintunya ibadah itu puasa."

16. Bulan Kebaikan

Ramadhan disebut juga bulan kebaikan (شهر الخير), sebgaimana disebutkan dalam hadits Nabi ﷺ, dari riwayat ‘Ubadah RA:

أتاكم رمضان شهر بركة ، فيه خير يغشيكم الله فيه

"Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, di dalamnya ada kebaikan yang Allah liputi untuk kalian."

Demikian nama-nama lain dari bulan Ramadhan, umumnya nama-nama ini bersumber dari hadits , meski banyak sekali yang dha’if, namun jika ditinjau dari nilai-nilai yang terdapat di dalamnya, tentunya selaras dengan nama tersebut.

(Amien Nurhakim)

Jumat 1 Juni 2018 12:30 WIB
Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (2)
Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (2)
Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan lima nama lain bulan Ramadhan. Banyaknya julukan pada Ramadhan menandakan betapa istimewanya bulan suci ini. Kata "ramadhan" sendiri berakar kata dari ramidla (رمِض) yang bararti “panas terik”. Makna ini bisa dipahami sebagai kiasan atas beban dahaga atau panasnya kerongkongan yang dialami orang-orang puasa selama Ramadhan.

Ada setidaknya enam belas nama, sebagaimana diungkap kitab Ittihaf al-Anam bi Ahkam ash-Shiyam karya Dr. Zainuddin bin Muhammad bin Husain bin al-‘Aydarus al-Ba’alawy. Berikut beberapa poin lanjutan dari artikel sebelumnya—(Redaksi)

Baca: Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (1)
6. Bulan Ampunan

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh ampunan, ini yang menjadi kekhususan umat Nabi Muhammad ﷺ. Imam al-Baihaqi meriwayatkan hadits yang berbunyi:

عن أبي نضرة، قال: سمعت جابر بن عبد الله ، يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أعطيت أمتي في شهر رمضان خمسا لم يعطهن نبي قبلي: أما واحدة، فإنه إذا كان أول ليلة من شهر رمضان نظر الله عز وجل إليهم، ومن نظر الله إليه لم يعذبه أبدا، وأما الثانية فإن خلوف أفواههم حين يمسون أطيب عند الله من ريح المسك، وأما الثالثة فإن الملائكة تستغفر لهم في كل يوم وليلة، وأما الرابعة فإن الله عز وجل يأمر جنته فيقول لها: استعدي وتزيني لعبادي أوشك أن يستريحوا من تعب الدنيا إلى داري وكرامتي، وأما الخامسة فإنه إذا كان آخر ليلة غفر لهم جميعا» فقال رجل من القوم: أهي ليلة القدر؟ فقال: (لا ألم تر إلى العمال يعملون فإذا فرغوا من أعمالهم وفوا أجورهم؟ )

Dari Jabir RA berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Umatku telah diberi lima perkara di bulan Ramadhan, yang mana tidak diberikan kepada umat lain sebelumnya: Pertama, jika datang malam pertama bulan Ramadhan Allah ﷻ melihat kepada mereka, dan barang siapa yang dilihat oleh Allah di hari ini maka tidak akan disiksa selamanya. Kedua, bau mulut sebab berpuasa saat mereka berada di sore hari lebih harum dari minyak misik. Ketiga: para Malaikat memintakan ampun untuknya di setiap siang dan malam. Keempat: Allah ﷻ memerintahkan kepada surga dan berfirman kepadanya: “Bersiap-siaplah dan berhiaslah untuk hambaku wahai Surga! Aku berharap kepada mereka untuk beristirahat dari kelelahan dunia menuju rumah-Ku dan pemberian-Ku. Kelima: Jika datang akhir malam mereka semua telah diampuni oleh Allah ﷻ, kemudian seorang laki-laki berkata: "Apakah malam itu malam Lailatul Qadar?" Rasulullah ﷺ menjawab: “Bukan, tidakkah kau melihat kepada orang-orang pekerja, mereka bekerja keras dan jika telah usai maka mereka akan mendapatkan gaji?’" (HR Al-Baihaqi)

7. Bulan Kesabaran

Puasa Allah jadikan sebagai tameng untuk menjaga diri, maka dari itu ketika berpuasa banyak pantangan-pantangan yang perlu kita hindari, seperti marah. Bulan Ramadhan dinamakan bulan kesabaran, sebab ada salah satu hadits dari Salman al-Farisi RA:

أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم شهر مبارك شهر فيه ليلة خير من ألف شهر جعل الله صيامه فريضة و قيام ليله تطوعا من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه و من أدى فيه فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه وهو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة و شهر المواساة و شهر يزداد فيه رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه و عتق رقبته من النار و كان له مثل أجره منغير أن ينتقص من أجره شيء قالوا ليس كلنا نجد ما يفطر الصائم فقال : يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على تمرة أو شربة ماء أو مذقة لبن و هو شهر أوله رحمة و أوسطه مغفرة و آخره عتق من النار من خفف عن مملوكه غفر الله له و أعتقه من النار و استكثروا فيه من أربع خصال : خصلتين ترضون بهما ربكم و خصلتين لا غنى بكم عنهما فأما الخصلتان اللتان ترضون بهما ربكم فشهادة أن لا إله إلا الله و تستغفرونه و أما اللتان لا غنى بكم عنهما فتسألون الله الجنة و تعوذون به من النار و من أشبع فيه صائما سقاه الله من حوضي شربة لا يظمأ حتى يدخل الجنة

“Wahai manusia, sungguh bulan yang agung telah menaungi kalian, bulan yang diberkahi, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang mana Allah jadikan puasa di siang harinya sebagai kewajiban, dan shalat (tarawih) di malamnya sebagai sunah. Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah di bulan ini dengan satu kebaikan (amalan sunnah), maka pahalanya seperti dia melakukan amalan fardhu di bulan-bulan yang lain. Barangsiapa melakukan amalan fardhu di bulan ini, maka pahalanya seperti pahala melakukan 70 amalan fardhu di bulan lainnya. dan ia adalah bulan kesabaran dan balasan atas kesabaran adalah surga, bulan ini merupakan bulan kedermawanan dan bulan dimana rizki orang-orang yang beriman bertambah. Barang siapa memberi makan (untuk berbuka) orang yang berpuasa maka baginya pengampunan atas dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan dia mendapatkan pahala yang sama sebagaimana yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa. 

Mereka (para sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah, tidak setiap kami mempunyai sesuatu untuk dihidangkan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka.”

Rasulullah ﷺ menjawab: “Allah akan memberikan pahala ini kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau setetes susu.”

Inilah bulan yang permulaannya (sepuluh hari pertama) Allah menurunkan rahmat, yang pertengahannya (sepuluh hari pertengahan) Allah memberikan ampunan, dan yang terakhirnya (sepuluh hari terakhir) Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka.

Barangsiapa yang meringankan hamba sahayanya di bulan ini, maka Allah subhanahu wata'ala akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Dan perbanyaklah melakukan empat hal di bulan ini, yang dua hal dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan yang dua hal kamu pasti membutuhkannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu sahadat dan beristighfar kepada Allah, dan dua hal yang pasti kalian membutuhkannya yaitu kalian memohon Surga kepada-Nya dan kalian berlindung kepada-Nya dari api neraka. Dan barang siapa yang di dalamnya membuat kenyang orang yang berpuasa (ketika berbuka), maka Allah akan memberinya minum dari telagaku, yang sekali minum darinya, seseorang tidak akan merasakan haus sehingga ia memasuki surga.”

Dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa Ramadhan adalah bulan kesabaran. Ya, meskipun hadits ini lemah, namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sejalan dengan nilai kualitas puasa itu sendiri.

8. Bulan Sedekah

Betapa semangatnya umat Muslim untuk bersedekah di bulan Ramadhan, hampir di setiap masjid tak jarang kita jumpai suguhan takjil untuk berbuka, tak hanya itu, nasi kotak dan semacamnya pun turut meramaikan masjid menjelang waktu berbuka.

Maka tak asing jika bulan Ramadhan dinamakan bulan sedekah. Hal ini berdasarkan hadits Nabi ﷺ:

عن أنس قال : قيل يا رسول الله ، أي الصدقة أفضل ؟ قال : صدقة في رمضان

Dari Anas, beliau berkata: “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama?”, Beliau menjawab: “Sedekah pada bulan Ramadhan.” (HR. at-Tirmidzi)

9. Bulan Rezeki

Melihat hadits panjang yang disebutkan dari riwayat Salman al-Farisi, terdapat redaksi yang berbunyi:

شهر يزداد فيه رزق المؤمن

"Bulan ditambahkannya rezeki orang mukmin."

Maka bulan Ramadhan dinamakan sebagai bulan rezeki. Makna rezeki tak sebatas pada materi saja, bukankah ketaatan kepada Allah ﷻ adalah rezeki yang sering kita mohon kepada Allah paska melaksanakan shalat.

10. Bulan Kedermawanan

Dalam hadits Salman al-Farisi di atas juga disebutkan:

شهر المواساة

"Bulan kedermawanan."

Dapat disebut seperti ini karena kita dapat merasakan sendiri kedermawanan umat Muslim, dengan sedekah maupun sumbangan yang dikeluarkan untuk orang lain. Kata المواساة dalam kamus bermakna juga pelipur lara, artinya bulan Ramadhan adalah pelipur lara bagi umat Muslim.


(Amien Nurhakim)

Bersambung...

Kamis 31 Mei 2018 23:7 WIB
Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (1)
Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (1)
Ramadhan adalan bulan yang paling istimewa dibanding dengan bulan yang lainnya. Sejumlah peristiwa penting terjadi di bulan suci ini. Momen pelipatgandaan pahala ini juga berlimpah ibadah-ibadah khusus, yang memacu umat Islam berlomba-lomba dalam meraih keutamaan di bulan Ramadhan.

Di antara cirri sesuatu yang istimewa adalah memiliki banyak nama, seperti Baginda Besar Nabi Muhammad ﷺ yang mempunyai banyak nama dan julukan positif. Begitupun dengan bulan Ramadhan. Berikut adalah nama-nama lain Ramadhan sebagaimana disarikan dari kitab Ittihaf al-Anam bi Ahkam ash-Shiyam karya Dr. Zainuddin bin Muhammad bin Husain bin al-‘Aydarus al-Ba’alawy.

1. Bulan Al-Qur’an

Bulan Ramadhan dinamakan pula bulan Al-Qur’an (شهر القران), sebagaimana kita ketahui bahwa di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan. Dalam Al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 185 Allah ﷻ berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ 

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).”

Malaikat Jibril AS pun mengajarkan Al-Qur’an pada Nabi Muhammad ﷺ pada bulan ini, sebagaimana riwayat dari Ibnu ‘Abbas RA:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan. Beliau bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur'an. Maka sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin." (HR. Bukhari)

Selain keistimewaan bulan Ramadhan dari dua dalil di atas, para ulama pun menghatamkan al-Quran di bulan ini lebih banyak dari bulan-bulan lainnya.

2. Bulan Puasa

Bulan Ramadhan bisa disebut juga bulan puasa (شهر الصيام), ibadah inlah yang paling istimewa dalam bulan Ramadhan, sehingga penyebutan bulan Ramadhan dengan bulan puasa sudah mendarah daging. Ditambah keutamaan melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah RA:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

Dari Abu Hurairah RA, bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang mendirikan Ramadhan karena iman dan mengharap ganjaran, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari)

3. Bulan Shalat Malam (Syahrul Qiyâm)

Sebagaimana telah disinggung bahwa Ramadhan adalah bulan yang mana pahala dilipatgandakan. Oleh sebab itu banyak kaum Muslimin yang meramaikan malam-malam mereka dengan ibadah, salah satunya shalat tarawih.

Disebut Syahrul Qiyam karena ada hadits yang berisi keutamaan qiyam di bulan ini.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يرغب في قيام رمضان من غير أن يأمرهم بعزيمة ثم قال من قام رمضان إيمانا و احتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه. متفق عليه

Dari Abi Hurairah RA. berkata: “Bahwasanya Rasulullah ﷺ senantiasa mengimbau dalam shalat di malam Ramadhan, imbauan yang tidak bersifat mewajibkan. Kemudian beliau ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang bangun mendirikan Ramadhan dengan iman dan ikhlas maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim)

4. Bulan Doa

Artinya bulan doa. Bulan Ramadhan identic juga dengan bulan doa, bahkan salah satu waktu mustajabnya doa yaitu ketika menjelang buka puasa. Sebagaimana hadits Nabi ﷺ, dari riwayat ‘Ubadah RA:

أتاكم رمضان شهر بركة ، فيه خير يغشيكم الله فيه، فتنزل الرحمة ، وتحط الخطايا، ويستجاب فيه الدعاء، فينظر الله إلى تنافسكم ، ويباهي بكم ملائكته، فأروا الله من أنفسكم خيرا، فإن الشقي من حرم فيه رحمة الله عز وجل

Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, di dalamnya ada kebaikan yang meliputi kalian, maka turunlah rahmat, berguguran segala kesalahan dan dosa, di dalamnya doa dikabulkan, maka Allah melihat semangat kalian, dan para malaikat sangat dengan kalian, maka perlihatkan di hadapan Allah yang terbaik dari jiwa-jiwa kalian, karena sesungguhnya celaka bagi siapa yang diharamkan di dalamnya rahmat Allah ﷻ.

5. Bulan Rahmat

Allah ﷻ banyak memberi rahmat dalam bulan ini, kita bisa merasakannya sendiri bagaimana melimpahnya kasih sayang Ia kepada mahluknya, berupa pengampunan dosa hamba-hambanya. 

Abu Hurairah RA meriwayatkan hadits dari Nabi ﷺ:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah ﷺ. bersabda, ‘Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satupun pintu yang tertutup, serta penyeru menyeru, “Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan.” (HR. At-Tirmidzi)

(Amien Nurhakim)

Bersambung...