IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Apakah Malam Lailatul Qadar Hanya di Bulan Ramadhan?

Sabtu 2 Juni 2018 20:0 WIB
Share:
Apakah Malam Lailatul Qadar Hanya di Bulan Ramadhan?
Lailatul qadar adalah malam yang paling mulia. Bahkan ia lebih mulia dibanding seribu bulan. Lailatul qadar memiliki banyak keutamaan. Saking banyaknya, Allah merahasiakan waktunya. Tujuannya, agar manusia selalu berusaha ibadah dan beramal saleh.

Andaikan dijelaskan waktunya, tentu sebagian orang tidak akan bersungguh-sungguh ibadah sebelumnya.

Menurut mayoritas ulama, lailatul qadar terjadi pada bulan Ramadhan, meskipun tidak diketahui secara persis kapan waktunya. Namun bila diperhatikan dari kebiasaan Rasulullah, beliau sangat bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh terakhir Ramadhan.

‘Aisyah mengatakan, “Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadhan, Nabi fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut ibadah,” (HR Al-Bukhari).

Dalam riwayat lain, Rasulullah memerinci lailatul qadar biasanya terjadi malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadhan. Rasulullah berkata:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ

Artinya, “Carilah lailatul qadar pada malam ganjil sepuluh terakhir Ramadhan,” (HR Al-Bukhari).

Kendati ulama sepakat lailatul qadar terjadi bulan Ramadhan, namun sebagian ulama mengatakan lailatul qadar juga ada pada bulan yang lain. Penjelasan ini sebagai disebutkan Abdul Wahab As-Sya’rani dalam Mizanul Kubra. Ia menjelaskan:

إن ليلة القدر في شهر رمضان خاصة مع قول أبي حنيفة إنها في جميع السنة، فالأول مشدد والثاني مخفف

Artinya, “Lailatul qadar terjadi bulan Ramadhan saja, namun menurut Abu Hanifah juga bisa terjadi pada setiap bulan. Pendapat yang pertama ketat, sementara pendapat kedua lebih longgar.”

Argumentasi pendapat pertama sangatlah banyak. Ada banyak dalil yang menjelaskan bahwa lailatul qadar terjadi pada bulan Ramadhan. Salah satunya adalah hadits yang dikutip di atas. Sementara argumentasi pendapat kedua, yang menyatakan lailatul qadar bisa terjadi tiap bulan bahkan tiap hari didasarkan pada ilham dan pengalaman spiritual.

‘Ali Al-Khawwas mengatakan:

ليلة القدر هي كل ليلة حصل فيها للعبد تقريب من الله تعالى، قال: وهو منزع من قال إنها في كل السنة وأخبرني أخي الشيخ أفضل الدين أنه رآها في شهر ربيع الأول وفي رجب. وقال معنى قوله تعالى "إنا أنزلناه في ليلة القدر" أي ليلة القرب فكل ليلة حصل فيها قرب فهي قدر

Artinya, “Lailatul qadar adalah setiap malam di mana manusia mendekatkan diri kepada Allah. Inilah dasar pendapat orang yang mengatakan lailatul qadar ada di setiap bulan. Saudaraku, Syeikh Afdhaluddin menceritakan bahwa ia melihat lailatul qadar pada bulan Rabiul Awwal dan Rajab. Karena itu, maksud ayat 'Inna Anzalnahu fi Lailatul Qadr' adalah malam pendekatan. Setiap malam yang bisa mendekatkan (hamba kepada Tuhan) adalah lailatul qadar.”

Pemahaman kelompok kedua terhadap lailatul qadar lebih umum daripada pendapat pertama. Mereka memahami bahwa lailatul qadar adalah setiap malam yang bias mendekatkan diri kita kepada Allah. Malam pendekatan itu tentu tidak hanya terjadi pada bulan Ramadhan, tapi juga bisa terjadi pada bulan lain. Bahkan dalam hadits disebutkan:

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Artinya, “Rahmat Allah turun tiap malam ke dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Kukabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, akan Kuberi; siapa yang mohon ampun kepada-Ku, akan Kuampuni,” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan rahmat Tuhan turun tiap hari, khususnya di pertengahan malam. Sebab itu, dianjurkan memperbanyak ibadah pada pertengahan malam.

Dengan demikian, sebetulnya titik temu dari dua pendapat ini bisa dicari. Perbedaan kedua pendapat ini terletak pada pendefinisian lailatul qadar itu sendiri. Kalau yang dimaksud lailatul qadar adalah malam pendekatan diri, maka itu bisa saja terjadi pada bulan yang lain, karena Allah SWT selalu membuka pintu rahmat-Nya.

Adapun kalau yang dimaksud lailatul qadar adalah bulan yang paling mulia dibanding seribu bulan, sebagaimana dipahami banyak orang, maka kemungkinan besar hanya terjadi di bulan Ramadhan. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)
Share:
Sabtu 2 Juni 2018 20:15 WIB
Meneladani Sifat Shamadiyyah Allah melalui Puasa
Meneladani Sifat Shamadiyyah Allah melalui Puasa
Ilustrasi (© kayipazar.com)
Puasa merupakan satu dari beberapa ibadah yang spesial. Puasa memiliki pahala dan keutamaan yang besar sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi. Besarnya pahala puasa hanya Allah yang mengetahuinya, saat amal-amal ibadah lain diketahui kadar pahalanya. Puasa menjadi benteng dari api neraka. Semakin puasa dijalani dengan adab-adabnya, semakin besar pula peluang puasa tersebut diterima. Lantas, bagaimana tanda puasa diterima?

Perlu dijelaskan terlebih dahulu apa maksud puasa diterima. Dari sudut pandang hukum legal formal fiqih, puasa yang dijalani sesuai dengan syarat dan rukunnya, maka sah dan cukup untuk menggugurkan kewajiban, meski dilakukan dengan banyak menggunjing, banyak nyinyir, berkata dusta, masih gemar mencaci maki, gemar menyebar berita hoaks dan perbuatan buruk lainnya. Namun, sesungguhnya puasa tersebut tidak berarti apa-apa kecuali menggugurkan kewajiban qadla’. Sebab, sah secara fiqih bukan berarti puasa tersebut diterima di sisi Allah dan berpahala.

Dari itu, Nabi bersabda:

كم من صائم ليس له من صيامه إلا الظمأ

“Banyak orang berpuasa, tidak ada dari puasanya selain haus.” (HR ad-Darimi, an-Nasai, dan lainnya)

Syekh Abi al-Hasan Ubaidillah al-Mubarakfauri menjelaskan hadits di atas dengan komentarnya sebagai berikut:

 كم من صائم ليس له) أي حاصل أو حظ (من صيامه) أي من أجله (إلا الظمأ) بالرفع أي العطش ونحوه من الجوع يعني ليس لصومه قبول عند الله فلا ثواب له ، نعم سقوط التكليف عن الذمة حاصل عند العلماء

“Banyak orang berpuasa tiada bagian yang dihasilkan dari puasanya kecuali haus dan lapar. Maksud Nabi, puasanya tidak diterima di sisi Allah, sehingga tidak mendapat pahala sama sekali. Namun demikian, gugurnya tuntutan dari tanggung jawab fiqih seseorang telah terpenuhi menurut para ulama.” (Syekh Abi al-Hasan Ubaidillah bin al-‘Allamah Muhammad Abdissalam al-Mubarakfauri, Mir’at al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, Juz 6, halaman 1053)

Puasa yang diterima tidak sebatas menahan syahwat perut dan kemaluan (makan, minum, dan bersenggama). Namun juga dengan menjaga mata, lisan, telinga, kaki, mulut, tangan dan anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang dilarang Allah, sehingga dapat mencapai maksud tujuan puasa yaitu, meneladani sifat shamadiyyah Allah dan mengikuti perilaku malaikat dalam hal mencegah diri dari syahwat-syahwat dengan segenap kemampuan.

Yang dimaksud dengan sifat shamadiyyah adalah tidak membutuhkan orang lain melainkan sebaliknya: dibutuhkan oleh mereka. Orang yang berpuasa dilatih untuk melepas ketergantungan kepada selain-Nya, tidak menjadi hamba hawa nafsunya, hamba uang, hamba kekuasaan, hamba jabatan dan lain sebagainya.

Al-Imam al-Ghazali mengatakan:

فأما علماء الآخرة فيعنون بالصحة القبول وبالقبول الوصول إلى المقصود ويفهمون أن المقصود من الصوم التخلق بخلق من أخلاق الله عز و جل وهو الصمدية والاقتداء بالملائكة في الكف عن الشهوات بحسب الإمكان فإنهم منزهون عن الشهوات، والإنسان رتبته فوق رتبة البهائم لقدرته بنور العقل على كسر شهوته ودون رتبة الملائكة لاستيلاء الشهوات عليه وكونه مبتلى بمجاهدتها فكلما انهمك في الشهوات انحط إلى أسفل السافلين والتحق بغمار البهائم وكلما قمع الشهوات ارتفع إلى أعلى عليين والتحق بأفق الملائكة، والملائكة مقربون من الله عز و جل والذي يقتدى بهم ويتشبه بأخلاقهم يقرب من الله عز و جل كقربهم فإن الشبيه من القريب قريب وليس القريب ثم بالمكان بل بالصفات

“Ulama akhirat menghendaki sahnya puasa dengan diterima, dan yang dimaksud diterima adalah sampai kepada tujuan puasa yaitu meneladani satu dari beberapa sifat-sifat Allah yaitu ‘shamadiyyah’ dan mengikuti perilaku malaikat dengan mencegah diri dari beberapa syahwat dengan segenap kemampuan, sesungguhnya mereka dibersihkan dari syahwat-syahwat. Derajat manusia di atas binatang-binatang karena kemampuan berakalnya dapat mencegah syahwatnya dan di bawah derajat malaikat karena syahwat dapat menguasainya dan ia diberi cobaan untuk memeranginya. Saat manusia asyik terlena dengan syahwat-syahwat, ia turun kasta di dasar yang paling dasar menyusul kelompok binatang-binatang. Saat manusia mampu menahan syahwatnya, ia naik di atas derajat tertinggi menyusul wilayah para malaikat. Para malaikat didekatkan di sisi Allah. Orang yang mengikuti dan berperilaku seperti mereka, ia dekat dengan Allah seperti kedekatan mereka, sesungguhnya orang yang menyerupai orang dekat, ia juga dekat. Kedekatan di sisiNya bukan diukur dengan tempat, namun dengan sifat.” (Hujjah al-Islam Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, juz 1, halaman 236)

Semoga puasa kita tidak sebatas menjalankan hukum legal formal fiqih, namun juga dapat meneladani sifat Allah dan para malaikat-Nya. Wallahu a’lam. (M. Mubasysyarum Bih)

Sabtu 2 Juni 2018 16:0 WIB
Keluar Madzi saat Puasa, Apa Hukumnya?
Keluar Madzi saat Puasa, Apa Hukumnya?
Ilustrasi (via flota.es)
Madzi adalah cairan putih, bening, lengket yang keluar dari kemaluan ketika dalam kondisi syahwat, tidak memuncrat dan setelah keluar pun tidak menimbulkan rasa lemas. Berbeda dengan mani, setelah keluar, ia akan menimbulkan rasa lemas.

Baca: Perbedaan Mani, Madzi dan Wadi
Madzi bisa datang kapan saja, biasanya jika pasangan suami istri sedang bermesraan. Namun bagaimana hukumnya jika air madzi–tanpa mani—keluar ketika sedang puasa?

Syekh Hasan Hitou mengatakan dalam kitabnya, Fiqh ash-Shiyam:

وَلَوْ قبَّلَ رَجُلٌ امْرَأَتَهُ وَهُوَ صَائِمٌ، فَتَلَذَّذَ وَأَمْذَى، إِلَّا أَنَّهُ لَمْ يَنْزِلْ، فالَّذِي ذَهَبَ إِلَيْهِ الْجُمْهُوْرُ أَنَّهُ لَايُفْطِرُ، وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيَةِ، بِلَا خِلَافٍ عِنْدَهُمْ، وَحَكَاهُ ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ، وَالشَّعْبِي، وَالْأَوْزَاعِي، وَأَبِي حَنِيْفَةَ، وَأَبِي ثور، قَالَ: وَبِهِ أقُوْلُ

“Jika seorang suami mencium istrinya dan dia sedang berpuasa, kemudian merasa nikmat dan keluar madzi, namun tidak mengeluarkan mani, maka jumhur berpendapat puasanya tidak batal, dan itu adalah pendapat ulama Syafi’iyyah tanpa ada perbedaan di antara mereka. Ibnu al-Mundzir menceritakan pendapat tadi (orang yang keluar madzi tidak batal puasanya), dari Hasan al-Bashri, asy-Sya’bi, al-Awza’i, Abu Hanifah, Abu Tsaur, beliau (Ibnu al-Mundzir) berkata: ‘Aku berpendapat demikian’.” (Syekh Hasan Hitou, Fiqh ash-Shiyam, Dar el Basyair al-Islamiyyah, cetakan pertama tahun 1988, halaman 68)

Para ulama yang berpendapat seperti di atas, berdalil bahwa madzi keluar tidak melalui inzal (proses keluarnya mani), sedangkan madzi yang keluar itu mirip seperti kencing atau sesuatu lain yang keluar, dan tidak mewajibkan mandi. 

Dari pendapat ini kita dapat mengetahui bahwa keluarnya madzi menurut jumhur ulama itu tidak membatalkan puasa.

Namun ada pendapat yang mengatakan bahwa madzi yang keluar karena berciuman itu membatalkan puasa, pendapat ini dikeluarkan oleh imam Malik dan Imam Ahmad.

وَذَهَبَ الْإِمَامَان مَالِك وَأَحْمد إِلَى الْقولِ بِأَنَّهُ يُفْطِرُ بِخُرُوْجِ الْمَذِي النَّاتِجِ عَنِ الْقُبْلَةِ

“Imam Malik dan Imam Ahmad berpendapat bahwa madzi yang keluar setelah berciuman itu membatalkan puasa.” (Syekh Hasan Hitou, Fiqh ash-Shiyam, Dar el Basyair al-Islamiyyah, cetakan pertama tahun 1988, halaman 68)

Demikian penjelasan status hukum puasa orang yang keluar madzi. Kesimpulannya, menurut jumhur (mayoritas) ulama, keluarnya madzi tidak membatalkan karena ia seperti keluarnya air kencing, tidak ada proses inzal, berbeda dengan mani. 

Meski begitu, hendaknya kita selalu berdoa agar puasa kita selalu dijaga dari perbuatan yang menyebabkan batalnya pahala puasa kita. Selama menunaikan puasa, umat Islam diperintahkan tak hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga dusta, ghibah, adu domba, serta mengumbar syahwat. Semoga kita dijadikan orang yang beruntung di Ramadhan tahun ini, dan seterusnya. Amin. (Amien Nurhakim)

Jumat 1 Juni 2018 21:15 WIB
Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (3-Habis)
Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (3-Habis)
Pada dua artikel sebelumnya telah dijelaskan nama-nama lain bulan Ramadhan. Banyaknya julukan pada Ramadhan menandakan betapa istimewanya bulan suci ini. Kata "ramadhan" sendiri berakar kata dari ramidla (رمِض) yang bararti “panas terik”. Makna ini bisa dipahami sebagai kiasan atas beban dahaga atau panasnya kerongkongan yang dialami orang-orang puasa selama Ramadhan.

Ada setidaknya enam belas nama, sebagaimana diungkap kitab Ittihaf al-Anam bi Ahkam ash-Shiyam karya Dr. Zainuddin bin Muhammad bin Husain bin al-‘Aydarus al-Ba’alawy. Berikut artikel pamungkas yang memaparkan beberapa poin lanjutan dari nama-nama yang sudah disampaikan pada tulisan terdahulu—(Redaksi)

Baca:
Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (1)
Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (2)
11. Bulan Jihad

Bulan Ramadhan disebut juga sebagai bulan jihad, sebab ada beberapa perang yang dilaksanakan ketika bulan Ramadhan. Namun jihad hawa nafsu termasuk jihad yang berat, dimana kita akan berhadapan dengan diri kita sendiri. Contoh saja, kita harus menahan diri dari berkata yang tidak baik ketika puasa, sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadits Nabi ﷺ:

إذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

"Apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan puasa, maka janganlah dia berkata rafats (kotor) dan jangan pula bertengkar sambil berteriak. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan 'Aku orang yang sedang puasa."

Kemudian makna dari salah satukata shaum adalah menahan, tentunya menahan hawa nafsu adalah jihad yang harus kita lakukan.

12. Bulan Keberkahan

Dalam hadits ‘Ubadah terdapat redaksi:

أتاكم رمضان شهر بركة

"Telah dating bulan keberkahan kepada kalian."

Ini yang menjadi dasar penamaan bulan Ramadhan sebagai bulan berkah. Makna berkah sendiri adalah bertambahnya kebaikan, tentunya ini sangat selaras, dimana kaum Muslimin berlomba-lomba memperbaiki kualitas ibadah mereka di bulan ini.

13. Bulan Masjid

Malam bulan Ramadhan, khususnya lima belas terakhir, banyak diisi dengan i’tikaf, atau ibadah dengan berdiam diri di masjid. I’tikaf hukumnya sunnah, Rasulullah senantiasa melakukan I’tikaf ketika malam di bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam hadits dalam kitab Shohih Bukhari dan Muslim:

أَنَهُ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إِعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوْسَط مِنْ رَمَضَانَ، ثُمَّ اِعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ وَلَازَمَهُ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ تَعَالَى

"Sesungguhnya Rasulullah ﷺ beri'tikaf pada sepuluh hari pertengahan bulan Ramadhan, kemudian juga di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau selalu melaksanakan i'tikaf hingga Allah mewafatkannya (meninggal)."

Sudah maklum bahwa i’tikaf mesti dilaksanakan dilaksanakan di masjid yang sudah diwakafkan, oleh sebab itu Ramadhan dinamakan pula bulan masjid, dimana masjid-masjid lebih ramai dari biasanya, bahkan di malam hari.

14. Tuannya Bulan-bulan yang Lain

Rajanya hari adalah hari Jumat, begitu pula rajanya bulan adalah bulan Ramadhan. Sebagaimana riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri RA:

سيد الشهور شهر رمضان وأعظمها حرمة ذو الحجة

Penghulu bulan-bulan adalah bulan Ramadhan dan yang paling agung kesuciannya Dzulhijjah (HR. Baihaqi)

15. Bulan Ibadah

Sebagaimana banyak dijelaskan di atas, bulan suci Ramadhan adalah bulan yang dipenuhi dengan rahmat sehingga hambaNya dapat melaksanakan ibadah puasa, bahkan kualitas ibadah Muslim pada bulan ini meningkat, berdasarkan hadits dalam yang diriwayatkan oleh Abu Darda, Nabi ﷺ bersabda:

لكل شيء باب وباب العبادة الصيام 

"Segala sesuatu itu terdapat pintu, sedangkan pintunya ibadah itu puasa."

16. Bulan Kebaikan

Ramadhan disebut juga bulan kebaikan (شهر الخير), sebgaimana disebutkan dalam hadits Nabi ﷺ, dari riwayat ‘Ubadah RA:

أتاكم رمضان شهر بركة ، فيه خير يغشيكم الله فيه

"Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, di dalamnya ada kebaikan yang Allah liputi untuk kalian."

Demikian nama-nama lain dari bulan Ramadhan, umumnya nama-nama ini bersumber dari hadits , meski banyak sekali yang dha’if, namun jika ditinjau dari nilai-nilai yang terdapat di dalamnya, tentunya selaras dengan nama tersebut.

(Amien Nurhakim)