IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Bolehkah Memberikan Zakat Fitrah kepada Non-Muslim?

Selasa 5 Juni 2018 15:10 WIB
Bolehkah Memberikan Zakat Fitrah kepada Non-Muslim?
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim yang mampu. Peranannya tidak hanya berkaitan dengan ubudiyyah murni, namun juga berfungsi untuk membangun kesejahteraan sesama, karena itu zakat disebut dengan ibadah ghairu mahdlah

Zakat secara garis besar ada dua, zakat mal dan zakat fitrah atau bisa juga disebut zakat badan. Baru-baru ini banyak bermunculan pertanyaan dan diskusi tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat fitrah. Di antaranya adalah berkaitan dengan penerima zakat fitrah. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah, bolehkah zakat fitrah diberikan kepada non-Muslim? Dalam hal ini, para ulama mazhab berbeda pendapat.

Dalam mazhab Syafi’i, zakat fitrah tidak diperbolehkan diberikan kepada non-Muslim, baik kaya atau miskin, dzimmi (yang berdamai) atau harbi (yang memerangi). Larangan tersebut juga berlaku untuk zakat mal.

Larangan tersebut berlandaskan dalil hadits Nabi saat mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal:

صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم

“Sedekah yang diambil dari orang kaya mereka (Muslimin), kemudian diberikan kepada orang faqir mereka (Muslimin). (HR al-Bukhari dan Muslim)

Namun, boleh memberikan bagian dari harta zakat kepada non-Muslim yang menjabat sebagai petugas penimbang, humasi atau penjaga harta zakat. Kebolehan tersebut bukan pemberian atas nama zakat, namun atas nama upah dari pekerjaan mereka (dari bagian amil zakat).

Dalam kitab al-iqna’ dijelaskan:
 
  و ) الخامس (لا تصح للكافر) لخبر الصحيحين صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم ، نعم الكيال والحمال والحافظ ونحوهم يجوز كونهم كفارا مستأجرين من سهم العامل لأن ذلك أجرة لا زكاة .
وإنما جاز في الحمال والكيال ومن ذكر معهما أن يكون كافرا أو هاشميا أو مطلبيا لأن ما يأخذه العامل أجرة لا زكاة ؛ لأن الاستئجار أخرجه عن كونه زكاة حقيقة كما ذكره الشارح

“Yang kelima, tidak sah zakat kepada non-Muslim karena hadits al-Bukhari dan Muslim ‘Sedekah yang diambil dari orang kaya mereka (Muslimin)’, kemudian diberikan kepada orang faqir mereka (Muslimin). Namun, penakar, pembawa, penjaga dan sesamanya boleh dari seorang non-Muslim yang disewa dari bagian amil, sebab hal tersebut adalah upah, bukan zakat.” (Syekh al-Khathib al-Syarbini, al-Iqna’ Hamisy Hasyiyah al-Bujairami, juz 6, halaman 394)

Dalam komentarnya atas keterangan di atas, Syekh Sulaiman al-Bujairimi menegaskan:

وإنما جاز في الحمال والكيال ومن ذكر معهما أن يكون كافرا أو هاشميا أو مطلبيا لأن ما يأخذه العامل أجرة لا زكاة ؛ لأن الاستئجار أخرجه عن كونه زكاة حقيقة كما ذكره الشارح 

“Dibolehkannya petugas distribusi dan penakar serta yang disebutkan bersama keduanya dari non-Muslim, Bani Hasyim dan Bani Muthallib, sebab harta yang diambil oleh amil adalah upah, bukan zakat, sebab penyewaan jasa mengeluarkan harta tersebut dari zakat secara hakikat, sebagaimana yang disebutkan pensyarah.” (Sulaiman al-Bujairimi, Hasyiyah al-Bujairimi ‘ala al-Iqna’, juz.6, hal.394). 

Menurut pandangan Imam Abu Hanifah dan muridnya Muhammad, dibolehkan memberikan zakat fitrah kepada non-Muslim dzimmi yang fakir. Landasan mereka adalah ayat:

إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu.” (QS al-Baqarah: 271)

Ayat tersebut tidak membedakan fakir yang Muslim dan non-Muslim, kecuali dalam masalah zakat mal, karena ada larangan khusus dalam haditsnya sahabat Mu’adz, yang kedudukannya men-takhsish ayat ini.

Alasan lainnya, memberikan zakat kepada kafir dzimmi yang fakir adalah termasuk mendatangkan kebaikan kepada mereka, dan hal tersebut bukan merupakan larangan dalam syari’at.

Syekh Wahbah al-Zuhaili mengatakan:

وهل يجوز صرفها إلى أهل الذمة؟ قال أبو حنيفة ومحمد يجوز، لقوله تعالى: (إن تبدوا الصدقات فنعما هي، وإن تخفوها وتؤتوها الفقراء، فهو خير لكم، ويكفر عنكم من سيئاتكم) من غير تفرقة بين فقير وفقير، وعموم هذا النص يقتضي جواز صرف الزكاة إليهم، إلا أنه خص منه الزكاة لحديث معاذ، وقوله تعالى في الكفارات (فكفارته إطعام عشرة مساكين) من غير تفرقة بين مسكين ومسكين، إلا أنه خص منه الحربي بدليل حتى لا يكون ذلك إعانة لهم على قتالنا، ولأن صرف الصدقة إلى أهل الذمة من باب إيصال البر إليهم، وما نهينا عن ذلك

“Apakah boleh memberikan zakat fitrah, kafarat dan nadzar kepada ahli dzimmah? Abu Hanifah dan Muhammad menyatakan boleh, karena firman Allah, ‘Jika kamu menampakkan sedekah(mu), Maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu’ (QS. Al-Baqarah: 271). Ayat ini tidak membedakan status agama fakir yang menerima zakat, keumuman nash ini menuntut dibolehkannya berzakat kepada non-Muslim, hanya dari dalil tersebut dikecualikan zakat mal karena haditsnya sahabat Mu’adz, dan berdasarkan ayat tentang kafarah, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari (QS al-Maidah: 89). Ayat ini tidak membedakan status agama miskin, kecuali kafir harbi yang ada larangan khusus sehingga pemberian zakat tidak menolong mereka untuk memerangi kita. Argumen lain, pemberian zakat fitrah kepada ahli dzimmah tergolong memberikan kebaikan kepada mereka dan kita tidak dicegah untuk hal tersebut.” (Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, juz 3, halaman 310)

Dalam pandangan mazhab Hanbali ditegaskan, boleh memberi zakat (termasuk zakat fitrah) kepada non-Muslim yang menjadi panutan di kelompoknya ketika terdapat salah satu dari dua alasan. Pertama, diharapkan keislamannya. Kedua, ketika dikhawatirkan aksinya dapat menyerang orang Islam. Pemberian zakat kepada non-Muslim dengan ketentuan di atas diambilkan dari bagian muallaf qulubuhum.

Syekh Ibnu Quddamah mengatakan:

المؤلفة قلوبهم قسمان: كفار ومسلمون، وهم جميعا السادة المطاعون في عشائرهم كما ذكرنا
فالكفار ضربان (أحدهما) من يرجى إسلامه فيعطى لتقوى نيته في الاسلام وتميل نفسه إليه فيسلم فان النبي صلى الله عليه وسلم يوم فتح مكة أعطى صفوان بن أمية الامان واستصبره صفوان أربعة أشهر لينظر في أمره وخرج معه إلى حنين، فلما أعطي النبي صلى الله عليه وسلم العطايا قال صفوان: مالي؟ فأومأ النبي صلى الله عليه وسلم إلى واد فيه إبل محملة فقال " هذا لك " فقال صفوان هذا عطاء من لا يخشى الفقر (والضرب الثاني) من يخشى شره فيرجى بعطيته كف شره وكف شر غيره معه.
فروى ابن عباس أن قوما كانوا يأتون النبي صلى الله عليه وسلم فان أعطاهم مدحوا الاسلام وقالوا هذا دين حسن، وإن منعهم ذموا وعابوا

Muallaf qulubuhum ada dua, Muslim dan non-Muslim, mereka semua adalah tuan yang menjadi panutan di kelompoknya seperti yang telah kami sampaikan. Non-Muslim ada dua. Pertama, orang yang diharapkan keislamannya, maka diberikan zakat agar niatnya memeluk islam kuat dan dapat mencondongkan hatinya untuk memeluk islam, sesungguhnya Nabi saat pembebasan kota Mekah memberikan jaminan keamanan kepada Shofwan bin Umayyah, dan Shofwan menguji Nabi selama empat bulan untuk melihat sikap beliau dan keluar bersama Nabi di perang Hunain. Saat Nabi memberinya beberapa pemberian, Shofwan mengatakan, apa ini?. Lalu Nabi berisyarah menuju bukit yang terdapat unta di dalamnya, Nabi mengatakan, ini untukmu. Shofwan menjawab, ini adalah pemberian orang yang tidak takut faqir. Kedua, non-Muslim yang dikhawatirkan keburukannya, maka diharapkan pemberian zakat kepadanya dapat mencegah keburukannya dan para pengikutnya. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa suatu kelompok datang kepada Nabi, bila Nabi memberi mereka, maka mereka memuji islam dan berkata, ini adalah agama yang baik. Bila Nabi tidak memberi, mereka mencela.” (Ibnu Quddamah al-Maqdisi, al-Syarh al-Kabir, juz 2, hal 697)

Baca juga: Hukum Zakat Fitrah dalam Bentuk Uang
Meski ada celah pembenaran memberikan zakat fitrah kepada non-Muslim, dalam kondisi normal dan masih banyaknya umat Islam yang miskin, sebaiknya hal tersebut tidak dilakukan. Dalam konteks ini lebih utama memberikan zakat fitrah kepada seorang Muslim, sebab zakat dapat membantu mereka untuk melakukan ketaatan.

Syekh Wahbah al-Zuhaili mengatakan:

وأما ما سوى الزكاة من صدقة الفطر والكفارات والنذور، فلا شك في أن صرفها إلى فقراء المسلمين أفضل؛ لأن الصرف إليهم يقع إعانة لهم على الطاعة

“Adapun selain zakat dari sedekah fitri, kafarat dan nadzar, tidak diragukan lagi mengalokasikannya kepada orang Islam yang fakir lebih utama, sebab memberikan kepada mereka dapat membantu mereka melakukan ketaatan.” (Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, juz 3, halaman 310)

Wallahu a‘lam.
(M. Mubasysyarum Bih)

Tags:
Share:
Selasa 5 Juni 2018 12:30 WIB
Anjuran Mengikuti Pemerintah soal Awal Puasa dan Hari Raya
Anjuran Mengikuti Pemerintah soal Awal Puasa dan Hari Raya
ilustrasi (bmkg.go.id)
Perbedaan waktu memulai dalam melaksanakan puasa dan hari raya sudah menjadi fenomena di berbagai belahan dunia. Perbedaan metode dan standar penetapan bulan hijriyah menjadi faktor utama dalam perbedaan tersebut. Bagaimanapun dalam tradisi kenabian belum pernah ada perbedaan. Begitu juga pada masa sahabat, kecuali perbedaan yang timbul karena perbedaan daerah lantaran perbedaan visibilitas hial. Belum pernah terjadi perbedaan memulai puasa atau hari raya dalam satu daerah pada masa Nabi dan sahabat.

Baca: Tiga Alasan Mengapa Rukyatul Hilal Bersifat Lokal, Bukan Global
Persolan ini juga menjadi perhatian seorang ahli fiqih terkenal, yaitu Ahmad Ibn Rajab al-Hanbali. Dikisahkan bahwa pada tahun 784 H terjadi perbedaan terkait penetapan awal bulan Dzulhijjah. Ketika beberapa orang saksi mengaku melihat hilal, pemerintah (hakim) tidak menerima kesaksian tersebut. Maka terjadilah kekacaun dalam masyarakat. Maka Ibn Rajab berinisiatif menulis sebuah tulisan kecil berjudul Ahkam Ikhtilaf fi Ru’yah Hilal Dzilhijjah.

Terkait perbedaan terkait penetapan awal bulan hijriyah, menurut Ibn Rajab, persoalan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua model kasus. 

Kasus pertama,  hilal dilihat oleh satu orang saja atau orang tersebut tidak dapat diterima kesaksiannya. Para ulama berpendapat hukum berpuasa pada hari meragukan (yawm al-syakk) di akhir Sya’ban hukumnya makruh. Sedangkan puasa pada hari ketiga puluh bulan Ramadan hukumnya wajib, karena hilal Syawal meragukan. 

Kasus kedua, hilal terlihat dengan meyakinkan tetapi pemerintah (hakim) tidak menerima kesaksian tersebut karena adanya udzur atau karena kelemahan pemerintah. Terdapat perbedaan pendapat. Pertama, tidak berhari raya kecuali dengan orang banyak (pemerintah). Ini adalah pendapat ‘Atha’, al-Tsauri, al-Layts, Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, dan juga ada riwayat dari Umar bin al-Khattab radliyallahu ‘anh. Kedua,berhari raya sendiri bagi orang yang melihat hilal tersebut. Ini adalah pendapat al-Hasan bin Shalih, al-Syafi’i, Abu Tsaur, sebagian ulama Hanabilah, dan salah satu riwayat dari pendapat Imam Malik.  

Baca: Kesaksian Rukyatul Hilal Perlu Diverifikasi, Mengapa?
Ibnu Rajab al-Hanbali selanjutnya memilih pendapat yang menyatakan bahwa tidak boleh berbeda dengan imam dalam hal puasa dan hari raya. 

Ketika ada yang membantah dengan berargumen dengan hadits yang mana Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk shalat sendiri ketika imam shalat dengan sengaja mengakhirkan waktu, walaupun mereka tetap dianjurkan shalat lagi beserta imam sebagai amalan sunnah. Dengan hadits ini orang-orang berpendapat bahwa jika imam melanggar sesuatu yang benar maka tidak boleh diikuti. Kalaupun diikuti hanya untuk menyelamatkan diri dari bahayanya (taqiyyah), sebagaimana Rasulullah memerintahkan untuk shalat lagi bersama imam meskipun diniati sebagai shalat sunnah. 

Terkait penyataan tersebut Ibnu Rajab menjawab bahwa waktu shalat bersifat jelas karena itu jelas terlarang mengubah waktu shalat karena imam. Sedangkan awal bulan hijriyah bersifat kurang pasti karena bergantung pada kesaksian seseorang. Hal yang meragukan ini bersifat ijtihadi sebab kesaksian seseorang bisa saja salah. Maka hakim (pemerintah) ketika menerima atau menolak kesaksian saksi merupakan suatu bentuk ijtihad hakim. Dalam konteks ini tidak boleh bagi seseorang menampakkan perbedaan dengan hakim

Baca: Tahap-tahap Penentuan Awal Bulan Qamariah Perspektif NU
Pendapat Ibnu Rajab ini dikuatkan dengan beberapa hadits.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda, “Hari berpuasa (tanggal 1 Ramadhan) adalah pada hari di mana kalian semua berpuasa. Hari Idul Fitri (tanggal 1 Syawal) adalah pada hari di mana kalian semua melakukan Hari Raya, dan hari Idul Adha adalah pada hari di mana kalian semua merayakan Idul Adha.” (HR.al-Tirmidzi)

Terkait hadits tersebut imam al-Tirmidzi berkomentar:
 
وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ

“Sebagian ulama menafsirkan hadits ini bahwa puasa dan berhari raya dilakukan bersama jamaah dan mayoritas manusia.” (Sunan al-Tirmidzi) 

Dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا , قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " عَرَفَةُ يَوْمَ يُعَرِّفُ الإِمَامُ , وَالأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي الإِمَامُ , وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ الإِمَامُ

Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda: Arafah adalah hari di mana pemimpin melaksanakan arafah, qurban dilakukan pada saat pemimpin berkurban, Idul Fitri adalah pada saat pemimpin berhari raya Idul Fitri. (HR al-Bayhaqi). 

Selanjutnya Ibnu Rajab mengakhiri tulisannya dengan mengutip sebuah hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Mereka (para imam memimpin) shalat untuk kalian. Jika mereka benar maka (pahala) untuk kalian, dan jika mereka salah maka (pahala) untuk kalian dan (dosa) atas mereka. (HR. al-Bukhari) 

Hadits ini menunjukkan bahwa bagaimanapun keadaan imam maka umat Islam harus mengikuti imam. Dalam konteks Indonesia, imam (pemerintah) tampak dalam sosok Menteri Agama yang dikelilingi oleh para ahli di berbagai bidang terutama di bidang fiqih dan astronomi. Sehingga kesalahan yang dilakukan oleh Menteri Agama dapat diminimalisasi. Untuk itu seharusnya umat Islam di Indonesia mengikuti menteri agama sebagai perwujudan ulil amr yang harus ditaati. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ    

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amr di antara kalian.” (QS an-Nisa’:59)


Ahmad Musonnif, Pengurus Lembaga Falakiyah PCNU Tulungagung

Sabtu 2 Juni 2018 20:15 WIB
Meneladani Sifat Shamadiyyah Allah melalui Puasa
Meneladani Sifat Shamadiyyah Allah melalui Puasa
Ilustrasi (© kayipazar.com)
Puasa merupakan satu dari beberapa ibadah yang spesial. Puasa memiliki pahala dan keutamaan yang besar sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi. Besarnya pahala puasa hanya Allah yang mengetahuinya, saat amal-amal ibadah lain diketahui kadar pahalanya. Puasa menjadi benteng dari api neraka. Semakin puasa dijalani dengan adab-adabnya, semakin besar pula peluang puasa tersebut diterima. Lantas, bagaimana tanda puasa diterima?

Perlu dijelaskan terlebih dahulu apa maksud puasa diterima. Dari sudut pandang hukum legal formal fiqih, puasa yang dijalani sesuai dengan syarat dan rukunnya, maka sah dan cukup untuk menggugurkan kewajiban, meski dilakukan dengan banyak menggunjing, banyak nyinyir, berkata dusta, masih gemar mencaci maki, gemar menyebar berita hoaks dan perbuatan buruk lainnya. Namun, sesungguhnya puasa tersebut tidak berarti apa-apa kecuali menggugurkan kewajiban qadla’. Sebab, sah secara fiqih bukan berarti puasa tersebut diterima di sisi Allah dan berpahala.

Dari itu, Nabi bersabda:

كم من صائم ليس له من صيامه إلا الظمأ

“Banyak orang berpuasa, tidak ada dari puasanya selain haus.” (HR ad-Darimi, an-Nasai, dan lainnya)

Syekh Abi al-Hasan Ubaidillah al-Mubarakfauri menjelaskan hadits di atas dengan komentarnya sebagai berikut:

 كم من صائم ليس له) أي حاصل أو حظ (من صيامه) أي من أجله (إلا الظمأ) بالرفع أي العطش ونحوه من الجوع يعني ليس لصومه قبول عند الله فلا ثواب له ، نعم سقوط التكليف عن الذمة حاصل عند العلماء

“Banyak orang berpuasa tiada bagian yang dihasilkan dari puasanya kecuali haus dan lapar. Maksud Nabi, puasanya tidak diterima di sisi Allah, sehingga tidak mendapat pahala sama sekali. Namun demikian, gugurnya tuntutan dari tanggung jawab fiqih seseorang telah terpenuhi menurut para ulama.” (Syekh Abi al-Hasan Ubaidillah bin al-‘Allamah Muhammad Abdissalam al-Mubarakfauri, Mir’at al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, Juz 6, halaman 1053)

Puasa yang diterima tidak sebatas menahan syahwat perut dan kemaluan (makan, minum, dan bersenggama). Namun juga dengan menjaga mata, lisan, telinga, kaki, mulut, tangan dan anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang dilarang Allah, sehingga dapat mencapai maksud tujuan puasa yaitu, meneladani sifat shamadiyyah Allah dan mengikuti perilaku malaikat dalam hal mencegah diri dari syahwat-syahwat dengan segenap kemampuan.

Yang dimaksud dengan sifat shamadiyyah adalah tidak membutuhkan orang lain melainkan sebaliknya: dibutuhkan oleh mereka. Orang yang berpuasa dilatih untuk melepas ketergantungan kepada selain-Nya, tidak menjadi hamba hawa nafsunya, hamba uang, hamba kekuasaan, hamba jabatan dan lain sebagainya.

Al-Imam al-Ghazali mengatakan:

فأما علماء الآخرة فيعنون بالصحة القبول وبالقبول الوصول إلى المقصود ويفهمون أن المقصود من الصوم التخلق بخلق من أخلاق الله عز و جل وهو الصمدية والاقتداء بالملائكة في الكف عن الشهوات بحسب الإمكان فإنهم منزهون عن الشهوات، والإنسان رتبته فوق رتبة البهائم لقدرته بنور العقل على كسر شهوته ودون رتبة الملائكة لاستيلاء الشهوات عليه وكونه مبتلى بمجاهدتها فكلما انهمك في الشهوات انحط إلى أسفل السافلين والتحق بغمار البهائم وكلما قمع الشهوات ارتفع إلى أعلى عليين والتحق بأفق الملائكة، والملائكة مقربون من الله عز و جل والذي يقتدى بهم ويتشبه بأخلاقهم يقرب من الله عز و جل كقربهم فإن الشبيه من القريب قريب وليس القريب ثم بالمكان بل بالصفات

“Ulama akhirat menghendaki sahnya puasa dengan diterima, dan yang dimaksud diterima adalah sampai kepada tujuan puasa yaitu meneladani satu dari beberapa sifat-sifat Allah yaitu ‘shamadiyyah’ dan mengikuti perilaku malaikat dengan mencegah diri dari beberapa syahwat dengan segenap kemampuan, sesungguhnya mereka dibersihkan dari syahwat-syahwat. Derajat manusia di atas binatang-binatang karena kemampuan berakalnya dapat mencegah syahwatnya dan di bawah derajat malaikat karena syahwat dapat menguasainya dan ia diberi cobaan untuk memeranginya. Saat manusia asyik terlena dengan syahwat-syahwat, ia turun kasta di dasar yang paling dasar menyusul kelompok binatang-binatang. Saat manusia mampu menahan syahwatnya, ia naik di atas derajat tertinggi menyusul wilayah para malaikat. Para malaikat didekatkan di sisi Allah. Orang yang mengikuti dan berperilaku seperti mereka, ia dekat dengan Allah seperti kedekatan mereka, sesungguhnya orang yang menyerupai orang dekat, ia juga dekat. Kedekatan di sisiNya bukan diukur dengan tempat, namun dengan sifat.” (Hujjah al-Islam Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, juz 1, halaman 236)

Semoga puasa kita tidak sebatas menjalankan hukum legal formal fiqih, namun juga dapat meneladani sifat Allah dan para malaikat-Nya. Wallahu a’lam. (M. Mubasysyarum Bih)

Sabtu 2 Juni 2018 20:0 WIB
Apakah Malam Lailatul Qadar Hanya di Bulan Ramadhan?
Apakah Malam Lailatul Qadar Hanya di Bulan Ramadhan?
Lailatul qadar adalah malam yang paling mulia. Bahkan ia lebih mulia dibanding seribu bulan. Lailatul qadar memiliki banyak keutamaan. Saking banyaknya, Allah merahasiakan waktunya. Tujuannya, agar manusia selalu berusaha ibadah dan beramal saleh.

Andaikan dijelaskan waktunya, tentu sebagian orang tidak akan bersungguh-sungguh ibadah sebelumnya.

Menurut mayoritas ulama, lailatul qadar terjadi pada bulan Ramadhan, meskipun tidak diketahui secara persis kapan waktunya. Namun bila diperhatikan dari kebiasaan Rasulullah, beliau sangat bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh terakhir Ramadhan.

‘Aisyah mengatakan, “Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadhan, Nabi fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut ibadah,” (HR Al-Bukhari).

Dalam riwayat lain, Rasulullah memerinci lailatul qadar biasanya terjadi malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadhan. Rasulullah berkata:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ

Artinya, “Carilah lailatul qadar pada malam ganjil sepuluh terakhir Ramadhan,” (HR Al-Bukhari).

Kendati ulama sepakat lailatul qadar terjadi bulan Ramadhan, namun sebagian ulama mengatakan lailatul qadar juga ada pada bulan yang lain. Penjelasan ini sebagai disebutkan Abdul Wahab As-Sya’rani dalam Mizanul Kubra. Ia menjelaskan:

إن ليلة القدر في شهر رمضان خاصة مع قول أبي حنيفة إنها في جميع السنة، فالأول مشدد والثاني مخفف

Artinya, “Lailatul qadar terjadi bulan Ramadhan saja, namun menurut Abu Hanifah juga bisa terjadi pada setiap bulan. Pendapat yang pertama ketat, sementara pendapat kedua lebih longgar.”

Argumentasi pendapat pertama sangatlah banyak. Ada banyak dalil yang menjelaskan bahwa lailatul qadar terjadi pada bulan Ramadhan. Salah satunya adalah hadits yang dikutip di atas. Sementara argumentasi pendapat kedua, yang menyatakan lailatul qadar bisa terjadi tiap bulan bahkan tiap hari didasarkan pada ilham dan pengalaman spiritual.

‘Ali Al-Khawwas mengatakan:

ليلة القدر هي كل ليلة حصل فيها للعبد تقريب من الله تعالى، قال: وهو منزع من قال إنها في كل السنة وأخبرني أخي الشيخ أفضل الدين أنه رآها في شهر ربيع الأول وفي رجب. وقال معنى قوله تعالى "إنا أنزلناه في ليلة القدر" أي ليلة القرب فكل ليلة حصل فيها قرب فهي قدر

Artinya, “Lailatul qadar adalah setiap malam di mana manusia mendekatkan diri kepada Allah. Inilah dasar pendapat orang yang mengatakan lailatul qadar ada di setiap bulan. Saudaraku, Syeikh Afdhaluddin menceritakan bahwa ia melihat lailatul qadar pada bulan Rabiul Awwal dan Rajab. Karena itu, maksud ayat 'Inna Anzalnahu fi Lailatul Qadr' adalah malam pendekatan. Setiap malam yang bisa mendekatkan (hamba kepada Tuhan) adalah lailatul qadar.”

Pemahaman kelompok kedua terhadap lailatul qadar lebih umum daripada pendapat pertama. Mereka memahami bahwa lailatul qadar adalah setiap malam yang bias mendekatkan diri kita kepada Allah. Malam pendekatan itu tentu tidak hanya terjadi pada bulan Ramadhan, tapi juga bisa terjadi pada bulan lain. Bahkan dalam hadits disebutkan:

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Artinya, “Rahmat Allah turun tiap malam ke dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Kukabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, akan Kuberi; siapa yang mohon ampun kepada-Ku, akan Kuampuni,” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan rahmat Tuhan turun tiap hari, khususnya di pertengahan malam. Sebab itu, dianjurkan memperbanyak ibadah pada pertengahan malam.

Dengan demikian, sebetulnya titik temu dari dua pendapat ini bisa dicari. Perbedaan kedua pendapat ini terletak pada pendefinisian lailatul qadar itu sendiri. Kalau yang dimaksud lailatul qadar adalah malam pendekatan diri, maka itu bisa saja terjadi pada bulan yang lain, karena Allah SWT selalu membuka pintu rahmat-Nya.

Adapun kalau yang dimaksud lailatul qadar adalah bulan yang paling mulia dibanding seribu bulan, sebagaimana dipahami banyak orang, maka kemungkinan besar hanya terjadi di bulan Ramadhan. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)