IMG-LOGO
Trending Now:
Quote Islami
MUTIARA RAMADHAN

Bila Kau Keras dan Kasar, Tidakkah Kau Curiga?

Sabtu 9 Juni 2018 8:30 WIB
Share:
Bila Kau Keras dan Kasar, Tidakkah Kau Curiga?
null
Firman Allah Ta’ala:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Artinya: “Maka dengan rahmat Allah engkau berlaku lembut kepada mereka. Bila engkau berlaku kasar dan berhati keras maka pastilah mereka akan menghindar dari sisimu.” (QS Ali Imran:159)

Adanya Rasulullah bersikap lemah lembut, tidak berlaku kasar dan berhati keras dalam mengajak masyarakat kepada jalan Allah adalah karena rahmat Allah yang tercurah kepada beliau.

Ya, karena adanya rahmat Allah Baginda Rasul berlemah lembut kepada sesama.

Maka bila di antara kita ada yang berlaku kasar, berhati keras, tak berlemah lembut terhadap sesama, tidakkah ia curiga bahwa rahmat Allah tak menghampirinya?

(Yazid Muttaqin)

Tags:
Share:
Jumat 8 Juni 2018 9:30 WIB
MUTIARA RAMADHAN
Bila Kau Keras dan Kasar, Mereka Pun Menghindar
Bila Kau Keras dan Kasar, Mereka Pun Menghindar
Firman Allah Ta’ala:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Artinya: “Maka dengan rahmat Allah engkau berlaku lembut kepada mereka. Bila engkau berlaku kasar dan berhati keras maka pastilah mereka akan menghindar dari sisimu.” (QS Ali Imran:159)

Rasulullah itu berparas menawan mempesona, menarik hati siapa pun yang memandangnya. Beliau itu bassâm, mukanya tesenyum. Tanpa berbicara pun orang yang ada di hadapannya merasa teneram dan damai.

Meski demikian Allah masih juga mengingatkan, bila berlaku kasar dan berhati keras maka orang-orang yang ada di sekitarnya akan lari menjauh.

Bila demikian adanya, lalu bagaimana bila kita mengajak ke jalan Allah dengan perilaku dan perkataan yang keras dan kasar, sementara muka kita tak menawan dan jauh dari mempesona?

(Yazid Muttaqin)
Sabtu 26 Mei 2018 20:45 WIB
MUTIARA RAMADHAN
Puasa yang Kosong Pahala
Puasa yang Kosong Pahala
Sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Artinya: “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad)

Berpuasa dengan menghindari segala yang membatalkannya dari subuh hingga maghrib tiba adalah sah, gugurlah kewajiban sebagai muslim dan mukmin. Hanya saja, adakah pahalanya?

Mereka yang berpuasa bukan karena tunduk dan patuh terhadap perintah Allah, yang jauh dari keikhlasan, yang hanya karena menyesuaikan keadaan dan lingkungan, tak ada pahala baginya.

Mereka yang tetap membiarkan matanya melihat yang tak pantas, telinganya mendengarkan yang tak layak, lisannya menuturkan yang tak semestinya dituturkan, dan anggota badan lainnya melakukan apa-apa yang tak diridhai oleh Allah, adalah mereka yang mendapatkan lapar dan dahaga saja dari puasanya.

Puasa yang dilakukan tanpa keikhlasan, kosong tanpa pahala. (Yazid Muttaqin)

Jumat 25 Mei 2018 19:0 WIB
MUTIARA RAMADHAN
Memberi Utang Allah Ta’ala
Memberi Utang Allah Ta’ala
Allah subhânahu wa ta’âla berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Artinya: “Siapakah yang mau memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah akan melipatgandakan pembayaran baginya dengan penggandaan yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan rezeki. Dan hanya kepada-Nya kalian akan dikembalikan.” (QS al-Baqarah: 245)

Tiga golongan manusia setelah mendengar atau membaca ayat ini:

Pertama, golongan yang rendah dan buruk. Mereka yang mengatakan Allah fakir. Allah membutuhkan kita dan kita adalah orang-orang kaya. Mereka adalah orang-orang bodoh.

Kedua, gologan yang ketika mendengar atau membaca ayat ini mereka lebih memilih sikap bakhil dan pelit. Mereka lebih mengedepankan harta, tak mau menginfakkannya di jalan Allah, tak mau menolong sesama. Mereka malas untuk melakukan ketaatan, lebih condong kepada kehidupan dunia.

Ketiga, golongan yang ketika mendengar atau membaca ayat ini bersegera untuk melaksanakannya. Segera ia sedekahkan apa yang mereka punya demi menggapai balasan dan ridlo Tuhannya.

Demikian Ibnul Arabi, sebagaimana dikutip Al-Qurtubi dalam tafsirnya. (Yazid Muttaqin)