IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Hukum Shalat Kafarat di Jumat Akhir Ramadhan

Kamis 30 Mei 2019 17:15 WIB
Hukum Shalat Kafarat di Jumat Akhir Ramadhan
Ilustrasi (info-islam.ru)
Sebentar lagi kita berada di penghujung bulan Ramadhan. Belakangan ini, seperti halnya dibahas tahun-tahun sebelumnya, muncul persoalan terkait tradisi yang dilakukan di waktu tersebut. Tepatnya pada hari Jumat terakhir, usai shalat Jumat, terdapat tradisi menjalankan shalat kafarat atau disebut shalat al-bara’ah.

Shalat kafarat dilakukan sejumlah rakaat shalat fardlu. Lima kali waktu shalat—Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dan Subuh—total 17 rakaat. Sebagian pihak setuju atas tradisi tersebut, sementara sebagian yang lain melarangnya. Shalat kafarat diniatkan untuk mengqadha shalat fardlu yang diragukan ditinggalkan atau yang tidak sah. Ada keterangan bahwa shalat kafarat ini dapat mengganti shalat yang ditinggalkan semasa hidupnya sampai 70 tahun dan dapat melengkapi kekurangan-kekurangan dalam shalat yang dilakukan disebabkan waswas atau lainnya.

Bagaimana hukum Islam memandang pelaksanaan shalat kafarat?

Terdapat diskusi panjang mengenai status hukum shalat kafarat. Mufti Hadlramaut Yaman, Syekh Fadl bin Abdurrahman mengumpulkan perbedaan pandangan para ulama dalam kitabnya, Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi Hukmi Shalat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf

Ulama berbeda pandangan tentang hukum melakukan shalat kafarat, antara yang membolehkan dan mengharamkannya.

Pandangan yang membolehkan di antaranya karena pertimbangan sebagi berikut:

Pertama, bertendensi pada pendapat al-Qadli Husain yang membolehkan mengqadha shalat fardlu yang diragukan ditinggalkan. Pendapat tersebut sebagaimana keterangan berikuti ini:

  فرع ) قال القاضي لو قضى فائتة على الشك فالمرجو من الله تعالى أن يجبر بها خللا في الفرائض أو يحسبها له نفلا وسمعت بعض أصحاب بني عاصم يقول : إنه قضى صلوات عمره كلها مرة ، وقد استأنف قضاءها ثانيا ا هـ قال الغزي وهي فائدة جليلة عزيزة عديمة النقل ا هـ إيعاب 

“Cabangan permasalahan: al-Qadli Husain berkata, bila seseorang mengqadha shalat fardlu yang ditinggalkan secara ragu, maka yang diharapkan dari Allah shalat tersebut dapat mengganti kecacatan dalam shalat fardlu atau paling tidak dianggap sebagai shalat sunah. Saya mendengar bahwa sebagian ashabnya Bani Ashim berkata, bahwa ia mengqadha seluruh shalat seumur hidupnya satu kali dan memulai mengqadhanya untuk kedua kalinya. Al-Ghuzzi mengatakan, ini adalah faidah yang agung, yang jarang sekali dikutip oleh ulama.” (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz.2, halaman 27)

Dalam redaksi yang lain disampaikan:

إن الشك في عبادة بدنية أو مالية يجوز تعليق نية قضائها إن كان عليه وإلا فتطوع

“Keraguan dalam ibadah badan atau harta, boleh menggantungkan niat qadhanya, bila betul ada tanggungan maka statusnya wajib, bila tidak, maka berstatus sunah.” (Syekh Fadl bin Abdurrahman al-Tarimi al-Hadlrami, Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi Hukmi Shalat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf, halaman 4)

Kedua, tidak ada orang yang meyakini keabsahan shalat yang baru saja ia kerjakan, terlebih shalat yang dulu-dulu.

Ketiga, larangan shalat kafarat dikarenakan ada kekhawatiran shalat tersebut cukup untuk mengganti shalat yang ditinggalkan selama setahun, ketika kekhawatiran tersebut hilang, maka hukum haram hilang.

Keempat, mengikuti amaliyyah para pembesar ulama dan para wali Allah yang ahli makrifat billah, di antaranya Sayyidi Syekh Fakr al-Wujud Abu Bakr bin Salim, Habib Ahmad bin Hasan al-Athas, al-Imam Ahmad bin Zain al-Habsyi dan banyak lainnya. Shalat tersebut rutin dilakukan dan diimbau oleh para pembesar ulama di Yaman. Bahkan di masjid Zabid Yaman shalat kafarat ini rutin dilakukan secara berjamaah.

Mengikuti amaliyyah para wali dan ulama ‘ârifin (ahli ma'rifattanpa diketahui dalil istinbathnya dari hadits Nabi, sudah cukup untuk menjadi hujjah membolehkan shalat kafarat ini. Syekh Abdul Wahhab al-Sya’rani dalam kitab Tanbih al-Mughtarrin, sebagaimana dikutip dalam Kasyf al-Khafa’ mengatakan:

ومن القوم إذا لم يجدوا لذلك العمل دليلا من سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم الثابتة في كتب الشريعة يتوجهون بقلوبهم إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فإذا حضروا بين يديه سألوه عن ذلك وعملوا بما قاله لهم ولكن مثل هذا خاض بأكابر الرجال

“Di antara kaum, apabila mereka tidak memiliki dalil dari sunah Nabi yang ditetapkan dalam kitab syari’ah, mereka menghadap hatinya kepada Rasul, bila sudah berhadapan dengan Nabi, mereka bertanya kepada beliau dan mengamalkan apa yang dikatakan Nabi, akan tetapi yang demikian ini khusus untuk para pembesar sufi.” 

فإن قيل فهل لصاحب هذا المقال أن يأمر الناس بما أمره رسول الله صلى الله عليه وسلم بفعله وقوله؟ الجواب لا ينبغي له ذلك لأنه أمر زائد على السنة الصحيحة الثابتة من طريق النقل ومن أمر الناس بشيء زائد على ما ثبت من طريق النقل فقد كلف الناس شططا اللهم إلا أن يشاء أحد ذلك فلا حرج عليه كما هو شأن مقلدي المذاهب المستنبطة من الكتاب والسنة والله أعلم

“Bila ditanya, apakah sufi yang mendapat amaliyyah dari Nabi boleh memerintahkan orang lain sebagaimana Nabi memerintahkan kepadanya? Jawabannya, tidak sebaiknya hal tersebut dilakukan, sebab merupakan perkara tambahan atas sunah shahih, barang siapa memerintahkan manusia perkara yang melebihi sunah Nabi yang dicetuskan berdasarkan riwayat yang sahih, maka ia telah memberi beban kerancauan kepada mereka. Kecuali bila ada orang yang dengan sukarela mengikutinya, maka tidak ada masalah, sebagaimana keadaan para pengikut mazhab-mazhab yang bersumber dari al-Quran dan hadits.” (Syekh Fadl bin Abdurrahman al-Tarimi al-Hadlrami, Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi hukmi Shalat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf, halaman 43)

Syekh Abdurrahman bin Syekh Ahmad Bawazir sebagaimana dikutip dalam Kasyf al-Khafa mengatakan:

ولا شك أن العارف بالله فخر الوجود أبا بكر بن سالم ممن يقلد في الصلاة المذكورة لأن العارف لا يتقيد بمذهب كما في الإبريز للشيخ عبد العزيز الدباغ بل قال فيه إن مذهب الولي العارف بالله أقوى من المذاهب الأربعة. انتهى

“Tidak diragukan lagi bahwa al-Arif billah Fakr al-Wujud Syekh Abu Bakr bin Salim adalah termasuk tokoh yang mengikuti amaliyyah shalat kafarat/ baraah ini, sebab orang yang ahli makrifat tidak terikat dengan mazhab tertentu, seperti keterangan dalam kitab al-Ibriznya Syekh Abdul Aziz al-Dabbagh, bahkan beliau mengatakan, sesungguhnya mazhabnya wali yang al-Arif billah lebih kuat dibandingkan dengan mazhab empat.” (Syekh Fadl bin Abdurrahman al-Tarimi al-Hadlrami, Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi Hukmi Shalat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf, halaman 48)

Pandangan yang mengharamkan setidaknya karena berbagai pertimbangan berikut:

Pertama, tidak ada tuntunan yang jelas dari hadits Nabi atau kitab-kitab syari’ah, sehingga melakukannya tergolong isyra’u ma lam yusyra’ (mensyariatkan ibadah yang tidak disyari’atkan) atau ta’athi bi ‘ibadatin fasidah (melakukan ibadah yang rusak).

Kedua, pengkhususan shalat kafarat pada akhir Jumat bulan Ramadhan tidak memiliki dasar yang jelas dalam syari’at.

Ketiga, terdapat keterangan sharih dari pakar fikih otoritatif mazhab Syafi’i, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami sebagai berikut:

وأقبح من ذلك ما اعتيد في بعض البلاد من صلاة الخمس في هذه الجمعة عقب صلاتها زاعمين أنها تكفر صلوات العام أو العمر المتروكة وذلك حرام أو كفر لوجوه لا تخفى

“Yang lebih buruk dari itu adalah tradisi di sebagian daerah berupa shalat 5 waktu di jumat ini (jumat akhir Ramadhan) selepas menjalankan shalat jumat, mereka meyakini shalat tersebut dapat melebur dosa shalat-shalat yang ditinggalkan selama setahun atau bahkan semasa hidup, yang demikian ini adalah haram atau bahkan kufur karena beberapa sisi pandang yang tidak samar.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz.2, halaman 457)

Mengomentari statemen di atas, Syekh al-Syarwani mengatakan:

قوله ( وذلك ) أي الزعم المذكور قوله ( لوجوه إلخ ) منها إسقاط القضاء وهو مخالف للمذاهب كلها كردي

“Ucapan Syekh Ibnu Hajar, yang demikian ini adalah haram atau bahkan kufur karena beberapa sisi pandang yang tidak samar, di antaranya adalah dapat menggugurkan kewajiban mengqadha shalat, hal ini menyalahi seluruh mazhab-mazhab.” (Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala al-Tuhfah, juz.2, halaman 457)

Keempat, hadits tentang shalat kafarat tidak dapat dibuat dalil, karena tidak memiliki sanad yang jelas.

Kesimpulan ikhtilaf mengenai hukum shalat kafarat terangkum dalam statemen Mufti Syekh Salim bin Said Bukair al-Hadlrami yang dikutip Kasyf al-Khafa’ sebagai berikut:

ما قولكم في صلاة الخمسة الفروض التي تصلى آخر جمعة من رمضان هل هي جائزة شرعا أم لا؟ وهل أحد نص عليها من العلماء وفعلها غير الشيخ أبو بكر وأولاده أفيدونا؟!
الجواب الحمد لله صلاة الفروض آخر جمعة من رمضان قضاء فوائت ليس على يقين منها، وتسمى صلاة البراءة، اختلف العلماء فيها، فقال بتحريمها جماعة كالشيخ ابن حجر وبامخرمة وغيرهما. وقال بجوازها كثير من علماء اليمن، وكانت تصلى بجامع زبيد كما قال الناشري، قال ولا يتركها إلا القليل انتهى. وهي محط رجال العلم وأئمة الفتوى وقد صلاها جماعة من الأئمة الورعين البارعين في علمي الظاهر والباطن كالفخر الشيخ أبي بكر بن سالم والإمام العلامة أحمد بن زين الحبشي والإمام الحبيب عمر بن زين بن سميط والحبيب العلامة أحمد بن محمد المحضار والعلامة الحبيب أحمد بن حسن العطاس والحبيب العلامة سالم بن حفيظ بن الشيخ بن أبي بكر بن سالم والحبيب العلامة عبد الله بن عبد الرحمن بن الشيخ أبي بكر بن سالم وغيرهم من علماء اليمن وحضر موت.

“Bagaimana pendapat anda tentang shalat lima waktu yang dilakukan di ahir Jumat Ramadhan, boleh atau tidak? Apakah ada salah seorang ulama yang membolehkannya dan mengamalkannya selain Syekh Abu Bakr bin Salim dan anak-anaknya?.

Jawaban, segala puji bagi Allah, shalat fardlu lima waktu di akhir Jumat bulan Ramadhan merupakan shalat untuk mengqadha shalat fardlu yang tidak diyakini ditinggalkan, shalat ini disebut dengan shalat bara’ah, ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Segolongan ulama seperti Syekh Ibnu Hajar, Syekh Bamakhramah dan lainnya mengharamkan. Dan mayoritas ulama Yaman membolehkannya, shalat ini dilakukan di masjid Jami’ Zabid seperti yang dikatakan imam al-Nasyiri, beliau mengatakan, tidak meninggalkan shalat ini kecuali segelintir orang. Shalat bara’ah ini adalah amaliyyah para tokoh ilmu dan imam-imam fatwa, shalat ini dilakukan oleh para imam yang wira’i, yang menonjol dalam ilmu zhahir dan batin, seperti al-Fakhr Syekh Abu Bakr bin Salim, al-‘Allamah Ahmad bin Zain al-Habsyi, Habib Umar bin Zain bin Smith, Habib Ahmad bin Muhammad al-Mihdlar dan ulama Hadlramaut yang lain.”

فقد أقامها كل من المذكورين في جهاتهم وبلدانهم وأمر بها وأقرها الإمام الحجة الحبيب عبد الرحمن بن عبد الله بلفقيه وهو الذي كان يلقبه الإمام الحبيب عبد الله الحداد بـ "علامة الدنيا"...إلى أن قال.... وكفى بهذا الإمام وبمن تقدم ذكرهم من أئمة الدين والعلماء الورعين حجة في جواز هذه الصلاة ، وإذا لم تقم بهم وبأمثالهم الحجة فيمن تقوم الحجة؟. 

“Mereka-mereka ini melakukan shalat bara’ah di daerah-daerahnya dan memerintahkan orang untuk melakukannya, kebolehan shalat ini juga diamini oleh Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih yang dijuluki oleh Habib Abdullah al-Haddad dengan “orang sangat alim di dunia.” Cukuplah imam ini dan imam-imam lain yang disebutkan sebelumnya dari para imam agama dan ulama yang wira’i, dijadikan sebagai hujjah kebolehan shalat bara’ah, bila tida bisa, lantas siapa lagi ulama yang bisa dijadikan hujjah?

وقد قال بجواز القضاء مع الشك القاضي حسين والغزي كما في الجمل على المنهج والإمام الغزالي في الإحياء وفي ذلك أعظم دليل وأقوى حجة لما قاله وعمله هؤلاء الأئمة بل لو لم يقل بجواز هذه الصلاة ويفعلها إلا الشيخ أبو بكر بن سالم قوله وفعله كما في الحجة فإنه من كبار العلماء وأئمة الدين

“Al-Qadli Husain dan al-Ghuzzi membolehkan shalat qadha beserta keraguan seperti dalam Hasyiyah al-Jamal dan al-Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’, ini adalah dalil dan hujjah terkuat dari apa yang dikatakan dan diamalkan imam-imam yang tersebut di atas. Bahkan, andai saja yang membolehkan dan melakukan shalat ini hanya Syekh Abu Bakr bin Salim, maka sudah cukup, sesungguhnya beliau tergolong pembesar ulama dan imam-imam agama.” (Syekh Fadl bin Abdurrahman al-Tarimi al-Hadlrami, Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi hukmi shalat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf, halaman 37)

Demikian penjelasan mengenai ikhtilaf ulama tentang shalat kafarat atau shalat bara’ah, semoga bisa saling menghargai atas perbedaan tersebut, karena keduanya sama-sama memiliki argumen yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang perlu ditegaskan adalah, keyakinan bahwa shalat kafarat diyakini sebagai pengganti shalat fardlu yang ditinggalkan selama satu tahun, sama sekali tidak dibenarkan, sebab kewajiban bagi orang yang meninggalkan shalat, baik sengaja atau lupa, adalah mengqadhanya satu persatu, ulama tidak ikhtilaf dalam hal ini. Shalat kafarat dimaksudkan sebagai langkah antisipasi (ihtiyath) saja. Wallahu a‘lam. (M. Mubasysyarum Bih)


:::
Catatan: Naskah ini pertama kali terbit pada 9 Juni 2018, pukul 17.00. Redaksi mengunggahnya ulang pada Ramadhan kali ini tanpa melakukan perubahan.
Tags:
Share:
Kamis 30 Mei 2019 19:0 WIB
Nasihat Kontemplatif Menyambut Idul Fitri
Nasihat Kontemplatif Menyambut Idul Fitri
Sebentar lagi lebaran. Sebelum itu, kita simak nasihat Sayyid Abdul Aziz al-Darani dalam kitab Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb. Sayyid Abdul Aziz al-Darani akan berbicara tentang cara terbaik menyambut Idul Fitri, yaitu dengan tidak terlalu tenggelam dalam kehidupan dunia, dan lebih memahami makna yang terkandung dalam Idul Fitri. Beliau mengutip beberapa perkataan salaf al-shalih terdahulu:

قال لقمان لابنه: يا بنيّ إن الدنيا بحر عميق قد غرق فيه ناس كثير فلتكن فيه سفينتك تقوي الله تعالي وحشوها الإيمان بالله وشراعها التوكل علي الله لعلك ناج ولا أراك ناجيا. وقال الإمام مالك بن أنس رضي الله عنه: حب الدنيا يخرج حلاوة الإيمان من القلب.
وقال حاتم الأصم: الدنيا مثل ظلك إن تركته تراجع وإن تبعته تباعد

“Berkata Sayyidina Luqman kepada anaknya: ‘wahai anakku, dunia adalah samudera yang dalam. Telah banyak orang yang tenggelam di dalamnya, maka jadikanlah takwa sebagai perahumu, iman kepada Allah sebagai bahan bakarnya, dan tawakkal sebagai dayungnya, semoga saja kau selamat, meski kecil kemungkinanmu untuk selamat.”

“Imam Malik bin Anas berkata: ‘cinta kepada dunia dapat mengeluarkan manisnya iman dari hati.”

“Imam Hatim al-Asham berkata: ‘dunia seumpama bayanganmu, jika kau berhenti, ia berhenti pula, dan jika kau mengikutinya, ia akan semakin menjauh.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, h. 174)

Kemudian Sayyid Abdul Aziz al-Darani mengutip perkataan ulama lainnya:

من عمل لآخرته كفاه الله أمر دنياه، ومن أصلح سريرته أصلح الله علانيته، ومن أصلح ما بينه وبين الله تعالي أصلح الله ما بينه وبين الناس

“Barangsiapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan cukupkan urusan dunianya. Barangsiapa yang memperbagus jiwanya (mentalnya), Allah akan perbagus zahirnya. Barangsiapa yang memperbagus hubungannya dengan Allah, Allah akan perbagus hubungannya dengan manusia.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 174)

Dengan sisa Ramadhan yang hanya beberapa hari lagi, masih belum terlambat untuk kita memulai membersihkan diri, atau mempersiapkan diri agar hidup kita dipenuhi keberkahan dan kemanfaatan di kemudian hari; agar kita menjadi pribadi yang berbeda setelah menjalankan puasa Ramadhan; agar kita tidak tenggelam dalam samudera dunia seperti yang diwasiatkan Sayyidina Luqman al-Hakim; agar kita tidak terperangkap dengan kecintaan kepada dunia yang berlebih. Karena itu, mari kita renungkan nasihat panjang Sayyid Abdul Aziz al-Darani berikut ini:

وودعوا شهر رمضان بكثرة الإستغفار من التقصير والعزم علي دوام الجد والتشمير، ألا وإن من كان يعبد محمدا فحمد فد مات ومن كان يعبد رب محمد فإن رب محمد حيّ لا يموت

“Ucapkan selamat tinggal pada bulan Ramadhan dengan memperbanyak istighfar karena kurangnya melaksakanan ibadah dengan baik, dan (jagalah) kesungguhan keinginan beribadah dan cekatan dalam menunaikannya. Ingatlah barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah mati, tapi barangsiapa yang menyembah Tuhannya Muhammad, sesungguhnya Tuhannya Muhammad Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 175-176)

وروي أن الله تعالي يقول للملائكة إذا اجتمعوا لصلاة العيد: (يا ملائكتي ما جزاء من وفّي عمله؟ فيقولون يا ربنا يوفّي أجرته, فيقول: أشهدكم يا ملائكتي أني قد غفرت لهم) ـ

“Diriwayatkan bahwa Allah SWT berkata kepada para malaikat ketika orang-orang berkumpul untuk melakukan shalat ‘Id: ‘wahai para malaikatKu, apa balasan bagi orang yang telah memenuhi amalnya?’ Para malaikat menjawab: ‘wahai Tuhan kami, hendaknya ia dipenuhi ganjarannya’. Allah berkata: ‘Aku bersaksi kepada kalian, wahai para malaikatKu, sungguh telah Kuampuni dosa-dosa mereka.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 177)

فإذ رأيت يوم العيد خروج الناس من الدور فاذكر خروج الأموات من الأجداث يوم النشور وآخر يتزين بأفخر ثيابه وآخر حزين لأجل مصابه وآخر يتعطر بأطيب الروائح وآخر يسمع في داره النوائح, وهم ما بين ماش وراكب, مصحوب ومصاب، ومطلوب وطالب، وكذلك يخرجون يوم القيامة، واحد يأتي فرحا مسرورا، وآخر يدعو وبلا وثبورا (يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِيْنَ إلَي الرَّحْمنِ وَفْدًا وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِيْنَ إلي جَهَنَّمَ وِرْدًا) ـ

“Jika kau melihat di hari ‘Id banyak manusia yang keluar dari rumah-rumahnya, ingatlah (peristiwa) keluarnya semua manusia yang telah mati dari kuburannya di hari berbangkit. Sebagian berhias dengan pakaiannya yang paling indah; sebagian sedih karena musibah (ketidakmampuan mereka); sebagian memakai wewangian dengan parfum yang paling harum; sebagian lainnya terdengar meratap dan menjerit di persinggahannya. Sebagian dari mereka berjalan dan berkendaraan, ditemani dan menemani, diminta dan meminta. Begitulah mereka dibangkitkan kelak di hari kiamat, dimana sebagian datang dengan wajah gembira dan senang, sementara sebagian lain berdoa agar dibinasakan dan dimatikan saja. (Allah berfirman [Q.S. Maryam 85-86]: [Ingatlah!] hari ketika Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka jahannam dalam keadaan dahaga).” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 177)

وإذا رأيت أنواع الخلائق إلي الفضاء قد برزت فاذكر نشر الأعلام للسعداء إذا ساروا إلي دار السلام، وإذا رأيت الخلائق قد اجتمعت وللأذان قد استمعت فاذكر وقت الوقوف بين يدي الملك الديان إذا شخصت الأبصار

“Jika kau melihat bermacam-macam makhluk (manusia) menuju beberapa penjuru saat ‘Id, ingatlah ketika orang-orang yang beruntung diberi panji saat mereka menuju Darussalam. Jika kau melihat manusia telah berkumpul dan panggilan telah terdengarkan, ingatlah waktu berbangkit menghadap yang Maha Membalas ketika penglihatan manusia dibuka (kembali).” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 177)

وإذا رأيت تفرق الناس من المصلّي كل يذهب إلي منزله ومأواه فاذكر يوم يصدر الناس أشتاتا عن مورد القيامة، كل إلي محله ومثواه. ليس الطيب في العيدين تطييبا بريح العود وإنما الطيب أن تتوب فلا تعود، وتتعري من لباس السمعة والرياء وتلبس ثياب الورع والحياء، وتتطيب بطيب الصدق والوفاء، وتركب مركب الود والصفاء، وتتحلي بالعبادة وترتدي بالزهادة، وتتمنطق بالصيانة وتتختم بالأمانة وتخرج إلي المصلي خروج وجل من الرد, وتمشي مشي خجل من الصد، وتخاف أن تكون أعمالك مرعودة معلولة، وطاعتك غير مقبولة 

“Jika kau melihat manusia berpencaran dari tempat shalat (‘Id) pulang ke rumah dan kediamannya, ingatlah ketika manusia saling terpisah (berpencaran) saat kiamat dibangkitkan, masing-masing menuju ke tempat tinggal dan kediamannya. Bukanlah hal yang baik di hari raya ‘Id berwangi-wangian dengan hembusan angin berpulang. Yang paling baik adalah kau bertobat dan tidak kembali melakukan perbuatan dosa. Kau lepaskan pakaian sum’ah dan riya’, serta gantilah dengan pakaian wara’ dan malu. Berwangi-wangianlah dengan wangian kejujuran dan memenuhi janji. Kendarailah kendaraan cinta dan kesucian. Hiasilah diri dengan hiasan ibadah dan pakailah pakaian kezuhudan. Pakailah jubah pengendalian diri dan bercincin amanah. Berangkatlah menuju tempat shalat (‘Id) dengan hati yang penuh kegelisahan, (jangan-jangan kau) akan tertolak. Berjalanlah dengan perasaan malu, (jangan-jangan amalmu) akan terintang, dan kau takut (jangan-jangan) amalmu terancam dipersoalkan, dan ketaatanmu tidak diterima.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 177-178)

وتكبر تكبير من عظم ربه، وتصاغرت عنده نفسه وتذكر ذنبه، وتقف في الصلاة وقوف خاشع, وتركع ركوع خاضع، وتسجد سجود طامع، وتجلس لسماع الخطبة كمن أحضر للحساب وهو ينتظر ما يرد عليه من الخطاب، وإلا فما ينفع التزين باللباس البيض، والقلب في وهم الدنيا مريض وما يفيد التزين باللباس ولم تنزع رداء الإلباس

“Agungkanlah Tuhan (takbir) dengan takbirnya orang yang (sungguh-sungguh) mengagungkan Tuhan, dengan merendahkan dirinya sendiri di hadapan Tuhannya dan mengingat-ingat dosa-dosanya. Berdirilah untuk shalat dengan khusyu’, ruku’ dengan penuh ketundukan, dan sujud dengan penuh pengharapan. Duduklah mendengarkan khutbah seperti orang yang hadir untuk dihisab sementara menunggu interogasi yang akan dihadapkan kepadanya. Jikalau tidak, lantas apa manfaat menghias diri dengan pakaian putih sementara hati masih dalam bayangan duniawi yang sarat penyakit? Apa gunanya kau berhias dengan pakaian sedangkan kau tidak melepas selendang kerancuan?” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 177-178)

Semoga kita bisa merenungkan nasihat panjang yang diberikan Sayyid Abdul Aziz al-Darani, agar kita bisa lebih mampu menjadi manusia yang terus bertambah baik seiring berjalannya waktu. Semoga amal ibadah kita tidak hanya diterima, tapi membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Amin. Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan




Selasa 28 Mei 2019 18:0 WIB
Delapan Adab I’tikaf Menurut Imam al-Ghazali
Delapan Adab I’tikaf Menurut Imam al-Ghazali
Ilustrasi (Stock Footage)
Di bulan Ramadhan, terutama di sepuluh malam terakhir, i’tikaf sangat dianjurkan karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan hal ini di sepanjang malam-malam tersebut. Untuk beri’tikaf dengan baik, Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah) hal. 435, menyebutkan delapan adab i’tikaf sebagai berikut: 

آداب الاعتكاف: دوام الذكر، وجمع الهم، وترك الحديث، ولزوم الموضع، وترك التنقلات، وحبس النفس عن مرادها، ومنعها في محابها، وجبرها على طاعة الله عز وجل.

Artinya: “Adab i’tikaf, yakni: terus menerus berdzikir, penuh konsentrasi, tidak bercakap-cakap, selalu berada di tempat, tidak berpindah-pindah tempat, menahan keinginan nafsu, menahan diri dari kecenderungan menuruti nafsu dan menaati Allah azza wa jalla

Dari kutipan tersebut dapat diuraikan kedelapan adab i’tikaf sebagai berikut:

Pertama, terus-menerus berdzikir. Berdzikir kapada Allah bisa dengan banyak membaca kalimat thayyibah ((لا اله الا الله, tasbih (سبحان الله), istighfar (استغفر الله العظيم), syukur (الحمد لله), dan sebagainya. Hal terpenting dalam berdzikir ini adalah melakukannya secara terus-menerus dengan tujuan mengingat Allah dan mendekat pada-Nya.

Kedua, penuh konsentrasi. Dalam berdzikir kepada Allah hendaknya kita bisa memusatkan pikiran secara penuh atau yang lebih dikenal dengan konsentrasi. Hal ini bisa dicapai apabila dalam berdzikir kita bisa sekaligus menghayati makna setiap kata yang kita ucapkan. 

Ketiga, tidak bercakap-cakap. Dalam berdzikir kita berupaya mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala. Kedakatan itu akan terjalin kalau kita sepenuhnya memusatkan kesadaran kita hanya kepada Allah sehingga komunikasi dengan sesama manusia sebaiknya dihindari kecuali ada keperluan mendesak.  

Keempat, selalu berada di tempat. Tempat i’tikaf adalah masjid. Masjid itu sendiri terdiri dari ruang-ruang tertentu seperti ruang dalam dan serambi. Tempat untuk beri’tikaf adalah ruang dalam tersebut yang biasanya terdapat tulisan di dinding yang berbunyi “Nawaitu al-’tikafa lillahi ta’ala”. Di ruang dalam inilah kita berada selama beri’ikaf. Jika ada keperluan untuk buang hajat, misalnya, kita boleh meninggalkannya untuk kemudian kembali ke tempat semula.

Kelima, tidak berpindah-pindah tempat. Di dalam masjid kita sebaiknya tidak berpindah-pindah tempat. Kita bisa mendirikan shalat, berdzikir, membaca Al-Qur'an, bertafakur dan sebagainya di tempat yang sama. Hal ini tentu saja agar i’tikaf bisa terlaksana secara efektif karena tidak membuang-buang waktu dan tenaga hanya untuk berpindah-pindah.

Keenam, menahan keinginan nafsu. Di dalam masjid sewaktu beri’tikaf kita sebaiknya fokus pada ibadah yang sedang kita lakukan dan tidak membiarkan pikiran kemana-mana. Godaan untuk segera mengakhiri i’tikaf sering kali berawal dari membiarkan pikiran ke hal-hal yang di luar masjid seperti warung makan, dan sebagainya. Hal ini bisa mengurangi kualitas i’tikaf karena kemudian kita tiba-tiba merasa lapar dan ingin segera ke tempat tersebut. 

Ketujuh, menahan diri dari kecenderungan menuruti nafsu. Di dalam masjid mungkin setan menggoda agar kita segera mengakhiri i’tikaf dengan alasan yang macam-macam seperti ingin segera istrirahat. Hal ini sebenarnya merupakan cara setan untuk membuat kita tiba-tiba merasa ingin istirahat sehingga bisa bebas 

Kedelapan, menaati Allah azza wa jalla. Dalam beri’tikaf kita tetap harus taat kepada Allah dengan tidak melakukan hal-hal yang dilarang seperti lebih memilih i’tikaf dari pada melakukan shalat fardhu. Hukum i’tikaf adalah sunnah, sedang shalat fardhu hukumnya wajib. Maka ketika saat shalat Subuh tiba, kewajiban shalat ini harus dilaksanakan dengan menghentikan i’tikaf. Usai shalat Subuh tentu saja i’tikaf bisa dilanjutkan. 

Itulah kedelapan adab beri’tikaf sebagaimana disampaikan oleh Imam al-Ghazali. Poin yang terpenting adalah ketika kita sudah berniat melaksanakan i’tikaf di dalam masjid, maka kita benar-benar harus dapat sepenuhnya mencurahkan diri sehingga terhindari dari hal-hal yang tidak sejalan dengan adab-adab i’tikaf. 


Ustadz Muhammad Ishom, pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Selasa 28 Mei 2019 16:0 WIB
Hal-hal yang Membatalkan I’tikaf
Hal-hal yang Membatalkan I’tikaf
Ilustrasi (via picbon.com)
Sepuluh akhir bulan Ramadhan adalah waktu yang paling diharapkan turunnya lailatul qadar. Nabi melalui teladan perilakunya menekankan begitu pentingnya mengisi sepertiga akhir bulan suci ini dengan beribadah, di antaranya dengan beri’tikaf. Berbicara i’tikaf, penting untuk diketahui hal-hal yang membatlkannya, agar bisa dihindari dan i’tikaf menjadi sah sesuai aturan syariat. Ada tuju hal yang dapat membatalkan i’tikaf. Berikut ini penjelasannya:

Salah satu yang terpenting dalam keabsahan ibadah adalah akal yang sehat. Sebab dengan akal yang sehat, seseorang dapat menjalankan ibadah dengan baik dan niat ibadahnya dinyatakan sah. Gangguan jiwa parah yang dialami orang gila menjadikannya tidak dapat mengendalikan diri, sehingga dalam kondisi tersebut ia tidak memenuhi kualifikasi orang yang dinyatakan sah i’tikafnya. 

Namun kondisi gila yang dapat membatalkan i’tikaf adalah ketika disebabkan keteledoran pelakunya, misalnya sengaja mengonsumsi obat yang menjadikannya gila. Bila tidak ada unsur keteledoran, maka tidak membatalkan i’tikaf yang telah dilakukan asalkan ia tidak dikeluarkan dari masjid, sehingga ketika dalam waktu dekat, ia sembuh kembali, tidak perlu mengulangi niat i’tikaf, cukup melanjutkan niat i’tikaf sebelumnya.

Kedua, ighma (pingsan)

Al-ighma’ didefinisikan dengan:

آفَةٌ فِي الْقَلْبِ أَوِ الدِّمَاغِ تُعَطِّل الْقُوَى الْمُدْرِكَةَ وَالْحَرَكَةَ عَنْ أَفْعَالِهَا مَعَ بَقَاءِ الْعَقْل مَغْلُوبًا

“Penyakit di hati atau otak yang dapat menghilangkan kesadaran dan membuat tidak dapat bergerak (tidak berdaya) serta masih tersisanya akal secara minim.” (Jamaah Ulama Kuwait, al-Masu’ah al-Fiqhiyyah, juz 7, hal. 163).

Melihat definisi ini, kata ighma lebih tepat diterjemahkan dengan pingsan (jawa: semaput), daripada diartikan epilepsi, sebab ighma tidak ada hubungannya sama sekali dengan gangguan saraf, sementara epilepsi berkaitan erat dengan penyakit saraf. Tarafnya ighma masih di bawah gila, sebab gila dapat menghilangkan akal secara total, sedangkan ighma masih menyisakan kesadaran akal meski dalam taraf yang minim. 

Sebagaimana gila, pingsan dapat membatalkan i’tikaf bila disebabkan oleh keteloderan, semisal akibat secara sengaja meminum obat yang menyebabkan pingsan. Jika tidak demikian, i’tikafnya yang sudah dijalani tetap sah dengan catatan ia tetap berada di masjid. Ketika ia kembali siuman saat masih berada di masjid, tidak perlu mengulangi niat i’tikaf. Perbedaannya dengan persoalan gila adalah saat kondisi gila, tidak terhitung pahala i’tikafnya, sebab pelakunya tidak sah menjalani i’tikaf, berbeda dalam kondisi pingsan, tetap dihitung pahala i’tikafnya, sebab i’tikaf tetap sah dilakukan dalam kondisi pingsan.

Syekh Khathib al-Syarbini menjelaskan:

(وَلَوْ طَرَأَ جُنُونٌ أَوْ إغْمَاءٌ) عَلَى الْمُعْتَكِفِ (لَمْ يَبْطُلْ مَا مَضَى) مِنْ اعْتِكَافِهِ الْمُتَتَابِعِ (إنْ لَمْ يُخْرَجْ) بِالْبِنَاءِ لِلْمَفْعُولِ مِنْ الْمَسْجِدِ؛ لِأَنَّهُ مَعْذُورٌ بِمَا عَرَضَ لَهُ ...إلى أن قال.....أَمَّا لَوْ طَرَأَ ذَلِكَ بِسَبَبٍ لَا يُعْذَرُ فِيهِ كَالسُّكْرِ فَإِنَّهُ يَنْقَطِعُ اعْتِكَافُهُ كَمَا نَقَلَهُ فِي الْكِفَايَةِ عَنْ الْبَنْدَنِيجِيِّ فِي الْجُنُونِ، وَبَحَثَهُ الْأَذْرَعِيُّ فِي الْإِغْمَاءِ

“Bila baru datang gila atau pingsan atas orang yang beri’tikaf, maka tidak batal i’tikaf yang telah lewat yang dilakukan secara berkelanjutan, bila ia tidak dikeluarkan dari masjid, karena dimaklumi atas kondisi baru datang yang dialami. Adapun jika hal tersebut terjadi dengan sebab yang tidak dimaklumi, seperti mabuk, maka terputus i’tikafnya seperti yang dikutip Imam Ibnu Rif’ah dalam kitab al-Kifayah dari al-Bandaniji dalam persoalan gila, dan dibahas oleh Imam al-Adzra’i dalam kasus pingsan.” (Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 2, hal. 196).

Syekh Muhammad al-Ramli menjelaskan:

ـ (وَيُحْسَبُ زَمَنُ الْإِغْمَاءِ مِنْ الِاعْتِكَافِ) الْمُتَتَابِعِ كَمَا فِي الصَّائِمِ إذَا أُغْمِيَ عَلَيْهِ بَعْضَ النَّهَارِ (دُونَ) زَمَنِ (الْجُنُونِ) فَلَا يُحْسَبُ مِنْهُ لِأَنَّ الْعِبَادَةَ الْبَدَنِيَّةَ لَا تَصِحُّ مِنْهُ

“Dan dihitung masa pingsan dari i’tikaf yang berkelanjutan seperti orang puasa yang pingsan di sebagian siang, bukan masa gila, maka tidak terhitung darinya, sebab ibadah badan tidak sah dilakukan darinya.” (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz 3, hal. 225).

Ketiga, mabuk.

Orang mabuk bukan tergolong orang yang sah menjalani ibadah i’tikaf, sebagaimana ibadah-ibadah lain yang membutuhkan niat. Ketika di pertengahan i’tikaf kondisi mabuk melanda, i’tikafnya batal, sehingga bila pelakunya kembali sadar, wajib memulai niat i’tikaf kembali, meski ia masih berada di dalam masjid. Seperti gila dan pingsan, ketentuan ini berlaku dalam konteks mabuk yang disengaja (teledor). Bila tidak disengaja, semisal tanpa sadar mengonsumsi makanan atau minuman yang memabukan, maka tidak membatalkan i’tikaf yang telah dilakukan.

Keempat, keluar dari Islam (riddah).

Keluar dari agama Islam dalam istilah fiqh disebut dengan riddah, pelakunya dinamakan dengan murtad. Orang bisa keluar dari Islam bila ia melakukan hal-hal yang dapat melecehkan, menentang dan mengingkari hal-hal yang menjadi pokok ajaran Islam, seperti meyakini Nabi setelah Rasulullah Muhammad, meyakini Tuhan berwujud tiga (trinitas) dan lain sebagainya.

I’tikaf adalah ibadah yang membutuhkan niat, maka tidak sah dilakukan oleh orang murtad, sebab di antara syarat sah ibadah adalah Islam. I’tikaf yang telah dilakukan juga menjadi batal bila di tengah-tengah i’tikaf, seseorang tiba-tiba murtad.

Ketentuan hukum bagi orang mabuk dan murtad berdasarkan referensi berikut ini:

 ـ (وَلَوْ ارْتَدَّ الْمُعْتَكِفُ أَوْ سَكِرَ) مُعْتَدِيًا (بَطَلَ) اعْتِكَافُهُ زَمَنَ رِدَّتِهِ وَسُكْرِهِ لِعَدَمِ أَهْلِيَّتِهِ، أَمَّا غَيْرُ الْمُتَعَدِّي فَيُشْبِهُ كَمَا قَالَهُ الْأَذْرَعِيُّ أَنَّهُ كَالْمُغْمَى عَلَيْهِ 

“Bila ia murtad atau mabuk secara teledor, maka batal i’tikafnya saat murtad dan mabuknya, sebab ia tidak ahli (ibadah). Adapun mabuk yang tidak teledor, maka cenderung sama seperti orang pingsan seperti dikatakan Imam al-Adzra’i.” 

ـ (وَالْمَذْهَبُ بُطْلَانُ مَا مَضَى مِنْ اعْتِكَافِهِمَا الْمُتَتَابِعِ) وَإِنْ لَمْ يَخْرُجْ لِأَنَّ ذَلِكَ أَشَدُّ مِنْ خُرُوجِهِ بِلَا عُذْرٍ وَهُوَ يَقْطَعُ التَّتَابُعَ فَلَا بُدَّ مِنْ اسْتِئْنَافِهِ

“Menurut pendapat al-Madzhab, i’tikaf yang telah dilakukan keduanya yang berkelanjutan, dinyatakan batal, meski ia tidak keluar (dari masjid), sebab kondisi demikian lebih parah dibandingkan keluar (dari masjid), padahal dapat memutus kelanjutan i’tikaf, maka harus memulai dari awal.” (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz 3, hal. 224).

Kelima, bersetubuh.

Ulama sepakat bahwa bersetubuh di dalam masjid adalah hal yang diharamkan, berdasarkan firman Allah:

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عاكِفُونَ فِي الْمَساجِدِ 

“Janganlah menyetubuhi para wanita sementara kalian sedang menetap di masjid.” (QS. Al-Baqarah, 187).

I’tikaf yang memiliki keterkaitan erat dengan masjid juga menjadi batal disebabkan persetubuhan yang dilakukan di dalam masjid. Meskipun, tentu peristiwa semacam ini sangat sukar dijumpai di sekitar kita.

Syekh Jalaluddin al-Mahalli mengatakan:

ـ  (وَيَبْطُلُ بِالْجِمَاعِ) إذَا كَانَ ذَاكِرًا لَهُ عَالِمًا بِتَحْرِيمِ الْجِمَاعِ فِيهِ سَوَاءٌ جَامَعَ فِي الْمَسْجِدِ أَمْ عِنْدَ الْخُرُوجِ مِنْهُ لِقَضَاءِ الْحَاجَةِ لِانْسِحَابِ حُكْمِ الِاعْتِكَافِ عَلَيْهِ حِينَئِذٍ.

“I’tikaf batal dengan bersetubuh bila pelakunya ingat dan mengetahui keharaman bersetubuh di dalam masjid, baik ia bersetubuh di masjid atau saat hendak keluar darinya untuk memenuhi kebutuhan, sebab berlangsungnya hukum i’tikaf dalam kondisi demikian.” (Syekh Jalaluddin al-Mahalli, Kanz al-Raghibin, juz 2, hal. 98).

Keenam, bersentuhan kulit dengan syahwat.

Menurut pendapat yang kuat, bersentuhan kulit dengan syahwat dapat membatalkan i’tikaf bila disertai dengan keluarnya sperma. Ketentuan hukum ini berdasarkan analogi (qiyas) kepada persoalan puasa.

Syekh Jalaluddin al-Mahalli mengatakan:

ـ (وَأَظْهَرُ الْأَقْوَالِ أَنَّ الْمُبَاشَرَةَ بِشَهْوَةٍ) فِيمَا دُونَ الْفَرْجِ (كَلَمْسٍ وَقُبْلَةٍ تُبْطِلُهُ إنْ أَنْزَلَ وَإِلَّا فَلَا) كَالصَّوْمِ وَالثَّانِي تُبْطِلُهُ مُطْلَقًا لِحُرْمَتِهَا وَالثَّالِثُ لَا تُبْطِلُهُ مُطْلَقًا

“Di antara pendapat-pendapat, yang paling jelas (kuat) adalah bahwa bersentuhan kulit dengan syahwat di bagian selain vagina, seperti memegang dan mencium, dapat membatalkan i’tikaf bila keluar sperma, jika tidak demikian, maka tidak membatalkan, seperti persoalan puasa. Menurut pendapat kedua, tidak membatalkan secara mutlak. Menurut pendapat ketiga, tidak membatalkan secara mutlak.” (Syekh Jalaluddin al-Mahalli, Kanz al-Raghibin, juz 2, hal. 98).

Ketujuh, keluar dari masjid tanpa udzur.

Keluar dari masjid termasuk membatalkan i’tikaf bila dilakukan tanpa ada udzur yang mendesak. Bila ada kebutuhan, semisal berwudlu, buang hajat, makan atau minum yang tidak mungkin dilakukan di masjid dan lain-lain, maka tidak dapat membatalkan i’tikaf.

Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri menjelaskan:

وَالْخُرُوْجُ مِنَ الْمَسْجِدِ بِلَا عُذْرٍ وَكَذَا لِإِقَامَةِ حَدٍّ ثَبَتَ بِإِقْرَارِهِ أَمَّا الْخُرُوْجُ لِعُذْرٍ كَالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ الَّذِيْ لَا يُمْكِنُ فِي الْمَسْجِدِ وَقَضَاءِ الْحَاجَةِ وَالْحَدَثِ الْأَكْبَرِ فَلَا يَضُرُّ

“Dan (di antara yang membatalkan i’tikaf) adalah keluar dari masjid tanpa udzur, demikian pula karena menegakan hukuman yang ditetapkan berdasarkan pengakuannya. Adapun keluar karena udzur, seperti makan dan minum yang tidak mungkin dilakukan di masjid, memenuhi hajat dan (menghilangkan) hadats besar, maka tidak bermasalah.” (Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal. 313). 

Demikianlah penjelasan mengenai hal-hal yang membatalkan i’tikaf. Semoga kita diberi kelancaran untuk menjalani ibadah di sepuluh akhir bulan Ramadhan ini.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.