IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Keutamaan dan Cara Menghidupkan Malam Idul Fitri

Rabu 13 Juni 2018 3:0 WIB
Keutamaan dan Cara Menghidupkan Malam Idul Fitri
(Foto: gettyimages)
Sebentar lagi Ramadhan segera pergi. Setelah sebulan penuh menjalani puasa Ramadhan, shalat tarawih, witir dan ibadah lainnya, harapnya semua ibadah tersebut dapat semakin memperkokoh ketakwaan kita sesuai dengan semangat Al-Qur’an ‘La’allakum tattaqun’  (Al-Baqarah: 183).

Seiring habisnya bulan Ramadhan dan mulainya bergulir bulan Syawwal mulai waktu maghrib tanggal satu, bukan berarti semangat ibadah menjadi kendur, namun seharusnya justru semakin meningkat sebagai manifestasi ketakwaan kepada Allah Ta’ala.

Salah satu wujud ketakwaan sesudah bulan Ramadhan adalah menghidupkan malam Idul Fitri dengan gema takbir dan ibadah lainnya. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَتَىِ الْعِيدَيْنِ لِلهِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ. (رواه الشافعي وابن ماجه)

Artinya, “Siapa saja yang qiyamul lail pada dua malam Id (Idul Fitri dan Idul Adha) karena Allah demi mengharap ridha-Nya, maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana hati manusia menjadi mati,” (HR As-Syafi’i dan Ibn Majah).

Dari sisi riwayat, hadits keutamaan menghidupkan malam hari raya ini memang dhaif, namun demikian menurut para ulama  hadits tersebut masih termasuk dalam kategori dapat diamalkan karena berkaitan dengan keutamaan ibadah. (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 145).

Sementara dari sisi dirayah, maksud ‘hati tidak akan mati’ dalam hadits ini adalah hati tidak akan  mengalami kebingungan di saat banyak orang mengalaminya, yaitu pada saat sakaratul maut, saat ditanya oleh dua malaikat (di alam barzakh), dan ketika hari kiamat. Dalam hal ini pakar fikih Maliki asal Mesir, Syekh Ahmad As-Shawi (wafat 1825 M/1241 H) menjelaskan:

وَمَعْنَى عَدَمِ مَوْتِ قَلْبِهِ عَدَمُ تَحَيُّرِهِ عِنْدَ النَّزَعِ وَعِنْدَ سُؤَالِ الْمَلَكَيْنِ وَفِي الْقِيَامَةِ. بَلْ يَكُونُ مُطْمَئِنًّا ثَابِتًا فِي تِلْكَ الْمَوَاضِعِ.

Artinya, “Makna ‘tidak mati hati orang yang menghidupkan malam hari raya’ adalah tidak bingung hatinya ketika naza’ (sakaratul maut), ketika ditanya oleh dua malaikat (di alam barzakh), dan di hari kiamat. Bahkan hatinya tenang penuh keteguhan pada momen-momen tersebut,” (Lihat Ahmad As-Shawi, Bulghatus Salik li Arqabil Masalik, [Beirut: Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1995 M/1415 H], juz I, halaman 345-346).

Telah maklum pula, hari raya merupakan hari suka cita dan bergembira sehingga kadang tidak terasa terselip sendau gurau yang kurang berguna. Karena itu, menurut Sayyid Ali Al-Khawash (wafat 949 H) sufi asal Kairo, guru Syekh Abdul Wahab As-Sya’rani, hikmah dari menghidupkan malam hari raya adalah nur ibadah pelakunya dapat memancar sepanjang hari dan terhindar dari kelalaian akibat begitu bahagianya di hari tersebut.

Lain halnya orang yang menghabiskan malam hari raya untuk tidur semalam suntuk atau melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat lalai dari Tuhannya, maka ia akan terjerumus dalam kelalaian di sepanjang hari. (Lihat Abdul Wahhab As-Sya’ani, Lawaqihul Anwar Al-Qudsiyyah, halaman 92).

Lalu bagaimana orang dapat dikatakan memperoleh keutamaan menghidupkan malam hari raya? Berkaitan hal ini ulama berbeda pendapat:

Pendapat pertama (as-shahih) menyatakan dengan menggunakan mayoritas waktu malam hari raya untuk beribadah.

Pendapat kedua mengatakan cukup beribadah sesaat saja dari malam hari raya. Ini diperkuat dengan keterangan dari Imam As-Syafi’i yang mengisahkan bahwa ketika malam hari raya Idul Fitri dan Idul Adha para masyayikh kota Madinah datang ke masjid, berdoa, dan berzikir sampai lewat beberapa saat saja waktu malam tersebut.

Sedangkan pendapat ketiga sebagaimana dikutip oleh Al-Qadhi Husain dari Ibn Abbas RA mengatakan, keutamaan menghidupkan malam hari raya diperoleh dengan shalat Isya’ secara berjamaah dan bertekan untuk melakukan shalat subuh di pagi harinya secara berjamaah pula. (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Jeddah: Maktabah Al-Irsyad, tanpa catatan tahun], juz V, halaman 145).

Walhasil, mari kita menghidupkan malam hari raya Idul Fitri dengan berbagai ibadah, takbir, zikir, doa, shalat-shalat sunah dan ibadah lainnya agar diberi keteguhan hati di dalam momen-momen terpenting dalam fase kehidupan serta mendapatkan ridha-Nya. Wallahu a‘lam. (Ahmad Muntaha AM, Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur)
Share:
Rabu 13 Juni 2018 1:0 WIB
Cara Shalat Dua Rakaat sebelum Berangkat Mudik dan Arus Balik
Cara Shalat Dua Rakaat sebelum Berangkat Mudik dan Arus Balik
(Foto: reuters)
Sebelum melangsungkan perjalanan mudik atau perjalanan arus balik, seseorang dianjurkan untuk melakukan shalat dua rakaat sebagaimana riwayat At-Thabarani. Imam An-Nawawi memberikan pedoman rinci perihal surat yang dibaca setelah Surat Al-Fatihah dan doa setelah shalat.

يستحب له عند إرادته الخروج أن يصلي ركعتين لحديث المقطم بن المقدام الصحاني، رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "ما خلف أحد عند أهله أفضل من ركعتين يركعهما عندهم حين يريد سفرا" رواه الطبراني

Artinya, “Seseorang ketika ingin mengadakan perjalanan dianjurkan untuk melakukan shalat dua rakaat berdasarkan riwayat sahabat Muqaththam bin Al-Miqdam RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tiada yang lebih utama untuk ditinggalkan seseorang untuk keluarganya selain shalat dua rakaat ketika ia ingin bepergian,’ (HR At-Thabarani),” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 185).

Mengutip saran sebagian ulama, Imam  An-Nawawi menyebutkan sebagai berikut:
a. Pada rakaat pertama, Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Kafirun.
b. Pada rakaat kedua, Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas.

Tetapi ulama lain, kata Imam An-Nawawi, menganjurkan
a. Pada rakaat pertama, Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Falaq.
b. Pada rakaat kedua, Surat Al-Fatihah dan Surat An-Nas.

Setelah salam, seseorang yang hendak mudik dianjurkan untuk membaca Ayat Kursi dan Surat Quraisy. Usai membaca dua surat itu, ia boleh berdoa dengan tulus. Imam An-Nawawi menyarankan doa berikut ini:

اللَّهُمَّ بِكَ أَسْتَعِيْنُ، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ، اللَّهُمَّ ذَلِّلْ لِي صُعُوْبَةَ أَمْرِي، وَسَهِّلْ عَلَيَّ مَشَقَّةَ سَفَرِي، وَارْزُقْنِي مِنَ الخَيْرِ أَكْثَرَ مِمَّا أَطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ، رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَحْفِظُكَ وَأَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِي وَدِيْنِي وَأَهْلِي وَأَقَارِبِي وَكُلَّ مَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ بِهِ مِنْ آخِرَةٍ وَدُنْيَا، فَاحْفَظْنَا أَجْمَعِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يَا كريم

Allâhumma bika asta‘înu, wa ‘alaika atawakkalu, allâhumma dzallil lî shu‘ûbata amrî, wa sahhil ‘alayya masyaqqata safarî, warzuqnî minal khairi aktsara mimmâ athlubu, washrif ‘annî kulla syarrin, rabbisyrah lî shadrî, wa yassir lî amrî. Allâhumma innî astahfizhuka wa astaudi‘uka nafsî, wa dînî, wa ahlî, wa aqâribî, wa kulla mâ an‘amta ‘alayya wa ‘alaihim bihî min âkhirah wa dunyâ, fahfazhnâ ajma‘în min kulli sû’in yâ karîm.

Artinya, “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku minta tolong, hanya kepada-Mu aku berpasrah. Tuhanku, tundukkanlah bagiku segalam kesulitan urusanku, mudahkan untukku hambatan perjalananku, anugerahkanlah aku sebagian dari kebaikan melebihi apa yang kuminta, palingkan diriku dari segala kejahatan. Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkan urusanku. Ya Allah, aku meminta penjagaan dan menitipkan diriku, agamaku, keluargaku, kerabatku, dan semua yang telah Kauberikan kepadaku baik kebaikan ukhrawi maupun duniawi. Lindungilah kami dari segala kejahatan, wahai Tuhan yang maha pemurah,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 186).

Setelah itu, ia boleh berdoa apa saja. Ia disarankan membuka dan menutup doanya dengan tahmid (alhamdulillâh) dan shalawat untuk Rasulullah SAW. Sebelum bangkit dari duduk, ia dianjurkan untuk membaca doa berikut ini:

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ، وَبِكَ اعْتَصَمْتُ، اللَّهُمَّ اكْفِنِي مَا هَمَّنِي وَمَا لَا أَهْتَمُّ لَهُ، اللَّهُمَّ زَوِّدْنِي التَّقْوَى، وَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي، وَوَجِّهْنِي لِلْخَيْرِ أَيْنَمَا تَوَجَّهْتُ

Allâhumma ilaika tawajjahtu, wa bika‘ tashamtu. Allâhummakfinî mâ hammanî wa mâ lâ ahtammu lahû. Allâhumma zawwidnit taqwâ, waghfir lî dzanbî, wa wajjihnî lil khairi ainamâ tawajjahtu.

Artinya, “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku menghadap dan hanya kepada-Mu aku berlindung. Tuhanku, cukupilah aku dari segala yang membuatku bimbang dan segala yang tidak kubimbangkan. Tuhanku, bekalilah diriku dengan takwa, ampunilah dosaku, dan hadapkan diriku pada kebaikan di mana saja aku menghadap.”

Saran lengkap Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar dikutip sebagai berikut:

ويفتتح دعاءه ويختمه بالتحميد لله تعالى، والصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم، وإذا نهض من جلوسه فليقل ما رويناه عن أنس رضي الله عنه: "أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، لم يرد سفرا إلا قال حين ينهض من جلوسه: "اللهم إليك توجهت، وبك اعتصمت، اللهم اكفني ما همني وما لا أهتم له، اللهم زودني التقوى، واغفر لي ذنبي، ووجهني للخير أينما توجهت"

Artinya, “Seseorang boleh membuka dan menutup doanya dengan tahmid dan shalawat untuk Rasulullah SAW. Ketika hendak bangkit dari duduk, hendaklah ia membaca doa yang diriwayatkan kepada kami dari sahabat Anas RA bahwa Rasulullah SAW belum pernah melangsungkan perjalanan kecuali membaca lafal berikut ini ketika bangun dari duduk, ‘Allâhumma ilaika tawajjahtu, wa bika‘ tashamtu. Allâhummakfinî mâ hammanî wa mâ lâ ahtammu lahû. Allâhumma zawwidnit taqwâ, waghfir lî dzanbî, wa wajjihnî lil khairi ainamâ tawajjahtu,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 186).

Dua rakaat ini penting dilakukan sebelum pemudik memulai perjalanannya. Shalat sunah safar berikut doanya ini merupakan aktivitas yang baik sebagai awal perjalanan mudik dan perjalanan arus balik. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 12 Juni 2018 16:1 WIB
Tujuh Adab sebelum Berangkat Mudik
Tujuh Adab sebelum Berangkat Mudik
Sebelum berangkat mudik ke kampung halaman, kita tidak hanya mempersiapkan tiket pulang pergi dan uang saku yang cukup. Kita juga perlu melakukan beberapa langkah sebelum melangsungkan perjalanan seperti anjuran Imam An-Nawawi berikut ini.

1. Berwasiat
2. Mengadirkan saksi untuk wasiat
3. Pamit dan meminta maaf kepada orang-orang yang menemani keseharian kita
4. Minta restu orang tua, guru, dan mereka yang patut dihormati
5. Tobat kepada Allah
6. Minta pertolongan-Nya agar diberi kemudahan dalam perjalanan
7. Siapkan buku saku terkait adab tujuan perjalanan

فإذا استقر عزمه على السفر فليجتهد في تحصيل أمور: منها أن يوصي بما يحتاج إلى الوصية به، وليشهد على وصيته، ويستحل كل من بينه وبينه معاملة في شئ، أو مصاحبة، ويسترضي والديه وشيوخه ومن يندب إلى بره واستعطافه، ويتوب إلى الله ويستغفره من جميع الذنوب والمخالفات، وليطلب من الله تعالى المعونة على سفره، وليجتهد على تعلم ما يحتاج إليه في سفره

Artinya, “Bila seseorang telah mantap untuk mengadakan perjalanan mudik misalnya, hendaklah ia bersungguh-sungguh mewujudkan sejumlah hal berikut ini: berwasiat sesuai kebutuhan, menghadirkan saksi atas wasiatnya, meminta maaf kepada rekan muamalah dan sahabat kesehariannya, memohon restu dari orang tua, guru, dan orang-orang yang dianjurkan untuk berbakti dan bersikap lembut kepadanya, bertobat kepada Allah, memohon ampun kepada-Nya dari segala dosa dan kekhilafan, memohon pertolongan kepada-Nya untuk perjalanan, dan hendaklah mempelajari ilmu dan akhlak perihal tujuan perjalanannya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 184).

Anjuran Imam An-Nawawi ini cukup penting untuk dilakukan. Orang yang akan mengadakan perjalanan mudik kalau tidak menyiapkan buku saku terkait adab mudik, dapat mencari informasi terkait adab dan akhlak seharusnya berperilaku kepada saudara dan tetangga di kampung halaman. Hal ini penting diperhatikan agar kehadiran kita di kampung halaman benar-benar membawa berkah, bukan melahirkan mafsadat.

Sebelum melangsungkan perjalanan mudik, seseorang dianjurkan untuk melakukan shalat dua rakaat sebagaimana riwayat At-Thabarani berikut ini:

يستحب له عند إرادته الخروج أن يصلي ركعتين لحديث المقطم بن المقدام الصحاني، رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "ما خلف أحد عند أهله أفضل من ركعتين يركعهما عندهم حين يريد سفرا" رواه الطبراني

Artinya, “Seseorang ketika ingin mengadakan perjalanan dianjurkan untuk melakukan shalat dua rakaat berdasarkan riwayat sahabat Muqaththam bin Al-Miqdam RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tiada yang lebih utama untuk ditinggalkan seseorang untuk keluarganya selain shalat dua rakaat ketika ia ingin bepergian,’ (HR At-Thabarani),” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 185). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 11 Juni 2018 21:0 WIB
Debat Seorang Habib dan Khatib Perihal Hari Raya
Debat Seorang Habib dan Khatib Perihal Hari Raya
(Foto: alay.ps)
Lebaran tinggal menghitung hari. Saat ini mulai berseliweran kendaraan yang mengantarkan jutaan Muslim di tanah air menuju kampung daerahnya. Mereka berbondong-bondong mudik, bersilaturrahmi, sungkem orang tua di kampung, memanfaatkan libur lebaran, cuti sementara dari tempat mereka mengais rezeki.

Sebagian dari mereka tengah dalam perjalanan, sebagian mungkin masih bersiap-siap mudik dan banyak juga yang sudah berada di kampung halaman, tinggal menunggu hasil itsbat pemerintah untuk penetapan 1 Syawal tahun ini.

Bicara mengenai itsbat pemerintah, ada kisah menarik yang menimpa seorang habib di negeri para wali. Suatu ketika di kota Tarim-Yaman telah ditetapkan hari raya berdasarkan penetapan rukyatul hilal dari qadhi setempat.

Para saksi mata yang melihat hilal sudah disumpah, diverifikasi dan sebagainya hingga qadhi memutuskan hari raya di tahun itu tidak perlu menyempurnakan Ramadhan menjadi 30 hari, sebab hilal sudah berhasil dilihat.

Masyarakat Tarim di malam harinya dengan suka cita merayakan hari raya, kumandang takbir menggema di sepanjang jalan, surau dan masjid-masjid. Keesokan harinya, mereka bersiap untuk melaksanakan shalat ‘Idul Fitri secara berjama’ah, mereka berkumpul menunggu kedatangan imam dan khathib.

Di saat berkumpul itu, ada kejanggalan menyelimuti mereka, salah seorang tokoh habaib dari fam al-‘Idrus tidak keluar rumah untuk mengikuti shalat ‘id, tidak seperti biasanya. Agar terkuak apa yang sebenarnya terjadi, ulama yang bertindak sebagai khatib mendatangi kediaman sang habib untuk mengklarifikasi ketidakhadirannya di tempat shalat id dan membujuknya agar tidak menyelesihi hari raya mayoritas.

“Habib, mengapa engkau tidak ikut shalat id?” tanya khatib mengawali obrolan. “Aku semalam bertanya kepada Nabi, apakah hari ini sudah lebaran, beliau menjawab belum, maka hari ini aku masih berpuasa, tidak berbuka,” terang sang habib.

Argumen dari habib cukup kuat, namun sepertinya khatib tidak mau kalah begitu saja. Khatib memberi argumen yang tidak kalah kuat:

أنت رأيته في المنام وأنا رأيته في اليقظة وقال لي الليلة البارحة من ليالي شوال واليوم هذا من أيام شوال

Artinya, “Habib, engkau melihat Nabi hanya dalam mimpi, sementara aku melihatnya di alam nyata. Nabi mengatakan, tadi malam sudah memasuki Syawwal, dan hari ini merupakan bagian dari hari-hari Syawwal.”

Rupanya jawaban khatib membuat habib terkejut dan terheran-heran, bagaimana mungkin Nabi menemuinya di alam nyata. “Bagaimana bisa demikian?” tanya habib. Khatib bertanya balik:

ألم يبلغك قوله صلى الله عليه وسلم صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته

Artinya, “Apakah belum sampai kepadamu, hadits Nabi, berpuasalah setelah melihat hilal (Ramadhan), berbukalah setelah melihat hilal (Syawwal)?”

Habib mulai terbawa dalam jebakan sang khatib, ia tidak bisa menghindarnya. “Tentu, saya mendengarnya,” jawab Habib.

Khatib rupanya tinggal mengeksekusi perdebatan itu, karena Habib sudah masuk dalam perangkapnya. Khatib mengatakan dengan sangat brilian:

رؤياك رؤيا منام وهذه رؤيا حق رواها الثقات عن الثقات عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وتكلم به في اليقظة

Artinya, “Melihatmu adalah melihat dalam mimpi, dan melihat (sabda Nabi) ini adalah melihat nyata, yang diriwayatkan orang-orang terpercaya dari orang-orang terpercaya dari Rasulullah, dan Nabi mengatakannya di alam nyata.”

Habib taslim dan mengakui bahwa dirinya salah. Ia sangat berterima kasih karena sudah diingatkan. Ia mengatakan:

جزاك الله عنا خيرا كلامه صلى الله عليه وسلم حق وكلامك حق هاتوا التمر والماء

Artinya, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, Sabda Nabi ini nyata dan ungkapanmu juga nyata. Ambilkan kurma dan air.”

Setelah itu, sang Habib berbuka, keluar rumah dan mengikuti shalat ‘Id bersama-sama dengan segenap penduduk Tarim.

Demikian keteladanan para ulama dan habaib kita. Mereka berdebat bukan untuk menang-menangan, bukan sekadar debat kusir tak berkesudahan. Namun dengan semangat saling mengingatkan, menunjukkan kebaikan dan kebenaran. Karenanya, setelah menyampaikan cerita di atas, Sayyid Ahmad bin Hasan Al-Atthas berkata:

هكذا كان أهل الاعتراف والإنصاف نفع الله بالجميع

Artinya, “Demikian ini perilaku sosok yang mengakui (kebenaran orang lain) dan objektif (dalam berdebat), semoga Allah memberi manfaat kepada semuanya.”

Disarikan dari Sayyid Ahmad bin Hasan bin Abdullah Al-‘Atthas, Tadzkirun Nas, halaman 250-251, Maktabah Al-Makruf, Huraidha-Yaman, tanpa keterangan cetak. Wallahu a‘lam. (M Mubasysyarum Bih)