IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Tiga Kandungan Makna Idul Fitri

Kamis 14 Juni 2018 12:15 WIB
Tiga Kandungan Makna Idul Fitri
Ketupat Lebaran (ist)
Fithrah mempunyai tiga arti yaitu suci, asal kejadian, dan agama yang benar. Kalau memahami bahwa idul fitri kembali kepada kesucian, suci itu sendiri mempunyai tiga makna yaitu indah, baik, dan benar.

Menurut Pakar Tafsir Prof Dr Muhammad Quraish Shihab (Membumikan Al-Qur’an, 1999), seseorang yang beridul fitri dia akan selalu menjaga keindahan dalam setiap aspek kehidupan, selalu berusaha mencari kebenaran, dan selalu menampilkan kebaikan.

Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW bersabda, Ad-Din Al-Muamalah. Nasihat menasihati dan tenggang rasa juga termasuk ajaran agama karena Nabi juga bersabda, Ad-Din Al-Nashihah. Dengan demikian, setiap yang ber-idul fitri harus sadar bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan; dan dari kesadarannya itu ia bersedia untuk memberi dan menerima maaf.

Fithrah yang juga berarti kesucian dapat dipahami dan dirasakan maknanya pada saat seorang hamba duduk merenung sendirian. Ketika pikiran mulai tenang, kesibukan hidup atau haru hati telah dapat teratasi, akan terdengar suara nurani yang mengajaknya berdialog, mendekat bahkan menyatu dengan suatu totalitas wujud Yang Maha Mutlak, yang mengantarnya untuk menyadari betapa lemahnya manusia di hadapan-Nya, dan betapa kuasa dan perkasanya Yang Maha Agung itu.

Suara yang didengar itu adalah suara fithrah manusia, suara kesucian. Setiap orang memiliki fithrah itu, terbawa serta olehnya sejak kelahiran, walaupun sering terabaikan karena kesibukan dan dosa-dosa sehingga suaranya begitu lemah hanya sayup-sayup terdengar. Suara itulah yang dikumandangkan pada Idul Fitri, yakni Allahu Akbar, Allahu Akbar. 

Jika kalimat pengagungan Allah itu tertancap dalam jiwa, maka akan hilanglah segala ketergantungan kepada unsur-unsur lain selain Allah semata. Tiada tempat bergantung, tiada tempat menitipkan harapan, tiada tempat mengabdi, kecuali kepada-Nya. Ketika hal itu terjadi pada seseorang, terjadilah apa yang seperti dilukiskan oleh ulama kenamaan Ibnu Sina dalam Al-Isyarat wa Tanbihat (Disadur dari Abdul Halim Mahmud, Al-Tafkir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Dar Al-Kutub Al-Lubnaniy, 1982) sebagai berikut:

Orang tersebut menjadi arif, yang bebas dari ikatan raganya. Dalam dirinya terdapat ikatan yang tersembunyi, namun pada dirinya sendiri tampak sebagai sesuatu yang nyata. Ia selalu gembira, banyak senyum. Betapa tidak, sejak ia mengenal-Nya, hatinya dipenuhi oleh kegembiraan. Dengan melihat Yang Maha Suci, semua dianggapnya sama, karena memang semua makhluk Allah. Semua wajar mendapatkan Rahmat, baik yang taat maupun yang bergelimang dosa. Ia tidak akan mengintip-intip kelemahan orang, tidak pula mencari kesalahannya. Ia tidak akan marah, tidak pula tersinggung, walaupun melihat yang mungkar sekalipun, karena jiwanya selalu diliputi Rahmat dan kasih sayang, dan karena ia memandang keindahan, ia melihat sir Allah (rahasia Allah) terbentang ke dalam qudrat-Nya. Bila ia mengajak kepada kebaikan, ia akan melakukannya dengan lemah lembut, tidak dengan kekerasan, tidak pula dengan kecaman, kritikan yang melukai atau ejekan. Ia akan selalu menjadi pemaaf. Betapa tidak, sedang di dadanya sedemekian lapang, sehingga tidak ada tempat bagi kesalahan orang lain. Ia tidak akan menjadi pendendam. Bagaimana ia mampu mendendam, sedang seluruh ingatannya hanya tertuju kepada Yang Maha Suci lagi Maha Agung itu.

Seseorang yang ber-idul fitri juga seorang yang berilmu, karena kebenaran yang terkandung dalam makna suci merupakan buah dari pencarian ilmu. Ia juga bisa dikatakan sebagai seorang seniman karena mengekspresikan keindahan. Seseorang yang ber-idul fitri juga manusia budiman karena dengan berbuat kebaikan, ia merupakan seorang yang budiman.

Sebab itu, ketika seorang merayakan idul fitri, dia akan berusaha dalam semua kegiatannya agar menjadi benar, baik, dan indah. Pada hakikatnya ketika seseorang ber-idul fitri, umat Islam mengenakan pakaian takwa, pakaian yang mereka tenun selama bulan Ramadhan, sekaligus pakaian yang mestinya mereka pakai sepanjang waktu, khususnya setelah manusia menempa diri selama sebulan penuh berpuasa.

Dalam konteks ini, manusia harus mengingat pesan ilahi, “Janganlah kamu menjadi seperti seorang perempuan dalam cerita lama, mengurai kembali tenunannya, sehelai demi sehelai benang dalam tenunannya”.

Artinya, jangan sampai setelah mencapai fithrah, manusia melepaskan kendali sehingga kita kembali melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama.

Dengan memasuki idul fitri atau dengan memasuki bulan syawal yang artinya meningkat, manusia diharapkan meningkatkan segala keindahan, kebenaran, kebaikannya, dan meningkatkan ilmunya. Demikianlan makna kesyukuran kepada Allah SWT dan makna di balik hakikat idul fitri. (Fathoni)
Tags:
Share:
Rabu 13 Juni 2018 3:0 WIB
Keutamaan dan Cara Menghidupkan Malam Idul Fitri
Keutamaan dan Cara Menghidupkan Malam Idul Fitri
(Foto: gettyimages)
Sebentar lagi Ramadhan segera pergi. Setelah sebulan penuh menjalani puasa Ramadhan, shalat tarawih, witir dan ibadah lainnya, harapnya semua ibadah tersebut dapat semakin memperkokoh ketakwaan kita sesuai dengan semangat Al-Qur’an ‘La’allakum tattaqun’  (Al-Baqarah: 183).

Seiring habisnya bulan Ramadhan dan mulainya bergulir bulan Syawwal mulai waktu maghrib tanggal satu, bukan berarti semangat ibadah menjadi kendur, namun seharusnya justru semakin meningkat sebagai manifestasi ketakwaan kepada Allah Ta’ala.

Salah satu wujud ketakwaan sesudah bulan Ramadhan adalah menghidupkan malam Idul Fitri dengan gema takbir dan ibadah lainnya. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَتَىِ الْعِيدَيْنِ لِلهِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ. (رواه الشافعي وابن ماجه)

Artinya, “Siapa saja yang qiyamul lail pada dua malam Id (Idul Fitri dan Idul Adha) karena Allah demi mengharap ridha-Nya, maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana hati manusia menjadi mati,” (HR As-Syafi’i dan Ibn Majah).

Dari sisi riwayat, hadits keutamaan menghidupkan malam hari raya ini memang dhaif, namun demikian menurut para ulama  hadits tersebut masih termasuk dalam kategori dapat diamalkan karena berkaitan dengan keutamaan ibadah. (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 145).

Sementara dari sisi dirayah, maksud ‘hati tidak akan mati’ dalam hadits ini adalah hati tidak akan  mengalami kebingungan di saat banyak orang mengalaminya, yaitu pada saat sakaratul maut, saat ditanya oleh dua malaikat (di alam barzakh), dan ketika hari kiamat. Dalam hal ini pakar fikih Maliki asal Mesir, Syekh Ahmad As-Shawi (wafat 1825 M/1241 H) menjelaskan:

وَمَعْنَى عَدَمِ مَوْتِ قَلْبِهِ عَدَمُ تَحَيُّرِهِ عِنْدَ النَّزَعِ وَعِنْدَ سُؤَالِ الْمَلَكَيْنِ وَفِي الْقِيَامَةِ. بَلْ يَكُونُ مُطْمَئِنًّا ثَابِتًا فِي تِلْكَ الْمَوَاضِعِ.

Artinya, “Makna ‘tidak mati hati orang yang menghidupkan malam hari raya’ adalah tidak bingung hatinya ketika naza’ (sakaratul maut), ketika ditanya oleh dua malaikat (di alam barzakh), dan di hari kiamat. Bahkan hatinya tenang penuh keteguhan pada momen-momen tersebut,” (Lihat Ahmad As-Shawi, Bulghatus Salik li Arqabil Masalik, [Beirut: Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1995 M/1415 H], juz I, halaman 345-346).

Telah maklum pula, hari raya merupakan hari suka cita dan bergembira sehingga kadang tidak terasa terselip sendau gurau yang kurang berguna. Karena itu, menurut Sayyid Ali Al-Khawash (wafat 949 H) sufi asal Kairo, guru Syekh Abdul Wahab As-Sya’rani, hikmah dari menghidupkan malam hari raya adalah nur ibadah pelakunya dapat memancar sepanjang hari dan terhindar dari kelalaian akibat begitu bahagianya di hari tersebut.

Lain halnya orang yang menghabiskan malam hari raya untuk tidur semalam suntuk atau melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat lalai dari Tuhannya, maka ia akan terjerumus dalam kelalaian di sepanjang hari. (Lihat Abdul Wahhab As-Sya’ani, Lawaqihul Anwar Al-Qudsiyyah, halaman 92).

Lalu bagaimana orang dapat dikatakan memperoleh keutamaan menghidupkan malam hari raya? Berkaitan hal ini ulama berbeda pendapat:

Pendapat pertama (as-shahih) menyatakan dengan menggunakan mayoritas waktu malam hari raya untuk beribadah.

Pendapat kedua mengatakan cukup beribadah sesaat saja dari malam hari raya. Ini diperkuat dengan keterangan dari Imam As-Syafi’i yang mengisahkan bahwa ketika malam hari raya Idul Fitri dan Idul Adha para masyayikh kota Madinah datang ke masjid, berdoa, dan berzikir sampai lewat beberapa saat saja waktu malam tersebut.

Sedangkan pendapat ketiga sebagaimana dikutip oleh Al-Qadhi Husain dari Ibn Abbas RA mengatakan, keutamaan menghidupkan malam hari raya diperoleh dengan shalat Isya’ secara berjamaah dan bertekan untuk melakukan shalat subuh di pagi harinya secara berjamaah pula. (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Jeddah: Maktabah Al-Irsyad, tanpa catatan tahun], juz V, halaman 145).

Walhasil, mari kita menghidupkan malam hari raya Idul Fitri dengan berbagai ibadah, takbir, zikir, doa, shalat-shalat sunah dan ibadah lainnya agar diberi keteguhan hati di dalam momen-momen terpenting dalam fase kehidupan serta mendapatkan ridha-Nya. Wallahu a‘lam. (Ahmad Muntaha AM, Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur)
Rabu 13 Juni 2018 1:0 WIB
Cara Shalat Dua Rakaat sebelum Berangkat Mudik dan Arus Balik
Cara Shalat Dua Rakaat sebelum Berangkat Mudik dan Arus Balik
(Foto: reuters)
Sebelum melangsungkan perjalanan mudik atau perjalanan arus balik, seseorang dianjurkan untuk melakukan shalat dua rakaat sebagaimana riwayat At-Thabarani. Imam An-Nawawi memberikan pedoman rinci perihal surat yang dibaca setelah Surat Al-Fatihah dan doa setelah shalat.

يستحب له عند إرادته الخروج أن يصلي ركعتين لحديث المقطم بن المقدام الصحاني، رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "ما خلف أحد عند أهله أفضل من ركعتين يركعهما عندهم حين يريد سفرا" رواه الطبراني

Artinya, “Seseorang ketika ingin mengadakan perjalanan dianjurkan untuk melakukan shalat dua rakaat berdasarkan riwayat sahabat Muqaththam bin Al-Miqdam RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tiada yang lebih utama untuk ditinggalkan seseorang untuk keluarganya selain shalat dua rakaat ketika ia ingin bepergian,’ (HR At-Thabarani),” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 185).

Mengutip saran sebagian ulama, Imam  An-Nawawi menyebutkan sebagai berikut:
a. Pada rakaat pertama, Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Kafirun.
b. Pada rakaat kedua, Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas.

Tetapi ulama lain, kata Imam An-Nawawi, menganjurkan
a. Pada rakaat pertama, Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Falaq.
b. Pada rakaat kedua, Surat Al-Fatihah dan Surat An-Nas.

Setelah salam, seseorang yang hendak mudik dianjurkan untuk membaca Ayat Kursi dan Surat Quraisy. Usai membaca dua surat itu, ia boleh berdoa dengan tulus. Imam An-Nawawi menyarankan doa berikut ini:

اللَّهُمَّ بِكَ أَسْتَعِيْنُ، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ، اللَّهُمَّ ذَلِّلْ لِي صُعُوْبَةَ أَمْرِي، وَسَهِّلْ عَلَيَّ مَشَقَّةَ سَفَرِي، وَارْزُقْنِي مِنَ الخَيْرِ أَكْثَرَ مِمَّا أَطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ، رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَحْفِظُكَ وَأَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِي وَدِيْنِي وَأَهْلِي وَأَقَارِبِي وَكُلَّ مَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ بِهِ مِنْ آخِرَةٍ وَدُنْيَا، فَاحْفَظْنَا أَجْمَعِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يَا كريم

Allâhumma bika asta‘înu, wa ‘alaika atawakkalu, allâhumma dzallil lî shu‘ûbata amrî, wa sahhil ‘alayya masyaqqata safarî, warzuqnî minal khairi aktsara mimmâ athlubu, washrif ‘annî kulla syarrin, rabbisyrah lî shadrî, wa yassir lî amrî. Allâhumma innî astahfizhuka wa astaudi‘uka nafsî, wa dînî, wa ahlî, wa aqâribî, wa kulla mâ an‘amta ‘alayya wa ‘alaihim bihî min âkhirah wa dunyâ, fahfazhnâ ajma‘în min kulli sû’in yâ karîm.

Artinya, “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku minta tolong, hanya kepada-Mu aku berpasrah. Tuhanku, tundukkanlah bagiku segalam kesulitan urusanku, mudahkan untukku hambatan perjalananku, anugerahkanlah aku sebagian dari kebaikan melebihi apa yang kuminta, palingkan diriku dari segala kejahatan. Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkan urusanku. Ya Allah, aku meminta penjagaan dan menitipkan diriku, agamaku, keluargaku, kerabatku, dan semua yang telah Kauberikan kepadaku baik kebaikan ukhrawi maupun duniawi. Lindungilah kami dari segala kejahatan, wahai Tuhan yang maha pemurah,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 186).

Setelah itu, ia boleh berdoa apa saja. Ia disarankan membuka dan menutup doanya dengan tahmid (alhamdulillâh) dan shalawat untuk Rasulullah SAW. Sebelum bangkit dari duduk, ia dianjurkan untuk membaca doa berikut ini:

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ، وَبِكَ اعْتَصَمْتُ، اللَّهُمَّ اكْفِنِي مَا هَمَّنِي وَمَا لَا أَهْتَمُّ لَهُ، اللَّهُمَّ زَوِّدْنِي التَّقْوَى، وَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي، وَوَجِّهْنِي لِلْخَيْرِ أَيْنَمَا تَوَجَّهْتُ

Allâhumma ilaika tawajjahtu, wa bika‘ tashamtu. Allâhummakfinî mâ hammanî wa mâ lâ ahtammu lahû. Allâhumma zawwidnit taqwâ, waghfir lî dzanbî, wa wajjihnî lil khairi ainamâ tawajjahtu.

Artinya, “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku menghadap dan hanya kepada-Mu aku berlindung. Tuhanku, cukupilah aku dari segala yang membuatku bimbang dan segala yang tidak kubimbangkan. Tuhanku, bekalilah diriku dengan takwa, ampunilah dosaku, dan hadapkan diriku pada kebaikan di mana saja aku menghadap.”

Saran lengkap Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar dikutip sebagai berikut:

ويفتتح دعاءه ويختمه بالتحميد لله تعالى، والصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم، وإذا نهض من جلوسه فليقل ما رويناه عن أنس رضي الله عنه: "أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، لم يرد سفرا إلا قال حين ينهض من جلوسه: "اللهم إليك توجهت، وبك اعتصمت، اللهم اكفني ما همني وما لا أهتم له، اللهم زودني التقوى، واغفر لي ذنبي، ووجهني للخير أينما توجهت"

Artinya, “Seseorang boleh membuka dan menutup doanya dengan tahmid dan shalawat untuk Rasulullah SAW. Ketika hendak bangkit dari duduk, hendaklah ia membaca doa yang diriwayatkan kepada kami dari sahabat Anas RA bahwa Rasulullah SAW belum pernah melangsungkan perjalanan kecuali membaca lafal berikut ini ketika bangun dari duduk, ‘Allâhumma ilaika tawajjahtu, wa bika‘ tashamtu. Allâhummakfinî mâ hammanî wa mâ lâ ahtammu lahû. Allâhumma zawwidnit taqwâ, waghfir lî dzanbî, wa wajjihnî lil khairi ainamâ tawajjahtu,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 186).

Dua rakaat ini penting dilakukan sebelum pemudik memulai perjalanannya. Shalat sunah safar berikut doanya ini merupakan aktivitas yang baik sebagai awal perjalanan mudik dan perjalanan arus balik. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 12 Juni 2018 16:1 WIB
Tujuh Adab sebelum Berangkat Mudik
Tujuh Adab sebelum Berangkat Mudik
Sebelum berangkat mudik ke kampung halaman, kita tidak hanya mempersiapkan tiket pulang pergi dan uang saku yang cukup. Kita juga perlu melakukan beberapa langkah sebelum melangsungkan perjalanan seperti anjuran Imam An-Nawawi berikut ini.

1. Berwasiat
2. Mengadirkan saksi untuk wasiat
3. Pamit dan meminta maaf kepada orang-orang yang menemani keseharian kita
4. Minta restu orang tua, guru, dan mereka yang patut dihormati
5. Tobat kepada Allah
6. Minta pertolongan-Nya agar diberi kemudahan dalam perjalanan
7. Siapkan buku saku terkait adab tujuan perjalanan

فإذا استقر عزمه على السفر فليجتهد في تحصيل أمور: منها أن يوصي بما يحتاج إلى الوصية به، وليشهد على وصيته، ويستحل كل من بينه وبينه معاملة في شئ، أو مصاحبة، ويسترضي والديه وشيوخه ومن يندب إلى بره واستعطافه، ويتوب إلى الله ويستغفره من جميع الذنوب والمخالفات، وليطلب من الله تعالى المعونة على سفره، وليجتهد على تعلم ما يحتاج إليه في سفره

Artinya, “Bila seseorang telah mantap untuk mengadakan perjalanan mudik misalnya, hendaklah ia bersungguh-sungguh mewujudkan sejumlah hal berikut ini: berwasiat sesuai kebutuhan, menghadirkan saksi atas wasiatnya, meminta maaf kepada rekan muamalah dan sahabat kesehariannya, memohon restu dari orang tua, guru, dan orang-orang yang dianjurkan untuk berbakti dan bersikap lembut kepadanya, bertobat kepada Allah, memohon ampun kepada-Nya dari segala dosa dan kekhilafan, memohon pertolongan kepada-Nya untuk perjalanan, dan hendaklah mempelajari ilmu dan akhlak perihal tujuan perjalanannya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 184).

Anjuran Imam An-Nawawi ini cukup penting untuk dilakukan. Orang yang akan mengadakan perjalanan mudik kalau tidak menyiapkan buku saku terkait adab mudik, dapat mencari informasi terkait adab dan akhlak seharusnya berperilaku kepada saudara dan tetangga di kampung halaman. Hal ini penting diperhatikan agar kehadiran kita di kampung halaman benar-benar membawa berkah, bukan melahirkan mafsadat.

Sebelum melangsungkan perjalanan mudik, seseorang dianjurkan untuk melakukan shalat dua rakaat sebagaimana riwayat At-Thabarani berikut ini:

يستحب له عند إرادته الخروج أن يصلي ركعتين لحديث المقطم بن المقدام الصحاني، رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "ما خلف أحد عند أهله أفضل من ركعتين يركعهما عندهم حين يريد سفرا" رواه الطبراني

Artinya, “Seseorang ketika ingin mengadakan perjalanan dianjurkan untuk melakukan shalat dua rakaat berdasarkan riwayat sahabat Muqaththam bin Al-Miqdam RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tiada yang lebih utama untuk ditinggalkan seseorang untuk keluarganya selain shalat dua rakaat ketika ia ingin bepergian,’ (HR At-Thabarani),” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 185). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)