IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Sikap Rasulullah Atasi Ujaran Kebencian dan Cemburu Buta

Kamis 21 Juni 2018 10:3 WIB
Share:
Sikap Rasulullah Atasi Ujaran Kebencian dan Cemburu Buta
Persaingan dan cemburu merupakan sikap wajar yang tidak perlu dikhawatirkan. Keduanya merupakan sikap manusiawi. Yang tidak boleh adalah tindakan berlebihan dan melewati batas seperti ujaran kebencian karena keduanya. Rasulullah juga pernah menghadapi salah seorang yang dilanda cemburu berlebihan.

Siti Aisyah RA secara jujur menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah menegur dirinya karena melontarkan perkataan yang menyangkut fisik istri Rasulullah SAW lainnya. Rasulullah SAW tidak segan menegur sebuah tindakan seseorang di luar batas dalam mengekpresikan perasaan cemburu atau kecewa sebagaimana riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi berikut ini:

وروينا في سنن أبي داود والترمذي عن عائشة رضي الله عنها قالت: قلت للنبي (صلى الله عليه وسلم): حسبك من صفية كذا وكذا" قال بعض الرواة: تعني قصيرة، فقال: "لقد قلت كلمة لو مزجت بماء البحر لمزجته"، قالت: وحكيت له إنسانا فقال: "ما أحب أني حكيت إنسانا وأن لي كذا وكذا" قال الترمذي: حديث حسن صحيح

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami dalam Sunan Abbu Dawud dan At-Tirmidzi dari Aisyah RA, ia berkata, ‘Aku pernah mengatakan kepada Rasulullah SAW, ‘Cukup bagimu perihal kekurangan Shafiyyah yang ini dan itu,’–sebagian perawi mengatakan bahwa yang dimaksud Aisyah adalah soal tinggi badan Shafiyah yang rendah.–Rasul menegurku, ‘Kau telah melontarkan sebuah kalimat luar biasa, yang bila dilemparkan ke laut, niscaya ia akan bercampur (mengubah rasa air) laut tersebut.’ Aku juga pernah menceritakan (keburukan) seseorang kepadanya. Lalu Rasul menanggapi, ‘Aku tidak suka bercerita perihal seseorang dan aku mendapatkan (keuntungan) ini dan itu.’’ At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 289).

Imam An-Nawawi yang mengutip hadits ini dalam Kitab Al-Adzkar mengatakan bahwa kalau saja ucapan ghibah itu berujud fisik lalu dilemparkan ke laut, niscaya ucapan keji itu mengubah rasa dan aroma air laut tersebut menjadi busuk dan pahit.

Menurut Imam An-Nawawi, ia belum pernah menemukan hadits lain di mana Rasulullah SAW berbicara sekeras ini menanggapi masalah ghibah. Ia juga berdoa kepada Allah agar melindungi kita semua dari tindakan yang dibenci oleh Allah itu sebagaimana keterangan Imam An-Nawawi berikut ini:

قلت: مزجته: أي خالطته مخالطة يتغير بها طعمه أو ريحه لشدة نتنها وقبحها، وهذا الحديث من أعظم الزواجر عن الغيبة أو أعظمها، وما أعلم شيئا من الأحاديث يبلغ في الذم لها هذا المبلغ (وما ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى) [ النجم : 3 ] نسأل الله الكريم لطفه والعافية من كل مكروه

Artinya, “Menurutku (kata Imam An-Nawawi), maksud ‘bercampur’ adalah percampuran yang dapat mengubah rasa dan bau air laut karena sangat bau busuk dan keburukan kalimat tersebut. Hadits ini merupakan salah satu larangan terkuat perihal ghibah atau bahkan larangan paling kuat. Saya tidak menemukan hadits lain yang mengecam keburukan ghibah melebihi hadits ini. Allah berfirman, ‘Tidaklah ia (Nabi Muhammad SAW) berbicara berdasarkan hawa nafsu. Ucapannya itu adalah wahyu yang diturunkan kepadanya belaka,’ (An-Najm). Kita memohon kelembutan dan pemeliharaan dari segala yang perbuatan yang dibenci kepada Allah yang murah,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 289-290).

Imam An-Nawawi tampak sekali menjaga diri dari ghibah. Ia menunjukkan hal ini ketika ditanya pandangannya soal paham kontroversial Ibnul Arabi yang hidup seabad sebelumnya sebagaimana didokumentasikan oleh Syekh Ibnu Ajibah berikut ini:

وأما احترام الماضى فالمراد من تقدم من الصحابة والتابعين والأولياء والصالحين والعلماء العاملين واحترامهم ألا يذكروا إلا بإحسان وأن يلتمس لهم أحسن المذاهب ويرحم الله النواوى لما سئل عن ابن العربى الحاتمى فقال الكلام كلام صوفى تلك أمة قد خلت لها ما كسبت ولكم ما كسبتم ولا تسئلون عما كانوا يعملون ومن احترامهم الاستغفار والترضى عنهم قال تعالى وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

Artinya, “Adapun bentuk penghormatan (kita) terhadap orang terdahulu–mereka yang  dimaksud adalah para sahabat rasul, tabi‘in, para wali, orang-orang saleh, dan ulama–adalah hanya menyebut kebaikan mereka dan mengambil madzhab (jalan atau pandangan) terbaik dari mereka. Imam An-Nawawi–Allah yarhamuh–ketika ditanya sikapnya terhadap pandangan Ibnul Arabi (yang wafat lebih dulu) menjawab dengan bijak, ‘Perkataan (Ibnul Arabi) adalah perkataan kalangan sufi. Ia termasuk umat terdahulu. Mereka akan menerima jerih payah mereka. Begitu juga kalian. Kalian akan menerima jerih payah kalian. Kalian takkan diminta pertanggungjawaban atas jerih payah mereka.’ Salah satu bentuk penghormatan (kita) untuk mereka adalah permohonan ampunan dan ridha Allah untuk mereka. Allah berfirman, ‘Orang-orang beriman yang datang sepeninggal mereka berdoa, ‘Tuhan kami, ampunilah kami dan orang-orang beriman yang telah mendahului kami,’’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah Al-Hasani, Al-Futuhatul Ilahiyyah fi Syarhil Mabahitsil Ashliyyah, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, halaman 263).

Menceritakan atau membuat sebuah narasi tentang seseorang atau lembaga tertentu yang dapat menguntungkan diri secara duniawi sekalipun sebaiknya dihindari. Pasalnya, dosa ghibahnya lebih besar daripada keuntungan duniawi tersebut sebagaimana keterangan Syekh Ibnu Alan perihal keterangan Imam An-Nawawi berikut ini:

إشارة إلى عظم إثم الغيبة وإنه لا يقاومها ما أعطيه من غيرها أي وإن كان كثيرا كما يدل عليه كذا وكذا إذ هي كناية عن الأعداد الكثيرة وإنما كذلك لأن ترك الاغتياب سلامة وعمل البر غنيمة والسلامة مقدمة على الغنيمة كما تقدم والله إعلم

Artinya, “Ini merupakan isyarat atas besarnya dosa ghibah. Sementara keuntungan–meskipun banyak–yang didapat dari ghibah itu tidak sebanding dengan dosa ghibah tersebut sebagaimana ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dengan ‘ini dan itu’. Kata ini merupakan kiasan yang mengilustrasikan kuantitas yang demikian banyak. Meninggalkan ghibah adalah jalan keselamatan. Sedangkan aktivitas (dengan niat) baik itu membawa keuntungan. Tetapi jalan keselamatan harus didahulukan dibandingkan keuntungan sebagaimana keterangan telah lalu. Wallahu a‘lam,” (Lihat Muhammad bin Alan As-Shiddiqi, Al-Futuhatur Rabbaniyyah, [Beirut: Daru Ihyait Al-Arabi, tanpa catatan tahun], juz VI, halaman 390).

Dari pelbagai catatan di atas, kita dapat menarik simpulan bahwa warna-warni batin yang kita rasakan termasuk marah, bahagia, cemburu, sedih, kecewa, dan perasaan lainnya adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita mengendalikan perasaan itu agar tidak melahirkan ucapan (ujaran kebencian) atau tindakan yang melewati batas-batas baik hukum syariat maupun hukum positif yang berlaku di Indonesia, termasuk salah satunya adalah menyerang kekurangan fisik orang lain. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Kamis 21 Juni 2018 12:1 WIB
Rasulullah SAW Larang Takbir dengan Teriak
Rasulullah SAW Larang Takbir dengan Teriak
(Foto: islamcity.org)
Rasulullah SAW pernah menegur rombongan sahabat yang ikut seperjalanan dengannya karena bertakbir terlalu keras serupa teriak. Rombongan Rasulullah SAW ini biasa bertakbir saat melintasi jalan mendaki dan bertasbih ketika melalui jalan menurun.

روينا في "صحيح البخاري" عن جابر رضي الله عنه قال: كنا إذا صعدنا كبرنا، وإذا نزلنا سبحنا

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami dalam Shahih Bukhari dari Jabir RA, ia berkata, ‘Bila melintasi jalan menanjak, kami bertakbir. Ketika melewati jalan menurun, kami bertasbih,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 190).

Ketika tiba di sebuah lembah, sebagian sahabat bertakbir dengan keras seperti teriak. Hal ini menuai teguran Rasulullah SAW. Menurut Rasulullah SAW, Allah yang diseru itu bukan Tuhan yang tuli dan jauh. Dia adalah Tuhan yang maha mendengar dan maha dekat sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim yang dikutip Imam An-Nawawi berikut ini:

وروينا في "صحيحيهما" عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم، فكنا إذا أشرفنا على واد هللنا وكبرنا وارتفعت أصواتنا، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: "يا أيها الناس اربعوا على أنفسكم، فإنكم لا تدعون أصم ولا غائبا، إنه معكم، إنه سميع قريب"

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari, ia bercerita bahwa bila melewati sebuah lembah, kami saat bersama Rasulullah SAW membaca tahlil dan takbir. Dan suara kami meninggi, lalu Rasulullah SAW mengingatkan, ‘Wahai manusia, bersikaplah yang lembut terhadap diri kalian karena kalian semua tidak sedang menyeru tuhan yang tuli dan ghaib. Dia bersama kalian. Dia maha mendengar, lagi dekat,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 190-191).

Ibnu Alan dalam Syarah Al-Adzkar mengatakan bahwa seseorang tidak perlu berteriak dalam melafalkan takbir dan lafal zikir lainnya. Pasalnya, takbir dan zikir secara umum dengan suara yang wajar tanpa teriak menunjukkan adab terhadap Allah atau bahkan makrifat seseorang sebagai keterangan berikut ini:

معناه ارفقوا بأنفسكم واخفضوا أصواتكم فإن رفع الصوات يحتاج إليه الإنسان لبعد من يخاطبه ليسمعه وأنتم تدعون الله وليس هو بأصم ولا غائب بل هو سميع قريب وهو معكم أينما كنتم بالعلم والإحاطة ففيه الندب إلى خفض الصوت بالذكر إذا لم تدع حاجة إلى رفعه فإذا خفضه كان أبلغ في توقيره وتعظيمه فإن دعت الحاجة إلى الرفع رفع كما جاءت به الأحاديث ذكره المصنف في شرح مسلم

Artinya, “Pengertian ‘bersikaplah yang lembut terhadap diri kalian dan rendahkan suara kalian’ karena mengeraskan suara dibutuhkan seseorang untuk mengajak bicara orang yang jauh agar ia mendengar. Sedangkan kalian menyeru Allah, Tuhan yang tidak tuli dan tidak lenyap. Dia maha mendengar dan dekat. Dia (ilmu dan cakupan-Nya) bersama kalian di mana pun kalian berada. Hadits ini merupakan anjuran untuk merendahkan suara dalam berzikir bila tidak diperlukan mengeraskannya. Bila seseorang merendahkan suaranya, maka itu sangat menunjukkan kerendahan hati dan takzimnya kepada Allah. Tetapi bila diperlukan suara untuk mengeraskannya, maka perlu dikeraskan sebagaimana keterangan sejumlah hadits yang disebutkan oleh penulis (Imam An-Nawawi) dalam Syarah Muslim,” (Lihat Muhammad bin Alan As-Shiddiqi, Al-Futuhatur Rabbaniyyah, [Beirut: Daru Ihyait Al-Arabi, tanpa catatan tahun], juz V, halaman 144-145).

Riwayat ini bukan berarti melarang seseorang mengeluarkan suara dalam bertakbir atau zikir secara umum. Takbir boleh dilafalkan dengan suara tinggi, serupa teriak, atau dengan dengan bantuan pengeras suara bila ada hajat syar‘i. Hajat syar‘i antara lain adalah takbiran pada malam Id atau takbir dalam adzan dan iqamah. Tanpa ada hajat syar’i, takbir cukup dilafalkan dengan level suara yang wajar, tanpa teriakan atau suara tinggi. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 22 Mei 2018 23:30 WIB
Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (2)
Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (2)
Ilustrasi (najva12.ir)
Kata ihsân atau hasan di dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan kata “baik”. Di dalam bahasa Arab ada banyak kata yang sering kali bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka akan diartikan dengan arti yang sama. Padahal di dalam bahasa aslinya sejatinya masing-masing kata itu memiliki makna sendiri yang spesifik sehingga berbeda dengan makna kata yang lain yang sama arti ketika diterjemahkan.

Di antara kata yang demikian itu adalah kata khair, ma’rûf, hasan atau ihsân, shâlih dan birr. Umumnya kata-kata itu diterjemahkan dan dipahami dalam bahasa Indonesia dalam arti “baik”. Padahal masing-masing di dalam bahasa Arabnya memiliki spesifikasi makna yang berbeda. “Baik”-nya kata khair tidak sama dengan “baik”-nya kata ma’rûf, juga tidak sama dengan “baik”-nya ihsân dan sebagainya.

Baca: Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (1)
Banyak para ulama yang mengungkapkan makna “baik” yang terkandung di dalam kata ihsân dengan mengambil kalimat dari Nabi Isa ‘alaihis salâm yang menyatakan:

ليس الإحسان أن تحسن إلى من أحسن إليك ذلك مكافأة، إنما الإحسان أن تحسن إلى من أساء إليك

Artinya: “Ihsan bukanlah engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, itu namanya berbalasan. Hanya dikatakan ihsan bila engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu.” (Syekh Nawawi Banten, Tafsîr Marâh Labîd, Beirut: Darul Fikr, juz I, hal. )

Ungkapan tentang ihsan sebagaimana disebut di atas dapat dipahami dengan penggambaran sebagai berikut:

Ketika tetangga Anda memberikan semangkok opor ayam lalu keesokan harinya Anda membalas dengan juga memberinya semangkok opor ayam, maka apa yang Anda lakukan itu adalah perbuatan baik namun tidak pada makna ihsan. Kebaikan yang Anda lakukan itu hanyalah kebaikan sepadan untuk membalas kebaikan yang Anda terima. Namun bila Anda membalas pemberian itu dengan opor ayam seekor utuh maka itulah yang disebut kebaikan dalam makna ihsan.

Contoh yang lain, ketika seorang teman sedang sakit Anda dengan senang hati membesuknya dengan membawa buah tangan yang disenangi teman itu. Namun ketika Anda sakit sang teman tidak membesuk Anda meski ia tahu keadaan Anda. Ketika kemudian sang teman sakit lagi Anda tetap membesuk dengan membawa buah tangan kegemarannya. Dan satu saat Anda kembali sakit sang teman tak juga membesuk Anda meski ia tahu Anda sedang sakit. Ketika untuk yang ketiga kalinya teman Anda sakit lagi dan Anda mengetahui itu, akankah Anda tetap dengan senang hati membesuknya seraya membawa buah tangan kesukaannya?

Bila Anda tak lagi membesuknya karena kebaikan Anda selama ini tak pernah dibalas, maka kebaikan membesuk yang selama ini Anda lakukan kepada sang teman bukanlah kebaikan dalam makna ihsan. Namun bila Anda tetap berkenan membesuknya sebagaimana sebelumnya, maka Anda telah melakukan sebuah kebaikan dalam makna ihsan.

Di dalam A-Qur’an surat Ali Imron ayat 134 ada tiga golongan orang yang disebut Allah sebagai orang yang berbuat ihsan (muhsin). Pertama, orang-orang yang selalu berinfak baik dalam keadaan senang maupun susah, ketika kaya atau miskin, dan baik diberikan kepada orang yang ia sukai maupun yang tak ia sukai.

Kedua, orang yang mampu menahan amarahnya meskipun ia memiliki kesempatan dan kemampuan untuk melampiaskannya kepada orang yang membuatnya emosi.

Ketiga, orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, menghapus kesalahannya sehingga tak lagi dibicarakan dengan siapapun, serta tanpa menyimpan dendam kepada yang berbuat salah itu.

Ketiga golongan tersebut disebut Allah sebagai orang-orang yang berlaku ihsan. Mereka yang suka berinfak disebut berlaku ihsan karena memberi manfaat bagi orang lain, meski dirinya sendiri sedang membutuhkan, atau bahkan meski yang diberi orang yang tak ia sukai. Mereka yang menahan amarahnya disebut berlaku ihsan karena semestinya ia mampu untuk membalas kejahatan yang ia terima, namun ia lebih memilih meredam kemarahannya sehingga orang yang berbuat jelek kepadanya tak menerima kejelekannya dalam bentuk amarah. Mereka yang memaafkan orang yang berbuat salah disebut berlaku ihsan karena pemaafannya telah menghindar orang yang bersalah dari tuntutan di hari kiamat kelak.

Kepada orang-orang yang demikian, kepada orang-orang yang berlaku ihsan dengan melakukan kebaikan lebih dari yang semestinya, Allah dengan tegas menyatakan rasa cintanya. Wallâhu yuhibbul muhsinîn. Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Senin 21 Mei 2018 16:0 WIB
Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (1)
Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (1)
Dalam sebuah hadits yang cukup panjang di mana Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya perihal islam, iman, dan ihsan, beliau menuturkan tentang ihsan sebagai berikut:

أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Artinya: “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR Muslim)

Imam Nawawi dalam menjelaskan definisi ihsan tersebut menuturkan bahwa bila seseorang di dalam ibadahnya mampu melihat secara nyata Tuhannya maka sebisa mungkin ia tidak akan meninggalkan sedikit pun sikap khusyuk dan khudlu’ (merendah diri) di dalam ibadahnya tersebut (Imam Nawawi, al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim ibnil Hajjâj, Kairo: Darul Ghad Al-Jadid, 2007, jilid I, juz 1, halaman 161).

Untuk menggambarkan bagaimana seseorang berlaku ihsan sesuai definisi di atas bisa dibuat satu ilustrasi sebagai berikut.

Anda datang menemui seorang pejabat penting di kota Anda, katakanlah ia seorang walikota. Anda dipersilakan duduk di kursi tamu persis berhadapan dengan tempat duduknya sang walikota. Ketika Anda berbincang dengannya, akankah di hadapan seorang walikota Anda bersikap tak semestinya, seperti mengangkat satu kaki di atas kaki yang lain, mengumbar pandangan mata ke segenap penjuru ruangan atau perilaku tak layak lainnya?

Kiranya kita sepakat untuk tidak melakukan perlaku-perilaku demikian di hadapan seorang walikota. Yang akan kita lakukan adalah duduk dengan tenang, sopan, dan berbicara dengannya penuh penghormatan.

Atau, ketika Anda telah duduk di ruang tamu namun sang walikota belum juga menemui Anda. Hanya saja Anda tahu bahwa di setiap pojok ruangan terdapat seperangkat CCTV di mana dari bagian dalam sang walikota bisa mengetahui gerak gerik Anda melalui layar monitor. Dalam kondisi seperti itu akankah Anda akan berperilaku tak layak di ruang tamu tersebut? 

Pun kiranya kita sepakat untuk tetap berperilaku tenang dan sopan, karena meskipun sang walikota tidak ada di hadapan kita namun ia bisa melihat perilaku kita melalui CCTV yang ada.

Barangkali demikian makna ihsan yang hendak diajarkan oleh Rasulullah kepada umatnya. Saat kita menyembah Allah kita mesti menghadirkan Allah di depan kita dan merasa bahwa kita sedang berhadap-hadapan dengan-Nya. Dengan demikian maka ketika seseorang sedang melakukan peribadatan kepada-Nya ia tak akan berani melakukan tindakan-tindakan yang tak semestinya dilakukan di hadapan Allah ta’ala. Yang akan dilakukan adalah bagaimana sebisa mungkin ibadah yang sedang dilakukannya terlaksana dengan baik dan sempurna, khusyuk dan khudlu’.

Orang yang berihsan dalam beribadah akan berpenampilan sebaik mungkin karena ia merasa sedang berhadapan langsung dengan Tuhan yang disembahnya. Ia gunakan pakaian terbaiknya, dengan wewangian, rambut tersisir rapi, tanpa ada kotoran yang menempel di badannya, dan sebagainya. Hal ini pula yang akan ia lakukan dalam beribadah meski ia tak benar-benar melihat Tuhannya, karena ia merasa selalu dilihat oleh-Nya.

Lebih jauh dari itu berperilaku ihsan bukan saja ketika seseorang sedang melakukan aktivitas peribadatan kepada Allah. Kalimat an ta’buda (engkau menyembah) pada hadits di atas bisa dipahami secara luas dari makna kata ta’buda. Kata ini berasal dari kata ‘abdun yang berarti budak atau hamba sahaya. Dari arti dasar kata ini maka kalimat an ta’buda Allah pada hadits di atas bisa diartikan sebagai engkau menjadi budak atau hamba sahayanya Allah atau engkau menghambakan diri kepada Allah.

Bila demikian adanya maka ihsan dalam hadits di atas dapat didefinisikan sebagai “engkau menjadi hamba sahayanya Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Ia selalu melihatmu.”

Satu pertanyaan mendasar, di waktu kapan dan di tempat mana kita menjadi hambanya Allah? Apakah ketika sedang shalat, membaca Al-Qur’an, berpuasa atau ketika sedang melakukan aktivitas ibadah mahdlah lainnya saja? Apakah seseorang menjadi hambanya Allah ketika ia sedang berada di masjid dan mushalla saja?

Bila seseorang menjadi hamba Allah ketika melakukan aktifitas ibadah tertentu saja, maka menjadi hambanya siapakah ketika ia sedang tidak beribadah? Bila seseorang menjadi hambanya Allah ketika ia sedang berada di masjid dan mushalla saja, maka menjadi hambanya siapa ketika ia sedang berada di pasar, kantor, jalanan dan tempat lainnya?

Tidak demikian tentunya. Kapanpun dan di manapun, sedang diam atau bergerak, sedang beraktifitas ibadah atau lainnya seseorang selalu menjadi hambanya Allah. Tak sedetikpun waktu berlalu kecuali setiap orang menyandang status sebagai abdullah, hamba Allah.

Dalam kondisi demikian ini perilaku ihsan dituntut untuk dilakukan. 

Dengan berihsan seorang yang sedang mengendarai sepeda motor misalnya, tak akan pernah ugal-ugalan karena ia merasa malu sedang dilihat oleh Allah. Seorang pedagang tak akan berbuat curang pada dagangannya karena merasa selalu diperhatikan oleh Allah. Seorang pegawai tak akan melakukan perilaku curang dan korup karena ia sadar sebagai hamba Allah tak pernah luput dari pengawasan-Nya. Seorang atasan tak akan pernah bertindak sewenang-wenang kepada bawahannya karena ia merasa sedang berada di hadapan Allah. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Dengan berihsan di manapun seorang hamba berada tak akan pernah mampu berlaku menyimpang, curang, zalim, menyalahi aturan dan perilaku negatif lainnya karena ia merasa di manapun selalu dalam pengawasan Allah.

Dengan berihsan seseorang tak akan pernah berbuat sewenang-wenang kepada orang lain, siapapun itu, mengingat Allah selalu mengawasinya. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)