IMG-LOGO
Syariah

Tradisi Sungkeman saat Lebaran Menurut Hukum Islam

Kamis 6 Juni 2019 22:45 WIB
Share:
Tradisi Sungkeman saat Lebaran Menurut Hukum Islam
Ilustrasi: KH Abdurrahman Wahid saat sungkem kepada KH Abdullah Salam
Lebaran adalah momen untuk saling memaafkan, bersilaturrahim dengan sanak famili, handai taulan, rekan-rekan dan segenap orang yang kita kenal. Salah satu tradisi yang tidak bisa dilepaskan saat mengisi hari-hari lebaran adalah sungkem. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh anak ke hadapan orang tua atau keluarga yang lebih tua (pinisepuh) untuk menunjukkan tanda bakti dan rasa terima kasih atas bimbingan dari lahir sampai dewasa. Sungkem dilakukan dengan jongkok sambil cium tangan. Sebagian kalangan mengganggap bahwa tradisi tersebut dilarang dan tidak sejalan dengan ajaran Nabi. Benarkah anggapan demikian?

Dalam menghukumi sungkeman, setidaknya bisa ditinjau dari dua sisi. Pertama, hukum asal. Kedua, dari sudut pandang tradisi.

Dilihat dari sudut pandang hukum asal, sungkeman sama sekali tidak bertentangan dengan syariat. Posisi jongkok sambil cium tangan merupakan ekspresi memuliakan orang yang lebih tua. Syariat tidak melarang mengagungkan manusia selama tidak dilakukan dengan gerakan yang menyerupai bentuk takzim kepada Allah, seperti sujud dan ruku’.

Berkaitan dengan mencium tangan orang yang lebih tua, al-Imam al-Nawawi mengatakan:

ولا يكره تقبيل اليد لزهد وعلم وكبر سن

“Tidak makruh mencium tangan karena kezuhudan, keilmuan dan faktor usia yang lebih tua.” (al-Imam al-Nawawi, Raudlah al-Thalibin, juz 10, halaman 233)

Bahkan, sebagian ekspresi takzim  kepada orang yang lebih tua hukumnya sunah, seperti dilakukan dengan cara berdiri dengan tujuan memuliakan dan kebaktian. Syekh Zainuddin al-Malibari mengatakan:

ويسن القيام لمن فيه فضيلة ظاهرة من نحو صلاح أو علم أو ولادة أو ولاية مصحوبة بصيانة

“Sunah bediri untuk orang yang memiliki keutamaan yang tampak, seperti kesalehan, keilmuan, hubungan melahirkan atau kekuasaan yang dibarengi dengan penjagaan diri.” (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in Hamisy I’anah al-Thalibin, juz 4, halaman 219)

Mengomentari redaksi di atas, Syekh Abu Bakr bin Syata mengatakan:

قوله: ويسن القيام لمن فيه فضيلة ظاهرة) أي إكراما وبرا وإحتراما له لا رياء. (وقوله: أو ولادة) أي ويسن القيام لمن له ولادة: كأب أو أم. (وقوله: أو ولاية) أي ولاية حكم: كأمير وقاض.

“Ungkapan ‘Sunah bediri untuk orang yang memiliki keutamaan yang tampak’—maksudnya, dengan motivasi memuliakan dan bentuk kebaktian, bukan karena pamer. Ucapan ‘atau hubungan melahirkan’—maksudnya, sunah berdiri kepada orang yang melahirkan seperti bapak atau ibu.” (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 4, halaman 219)

Lebih dari itu, menurut sebagian ulama, memuliakan kerabat dengan cara berdiri, hukumnya bisa wajib ketika meninggalkannya dianggap memutus tali silaturahim.

Syekh al-Qalyubi mengatakan:

ويندب تقبيل طفل ولو لغير شفقة ووجه ميت لنحو صلاح ويد نحو عالم وصالح وصديق وشريف لأجل غنى ونحوه والقيام لهم كذلك وبحث بعضهم وجوب ذلك في هذه الأزمنة ؛ لأن تركه صار قطيعة

“Sunah mencium anak kecil meski karena selain tujuan mengasihi, sunah pula mencium wajahnya mayit karena kesalehannya, sunah pula mencium tangan orang alim, orang shaleh, kerabat, orang mulia, bukan karena kekayaannya atau yang lain. Hukum sunah tersebut juga berlaku dalam permasalahan berdiri kepada mereka. Sebagian ulama berpendapat wajibnya berdiri (memuliakan) pada masa sekarang, karena meninggalkannya merupakan bentuk perbuatan yang memutus tali shilaturrahim.” (Syekh Syihabuddin al-Qalyubi, Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala al-Mahalli, juz 3, halaman 214)

Bila melihat dari sudut pandang tradisi, sungkeman merupakan tradisi nenek moyang kita yang perlu dilesatarikan. Sebab, Islam mengajarkan untuk merawat tradisi selama tidak bertentangan dengan agama. Hal tersebut sebagai bentuk pengejawentahan dari sabda Nabi tentang berbudi pekerti yang baik kepada sesama. Nabi bersabda:

وخالق الناس بخلق حسن

“Berbudilah dengan akhlak yang baik kepada manusia.” (HR. Al-Tirmidzi)

Saat ditanya apa yang dimaksud dengan etika yang baik, Sayyidina Ali mengatakan:

هو موافقة الناس في كل شيئ ما عدا المعاصي

“Beretika yang baik adalah mengikuti tradisi dalam segala hal selama bukan kemaksiatan.” (Syekh Nawawi al-Bantani, Syarh Sullam al-Taufiq, halaman 61)

Al-Imam al-Ghazali mengatakan:

وحسن الخلق مع الناس ألا تحمل الناس على مراد نفسك، بل تحمل نفسك على مرادهم ما لم يخالفوا الشرع

“Beretika yang baik dengan manusia adalah engkau tidak menuntut mereka sesuai kehendakmu, namun hendaknya engkau menyesuaikan dirimu sesuai kehendak mereka selama tidak bertentangan dengan syari’at.” (Imam al-Ghazali, Ayyuhal Walad, halaman 12)

Meninggalkan tradisi yang tidak haram merupakan akhlak yang tidak terpuji, sebagaimana penjelasan Syekh Ibnu Muflih berikut ini:

لا ينبغي الخروج من عادات الناس إلا في الحرام

“Tidak sepantasnya keluar dari tradisi manusia kecuali dalam perkara haram.” (Ibnu Muflih, al-Adab al-Syar’iyyah, juz 2, halaman 114)

Simpulannya, sungkeman bukan merupakan tradisi yang haram, bahkan menjaga tradisi tersebut merupakan bentuk pengamalan dari sabda Nabi tentang anjuran beretika yang baik kepada sesama. Demikianlah semoga bermanfaat. Wallahu a'lam(M. Mubasysyarum Bih)



::::

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada 21 Juni 2018, pukul 20.30. Redaksi mengunggahnya ulang tanpa mengubah isi tulisan.


Share:
Rabu 5 Juni 2019 16:0 WIB
Hukum Mengonsumsi Daging Katak
Hukum Mengonsumsi Daging Katak
Katak (bahasa Inggris: frog) adalah binatang amfibi pemakan serangga yang hidup di air tawar atau di daratan, berkulit licin, berwarna hijau atau merah kecoklat-coklatan, kaki belakang lebih panjang, pandai melompat dan berenang; sedangkan kodok, nama lain dari bangkong (bahasa Inggris: toad), memiliki kulit yang kasar dan berbintil-bintil atau berbingkul-bingkul, kerap kali kering, dan kaki belakangnya sering pendek saja, sehingga kebanyakan bangsa kodok kurang pandai melompat jauh. Demikian penjelasan dari Wikipedia.

Semua ulama sepakat tentang keharaman membunuh katak karena berdasarkan nash hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin Utsman: 

ذَكَرَ طَبِيبٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَوَاءً، وَذَكَرَ الضُّفْدَعَ يُجْعَلُ فِيهِ، فَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ الضُّفْدَعِ

Artinya: “Suatu ketika ada seorang tabib yang berada di dekat Rasulullah menyebutkan tentang obat-obatan. Di antaranya disebutkan bahwa katak digunakan untuk obat. Lalu Rasul melarang membunuh katak.” (HR Ahmad: 15757) 

Pada hadits di atas disebutkan keharaman membunuh katak. Menurut Al-Mundziri hadits tersebut memberikan pengertian, selain membunuh, hukum memakan katak juga diharamkan. 

قَالَ الْمُنْذِرِيُّ: وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِ أَكْلِ الضُّفْدَعِ

Artinya: “Al-Mundziri mengatakan ‘hadits tersebut menunjukkan keharaman makan katak.” (Ali Al-Qari, Mirqatul Mafatih Syarah Misykatul Mashabih, [Darul Fikr, Beirut, 2002], juz 7, halaman 2659)

Selanjutnya, masih dalam kitab yang sama, alasan yang menjadikan syariat melarang pembunuhan seekor hewan biasanya berdasarkan salah satu dari dua faktor. Bisa jadi karena makhluk hidup itu dihormati seperti manusia atau memang karena murni mengarah karena hewan tersebut haram dimakan. Dengan demikian, apabila katak tidak termasuk kategori hewan dihormati, apabila Rasul melarang membunuhnya berarti hal itu mengarah pada keharaman makan hewan tersebut.

وَالنَّهْيُ عَنْ قَتْلِ الْحَيَوَانِ إِمَّا لِحُرْمَتِهِ كَالْآدَمِيِّ وَإِمَّا لِتَحْرِيمِ أَكْلِهِ كَالصُّرَدِ وَالضُّفْدَعِ لَيْسَ بِمُحْتَرَمٍ، فَكَانَ النَّهْيُ مُنْصَرِفًا إِلَى أَكْلِهِ

Artinya: “Pelarangan membunuh hewan kemungkinan karena kehormatannya seperti contoh anak adam dan sebab haram dimakan disebabkan faktor keharamannya untuk dimakan seperti burung suradi (bentet pemakan daging atau dalam bahasa Latinnya adalah lanius) dan katak yang masing-masing tidak masuk golongan hewan yang dihormati, maka pelarangan membunuh mengarah kepada keharaman memakannya. 

Menurut para pakar kesehatan sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari, katak mempunyai dua jenis, katak darat dan katak lautan (biasa di perairan). Katak darat bisa membunuh pemakannya sedangkan katak laut bisa membahayakan kesehatan pemakannya. 

وَذَكَرَ الْأَطِبَّاءُ أَنَّ الضِّفْدَعَ نَوْعَانِ بَرِّيٌّ وَبَحْرِيٌّ فَالْبَرِّيُّ يَقْتُلُ آكِلَهُ وَالْبَحْرِيُّ يَضُرُّهُ

Artinya: “Para pakar kesehatan mengatakan, sesungguhnya katak ada dua jenis, daratan dan lautan. Yang daratan bisa membunuh, sedangkan yang spesies air bisa membahayakan kesehatan. (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, juz 9, halaman 619)

Di daerah tertentu ada yang mempunyai makanan khas swieke kodok atau katak. Swieke adalah masakan Tionghoa Indonesia yang terbuat dari paha kodok. Hidangan ini dapat ditemukan dalam bentuk sup, digoreng kering, atau ditumis. Aslinya hidangan ini berasal dari pengaruh masakan Tionghoa yang masuk ke Indonesia. Tentu saja, jika ditinjau dari sudut pandang syariat Islam, hukumnya haram. Hanya saja, ada sebagian orang yang kemudian mengembangkan swieke dalam arti mengadopsi bumbu-bumbunya saja, tapi dagingnya bukan daging katak melainkan daging halal. Tentu saja hal ini hukumnya halal. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hukum katak adalah haram sesuai nash hadits Rasulullah ﷺ. Wallahu a’lam.


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang 

Rabu 5 Juni 2019 4:15 WIB
Anjuran Maaf-Memaafkan dan Berlapang Dada
Anjuran Maaf-Memaafkan dan Berlapang Dada
Ilustrasi (ist)
Bagian integral dari momen Idul Fitri ialah maaf-memaafkan. Maaf-memaafkan tidak terlepas dari dampaknya terhadap kehidupan yang luas di tengah masyarakat. Meminta maaf membutuhkan sikap ksatria untuk mengakui segala kesalahannya kepada orang lain.

Hal ini berangkat dari diktum bahwa meminta maaf tak semudah memberi maaf. Namun tidak lantas bahwa memberi maaf juga persoalan mudah, karena ia menuntut kelapangan dada untuk menerima maaf orang yang pernah menyakiti hatinya.

Mengingat dalamnya arti meminta dan memberi maaf, sebuah pertanyaan terlontar, adakah yang lebih tinggi tingkatannya daripada maaf (al-afwu)? Soal ini, Al-Qur’an mengajarkan bahwa dalam maaf-memaafkan butuh sikap ksatria dan kelapangan dada, ini benang merah yang dapat ditarik.

Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an (1999) menerangkan, tingkatan yang lebih tinggi dari al-afwu adalah al-shafhu. Kata ini pada mulanya berarti kelapangan. Lebih jauh, Pakar Tafsir Al-Qur’an itu menjelaskan, dari al-shafhu dibentuk kata shafhat yang berarti lembaran atau halaman, serta mushafahat yang berarti berjabat tangan.

Seseorang melakukan al-shafhu seperti anjuran ayat yang dipaparkan di awal, dituntut untuk melapangkan dadanya sehingga mampu menampung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru, inilah esensi dari Hari Raya Lebaran atau Idul Fitri.

Mengutip Al-Raghib Al-Asfahaniy, seorang pakar bahasa Arab dan Al-Qur’an, Quraish Shihab menyatakan bahwa Al-shafhu yang digambarkan dalam bentuk berjabat tangan itu, lebih tinggi nilanya daripada memaafkan. Bukankah masih ada satu-dua titik yang sulit bersih dalam lembaran yang salah walaupun kesalahannya telah dihapus? Atau bukankah lembaran yang telah ternoda walaupun telah bersih kembali tidak sama dengan lembaran yang baru? 

Dari renungan-renungan tersebut, dapat ditarik esensi bahwa membuka lembaran baru merupakan langkah yang sangat penting. Sama signifaknnya ketika masing-masing orang yang terlibat dalam sebuah kesalahan untuk menutup lembaran lama. Sehingga hakikat Idul Fitri (kembali kepada kesucian) dapat diraih sebagai wujud peneguhan sikap ihsan, karena itulah yang paling disukai Allah.

Peneguhan sikap ihsan akan terlihat jelas ketika seseorang memahami apa itu istilah maaf. Kata maaf  berasal dari Al-Qur’an al-afwu yang berarti menghapus, karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. (Quraish Shihab, 1999)

Artinya, bukan memaafkan namanya jika masih tersisa bekas luka di hati dan jika masih ada dendam yang membara dalam hatinya. Boleh jadi ketika itu apa yang dilakukannya baru sampai pada tahap menahan amarah. Artinya, jika manusia mampu berusaha menghilangkan segala noda atau bekas luka di hatinya, maka dia baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain atas kesalahannya.

Oleh karena itu, syariat secara prinsip mengajarkan bahwa seseorang yang memohon maaf atas kesalahnnya kepada orang lain agar terlebih dahulu menyesali perbuatannya, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, serta memohon maaf sambil mengembalikan hak yang pernah diambilnya. Kalau berupa materi, maka materinya dikembalikan, dan kalau bukan materi, maka kesalahan yang dilakukan itu dijelaskan kepada yang dimohonkan maafnya.

Keterangan di atas juga menjadi syarat bertaubat seorang hamba kepada Tuhannya. Taubat menuntut penyesalan yang mendalam atas segala salah, khilaf, dan dosa yang diperbuat seorang hamba. Esensi taubat juga bukan hanya satu arah saja, yakni hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga mengubah perilaku sosialnya di tengah masyarakat menjadi laku yang positif.

Bahkan dalam urusan meminta ampunan kepada Allah atas segala kesalahannya kepada orang lain, Allah tidak akan mengampuni jika yang bersangkutan belum meminta maaf kepada orang tersebut. Jadi, keseimbangan hidup di bumi perlu diperhatikan ketika ingin memperoleh kebaikan di langit. (Fathoni)
Kamis 30 Mei 2019 16:0 WIB
Cara Mengetahui Illat Hukum
Cara Mengetahui Illat Hukum
(Foto: @ok.ru)
Syekh Ali Jumah menyebutkan bahwa teks-teks syariat yang berhubungan dengan hukum jumlahnya sangat terbatas, baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun sunnah.

Ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum jumlahnya tidak lebih dari 200 ayat (dari 6.236 ayat). Sedangkan hadits aḥkām juga tidak lebih dari 3000 hadits (dari sekitar 60.000an hadits). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah adagium ‘Nuṣūṣun maḥsūratun” (jumlah naṣ-naṣ terbatas). sedangkan masalah manusia senantiasa berkembang.

النصوص محصورة الوقائع والأحوال الحياتية دائمة التجدد والتزايد والتغير

Artinya, “Teks-teks agama terbatas. Sedangkan kejadian dan kondisi kehidupan manusia senantiasa diperbaharui, bertambah, dan berubah, (Lihat Syekh Ali Jumah, Tārikh Uṣul Fiqh, [Kairo, Dārul Maqṭum: 2015 M], halaman 102).

Dalam hal seperti inilah maka para ahli ushul menggunakan qiyas sebagai metode pengambilan hukum (istinbaṭ al-ḥukm), walau ada juga beberapa perdebatan terkait keabsahan qiyas itu sendiri.

Salah satu rukun qiyas yang harus difahami adalah illat. Mengetahui dan memahami illat menjadi bagian penting dari qiyas karena tidak mungkin qiyas bisa digunakan tanpa diketahui terlebih dahulu illatnya.

Abdul Wahhab Khallaf menjelaskan tiga cara yang paling umum digunakan untuk mengetahui sebuah illat dalam sebuah hukum syariat.

Pertama, Nash (teks). Illat dalam naṣh ini ada kalanya ṣhāriḥ (jelas) dan ada kalanya bil imā’ wal isyārah (dengan tanda atau petunjuk).

Adapun beberapa contoh illat naṣh ṣhāriḥ adalah biasanya menyebutkan secara langsung ‘sebab dan alasannya’ dalam badan naṣh, misalnya dengan lafal “li ajli”, “li alla”, “li sababi”. Contohnya:

أقم الصلاة لدلوك الشمس

Artinya, “Dirikanlah shalat karena matahari sudah bergeser dari titik tengahnya.”

Atau bisa juga naṣh yang ghairus Sārih, seperti:

لايقض القاضي وهو غضبان

Artinya, “Seorang hakim tidak boleh menghukumi sesuatu ketika ia sedang marah,” (Lihat Abdul Wahhāb Khallāf, Ilmu Uṣūlil Fiqh, [Kairo, Maktabah Dakwah Al-Islāmiyah: 1956], halaman 76).

Kedua, Ijmāʽ. Jika para mujtahid berijtihad terhadap illat dari suatu hukum pada suatu masa, maka illat tersebut sah berdasarkan ijma’. Seperti ketetapan para ulama bahwa illat dari didahulukannya saudara kandung (akh syaqīq) daripada saudara seayah (akh lil ab) dalam masalah warisan adalah unggulnya saudara kandung atas kedekatan pada ibu. Maka dari ilat tersebut bisa diqiyaskan bahwa seorang anak laki-laki dari saudara kandung lebih didahulukan dari pada anak laki-laki dari saudara seayah dalam hal perwalian.

Ketiga, As-Sabru wat Taqsīm. Yang dimaksud dengan As-Sabr adalah meneliti sifat-sifat yang memungkinkan untuk bisa dijadikan illat, kemudian melihat apakah illat tersebut sesuai untuk hukum atau tidak. Kemudian menanggalkan illat-illat yang tidak sesuai dan hanya memilih illat yang sesuai.

Adapun Taqsīm adalah menyeleksi dan meringkas lagi sifat-sifat yang telah sesuai dan mengandung aslul qiyas.

Secara eksplisit, dengan mengutip Al-Ghazali dalam Al-Mustaṣfā, Syekh Wahbah Zuhayli menjelaskan bahwa As-Sabru wat Taqsīm adalah:

جمع الأوصاف التي يظن كونها علة في الأصل ثم اختبارها بإبطال مالايصلح منها للعلية فيتعين الباقي للتعليل

Artinya, “Mengumpulkan sifat-sifat yang dikira sebagai illat dalam aṣhl, kemudian menelitinya dengan membatalkan sifat-sifat yang tidak sesuai untuk dijadikan illat, kemudian menentukan sisanya sebagai illat.” (Lihat Syekh Wahbah Zuhayli, Uṣhul Fiqhil Islāmī, [Beirut, Dārul Fikr: 1986 M], juz I, halaman 671).

As-Sabr wat Taqsīm dilakukan apabila ada naṣh yang menerangkan tentang suatu kasus, tetapi tidak ada naṣh yang menerangkan ‘illatnya. Misalnya ketika ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasul SAW mengadu bahwa ia telah berhubungan seksual dengan istrinya pada bulan Ramadhan.

Kemudian Nabi SAW menyuruhnya membayar kafarah berupa memerdekakan budak. Jika tidak dapat, diganti dengan puasa dua bulan berturut-turut. Jika masih tidak mampu, maka diganti dengan memberi makan enam puluh orang miskin.

Tidak diragukan lagi bahwa hukum ini memiliki illat. Namun yang menjadi illatnya adalah apakah sekadar membatalkan puasa atau atau karena berhubungan suami dan istri?

Menjimak istri jelas bukan haram secara dzatnya. Namun jimak pada siang hari bulan Ramadhan merusak kemuliaan Ramadhan. Hal ini juga sama dengan hal-hal yang membatalkan puasa yang lain. Maka diputuskan bahwa yang menjadi illat adalah kesengajaannya, (Lihat Muḥammad Abū Zahrah, Uṣhūlul Fiqh, [Beirut, Dārul Fikril ʽAraby: tanpa tahun], halaman 245).

Itulah beberapa cara untuk mengetahui illat. Hal ini dirasa sangat penting untuk diketahui sebagai jalan bagi kita memahami sebuah hukum dengan komprehensif, juga agar kita tidak terjebak pada pemahaman yang kaku dan ujung-ujungnya merugikan bagi diri sendiri. Wallahu alam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, Pegiat Kajian Tafsir dan Hadits.