IMG-LOGO
Nikah/Keluarga

Sanksi Hubungan Badan saat Istri Haid atau Nifas

Ahad 24 Juni 2018 12:0 WIB
Share:
Sanksi Hubungan Badan saat Istri Haid atau Nifas
(Foto: dumsk.com)
Hubungan badan atau aktivitas seksual dalam artian jimak saat istri sedang haidh merupakan pelanggaran berat. Praktik ini disepakati oleh ulama perihal keharamannya berdasarkan Surat Al-Baqarah ayat 222.

Status hukum praktik jimak saat istri sedang haidh juga berlaku pada praktik jimak saat istri sedang menjalani masa nifas. Hubungan badan saat istri sedang menjalani masa nifas juga merupakan pelanggaran berat sebagai keterangan berikut ini:

ويحرم بالاتفاق إتيان الحائض، ومستحله كافر، لقوله تعالى: وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ [البقرة:222/2] والنفساء كالحائض.

Artinya, “Hubungan badan dengan istri yang sedang haidh haram berdasarkan kesepakatan ulama. Seorang Muslim yang menganggapnya halal bisa berubah menjadi kufur. Keharaman ini didasarkan pada firman Allah, ‘Mereka bertanya kepadamu tentang haidh, katakanlah, ‘Itu adalah kotoran. Maka itu, jauhilah perempuan saat haidh. Jangan kalian dekati mereka hingga mereka suci. Kalau mereka telah suci, maka datangilah mereka dari jalan yang Allah perintahkan kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertobat dan orang yang bersuci,’’ (Surat Al-Baqarah ayat 222). Mereka yang tengah melalui masa nifas sama dengan mereka yang sedang haidh,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 3, halaman 552).

Mereka yang melakukan pelanggaran berat ini dikenakan sanksi berupa denda sebesar satu atau setengah dinar. Penetapan sanksi ini merujuk pada hadits riwayat Abu Dawud dan Al-Hakim berikut ini:

ويسن لمن وطئ الحائض أن يتصدق بدينار إن وطئها في إقبال الدم، وبنصفه في إدباره؛ لخبر أبي داود والحاكم وصححه: «إذا واقع الرجل أهله وهي حائض، إن كان دماً أحمر فليتصدق بدينار، وإن كان أصفر، فليتصدق بنصف دينار»

Artinya, “Seorang suami yang berhubungan badan dengan istrinya saat haidh dianjurkan untuk bersedekah satu dinar bila hubungan dilakukan saat darah haidh baru keluar (masih deras), dan setengah dinar saat darah haidh mulai surut beradasarkan hadits riwayat Abu Dawud dan Al-Hakim. Ia (Al-Hakim) menilai shahih hadits ini. rasulullah SAW bersabda, ‘Jika seseorang behubungan badan dengan istrinya saat ia haidh, hendaklah ia bersedekah satu dinar bila darah haidhnya masih merah dan setengah dinar bila darah haidhnya sudah menguning,’” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 3, halaman 552).

Selain dikenakan sanksi karena pelanggaran berat, seseorang juga diwajibkan untuk bertobat kepada Allah karena praktik ini merupakan dosa besar yang harus dijauhi. Pertobatan ini dilakukan oleh pasangan suami-istri sebagai keterangan berikut ini:

فمن وطئ امرأته أثناء نزول الدم فإنه يأثم وتجب عليه التوبة فورا كما تأثم هي بتمكينه ومن السنة أن يتصدق بدينار أو بنصفه وقد بينا مقدار الدينار في "كتاب الزكاة" فارجع إليه "حنفي-شافعي

Artinya, “Orang yang berhubungan badan dengan istrinya di tengah tetesan darah haidh berdosa. Ia wajib bertobat segera sebagaimana istrinya juga berdosa yang bersedia hubungan badan saat haidh. Ia dianjurkan untuk bersedekah satu dinar atau setengah dinar seperti kami telah terangkan ukuran dinar pada Bab Zakat. Silakan merujuk ke sana, menurut Mazhab Hanafi-Mazhab Syafi’i,” (Lihat Syekh Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqhu ala Madzahibil Arba‘ah, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 114).

Meskipun sanksi ini tidak mengikat, tetapi pelanggaran ini tidak boleh diremehkan oleh pasangan yang istrinya sedang haidh atau menjalani masa nifas. Pelanggaran ini diganjar dengan dosa luar biasa besarnya.

Sebagaimana diketahui satu dinar setara satu mitsqal emas, yaitu 4,25 gram. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Ahad 24 Juni 2018 6:0 WIB
Hukum Hubungan Badan dengan Kondom saat Istri Haidh atau Nifas
Hukum Hubungan Badan dengan Kondom saat Istri Haidh atau Nifas
(Foto: wordpress)
Hubungan badan atau aktivitas seksual suami-istri dapat dilakukan dengan atau tanpa kondom (alat kontrasepsi). Tetapi hubungan badan ketika istri sedang haidh diharamkan. Orang yang menganggap halal praktik seksual dalam kondisi perempuan sedang haidh dapat jatuh dalam kekufuran karena menghalalkan sesuatu yang jelas haram dalam agama.

Keharaman hubungan badan ketika istri sedang haidh didasarkan pada Surat Al-Baqarah ayat 222 berikut ini:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ [البقرة:222/2

Artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh, katakanlah, ‘Itu adalah kotoran. Maka itu, jauhilah perempuan saat haidh. Jangan kalian dekati mereka hingga mereka suci. Kalau mereka telah suci, maka datangilah mereka dari jalan yang Allah perintahkan kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertobat dan orang yang bersuci,’” (Surat Al-Baqarah ayat 222).

Lalu bagaimana dengan hubungan badan ketika istri sedang menjalani masa nifas meskipun di ujung masa nifas? Meskipun perempuan yang menjalani masa nifas tidak disebutkan dalam Al-Quran, ulama menganolgikan kedudukan hukumnya  dengan perempuan yang haidh.

ويحرم بالاتفاق إتيان الحائض، ومستحله كافر، لقوله تعالى: وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ [البقرة:222/2] والنفساء كالحائض

Artinya, “Hubungan badan dengan istri yang sedang haidh haram berdasarkan kesepakatan ulama. Seorang Muslim yang menganggapnya halal bisa berubah menjadi kufur. Keharaman ini didasarkan pada firman Allah, ‘Mereka bertanya kepadamu tentang haidh, katakanlah, ‘Itu adalah kotoran. Maka itu, jauhilah perempuan saat haidh. Jangan kalian dekati mereka hingga mereka suci. Kalau mereka telah suci, maka datangilah mereka dari jalan yang Allah perintahkan kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertobat dan orang yang bersuci,’’ (Surat Al-Baqarah ayat 222). Mereka yang tengah melalui masa nifas sama dengan mereka yang sedang haidh,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 3, halaman 552).

Lalu bagaimana bila hubungan badan saat istri yang sedang haidh atau sedang menjalani masa nifas dilakukan dengan menggunakan kondom atau alat kontrasepsi seperti yang dikenal orang sekarang ini?

Hubungan badan dengan mengenakan kondom atau tanpa alat kontrasepsi ketika istri sedang haidh atau nifas tetap haram dalam hukum Islam sebagaimana keterangan dalam Kitab Al-Fiqhu alal Madzahibil Arba‘ah berikut ini:

أما وطء الحائض قبل انقطاع دم الحيض فإنه يحرم ولو بحائل-كالكيس–المعروف

Artinya, “Hubungan badan dengan perempuan yang sedang haidh haram meskipun dengan alat pengaman seperti kondom yang cukup terkenal,” (Lihat Syekh Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqhu alal Madzahibil Arba‘ah, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 114).

Dari keterangan ini dapat diambil simpulan bahwa hubungan badan dengan mengenakan kondom atau alat kontrasepsi ketika istri sedang haidh atau nifas tetap haram. Sementara waktu aktivitas seksual atau hubungan badan saat istri sedang haidh atau nifas tidak bisa dilakukan dengan hubungan badan, tetapi dengan cara lain yang dibenarkan oleh syariat. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Kamis 26 April 2018 20:30 WIB
Membayangkan Nabi saat Berhubungan Pasutri?
Membayangkan Nabi saat Berhubungan Pasutri?
Ilustrasi (via dumsk.com)
Hidup berumah tangga tidak berhenti pada hal yang berkaitan dengan ranjang saja. Lebih dari itu, bagaimana cara membina rumah tangga dengan baik serta mempunyai keturunan yang alim, shalih-shalihah. Ini jauh sangat penting.

Namun tahukah Anda bahwa mempunyai keturunan yang baik, patuh terhadap aturan agama, serta bakti kepada orang tua itu di antara faktornya justru dimulai dari ranjang?

Setiap orang tua mempunyai cita-cita yang mungkin tidak sama. Si A bercita-cita anaknya supaya meniru Nabi Hud yang selain menjadi kekasih Tuhan, suaranya juga memukau, mungkin ada yang ingin seperti Nabi Yusuf yang ganteng, atau seperti Imam Syafi'i dalam hal kecerdasannya, dan beragam cita-cita lain.

Baca: Belajar dari Kesungguhan Kiai Belajar
Baca: Wirid Kiai Arwani Amin agar Mendapatkan Anak Shalih
Bisa jadi keinginannya itu terbawa sampai pada saat kedua mempelai berhubungan ranjang. Sehingga ketika mereka melakukan berhubungan pasutri, seseorang bisa mengkhayal dengan harapan anaknya kelak bisa meniru orang yang ia dambakan.

Iya, tentang membayangkan sosok lain selain suami atau istrinya sendiri yang berada di depan mata, Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Ba 'Alawi pernah menyinggung hal tersebut sekaligus memberikan tips cukup lengkap bagi orang yang ingin anaknya dijaga oleh Allah subhânahu wa ta'alâ dan mendapat pertolongan-Nya di dunia dan akhirat.

Menurut beliau, bagi pasangan suami-istri hendaknya melakukan hal berikut:

Pertama, sebelum bersenggama, membaca doa sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai berikut:

بِاسْمِ اللهِ، اللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkan setan dari semua hal yang Engkau berikan kepada kami."

Kedua, selalu mengingat Allah dalam hati dimulai sejak awal berhubungan hingga selesai. 

Ketiga, membaca hamdalah setelah berhubungan pasutri selesai. Hal ini perlu disyukuri karena seseorang diberi Allah berupa kenikmatan yang benar-benar halal. Bersyukur atas karunia besar ini banyak dilupakan oleh banyak orang. 

Keempat, dalam bersenggama perlu menghadirkan sosok wali atau nabi (membayangkan dalam rangka bercita-cita kuat ingin menjadikan anak supaya bisa meniru seperti wali/nabi tersebut). 

Masih menurut Sayyid Abdurrahman yang mengutip dari catatan Syekh Husain Abdus Syakur al-Muqaddasi menyatakan bahwa kegiatan ini sangat memberikan manfaat. Sirr atau rahasia-rahasia nabi/wali bisa menular kepada pasangan.

واستحضار من يجب من أولياء الله وأنبيائه حالتئذ نافع جداً، فيسري سر ذلك الولي أو النبي في الكائن في ذلك الوقت ذكراً أو أنثى

Artinya: "Menghadirkan orang yang memang seharusnya dari para kekasih Allah dan para nabi-Nya ketika berhubungan suami istri sangat memberi manfaat. Maka rahasia (sirr) wali dan nabi itu akan mengaliri kedua pasangan baik yang laki-laki maupun perempuan. (Abdurrahmad bin Muhammad Baalawi, Bughyatul Mustarsyidin, Dârul Fikr,1994, halaman 352-353)

Baca: Tips Rumah Tangga Langgeng Dunia-Akhirat
KH Abdul Qayyum Mansur mengungkapkan satu kisah, Nabi Zakariya dalam Al-Qur'an dikisahkan sangat kagum atau nge-fans kepada Sayyidatina Maryam, yang karena dekatnya dengan Allah sampai disediakan makanan-makanan dalam mihrabnya yang bersumber dari surga. 

 كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ 

Artinya: Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: 'Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah'. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan." (QS Ali Imran: 37)

Maryam menjadi kekasih Allah, di sisi lain beliau tidak mempunyai suami sepanjang hayat. Tapi bagaimanapun Nabi Zakariya suka atas kedekatannya kepada Allah. Dan ternyata di kemudian hari, Allah memberikan karunia kepada Nabi Zakariya berupa anak yang dekat kepada Allah dengan menjadi nabi sejak lahir yaitu berupa NabiYahya. Namun sebagaimana mirip Maryam, Nabi Yahya tidak beristri hingga beliau wafat. 

Dan sebagaimana Gus Qayyum kutip, menurut ilmu psikologi memang membenarkan adanya korelasi atas apa yang dipikirkan otak saat berhubungan suami-istri dengan anak yag dihasilkan. Wallahu a'lam. (Ahmad Mundzir)

Ahad 25 Maret 2018 19:45 WIB
Hukum Menikahi Saudari Tiri
Hukum Menikahi Saudari Tiri
Ilustrasi (Getty Images)
Sebab seseorang masuk kategori mahram (haram dinikahi) ada tiga: sebab nasab atau hubungan darah, pernikahan (bil mushâharah), dan hubungan sepersusuan. 


Dalam ayat Al-Qur'an, yang secara eksplisit dikatakan sebagai mahram dalam pertalian hubungan tiri adalah anak perempuan tiri yang ibunya sudah disetubuhi oleh suaminya yang baru sebagaimana dalam ayat berikut:
 
وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ

Artinya:“(Diantara wanita yang tidak boleh kalian nikahi) adalah para wanita yang berada di asuhan kalian, putri dari istri kalian, yang kalian telah melakukan hubungan dengannya. Jika kalian belum melakukan hubungan dengan istri kalian (dan sudah kalian ceraikan) maka tidak mengapa kalian menikahi wanita asuhan itu.” (QS. An-Nisa: 23)

Baca: Hukum Bersentuhan dengan Anak Tiri
Kemudian, apakah saudari tiri itu termasuk orang yang haram dinikah? 

Sebagai penjabaran, semua ulama seperti Imam Nawawi (w. 676 H) dalam kitabnya Raudlatuth Thâlibîn, Syekh Zainudin al-Malibari (w. 972 H) dalam Fathul Mu'în, Syekh Sulaiman bin Muhammad dalam al-Bujairimî dan lain sebagainya mengatakan, saudari tiri merupakan orang lain (ajnabiyyah) yakni bukan mahram. Artinya saudari tiri baik dari jalur ayah maupun ibu masing-masing boleh dinikahi karena pertalian pernikahan dalam hubungan tiri tersebut hanya terbatas pada anak tiri kepada ibunya tiri serta sebaliknya pula.

وَعُلِمَ مِمَّا ذُكِرَ أَنَّهَا لَا تَحْرُمُ بِنْتُ زَوْجِ الْأُمِّ وَلَا أُمُّهُ وَلَا بِنْتُ زَوْجِ الْبِنْتِ وَلَا أُمُّهُ وَلَا أُمُّ زَوْجَةِ الْأَبِ وَلَا بِنْتُهَا وَلَا أُمُّ زَوْجَةِ الِابْنِ وَلَا بِنْتُهَا وَلَا زَوْجَةُ الرَّبِيبِ، لِخُرُوجِهِنَّ عَنْ الْمَذْكُورَاتِ

Artinya: "Dan telah diketahui dari uraian tentang hubungan pernikahan tersebut, sesungguhnya tidak haram (laki-laki) menikahi saudari tiri ayah, nenek dari ayah tiri, menikahi cucu tiri dari menantu laki-laki, besan dari menantu laki-laki, nenek dari ibu tiri, saudari tiri dari ibu, besan dari menantu perempuan, cucu tiri dari menantu perempuan dan menantu tiri. Karena mereka keluar dari mahram-mahram yang disebut dalam Al-Quran." (Syekh Sulaiman bin Muhammad, al Bujairimî ala al-Khâtib, Dârul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, cetakan 1, 1996, juz 4, halaman 174).

Kesimpulannya, menikahi saudari tiri hukumnya sah-sah saja. Namun, sebagai konsekuensinya, karena ia halal dinikah, berarti bersentuhan kulit atau bersalaman dengan saudari tiri hukumnya haram. (Ahmad Mundzir)