IMG-LOGO
Shalat

Hakikat Bersujud kepada Allah

Ahad 24 Juni 2018 14:0 WIB
Hakikat Bersujud kepada Allah
Ilustrasi (ist)
Al-Quran menggunakan kata sujud untuk berbagai arti. Sekali diartikan sebagai penghormatan dan pengakuan akan  kelebihan pihak lain, seperti sujudnya malaikat kepada Adam pada Al-Quran surat Al-Baqarah (2): 34.

Di waktu lain sujud berarti kesadaran terhadap kekhilafan serta pengakuan kebenaran yang disampaikan pihak lain, itulah arti sujud di dalam firman-Nya, Lalu para penyihir itu tersungkur dengan bersujud (QS. Thaha [20]: 70).

Yang ketiga sujud berarti mengikuti maupun menyesuaikan diri dengan ketetapan Allah yang berkaitan dengan alam raya ini, yang secara salah kaprah dan populer sering dinama hukum-hukum alam. Bintang dan pohon keduanya bersujud (QS. Al-Rahman [55]: 6).

Dari sunnatullah diketahui bahwa kemenangan hanya tercapai dengan kesungguhan dan perjuangan. Kekalahan diderita karena kelengahan dan pengabaian disiplin, dan sukses diraih dengan perencanaan dan kerja keras, dan sebagainya, sehingga seseorang tidak disebut bersujud, apabila tidak mengindahkan hal-hal tersebut.

Kata sujud sangat terkait dengan istilah masjid. Itu karena dari segi bahasa, kata masjid terambil dari akar kata sajada-sujud, yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan ta’dzim. (Muhammad Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, Mizan, 2000).

Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang kemudian dinamai sujud oleh syariat, adalah bentuk lahiriah yang paling nyata dari makna-makna di atas. Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan untuk melaksanakan shalat dinamakan masjid, yang artinya tempat bersujud.

Namun, selain tempat bersujud, Al-Qur’an menyebut fungsi masjid antara lain di dalam Firman-Nya:

“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak (pula) oleh jual-beli, atau aktivitas apapun dan mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS An-Nur: 36-37)

Perintah bertasbih bukan hanya berarti mengucapkan Subhanallah, melainkan lebih luas lagi, sesuai dengan makna yang dicakup oleh kata tersebut beserta konteksnya. Sedangkan arti dan konteks-konteks tersebut dapat disimpulkan dengan kata takwa. 

Sedangkan takwa sendiri tidak hanya diwujudkan dalam hablum minallah (hubungan dengan Allah), tetapi juga hablum minannas (hubungan sesama manusia) serta hablum minal alam (hubungan dengan alam/lingkungan). Dalam hal ini, masjid hendaknya menjadi titik tolak perubahan ke arah masyarakat yang berkeadilan di segala lini. (Fathoni)
Jumat 22 Juni 2018 15:0 WIB
Memahami Hakikat Fungsi Masjid
Memahami Hakikat Fungsi Masjid
Ilustrasi masjid (Dok. NU Online)
 Masyarakat menyebut masjid adalah rumah Allah SWT yang difungsikan untuk menunaikan shalat. Selain itu, biasanya masjid juga dimanfaatkan untuk proses belajar dan mengajar keagamaan atau ngaji. Namun demikian, banyak hal yang bisa direalisasikan melalui masjid untuk tujuan kemaslahatan umat secara luas.

Hal tersebut menunjukkan bahwa selain dapat menegakkan agama Allah SWT, masjid juga dapat digunakan untuk mewujudkan kesejahteraan dan ketertiban sosial melalui dakwah-dakwah keagamaan. Jika di Indonesia terdiri dari masyarakat yang majemuk, maka masjid hendaklah mendakwahkan kesejukan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an menyebut fungsi masjid antara lain di dalam Firman-Nya:

“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak (pula) oleh jual-beli, atau aktivitas apapun dan mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS An-Nur: 36-37)

Perintah bertasbih bukan hanya berarti mengucapkan Subhanallah, melainkan lebih luas lagi, sesuai dengan makna yang dicakup oleh kata tersebut beserta konteksnya. Sedangkan arti dan konteks-konteks tersebut dapat disimpulkan dengan kata takwa. 

Sedangkan takwa sendiri tidak hanya diwujudkan dalam hablum minallah (hubungan dengan Allah), tetapi juga hablum minannas (hubungan sesama manusia) serta hablum minal alam (hubungan dengan alam/lingkungan). Dalam hal ini, masjid hendaknya menjadi titik tolak perubahan ke arah masyarakat yang berkeadilan di segala lini.

Terkait hakikat fungsi masjid ini, Pakar Tafsir Al-Qur’an Prof Dr Muhammad Quraish Shihab dalam buku karyanya Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan, 2000) menguraikan, kata masjid terulang sebanyak 28 (dua puluh delapan) kali di dalam Al-Qur’an. Dari segi bahasa, kata masjid terambil dari akar kata sajada-sujud, yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan ta’dzim.

Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang kemudian dinamai sujud oleh syariat, adalah bentuk lahiriah yang paling nyata dari makna-makna di atas. Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan untuk melaksanakan shalat dinamakan masjid, yang artinya "tempat bersujud."

Dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat shalat kaum Muslim. Tetapi, karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakikat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah semata. Karena itu Al-Qur’an sural Al-Jin ayat 18, misalnya, menegaskan bahwa:

“Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, karena janganlah menyembah selain Allah sesuatu pun.” (QS Al-Jin: 18)

Selain itu, Quraish Shihab dalam buku yang sama juga mengemukakan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah dijadikan untukku (dan untuk umatku) bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri.” (HR Bukhari dan Muslim melalui Jabir bin Abdullah)

Jika Rasulullah mengaitkan masjid dengan bumi ini, maka jelas bahwa masjid bukan hanya sekadar tempat sujud dan sarana penyucian. Tidak juga hanya berarti bangunan tempat shalat, atau bahkan bertayamum sebagai cara bersuci pengganti wudhu. Tetapi masjid juga berarti tempat melaksanakan segala aktivitas manusia yang mencerminkan kepatuhan kepada Allah SWT. Wallahu ‘alam bisshowab. (Fathoni)
Kamis 14 Juni 2018 11:0 WIB
Disunnahkan Makan Sebelum Shalat Id
Disunnahkan Makan Sebelum Shalat Id
Ilustrasi (amandasplate.com)
Sebagaimana diketahui bahwa ada beberapa kesunnahan yang dapat dilakukan oleh seorang Muslim ketika berada pada momen hari raya Idul Fitri terlebih ketika hendak melakukan shalat sunnah Id pada hari itu. Di antara kesunnahan-kesunnahan tersebut adalah anjuran untuk makan sebelum pergi menuju tempat shalat Id.

Di antara hadits yang menjadi dasar kesunnahan ini adalah apa yang ditulis oleh Imam Jalaludin As-Suyuthi di dalam kitabnya Al-Jâmi’us Shaghîr yang kemudian banyak disyarahi oleh para ulama di antaranya oleh Al-Munawi.

Baca: Tata Cara Shalat Idul Fitri
Dalam hadits tersebut dituturkan:

كَانَ لَا يَغْدُو يَوْم الْفطر حَتَّى يَأْكُل سبع تمرات

Artinya: “Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak pergi untuk melakukan shalat Idul Fitri sampai beliau memakan tujuh buah kurma.” 

Dalam penjelasan hadits di atas Al-Munawi dalam kitabnya Faidlul Qadîr menuturkan bahwa sebelum Rasulullah pergi menuju tempat shalat Id beliau terlebih dahulu memakan tujuh butir kurma di rumah. Menurutya hal ini dilakukan oleh Rasul untuk memaklumkan  telah dihapusnya keharaman berbuka sebelum dilakukannya shalat Idul Fitri. Sebelumnya berbuka sebelum dilakukannya shalat Idul Fitri sempat diharamkan pada masa-masa awal Islam.

Dipilihnya kurma sebagai makanan yang dikonsumsi sebelum pergi menuju tempat shalat Id rasa manisnya yangdapat menguatkan pandangan setelah sebelumnya pandangan itu dilemahkan oleh puasa selama satu bulan dan juga dapat melembutkan hati.

Karenanya para ulama mengatakan disunnahkannya memakan kurma. Apabila tidak mudah mendapatkan kurma maka dapat diganti dengan makanan manis lainnya. Apabila sebelum keluar rumah tidak sempat untuk berbuka terlebih dahulu maka disunnahkan untuk melakukannya ketika dalam perjalanan atau setelah sampai di tempat shalat bila memungkinkan. Makruh hukumnya meninggalkan kesunnahan ini sebagaimana ditetapkan Imam Syafi’i di dalam Al-Umm. Perlu diketahui juga bahwa dalam hal ini minum dihukumi sama dengan makan. 

Lebih lanjut Al-Munawi juga menuturkan bahwa adanya Rasulullah memakan tujuh butir kurma adalah karena kecintaan beliau kepada bilangan yang ganjil dalam segala urusan (Al-Munawi, Faidlul Qadîr, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2012, jilid I, halaman 239). 

Dari sini dapat kita ambil satu kesimpulan bahwa yang dianggap sebagai kesunnahan adalah bilangan ganjilnya, bukan jumlah tujuhnya. Karenanya termasuk melakukan kesunnahan juga bila sebelum pergi ke tempat shalat Idul Fitri makan dengan bilangan ganjil tiga atau lima misalnya.

Hal ini bisa kita simpulkan dari adanya hadits lain yang serupa di mana tidak menyebutkan bilangan tujuh namun menyebutkan bilangan ganjil. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan dikutip oleh At-Tabrizi (Muhammad bin Abdullah At-Tabrizi, Misykâtul Mashâbîh, Beirut, Al-Maktab Al-Islami, 1979), juz I, halaman  451):

كانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يغدو يومَ الفِطْرِ حتى يأكلَ تَمَرَاتٍ، ويأكُلُهنَّ وِترًا

Artinya: “Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallama tidak pergi untuk melaksanakan shalat Idul Fitri sampai beliau memakan beberapa butir kurma. Beliau memakannya ganjil.”

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Senin 7 Mei 2018 18:30 WIB
Anjuran Mengqadha ketika Tak Sempat Menjawab Adzan
Anjuran Mengqadha ketika Tak Sempat Menjawab Adzan
Ilustrasi (© Antara)
Menjawab adzan merupakan amalan yang begitu dianjurkan, sebagaimana hadits yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari: dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anh: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا

“Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali diundi, niscaya mereka melakukannya.” (HR. Bukhari)

Imam al-Ghazali mengatakan dalam kitab Bidâyatul Hidâyah:

فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الدُّعَاءِ فَلَا تَشْتَغِلْ إِلَى وَقْتِ الْفَرْضِ إِلَّا بِفِكْرٍ أَوْ تَسْبِيْحٍ أَوْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ. فَإِذَا سَمِعْتَ الْأَذَانَ فِي أَثْنَاءِ ذَالِكَ فَاقْطَعْ مَا أَنْتَ فِيْهِ وَاشْتَغِلْ بِجَوَابِ الْمُؤَذِّنِ.

“Apabila engkau telah selesai membaca doa (masuk masjid), maka jangan menyibukan diri di waktu menuju shalat fardu kecuali dengan tafakkur, bertasbih, atau membaca Al-Qur’an. Apabila engkau mendengar adzan di tengah-tengah pekerjaan di atas, maka hentikanlah pekerjaanmu dan sibukan dirimu dengan menjawab muadzdzin (pelantun adzan).” (Imam al-Ghazali, Bidâyatul Hidâyah, 1998, Beirut, Dar Sader, cetakan pertama, halaman 52)

Baca juga: Mana Lebih Utama, Baca Al-Quran atau Jawab Adzan?
Dengan penjelasan Imam al-Ghazali, kita dapat mengetahui aktivitas yang dianjurkan menjelang shalat fardhu. Dan aktivitas tersebut tak lain sebagai sarana untuk memusatkan pikiran kita pada Allah ﷻ di kala waktu shalat. Karena di waktu shalat pikiran kita seringkali terbang memikirkan sesuatu di luar shalat. 

Kemudian membaca doa adzan:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِنْدَ حُضُوْرِ صَلَاتِكَ وَأَصْوَاتِ دُعَاتِكَ، وَإِدْبَارِ لَيْلِكَ، وَإقْبَالِ نَهَارِكَ: أَنْ تُؤْتِيَ مُحَمَّدًا اَلْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ الْمَقَامَ الْمَحْمُوْدَ الَّذِي وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“Ya Allah, aku meminta kepadaMu saat saat datang waktu shalat, datang suara panggilanMu, saat meninggalkan malamMu, dan menyambut siangMu: untuk memberi nabi Muhammad wasilah, kebajikan dan derajat yang tinggi dan limpahkanlah kepadanya tempat yang terpuji, yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak mengingkari janji. Wahai Yang Maha Penyayang Yang penuh belas kasihan.” (Imam al-Ghazali, Bidâyatul Hidâyah, 1998, Beirut, Dar Sader, halaman 53)

Baca juga: Rangkaian Amalan dan Doa Sesudah Adzan dan Iqamah
Kendati demikian, tentu pernah kita mengalami momen tak sempat menjawab adzan yang sedang berkumandang. Lantas bagaimana jika kita luput dari menjawab adzan, Imam al-Ghazali mengatakan dalam Bidâyatul Hidayâh:

 فَإِذَا سَمِعْتَ الْأذَانَ وَأَنْتَ فِي الصَّلَاةِ فَتَمِّمِ الصَّلَاةَ، ثُمَّ تَدَارَكِ الْجَوَابَ بَعْدَ السَّلاَمِ عَلَى وَجْهِهِ

“Apabila engkau mendengar adzan, sedangkan engkau sedang shalat, maka selesaikanlah shalat, kemudian susulah jawaban adzan setelah salam. (Imam al-Ghazali, Bidâyatul Hidâyah, Beirut, Dar Sader, halaman 53)

Imam al-Ghazali menjelaskan jika kita sedang shalat dan ketika itu pasti tidak sempat menjawab adzan, maka dianjurkan setelah shalat langsung menjawab adzan yang luput darinya. Begitupun, kita dapat menganalogikan perihal menjawab adzan ini dengan beberapa aktivitas yan memang tidak memungkinkan kita untuk menjawab adzan di saat berkumandang, namun waktu selesai pekerjaan tersebut akan selesai dalam waktu dekat setelah adzan, maka dianjurkan untuk menjawabnya.

Jika kita tak dapat melaksanakan semuanya, maka tidak tepat pula untuk ditinggalkan semuanya. Demikian penjelasan tentang menjawab adzan yang tertinggal, semoga kita selalu diberi taufik untuk memenuhi panggilanNya. (Amien Nurhakim)