IMG-LOGO
Khutbah

Waspada Dua Bahaya di Tahun Politik

Selasa 26 Juni 2018 15:0 WIB
Share:
Waspada Dua Bahaya di Tahun Politik
Khutbah I

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ  أَمَرَنَا بِتَرْك الْمَنَاهِيْ وَفِعْلِ الطَّاعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Pernahkah kita bertekad pada diri sendiri untuk menjadi warga negara yang baik? Jika belum, mari mulai hari ini kita niatkan harapan baik tersebut. Menjadi "warga negara yang baik" lebih dari sekadar menjadi "individu yang baik". Sebab, dengan menjadi warga negara, kita sesungguhnya tak hanya sedang memikirkan kepentingan diri sendiri melainkan juga kepentingan bersama. Dari sinilah, kita beranjak dari cuma menjadi makhluk individual, menjadi makhluk sosial. 

Contoh penerapan menjadi warga negara yang baik bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari: di rumah, jalan raya, masjid, kantor, pasar, media sosial, dan lain sebagainya. Di jalan raya, misalnya, warga negara yang baik tidak akan menerobos lampu merah. Di dunia maya, warga negara yang baik tidak mudah mengumbar kata-kata kebencian atau kabar yang belum jelas kebenarannya. Di masjid, warga negara yang baik lebih suka membangun ukhuwah (persaudaraan) ketimbang memojokkan orang/golongan lain. Mengapa? Karena warga negara yang baik akan selalu memikirkan kepentingan yang luas daripada kepentingan diri sendiri atau kelompoknya sendiri.

Dalam kaidah fiqih disebutkan:

  المتعدّى افضل من القاصر

“Perbuatan yang mencakup kepentingan orang lain, lebih utama ketimbang yang terbatas untuk kepentingan sendiri.” 

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Momen yang sarat dengan hiruk pikuk politik seperti sekarang ini adalah tepat bagi kita untuk menghidupkan kembali kesadaran untuk menjadi warga negara yang baik. Hal tersebut tidak lepas dari kenyataan bahwa politik kerapkali menjerumuskan sebagian orang ke dalam perbuatan tercela (akhlaq madzmûmah): permusuhan, adu domba, fitnah, dengki, riya', risywah (suap), bohong, dan lain sebagainya.

Islam bukan agama yang anti-politik. Bahkan, karena terkait dengan persoalan kepemimpinan, politik menjadi hal yang niscaya. Imam Al-Ghazali mengaitkan pentingnya pemimpin dengan kelestarian agama sebagai berikut:

المُلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ 

“Kekuasaan dan agama merupakan dua saudara kembar. Agama sebagai landasan dan kekuasaan sebagai pengawalnya. Sesuatu yang tidak memiliki landasan pasti akan tumbang. Sedangkan sesuatu yang tidak memiliki pengawal akan tersia-siakan.” (Abu Hamid al-Ghazali, Ihyâ Ulumiddin, tt, Beirut: Darul Ma’rifah, Juz 1, h. 17)

Namun demikian, politik dalam Islam tak pernah menjadi tujuan akhir (ghâyah). Melainkan wasîlah, perantara menuju tercapainya tujuan sebuah negara, yakni kemaslahatan bersama. Negara tak hanya wajib memberi jaminan keamanan dan kebebasan bagi tiap orang untuk beribadah kepada Allah tapi juga mesti punya iktikad sungguh-sungguh menyejahterakan warganya serta menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Dengan bahasa lain, politik sesungguhnya merupakan sesuatu yang baik, atau paling tidak: netral. Hanya saja, ia nama baiknya sering ternoda karena tingkat sebagian elite politik yang tak mengindahkan etika yang digariskan syariat. Dari sinilah, bencana moral lantas meluas ke masyarakat akibat provokasi, mobilisasi, dan politisasi setiap lini oleh kalangan politisi. Masyarakat pun kerap tergiring ke arah tindakan-tindakan yang tak selaras dengan nilai-nilai Islam.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Dalam konteks ini, paling tidak ada tiga bahaya yang perlu diwaspadai saat musim pemilihan umum atau pergantian kekuasaan datang. Pertama, mengorbankan kepentingan bersama untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok secara terbatas.

Fanatisme dukungan yang diberikan kepada calon tertentu acapkali menyeret seseorang hanya berpikir pada lingkup yang sangat sempit. Pembelaan dilakukan secara mati-matian kepada calon yang didukung, sementara di sisi lain permusuhan dialamatkan secara berlebihan kepada lawan politiknya. Situasi inilah yang kadang membuat orang gelap mata untuk melakukan serangan-serangan secara verbal, baik di media sosial ataupun kehidupan sehari-hari, tak hanya kepada sang calon pemimpin tapi juga para pendukungnya. Caci maki, saling hujat, serta kata-kata kotor bertebaran di mana-mana, tanpa ingat bahwa sebelum terlibat dalam politik dukung-mendukung, mereka lebih dulu adalah saudara dalam satu rumah bernama “Indonesia”.

Fanatisme dukungan yang berlebihan membuat banyak orang lupa bahwa masing-masing mereka sedang mengorbankan persatuan dan perdamaian, untuk tujuan jangka pendek politik. Akhlak Islam yang amat menjunjung tinggi persatuan dan perdamaian pun ditinggalkan, demi pilihan politik yang bisa jadi benar bisa jadi salah. Padahal, kerukunan adalah kepentingan bersama, sementara urusan dukung-mendukung adalah soal aspirasi pribadi atau kelompok. Jangan sampai kita terperdaya, sehingga yang terakhir ini lebih prioritas dibanding yang pertama.

Bahaya kedua adalah bersikap tidak adil (objektif) kepada orang lain karena diliputi rasa benci. Kondisi ini lazimnya bermula dari tumbuhnya kebencian berlebihan kepada sesama. Penyakit hati satu ini merupakan dampak dari persepsi negatif kepada seseorang yang terus menumpuk. Opini buruk tentang seorang calon pemimpin yang diterima terus-menerus tanpa klarifikasi, bisa mengubah orang yang semula biasa-biasa saja menjadi amat membenci si calon tersebut. Kebencian yang terus dipupuk akan meningkat statusnya kepada permusuhan. Dimulai dari membenci, kemudian memusuhi. Calon pemimpin yang tak disukai dilihat dalam citra yang selalu negatif. Sebaliknya, calon pemimpin yang didukung dielu-elukan, nyaris tanpa kritik sama sekali.

Situasi semakin parah ketika kebencian meningkat levelnya dari membenci individu kepada membenci kelompok, dari membenci seorang calon pempin kepada membenci semua orang yang mendukungnya. Gontok-gontokkan pun menjadi kian ramai. Masing-masing pendukung menunggu atau mencari-cari kesalahan lawan politik untuk kemudian diserang habis-habisan, sementara kelemahan sang idola tak pernah disinggung—bahkan dicitrakan seolah-olah baik seratus persen.

Padahal, dalam Islam, tak ada manusia yang selalu jahat dan salah seperti setan, sebagaimana tak ada pula manusia yang selalu baik dan benar selayak malaikat. Sebagai manusia, politisi adalah orang-orang yang berpotensi keliru. Bahkan, untuk calon dengan gagasan cemerlang pun, tak ada jaminan pasti bahwa ia selalu mulus dalam melaksanakan program-programnya kelak. Mempunyai pilihan politik berdasarkan kriteria ideal adalah hak dan harus, tapi memutlakkan manusia-manusia politik itu sebagai “setan” yang mesti dibenci setengah mati adalah tak masuk di akal. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

"Cintailah idolamu sewajarnya, karena boleh jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR Tirmidzi)

Hadits tersebut memberi pesan bahwa kondisi manusia sejatinya sangat dinamis. Karena itu kita diperintahkan untuk berlaku sedang-sedang saja. Pilihan dukungan ditetapkan dengan kepala jernih, dan energi yang dikerahkan untuk mendukung pun mesti dilaksanakan dengan bijaksana. Dengan sikap politik yang proporsional seperti ini, kita bisa lebih tenang menghadapi persaingan politik, termasuk dengan saudara-sadara kita yang berpeda pilihan.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,

Firman Allah ﷻ yang penting kita renungkan bersama dalam hal ini adalah ayat 8 Surat al-Maidah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Maa’idah: 8)

Kitab Tafsîr Jalâlain menjelaskan bahwa kata “kaum” dalam ayat tersebut adalah mengacu pada orang-orang kafir. Artinya, ayat tersebut melarang kaum mukmin gelap mata akibat kebencian sehingga berlaku tidak adil kepada kaum kafir. Secara sederhana bisa dianalogikan bahwa bila kepada orang kafir saja, Islam memerintahkan kita berbuat adil, apalagi kepada sesama umat Islam, dan apalagi sesama anak bangsa. Wallahu a’lam.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْن وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ


Alif Budi Luhur

Tags:
Share:
Kamis 14 Juni 2018 23:15 WIB
Khutbah Idul Fitri: Mewujudkan Rasa Kasih Sayang
Khutbah Idul Fitri: Mewujudkan Rasa Kasih Sayang
Ilustrasi (pratidintime.com)
Khutbah I

الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ
الله ُأَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ، لاَإِلهَ إِلاَّالله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلهَ إِلاَّالله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ. الحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِياَفَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّالله ُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ االداَّعِيْ إِلىَ الصِّراَطِ المُسْتَقِيْمِ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَماَّ بَعْدُ
فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِناَتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا الله َحَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin jamaah shalat ied yang mulia

Pada hari ini kita ditakdirkan oleh Allah untuk memasuki hari Idul Fitri sebagai tanda berakhirnya puasa Ramadhan tahun ini. Dengan tambahan umur yang diberikan Allah kepada kita, kita bisa berbahagia hari ini, karena tidak ada kebahagiaan yang lebih indah daripada dzikir, bertakbir dan bertahmid menonorsatukan Allah. 

Semoga takbir kita hari ini terus bergema dalam kalbu kita sampai kita memasuki liang kubur dan seterusnya. Kita sekarang masih berada di dunia, atau tepatnya kita berada di atas bumi Indonesia tempat kita bersujud dan menyemai amal saleh. Bahwa manusia yang terbaik menurut Allah ialah yang paling banyak bermanfaat, berbuat baik bagi orang lain. Tapi kita butuhhati yang bersih, karena hati yang bersih itu tempat tumbuh suburnya iman, cinta, jauh dari kebencian dan rasa permusuhan. 

Jadi, kalau kita berpikir jernih kita akan semakin rendah hati untuk mengakui orang-orang yang berjasa mengupayakan kebutuhan kita, kemudian merasa berutang budi dan berterima kasih kepada mereka. Dari kejernihan pikiran seperti itu akan muncul penghargaan untuk memuliakan manusia, bahwa manusia akan hidup dalam pergaulan yang sempurna kalau bisa menghargai jasa orang lain kepada dirinya. Meskipun jasa itu kecil, misalnya jasa pembuat garam. Kebutuhan kita terhadap garam dalam sehari sedikit sekali, tapi makan dengan lauk (ikan) yang tidak ada garamnya akan hambar. Pertanyaannya, pernahkah di dalam hati kita ada rasa terima kasih kepada pembuat garam, kepada pengilang tebu, pembuat lampu listrik, pembuat telepon, sampai pembuat jarum jahit yang kecil sehingga membuat kita bisa berpakaian dan enak dipandang?

Hati yang damai akan diperoleh dengan mengakui kebesaran Allah serta banyak berdzikir kepada Allah. Upaya berdamai dengan Allah melalui shalat, dzikir, shalawat, baca Al Quran dan lain-lain akan mempengaruhi jiwa untuk berdamai dengan seluruh manusia. Apalagi ada pesan dari Allah, "Orang-orang beriman itu bersaudara. "

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ 

Jadi, kalau seseorang benar-benar beriman dan berdzikir, buahnya ia tidak akan membuat penganiayaan, kekejaman, dan kekerasan yang melukai hati dan fisik manusia yang lain. Pantaskah seseorang mengaku "saya beriman," kalau masih senang melakukan kezaliman dan kekerasan, baik kekerasan dalam rumah tangga seperti menempeleng istri, melukai tubuh anak, maupun kekerasan di luar rumah tangga berupa kerusuhan, penjarahan, randu domba dan lain-lain yang merusak tatanan kehidupan?

Setiap manusia beriman dan bertakwa punya tugas menunjukkan dirinya sebagai manusia "Khalifatullah," yaitu manusia yang berakhlak, kreatif, dan selalu tampil untuk menyenangkan orang lain dalam pergaulan. Untuk itu diperlukan tatakrama bergaul yang indah. Misalnya, dalam berbicara mengupayakan dirinya menggunakan kata-kata yang sopan serta menyenangkan orang yang mendengarnya, serta berupaya menghindari kata-kata kotor yang menyakitkan. Setiap kata-kata kotor diucapkan itu melambangkan hati orang yang mengucapkannya juga kotor. Akibatnya komunikasi dan pergaulan akan terganggu sehingga suasana damai dan rukun tidak akan terjadi. 

Itulah perlunya rasa "ukhuwah," yaitu rasa persaudaraan yang tulus. Dalam persaudaraan yang tulus, setiap manusia akan berupaya untuk menolong, membantu, dan membahagiakan orang lain. Karena itu, setiap insan beriman punya tugas untuk berintrospeksi, apakah cara berkomunikasi dan cara bergaulnya bisa menyenangkan orang lain? Jika tidak, berarti kita harus semakin meningkatkan rasa taqarrub kita kepada Allah, sampai hati ini bersih dari dendam, egois, merasa benar sendiri, sombong, takabbur, yang membuat komunikasi kita dengan orang lain menjadi gagal. Dan jika kita gagal berkomunikasi secara baik, bisa mungkin gagal sebagai manusia karena hati tidak ikhlas. Itulah pentingnya akhlak yang mulia dan hati yang tulus ikhlas. 

Kebersamaan itu menjadi sesuatu yang sangat berharga dalam hidup, berbangsa dan bernegara karena manusia tidak akan bisa menyelesaikan masalah besar tanpa kebersamaan. Dalam kebersamaan, peran orang lain sangat dihargai. Orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri itu disebut "egois," yaitu sikap anti sosial. Orang yang seperti itu tidak akan bisa hidup dengan pergaulan yang baik. 

Kebersamaan dan kerendahan hati akan menjadi dasar utama setelah iman kepada Allah. 

Disebut dalam Al-Qur'an bahwa diutusnya Nabi Muhammad ke dunia ini sebagai "rahmat" bagi alam semesta. Rahmat adalah bentuk dari kasih sayang Allah kepada manusia, sebagai anugerah untuk menenteramkan dan membahagiakan manusia. Karena itu, manusia yang berakal sehat pasti tidak akan menyia-nyiakan agama dan ajaran agama kalau dirinya benar-benar menghendaki kebahagiaan yang hakiki terutama kelak di alam akhirat. 

Dalam persaudaraan kemanusiaan yang tumbuh dari Iman kepada Allah, kita diajar oleh Rasulullah ﷺ berpuasa di bulan Ramadhan untuk merasakan lapar seperti laparnya Rasulullah, dan kita haus seperti hausnya Rasulullah dalam puasa Ramadhan, agar kita punya apresiasi terhadap kemiskinan, yang harus dikembangkan menjadi simpati dan empati kepada kaum miskin dan fuqaha yang hidup merana di dalam lembah penderitaan. 

Rasulullah ﷺ bersabda ;

 لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه

“Tidak beriman seorang di antara kalian sehingga kamu mencintai apa untuk saudaranya sebagaimana mencintai untuk dirinya sendiri.” 

Sebagai tanda kepatuhan kita kepada Allah dan kecintaan pada sunnah Rasulullah kita tunaikan zakat dan zedekah agar kaum miskin bisa terentas dari penderitaan. Tak kalah pentingnya ialah sarana pembangunan untuk kemaslahatan ummat. 

Dari sabda Nabi di atas, dengan kepercayaan dalam hati saja tidaklah cukup untuk membuktikan iman seseorang, kecuali apa yang diyakini itu melahirkan tindakan-tindakan positif yang menjadi bentuk nyata dari nilai-nilai yang diajarkan Allah. Segala ilmu agama yang kita serap dari kitab agama, pengajian, khutbah, dan lain-lain, telah cukup sebagai modal untuk menjadi manusia yang bernilai setingkat malaikat. Akan tetapi apabila konsep-konsep ideal itu tidak sampai lahir sebagai amal perbuatan, maka konsep-konsep itu yang akan menghina dan menertawakan diri sendiri karena sebagai pelaku hidup dan sebagai pemilik ilmu, diri ini tak lebih dari kuda yang mampu membawa dan mengangkat beratus kitab dan teori, tetapi tidak pernah mencoba untuk merealisasikan isi buku yang dibawa dan diangkatnya. 

Kita harus membudayakan akal sehat, hidup rukun dengan hati damai dan bersih, tanpa kebencian dan permusuhan. Kebencian dan permusuhan tak pantas dimiliki oleh orang yang beriman dan ingin hidup dalam ketaqwaan. 

Maka tidaklah mustahil kalau sesekali kita temukan orang yang begitu fasihnya menyampaikan teori-teori kemuliaan hidup tetapi dalam praktek suka makan daging bangsanya sendiri atau orang yang sangat terampil mengakrobat kata-kata indah tentang agama dan budi luhur tetapi dalam kenyataan hidup sehari-hari suka merugikan orang lain. 

Dari sini perlu dipahami bahwa agama itu bukan sekedar ilmu, bukan angan-angan (masuk surga), bukan kalimat-kalimat indah, tetapi kenyataan gerak, praktek, prilaku, atau tindakan yang jelas-jelas realistic berguna bagi orang lain, untuk bangsa dan Negara. 

Allah mengingatkan

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ 

“Takutlah pada suatu hari kamu kembali kepada Allah (mati) kemudian dipertemukan dengan setiap orang dengan apa yang telah diperbuat (di dunia) dan mereka tidak ada yang teraniaya.”

Ayat di atas menjelaskan bahwa kita akan mati; kita akan dipertemukan dengan amal baik atau dengan amal jelek kita. Siapa banyak berbuat baik (amal saleh) di dunia akan menuai kebahagiaan yang bernama sorga, dan siapa yang melakukan maksiat akan bertemu amal buruknya di neraka. Allahu Akbar. 

Kita semua akan meninggalkan dunia ini. Satu saat kita akan dikuburkan. Hanyalah Iman dan takwa yang akan kita bawa menghadap Allah. 

Maka hari Raya sekarang ini kita berjanji kepada diri kita sendiri, bahwa sisa umur kita akan kita pergunakan untuk mengabdi kepada Allah untuk beramal saleh serta berbuat yang terbaik untuk Bangsa dan Tanah air. Semoga kita masih diperkenankan Allah untuk bertemu dengan bulan ramadhan tahun depan. Amin

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ،  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 
 أستغفرالله العظيم لى ولكم فيا فوز المستغفرين ويانجا ة التائبين
جَعَلَناَ الله ُوَإِياَّكُمْ مِنَ العاَئِدِيْنَ وَالفَآئِزِيْنَ وَأَدْخَلَناَ وَاِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِباَدِهِ المُتَّقِيْنَ. قَالَ تَعَالَى فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ اليُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ العُسْرَ وَلِتُكْمِلُوْاالعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوْاالله َعَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ 
بَارَكَ الله ُلِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنيِْ وَاِيّاَكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ 
 
Khutbah II

الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ. الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْرًا كَماَ أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحَ الغُرَرِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ السَّيِّآتِ. وَاعْلَمُوْآ أَنَّ الله َأَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى فِيْ كِتاَبِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ باِلله ِمِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْآالله َاِلَى مَادَعَاكُمْ وَصَلُّوْآ وَسَلِّمُوْأ عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الراَحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُرْأُمَّةَ سَيِّّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكاَمُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ ياَ حَيُّ ياَ قَيُّوْمُ. يآاِلهَناَ وَإِلهَ كُلِّ شَيْئٍ. هَذَا حَالُناَ ياَالله ُلاَيَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنّاَ الغَلآءَ وَالبَلآءَ وَالوَبآءَ وَالفَحْشآءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالِمحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهَا وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ هَذاَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً ياَ رَبَّ العَالمَيِْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةِ وَالرَّافِضَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّناَ آتِناَ فِيْ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العاَلمَيِنَ


KH D Zawawi Imron 
(Disampaikan pada Khutbah Idul Fitri 1439 H di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya)


Baca juga:
    - Khutbah Idul Fitri: Pembentukan Jati Diri Pasca-Ramadhan
    - Khutbah Idul Fitri: Islam dan Tantangan Konsumerisme di Dunia Global
    - Khutbah Idul Fitri: Keseimbangan antara Kehambaan dan Kekhalifahan
    - Khutbah Idul Fitri: Tiga Manifestasi Syukur Sambut Hari Kemenangan
    - Khutbah Idul Fitri: Cara Orang Cerdas Berhari Raya
    - Khutbah Idul Fitri: Tiga Ciri Sukses Ramadhan di Momen Lebaran

Kamis 14 Juni 2018 14:15 WIB
Khutbah Idul Fitri: Mari Perkuat Persaudaraan dan Perdamaian!
Khutbah Idul Fitri: Mari Perkuat Persaudaraan dan Perdamaian!
Ilustrasi (© shutterstock)
Khutbah I

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبركبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا. لا اله الا الله والله اكبر. الله اكبر ولله الحمد 

الحمد لله أَنْعَمَنَا بِخَتْمِ رَمَضَان الكَرام، وأَعَادَ عَلينا بعِيدِ الفِطْرِ العظام، اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له، شها دة تنجي قا ئلها من عذاب اخر الايام. 

واشهد ان محمدا عبده ورسوله، الذي نال رسول الختام. 
اللهم صل وسلم وبا رك على سيدنا محمد حاء الرحمة وميم الملك ودال الدوام، وعلى اله وصحبه وسلم. 
الله اكبر الله اكبر ولله الحمد. 

فيا معاشر المسلمين رحمكم الله، اتقو الله واعلموا ان يومكم هذا يوم عيد وسرور. 

Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah,

Marilah dalam kesempatan mengawali bulan Syawal 1439 H/2018 M ini, kita bersama-sama meningkatkan takwa kita kepada Allah ﷻ dengan senantiasa melaksanakan segala perintahnya dan berusaha secara maksimal meninggalkan segala larangan-Nya. Dengan bekal takwa inilah, semoga kelak kita menjadi penghuni surga, amin ya rabbal ‘alamin. 

Rasa sedih pagi ini kita sangat terasa dengan perginya bulan Ramadhan. Begitu pula rasa bahagia itu hadir karena Allah masih memberikan kita umur panjang sehingga mampu menyelesaikan ibadah selama Ramadhan hingga menjumpai malam lailatul qadr. Hadirnya bulan Syawal kali ini tentunya menjadi sebuah renungan bagi kita agar semangat ibadah Ramadhan tidak hilang. 

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar,

Suasana kebatinan setiap kali Syawal hadir adalah kegembiraan, kebersamaan, kekeluargaan dan kepedulian. Empat hal itu menyatu menjadi pelajaran kehidupan sosial yang secara otomatis hadir saat Ramadhan meninggalkan kita semua. Sebab Idul Fitri kali ini menjadi identitas kemenangan umat Islam setelah berhasil lulus dari ujian pengekangan hawa nafsu. 

Maka wajar sekali jika umat Islam merasa bergembira. Setelah itu, umat Islam menjalin kebersamaan dalam suasana kefitrian atau kesucian diri dan kemudian berkumpul bersama keluarga. Di situlah lahir suasana kekeluargaan yang sangat akrab. Berdasar pada pola semangat beridul fitri juga lahir jiwa kepedulian karena sebelumnya umat Islam diwajibkan menunaikan zakat fitrah—sebagai amalan kepedulian sosial. 

Allah ﷻ telah memberikan peringatan yang cukup tegas dalam Surat al-Hujurat ayat 10, sebagaimana berikut:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (QS Al Hujurat: 10)

Dalam Tafsir Fathul Qadir, Imam Asy Syaukani menjelaskan bahwa ayat ini menjadi penegasan pentingnya hidup damai yang dititikberatkan pada asal usul keimanan. Jika pun ada perselisihan, maka harus dicari solusi terbaik mendamaikan keduanya. Jangan sampai ada darah yang mengalir atau pembunuhan, sebab orang Islam membunuh orang Islam itu dihukumi kafir. 

Imam Fahruddin Ar Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib juga memberikan penjelasan bahwa ayat di atas sebagai penyempurna atas petunjuk kehidupan damai. Yang paling utama dalam hidup adalah persaudaraan, bukan dengan saling membunuh dan perang. Sebab awal mula dari perang adalah fitnah dan tidak saling memahami perbedaan. Maka kehidupan damai itu menjadi sebuah jalan hidup yang paling baik. 

Untuk dapat meraih persaudaraan dan perdamaian, dibutuhkan jiwa takwa. Melatih takwa selama bulan Ramadhan kemarin seakan sangat mudah. Dan hari ini tugas kita ditinggal Ramadhan adalah dengan tetap mempertahankan pola hidup penuh takwa itu. 

Dalam kitab Taisirul Khallaq fi Ilmil Akhlaq disebutkan ada empat hal yang dapat menjadikan landasan hidup takwa: menjadi hamba Allah yang tidak sombong, menetapkan ihsandalam kehidupan, mengingat kematian dan selalu beramal baik. Maka bagi orang yang bertakwa sangat mudah baginya berbagi kasih sayang dan menebar rasa persaudaraan. 

Buah dari takwa, di dunia akan menjadi hamba Allah yang menerima ketetapan Allah, selalu mengingat Allah, berjiwa baik dan berusaha memanusiakan manusia dengan kasih sayang. Sebab takwa yang dimilikinya akan mudah mendorong memuliakan anak kecil dan menghormati orang dewasa. Bekal takwa juga ikut mengetahui posisinya sebagai orang yang berakal (‘aqil) yang harus mengedepankan kebaikan dan kebijaksanaan.

Sedangkan buah dari takwa di akhirat kelak akan selamat dari siksa api neraka dan bahagia hidup di surga dengan penuh kemuliaan, sebagaimana firman Allah ﷻ Surat An Nahl ayat 128:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَالَّذِينَ هُم مُحْسِنُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS an-Nahl: 128)

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar,

Hikmah dari hari raya Idul Fitri ini tentunya dapat dijadikan sebuah ‘ibrah bersama tentang pentingnya persaudaraan. Saat takbir berkumandang, manusia sadar betul bahwa dirinya tidak berdaya. Manusia mengakui bahwa dirinya maha kecil dan hanya Allah yang Maha Besar. Takbir dapat menghapus kesombongan dan keangkuhan manusia. 

Ketika kesombongan dan keangkuhan itu hilang, maka sangat mudah untuk saling bermaaf-maafan yang ditujukan untuk menguatkan rasa cinta dan saling bersaudara. Semua saling ikhlas berjabat tangan dan memaafkan. Kalau itu dapat dipertahankan, maka kesucian Ramadhan itu akan tetap terjaga dengan baik. 

Jika dihayati secara baik, ada dua pesan Rasulullah ﷻ kepada Sayyidina Ali karramallahu wajhah saat bulan suci Ramadhan dan Syawal sebagaimana termaktub dalam kitab Washiyyatul Musthafa:

Pertama, saat Ramadhan Nabi meminta agar bepuasa dengan meninggalkan semua keharamannya. Hasilnya adalah surga. Dan kedua, ketika memasuki bulan Syawal, disunnahkan berpuasa enam hari sebagai ibadah terusan Ramadhan. Dan hasil dari pahalanya sama dengan puasa selama satu tahun. 

Dua nasihat Rasulullah ﷻ itu mengandung empat makna yang dapat kita jalankan selama hidup:

Pertama, menghormati bulan suci Ramadhan dengan amalan shalih. Kedua, tetap menjaga kesucian bulan Syawal dengan puasa sunnah. Ketiga, selalu beramal shalih setiap saat. Dan keempat, tidak merubah pola hidup di luar bulan Ramadhan. 

Di antara amalan-amalan yang perlu dipertahankan setelah Ramadhan adalah menjaga persaudaraan yang oleh masyarakat Indonesia disebut dengan silaturahim. Banyak ragam acara yang bisa memperkuat tali silaturahim, misalnya: mudik (pulang kampung), berkunjung ke rumah keluarga, halal bi halal, reuni, sedekah, selametan, dan lain-lain. 

Pentingnya silaturahim ini diabadikan oleh Rasulullah ﷻ dalah haditsnya:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
وَمَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ والْيوم الآخِر فَلْيصلْ رَحِمَهُ
وَمَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ والْيوم الآخِر فليقل خيراً أوْ لِيَصْمُتْ

Dari hadits itu dapat diambil pelajaran bahwa untuk menjadi hamba Allah yang beriman membutuhkan tiga komitmen hidup: menghormati keluarga, menyambung tali silaturrahim dan selalu berbicara baik (atau lebih baik diam). 

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar

Dalam rangka menguatkan hidup saling bersaudara, Islam mengingatkan sebuah metode kehidupan sosial dengan menghormati lingkar masyarakat terdekat, yaitu tetangga. Jika bulan Syawal seperti ini, sudah tentu meminta maaf dan saling memberi maaf terpenting adalah kepada tetangga. Kemudian dilanjutkan dengan menyambung persaudaraan kepada semua lapisan masyarakat. 

Dan indahnya, pesan Rasulullah ﷻ ditambahkan dengan perlunya menjaga lisan agar selalu bertutur kata yang baik, agar tidak membuat orang lain sakit hati. Ini senada dengan sebuah pesan akhlaq:

سَلَامَةُ اْلإنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ

Artinya: “Keselamatan seseorang itu ada pada lisannya”

Maka doa Nabi Ibrahim meminta pada Allah agar terjaga dari tutur kata yang baik—agar membuat orang semakin hidup sempurna, sebagai berikut:

وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

Artinya: “Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. Asy Syu’ara’: 84)

Begitu pentingnya lisan manusia sebagai modal penguatan persaudaraan. Dan hari ini lisan tidak hanya dimaknai mulut manusia saja, tetapi bisa luas menjadi informasi media sosial. Jangan sampai membuat/ menyebarkan berita hoaks karena itu juga bagian dari kejahatan lisan. 

Dan jangan sampai umat Islam menjadi agen pemutus tali persaudaraan yang secara tegas dilarang oleh Rasulullah ﷻ. Penegasan bahaya memutus silaturahim ini juga ditulis oleh Syaikh Zainuddin Al Malibari dalam kitab Irsyadul ‘Ibad

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar

Di akhir khutbah ini, perlu kita renungkan dua ayat yang menjadi penanda penyambutan ‘idul fitri, yakni:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman). Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang (hari raya)” (QS. Al A’la: 14 – 15)

Allah ﷻ memberikan dorongan kepada umat Islam agar selalu mengingat kebesaran Allah dengan bertakbir khusus menyambut ‘idul fitri dan ‘idul adha. Orang bisa merasakan hakikat takbir jika sudah mendapat hidayah dari Allah—sebagaimana penjelasan Ibnu Jarir At-Thabari dalam Tafir Jami’ul Bayan. 

Di sisi lain, hari raya umat Islam juga disambut dengan shalat ‘id yang didahului dengan membersihkan diri dari perbuatan tercela, mengikuti Nabi Muhammad dan melaksanakan zakat harta—sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’anil Adzim. 

Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah,

Berbekal intisari dari kalimat takbir dan amal baik inilah, penguatan hidup dengan saling bersaudara akan mudah terwujud. Indonesia hari ini butuh persaudaraan sejati yang dimulai dari lingkup tetangga hingga bernegara. Dunia juga butuh persaudaraan dan perdamaian. 

Umat Islam perlu menjadi duta-duta damai setelah sukses dari ujian Ramadhan. Bulan Syawal juga menjadi waktu yang tepat untuk mengawali perbaikan diri kita agar semakin bertakwa dan baik terhadap sesama manusia. Amin. 

Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah,

Demikian khutbah singkat ini kami sampaikan. Dengan semangat ‘idul fitri, mari kita tetap teguhkan bahwa hari-hari kita tetap terasa keramadhanannya. Dan mari kita isi, 11 bulan ke depan dengan empat hal: rajin bershadaqah, rajib berpuasa sunnah, selalu berbuat baik dan cinta bangsa dengan kerukunan dan persatuan. 

جَعَلَنَا اللهُ وَإيَّاكُم مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ وَالمَقْبُوْلِيْنَ كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ آمين

أعُوذُ بالله من الشيطانِ الرَّجِيم
وسارعوا الى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والارض اعدت للمتقين
وقل رب اغفر وارحم وانت خير راحمين


Khutbah II

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا اله الا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

الحمد لله الذى وحده صدق وعده واعز جنده وهزم الاحزاب وعده ولا حول ولا قوة الا بالله. اللهم فصل وسلم على سيدنا محمد صاحب كنز الرحمة وعلى آله وصحبه ومن والاه. 
اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدا رسول الله. 
 اما بعده،

 فيا ايها الحاضرون اتقوا الله، اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون. 
 قال الله تعالى فى كتابه الكريم والعصر ان الانسان لفى خسر الا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الاحياء منهم والاموات، اللهم اعز الاسلام والمسلمين واهلك الكفرة والظالمين. اللهم لا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا. اللهم اجعل بلدتنا اندونيسيا بلدة طيبة تجرى فيها احكامك ورسولك، برحمتك يا ارحم 
الراحمين. 

فيا عباد الله ان الله يأمر بالعدل والاحسان وايتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر ولذكر الله أكبر

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


M. Rikza Chamami, Dosen Universitas Islam Negeri Walisongo; Komisi Pendidikan Majelis Ulama Indonesia Kota Semarang; Wakil Sekretaris PW GP Ansor Jawa Tengah


Baca juga:
    - Khutbah Idul Fitri: Pembentukan Jati Diri Pasca-Ramadhan
    - Khutbah Idul Fitri: Islam dan Tantangan Konsumerisme di Dunia Global
    - Khutbah Idul Fitri: Keseimbangan antara Kehambaan dan Kekhalifahan
    - Khutbah Idul Fitri: Tiga Manifestasi Syukur Sambut Hari Kemenangan
    - Khutbah Idul Fitri: Cara Orang Cerdas Berhari Raya
    - Khutbah Idul Fitri: Tiga Ciri Sukses Ramadhan di Momen Lebaran

Rabu 13 Juni 2018 16:30 WIB
Khutbah Idul Fitri: Momentum Menebar Islam Rahmatan lil Alamin
Khutbah Idul Fitri: Momentum Menebar Islam Rahmatan lil Alamin

Khutbah I


اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ اللهُ اَكْبَرْكُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْوَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ. اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اللهُ اَكْبَرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ


Ma’asyiral Muslimin Jama'ah Shalat Id hafidhakumullah,

Alhamdulillah, rasa syukur terpanjatkan kepada Tuhan semesta alam, Allah SWT, Tuhan yang telah memberikan kepada kita kekuatan untuk terus melangkah dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan kepada alam semesta. Shalawat beriring salam kita sampaikan kepada Nabi akhir zaman, pembawa kedamaian, penuh cinta kasih, penyebar risalah rahmah bagi alam  semesta. Beliaulah Rasullullah, Muhammad SAW yang kita nantikan syafaatnya di yaumil qiyamah nanti. Semoga kita menjadi hamba yang mendapatkan syafaatnya kelak di hari pembalasan. Amin ya Allah ya Rabbal Alamin.


Pagi ini segenap kaum muslimin di persada negeri menunaikan shalat dan merayakan Idul Fitri dengan khusyuk dan penuh kepasrahan. Gema takbir, tahlil, tahmid, dan tasbih berkumandang di segenap cakrawala dengan segala  kerendahan hati dan penuh pengharapan dari setiap insan beriman. Semuanya berpusat dan bermuara sebagai wujud ibadah untuk mendekatkan diri kepada dzat Ilahi guna meraih ridha dan anugerah Allah yang maha penyayang dan maha
bijaksana.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, ALlahu Akbar Walillahil Hamd. Ma’asyiral Muslimin Jama'ah Shalat Id hafidhakumullah,

Ramadan telah mendidik dan mengajarkan kepada kita banyak hal, agar kelak menjadikan kita pribadi yang bertakwa. Pribadi yang bertakwa akan menghasilkan efek yang sangat kuat, bukan hanya pada diri sendiri (individu) tetapi juga kepada masyarakat (sosial). Diantara indikator orang-orang yang bertaqwa sebagaimana di dalam Al-Quran, Allah berfirman:


الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ . وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan, dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran: 134-135).


Indikator tersebut Allah berikan sebagai bukti, bahwa takwa bukan hanya melekat kepada diri manusia sendiri, namun juga dapat berefek kepada sekitarnya. Menafkahkan harta, menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, berbuat kebajikan merupakan bagian dari kesalehan sosial,buah dari ketakwaan. Sementara memohon ampun atas segala perbuatan keji serta tidak mengulanginya lagi merupakan kesalehan individu kepada Tuhannya, yang telah menciptakannya ke alam dunia ini. Dengan begitu, sejatinya implikasi sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan menghasilkan pribadi-pribadi yang saleh secara individual, sekaligus saleh secara sosial.


Kaum Muslimin hafidhakumullah,


Kesalehan individual dan kesalehan sosial merupakan indikasi seseorang menjadi pribadi yang bertakwa. Implementasi kesalehan tersebut akan membentuk pribadi yang selalu berorientasi kepada rahmat (memberikan kasih sayang) kepada alam semesta. Sebagaimana orientasi Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad yakni sebagai pembawa risalah Rahmatan lil Alamin.

وَمَآ أَرْسَلْنَٟكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَٟلَمِينَ

”Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”  (Q.S. Al Anbiya: 107).


Ajaran Rasulullah yang berorientasi pada Rahmatal lil Alamin telah dibuktikannya sepanjang sejarah kerasulannya. Tiga hubungan yang saling keterkaitan yakni manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan manusia kepada alam sekitar telah diajarkan dalam ajaran dan risalah kerasulan Muhammad SAW.

“Wa'tashimu bihablillahi jami'an walaa tafarraqu" (Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai) merupakan ajaran Allah dan Rasul-Nya agar sesama umat Islam bersatu padu, senantiasa menghormati perbedaan yang terjadi. Tidak boleh menuduh seseorang sebagai orang kafir, munafiq, atau mengejek sesama muslim karena perbedaan itu. Apalagi menghalalkan darah dan kehormatan seorang muslim karena perbedaan pemahaman atau penafsiran sebuah teks. Ajaran untuk bersatu dalam ikatan agama inilah yang disebut dengan ukhuwwah Islamiyah.

Indikasi seseorang bersaudara dalam satu ikatan agama (ukhuwwah Islamiyah) terimplementasi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan seperti terlihatnya rasa persaudaraan. Salah satu indikasi persaudaraan adalah selalu berdamai ketika berinteraksi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, sebagaimana dalam firman Allah:


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

”Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Hujurat ayat 10).

Selain selalu berorientasi kepada perdamaian, indikasi ukhuwwah Islamiyah adalah adanya saling menghargai, dan berkarakter baik dalam menjalin hubungan. Sebagaimana dalam firman Allah dalam Surat Al-Hijr ayat 88:


وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Berendah dirilah (sopanlah) kamu terhadap orang-orang yang beriman”.


Karakteristik sopan kepada sesama merupakan implementasi menjaga persaudaraan. Sesama muslim tidak boleh berkata kasar, bermuka masam, bersikap pongah, apalagi menghina, mencaci dan merendahkan harkat dan martabatnya. Terlebih tidak boleh menghalalkan darah seorang Muslim atas nama jihad di negeri yang damai ini.

Rahmatan lil Alamin juga dicerminkan dalam ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW. Hal ini tercermin dalam kehidupan Rasulullah yang senantiasa berlaku baik pada setiap manusia, tanpa memandang jenis kelamin, suku, agama, dan golongan.Sebagaimana dalam hadits Shahih Muslim No.1596 diceritakan ketika Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif RA sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri.  Ketika  dikatakan: Jenazah itu Yahudi. Rasulullah SAW bersabda: Bukankah ia juga manusia?. Dan lebih lanjut beliau bersabda: "Kematian adalah suatu perkara yang menyedihkan dan dahsyat, sebab itu, apabila kamu melihat iring-iringan jenazah berlalu, kamu seharusnya berdiri sebagai suatu hadiah penghormatan".

Sikap Rasulullah kepada umat yang berbeda agama tersebut mencerminkan Rasulullah menghargai  sisi  kemanusian. Sikap tersebut merupakan sikap seorang yang humanis. Menjunjung tinggi sisi kemanusiaan. Sikap inilah  yang disebut dengan ukhuwah basyariyah/ insaniyah (persaudaraan sesama umat manusia). Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan agama tidak menghalangi untuk menghormati dan berbuat baik kepada mereka. Apapun keyakinan seseorang terdapat satu persamaan, yaitu sebagai sesama ciptaan Allah SWT maka tidak dibenarkan dalam Islam untuk menyakiti mereka yang berbeda agama, apalagi sampai menghalalkan darah mereka, sebagaimana dilakukan oleh teroris beberapa waktu lalu.

Inilah contoh perilaku dan sikap Rasulullah dalam merawat sisi kemanusiaan (ukhuwah basyariyah/ insaniyah). Sehingga tidak dibenarkan dalam konteks ke-Indonesia-an, melukai umat yang berbeda agama. Sebab Indonesia adalah Negara damai (Darussalam). Barangsiapa yang melukai non muslim di Negara yang damai, maka sama saja melukai Nabi. Sebagaimana dalam sebuah hadits “Barangsiapa yang menyakiti orang dzimmi (nonmuslim yang berinteraksi secara baik), berarti dia telah menyakiti diriku. Dan, barang siapa menyakiti diriku, berarti dia menyakiti Allah. Man Adza Dzimmiyyan faqod adzani. Man adzani faqod azdallah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd. Kaum Muslimin hafidhakumullah

Rahmatan lil Alamin dalam konteks konstitusi kenegaraan juga diterapkan oleh Rasulullah. Salah satunya melalui pencanangan Piagam Madinah. Beberapa pasal dalam piagam tersebut seperti pasal 16, 25, dan 46 dinyatakan bahwa kaum Yahudi yang mengikuti kita berhak mendapat perlindungan dan hak persamaan tanpa ada penganiayaan atas mereka dan tidak ditolong orang- orang yang menjadi musuh mereka. Bagi orang Yahudi agama mereka dan bagi kaum muslimin agama mereka pula. Kaum Yahudi al Aus, sekutu dan diri mereka, memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain pendukung piagam ini, dengan perlakuan yang baik dan penuh dari semua pendukung piagam ini.

Piagam Madinah tersebut yang membebaskan  rakyatnya untuk memeluk agamanya tanpa gangguan,  serta mendapatkan perlindungan dari kaum Muslimin  ketika terjadi sesuatu yang membahayakan. Hal ini  merupakan bagian dari kasih sayang yang diatur dalam regulasi atau konstitusi tersebut. Konsep inilah yang disebut dengan ukhuwwan wathaniyyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air). Dalam berbangsa dan bernegara, setiap individu tanpa mengenal suku dan agama, semuanya berkewajiban menjaga hak dan kewajiban sesama anak bangsa. Saling melindungi dan memberikan kebebasaan untuk melaksanakan ibadah. Tidak ada paksanaan dalam beragama dan berinteraksi sosial. Maka mereka yang memaksakan kehendak untuk merubah sistem kenegaraan dan mendzalimi kaum yang berbeda dalam sebuah ikatan negara, tidak dibenarkan dalam Islam.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَذِكْرِ اْلحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ


Khutbah II


اَللهُ أَكْبَرُ 7×، اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَأًصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


Dalam khutbah ke dua ini marilah kita implementasikan ketakwaan kita sebagai hasil dari buah sebulan penuh kita menjalankan ibadah puasa. Buah dari ketakwaan adalah menjalankan risalah kenabian yakni menjadi penebar rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil Alamin). Akhirnya, marilah kita bermunajat kepada Allah Swt agar ketakwaan dapat kita raih, dan memberikan kebaikan, kemanfaat serta keberkahan dalam menjaga diri, agama, nusa dan bangsa.


اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ, وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ, اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Prof. Dr. H. Moh. Mukri, M.Ag, Ketua Tanfidziyyah Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Lampung, Rektor UIN Raden Intan Lampung



Baca juga:
    - Khutbah Idul Fitri: Pembentukan Jati Diri Pasca-Ramadhan
    - Khutbah Idul Fitri: Islam dan Tantangan Konsumerisme di Dunia Global
    - Khutbah Idul Fitri: Keseimbangan antara Kehambaan dan Kekhalifahan
    - Khutbah Idul Fitri: Tiga Manifestasi Syukur Sambut Hari Kemenangan