IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Pernahkah Nabi Muhammad SAW Kumandangkan Azan?

Rabu 11 Juli 2018 15:0 WIB
Share:
Pernahkah Nabi Muhammad SAW Kumandangkan Azan?
(Foto: hiraan.com)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online yang terhormat. Dalam kesempatan ini saya mau menanyakan hal terkait azan. Terutama menyangkut apakah Nabi Muhammad SAW pernah mengumandangkan azan? Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Jalaludin/Jakarta)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Ketika membincang azan, sahabat Bilal RA adalah sosok yang tak bisa dipisahkan. Perannya sebagai salah satu muadzin yang mengingatkan datangnya waktu shalat pada masa Rasulullah SAW sangat signifikan. Suaranya yang indah dan lantang menjadi faktor yang menyebabkan Rasulullah SAW menunjukkan sebagai muadzin.

Dari situ kemudian kumandangan azan selalu identik dengan panggilan shalat lima waktu. Karenanya kemudian adzan didefinisikan menurut syara’ adalah pemberitahuan masuknya waktu shalat lima waktu dengan redaksi yang sudah diketahui dan ma’tsur dengan sifat khusus. Demikian sebagaimana yang kami pahami dari penjelasan dalam Kitab Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah berikut ini:

الأَذَانُ لُغَةً : الإِعْلاَمُ ، قَال اللَّهُ تَعَالَى : { وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ } أَيْ أَعْلِمْهُمْ بِهِ وَشَرْعًا الإِعْلاَمُ بِوَقْتِ الصَّلاَةِ الْمَفْرُوضَةِ ، بِأَلْفَاظٍ مَعْلُومَةٍ مَأْثُورَةٍ ، عَلَى صِفَةٍ مَخْصُوصَةٍ

Artinya, “Pengertian azan secara bahasa adalah pemberitahuan (al-i’lam). Allah SWT berfirman, ‘Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,’ (Surat Al-Hajj ayat 27). Maksud berseru dalam ayat ini adalah ‘beritahukan kepada mereka’. Dan menurut syara’ adalah pemberitahuan masuknya waktu shalat fardhu dengan redaksi yang sudah maklum dan ma’tsur dengan sifat khusus,” (Lihat Al-Mausuatul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Salasil], juz II, halaman 357).

Dalam sejarahnya, menurut pendapat yang lebih sahih (al-ashshah) azan pertama kali disyariatkan pada tahuk ke-1 Hijriyah di kota Madinah. Pandangan ini didasarkan kepada beberapa riwayat yang dianggap sahih. Demikian sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah.

شُرِعَ الْأَذَانُ بِالْمَدِينَةِ فِي السَّنَةِ الأُوْلَى مِنَ الْهِجْرَةِ عَلَى الأَصَحِّ ؛ لِلأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ

Artinya, “Menurut pendapat yang lebih sahih, azan pertama kali disayariatkan di kota Madinah pada tahun pertama hijriyah, karena adanya beberapa riwayat yang sahih yang menjelaskan akan hal tersebut,” (Lihat Al-Mausuatul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Salasil], juz, II, halaman 358).

Jika sahabat Bilal RA dikenal sebagai salah satu muadzin pada masa Rasulullah SAW, maka kemudian melahirkan pertanyaan, apakah Rasulullah SAW juga pernah mengumandangkan azan?

Dalam beberapa literatur yang kami baca, salah satunya adalah Kitab Mishbahuz Zhalam Syarhu Bulughil Maram yang ditulis oleh Kiai Muhajirin Amsar ulama Betawi yang terkenal kealimannya dan sangat produktif. Dalam hal ini ia menghadirikan pandangan Syekh Abddullah As-Syarqawi yang dikemukakan dalam Kitab Hasyiyatut Tahrir.

Menurut Asy-Syarqawi Rasulullah SAW pernah mengumandangkan azan sekali ketika dalam perjalanan (safar). Lebih lanjut ia menyatakan ketika sampai pada syahadat kedua, Rasulullah mengumandangkan Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Namun, ada pendapat lain (qila), yang dikumandangan adalah Asyhadu anni Rasulullah.  Demikian sebagaimana dikemukakan oleh Kiai Muhajirin Amsar Betawi.

قَالَ الشَّيْخُ عَبْدُ اللهِ الشَّرْقَاوِيُّ فِى حَاشِيَةِ التَّحْرِيرِ: أَذَّنَ صلى الله عليه وسلم مَرَّةً فِى سَفَرِهِ فَقَالَ فِيهِ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَقِيلَ: أَشْهَدُ أَنِّي رَسُولُ اللهِ

Artinya, “Syekh Abdullah Asy-Syarqawi di dalam kitab Hasyiyatut Tahrir berkata, ‘Rasulullah SAW pernah sekali melakukan azan ketika dalam perjalanan. Kemudian dalam azan tersebut beliau mengumandangkan, ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Dan pendapat lain (qila) beliau mengucapakan, ‘Asyhadu anni Muhammadar Rasulullah,’” (Lihat Kiai Muhajirin Amsar Bekasi, Misbahuz Zhalam Syarhu Bulughil Maram, [Jakarta, Darul Hadits: 2014 M/1435 H], jilid I, halaman 139).

Demikikan jawaban dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb
.


(Mahbub Maafi Ramdlan)
Share:
Sabtu 7 Juli 2018 14:0 WIB
Hukum Tarik Mahar karena Batal Nikah setelah Lamaran
Hukum Tarik Mahar karena Batal Nikah setelah Lamaran
(Foto: hipwee.com)
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, sebagian orang menjadikan lamaran sebagai saat penentuan tanggal, tempat, dan mahar. Bahkan sebagian pihak laki-laki menyerahkan mahar perkawinan secara utuh atau sebagian saat lamaran. Bagaimana kalau di tengah rencana perkawinan dibatalkan. Bagaimana dengan mahar? Mohon penjelasan. Terima kasih. Wassalamu 'alakum wr. wb. (Muh Yasin/Sleman).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Lamaran merupakan upacara pendahuluan jauh hari sebelum akad nikah. Sering juga sebagian atau seutuh mahar diserahkan pada saat lamaran ini.

Pada prinsipnya, pemberian seserahan berupa aneka hadiah saat lamaran baik-baik saja sebagai penguat hubungan dan perekat jalinan baru. Hanya saja ketika salah satu kedua pihak membatalkan rencana perkawinan setelah sekian hari sesudah lamaran, apakah pihak laki-laki berhak menarik mahar yang sudah diserahkan kepada pihak perempuan?

Sebelum sampai ke sana, pertama kita perjelas lebih dahulu kedudukan lamaran. Dari sini kita dapat beralih ke pertanyaan. Untuk itu, kita kutip kedudukan lamaran dalam hukum Islam berikut ini:

إن الخطبة مجرد وعد بالزواج، وليست عقدا ملزما، والعدول عن إنجازه حق من الحقوق التي يملكها كل من المتواعدين. ولم يجعل الشارع لإخلاف الوعد عقوبة مادية يجازي بمقتضاها المخلف وإن عد ذلك خلقا ذميما، ووصفه بأنه من صفات المنافقين، إلا إذا كانت هناك ضرورة ملزمة تقتضي عدم الوفاء

Artinya, “Lamaran itu hanya janji perkawinan, bukan akad yang mengikat. Masing-masing pihak yang terlibat dalam perjanjian tersebut berhak untuk mengurungkan rencananya yang telah disepakati. Pembuat syariat (Allah) tidak menetapkan sanksi material bagi pihak yang menyalahi janji karena pembatalannya meskipun tindakan demikian dianggap sebagai akhlak tercela dan pelakunya disifatkan sebagai orang munafik kecuali jika ada sejumlah hal situasi darurat yang memaksanya untuk menyalahi janji tersebut,” (Lihat Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, [Kairo, Al-Fathu lil I‘lam Al-Arabi: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 20).

Dari keterangan ini, kita mendapat informasi yang jelas bahwa lamaran hanya bermakna pertemuan dua keluarga untuk merencanakan perkawinan. Lamaran bukan ikatan yang mengikat dan berkonsekuensi hukum sehingga mahar yang diserahkan terlebih dahulu saat lamaran bisa ditarik kembali bila perkawinan dibatalkan.

وأما ما قدمه الخاطب من مهر: فله أن يسترده، سواء أكان قائماً أم هالكاً أم مستهلكاً، وفي حال الهلاك أو الاستهلاك يرجع بقيمته إن كان قيمياً، وبمثله إن كان مثلياً، أياً كان سبب العدول، من جانب الخاطب أو من جانب المخطوبة. وهذا متفق عليه فقهاً

Artinya, “Sedangkan (utuh atau sebagian) mahar yang diserahkan lebih dulu saat lamaran (sebelum akad nikah) oleh pihak laki-laki yang melamar, boleh diminta kembali apakah mahar itu masih ada, rusak, atau sudah digunakan. Kalau sudah habis atau sudah digunakan, maka mahar itu dikembalikan dalam bentuk nilainya jika barang itu dapat dinilai dengan nominal, dan dikembalikan dengan barang sejenis bila barang serupa itu mudah ditemukan, apapun sebabnya baik dari pihak laki-laki yang melamar maupun dari pihak perempuan yang dilamar. Hukum ini disepakati secara fiqih,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz VII, halaman 26).

Dengan kata lain, hak kepemilikan mahar dapat beralih dari pihak laki-laki ke pihak perempuan setelah akad perkawinan berlangsung. Selagi belum ada akad perkawinan, maka mahar itu murni hak milik pihak laki-laki meskipun mahar itu (baik sebagian maupun seluruhnya) diserahkan terlebih dahulu sebelum akad perkawinan.

وما قدمه الخاطب من المهر فله الحق في استرداده، لانه دفع في مقابل الزواج، وعوضا عنه. وما دام الزواج لم يوجد، فإن المهر لا يستحق شئ منه، ويجب رده إلى صاحبه، إذ أنه حق خالص له

Artinya, “Pihak laki-laki berhak meminta kembali mahar yang diberikan lebih dahulu (saat lamaran) karena mahar diberikan untuk perkawinan dan sebagai imbalan darinya (pihak laki-laki). Selama perkawinan tidak terwujud, maka kepemilikan mahar sedikit pun tidak sah dan wajib dikembalikan kepada pemiliknya karena mahar itu murni hak pihak laki-laki,” (Lihat Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, [Kairo, Al-Fathu lil I‘lam Al-Arabi: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 21).

Syekh Wahbah Az-Zuhayli lebih jelas mengatakan bahwa rencana perkawinan yang gagal di tengah jalan sesudah proses lamaran tidak memiliki konsekuensi hukum apapun, soal kepemilikan mahar dalam konteks ini sebagai keterangan berikut:

لا يترتب على انفساخ الخطبة أي أثر ما دام لم يحصل عقد

Artinya, “Tidak ada apapun atas rusaknya lamaran, yaitu tiada konsekuensi hukum apapun selama belum ada akad nikah,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz VII, halaman 25).

Semua ini berlaku bagi barang seserahan yang dimaksudkan sebagai mahar saat lamaran yang mempertemukan dua keluarga. Sedangkan soal kedudukan barang seserahan yang tidak dimaksudkan sebagai mahar, ulama berbeda pendapat terutama perihal kepemilikan dan penarikan kembali ketika rencana perkawinan keduanya gagal.

Kami menyarankan pihak laki-laki dan pihak perempuan yang karena suatu sebab tertentu membatalkan perkawinan dapat menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik dan kekeluargaan dengan semangat persaudaraan. Sedangkan hak kepemilikan mahar sudah jelas berdasarkan pelbagai keterangan di atas.

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)
Jumat 6 Juli 2018 20:5 WIB
Hukum Tarik Kembali Seserahan Lamaran karena Batal Nikah
Hukum Tarik Kembali Seserahan Lamaran karena Batal Nikah
(Foto: pinterest)
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, pernah kejadian tetangga saya telah melamar seorang perempuan. Tetapi jelang sekian minggu kedua pihak batal menikah karena suatu sebab. Apakah pemberian seserahan saat lamaran bisa kembali ke pihak laki-laki? Mohon keterangan. Terima kasih. Wassalamu 'alakum wr. wb. (Siti Nurmala/Bekasi).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Pertama kali yang perlu dijawab adalah bahwa apa status seserahan atau antaran yang dibawa pihak laki-laki saat lamaran. Dari sana, kita selanjutnya dapat bergerak ke masalah yang ditanyakan.

Ulama Mazhab Hanafi memaknai seserahan atau antaran yang dibawa pihak laki-laki saat lamaran sebagai hibah. Dari sini, mereka memandang penarikan kembali barang seserhan atau antaran itu dari sudut pandangan mazhab mereka perihal hibah.

Bagi ulama mazhab Hanafi, pihak laki-laki berhak meminta kembali barang seserahan ketika lamaran atau pertemuan dua keluarga sejauh barang tersebut masih ada dan belum berubah ujud.

قال الحنفية: هدايا الخطبة هبة، وللواهب أن يرجع في هبته إلا إذا وجد مانع من موانع الرجوع بالهبة كهلاك الشيء أو استهلاكه. فإذا كان ما أهداه الخاطب موجوداً فله استرداده. وإذا كان قد هلك أو استهلك أو حدث فيه تغيير، كأن ضاع الخاتم، وأكل الطعام، وصنع القماش ثوباً، فلا يحق للخاطب استرداد بدله

Artinya, “Ulama Mazhab Hanafi mengatakan bahwa hadiah saat lamaran adalah hibah. Pihak yang memberikan hibah berhak menarik kembali barang hibahnya kecuali bila terdapat uzur yang menghalangi penarikan hibah kembali, yaitu kerusakan barang hibah atau habisnya barang hibah karena telah digunakan. Kalau barang hibah yang diberikan pihak pelamar masih ada, maka ia berhak memintanya kembali. Jika barang hibah itu sudah rusak, sudah habis dipakai, atau terjadi perubahan padanya, yaitu cincin hilang, makanan telah dimakan, kain sudah bentuk menjadi pakaian oleh pedagang kain, maka pihak pelamar tidak berhak meminta kembali dalam bentuk kompensasi,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 7, halaman 26).

Ulama mazhab maliki memandang persoalan penarikan kembali barang seserahan atau antaran pihak laki-laki dari siapa yang menginisiasi pembatalan perkawinan. Bila inisiatif pembataan perkawinan datang dari pihak perempuan, maka pihak laki-laki berhak mengambil kembali barang seserahannya. Tetapi jika inisiatif itu datang dari pihak laki-laki sendiri, maka pihak laki-laki tidak berhak menariknya meskipun barang seserahan itu masih utuh.

Sementara Ulama Mazhab Syafi’i dan Hanbali menetapkan bahwa orang yang menghibahkan sesuatu kepada orang lain tidak berhak menariknya kembali kecuali orang yang menghibahkannya itu adalah ayahnya sendiri terhadap anaknya.

Berangkat dari sini, kedua mazhab itu menyatakan bahwa pihak laki-laki tidak berhak lagi atas barang yang telah dihibahkan kepada orang lain karena sudah akad hibah sudah sampai pada ijab-qabul.

ورأى الشافعية والحنابلة: أنه ليس للخاطب الرجوع بما أهداه؛ سواء أكانت موجودة أم هالكة لأن للهدية حكم الهبة ولا يجوز عندهم للواهب أن يرجع في هبته بعد قبضها إلا الوالد فيما أعطى ولده

Artinya, “Mazhab Syafi’i dan Hanbali berpandangan bahwa pihak pelamar tidak berhak meminta kembali  barang yang telah dihibahkannya apakah barang itu masih ada atau sudah tidak ada. Hadiah setara dengan kedudukan hibah. Bagi ulama dari mazhab ini, pihak yang memberikan hibah tidak berhak meminta kembali barang hibahnya setelah jabat tangan penerimaan kecuali pihak penghibah itu sendiri adalah ayah terhadap anaknya,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 7, halaman 27).

Semua ini berlaku bagi barang seserahan yang tidak dimaksudkan sebagai mahar. Sebagian seserahan yang dimaksudkan sebagai mahar selagi belum akad merupakan hak laki-laki.

Dari pelbagai keterangan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa ulama berbeda pendapat perihal penarikan kembali barang seserahan atau antaran pihak laki-laki saat melamar seorang perempuan.

Kami menyarankan di tengah perbedaan pandangan ulama ini agar kedua pihak, yaitu pihak laki-laki dan pihak perempuan yang karena suatu sebab tertentu membatalkan perkawinan dapat menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik dan kekeluargaan dengan semangat persaudaraan.

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)
Rabu 4 Juli 2018 18:1 WIB
Kedudukan Suara Perempuan, Apakah Aurat?
Kedudukan Suara Perempuan, Apakah Aurat?
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, saya mau bertanya perihal suara perempuan. Apakah termasuk aurat? Masalah ini ramai diperbincangkan masyarakat karena berkaitan dengan sejumlah profesi atau karier seperti penyanyi perempuan, daiyah, ustadzah, qariah, resepsionis, dan profesi lainnya. Mohon penjelasan. Terima kasih. Wassalamu 'alakum wr. wb. (Dewi Sartika/Tangsel).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Ulama fikih tidak memiliki pandangan tunggal perihal suara perempuan. Ulama berbeda pendapat perihal ini. Sebagian ulama memandang suara perempuan termasuk aurat. Sedangkan ulama lain memandangnya bukan aurat.

اختلف العلماء في صوت المرأة فقال بعضهم إنه ليس بعورة لأن نساء النبي كن يروين الأخبار للرجال وقال بعضهم إن صوتها عورة وهي منهية عن رفعه بالكلام بحيث يسمع ذلك الأجانب إذا كان صوتها أقرب إلى الفتنة من صوت خلخالها وقد قال الله تعالى: وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ فقد نهى الله تعالى عن استماع صوت خلخالها لأنه يدل على زينتها فحرمة رفع صوتها أولى من ذلك ولذلك كره الفقهاء أذان المرأة لأنه يحتاج فيه إلى رفع الصوت والمرأة منهية عن ذلك وعلى هذا فيحرم رفع صوت المرأة بالغناء إذا سمعها الأجانب سواء أكان الغناء على آلة لهو أو كان بغيرها وتزيد الحرمة إذا كان الغناء مشتملا على أوصاف مهيجة للشهوة كذكر الحب والغرام وأوصاف النساء والدعوة إلى الفجور وغير ذلك

Artinya, “Ulama berbeda pendapat perihal suara perempuan. Sebagian ulama mengatakan, suara perempuan bukan aurat karena para istri Rasulullah SAW meriwayatkan hadits kepada para sahabat atau tabi’in laki-laki. Sebagian ulama mengatakan bahwa suara perempuan termasuk aurat. Perempuan ketika berbicara dilarang untuk meninggikan suaranya sekira terdengar oleh laki-laki yang bukan mahram. Pasalnya, suaranya lebih mendekati fitnah daripada suara gemerincing gelang kakinya. Allah berfirman, ‘Janganlah mereka berjalan dengan mengentakkan kaki agar perhiasan mereka yang tersembunyi dapat diketahui,’ (Surat An-Nur ayat 31). Allah melarang laki-laki untuk mendengarkan suara gemerincing gelang kaki perempuan karena itu menunjukkan perhiasan mereka. Keharaman suara perempuan tentu lebih daripada keharaman (mendengarkan) suara gemerincing perhiasannya. Karena itu ahli fiqih memakruhkan azan perempuan karena azan membutuhkan suara yang keras. Sementara perempuan dilarang mengeraskan suaranya. Atas dasar ini, perempuan diharamkan bernyanyi dengan suara keras bila terdengar oleh laki-laki bukan mahram, sama saja nyanyi diiringi alat musik atau tidak diiringi. Keharaman itu bertambah bila nyanyian perempuan itu mengandung unsur yang dapat mengobarkan syahwat seperti menyebut cinta, rindu dendam, deskrispsi perempuan, mengajak pada maksiat, dan lain sebagainya,” (Lihat Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqhu ‘ala Madzhahibil Arba‘ah, [Tanpa keterangan kota dan tahun], juz V, halaman 26).

Mayoritas ulama memandang suara perempuan tidak termasuk aurat. Hanya saja sekiranya dapat menimbulkan fitnah, mendengarkan suara perempuan yang dilagukan atau dibuat mendayu dan sebagainya bisa menjadi haram sebagaimana keterangan berikut ini:

صوت المرأة عند الجمهور ليس بعورة؛ لأن الصحابة كانوا يستمعون إلى نساء النبي صلّى الله عليه وسلم لمعرفة أحكام الدين، لكن يحرم سماع صوتها بالتطريب والتنغيم ولو بتلاوة القرآن، بسبب خوف الفتنة. وعبارة الحنفية: الراجح أن صوت المرأة ليس بعورة

Artinya, “Suara perempuan menurut mayoritas ulama bukan aurat karena para sahabat mendengarkan para istri Rasulullah SAW untuk memahami hukum agama. Tetapi (laki-laki) diharamkan mendengarkan suara perempuan dengan merdu dan lagu meskipun hanya membaca Al-Quran karena khawatir fitnah. Ulama Hanafiyah mengungkapkan, suara perempuan bukan aurat,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz, halaman 595).

Keharaman mendengarkan suara perempuan dalam bentuk apapun baik itu tadarus, tilawah, nyanyian, atau sendandung, terletak pada kemunculan fitnah.

Kalau seorang laki-laki mendengarkan perempuan yang bukan mahramnya bernyanyi sambil berkhalwat (hanya berdua dalam satu ruangan), tentu saja ini diharamkan. Di sini letak fitnahnya yang melahirkan keharaman, bukan karena mendengarkan suaranya.

وتخفض المرأة صوتها إن صلت بحضرة الرجال الأجانب، بحيث لا يسمعها من صلت بحضرته من الأجانب، دفعاً للفتنة، وإن كان الأصح أن صوتها ليس بعورة، فلا يحرم سماع صوت المرأة ولو مغنية، إلا عند خوف الفتنة، بأن كان لو اختلى الرجل بها، لوقع بينهما مُحرَّم

Artinya, “Perempuan merendahkan suaranya ketika shalat di dekat laki-laki yang bukan mahram sekira laki-laki tidak dapat mendengar suaranya untuk menghindari fitnah sekalipun menurut pendapat yang shahih suaranya bukan aurat. Mendengarkan suara perempuan tidak diharamkan sekalipun suara biduanita atau penyanyi perempuan kecuali bila dikhawatirkan menimbulkan fitnah, yaitu misalnya seorang laki-laki bukan mahram menyendiri bersama perempuan tersebut, tentu hal ini diharamkan,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz, halaman 747).

Mazhab Syafi’i mengatakan bahwa suara perempuan bukan bagian dari aurat. Kaum laki-laki, menurut mereka, boleh mendengarkan suara perempuan yang bukan mahram sekalipun sebagai keterangan berikut ini:

أَمَّا صَوْتُ الْمَرْأَةِ فَلَيْسَ بِعَوْرَةٍ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ. وَيَجُوزُ الاِسْتِمَاعُ إِلَيْهِ عِنْدَ أَمْنِ الْفِتْنَةِ، وَقَالُوا: وَنُدِبَ تَشْوِيهُهُ إِذَا قُرِعَ بَابُهَا فَلاَ تُجِيبُ بِصَوْتٍ رَخِيمٍ

Artinya, “Suara perempuan bukan aurat menurut Ulama Syafiiyah. Ketika aman dari fitnah, (kita) boleh mendengarkan suaranya. Mereka mengatakan, perempuan dianjurkan untuk ‘menyamarkan’ suaranya. Bila pintu rumahnya diketuk, ia tidak menjawab dengan suara gemulai,” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu`unul Islamiyyah, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Safwah: 1997 M/1417 H], cetakan pertama, juz 31, halaman 47).

Secara eksplisit Mazhab Syafi’i mengatakan bahwa suara perempuan bukan bagian dari aurat sehingga kita tidak diharamkan untuk mendengarkan suaranya.

فائدة) صوت المرأة ليس بعورة على الصحيح فلا يحرم سماعه ولا تبطل الصلاة به لو جهرت والخنثى كالأنثى رقا وحرية

Artinya, “Informasi, suara perempuan bukan aurat menurut pendapat yang shahih. (Kita) tidak haram mendengarkan suaranya. Shalat seorang perempuan tidak menjadi batal sekiranya ia mengeraskan suara. Kedudukan (hukum) banci setara dengan perempuan baik ia sebagai budak maupun merdeka,” (Lihat Syihabuddin Ahmad Al-Barlisi/Umairah, Hasyiyah Umairah, [Mesir, Syirkah Musthafa Al-Babi Al-Halabi: 1956 M/1375 H], cetakan ketiga, juz I, halaman 177).

Dari pelbagai keterangan ini, kita dapat mengambil simpulan bahwa ulama berbeda pendapat perihal suara perempuan.

Hanya saja mayoritas ulama mengatakan bahwa suara perempuan tidak termasuk aurat sehingga orang yang bukan mahram boleh mendengarkan suara perempuan dalam bentuk bicara, orasi, ceramah ilmiah, tilawah, tadarus, nyanyi, atau senandung sejauh aman dari fitnah. Berdasarkan pendapat mayoritas ulama, kita dapat menyimpulkan bahwa perempuan dapat mengambil profesi atau membangun karier yang berkaitan dengan tarik suara atau menggunakan suaranya.

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)