IMG-LOGO
Shalat

Bolehkah Orang Shalat Sendirian Ikut Shalat Jamaah?

Kamis 12 Juli 2018 9:0 WIB
Bolehkah Orang Shalat Sendirian Ikut Shalat Jamaah?
(Foto: viata-libera.co)
Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, apalagi kalau dikerjakan di masjid. Karena selain mendapatkan pahala, shalat jamaah di masjid juga bagian dari meramaikan masjid. Shalat berjamaah minimal dilakukan oleh satu orang imam dan makmum.

Rasulullah bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Artinya, “Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dibandingkan shalat sendirian,” (HR Bukhari dan Muslim).

Syekh Zainuddin Al-Malibari menjelaskan maksud keutamaan shalat berjamaah di sini adalah sebagai kesunahan, bukan kewajiban. Sementara frasa dua puluh tujuh derajat dalam hadits tersebut maksudnya adalah di dalam shalat berjamaah terdapat banyak hikmah dan keutamaan dibanding shalat sendirian.

Sebab itu, sangat dianjurkan mengerjakan shalat berjamaah di masjid atau boleh di rumah bila tidak bisa ke masjid. Bahkan, dalam fiqih dibolehkan mengulangi shalat karena ingin berjamaah.

Lalu bagaimana kalau kita sedang shalat sendirian, kemudian di pertengahan shalat melihat ada orang yang sedang mengerjakan shalat berjamaah, kemudian kita ubah niat dari shalat sendirian menjadi niat ikut shalat jamaah demi mendapatkan pahala shalat berjamaah. Apakah hal demikian dibolehkan atau tidak?

Persoalan ini pernah dibahas Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in. Ia mengatakan:

يجوز لمنفرد أن ينوي الاقتداء بإمام أثناء صلاته وإن اختلفت ركعتهما لكن يكره ذلك له، دون مأموم خرج من الجماعة لنحو حدث إمامه فلا يكره له الدخول في جماعة أخرى. فإذا اقتدى في الأثناء لزمه موافقة الإمام، ثم إن فرغ أولا أتم كمسبوق، وإلا فانتظاره أفضل

Artinya, “Boleh bagi makmum yang shalat sendirian niat mengikuti imam di pertengahan shalatnya, meskipun rakaat keduanya berbeda. Meskipun dibolehkan, tapi tetap makruh hukumnya. Tetapi, bagi orang yang keluar dari jamaah, karena imamnya berhadats, tidak dimakruhkan baginya untuk mengikuti jamaah yang lain. Kalau mengikuti shalat berjamaah di pertengahan diharuskan menyesuaikan dengan imam. Kalau imam duluan selesai, maka dia harus menyempurnakan shalat seperti halnya makmum masbuq. Kalau makmum duluan selesai, maka dianjurkan dia menunggu imam sampai selesai.”

Maksudnya, orang yang shalat sendirian, kemudian mengikuti shalat berjamaah di pertengahan shalatnya, hal ini dibolehkan oleh para ulama, tapi hukumnya makruh. Shalatnya tetap sah, tapi ia tidak mendapatkan keutamaan shalat berjamaah.

Tetapi, bagi orang yang mengikuti shalat jamaah yang lain karena mengetahui imamnya berhadats, hukumnya tidak makruh. Sementara bagi orang yang awalnya shalat sendirian kemudian mengikuti imam di pertengahan, ia diharuskan untuk mengikuti gerakan imam sebagaimana shalat berjamaah pada umumnya.

Pada saat imam duluan selesai, ia diharuskan untuk menyempurnakan shalat dan menambah rakaat yang kurang. Sementara kalau ia yang duluan selesai, dianjurkan untuk menunggu imam sampai selesai, supaya bisa salam bersama imam. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)
Ahad 24 Juni 2018 14:0 WIB
Hakikat Bersujud kepada Allah
Hakikat Bersujud kepada Allah
Ilustrasi (ist)
Al-Quran menggunakan kata sujud untuk berbagai arti. Sekali diartikan sebagai penghormatan dan pengakuan akan  kelebihan pihak lain, seperti sujudnya malaikat kepada Adam pada Al-Quran surat Al-Baqarah (2): 34.

Di waktu lain sujud berarti kesadaran terhadap kekhilafan serta pengakuan kebenaran yang disampaikan pihak lain, itulah arti sujud di dalam firman-Nya, Lalu para penyihir itu tersungkur dengan bersujud (QS. Thaha [20]: 70).

Yang ketiga sujud berarti mengikuti maupun menyesuaikan diri dengan ketetapan Allah yang berkaitan dengan alam raya ini, yang secara salah kaprah dan populer sering dinama hukum-hukum alam. Bintang dan pohon keduanya bersujud (QS. Al-Rahman [55]: 6).

Dari sunnatullah diketahui bahwa kemenangan hanya tercapai dengan kesungguhan dan perjuangan. Kekalahan diderita karena kelengahan dan pengabaian disiplin, dan sukses diraih dengan perencanaan dan kerja keras, dan sebagainya, sehingga seseorang tidak disebut bersujud, apabila tidak mengindahkan hal-hal tersebut.

Kata sujud sangat terkait dengan istilah masjid. Itu karena dari segi bahasa, kata masjid terambil dari akar kata sajada-sujud, yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan ta’dzim. (Muhammad Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, Mizan, 2000).

Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang kemudian dinamai sujud oleh syariat, adalah bentuk lahiriah yang paling nyata dari makna-makna di atas. Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan untuk melaksanakan shalat dinamakan masjid, yang artinya tempat bersujud.

Namun, selain tempat bersujud, Al-Qur’an menyebut fungsi masjid antara lain di dalam Firman-Nya:

“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak (pula) oleh jual-beli, atau aktivitas apapun dan mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS An-Nur: 36-37)

Perintah bertasbih bukan hanya berarti mengucapkan Subhanallah, melainkan lebih luas lagi, sesuai dengan makna yang dicakup oleh kata tersebut beserta konteksnya. Sedangkan arti dan konteks-konteks tersebut dapat disimpulkan dengan kata takwa. 

Sedangkan takwa sendiri tidak hanya diwujudkan dalam hablum minallah (hubungan dengan Allah), tetapi juga hablum minannas (hubungan sesama manusia) serta hablum minal alam (hubungan dengan alam/lingkungan). Dalam hal ini, masjid hendaknya menjadi titik tolak perubahan ke arah masyarakat yang berkeadilan di segala lini. (Fathoni)
Jumat 22 Juni 2018 15:0 WIB
Memahami Hakikat Fungsi Masjid
Memahami Hakikat Fungsi Masjid
Ilustrasi masjid (Dok. NU Online)
 Masyarakat menyebut masjid adalah rumah Allah SWT yang difungsikan untuk menunaikan shalat. Selain itu, biasanya masjid juga dimanfaatkan untuk proses belajar dan mengajar keagamaan atau ngaji. Namun demikian, banyak hal yang bisa direalisasikan melalui masjid untuk tujuan kemaslahatan umat secara luas.

Hal tersebut menunjukkan bahwa selain dapat menegakkan agama Allah SWT, masjid juga dapat digunakan untuk mewujudkan kesejahteraan dan ketertiban sosial melalui dakwah-dakwah keagamaan. Jika di Indonesia terdiri dari masyarakat yang majemuk, maka masjid hendaklah mendakwahkan kesejukan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an menyebut fungsi masjid antara lain di dalam Firman-Nya:

“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak (pula) oleh jual-beli, atau aktivitas apapun dan mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS An-Nur: 36-37)

Perintah bertasbih bukan hanya berarti mengucapkan Subhanallah, melainkan lebih luas lagi, sesuai dengan makna yang dicakup oleh kata tersebut beserta konteksnya. Sedangkan arti dan konteks-konteks tersebut dapat disimpulkan dengan kata takwa. 

Sedangkan takwa sendiri tidak hanya diwujudkan dalam hablum minallah (hubungan dengan Allah), tetapi juga hablum minannas (hubungan sesama manusia) serta hablum minal alam (hubungan dengan alam/lingkungan). Dalam hal ini, masjid hendaknya menjadi titik tolak perubahan ke arah masyarakat yang berkeadilan di segala lini.

Terkait hakikat fungsi masjid ini, Pakar Tafsir Al-Qur’an Prof Dr Muhammad Quraish Shihab dalam buku karyanya Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan, 2000) menguraikan, kata masjid terulang sebanyak 28 (dua puluh delapan) kali di dalam Al-Qur’an. Dari segi bahasa, kata masjid terambil dari akar kata sajada-sujud, yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan ta’dzim.

Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang kemudian dinamai sujud oleh syariat, adalah bentuk lahiriah yang paling nyata dari makna-makna di atas. Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan untuk melaksanakan shalat dinamakan masjid, yang artinya "tempat bersujud."

Dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat shalat kaum Muslim. Tetapi, karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakikat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah semata. Karena itu Al-Qur’an sural Al-Jin ayat 18, misalnya, menegaskan bahwa:

“Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, karena janganlah menyembah selain Allah sesuatu pun.” (QS Al-Jin: 18)

Selain itu, Quraish Shihab dalam buku yang sama juga mengemukakan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah dijadikan untukku (dan untuk umatku) bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri.” (HR Bukhari dan Muslim melalui Jabir bin Abdullah)

Jika Rasulullah mengaitkan masjid dengan bumi ini, maka jelas bahwa masjid bukan hanya sekadar tempat sujud dan sarana penyucian. Tidak juga hanya berarti bangunan tempat shalat, atau bahkan bertayamum sebagai cara bersuci pengganti wudhu. Tetapi masjid juga berarti tempat melaksanakan segala aktivitas manusia yang mencerminkan kepatuhan kepada Allah SWT. Wallahu ‘alam bisshowab. (Fathoni)
Kamis 14 Juni 2018 11:0 WIB
Disunnahkan Makan Sebelum Shalat Id
Disunnahkan Makan Sebelum Shalat Id
Ilustrasi (amandasplate.com)
Sebagaimana diketahui bahwa ada beberapa kesunnahan yang dapat dilakukan oleh seorang Muslim ketika berada pada momen hari raya Idul Fitri terlebih ketika hendak melakukan shalat sunnah Id pada hari itu. Di antara kesunnahan-kesunnahan tersebut adalah anjuran untuk makan sebelum pergi menuju tempat shalat Id.

Di antara hadits yang menjadi dasar kesunnahan ini adalah apa yang ditulis oleh Imam Jalaludin As-Suyuthi di dalam kitabnya Al-Jâmi’us Shaghîr yang kemudian banyak disyarahi oleh para ulama di antaranya oleh Al-Munawi.

Baca: Tata Cara Shalat Idul Fitri
Dalam hadits tersebut dituturkan:

كَانَ لَا يَغْدُو يَوْم الْفطر حَتَّى يَأْكُل سبع تمرات

Artinya: “Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak pergi untuk melakukan shalat Idul Fitri sampai beliau memakan tujuh buah kurma.” 

Dalam penjelasan hadits di atas Al-Munawi dalam kitabnya Faidlul Qadîr menuturkan bahwa sebelum Rasulullah pergi menuju tempat shalat Id beliau terlebih dahulu memakan tujuh butir kurma di rumah. Menurutya hal ini dilakukan oleh Rasul untuk memaklumkan  telah dihapusnya keharaman berbuka sebelum dilakukannya shalat Idul Fitri. Sebelumnya berbuka sebelum dilakukannya shalat Idul Fitri sempat diharamkan pada masa-masa awal Islam.

Dipilihnya kurma sebagai makanan yang dikonsumsi sebelum pergi menuju tempat shalat Id rasa manisnya yangdapat menguatkan pandangan setelah sebelumnya pandangan itu dilemahkan oleh puasa selama satu bulan dan juga dapat melembutkan hati.

Karenanya para ulama mengatakan disunnahkannya memakan kurma. Apabila tidak mudah mendapatkan kurma maka dapat diganti dengan makanan manis lainnya. Apabila sebelum keluar rumah tidak sempat untuk berbuka terlebih dahulu maka disunnahkan untuk melakukannya ketika dalam perjalanan atau setelah sampai di tempat shalat bila memungkinkan. Makruh hukumnya meninggalkan kesunnahan ini sebagaimana ditetapkan Imam Syafi’i di dalam Al-Umm. Perlu diketahui juga bahwa dalam hal ini minum dihukumi sama dengan makan. 

Lebih lanjut Al-Munawi juga menuturkan bahwa adanya Rasulullah memakan tujuh butir kurma adalah karena kecintaan beliau kepada bilangan yang ganjil dalam segala urusan (Al-Munawi, Faidlul Qadîr, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2012, jilid I, halaman 239). 

Dari sini dapat kita ambil satu kesimpulan bahwa yang dianggap sebagai kesunnahan adalah bilangan ganjilnya, bukan jumlah tujuhnya. Karenanya termasuk melakukan kesunnahan juga bila sebelum pergi ke tempat shalat Idul Fitri makan dengan bilangan ganjil tiga atau lima misalnya.

Hal ini bisa kita simpulkan dari adanya hadits lain yang serupa di mana tidak menyebutkan bilangan tujuh namun menyebutkan bilangan ganjil. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan dikutip oleh At-Tabrizi (Muhammad bin Abdullah At-Tabrizi, Misykâtul Mashâbîh, Beirut, Al-Maktab Al-Islami, 1979), juz I, halaman  451):

كانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يغدو يومَ الفِطْرِ حتى يأكلَ تَمَرَاتٍ، ويأكُلُهنَّ وِترًا

Artinya: “Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallama tidak pergi untuk melaksanakan shalat Idul Fitri sampai beliau memakan beberapa butir kurma. Beliau memakannya ganjil.”

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)