IMG-LOGO
Ubudiyah

Memaknai Hadiah sebagai Amanah untuk Berbagi

Sabtu 14 Juli 2018 14:45 WIB
Share:
Memaknai Hadiah sebagai Amanah untuk Berbagi
Ilustrasi (eatthis.com)
Status sosial adalah sesuatu yang nyata dalam masyarakat. Orang-orang dari kalangan tertentu ditempatkan dalam status sosial tinggi karena memiliki kriteria yang berlaku dalam masyarakat. Mereka kemudian disebut orang-orang terhormat. Di Jawa khususnya, ada kebiasan yang disebut “punjungan”, atau dalam istilah fiqih disebut hadiah, yakni suatu pemberian bisa berupa apa saja seperti parsel lebaran, bingkisan, atau lainnya,  dalam rangka memberikan penghormatan kepada orang-orang yang dihormati. 

Tidak jarang parsel atau bingkisan itu berupa buah atau makanan basah seperti kue dan sebagainya. Ketika barang-barang tersebut telah sampai di tangan orang-orang yang dimaksud, barang-barang itu bisa dimaknai sebagai simbol keterhormatan mereka. Jika makna ini dipegang kuat-kuat oleh mereka, mereka akan cenderung enggan membagikannya kepada orang lain. Mereka bahkan mempertahankannya hingga barang itu busuk sekalipun. Hal ini berpotensi menjadikan mereka orang mubadzir(in). 

Namun ketika kemudian mereka sudah tak tahan lagi dengan keadaannya yang sudah tak layak dan baunya cukup mengganggu, mereka baru berpikir bagaimana membagikan kepada orang lain. Pikiran ini  terlambat sebab para penerima tentu akan merasa tersinggung dan bahkan bisa marah jika barang itu  benar-benar dikirim kepada mereka. Akhirnya mereka harus memutuskan untuk membuangnya ke tempat sampah karena sudah tak layak lagi menjadi simbol keterhormatan mereka.

Memang amat naif ketika keterhormatan kita simbolkan dengan hal-hal duniawi yang fana seperti parsel atau bingkisan lainnya yang bisa membusuk. Ketika keadaannya telah rusak karena tidak segera dimanfaatkan, kita sesungguhnya telah melakukan pemborosan yang sia-sia. Hal ini biasa disebut tabdzir, yakni pemborosan atau penghamburan. Pelakunya disebut mubadzir(in). Disebutkan di dalam Al-Qurán bahwa mubadzirin (rang-orang yang menyia-nyiakan sesuatu, red) memiliki kedekatan dengan setan sebagaimana disinggung dalam Surat Al-Isra, Ayat 27: 

 إن المبذرين كانوا إخوان الشياطين

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah suadara setan dan setan sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Jadi ayat di atas memang dimaksudkan untuk mengingatkan orang-orang yang suka berbuat pemborosan agar berhenti dari kebiasaannya yang sia-sia. Jika tak mau berhenti, Allah subhanahu wataála menyebut mereka berkawan atau bersaudara dengan  setan yang dilabeli-Nya “ar-aajim” – terkutuk. 

Oleh karena itu ada baiknya pemberian yang bersifat hadiah seperti parsel atau bingkisan lainnya sebagaimana dicontohkan di atas, kita maknai sejak awal sebagai amanah untuk berbagi dengan yang lain. Jika ini bisa  kita lakukan, tentu kita akan segera membagikannya kepada orang lain dalam keadaan barang masih baik hingga penerimanya pun senang menerimanya. Di sinilah sejatinya   keterhormatan  kita  yang lebih kekal sifatnya karena berupa amal kebaikan yang akan mengantarkan kita menjadi orang mulia dalam arti yang sebenarnya. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.


Share:
Ahad 8 Juli 2018 17:30 WIB
Menjauhi Orang Miskin Sama dengan Menjauh dari Rasulullah
Menjauhi Orang Miskin Sama dengan Menjauh dari Rasulullah
Banyak orang mengaku cinta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Berbagai kegiatan mereka lakukan untuk menunjukkan cintanya kepada beliau. Dalam setiap doanya, mereka memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar kelak di akhirat dikumpulkan bersama beliau di surga-Nya. Sayangnya masih banyak dari mereka tidak mengikuti jejak beliau dalam mencintai  orang-orang miskin. Mereka malah menjauh dari orang-orang lemah itu karena menganggap tidak selevel.

Sikap mereka yang seperti itu tidak sejalan dengan apa yang dicontohkan Rasulullah baik dalam bentuk ucapan maupun tindakan. Dalam salah satu doanya, beliau memohon kepada Allah agar dikumpulkan bersama orang-orang miskin. Doa itu adalalah sebagai berikut:

اللهم أحيني مسكينا وأمتني مسكينا واحشرني في زمرة المساكين يوم القيامة

Artinya: “Ya Allah, hidupkanlah dan matikanlah aku sebagai orang miskin dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang miskin.” (HR: At-Tirmidzi).

Dari doa tersebut dapat diketahui secara jelas bahwa Rasulullah menaruh perhatian besar terhadap orang-orang miskin. Beliau tidak pernah menjauhi mereka dengan alasan apa pun. Beliau justru suka mendekat karena mencintai mereka dengan setulus hati. Hal ini sebagaimana dikisahkan dalam kitab Al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, halaman 123, sebagai berikut:

ويحب الفقراء والمساكين ويجلس معهم ويعود مرضاهم ويشيع جنائزهم ولا يحقر فقيرا 

Artinya: “Beliau mencintai fakir miskin, duduk bersama mereka, membesuk mereka yang sedang sakit, mengiring jenazah mereka, dan tidak pernah menghina orang fakir.”

Akhlak Rasulullah terhadap orang-orang miskin tersebut hendaknya membuka kesadaran kita bahwa tidak selayaknya kita mengaku cinta Rasulullah tetapi pada saat yang sama kita menjauhi orang-orang yang beliau cintai. Bagaimana bisa kita akan dikumpulkan bersama Rasulullah sementara kita menjauhi orang-orang yang beliau sendiri memohon kepada Allah untuk dikumpulkan bersama mereka. 

Baca juga: Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?
Oleh karena itu, barangsiapa  berharap dikumpulkan bersama Rasulullah kelak di akhirat, hendaklah mencintai orang-orang miskin dan mau berinteraksi dengan mereka. Untuk maksud ini memang diperlukan sikap rendah hati atau tawadhu’ sebagaimana dicontohkan beliau. Anggapan tidak selevel dengan mereka harus dibuang jauh-jauh sebab hal ini merupakan kesombongan dan sudah pasti menjadi hambatan untuk berinteraksi dengan mereka. 

Orang-orang miskin memang harus kita dekati dan cintai karena ini adalah sunnah beliau. Barangsiapa menjauhi sunnah beliau sesungguhnya ia bukan umatnya. Ungkapan ini sejalan dengan hadits beliau yang diriwayatkan dari Anas radliallahu anhu

فمن رغب عن سنتي فليس مني

Artinya: “Maka barang siapa tidak suka dengan sunnahku sungguh ia bukan umatku.”


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Kamis 5 Juli 2018 18:1 WIB
Lebih Baik Baca Al-Qur’an dengan Suara Keras atau Pelan?
Lebih Baik Baca Al-Qur’an dengan Suara Keras atau Pelan?
(Foto: pixabay)
Selain sebagai petunjuk manusia, membaca Al-Qur’an juga mendapatkan pahala dan keberkahan. Sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk membaca Al-Qur’an, meskipun tidak memahami makna dan maksudnya. Karenanya, dalam hadits disebutkan:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya, “Siapa yang membaca satu huruf Al-Qur’an, maka dia mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan digandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan ‘alif lam mim’ satu huruf, tapi ‘alif’ satu huruf, ‘lam’ satu huruf, dan ‘mim’ satu huruf,” (HR Al-Tirmidzi).

Orang yang membaca Al-Qur’an diberi sepuluh kebaikan dalam setiap hurufnya. Ganjaran ini berlaku bagi siapa pun. Membacanya saja diberi sepuluh kebaikan dari setiap hurufnya, apalagi memahami, mendalami, dan mengamalkannya. Tentu pahalanya lebih besar lagi.

Di samping memperhatikan makhraj dan tajwid bacaan, volume suara juga perlu diperhatikan. Maksudnya, jangan sampai membaca Al-Qur’an dengan suara keras yang bukan pada tempatnya. Apalagi bila sampai menganggu orang lain.

Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa memang ada banyak dalil yang menganjurkan baca Al-Qur’an dengan suara keras, tapi di sisi lain juga ada dalil yang menganjurkan baca Al-Qur’an dengan suara pelan. Ia mengatakan:

جاءت آثار بفضيلة رفع الصوت بالقراءة، وآثار بفضيلة الإسرار

Artinya, “Ada beberapa riwayat tentang keutamaan baca Al-Qur’an dengan suara keras, dan ada pula riwayat tentang keutamaan suara pelan.”

Lalu mana yang harus diamalkan? Imam An-Nawawi menjelaskan:

قال العلماء والجمع بينهما أن الإسرار أبعد من الرياء فهو أفضل في حق من يخاف ذلك، فإن لم يخف الرياء فالجهر أفضل بشرط أن لا يؤذي غيره من مصل أو نائم أو غيرهما

Artinya, “Ulama berkata, cara mengompromikan dua dalil tersebut adalah membaca Al-Qur’an dengan suara pelan bagi orang yang takut riya itu lebih utama. Sementara bagi orang yang tidak riya, maka mengeraskan suara saat baca Al-Qur’an lebih diutamakan dengan catatan tidak menganggu orang yang shalat, tidur, dan lain-lain.”

Dengan demikian, baca Al-Qur’an dengan suara pelan atau keras sebetulnya sama-sama baik selama diamalkan berdasarkan situasi dan kondisinya.

Kalau di hadapan orang ramai, lebih baik membaca Al-Qur’an dengan suara pelan agar tidak menganggu ketenangan orang lain, khususnya orang shalat atau sedang istirahat. Tapi apalagi sedang sendirian, lebih baik dengan suara keras karena biasanya lebih fokus dan meningkatkan semangat. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)
Ahad 17 Juni 2018 20:0 WIB
Keutamaan Puasa Syawal Persis setelah Hari Id
Keutamaan Puasa Syawal Persis setelah Hari Id
Islam menganjurkan puasa sunah di bulan Syawal. Islam juga menganjurkan puasa sunah itu dilakukan pada tanggal dua Syawal, persis setelah hari Id. Puasa sunah di bulan Syawal ini mengandung keutamaan luar biasa sebagaimana keterangan hadits Rasulullah SAW.

Hadits Imam Bukhari ini dikutip oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam Kitab Nihayatuz Zain berikut ini:

و) الرابع صوم (ستة من شوال) لحديث من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر  ولقوله أيضا صيام رمضان بعشرة أشهر وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة أي كصيامها فرضا وتحصل السنة بصومها متفرقة منفصلة عن يوم العيد لكن تتابعها واتصالها بيوم العيد أفضل وتفوت بفوات شوال ويسن قضاؤها

Artinya, “Keempat adalah (puasa sunah enam hari di bulan Syawal) berdasarkan hadits, ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu mengiringinya dengan enam hari puasa di bulan Syawal, ia seakan puasa setahun penuh.’ Hadits lain mengatakan, puasa sebulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Semua itu seakan setara dengan puasa (wajib) setahun penuh’. Keutamaan sunah puasa Syawal sudah diraih dengan memuasakannya secara terpisah dari hari Idul Fithri. Hanya saja memuasakannya secara berturut-turut lebih utama. Keutamaan sunah puasa Syawal luput seiring berakhirnya bulan Syawal. Tetapi dianjurkan mengqadhanya,” (Lihat Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Nihayatuz Zain, Al-Maarif, Bandung, Tanpa Tahun, Halaman 197).

Mengiringi hari raya Id dengan puasa sunah Syawal lebih utama. Tetapi orang yang mengamalkan puasa sunah Syawal yang terpisah dari hari Id tetap mendapatkan keutamaan sunah Syawal sebagaimana keterangan Syekh Sayyid Bakri bin Sayyid Syatha Dimyathi berikut ini:

واتصالها بيوم العيد أفضل) أي من عدم اتصالها به ولكن يحصل أصل السنة بصومها غير متصلة به كما يحصل بصومها غير متتابعة بل متفرقة في جميع الشهر

Artinya, “(Menyambung puasa sunah Syawal dengan hari raya Id lebih utama) daripada tidak menyambung keduanya. Tetapi dengan hanya berpuasa sunah tanpa menyambungnya dengan hari raya Id sekalipun, keutamaan puasa sunah Syawal sudah didapat sebagaimana juga keutmaan itu didapat dengan berpuasa Syawal tanpa berurutan, yaitu terpisah di sepanjang bulan Syawal,” (Lihat Syekh Sayyid Bakri bin Sayyid Syatha Dimyathi, I‘anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425 H-1426 H], juz II, halaman 304).

Pengamalan puasa Syawal yang beriringan adalah puasa sunah pada tanggal 2-7 Syawal. Pengiringan puasa dengan hari Id jauh lebih utama daripada yang terpisah karena secara sederhana itu bagian dari menyegerakan ibadah sebagaimana keterangan Syekh Sayyid Bakri bin Sayyid Syatha Dimyathi:

قوله مبادرة للعبادة) علة لأفضلية اتصالها بيوم العيد أي وإنما كان أفضل لأجل المبادرة في العبادة

Artinya, “(Untuk menyegerakan ibadah) sebagai sebab keutamaan sambungan puasa sunah Syawal dan hari raya Id. Sambungan antara Hari Id dan puasa sunah Syawal menjadi lebih utama karena menyegerakan dalam masalah ibadah,” (Lihat Syekh Sayyid Bakri bin Sayyid Syatha Dimyathi, I‘anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425 H-1426 H], juz II, halaman 304). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)