IMG-LOGO
Shalat

Dasar Hadist Shalat Sunnah Sebelum Ashar

Rabu 18 Juli 2018 12:0 WIB
Share:
Dasar Hadist Shalat Sunnah Sebelum Ashar
(Foto: ibtimes.com)
Selain shalat wajib, shalat sunnah juga sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Dalam Islam terdapat banyak macam shalat sunnah. Di antara shalat sunnah yang sangat dianjurkan adalah shalat rawatib, yaitu shalat yang dikerjakan setelah atau sebelum shalat wajib.

Berikut ini adalah rincian shalat rawatib, yaitu shalat sunnah sebelum shubuh, sebelum dan sesudah zuhur, sebelum ashar, sebelum dan setelah maghrib, dan sebelum dan setelah isya’.

Syeikh Abu Syuja’ dalam Matan Taqrib menjelaskan:

والسنن التابعة للفرائض سبعة عشر ركعة: ركعتا الفجر، وأربع قبل الظهر وركعتان بعده، وأربع قبل العصر، وركعتان بعد المغرب، ثلاثة بعد العشاء يوتر بواحدة منهن

Artinya, “Sunnah yang mengiri shalat fardhu ada 17 rakaat: dua rakaat sebelum shubuh, empat rakaat sebelum dzuhur dan dua rakaat setelahnya, empat rakaat sebelum ashar, dua rakaat setelah maghrib, dan tiga rakaat setelah isya dengan sekaligus witir satu rakaat.”

Dari penjelasan di atas, yang tidak termasuk shalat sunnah hanyalah shalat setelah shubuh dan setelah ashar, karena itu termasuk waktu yang dilarang shalat.

Sementara shalat sunnah sebelum maghrib, meskipun tidak dimasukan dalam penjelasan di atas, tetap disunnahkan berdasarkan hadits Bukhari-Muslim.

كُنَّا بِالْمَدِينَةِ فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ لِصَلاَةِ الْمَغْرِبِ ابْتَدَرُوا السَّوَارِىَ فَيَرْكَعُونَ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ الْغَرِيبَ لَيَدْخُلُ الْمَسْجِدَ فَيَحْسِبُ أَنَّ الصَّلاَةَ قَدْ صُلِّيَتْ مِنْ كَثْرَةِ مَنْ يُصَلِّيهِمَا

Artinya, “Dulu ketika kami berada di Madinah, di saat muazin mengumandangkan azan maghrib, mereka langsung saling berlomba untuk melakukan shalat dua rakaat dan dua rakaat. Bahkan kalau ada orang asing masuk masjid, mereka akan menyangka bahwa shalat maghrib sudah dilaksanakan saking banyaknya orang yang melakukan shalat dua rakaat tersebut,” (HR Muslim).

Kemudian shalat yang disunnahkan juga, berdasarkan penjelasan Syekh Abu Syuja’, adalah shalat sunnah sebelum Ashar. Dalam hadits riwayat Al-Tirmidzi, orang yang mengerjakan shalat sunnah sebelum ashar akan dirahmati Allah SWT.

Rasulullah SAW mengatakan:

رحم الله امرءا صلى قبل العصر أربعا

Artinya, “Allah SWT merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar,” (HR At-Tirmidzi).

Shalat empat rakaat maksudnya di sini adalah pengerjaannya dua rakaat dua rakaat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلى قبل العصر أربع ركعات يفصل بينهن بالتسليم

Artinya, “Nabi SAW melakukan shalat empat rakaat sebelum ashar dengan dua salam, (dua rakaat dua rakaat),” (HR At-Tirmidzi).

Berdasarkan kedua hadits ini, shalat sunnah empat rakaat sebelum ashar termasuk bagian dari kesunnahan. Bahkan, orang yang mengerjakannya akan dirahmati Allah SWT. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)
Share:
Kamis 12 Juli 2018 9:0 WIB
Bolehkah Orang Shalat Sendirian Ikut Shalat Jamaah?
Bolehkah Orang Shalat Sendirian Ikut Shalat Jamaah?
(Foto: viata-libera.co)
Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, apalagi kalau dikerjakan di masjid. Karena selain mendapatkan pahala, shalat jamaah di masjid juga bagian dari meramaikan masjid. Shalat berjamaah minimal dilakukan oleh satu orang imam dan makmum.

Rasulullah bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Artinya, “Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dibandingkan shalat sendirian,” (HR Bukhari dan Muslim).

Syekh Zainuddin Al-Malibari menjelaskan maksud keutamaan shalat berjamaah di sini adalah sebagai kesunahan, bukan kewajiban. Sementara frasa dua puluh tujuh derajat dalam hadits tersebut maksudnya adalah di dalam shalat berjamaah terdapat banyak hikmah dan keutamaan dibanding shalat sendirian.

Sebab itu, sangat dianjurkan mengerjakan shalat berjamaah di masjid atau boleh di rumah bila tidak bisa ke masjid. Bahkan, dalam fiqih dibolehkan mengulangi shalat karena ingin berjamaah.

Lalu bagaimana kalau kita sedang shalat sendirian, kemudian di pertengahan shalat melihat ada orang yang sedang mengerjakan shalat berjamaah, kemudian kita ubah niat dari shalat sendirian menjadi niat ikut shalat jamaah demi mendapatkan pahala shalat berjamaah. Apakah hal demikian dibolehkan atau tidak?

Persoalan ini pernah dibahas Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in. Ia mengatakan:

يجوز لمنفرد أن ينوي الاقتداء بإمام أثناء صلاته وإن اختلفت ركعتهما لكن يكره ذلك له، دون مأموم خرج من الجماعة لنحو حدث إمامه فلا يكره له الدخول في جماعة أخرى. فإذا اقتدى في الأثناء لزمه موافقة الإمام، ثم إن فرغ أولا أتم كمسبوق، وإلا فانتظاره أفضل

Artinya, “Boleh bagi makmum yang shalat sendirian niat mengikuti imam di pertengahan shalatnya, meskipun rakaat keduanya berbeda. Meskipun dibolehkan, tapi tetap makruh hukumnya. Tetapi, bagi orang yang keluar dari jamaah, karena imamnya berhadats, tidak dimakruhkan baginya untuk mengikuti jamaah yang lain. Kalau mengikuti shalat berjamaah di pertengahan diharuskan menyesuaikan dengan imam. Kalau imam duluan selesai, maka dia harus menyempurnakan shalat seperti halnya makmum masbuq. Kalau makmum duluan selesai, maka dianjurkan dia menunggu imam sampai selesai.”

Maksudnya, orang yang shalat sendirian, kemudian mengikuti shalat berjamaah di pertengahan shalatnya, hal ini dibolehkan oleh para ulama, tapi hukumnya makruh. Shalatnya tetap sah, tapi ia tidak mendapatkan keutamaan shalat berjamaah.

Tetapi, bagi orang yang mengikuti shalat jamaah yang lain karena mengetahui imamnya berhadats, hukumnya tidak makruh. Sementara bagi orang yang awalnya shalat sendirian kemudian mengikuti imam di pertengahan, ia diharuskan untuk mengikuti gerakan imam sebagaimana shalat berjamaah pada umumnya.

Pada saat imam duluan selesai, ia diharuskan untuk menyempurnakan shalat dan menambah rakaat yang kurang. Sementara kalau ia yang duluan selesai, dianjurkan untuk menunggu imam sampai selesai, supaya bisa salam bersama imam. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)
Ahad 24 Juni 2018 14:0 WIB
Hakikat Bersujud kepada Allah
Hakikat Bersujud kepada Allah
Ilustrasi (ist)
Al-Quran menggunakan kata sujud untuk berbagai arti. Sekali diartikan sebagai penghormatan dan pengakuan akan  kelebihan pihak lain, seperti sujudnya malaikat kepada Adam pada Al-Quran surat Al-Baqarah (2): 34.

Di waktu lain sujud berarti kesadaran terhadap kekhilafan serta pengakuan kebenaran yang disampaikan pihak lain, itulah arti sujud di dalam firman-Nya, Lalu para penyihir itu tersungkur dengan bersujud (QS. Thaha [20]: 70).

Yang ketiga sujud berarti mengikuti maupun menyesuaikan diri dengan ketetapan Allah yang berkaitan dengan alam raya ini, yang secara salah kaprah dan populer sering dinama hukum-hukum alam. Bintang dan pohon keduanya bersujud (QS. Al-Rahman [55]: 6).

Dari sunnatullah diketahui bahwa kemenangan hanya tercapai dengan kesungguhan dan perjuangan. Kekalahan diderita karena kelengahan dan pengabaian disiplin, dan sukses diraih dengan perencanaan dan kerja keras, dan sebagainya, sehingga seseorang tidak disebut bersujud, apabila tidak mengindahkan hal-hal tersebut.

Kata sujud sangat terkait dengan istilah masjid. Itu karena dari segi bahasa, kata masjid terambil dari akar kata sajada-sujud, yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan ta’dzim. (Muhammad Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, Mizan, 2000).

Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang kemudian dinamai sujud oleh syariat, adalah bentuk lahiriah yang paling nyata dari makna-makna di atas. Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan untuk melaksanakan shalat dinamakan masjid, yang artinya tempat bersujud.

Namun, selain tempat bersujud, Al-Qur’an menyebut fungsi masjid antara lain di dalam Firman-Nya:

“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak (pula) oleh jual-beli, atau aktivitas apapun dan mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS An-Nur: 36-37)

Perintah bertasbih bukan hanya berarti mengucapkan Subhanallah, melainkan lebih luas lagi, sesuai dengan makna yang dicakup oleh kata tersebut beserta konteksnya. Sedangkan arti dan konteks-konteks tersebut dapat disimpulkan dengan kata takwa. 

Sedangkan takwa sendiri tidak hanya diwujudkan dalam hablum minallah (hubungan dengan Allah), tetapi juga hablum minannas (hubungan sesama manusia) serta hablum minal alam (hubungan dengan alam/lingkungan). Dalam hal ini, masjid hendaknya menjadi titik tolak perubahan ke arah masyarakat yang berkeadilan di segala lini. (Fathoni)
Jumat 22 Juni 2018 15:0 WIB
Memahami Hakikat Fungsi Masjid
Memahami Hakikat Fungsi Masjid
Ilustrasi masjid (Dok. NU Online)
 Masyarakat menyebut masjid adalah rumah Allah SWT yang difungsikan untuk menunaikan shalat. Selain itu, biasanya masjid juga dimanfaatkan untuk proses belajar dan mengajar keagamaan atau ngaji. Namun demikian, banyak hal yang bisa direalisasikan melalui masjid untuk tujuan kemaslahatan umat secara luas.

Hal tersebut menunjukkan bahwa selain dapat menegakkan agama Allah SWT, masjid juga dapat digunakan untuk mewujudkan kesejahteraan dan ketertiban sosial melalui dakwah-dakwah keagamaan. Jika di Indonesia terdiri dari masyarakat yang majemuk, maka masjid hendaklah mendakwahkan kesejukan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an menyebut fungsi masjid antara lain di dalam Firman-Nya:

“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak (pula) oleh jual-beli, atau aktivitas apapun dan mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS An-Nur: 36-37)

Perintah bertasbih bukan hanya berarti mengucapkan Subhanallah, melainkan lebih luas lagi, sesuai dengan makna yang dicakup oleh kata tersebut beserta konteksnya. Sedangkan arti dan konteks-konteks tersebut dapat disimpulkan dengan kata takwa. 

Sedangkan takwa sendiri tidak hanya diwujudkan dalam hablum minallah (hubungan dengan Allah), tetapi juga hablum minannas (hubungan sesama manusia) serta hablum minal alam (hubungan dengan alam/lingkungan). Dalam hal ini, masjid hendaknya menjadi titik tolak perubahan ke arah masyarakat yang berkeadilan di segala lini.

Terkait hakikat fungsi masjid ini, Pakar Tafsir Al-Qur’an Prof Dr Muhammad Quraish Shihab dalam buku karyanya Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan, 2000) menguraikan, kata masjid terulang sebanyak 28 (dua puluh delapan) kali di dalam Al-Qur’an. Dari segi bahasa, kata masjid terambil dari akar kata sajada-sujud, yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan ta’dzim.

Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang kemudian dinamai sujud oleh syariat, adalah bentuk lahiriah yang paling nyata dari makna-makna di atas. Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan untuk melaksanakan shalat dinamakan masjid, yang artinya "tempat bersujud."

Dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat shalat kaum Muslim. Tetapi, karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakikat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah semata. Karena itu Al-Qur’an sural Al-Jin ayat 18, misalnya, menegaskan bahwa:

“Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, karena janganlah menyembah selain Allah sesuatu pun.” (QS Al-Jin: 18)

Selain itu, Quraish Shihab dalam buku yang sama juga mengemukakan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah dijadikan untukku (dan untuk umatku) bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri.” (HR Bukhari dan Muslim melalui Jabir bin Abdullah)

Jika Rasulullah mengaitkan masjid dengan bumi ini, maka jelas bahwa masjid bukan hanya sekadar tempat sujud dan sarana penyucian. Tidak juga hanya berarti bangunan tempat shalat, atau bahkan bertayamum sebagai cara bersuci pengganti wudhu. Tetapi masjid juga berarti tempat melaksanakan segala aktivitas manusia yang mencerminkan kepatuhan kepada Allah SWT. Wallahu ‘alam bisshowab. (Fathoni)