IMG-LOGO
Trending Now:
Warisan

Hijab dalam Ilmu Waris: Definisi, Jenis, dan Contohnya

Rabu 18 Juli 2018 19:30 WIB
Share:
Hijab dalam Ilmu Waris: Definisi, Jenis, dan Contohnya
Masalah hijab dalam hukum waris Islam dituturkan oleh Imam Muhammad bin Ali Ar-Rahabi dalam banyak bait nadham sebagai berikut:

والجد محجوب عن الميراث ... بالأب في احواله الثلاث
وتسقط الجدات من كل جهه ... بالأم فافهمه وقس ما أشبهه
وهكذا ابن الابن بالابن فلا ... تبغ عن الحكم الصحيح معدلا
وتســقط الاخـوة بالبــنـينــا ... وبالأب الادنى كما روينا
أو ببني البنين كيف كـــانوا ... سيان فيه الجمع والوحدان
ويفضل ابن الام بالاسقاط ... بالجد فافهمه على احتياط
وبالبنـــات وبنـــــات الابن ... جمعاً ووحداناً فقل لى زدني
ثم بنـات الابن يسقطن متى ... حاز البنات الثلثين يافتى
إلا إذا عصـــبهن الذكـــر ... من ولد الابن على ماذكروا
ومثلــهن الاخوات اللاتي ... يدلين بالقرب من الجهات

(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, Matnur Rahabiyyah dalam ar-Rabahiyyatud Dîniyyah, (Semarang: Toha Putra, tanpa tahun), halaman 41-46)

Hijab menurut bahasa adalah tutup atau mencegah. Sedangkan menurut istilah ulama ahli faraidl (ilmu waris) hijab berarti tidak bisanya seseorang mendapat warisan yang sebenarnya bisa mendapatkan dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat dengan si mayit.

Dengan pengertian di atas maka dapat dipahami bahwa dalam bab hijab ini tercegahnya seseorang dari mendapatkan warisan bukan karena adanya sebab-sebab yang menghalanginya mendapat warisan sebagaimana disebutkan pada bab Penghalang Warisan, namun dikarenakan adanya ahli waris yang lebih dekat posisinya dengan si mayit. Jadi sesungguhnya ahli waris yang terhalang (mahjub) ini memiliki hak untuk mendapatkan harta waris si mayit, hanya saja karena ada ahli waris yang lebih dekat ke mayit dari pada dirinya maka ia terhalang haknya untuk mendapatkan warisan tersebut. Bila orang yang terhalang ini disebut dengan “mahjub” maka ahli waris yang menghalangi disebut dengan “hajib”.

Baca juga: Tiga Sebab Seseorang Tak Berhak Memperoleh Harta Warisan
Hijab ini dibagi menjadi 2 (dua) macam yakni:

Pertama, hijab hirmân dimana orang yang mahjub benar-benar tidak bisa mendapatkan harta waris secara keseluruhan. Misalnya seorang cucu laki-laki sama sekali tidak bisa mendapatkan harta waris bila ia bersamaan dengan anak laki-lakinya si mayit. 

Kedua, hijab nuqshân dimana seorang ahli waris terhalang untuk mendapatkan bagian warisnya secara penuh. Seperti seorang suami yang tidak bisa mendapatkan bagian 1/2 dan hanya bisa mendapatkan 1/4 saja bila ia bersamaan dengan anak atau cucunya si mayit.

Dari semua ahli waris yang ada hanya 6 (enam) ahli waris yang tidak bisa mahjub dengan hijab hirmân. Keenam ahli waris itu adalah bapak, ibu, anak laki-laki, anak perempuan, suami, dan istri. 

Sedangkan ahli waris selain keenam tersebut dapat menjadi mahjub secara mutlak. Mereka adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Muhammad bin Ali Ar-Rahabi dalam bait nadham di atas, yakni:

1. Kakek menjadi mahjub apabila bersamaan dengan bapak si mayit.

Contoh:



2. Nenek menjadi mahjub apabila bersamaan dengan ibu si mayit.

Contoh:



3. Cucu laki-laki dari anak lakilaki menjadi mahjub bila bersamaan dengan anak laki-laki si mayit.
Contoh:



4. Semua saudaranya si mayit baik laki-laki maupun perempuan, baik sekandung, sebapak, ataupun seibu menjadi mahjub apabila bersamaan dengan anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, atau bapak si mayit.

Contoh:






5. Waladul umm atau saudara seibu baik laki-laki ataupun perempuan, selain menjadi mahjub bila bersamaan dengan ketiga ahli waris pada nomor 4 di atas juga menjadi mahjub apabila bersamaan dengan kakek, anak perempuan, atau cucu perempuan dari anak laki-laki.

Contoh:





6. Cucu perempuan dari anak laki-laki apabila bersamaan dengan anak peremupan si mayit lebih dari satu maka menjadi mahjub.

Contoh:



Namun demikian bila ada mu’ashshib-nya (ahli waris yang mengashabahkannya) maka ia tidak jadi mahjub, namun menjadi mendapatkan bagian ashabah bil ghair. Adapun mu’ashshib-nya adalah cucu laki-laki dari anak laki-laki si mayit.

7. Saudara perempuan sebapak menjadi mahjub apabila bersamaan dengan saudara perempuan sekandung si mayit lebih dari satu.

Namun demikian bila ada mu’ashshib-nya, yakni saudara laki-laki sebapaknya si mayit, maka tidak mahjub namun mendapat bagian ashabah bil ghair. 

Pada nadham terakhir dalam Bab Hijab ini Imam Ar-Rahabi memberikan catatan bahwa anak laki-laki dari saudara laki-lakinya si mayit tidak bisa menjadi mu’ashshib (mengashabahkan) perempuan siapapun baik yang setingkat derajatnya maupun yang lebih tinggi darinya.

Hijab Nuqshân

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa selain hijab hirmân juga ada hijab nuqshân di mana seorang ahli waris tidak bisa mendapatkan hak warisnya secara penuh dikarenakan adanya ahli waris lain.

Dr. Musthafa Al-Khin dalam al-Fiqhul Manhajî-nya menyatakan bahwa hijab nuqshân ini dapat mengenai semua ahli waris yang ada. Seorang suami yang semestinya bisa mendapatkan bagian setengah menjadi terhalang mendapatkannya ketika ia bersamaan dengan anak atau cucunya si mayit, sehingga ia hanya bisa mendapatkan seerempat saja. Seorang istri yang semestinya mendapatkan hak waris sebesar seperempat, berkurang menjadi seperdelapan manakala ia bersamaan dengan anak atau cucunya si mayit. Seorang ibu menjadi terhalang untuk mendapatkan bagian sepertiga ketika ia bersamaan dengan anak atau beberapa saudaranya si mayit, maka ia hanya mendapatkan seperenam saja.

Sementara seorang cucu perempuan dari anak laki-laki terhalang mendapatkan bagian setengah ketika ia bersamaan dengan anak perempuannya, maka ia hanya mendapat seperenam. Seorang saudara perempuan sebapak yang semestinya bisa mendapatkan bagian setengah menjadi hanya mendapatkan seperenam manakala ia berbarengan dengan saudara perempuan sekandung. Sedangkan seorang anak laki-laki menjadi berkurang bagian warisnya manakala ia bersamaan dengan anak laki-laki lainnya. Demikian pula dengan ahli waris lainnya.

Terhalang Mendapat Warisan karena Sifat

Sebagaimana pernah di jelaskan sebelumnya bahwa ada orang-orang tertentu yang semestinya menjadi ahli waris dan berhak mendapatkan warisan namun oleh syari’at ia dicegah untuk mendapatkannya karena adanya sifat-sifat tertentu pada diri orang tersebut. 

Mereka yang termasuk dalam kategori ini adalah orang yang membunuh si mayit, orang kafir, dan budak. Seorang anak yang membunuh orang tuanya ia tak berhak mendapatkan harta warisan yang ditinggalkan oleh orang tua yang dibunuhnya itu. Sementara ahli waris yang tidak beragama Islam karena kekafirannya itu ia tidak bisa mendapatkan warisan dari si mayit yang beragama Islam meskipun sesungguhnya ia termasuk salah satu ahli warisnya. Adapun seorang budak karena status budaknya itu tidak bisa mendapatkan warisan dari harta yang ditinggalkan tuannya.

Dr. Musthafa Al-Khin dalam al-Fiqhul Manhaji (Damaskus, Darul Qalam, 1992, juz V, halaman 112) mengingatkan satu hal yang mesti digaris bawahi, bahwa ketiga orang tersebut yang tercegah mendapat warisan karena sifat keberadaannya tidak dapat menghalangi ahli waris lain untuk mendapatkan warisan, baik secara hirmân maupun nuqshân.

Sebagai contoh, seorang anak laki-laki yang membunuh ayahnya dan ahli waris yang ada saat itu adalah seorang istri dan anak laki-laki yang membunuh tersebut, maka sang istri tetap mendapatkan bagian seperempat meskipun ada anak laki-laki si mayit. Ini dikarenakan ada atau tidaknya sang anak yang membunuh dianggap sama saja, tidak berpengaruh apapun pada ahli waris yang lain.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Tags:
Share:
Jumat 16 Maret 2018 15:30 WIB
Mengenal Masalah Gharawain dan Bagian Tsuluts Baqi dalam Warisan
Mengenal Masalah Gharawain dan Bagian Tsuluts Baqi dalam Warisan
Sebagaimana diketahui bahwa dalam ilmu faraidl ada 6 (enam) macam bagian pasti yang telah ditentukan oleh Allah di dalam Al-Qur’an dan disepakati oleh para ulama. Keenam bagian pasti itu adalah 1/2, 1/4, 1/8, 2/3, 1/3, dan 1/6. Di samping itu juga ada satu bagian yang merupakan hasil ijtihad dan kesepakatan para ulama, yakni bagian 1/3 (sepertiga) sisa atau sering disebut tsuluts bâqî

Dalam pembahasan bagian 1/3 sisa juga tidak bisa lepas dari sebuah istilah yang oleh para ulama faraidl disebut dengan masalah gharawain. Dalam satu pembahasan kedua istilah ini tidak bisa dipisahkan, satu sama lain saling berhubungan. Lalu apa itu tsuluts bâqî? Apa pula masalah gharawain?

Imam Muhammad bin Ali Ar-Rahabi dalam kitab Matnur Rahabiyyah-nya menuliskan:

وإن يكـــن زوج وأم وأب ... فثلث الباقي لها مرتب
وهكذا مع زوجة فصاعـدا ... فلا تكن عن العلوم قاعدا

Artinya:
Bila ada ahli waris suami, ibu dan bapak
Maka sepertiga sisa bagi ibu diurutkan
Demikian pula bersama satu istri atau lebih
Janganlah pengetahuan itu kau tinggalkan
(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, Matnur Rahabiyyah dalam ar-Rabahiyyatud Dîniyyah, Semarang, Toha Putra, tanpa tahun, halaman 22)

Dari dua bait di atas dapat dipahami bahwa apabila terjadi dua kasus pembagian warisan di mana ahli warisnya terdiri dari suami, ibu dan bapak atau terdiri dari istri, ibu dan bapak, maka sang ibu mendapat bagian 1/3 sisa dari asal masalah yang sebelumnya telah diambil lebih dahulu oleh suami atau istri. Kedua kasus seperti inilah yang disebut dengan masalah gharawain.

Sebagaimana diketahui bahwa seorang ibu apabila tidak bersama dengan anak atau cucunya si mayit ia bisa mendapatkan bagian 1/3 dari harta warisan yang ada. Bagian 1/3 ini diambil langsung oleh ibu dari asal masalah yang ada. Namun demikian bila terjadi dua kasus sebagaimana di atas maka ibu tidak diberi bagian 1/3 langsung dari asal masalah namun 1/3 dari sisa asal masalah setelah diambil oleh suami atau istri.

Untuk lebih jelasnya masalah gharawain ini bisa digambarkan sebagai berikut:

Kasus 1

Seorang meninggal dunia dengan ahli waris seorang suami, ibu, dan bapak. Pada dasarnya pembagian warisan kasus di atas sebagai berikut:

Ahli Waris

Bagian

6

Suami

1/2

3

Ibu

1/3

2

Bapak

Ashabah/sisa

1

Majmu’ Siham

6

 

Penjelasan:

a. Asal masalah 6
b. Suami mendapat bagian 1/2 karena tidak ada anak atau cucunya si mayit, siham 3
c. Ibu mendapat bagian 1/3 karena tidak ada anak, cucu, dan saudaranya si mayit, siham 2
d. Bapak mendapat bagian ashabah, siham 1

Kasus 2

Seorang meninggal dunia dengan ahli waris seorang istri, ibu, dan bapak. Pada dasarnya pembagian warisan kasus di atas sebagai berikut:

 

Ahli Waris

Bagian

12

Istri

1/4

3

Ibu

1/3

4

Bapak

Ashabah/sisa

5

Majmu’ Siham

12

 

Penjelasan:

a. Asal masalah 12
b. Istri mendapat bagian 1/4 karena tidak ada anak dan cucunya si mayit, siham 3.
c. Ibu mendapat bagian 1/3 karena tidak ada anak, cucu, dan saudaranya si mayit, siham 4.
d. Bapak mendapat bagian ashabah, siham 5

Pada kedua kasus di atas pemberian bagian waris kepada ibu sebanyak 1/3 secara sempurna, bukan 1/3 sisa. Dengan pembagian yang demikian maka pada kasus yang pertama ibu mendapat bagian (siham) lebih banyak dari pada bapak; ibu 2 siham dan bapak 1 siham. Sedangkan pada kasus kedua bapak memang mendapat lebih banyak dari ibu namun hanya terpaut sedikit; ibu 4 siham dan bapak 5 siham.

Padahal di dalam aturan syari’at disebutkan bahwa apabila ada ahli waris laki-laki dan perempuan berkumpul dengan derajat yang sama maka laki-laki mendapat dua kali bagian perempuan atau perempuan mendapat separo dari bagian laki-laki. Seperti anak laki-laki bersama dengan anak perempuan, maka anak laki-laki mendapat bagian dua kali bagian anak perempuan.

Atas dasar itu maka para ulama memberi bagian sepertiga sisa (tsuluts bâqî) kepada ibu sehingga bagiannya sebagai perempuan tidaklebih banyak dari bagian bapak yang laki-laki. Yang demikian pernah diputuskan oleh sahabt Umar bin Khathab dan jumhur sahabat menyepakatinya.

Dengan demikian maka kedua kasus di atas pembagian warisnya dihitung sebagai berikut:

Kasus 1

 

Ahli Waris

Bagian

6 – 3 = 3

Suami

1/2

3

Ibu

1/3 sisa

1

Bapak

Ashabah/sisa

2

Majmu’ Siham

6

 

Penjelasan:

a. Asal masalah 6
b. Suami mendapat bagian 1/2, siham 3
c. Ibu mendapat bagian 1/3 sisa, siham 1. Siham 1 ini tidak diambilkan dari 1/3 x 6 (asal masalah sesungguhnya) tapi dari 1/3 x 3 (sisa asal masalah) yang dihasilkan dari asal masalah 6 – siham suami 3.
d. Bapak mendapat bagian ashabah, siham 2.

Kasus 2
 

Ahli Waris

Bagian

12 – 3 = 9

Istri

1/4

3

Ibu

1/3 sisa

3

Bapak

Ashabah/sisa

6

Majmu’ Siham

12

 

Penjelasan:

a. Asal masalah 12
b. Istri mendapat bagian 1/4, siham 3
c. Ibu mendapat bagian 1/3 sisa, siham 3. Siham 3 ini tidak diambilkan dari 1/3 x 12 (asal masalah sesungguhnya) tapi dari 1/3 x 9 (sisa asal masalah) yang dihasilkan dari asal masalah 12 – siham istri 3.
d. Bapak mendapat bagian ashabah, siham 6

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Kamis 15 Maret 2018 16:0 WIB
Tata Cara Pembagian Harta Warisan dalam Islam
Tata Cara Pembagian Harta Warisan dalam Islam
Sebelum membahas bagaimana cara menghitung pembagian harta warisan sebelumnya mesti diketahui lebih dahulu beberapa istilah yang biasa dipakai dalam pembagian warisan. Beberapa istilah itu antara lain adalah:

1. Asal Masalah (أصل المسألة)

Asal Masalah adalah:

أقل عدد يصح منه فرضها أو فروضها

Artinya: “Bilangan terkecil yang darinya bisa didapatkan bagian secara benar.” (Musthafa Al-Khin, al-Fiqhul Manhaji, Damaskus, Darul Qalam, 2013, jilid II, halaman 339)

Adapun yang dikatakan “didapatkannya bagian secara benar” atau dalam ilmu faraidl disebut Tashhîhul Masalah adalah:

أقل عدد يتأتى منه نصيب كل واحد من الورثة صحيحا من غير كسر

Artinya: “Bilangan terkecil yang darinya bisa didapatkan bagian masing-masing ahli waris secara benar tanpa adanya pecahan.” (Musthafa Al-Khin, 2013:339)

Dalam ilmu aritmetika, Asal Masalah bisa disamakan dengan kelipatan persekutuan terkicil atau KPK yang dihasilkan dari semua bilangan penyebut dari masing-masing bagian pasti ahli waris yang ada. Asal Masalah atau KPK ini harus bisa dibagi habis oleh semua bilangan bulat penyebut yang membentuknya.

Lebih lanjut tentang Asal Masalah akan dibahas pada tulisan tersendiri, insyaallah.

2. ‘Adadur Ru’ûs (عدد الرؤوس)

Secara bahasa ‘Adadur Ru’ûs berarti bilangan kepala.

Asal Masalah sebagaimana dijelaskan di atas ditetapkan dan digunakan apabila ahli warisnya terdiri dari ahli waris yang memiliki bagian pasti atau dzawil furûdl. Sedangkan apabila para ahli waris terdiri dari kaum laki-laki yang kesemuanya menjadi ashabah maka Asal Masalah-nya dibentuk melalui jumlah kepala/orang yang menerima warisan.

3. Siham (سهام)

Siham adalah nilai yang dihasilkan dari perkalian antara Asal Masalah dan bagian pasti seorang ahli waris dzawil furûdl.

4. Majmu’ Siham (مجموع السهام)

Majmu’ Siham adalah jumlah keseluruhan siham.

Setelah mengenal istilah-istilah tersebut berikutnya kita pahami langkah-langkah dalam menghitung pembagian warisan:

1. Tentukan ahli waris yang ada dan berhak menerima warisan

2. Tentukan bagian masing-masing ahli waris, contoh istri 1/4, Ibu 1/6, anak laki-laki sisa (ashabah) dan seterusnya.

3. Tentukan Asal Masalah, contoh dari penyebut 4 dan 6 Asal Masalahnya 24

4. Tentukan Siham masing-masing ahli waris, contoh istri 24 x 1/4 = 6 dan seterusnya

Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan dalam sebuah kasus perhitungan waris sebagai berikut:

Kasus 1

Seorang laki-laki meninggal dunia dengan meninggalkan ahli waris seorang istri, seorang ibu dan seorang anak laki-laki. Maka perhitungan pembagian warisnya sebagai berikut:

 

Ahli Waris

Bagian

24

Istri

1/8

3

Ibu

1/6

4

Anak laki-laki

Sisa

17

Majmu’ Siham

24

 


Penjelasan:

a. 1/8, 1/6 dan sisa adaah bagian masing-masing ahli waris.

b. Angka 24 di atas adalah Asal Masalah yang merupakan bilangan terkecil yang bisa dibagi habis oleh bilangan 8 dan 6 sebagai penyebut dari bagian pasti yang dimiliki oleh ahli waris istri dan ibu.

c. Angka 3, 4 dan 17 adalah siham masing-masing ahli waris dengan rincian:
    - 3 untuk istri, hasil dari 24 x 1/8
    - 4 untuk ibu, hasil dari 24 x 1/6
    - 17 untuk anak laki-laki, sisa dari 24 – (3 + 4)

d. Angka 24 di bawah adalah Majmu’ Siham, jumlah dari seluruh siham semua ahli waris (3 + 4 + 17)

Catatan: Majmu’ Siham harus sama dengan Asal Masalah, tidak boleh lebih atau kurang.

Kasus 2

Seseorang meninggal dunia dengan ahli waris 3 orang anak laki. Maka perhitungan pembagian warisnya sebagai berikut:

 

Ahli Waris

Bagian

3

Anak laki-laki

Ashabah

1

Anak laki-laki

Ashabah

1

Anak laki-laki

Ashabah

1

Majmu’ Siham

3

 


Penjelasan:

a. Karena semua ahli waris adalah anak laki-laki maka semuanya menerima warisan sebagai ashabah, bukan dzawil furûdl.
b. Angka 3 di atas adalah Asal Masalah yang dihasilkan dari ‘Adadur Ru’ûs atau jumlah orang penerima warisan. Asal Masalah di sini tidak dihasilkan dari bilangan penyebut bagian pasti, tetapi dari jumlah orang yang menerima warisan.
c. Angka 1 adalah siham masing-masing ahli waris yang didapatkan dari Asal Masalah dibagi jumlah ahli waris yang ada. Karena semua ashabah dari pihak laki-laki maka Asal Masalah dibagi rata kepada mereka.
d. Angka 3 di bawah adalah Majmu’ Siham, jumlah dari seluruh siham semua ahli waris (1 + 1 + 1)

Bagaimana bila konsep di atas diaplikasikan pada pembagian harta waris dengan nominal tertentu?

Untuk mengaplikasikan tata cara pembagian waris di atas dengan nominal harta warisan tertentu sebelumnya mesti dipahami bahwa Asal Masalah yang didapat dalam setiap pembagian warisan juga digunakan untuk membagi harta yang ada menjadi sejumlah bagian sesuai dengan bilangan Asal Masalah tersebut.

Sebagai contoh bila harta yang ditinggalkan si mayit sejumlah Rp. 100.000.000 dan Asal Masalahnya adalah bilangan 8, maka harta waris Rp. 100.000.000 tersebut dibagi menjadi 8 bagian di mana masing-masing bagian senilai Rp. 12.500.000. Bila seorang anak perempuan mendapatkan siham 4 misalnya, maka ia mendapatkan nominal harta waris 4 x Rp. 12.500.000 = Rp. 50.000.000.

Untuk lebih jelasnya bisa digambarkan dalam beberapa contoh kasus sebagai berikut:

Kasus 1

Seorang perempuan meninggal dunia dengan ahli waris seorang suami, seorang ibu dan seorang anak laki-laki. Harta yang ditinggalkan sebesar Rp. 150.000.000. Maka pembagiannya adalah sebagai berikut:
 

Ahli Waris

Bagian

12

Suami

1/4

3

Ibu

1/6

2

Anak laki-laki

Ashabah / Sisa

7

Majmu’ Siham

12

 

Penjelasan:

a. Asal Masalah 12
b. Suami mendapat bagian 1/4 karena ada anaknya si mayit, sihamnya 3
c. Ibu mendapat bagian 1/6 karena ada anaknya si mayit, sihamnya 2
d. Anak laki-laki mendapatkan bagian sisa, sihamnya 7
e. Nominal harta Rp. 150.000.000 dibagi 12 bagian, masing-masing bagian senilai Rp. 12.500.000

Bagian harta masing-masing ahli waris:

a. Suami : 3 x Rp. 12.500.000 = Rp. 37.500.000
b. Ibu         : 2 x Rp. 12.500.000 = Rp. 25.000.000
c. Anak laki-laki : 7 x Rp. 12.500.000 = Rp. 87.500.000
        Jumlah harta terbagi :             Rp. 150.000.000 (Habis terbagi)


Kasus 2
Seorang laki-laki meninggal dunia dengan ahli waris seorang istri, seorang anak perempuan, seorang ibu, dan seorang paman. Harta yang ditingalkan sejumlah Rp. 48.000.000. Maka pembagiannya sebagai berikut:
 

Ahli Waris

Bagian

24

Istri

1/8

3

Anak perempuan

1/2

12

Ibu

1/6

4

Paman

Ashabah / Sisa

5

Majmu’ Siham

24

 

Penjelasan:

a. Asal Masalah 24
b. Istri mendapat bagian 1/8 karena ada anaknya si mayit, sihamnya 3
c. Anak perempuan mendapat bagian 1/2 karena sendirian dan tidak ada mu’ashshib, sihamnya 12
d. Ibu mendapat bagian 1/6 karena ada anaknya si mayit, sihamnya 4
e. Paman mendapatkan bagian sisa, sihamnya 5
f. Nominal harta Rp. 48.000.000 dibagi 24 bagian, masing-masing bagian senilai Rp. 2.000.000

Bagian harta masing-masing ahli waris:

a. Istri         :   3 x Rp. 2.000.000 = Rp. 6.000.000
b. Anak perempuan : 12 x Rp. 2.000.000 = Rp. 24.000.000
c. Ibu         :   4 x Rp. 2.000.000 = Rp. 8.000.000
d. Paman :   5 x Rp. 2.000.000 = Rp. 10.000.000
Jumlah harta terbagi :                      Rp. 24.000.000 (Habis terbagi)


Kasus 3
Seorang meninggal dunia dengan ahli waris seorang bapak, seorang ibu, seorang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan. Nominal harta warisan sebesar Rp. 30.000.000. Perhitungan pembagian harta waris tersebut sebagai berikut:


Penjelasan:


a. Asal Masalah 6
b. Bapak mendapat bagian 1/6 karena ada anaknya si mayit, siham 1
c. Ibu mendapat bagian 1/6 karena ada anaknya si mayit, siham 1
d. Anak laki-laki dan 2 anak perempuan:
    - Secara keseluruhan mendapat bagian ashabah atau sisa, yakni 4 siham. 
    - Anak laki-laki sebagai ashabah bin nafsi, 2 anak perempuan sebagai ashabah bil ghair karena bersama dengan mu’ashshib.
    - Dalam hal ini berlaku hukum “laki-laki mendapat dua bagian anak perempuan.”
    - Karenanya meskipun anak laki-laki hanya 1 orang namun ia dihitung 2 orang. Maka penerima ashabah pada kasus ini seakan ada 4 orang yang terdiri dari 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. 
    - Maka sisa 4 siham dibagi menjadi 2 siham untuk satu anak laki-laki dan 2 siham untuk 2 anak perempuan di mana masing-masing anak perempuan mendapat 1 siham.
e. Nominal harta Rp. 30.000.000 dibagi 6 bagian, masing-masing bagian senilai Rp. 5.000.000.

Bagian harta masing-masing ahli waris:
a. Bapak : 1 x Rp. 5.000.000 = Rp.   5.000.000
b. Ibu         : 1 x Rp. 5.000.000 = Rp.   5.000.000
c. Anak laki-laki : 2 x Rp. 5.000.000 = Rp. 10.000.000
d. 2 Anak perempuan : 2 x Rp. 5.000.000 = Rp. 10.000.000
(Bagian masing-masing anak perempuan Rp. 10.000.000 : 2 = Rp.  5.000.000)
Jumlah harta terbagi                   Rp. 30.000.000 (Habis terbagi)



Wallâhu a’lam(Yazid Muttaqin)
Rabu 14 Maret 2018 18:30 WIB
Mengenal Bagian Ashabah dalam Warisan: Definisi dan Macamnya
Mengenal Bagian Ashabah dalam Warisan: Definisi dan Macamnya
Sebagaimana diketahui bahwa di dalam mendapatkan harta warisan seorang ahli waris bisa melalui salah satu dari dua cara, yakni dengan menjadi dzawil furudl yang mendapatkan bagian pasti sebagaimana yang telah ditentukan di dalam Al-Qur’an dan dengan menjadi ashabah untuk mendapatkan bagian sisa.

Di dalam ilmu faraidl (warisan) definisi ashabah sebagaimana disampaikan oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili di dalam kitab al-Mu’tamad adalah:

كل وارث ليس له سهم مقدر ويأخذ كل المال اذا انفرد ويأخذ الباقي بعد أصحاب الفروض

Artinya: “Setiap ahli waris yang tidak memiliki bagian yang telah ditentukan, ia mengambil semua harta waris bila ia seorang diri dan mengambil sisa harta waris setelah sebelumnya diambil oleh orang-orang yang memiliki bagian pasti.” (Wahbah Az-Zuhaili, al-Mu’tamad fil Fiqhis Syâfi’i, Damaskus, Darul Qalam, 2011, juz IV, halaman 383)

Disyari’atkannya pengambilan harta waris dengan ashabah didasarkan pada banyak ayat, hadis dan ijma’ para ulama. Di antaranya dalam surat An-Nisa ayat 11 Allah berfirman:

وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ

Artinya: “Bagi kedua orang tua masing-masing mendapatkan bagian seperenam dari harta yang ditinggalkan orang yang meningal apabila ia memiliki anak. Apabila orang yang meninggal tidak memiliki anak dan kedua orang tuanya mewarisinya maka bagi ibunya bagian seperttiga.”

Dari ayat di atas bisa dipahami bahwa bila si mayit memiliki anak maka bapak dan ibu masing-masing mendapat bagian 1/6 sebagaimana dinyatakan ayat tersebut. Namun bila si mayit tidak memiliki anak sementara yang mewarisi adalah kedua orang tua, maka—sesuai kalimat ayat tersebut—sang ibu mendapatkan bagian 1/3. Lalu berapa bagian untuk sang bapak? Ayat tersebut tak menyebutkannya. Lalu untuk siapa sisa harta setelah diambil 1/3 oleh ibu? Dari sini para ulama memahami bahwa sisa harta waris tersebut adalah bagian sang bapak. Dari sinilah adanya bagian ashabah.

Macam-macam Ashabah

Ada 2 (dua) macam ashabah di dalam ilmu faraidl, yakni ashabah sababiyah dan ashabah nasabiyah.

Ashabah sababiyah adalah ashabah karena adanya sebab, yaitu sebab memerdekakan budak. Ketika seorang budak yang telah dimerdekakan meninggal dunia dan tak memiliki kerabat secara nasab maka sang tuan yang memerdekakannya bisa mewarisi harta peninggalannya secara ashabah, sebagai balasan atas kebaikannya yang telah memerdekakan sang budak (Wahbah Az-Zuhaili, 2011: 385).

Sedangkan ashabah nasabiyah adalah ashabah karena adanya hubungan nasab dengan si mayit. Mereka yang masuk dalam kategori ini adalah semua orang laki-laki yang telah disebutkan dalam pembahasan para penerima waris dari pihak laki-laki selain suami dan saudara laki-laki seibu, keduanya hanya menerima dari bagian pasti saja (Musthafa Al-Khin, al-Fiqhul Manhaji, Damaskus, Darul Qalam, 2013, jilid II, halaman 298).

Dengan demikian maka yang termasuk dalam ashabah nasabiyah adalah bapak, kakek, anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki sebapak, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung, anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak, paman sekandung, paman sebapak, anak laki-lakinya paman sekandung, dan anak laki-lakinya paman sebapak. Mereka semua adalah para ahli waris yang bisa mendapatkan warisan secara ashabah. Meskipun bapak dan kakek terkadang bisa mengambil warisan melalui bagian pasti.

Macam-macam Ashabah Nasabiyah

Para ulama membagi Ashabah Nasabiyah menjadi 3 (tiga) macam, yakni:

1. Ashabah bin nafsi
2. Ashabah bil ghair
3. Ashabah ma’al ghair

Adapun penjelasan ketiga macam ashabah tersebut adalah sebagai berikut:

Ashabah bin Nafsi 

Ashabah bin nafsi adalah mereka yang memiliki nasab dengan si mayit tanpa ada unsur perempuan (Musthafa Al-Khin, 2013:299).

Yang termasuk dalam kategori ashabah ini adalah semua ahli waris laki-laki sebagaimana telah disebut di atas. Sesuai dengan namanya mereka bisa mendapatkan bagian ashabah dengan sendirinya, bukan karena dijadikan ashabah oleh ahli waris lain dan juga bukan karena bersamaan dengan ahli waris yang lain. Kerabat-kerabat sang mayit dari golongan perempuan (ibu, anak perempuan, cucu perempuan dan sebagainya) dan siapa saja yang memiliki hubungan nasab dengan si mayit dengan adanya unsur perempuan (seperti cucu laki-laki dari anak perempuan, anak laki-laki dari saudara perempuan dan sebagainya) tidak masuk dalam kategori ashabah bin nafsi, mereka tidak bisa mendapatkan sisa harta waris dengan sendirinya.

Berikutnya dilihat dari sisi nasab mereka yang masuk dalam ashabah bin nafsi diklasifikasi dalam 4 (empat) sisi:

1. Sisi keanakan (jihhatul bunuwwah), terdiri dari anak keturunannya si mayit, seperti anak laki-laki dan cucu laki-laki dari anak laki-laki, terus kebawah.

2. Sisi kebapakan (jihhatul ubuwwah), terdiri dari orang tuanya si mayit, seperti bapak dan kakek dari bapak.

3. Sisi kesaudaraan (jihhatul ukhuwwah), terdiri dari anak keturunan bapaknya si mayit yang hubungan nasabnya dengan si mayit tidak ada unsur perempuannya, seperti saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki sebapak, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung, dan anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak.

4. Sisi kepamanan (jihhatul ‘umûmah), terdiri dari keturunan kakeknya si mayit yang berupa orang laki-laki yang hubungan antaranya dengan si mayit tidak diperantarai unsur perempuan, seperti paman sekandung, paman sebapak, anak laki-lakinya paman sekandung, dan anak laki-lakinya paman sebapak.

Dari sekian banyak pihak laki-laki yang masuk dalam kategori ashabah bin nafsi tentunya tidak semuanya bisa mendapatkan bagian waris. Sebagaimana pernah disinggung pada pembahasan sebelumnya bahwa apabila semua ahli waris berkumpul maka hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menerima warisan, selainnya terhalang. Begitu pula dengan mereka yang mendapatkan bagian ashabah, bila semua berkumpul maka sebagiannya terhalang oleh sebagian yang lain.

Para ulama faraidl membuat beberapa kaidah untuk menentukan siapa saja para penerima ashabah yang bisa tetap menerima warisan dan siapa saja yang terhalang menerima warisan bila semua berkumpul. Dalam kaidah-kaidah tersebut para ulama menjelaskan:

1. Ahli waris ashabah yang masuk pada kategori yang lebih akhir tidak bisa mendapat warisan bila ia bersamaan dengan ahli waris ashabah yang masuk pada kategori sebelumnya.

Sebagai contoh, seorang bapak tidak bisa menerima warisan secara ashabah bila ia bersamaan dengan seorang anak laki-laki atau cucu laki-laki dari anak laki-laki. Ia hanya akan menerima bagian 1/6, bukan ashabah. Saudara laki-laki sekandung tidak bisa menerima warisan (mahjûb) bila ia bersamaan dengan bapaknya si mayit. Demikian pula seorang paman terhalang mendapat warisan (mahjûb) bila ia bersamaan dengan saudara laki-laki.

2. Bila ahli waris ashabah dengan kategori yang sama berkumpul maka ahli waris yang lebih jauh dari mayit tidak bisa menerima warisan karena terhalang oleh ahli waris yang lebih dekat ke mayit. 

Sebagai contoh kakek terhalang mendapat warisan bila bersama dengan bapak, cucu laki-laki terhalang bila bersama dengan anak laki-laki, dan seterusnya.

Dengan kata lain ahli waris yang bernasab ke mayit melalui perantara tidak bisa menerima warisan bila bersamaan dengan si perantara tersebut. Pada contoh di atas, seorang cucu laki-laki itu berhubungan nasab dengan si mayit melalui perantara anak laki-lakinya si mayit, maka sang cucu terhalang mendapat waris karena bersamaan dengan anak laki-lakinya si mayit. Seorang kakek berhubungan nasab dengan si mayit melalui perantara bapaknya si mayit yang juga merupakan anaknya si kakek. Maka ia terhalang mendapat warisan bila bersamaan dengan bapaknya si mayit yang merupakan perantara antara dirinya dengan si mayit.

3. Bila ada kesamaan sisi kekerabatan dan setara pula derajat para ashabah namun berbeda kekuatan kekerabatannya dengan si mayit, maka ahli waris yang lebih kuat kekerabatannya dengan si mayit lebih didahulukan dari pada ahli waris yang lebih lemah kekerabatannya dengan si mayit. Sebagai contoh, saudara laki-laki sekandung lebih kuat kekerabatannya dengan si mayit dibanding saudara laki-laki sebapak. Karenanya saudara sekandung lebih didahulukan dari pada saudara laki-laki sebapak. Demikian pula paman sekandung lebih didahulukan dari pada paman sebapak, dan seterusnya.

4. Bila ada kesamaan para ahli waris dalam sisi kekerabatan, derajat, dan kekuatan maka semuanya berhak untuk mendapatkan harta warisan. Harta waris yang ada dibagi sama rata di antara mereka. Seperti ahli waris yang terdiri dari tiga orang anak laki-laki, atau terdiri dari empat orang saudara laki-laki sekandung, dan seterusnya.

Ashabah bil Ghair

Ashabah bil ghair adalah setiap ahli waris perempuan yang memiliki bagian pasti bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya maka ahli waris perempuan tersebut menjadi ahli waris ashabah karena adanya saudara laki-laki tersebut.

Dalam hal ini seorang anak perempuan menjadi ashabah bila bersamaan dengan anak laki-laki, cucu perempuan menjadi ashabah bila bersamaan dengan cucu laki-laki, saudara perempuan sekandung menjadi ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-laki sekandung, dan saudara perempuan sebapak menjadi ashabah bila besamaan dengan sauadara laki-laki sebapak.

Dengan demikian maka bisa disimpulkan ada 4 (empat) ahli waris yang masuk dalam kategori ashabah bil ghair di mana keempatnya adalah ahli waris perempuan yang terdiri dari anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, saudara perempuan sekandung, dan saudara perempuan sebapak bila masing-masing bersamaan dengan orang yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya. Bisa dipahami pula keempat ahli waris tersebut adalah orang-orang perempuan yang mendapatkan bagian pasti 1/2 dan 2/3 bila bersamaan dengan mu’ashshib-nya.

Hanya saja dalam hal ini ada pengecualiaan bagi waladul umm. Bahwa saudara perempuan seibu bila bersamaan dengan saudara laki-laki seibu maka saudara laki-laki seibu tidak bisa menjadikan saudara perempuan seibu sebagai ashabah. Karena saudara laki-laki seibu bukanlah termasuk ashabah bin nafsi maka ia tidak bisa mengashabahkan saudara perempuan seibu. Mesti diingat pula bahwa dalam ilmu faraidl saudara laki-laki seibu dan saudara perempuan seibu derajatnya adalah sama. Bila keduanya berkumpul tidak berlaku ketentuan laki-laki mendapat dua bagian perempuan. Karenanya pula dalam ilmu faraidl kedua ahli waris ini sering disebut dalam satu istilah waladul umm (anaknya ibu) tanpa membedakan jenis kelamin.

Tentang ashabah bil ghair ini Imam Muhammad bin Ali Ar-Rahabi menulis:

والأبن والأخ مع الإناث ... يعصبانهن في الميراث 

Artinya:
Anak laki-laki dan saudara laki-laki bersama para perempuan
Keduanya mengashabahkan mereka dalam warisan
(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, Matnur Rahabiyyah dalam ar-Rabahiyyatud Dîniyyah, Semarang, Toha Putra, tanpa tahun, halaman 38)

Penjelasan dari para ulama faraidl di atas didasarkan pada firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 11:

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

Artinya: “Allah berwasiat kepada kalian di dalam anak-anak kalian bagi anak laki-laki dua bagian anak perempuan.”

Juga firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 176:

وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

Artinya: “Apabila para saudara terdiri dari laki-laki dan perempuan maka bagi saudara laki-laki dua bagian saudara perempuan.”

Para ulama menyamakan cucu perempuan dari anak laki-laki dengan anak perempuan, sedangkan saudara laki-laki dan  perempuan termasuk di dalamnya adalah saudara sekandung dan saudara sebapak. 

Ashabah ma’al Ghair

Ashabah ma’al ghair adalah bagian ashabahnya saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan sebapak bila bersamaan dengan anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki.

Untuk contoh sebagai berikut:

Contoh 1

Bila seorang meninggal dunia dengan ahli waris terdiri dari seorang anak perempuan dan seorang saudara perempuan sekandung atau sebapak, maka pembagian harta warisnya adalah:

a. Anak perempuan mendapatkan bagian 1/2 karena ia sendirian, tidak lebih dari satu orang dan tidak ada mu’ashshib-nya.

b. Saudara perempuan sekandung atau sebapak menjadi ashabah, mendapat sisa harta setelah diambil lebih dulu oleh anak perempuan. Bila saudara perempuan ini lebih dari satu maka harta sisa tersebut dibagi rata kepada semua saudara perempuan yang ada.

Contoh 2

Bila seorang meninggal dunia dengan ahli waris 2 orang cucu perempuan dan 3 orang saudara perempuan sekandung atau sebapak, maka pembagian harta warisnya adalah:

a. 2 orang cucu perempuan mendapat bagian 2/3 karena lebih dari satu orang dan tidak ada mu’ashshib-nya.

b. 3 orang saudara perempuan sekandung atau sebapak menjadi ashabah, mendapat sisa harta setelah diambil lebih dulu oleh cucu perempuan di atas. Sisa harta tersebut kemudian dibagi rata kepada 3 orang saudara perempuan yang ada.

Demikian Musthafa Al-Khin menjelaskan. 

Tentang ashabah ma’al ghair ini Imam Muhammad bin Ali menyatakan:

والأخوات إن تكن بنات ... فهن معهن معصبات 

Artinya:
Saudara-saudara perempuan bila ada anak-anak perempuan
Mereka bersama anak-anak perempuan menjadi ashabah

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)