IMG-LOGO
Tasawuf/Akhlak

Yang Kecil Harus Dikasihi, Yang Besar Harus Dihormati

Kamis 19 Juli 2018 21:45 WIB
Share:
Yang Kecil Harus Dikasihi, Yang Besar Harus Dihormati
Ilustrasi (chasejarvis.com)
Meski secara teologis semua orang adalah sama di hadapan Allah subhanahu wataála karena perbedaan hanya berdasarkan ketakwaan masing-masing, namun secara sosiologis tak bisa dipungkiri bahwa stratifikasi sosial di masyarakat adalah sesuatu yang riil. Justru di sinilah relevansi agama untuk membimbing masyarakat agar stratifikasi sosial tidak menjadi justifikasi terhadap diskriminasi sosial. Untuk itu Rasulullah shallahu alaihi wasallam telah memberikan teladan yang baik, misalnya dalam memperlakukan orang-orang kecil di masyarakat ketika mereka meninggal dunia. 

Sudah umum diketahui bahwa ketika orang-orang besar meninggal dunia, banyak orang memberikan perhatian besar, seperti memviralkan berita wafatnya via medsos, menghadiri upacara pemakaman dan sebagainya. Hal ini wajar sebagai bentuk terima kasih atas jasa-jasa mereka sekaligus penghormatan kepada sang tokoh. Fenomena ini menunjukkan keberhasilan pendidikan akhlak dalam hubungannya dengan perlakuan terhadap orang-orang besar seperti para tokoh masyarakat. 

Tetapi situasinya lain ketika orang yang meninggal dunia adalah dari kalangan orang-orang kecil. Misalnya, tidak banyak orang menghiraukan berita meninggalnya. Jumlah orang yang hadir bertakziah umumnya tidak besar, dan sebagainya. Hal seperti ini sudah biasa karena umumnya orang berpikir mereka tidak memiliki jasa besar kepada masyarakat. Fenomena ini menunjukkan pendidikan akhlak tentang perlakukan terhadap orang-orang kecil sesunguhnya belum berhasil. 

Pertanyaannya adalah seperti apa Rasulullah telah memberikan contoh bagaimana memperlakukan orang-orang kecil yang meninggal dunia? 

Jawaban dari pertanyaan itu bisa ditemukan dalam kitab biografi atau sejarah hidup Rasulullah yang berjudul Maulid Al-Barzanji yang ditulis Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji. Pada halaman 123, kitab ini mengisahkan sebagai berikut:  

ويحب الفقراء والمساكين ويجلس معهم ويعود مرضاهم ويشيع جنائزهم ولا يحقر فقيرا 

Artinya: “Rasulullah mencintai fakir miskin, duduk bersama mereka, membesuk mereka yang sedang sakit, mengiring jenazah mereka, dan tidak pernah menghina orang fakir.”

Jadi Rasulullah tidak memperlakukan secara berbeda antara orang-orang besar dan orang-orang kecil dalam memperlakukan jenazah mereka. Artinya masing-masing kelompok orang itu mendapat perlakukan yang baik meski dengan alasan yang berbeda. Kelompok dari orang-orang besar dihormati atas kebaikan dan jasa-jasanya. Sedangkan orang-orang kecil dihargai dengan kasih sayang karena ketidak berdayaannya. Hal ini juga sejalan dengan hadits beliau yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu sebagai berikut: “

ليس منا من لم يرحم صغيرنا ويوقر كبيرنا

Artinya: “Bukanlah umatku orang yang tidak berbelas kasih kepada orang kecil dan bukan pula umatku orang yang tidak menghormati orang besar.”

Orang besar dan orang kecil dalam hadits tersebut tidak bermakna tunggal karena bisa multi-tafsir tetapi substansinya sama. Misalnya, dalam kaitan dengan dikotomi kelompok mayoritas dan minoritas, maka orang besar dalam hadits tersebut bisa bermakna kelompok mayoritas, sedangkan orang kecil adalah kelompok minoritas. Dalam hubungannya dengan topik tulisan ini, orang besar adalah mereka yang memiliki kedudukan di masyarakat, sedangkan orang kecil adalah orang-orang biasa. 

Kesimpulannya, ketika seseorang tidak memiliki alasan untuk dihormati karena tidak memiliki jasa besar di masyarakat, ia sesungguhnya memiliki alasan untuk mendapat kasih sayang sebagai orang lemah dan tak berdaya. Hal ini juga berlaku dalam memperlakukan mereka ketika masing-masing meninggal dunia. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul (UNU) Surakarta. 
Share:
Rabu 18 Juli 2018 14:0 WIB
Ini Jenis dan Ragam Syafa’at Nabi Muhammad SAW
Ini Jenis dan Ragam Syafa’at Nabi Muhammad SAW
Potongan Qashidah Burdah berikut ini, “Hual habîbulladzî turjâ syafâ’atuhû/li kulli haulin minal ahwâli muqtahimi” sudah cukup terkenal. Larik ini mengungkapkan syafaat Rasulullah SAW yang diharapkan saat umatnya menemui masalah atau situasi sulit.

هُوَ الحَبيبُ الذي تُرْجَى شَفاعَتُهُ ** لِكُلِّ هَوْل من الأهوال مُقْتَحِمِ

Artinya, “Dialah al-habib, sang kekasih yang diharapkan syafaatnya/bagi setiap huru-hara yang menyergap tiba-tiba.”

Kata “diharapkan” ini penting digarisbawahi. Padahal kita mengetahui kepastian syafaat Rasulullah SAW. Tetapi kenapa diharapkan pula? Syekh Ibrahim Al-Baijuri mencoba menerangkannya sebagai berikut:

وانما عبر بالرجاء مع أن شفاعته صلى الله عليه وسلم مقطوع بها إشارة إلى أنه لا ينبغي للشخص أن ينهمك في المعاصى ويتكل على الشفاعة وله صلى الله عليه وسلم شفاعات

Artinya, “Syekh Muhammad bin Sa‘id al-Bushiri mengungkapkan syair ini dengan kata ‘diharapkan’. Sementara syafaat Rasulullah SAW sudah jelas. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak seyogianya tenggelam dalam maksiat lalu mengandalkan syafaat Rasulullah SAW tersebut. Rasulullah SAW sendiri memiliki sejumlah syafaat,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 22).

Syafaat Rasulullah SAW mencakup:
1. Syafaat Rasulullah SAW pada hari pengadilan manusia yang sangat mencekam di mana manusia ingin berlari dari Mahsyar. Masuk ke dalam api, mereka mau demi keluar dari hari yang menentukan. Ini yang disebut sebagai “Syafaatul uzma.” Ini maqam terpuji di mana manusia sejak pertama hingga terakhir memuji Rasulullah SAW. Syafaat ini khusus untuknya.

2. Syafaat Rasulullah SAW untuk memasukkan sekelompok orang ke dalam surga tanpa hisab. Rasulullah SAW mengantar sejak bangun dari kubur mereka hingga ke surga. Syafaat ini khusus untuknya.

3. Syafaat Rasulullah SAW untuk memasukkan sekelompok orang yang seharusnya masuk neraka ke dalam surga. Syafaat ini juga khusus untuk Rasulullah SAW.

4. Syafaat Rasulullah SAW untuk mengeluarkan sekelompok orang dari neraka. Syafaat ini tidak khusus untuk Rasulullah SAW. Syafaat ini juga juga dimiliki oleh para ulama dan auliya.

5. Syafaat Rasulullah SAW untuk mengangkat derajat sekelompok orang di dalam surga. Tidak ada dalil Al-Quran dan hadits yang menerangkan kekhususan syafaat ini untuk Rasulullah SAW. Tetapi Imam An-Nawawi menganggap hal itu mungkin.

6. Syafaat Rasulullah SAW untuk meringankan siksa sejumlah orang kafir.

Syekh Al-Baijuri menjelaskan syafaat Rasulullah SAW untuk meringankan siksa sejumlah orang kafir. Menurutnya, syafaat Rasulullah SAW ini dimaksudkan antara lain untuk pamannya, Abu Thalib:

ومنها شفاعته في تخفيف العذاب عن بعض الكافرين كعمه أبي طالب على القول بأن الله لم يحيه فآمن به صلى الله عليه وسلم وهو المشهور والذي يحب أهل البيت يقول بأن الله أحياه وآمن به صلى الله عليه وسلم والله قادر على كل شيء

Artinya, “Di antaranya adalah syafaat Rasulullah SAW dalam meringankan siksa dari sejumlah orang kafir seperti pamannya, Abu Thalib, yang menurut satu pendapat ulama, Allah tidak menghidupkannya kembali agar ia beriman. Ini pendapat masyhur. Sementara para pecinta ahlul bait berpendapat Allah menghidupkan kembali Abu Thalib, lalu ia beriman kepada Rasulullah. Allah kuasa atas segala sesuatu,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 23).

Lalu bagaimana dengan Surat Ali Imran ayat 88 yang menyatakan bahwa siksa orang kafir tidak akan diringankan? Syekh Ibrahim Al-Baijuri menjelaskan bahwa ayat ini tidak menafikan syafaat Rasulullah SAW sebagai berikut ini:

ولا ينافي شفاعته صلى الله عليه وسلم في تخفيف العذاب عن بعض الكافرين قوله تعالى ولا يُخَفَّفُ لأن المنفي انما هو تخفيف عذاب الكفر فلا ينافي أنه يخفف عنهم عذاب غير الكفر على أحد الأجوبة في ذلك

Artinya, “Firman Allah pada Surat Ali Imran ayat 88, ‘Tidak diringankan siksa mereka’ tidak menafikan syafaat Rasulullah SAW dalam meringankan siksa sejumlah orang kafir karena yang dinafikan ayat itu adalah siksa kekufuran sehingga ayat ini tidak menafikan peringanan siksa atas dosa selain kekufuran, dalam salah satu jawaban perihal ini,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 23).

Semoga Allah memelihara kita, keluarga, dan masyarakat lingkungan kita dari segala larangan-Nya. Kita juga berharap agar Allah memasukkan nama kita dan nama keluarga kita sebagai penerima syafaat Rasulullah SAW. Allahumma shalli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa shabihi ajma'in. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Ahad 15 Juli 2018 6:0 WIB
Pengertian Kata Al-Habib dalam Qashidah Burdah
Pengertian Kata Al-Habib dalam Qashidah Burdah
Kata ‘al-habib’ dalam Qashidatul Burdah dapat ditemukan pada larik “Hual habîbulladzî turjâ syafâ’atuhû/li kulli haulin minal ahwâli muqtahimi.” Sebagian orang membacanya muqatahami. Sebelum melihat varian arti kata ‘al-habib’, ada baiknya dikutip larik tersebut dan terjemahannya.

هُوَ الحَبيبُ الذي تُرْجَى شَفاعَتُهُ ** لِكُلِّ هَوْل من الأهوال مُقْتَحِمِ

Artinya, “Dialah al-habib, sang kekasih yang diharapkan syafaatnya/bagi setiap huru-hara yang menyergap tiba-tiba.”

Kata ‘al-habib’ pada larik di sini merujuk pada kata ‘Muhammadun' pada 'Muhammadun sayyidu kaunaini was tsaqalain’ atau ‘Nabiyyuna' pada 'Nabiyunal amirun nahi’ yang terdapat pada larik sebelumnya. Ke mana pun rujukan tekstualnya, kata ‘al-habib’ di sini merujuk pada sosok pribadi Nabi Muhammad SAW.

Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan sejumlah varian arti kata ‘al-habib’, sang kekasih, sebagai berikut ini:

الضمير راجع لمحمد أو لنبينا والحبيب إما بمعنى محبّ فيكون اسم فاعل أو بمعنى محبوب فيكون اسم مفعول. وعلى كل فالمراد هو الحبيب لله أو لأمته لأنه أعظم محبّ لله وأفضل محبوب له وهو أيضا محبّ لأمته ومحبوب لها إذ من شرط كمال الإيمان أن يكون أحبّ من المال والولد والنفس

Artinya, “Dhamir atau kata ganti (hual habib) merujuk pada kata ‘Muhammadun’ atau kata ‘Nabiyunal amiru’. Kata ‘al-habib’ bisa jadi bermakna orang yang mencintai, berarti dibaca sebagai ism fa‘il, tetapi bisa jadi bermakna orang yang dicintai, berarti dibaca sebagai ism maf‘ul. Tetapi dibaca apapun, yang dimaksud dengan kata itu adalah orang yang mencintai Allah atau mencintai umatnya karena Rasulullah adalah orang yang paling mencintai Allah dan paling dicintai oleh-Nya. Rasulullah SAW juga orang yang sangat mencintai umatnya dan dicintai oleh umatnya karena syarat kesempurnaan iman umatnya adalah mencintai Rasulullah SAW melebihi harta, anak, bahkan diri mereka sendiri,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 22).

Salah satu varian arti kata ‘al-habib’ atau sang kekasih adalah orang yang seharusnya paling dicintai di muka bumi ini dibandingkan siapapun. Rasulullah SAW harus menjadi orang pertama yang dicintai oleh umat Islam.

Bahkan cinta kepada Rasulullah SAW menjadi syarat kesempurnaan iman seorang Muslim. Hal ini tercatat dalam riwayat hadits yang sangat terkenal berikut ini:

فقد قال عمر رضي الله عنه لرسول الله صلى الله عليه وسلم لأنت أحبّ إليّ من مالي وولدي والناس أجمعين دون نفسي فقال له عليه الصلاة والسلام لا يكمل إيمانك حتّى أكون أحبّ إليك من نفسك التى بين جنبيك فقال عمر رضي الله عنه لأنت أحب إليّ من نفسي فقال له عليه الصلاة والسلام قد كمل إذا إيمانك وهذا ترق لسيّدنا  عمر في الحال ببركته صلى الله عليه وسلم

Artinya, “Sayyidina Umar RA pernah berkata kepada Rasulullah, ‘Kau lebih kucintai daripada hartaku, anakku, dan seluruh manusia, kecuali diriku sendiri.’ ‘Keimananmu belum sempurna sehingga aku lebih kaucintai dibandingkan dirimu sendiri yang berada di antara sisi kanan-kirimu,’ jawab Rasulullah. Sayyidina Umar RA  menjawab ‘Kau lebih kucintai melebihi diriku sendiri.’ ‘Kalau demikian, keimananmu telah sempurna,’ jawab Rasulullah SAW. Seketika derajat keimanan Sayyidina Umar RA meningkat sebab keberkahan Rasulullah SAW,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 23).

Allahumma shalli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa shabihi ajma'in. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Sabtu 14 Juli 2018 17:0 WIB
Pengertian Syair 'Muhammadun Sayyidul Kaunain was Tsaqalain'
Pengertian Syair 'Muhammadun Sayyidul Kaunain was Tsaqalain'
Muadzin di mushalla dan masjid di desa dan di kota kerap menyenandungkan sebelum azan atau iqamah shalawat kutipan Qashidah Burdah karya Imam Al-Bushiri yang berbunyi, “Muhammadun sayyidul kaunaini was tsaqalai/ni wal fariqaini min urbin wa min ajami/nabiyyunal amirun nahi fa la ahadun/abarra fi qauli la minhu wa la na'ami.”

Banyak orang tua juga masih menyenandungkan kutipan larik ini di hadapan anak-anaknya yang masih di bawah 10 tahun. Kutipan ini juga menjadi pembuka forum keagamaan seperti majelis taklim.

محمدٌ سيدُ الكونينِ والثَّقَلَيْ ** ينِ والفريقينِ من عُربٍ ومن عجمِ

Artinya, “Muhammad penghulu dua semesta, dua makhluk mulia, dan dua kelompok besar dari Arab dan ajam.”

Syekh Ibrahim Al-Baijuri memberikan arti kata larik ini secara harfiah. Dalam Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyebut bangsa manusia dan jin sebagai kelompok ciptaan yang paling banyak memberatkan dunia baik karena populasi maupun karena dosa mereka.

وقوله سيد الكونين أي أشرف أهل الكونين... والمراد بالكونين الدنيا والآخرة وقوله والثقلين أي الإنس والجن وإنما سميا ثقلين لاثقالهما الإرض أو لثقلهما بالذنوب

Artinya, “Kata ‘Sayyidul kaunain’ adalah penduduk termulia di kaunain. ‘Kaunain’ sendiri adalah dunia dan akhirat. Kata ‘tsaqalain’ bermakna manusia dan jin. Kedua jenis makhluk itu disebut demikian karena keduanya membebani bumi atau bobot keduanya luar biasa karena dosa,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 22).

Syekh Khalid bin Abdullah Al-Azhari menyebut bangsa manusia dan jin sebagai makhluk paling mulia di atas muka bumi. Sementara Nabi Muhammad SAW sebagai penghulu dunia dan akhirat, kata Syekh Khalid, adalah makhluk yang agung dan mulia karena kalau bukan karena dirinya dunia ini takkan diciptakan oleh Allah.

العدم المراد به هنا التقدم على الممكنات قبل وجودها والسيد الجليل العظيم والكونان الدنيا والآخرة والثقلان الإنس والجن والثقل بالفتح النفيس من الشيء وأنفس ما على وجه الأرض الإنس والجن فلذلك سميا ثقلين والفريقان العرب والعجم والفريق الجماعة الكثيرة والعربي ما فصح بلغة العرب والعجم بخلافه

Artinya, “Maksud kata ‘ketiadaan’ di sini adalah keberadaan yang lebih dahulu dibandingkan alam semesta. Kata ‘sayyid’ bermakna orang mulia dan agung. Kata ‘al-kaunain’ bermakna dunia dan akhirat. Kata ‘tsaqalain’ adalah bangsa manusia dan jin. Kata ‘tsaqal’ yang ditulis dengan fathah bermakna yang berharga dari suatu barang. Sedangkan yang paling berharga di atas muka bumi adalah bangsa manusia dan jin. Oleh karena itu, kedua jenis makhluk ini dinamai tsaqalain. Yang dimaksud oleh kata ‘al-fariqain’ di sini adalah bangsa Arab dan ajam. Kata ‘al-fariq’ secara harfiah bermakna jamaah yang berisi banyak orang. Kata ‘Arab’ adalah orang yang fasih melafalkan bahasa Arab. Sedangkan ajam adalah bangsa yang sebaliknya, tidak fasih melafalkan bahasa Arab,” (Lihat Syekh Khalid bin Abdullah Al-Azhari, Syarah Khalid Al-Azhari ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 22).

Karena dunia ini takkan diciptakan kalau bukan karena dirinya, maka Rasulullah SAW diciptakan terlebih dahulu sebelum alam semesta. Ini menunjukkan kedudukannya yang mulia sebagai sayyid atau penghulu dunia dan akhirat sebagai disebutkan dalam Barzanji Natsar berikut ini:

وأصلّي وأسلم على النور الموصوف بالتقدم والأوّليّة

Artinya, “Aku mengucap shalawat dan salam untuk cahaya yang disifatkan dahulu dan awal.”

Dalam larik Qashidatul Burdah berikut ini, Imam Al-Bushiri menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW yang menjadi “sebab” atau “asal” penciptaan dunia takkan mungkin berhajat kepada dunia karena beliau SAW sendiri adalah penghulu dunia:

وَكَيفَ تَدْعُو إلَى الدُّنيا ضَرُورَةُ مَنْ ** لولاهُ لم تخرجِ الدنيا من العدمِ
محمدٌ سيدُ الكونينِ والثَّقَلَيْ ** ينِ والفريقينِ من عُربٍ ومن عجمِ

Artinya, “Bagaimana orang yang kalau bukan karena dirinya niscaya dunia ini takkan keluar dari ketiadaannya berkepentingan terhadap dunia/Muhammad penghulu dua semesta, dua makhluk mulia, dan dua kelompok besar dari Arab dan ajam.”

Allahumma shalli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa shabihi ajma'in. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)