IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Benarkah Asy'ariyah Mendahulukan Akal daripada Teks Al-Qur’an dan Hadits?

Selasa 24 Juli 2018 15:30 WIB
Share:
Benarkah Asy'ariyah Mendahulukan Akal daripada Teks Al-Qur’an dan Hadits?
Ada sebagian orang dewasa ini yang mengatakan bahwa mazhab aqidah mayoritas kaum muslimin, yakni Asy'ariyah, selalu mendahulukan akal daripada teks hadits apabila keduanya bertentangan. Misalnya Dr. Sa’id Abdul Adhim yang mengatakan dalam bukunya sebagai berikut:

مصدر التلقي عند الأشاعرة هو العقل وقد صرح الجويني والرازي والبغدادي والغزالي والآمدي والإيجي وابن فورك والسنوسي وشراح الجوهرة وسائر أئمتهم بتقديم العقل على النقل عند التعارض مخالفين بذلك ما كان عليه سلفنا الصالح من تقديم النقل على العقل عند التعارض

“Sumber validitas menurut ulama Asy'ariyah adalah akal. Ar-Razi, al-Baghdadi, al-Ghazali al-Amudi, al-Iji, Ibnu Furak, as-Sanusi dan para pensyarah kitab Jauharah at-Tauhid dan seluruh imam-imam mereka menyatakan agar mendahulukan akal dari teks ketika ada pertentangan. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh salafush shalih yang mendahulukan teks daripada akal ketika ada pertentangan.” (Sa’id Abdul Adhim, Manhaj Ibnu Taymiyah at-Tajdîdî as-Salafî wa Da‘watihi al-Ishlâhiyyah, halaman 139).

Anggapan seperti itu bermula dari kesalahpahaman terhadap pernyataan-pernyataan para ulama Asy’ariyah dalam kitab-kitab mereka yang sepintas mendahulukan akal daripada teks. Padahal yang dimaksud para ulama itu bukan seperti apa yang disangka sebagian orang bahwa apabila suatu teks Al-Qur'an atau Hadits mengatakan A tetapi akal mengatakan B maka yang benar adalah B—sama sekali bukan demikian. Yang sebenarnya mereka maksud adalah seperti dijelaskan oleh Imam al-Ghazali berikut ini:

واطلعوا على طريق التلفيق بين مقتضيات الشرائع وموجبات العقول وتحققوا أن لا معاندة بين الشرع المنقول والحق المعقول 

“Ulama Ahlussunnah wal Jamaah memandang dengan cara menggabungkan antara ketentuan syariat dan kepastian akal. Dan, mereka menyimpulkan dengan seksama bahwa tidak ada pertentangan antara teks syariat dengan kebenaran rasional.” (Imam al-Ghazali, al-Iqtishad fi al-I’tiqad, halaman 9) 

Jadi, pada hakikatnya ulama Asy'ariyah meyakini bahwa keputusan akal yang benar tidak mungkin bertentangan dengan ajaran yang dibawa oleh teks syariat. Karena itu, maka antara akal dan teks syariat harus digabungkan dan saling melengkapi. 

Selanjutnya Imam al-Ghazali menjelaskan situasi di mana teks syariat seolah bertentangan dengan ketetapan akal. Beliau berkata:

كل ما ورد السمع به ينظر، فإن كان العقل مجوزاً له وجب التصديق به قطعاً…وأما ما قضى العقل باستحالته فيجب فيه تأويل ما ورد السمع به ولا يتصور أن يشمل السمع على قاطع مخالف للمعقول، وظواهر أحاديث التشبيه أكثرها غير صحيحة، والصحيح منها ليس بقاطع بل هو قابل للتأويل، فإن توقف العقل في شيء من ذلك فلم يقض فيه باستحالة ولا جواز وجب التصديق أيضاً لأدلة السمع 

“Segala sesuatu yang dibawa oleh teks syariat harus diperinci; apabila akal dapat menerimanya maka wajib membenarkan teks tersebut secara pasti. Adapun apa yang diputuskan sebagai hal yang mustahil oleh akal maka wajib mentakwil teks tersebut sebab tidak mungkin dibayangkan bahwa ada teks syariat yang berlawanan dengan keputusan akal yang sudah pasti kebenarannya. Adapun makna lahir dari hadits-hadits yang menunjukkan adanya keserupaan antara Allah dan makhluk, kebanyakan adalah tidak shahih. Hadits yang shahih tentang itu juga tidak mempunyai makna yang pasti tetapi masih bisa ditakwil. Apabila akal tidak bisa memutuskan tentang hal itu sehingga tidak bisa menetapkan kemustahilan atau kebolehannya maka wajib akal tunduk pada dalil-dalil tekstual.” (Imam al-Ghazali, al-Iqtishad fi al-I’tiqad, halaman 115-116) 

Dari keterangan Imam al-Ghazali itu, dapat disimpulkan dua hal, yaitu:

1. Bila dalil tekstual bukan sesuatu yang mustahil menurut akal, maka wajib diterima sepenuhnya. Misalnya dalil tekstual yang menyatakan bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar, bahwa nanti ada surga dan neraka, bahwa manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di alam kubur maupun di akhirat dan seterusnya. 

2. Bila makna dhahir suatu dalil tekstual adalah mustahil menurut akal, maka makna tersebut wajib ditakwil, baik secara global (tafwidh atau dipasrahkan makna spesifiknya kepada Allah) maupun secara terperinci (ditentukan maknanya secara spesifik menurut ungkapan yang berlaku dalam bahasa Arab).

Misalnya ketika dalil tekstual menyatakan bahwa Allah berada di depan orang yang sedang shalat, bahwa Allah lebih dekat dengan urat leher, bahwa Allah istawa (bersemayam, red) di atas Arasy, dan seterusnya. Dalil-dalil seperti itu dapat dibaca apa adanya tanpa dibahas maknanya secara spesifik (tafwidh) atau boleh juga ditakwil menjadi pengawasan Allah yang selalu menyertai manusia dan bahwasanya Allah berkuasa mutlak atas segala makhluknya yang disimbolkan dengan kekuasaan mutlaknya atas Arasy selaku makhluk terbesar.

Penggunaan akal dalam memahami dalil tekstual seperti itu tidak hanya dilakukan oleh ulama Asy'ariyah, tetapi dilakukan oleh seluruh ulama. Apabila akal tidak boleh ikut campur dalam memahami dalil tekstual maka yang ada dalil tekstual hanya akan tampak bertentangan satu sama lain. Karena itulah maka tidak ada satu pun ulama yang bisa menghindar dari takwil, meskipun dia mengaku anti-takwil sekalipun. Ketika dalam Surat al-A’raf ayat 51 dinyatakan, yang artinya: “Pada hari ini Aku melupakan mereka seperti halnya mereka melupakan pertemuan dengan hari ini”, tak ada satu pun ulama yang memahami bahwa Allah bisa lupa sebab ini bertentangan dengan ketentuan akal. Mereka sepakat mentakwil sifat “lupa” itu menjadi ketiadaan rahmat dari Allah bagi orang-orang kafir.

Dalam konteks seperti itulah pernyataan para ulama Asy’ariyah yang seolah mendahulukan akal itu harus dipahami. Adapun dalam konteks yang tidak bermasalah secara akal, maka ulama Asy’ariyah sepenuhnya mewajibkan ketundukan akal kepada teks syariat. Sikap ini adalah jalan yang ditempuh para ulama salaf, baik dalam permasalahan fiqih maupun aqidah.

Bila kita melihat kasus per kasus yang diajarkan dalam aqidah Asy’ariyah, justru kita akan tahu bahwa sejatinya Asy’ariyah menundukkan akal di bawah dalil tekstual. Kesimpulan ini sangat terlihat dari contoh kasus berikut:

1. Penentuan baik dan buruk.

Dalam hal ini, Asy’ariyah sepakat bahwa kebaikan dan keburukan hanya bisa ditentukan oleh teks syariat. Apa yang diputuskan sebagai kebaikan oleh syariat maka itu adalah baik meskipun akal menganggapnya buruk, contohnya adalah tetap salat (semampunya) sewaktu sakit parah. Sebaliknya, apa yang diputuskan sebagai keburukan oleh syariat maka itu adalah buruk meskipun akal menganggapnya baik, contohnya adalah mendapat kekayaan dari hasil perjudian, minum khamr untuk menghangatkan badan dan pergaulan bebas. Demikian pula dengan hal yang tidak diputuskan sebagai baik atau buruk oleh akal, maka untuk menentukan baik buruknya juga harus dipasrahkan kepada syariat, contohnya: memakan hewan yang tak memenuhi syarat sah penyembelihan. Secara akal, sama saja antara hewan yang mati disembelih syar’i dan yang tidak, namun dalam hal ini akal harus tunduk pada syariat yang hanya menghalalkan hewan yang mati karena disembelih secara syar’i.

2. Melihat Allah di akhirat tanpa arah dan tata cara tertentu. 

Muktazilah menganggap mustahil melihat Allah di akhirat sebab menurut mereka berkonsekuensi menganggap Allah seperti jisim, sedangkan Mujassimah mengatakan Allah dapat dilihat dalam arah tertentu seperti halnya melihat jisim. Keduanya menggunakan akal mereka saja dan memalingkan makna teks ayat atau hadits yang bertentangan dengan kesimpulan akal mereka. Akan tetapi Asy’ariyah mengambil jalan tengah antara keduanya dengan mengatakan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat berdasarkan dalil tekstual yang ada tetapi juga tak perlu arah dan tatacara tertentu berdasarkan dalil tekstual yang berbicara tentang itu. Hal ini bukanlah hal yang mustahil secara akal sebab Allah memang Maha Berkuasa untuk membuat hambanya melihat-Nya dengan cara demikian.

Dua contoh itu dan banyak contoh lainnya membuktikan bahwa Asy’ariyah tidak mendahulukan akal daripada teks syariat seperti disalahpahami. Justru kesimpulan seperti ini tidak dikenal dalam pelajaran aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah sesuai mazhab Asy’ariyah. Yang diajarkan dalam mazhab Asy’ariyah kepada para pelajar justru seperti yang diterangkan dalam nadham Aqidatul Awam berikut:

وكل ما اتى به الرسول # فحقه التسليم والقبول

“Setiap hal yang dibawa oleh Rasul, maka harus pasrah dan diterima.”

Juga seperti yang dijelaskan oleh Syekh al-Bajuri dalam Syarah Jauharah at-Tauhid berikut:

فكل من كلف شرعاً وجبا # عليه أن يعرف ما قد وجبا

“Semua yang dibebankan oleh syariat, maka wajib bagi seorang mukmin untuk mengetahuinya (untuk diimani)”.

Demikian uraian singkat ini, semoga bermanfaat.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Tags:
Share:
Jumat 20 Juli 2018 9:30 WIB
Penggunaan Kata “Tuhan” untuk Allah
Penggunaan Kata “Tuhan” untuk Allah
(Foto: pixabay)

Sebagian orang saat ini kerap mengoreksi ucapan orang lain yang menggunakan kata “Allah” dan kata “Tuhan” secara bergantian. Mereka yang mengoreksi ini menganggap bahwa penyebutan kata “Tuhan” secara bergantian dengan kata “Allah” memiliki persoalan baik secara akidah maupun secara akhlak.

Masalah ini pernah diangkat dalam tanya-jawab masalah agama yang diampu oleh Almaghfurlah KH M Syafi‘i Hadzami melalui Stasiun Radio Cenderawasih pada awal 1970-an.

Seseorang dari Jakarta Utara yang mengaku awam dalam agama menyatakan bahwa dirinya terganggu dengan ucapan “Tuhan” yang didengarnya dalam ceramah di radio, televisi, majelis taklim, dan khutbah Jumat baik dalam rangka pengajian maupun peringatan hari raya agama yang disampaikan oleh menteri agama ketika itu. Ia kemudian meminta maaf atas keawamannya dan memohon keterangan agama perihal ini.

KH M Syafi‘i Hadzami , salah seorang kiai muda Betawi yang cukup tersohor ketika itu, mengatakan bahwa kata “Allah” berbeda dengan kata lainnya. Lafal jalâlah ini mengandung kekuatan tersendiri sehingga ia menganjurkan umat Islam sedapat mungkin menggunakan kata ini.

“Saya mufakat kalau dalam suatu susuna kata di mana bisa dipergunakan kata ‘Tuhan’ dan kata ‘Allah’, maka kita mengutamakan dan memilih kata ‘Allah’ atau lafzhul jalâlah. Karena lafal ‘Allah’ ini mempunyai i‘jâz dan dapat menggerakkan hati dan jiwa orang mukmin, menjadi takut dan gentar terhadap kehaibatannya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ

Apabila disebut ‘Allah’, menjadi takutlah hati mereka. bukankah apa yang dinamakan takbir itu lafal ‘Allahu akbar’. Tidak sah lafal takbiratul ihram kalau ‘Allah’-nya diganti dengan ‘Ar-rahmân’, atau Al-jabbâr dan asmaullâh yang lain karena penggantian ini akan dapat menghilangkan i‘jâznya takbir karena keluputan Allah itu,” (Lihat KH M Syafi’i Hadzami, Taudhihul Adillah, [Kudus, Menara Kudus: 1986], jilid VII, halaman 5-6).

Hanya saja, untuk kepentingan praktis komunikasi kita justru perlu menggunakan kata lain, salah satunya kata “Tuhan” dalam konteks bahasa Indonesia. Bahkan pada situasi komunikasi tertentu ketika kita tetap berkukuh mempertahankan kata “Allah”, maka kita menyalahi kaidah dan logika bahasa yang merepotkan, membuat janggal, atau membingungkan lawan bicara.

“Akan tetapi di dalam suatu susunan kata dalam mukhathabah, adakalanya kita tidak bisa menghindarkan kata ‘Tuhan’ itu untuk diucapkan. Seperti kalimat ‘Siapakah Tuhan kita?’ maka dijawab ‘Tuhan kita adalah Allah.’ Dalam bentuk kalimat ini sudah barang tentu tidaklah lurus dari segi bahasa dan makna kalau kita ganti dengan ‘Siapakah Allah kita?’ lalu dijawab ‘Allah kita adalah Allah.’ Lain halnya dengan seruan, ‘Ya Tuhan!’ kita mufakat untuk mengganti dengan ‘Ya Allah.’ Ini pun tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengucapkan ‘Ya Tuhanku’ dan ‘Ya Tuhan kami’ karena berapa banyak di dalam kitab suci Al-Quran dihikayatkan doa para anbiya yang mempergunakan ‘Rabbana’ yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa kita menjadi ‘Ya Tuhan kami!’ (Lihat KH M Syafi’i Hadzami, Taudhihul Adillah, [Kudus, Menara Kudus: 1986], jilid VII, halaman 6).

KH M Syafi’i Hadzami (Rais Syuriyah PBNU 1994-1999) memberikan sejumlah contoh komunikasi praktis yang terdapat di dalam Al-Quran. Ia menyebutkan tujuh ayat pada surat berbeda terkait penggunaan kata “Tuhan”.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya, “Hai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami, niscaya jadilah kami daripada orang-orang yang merugi,” (Surat Al-A’raf ayat 23).

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا

Artinya, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman sentosa,” (Surat Al-Baqarah ayat 126).

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya, “Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami). Sungguh Engkaulah yang maha mendengar lagi maha mengetahui,” (Surat Al-Baqarah ayat 127).

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Artinya, “Hai Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau keturunan yang baik. Sungguh, Engkau maha mendengar (memperkenankan doa),” (Surat Ali Imran ayat 38).

رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي

Artinya, “Ya Tuhanku, sungguh anakku termasuk keluargaku,” (Surat Hud ayat 45).

رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ

Artinya, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku,” (Surat Yusuf ayat 33).

رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ

Artinya, “Ya Tuhanku, tampakkanlah zat Engkau kepadaku, agar aku dapat melihat Engkau,” (Surat Al-A‘raf ayat 143).

Menurutnya, banyak contoh di dalam Al-Quran dan hadits perihal penggunaan kata “Tuhan” dan kata “Allah” secara bergantian. Dari pelbagai ayat di atas, ia menarik simpulan bahwa lafal jalâlah atau kata “Allah” tidak bisa diterjemahkan karena merupakan isim ‘alam, nama pribadi atau personal. Sedangkan kata “rabbun”, “rabbî”, atau “rabbanâ” dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan “Tuhan”, “Tuhanku”, atau “Tuhan kami” karena kata itu menerangkan pangkat atau sifat, bukan nama diri.

“Tampaknya para penafsir Indonesia pun sudah konsensus untuk menerjemahkan lafal ‘rabbî’ dan ‘rabbanâ’ dengan ‘Tuhanku’ dan ‘Tuhan kami’. Tafsir manapun tidak ada yang menafsirkan ‘rabbî’ dengan ‘Allahku’ dan ‘rabbanâ’ dengan ‘Allah kami’ karena ‘rabbun’ itu nama pangkat. Pangkat itu sifat, maka tentu bisa diterjemahkan. Adapun lafzhul  jalâlah atau lafal ‘Allah’ adalah ism ‘alam, nama pribadi tentu tidak diterjemahkan. Allah adalah nama bagi zat yang wajib wujud-Nya. sedang Tuhan adalah sifatnya. Karena para mutakallimin mengatakan bahwa makna ketuhanan adalah:

اسْتِغْنَاؤُهُ عَنْ كُلِّ مَا سِوَاهُ وَافْتِقَارُ مَا عَدَاهُ اِلَيْهِ

Artinya, ‘Terkaya-Nya daripada lain-Nya, dan yang lain-Nya berhajat kepada-Nya,’” (Lihat KH M Syafi’i Hadzami, Taudhihul Adillah, [Kudus, Menara Kudus: 1986], jilid VII, halaman 8).

Dari sini kita mendapat keterangan bahwa kata “Allah” tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karena merupakan nama diri atau nama zat. Sedangkan kata “rabbun”, “rabbî”, “rabbanâ”, “ilâh”, “ilâhî”, “ilâhanâ”, atau kata lain dalam Bahasa Arab dengan makna serupa dapat diterjemahkan menjadi “Tuhan” karena semua itu merupakan sifat atau pangkat.

Dari sini, kita tidak perlu tergesa-gesa untuk mengoreksi saudara kita yang menggunakan secara bergantian kata “Tuhan” dan “Allah” karena keduanya juga digunakan oleh para nabi di dalam Al-Quran dan di dalam hadits.

Perlu digarisbawahi juga bahwa penggunaan secara bergantian kata “Tuhan” dan “Allah” tidak menyalahi ketentuan agama Islam baik secara akidah maupun secara akhlak. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Ahad 15 Juli 2018 15:15 WIB
Empat Masalah dalam Buku-buku Anti-Asy'ariyah-Maturidiyah
Empat Masalah dalam Buku-buku Anti-Asy'ariyah-Maturidiyah
Ada banyak kitab atau buku akidah baru yang dibuat khusus sebagai kecaman terhadap Asy'ariyah. Buku-buku tersebut biasanya menukil pernyataan tokoh-tokoh di masa lalu yang memojokkan Asy'ariyah-Maturidiyah, dua mazhab teologi yang dianut Ahlussunnah wal Jamaah. Asy’ariyah dipelopori oleh Imam Abu Hasan al-Asy’ari, sedangkan Maturidiyah oleh Abu Mansur al-Maturidi.

Kalau dilihat di menu update Maktabah Syamilah atau di portal-portal kitab pdf, makin lama makin banyak jumlah kitab beginian sebab ada kelompok yang alergi sekali dengan mazhab akidah terbesar dalam sejarah umat Islam ini. Hingga kini, mereka yang alergi ini terus membuat banyak kitab yang isinya sama saja, hanya mengulang-ulang kritik yang sudah kuno yang sejatinya sudah dijawab sejak dahulu kala oleh para ulama.

Baca juga: Dalil dan Penjelasan tentang 20 Sifat Wajib bagi Allah
Satu kekurangan besar dari kitab-kitab semacam itu, yakni minimnya objektivitas. Meskipun isinya ada yang tebal hingga lebih dari 500 halaman, objektivitasnya tetap saja sangat minim, kalau tak mau dibilang tak ada. Contoh minimnya objektivitas itu dapat dilihat dari hal-hal berikut:

1. Tidak representatif. 

Menukil banyak nukilan bukan berarti sudah representatif. Ini pelajaran dasar dalam ilmu penelitian yang anehnya para penulis buku itu seperti tak ada yang paham soal ini. Karena tidak representatif, tulisan mereka setara dengan klaim bahwa orang se-indonesia ingin ganti presiden, orang se-indonesia benci tokoh ABC dan sebagainya. Meskipun klaim-klaim seperti itu diberi nukilan dari pernyataan ribuan orang hingga dicetak mencapai ribuan halaman, tetap saja tidak representatif sebab penduduk Indonesia lebih dari 250 juta orang. Kesepakatan sebagian orang tak bisa digeneralisasi menjadi kesepakatan (ijma‘) seluruh orang, apalagi hanya kesepakatan segelintir orang.

Demikian juga dalam hal akidah. Menukil puluhan orang yang mencela Asy'ariyah-Maturidiyah atau bahkan ratusan orang sekalipun tetap saja tidak representatif sebab kenyataan sejarahnya adalah selama satu milenium lebih Asy'ariyah-Maturidiyah adalah mayoritas. Apalagi bila yang dinukil bukan tokoh-tokoh besar yang diakui sebagai representasi sebuah golongan.

2. Tidak mendudukkan masalah secara proporsional.

Ambil contoh sederhana, menukil seluruh pernyataan ulama yang anti terhadap takwil untuk memojokkan Asy'ariyah. Padahal faktanya hanya sebagian dari Asy'ariyah yang mentakwil. Umumnya, para imam Asy'ariyah mengajarkan tafwidh (memasrahkan makna definitif suatu sifat kepada Allah tanpa membahas secara mendalam apa maksudnya sambil memastikan bahwa bukan makna jismiyah yang dimaksud) sebagaimana mayoritas ulama salaf juga melakukannya. Ulama Asy'ariyah yang men-tafwidh ini juga mengkritik keras para penakwil. Adalah kekonyolan bila kemudian berbagai pernyataan ulama yang anti-tafwidh itu dijadikan serangan pada Asy'ariyah secara umum ketika faktanya Asy'ariyah sendiri juga tak semua setuju takwil. Bahkan tak jarang ada nukilan dari ulama anti takwil yang dinukil dalam konteks memojokkan Asy'ariyah padahal nyata-nyata ulama yang bersangkutan adalah Asy'ariyah juga.

Ada juga nukilan dari ulama yang dengan tegas mengaku bukan Asy'ariyah dan bahkan menyatakan tidak setuju terhadap Asy'ariyah. Namun ternyata pendapat ulama tersebut sama saja dengan ulama Asy'ariyah pada umumnya, hanya berbeda dalam beberapa hal yang dalam internal Asy'ariyah sendiri bukanlah sebuah kesepakatan. Ulama Asy'ariyah tak ada yang mempermasalahkan soal penisbatan sebagai pengikut Asy'ariyah atau bukan sehingga hal seperti ini tidak penting. Yang penting adalah pendapatnya tidak keluar dari ruang lingkup Ahlussunnah wal Jama'ah. 
Karena itulah, Asy'ariyah tak mempermasalahkan pengikut Imam Maturidi meskipun menisbatkan diri bukan pada Imam Abu Hasan al-Asy'ari. Demikian juga tak masalah bila ada yang mau menisbatkan diri kepada Imam at-Thahawi atau Imam Ahmad selama betul-betul konsisten atas pendapat mereka sebab sejatinya para imam besar itu tidak berselisih paham soal akidah.

3. Tidak tahqiq (memeriksa secara detail) terhadap istilah atau ungkapan.

Banyak sekali istilah bersayap dalam bahasan akidah. Istilah atau ungkapan seperti "makna dhahir", "tanpa tasybih", "tanpa takyif", "bidzatihi", "haqiqatan" dan sebagainya beda-beda artinya ketika diucapkan oleh tokoh yang berbeda. Misalnya:

• Ketika seorang ahli tajsim (percaya bahwa Allah berfisik, red) mengatakan "tanpa tasybih" itu artinya fisik Allah tidak mirip dengan kita. Namun ketika seorang ahli tanzih (menolak bahwa Allah berfisik, red) mengatakan "tanpa tasybih" itu artinya Dzat Allah bukan bentuk fisik.

• Ketika seorang ahli tasybih mengatakan "bidzatihi", itu artinya dengan organ fisik Allah sendiri. Namun ketika seorang ahli tanzih mengatakan "bidzatihi", itu artinya Allah melakukannya sendiri bukan diwakili malaikat atau siapapun.

• Ketika seorang ahli tajsim mengatakan bahwa sebuah sifat Allah harus dipahami secara "haqiqatan" itu artinya sebagai makna secara fisikal. Namun ketika seorang ahli tanzih mengatakan hal yang sama, itu artinya makna yang tak perlu ditakwil tapi cukup di-tafwidh. Hal yang sama juga berlaku pada ungkapan "dhahir".

Istilah atau ungkapan yang bersayap ini ketika tidak ditahqiq akan menimbulkan kerancuan. Kitab-kitab pengkritik Asy'ariyah itu biasanya mencampur adukkan istilah-istilah itu tanpa tahqiq sehingga seringkali menukil sebuah nukilan yang tidak tepat. Misalnya saja menukil sebagian ulama Asy'ariyah yang mencela makna dhahir dalam arti sebagai makna fisikal dengan pernyataan tokoh ulama yang mewajibkan penggunaan makna dhahir, padahal makna dhahir yang dimaksud ulama yang bersangkutan bukanlah makna fisikal sehingga sejatinya sama sekali tidak bertentangan.

4. Tidak memilah keahlian tokoh yang dinukil.

Masing-masing tokoh punya keahlian atau spesialisasi yang berbeda. Ada yang ahli di bidang fikih, bidang rijalul hadis, bidang sejarah, bidang ilmu gramatika dan seterusnya. Ilmu Kalam adalah sebuah disiplin ilmu yang mandiri, sama seperti ilmu-ilmu lainnya. Yang harus disadari adalah tidak semua tokoh ulama ahli dalam ilmu kalam, meskipun mereka adalah tokoh besar dalam rumah besar Ahlusunnah Wal Jama'ah.

Adalah bukan pada tempatnya menukil pernyataan ulama yang tidak ahli di bidang ilmu kalam untuk mematahkan pernyataan ulama yang ahli di bidang ilmu ini dalam persoalan kalamiyah. Bila hal ini dilakukan, tak jarang yang terjadi hanyalah kesalahpahaman semata.

Itulah empat masalah yang ada dalam buku-buku akidah Asy'ariyah-Maturidyah. Para pembaca yang kritis yang kaya literasi tentu akan menyadari keempat masalah tersebut. Namun berbeda halnya dengan pembaca yang literasinya kurang, apalagi bila tahunya hanya buku-buku semacam itu saja, maka kemungkinan besar ia akan menganggap  isinya sebagai kebenaran, padahal faktanya tidak demikian.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab.

Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember sekaligus Aktifis Aswaja NU Center Jember

Ahad 8 Juli 2018 9:30 WIB
Penjelasan KH Syafi’i Hadzami tentang Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman
Penjelasan KH Syafi’i Hadzami tentang Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman
Ulasan di bawah ini merupakan jawaban KH M Syafi’i Hadzami, ulama kenamaan Ahlussunnah wal Jamaah asal Betawi, dalam program tanya-jawab agama Islam yang pernah disiarkan melalui siaran radio Cenderawasih Jakarta. Penjelasan ini terdokumentasi dalam buku kumpulan jawaban KH M Syafi’i Hadzami berjudul Taudlihul Adillah, 100 Masalah Agama  jilid 6, yang diterbitkan Menara Kudus, tanpa ketarangan tahun terbit.

Berikut kutipan lengkapnya:

Pertanyaan

Minta penjelasan tentang maksud dan pelaksanaan hadits berikut ini, dan apakah betul-betul hadits Nabi ﷺ?

قَالَ رَسُولُ الله ﷺ : وَاَّلذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمْ ابنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً فَيَكْسِرَ الصَلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيْرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيُفِيْضَ الْمَالَ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ

Artinya: “Bersabda Rasulullah ﷺ: Demi Tuhan yang jiwaku di tangan-Nya (red: dalam kekuasan-Nya), sungguh hampir akan turun kepadamu (kepada umat ini) Ibn Maryam, menjadi hakim yang adil. Maka Ibn Maryam akan memecahkan palang salib, membunuh babi, membebaskan manusia dari jizyah, dan melimpah-ruahlah harta hingga tak ada seseorang yang mau menerimanya.”

Berapa lama lagi Ibn Maryam itu akan datang, dan dari mana kita menunggunya; apakah umat Islam akan dipimpin oleh Nabi Isa ‘alaihissalam padahal syari’atnya menurut kata orang hanya khusus untuk Bani Israil?

(Pertanyaan dari A. Hasan Tou, Gang Subur II/19 Rt 08 Rw 05, Tanah Kusir 1, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan)

Jawaban:

Hadits tersebut ditakhrijkan oleh Al-Bukhari dalam Kitâbul Buyû’ dan dalam Kitâbul Madzâlim, dan dalam Kitâbu Ahâdîtsil Anbiyâ’. Sedang Imam Muslim mentakhrijkan dalam Kitâbul Imân. Abu Daud As-Sajistâni mentakhrijkan hadits tersebut dalam Kitâbul Malâhim, dan At-Tirmidzi dalam Kitâbul Fitan. Demikian pula Ibnu Majah mengeluarkannya dalam Kitâbul Fitan dan ditakhrijkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Untuk singkatnya dapat dikatakan “Rawâhul Jamâ’atu Illa an-Nasâiya”, artinya diriwayatkan oleh Jamaah kecuali Imam An-Nasai.

Adapun mengenai hadits:

 كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ وإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ

Artinya: “Bagaimana halmu, jika anak Maryam turun kepadamu, sedang yang mengimami kamu adalah daripada kamu?”

Hadits tersebut ditakhrijkan oleh Imamul Bukhari dalam Kitâbul Anbiyâ’ dan dalam Kitâbul Imân, dan dikeluarkan pula oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya.

Jelaslah bahwa menurut hadits tersebut bahwa tidak diragukan tentang akan turunnya Nabiyallah Isa bin Maryam 'alaihissalam, di akhir zaman. Akan tetapi tentang bila ketentuan masa turunnya adalah ghaib bagi kita, karena hal tersebut serangkaian dengan akan terjadinya hari qiamat dan tidak ada yang mengetahuinya melainkan Allah subhanahu wata’ala

Dan turunnya Nabiyallah Isa ‘alaihissalam itu adalah termasuk Asyrathus-sâ’ah, tanda-tanda hari kiamat. 

Menurut hadits Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Nabiyallah Isa ‘alaihissalam akan turun dekat menara putih di Dimasyqa atau Damascus. Dan beliau akan membunuh Dajjal di tempat yang bernama Ludd di Damascus pula. Beliau akan mengerjakan haji dan umrah dari jalan Fajjurauhâ’, dan beliau datang membawa syari’at Nabi Muhammad dan beliau adalah sebagai umatnya pula, nabi benuman (red: nabi pengangkatan) lama, dan bukan sebagai nabi yang baru.

Dan turunnya beliau adalah dari langit, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam Kitâbul Asmâi was Shifât dari Hasyim bin Hasan dari Muhammad dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anh. 

Bersabda Rasulullah ﷺ:

كَيْفَ بِكُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ مِنَ السَّمَاءِ فِيْكُمْ وَاِمَامُكُمْ مِنْكُمْ

Artinya: “Bagaimana nanti keadaan kamu apabila turun Nabi Isa anak Maryam dari langit kepada kamu sedang Imam kamu di antara kamu sendiri.”

Jelas dalam hadits tersebut bahwa yang akan turun adalah Nabiyallah Isa 'alaihissalam secara haqiqi, bukan orang yang serupa Isa. Dan beliau turun dari langit sebagaimana hadits Al-Baihaqi. 

Walhasil dalam hadits ini tidak ada majaz, dan putaran arti dan makna yang lain, karena lafadh hadits dimulai dengan sumpah yaitu: walladzî nafsî biyadihi, demi Tuhan yang jiwaku berada pada kekuasaan-Nya.

Menurut kaidah:

اَلْقَسَمُ يَدُلُّ عَلَى اَنَّ الْخَبَرَ مَحْمُوْلٌ عَلَى الظَّاهِرِ لاَ تَأْوِيْلَ فِيْهِ وَلاَ اسْتِثْنَا وَاِلاَّ فَاَيُّ فَائِدَةٍ فِى ذِكْرِ الْقَسَمِ

Artinya: “Sumpah itu menunjukkan bahwa perkataan terpakai menurut dhahirnya, tidak ada takwil, dan tidak ada kecuali. Jika tidak begitu, apa gunanya menyebut sumpah.”

Jadi, dilalah hadits itu sudah jelas dan gamblang; jadi tidak usah ada macam-macam lagi.


(Diketik ulang oleh Yusuf Suharto/Red: Mahbib)