IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Al-Qur'an

Ragam Bacaan Ta’awudz Menurut Qira’at Asyrah

Kamis 26 Juli 2018 20:30 WIB
Ragam Bacaan Ta’awudz Menurut Qira’at Asyrah
Ilustrasi (Twitter)
Isti’adzah atau ta’awudz sebagai doa dan pembuka dalam melantunkan Al-Qur’an memiliki banyak ragam redaksi. Ragam redaksi ini tidak lepas dari hasil ijtihad para ulama berdasarkan pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an.

Pertama, Surat al-A’raf ayat 200 (وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ). Kedua, Surat An-Nahl ayat 98 (فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْأَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ). Ketiga, Surat Ghafir ayat 56, (فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ). Keempat, Surat Fussilat ayat 36, (وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ). 

Sebagaimana telah disinggung pada artikel sebelumnya bahwa redaksi yang populer dan paling unggul menurut kebanyakan ulama adalah (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ). Menurut Abdul Fattah Al-Qadhiy, dalam komentarnya pada kitab Hirz Al-Amaniy wa Wajh Al-Tahaniy atau yang dikenal dengan matan Al-Syathibiy, redaksi ta’awwudz ini tidak hanya bergantung pada kalimat di atas, boleh mengurangi dari redaksi di atas atau menambahkannya, seperti contoh (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ) atau (أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ). (Lihat: Abdul Fattah Al-Qadhiy, al-Wafiy fi Syarh al-Syathibiyyah fi al-Qira’at al-Sab’i, Jeddah, Maktabah Al-Sawadiy, 1992, hlm, 43)

Baca: Hukum, Waktu, dan Cara Membaca Ta’awudz atau Isti’adzah
Profil Singkat Imam Qira’at Asyrah Beserta Para Perawinya

Sebelum menjelaskan redaksi yang dipakai oleh para imam qira’at, alangkah baiknya dijelaskan terlebih dahulu tentang profil imam-imam di atas berikut perawinya agar mudah dipahami dan terhindar dari keserupaan. Urutan profil imam-imam qira’at ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Imam Al-Qadhiy.

Pertama, Imam Nafi’ bin Abdurrahman (w. 169 H). Beliau juga dikenal dengan panggilan imam “Al-Madaniy”. Perawinya yang paling terkenal adalah: Imam Qalun (w. 220 H) dan Imam Warsy (w. 197 H). Kedua perawi ini belajar dan meriwayatkan langsung dari Imam Nafi’. Imam Qalun, menurut sebagian riwayat adalah anak tiri Imam Nafi’, sedangkan Imam Warsy adalah santri dari Mesir, yang sudah matang dalam ilmu qira’at sebelum datang ke Madinah. Meskipun keduanya belajar kepada satu guru, yaitu Imam Nafi’, namun dalam metode bacaan (ushul Al-Qira’at) banyak perbedaan. 

Kedua, Imam Abdullah bin Katsir (w. 120 H). Beliau lebih dikenal dengan panggilan Ibnu Katsir atau Imam “Al-Makkiy”. Perawinya yang paling terkenal adalah: Imam Al-Bazziy (w. 250 H) dan Imam Qanbul (w. 291). Kedua perawi ini tidak langsung meriwayatkan dari Imam Ibnu Katsir tapi melalui beberapa jalur perantara.

Ketiga, Imam Abu Amr Al-Bashriy (w. 154 H). Namanya adalah Zabban bin Al-Ala’. Beliau lebih sering disebut oleh kalangan ahli qurra’ sebagai imam “Al-Bashriy”. Kedua perawinya yang paling terkenal adalah: Imam Al-Duriy (w, 246 H) dan Imam Al-Susiy (w. 261 H). Kedua perawi ini meriwayatkan qira’at Imam Al-Bashriy melalui jalur perawi, yaitu dari Imam Yahya Al-Yazidiy. 

Keempat, Imam Ibnu Amir (w. 118 H). Nama beliau Abdullah bin Amir. Panggilan yang melekat pada beliau adalah Ibnu Amir atau “Al-Syamiy”. Kedua perawi yang meriwatkan bacaannya adalah: Hisyam (w. 245 H) dan Ibnu Dzakwan (w. 242 H). Kedua perawi ini meriwatkan qira’at Imam Ibnu Amir melalui jalur perantara.

Kelima, Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufiy (w. 128 H). Kedua perawinya yang paling terkenal adalah: Imam Syu’bah (w. 193 H) dan Imam Hafsh (180 H). Kedua perawi ini meriwayatkan langsung dari Imam Ashim tanpa melalui jalur perantara. Namun, Perawi yang kedua adalah paling terkenal dan banyak dibaca di belahan dunia Islam, utamanya di benua Asia. Pada artikel berikutnya, insyaAllah, penulis akan menguraikan tentang kronologis kemasyhuran riwayat ini.

Keenam, Imam Hamzah bin Al-Zayyat (w. 156 H). Imam Syatibiy menjulukinya dengan sebutan “Imam Shobur” (pemimpin yang sabar atau tahan menderita). Kedua perawinya yang paling terkenal adalah: Imam Khalaf (w. 229 H) dan Imam Khallad (w. 220 H). Kedua perawi ini tidak langsung belajar kepada Imam Hamzah tapi melalui jalur Imam Sulaim.

Ketujuh, Imam Ali bin Hamzah Al-Kisa’i (w. 189 H). Kedua perawi yang paling terkenal dan belajar langsung kepada beliau tanpa perantara perawi adalah: Imam Abi Al-Harits (w. 240 H) dan Imam Al-Duriy (telah disebutkan di atas; perawi Imam Abu Amr Al-Bashriy). Ketiganya ini (Imam Ashim, Hamzah dan Ali Al-Kisa;i) berasal dari Kufah (sekarang daerah Irak dan sekitarnya).

Kedelapan, Imam Abu Jakfar, namanya adalah Yazid bin Al-Qa’qa’ (w. 128 H). Beliau merupakan salah satu guru dari Imam Nafi’. Kedua perawinya yang terkenal adalah: Ibnu Wardan (w. 160 H) dan Ibnu Jammaz (w. 170 H).

Kesembilan, Ya’kub bin Ishaq bin Zaid Al-Hadramiy (w. 205 H). Kedua perawinya yang terkenal adalah: Imam Ruwais (238 H) dan Imam Rauh (w. 235 H).

Kesepuluh, Imam Khalaf Al-Asyir (w. 229 H). Namanya adalah Khalaf bin Hisyam bin Tsa’lab Al-Bazzar. Namun beliau lebih dikenal dengan sebutan “Khalaf al-Asyir”. Imam Khalaf ini selain sebagai Imam Qira’at juga sebagai perawi dari Imam Hamzah. Kedua perawinya adalah: Imam Ishaq Al-Warraq (w. 280 H) dan Imam Idris Al-Haddad (w. 290 H). (Lihat: Abdul Fattah Al-Qadhiy, Al-Budur Al-Zahirah, Beirut: Dar al-Kitab Al-Arabiy, tt) hlm 7-9.

Redaksi Ta’awudz Menurut Ahli Qurra’ Asyrah.

Ada beberapa redaksi isti’adzah atau ta’awwudz yang digunakan oleh ulama qira’at. Sebagian imam qira’at dengan imam qira’at lainnya memiliki redaksi isti’adzah yang sama, namun ada pula yang berbeda. Di samping itu juga, antara perawi dengan perawi yang lainnya meskipun satu guru ada yang berbeda redaksinya, sebab para imam qira’at tidak hanya mengajarkan dan meriwayatkan satu redaksi kepada murid-muridnya. Demikian inilah keindahan perbedaan dalam studi ilmu qira’at. Berikut adalah redaksi isti’adzah menurut ulama qira’at:

Pertama, Imam Abi Amr Al-Bashriy, Imam Ashim Al-Kufiy dan Imam Ya’kub Al-Hadhramiy memilih menggunakan redaksi sebagai berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم 

Redaksi ini, bagi mereka, sesuai dengan firman Allah ﷻ, dalam Surat an-Nahl ayat 98:

فَإِذَاقَرَأْتَ الْقُرْأَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ 

Sementara Imam Hafsh, perawi Imam Ashim, sebagaimana disampaikan oleh Imam Hubairah, memilih menggunakan redaksi isti’adzah sebagai berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم

Pemilihan redaksi ini karena menggabungkan tiga ayat, yaitu: Surat an-Nahl 98, al-Haqqah 33 dan Fusshilat 36.
 
Kedua, Imam Nafi’, Imam Jakfar Al-Qa’qa’, Imam Ibnu Amir Al-Syamiy, Imam Ali Al-Kisa’i dan Imam Khalaf Al-Asyir memilih menggunakan redaksi sebagai berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ 

Mereka memilih menggunakan redaksi ini karena menggabungkan dua ayat dalam dua surat yang berbeda: Surat Al-A’raf (وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ) dan surat Fusshilat (وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ).

Ketiga, Imam Ibnu Katsir memilih menggunakan redaksi sebagai berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم

Tambahan kata (العَظِيْمِ), sifat dari lafadz jalalah, ini karena sesuai dengan firman Allah yang termaktub dalam surat al-Haqqah ayat 33 (إِنَّهُ كَانَ لاَيُؤْمِنُ بِاللهِ العَظِيْمِ ). Dalam hal ini Imam Ibnu Katsir juga mengawinkan dua ayat, yaitu Surat An-Nahl 98 dan Al-Haqqah 33. Imam Al-Hadzaliy menambahkan satu riwayat dari jalur Al-Zinabiy, yaitu (أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ).

Keempat, Imam Hamzah menggunakan redaksi sebagai berikut:

أَسْتَعِيْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
 
Pada kalimat isti’adzahnya, Imam Hamzah menggunakan sesuai dengan versi lafadz yang tertera dalam empat surat di atas yang menjadi sumber utama penggalian redaksi ta’awwudz, yaiut: Al-A’raf 200, An-Nahl 98, Fusshilat 36 dan Ghafir 56. Menurut Imam Al-Hadzaliy, Imam Hamzah memiliki tiga redaksi, yaitu: (اِسْتَعَنْتُ بِاللهِ) (أَسْتَعِيْذُ بِاللهِ) (نَسْتَعِيْذُ بِاللهِ). (Lihat: Ahmad bin Al-Husain Al-Ashbahaniy, Al-Ghayat fi al-Qir’at Al-Asyr, Riyadh, Dar Al-Syawaf, 1990, halaman 453) 

Dari sembilan Imam Qira’at, semuanya menggunakan redaksi (أَعُوْذُ) kecuali Imam Hamzah menggunakan redaksi (أَسْتَعِيْذُ), padahal redaksi yang menjadi rujukan dalam Al-Qur’an berbunyi (فَاسْتًعِذْ ). Artinya jika kita mengikuti aturan sesuai teks yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang telah disebutkan di atas, maka yang tepat adalah menggunakan redaksi (أَسْتَعِيْذُ). Namun tidak demikian, para ulama dalam melakukan istimbath yang berhubungan dengan agama sangat hati-hati dan teliti. Tidak hanya berkutat pada satu teks, dan meninggalkan teks yang lain. 

Dalam hal ini ulama qira’at memilih redaksi (أًعُوْذُ) karena redaksi tersebut banyak digunakan dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah sebagai ungkapan permohonan dan doa. Dalam Al-Qur’an, redaksi (أًعُوْذُ) ini diulang setidaknya enam kali; surat Al-Baqarah, ayat 67 (أَعُوذُ بِاللهِ أَنْ أَكُوْنَ مِنَ الْجَاهِلِيْنَ), surat Hud, ayat 47 (أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ), surat Maryam ayat 18 (قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا), surat Al-Mu’minun ayat 97 (وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيِنِ), Surat Al-Falaq ayat 1 (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) dan Surat An-Nas ayat 1 (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ). (Lihat juga: Al-Idha’at fi Usul Al-Qira’at, Kairo, Maktabah Al-Azhariyah, 1999, halaman 7)

Sementara dalam sunnah, ada beberapa redaksi tersebut yang dipakai oleh Nabi, yaitu: pertama, diriwayatkan oleh Imam Turmudziy dari Said Al-Khudriy bahwa Nabi ketika bangun pada malam hari, beliau membaca (أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ). 

Kedua, dalam Shahih Ibnu Khuzaimah dijelaskan pula bahwa Nabi berdoa sebagai berikut: (اَلَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمْ وَهَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ). 

Ketiga, diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud membaca al-Qur’an kepada Nabi, dan membaca (أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم), kemudian Nabi berkata: “ wahai Ibnu Ummi Abd, bacalah (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم). 

Keempat, diriwayatkan dari Nafi’ dari Jubair bin Muth’im bahwa Nabi membaca (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم).  (Lihat: Abdul Fattah Al-Qadhiy, Al-Wafiy fi Syarh Al-Syathibiyyah fi Al-Qira’at Al-Sab’i, h.  42).

Kelima, diriwayatkan oleh Anas bahwa Nabi bersabda: “barang siapa yang membaca (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم) sepuluh kali, maka Allah akan mengirimkan kepadanya dua malaikat yang menjaga dari godaan syaitan.....”.

Keenam, diriwayatkan dari Sulaiman bin Sharad, ia berkata: “Ada dua laki-laki saling mencaci maki di samping Nabi, sementara kami berada disana. Saat keduanya saling mencaci maki dan meluapkan kemarahannya, hingga tampak merah pada wajahnya. Kemudian Nabi berkata: “sesugguhnya saya mengajarkan sebuah kalimat, yang barang siapa membacanya akan hilang (kemarahan) yang terdapat padanya, yaitu (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم). (Lihat: Ahmad bin al-Husain al-Ashbahaniy, Al-Ghayat fi Al-Qir’at Al-Asyr,...halaman 454.

Imam al-Dhabba’ dalam bukunya, Al-Idha’at fi Ushul Al-Qira’at, mengutip keterangan Imam Abi Amr al-Daniy, menjelaskan bahwa ada beberapa tambahan ragam redaksi isti’adzah selain yang disebutkan di atas, yaitu sebagai berikut: 

Pertama: (أَعُوْذُ بِاللهِ الْقَادِرِ مِنَ الشَّيْطَانِ الْفَاجِرِ)

Kedua: (أَعُوْذُ بِاللهِ الْقَوِيِّ مِنَ الْشَيْطَانِ الْغَوِيِّ)

Ketiga: (أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم)

Keempat: (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم الْخَبِيْثِ الْمُخْبِثِ وَالرِّجْسِ النَّجْسِ)

Kelima: (أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ)

Keenam: (أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ)

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, jika redaksi (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم) lebih sesuai dengan teks Al-Qur’an dan hadits, kenapa diperbolehkan memakai selain redaksi seperti di atas?

Dalam hal ini perlu diperjelas bahwa ayat-ayat yang terkait dengan anjuran membaca isti’adzah, sebagaimana disebutkan di awal, hanya sebatas anjuran membaca isti’adzah sebelum memulai membaca Al-Qur’an, bukan suatu tuntutan menggunakan redaksi seperti di atas. Oleh karena itu, membaca isti’adzah dengan berbagai varian redaksinya sangat dianjurkan sebelum membaca Al-Qur’an. Dalam hal ini, tidak diperkenankan seseorang memprotes atau menyalahkan orang lain apalagi sampai membid’ahkan hanya karena perbedaan bacaan isti’adzah. Wallahu a'lam.


Moh. Fathurrozi, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo dan Dai PCINU Korea Selatan
Tags:
Share:
Rabu 25 Juli 2018 12:0 WIB
Memahami Makna Wahyu dan Proses Turunnya Al-Qur’an
Memahami Makna Wahyu dan Proses Turunnya Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan sumber dan pedoman utama bagi umat Islam yang diyakini sebagai wahyu Allah yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ. Al-Qur’an mempunyai hubungan erat dengan kehidupan Nabi dan masyarakat Arab pada masa awal, sehingga tidak mengherankan ketika ungkapan-ungkapan yang dinarasikan Al-Qur’an mengandung nilai sastra tinggi. Dalam pandangan Imam Jalaluddin As-Suyuti, penggunaan kalimat-kalimat yang indah dan ungkapan-ungkapan yang penuh dengan sastra itu adalah bentuk mu’jizat Al-Qur’an sebagai respons dari peradaban Arab pada masa Arab yang penuh dengan nilai sastra.

Meskipun diturunkan di daerah Arab dan berinteraksi dengan budaya Arab, bukan berarti Al-Qur’an menjadi bagian dari budaya Arab. Hal tersebut disebabkan orisinalitas dan otentisitas Al-Qur’an dijaga langsung oleh Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Surat al-Hijr 9, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Imam Ibnu Jarir at-Thabari dalam tafsirnya menafsirkan bahwa ayat tersebut menjelaskan kesucian Al-Qur’an dari penambahan dan pengurangan atas ayat yang ada di dalamnya, serta ayat Al-Qur’an tidak akan mengandung kebatilan. Yang demikian menandakan bahwa turunnya Al-Qur’an selalu dijaga dan terpelihara dari sifat-sifat negatif.

Berkaitan dengan otentisitas Al-Qur’an, muncul pertanyaan penting: bagaimana proses turunnya wahyu Al-Qur’an? Perihal transformasi wahyu menjadi objek kajian menarik yang banyak dilakukan oleh ulama. Secara tegas mereka menjelaskan makna wahyu dalam artian umum dan pengertian wahyu dalam konteks Al-Qur’an diturunkan pada Nabi Muhammad.

Imam Zarqani dalam karyanya Manahil Irfan fi Ulum Al-Qur’an menjelaskan bahwa ada empat karakter makna wahyu yang terdapat dalam Al-Qur’an. Pertama, wahyu mempunyai makna ilham yang bersifat fitri. Sebagaimana firman Allah dalam QS al-Qashash ayat 7:

وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِى ٱلْيَمِّ وَلَا تَخَافِى وَلَا تَحْزَنِىٓ، إِنَّا رَآدُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ

Artinya: “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; ‘Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul’.”

Kedua, kata wahyu dalam Al-Qur’an berkaitan dengan naluri pada binatang, seperti dalam QS an-Nahl 68-69:

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ، ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ 

Artinya: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia’.”

Ketiga, kata wahyu mempunyai arti bisikan jahat, baik bersumber dari setan, jin, maupun manusia. Surat al-An’am ayat 112 menyatakan:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Artinya: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”

Keempat, kata wahyu yang bermakna memberikan isyarat, tanda dan simbol yang terdapat dalam Surat al-Maryam ayat 11:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَىٰ إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

Artinya “Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang”.

Adapun wahyu yang diturunkan pada Nabi Muhammad mempunyai beberapa model atau cara, tetapi secara umum para ulama berpendapat bahwa proses turunnya wahyu pada Nabi melalui dua cara. Pertama adalah al-inzâl, yakni proses turunnya Al-Qur’an yang diyakini berasal dari lauhul mahfudh ke langit dunia. Kedua adalah at-tanzîl, yakni proses turunnya Al-Qur’an yang dilakukan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad ﷺ. 

Proses turunnya Al-Qur’an ini sekaligus menggambarkan tentang keasliannya yang tidak dapat dipalsukan, karena dikuatkan dengan hadits Nabi yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas, “Allah menurunkan Al-Quran sekaligus ke langit dunia, tempat turunnya secara berangsur-angsur. Lalu, Dia menurunkannya kepada Rasul-Nya ﷺ bagian demi bagian.” 

Konsep yang pertama (al-inzâl) merupakan proses di luar nalar karena tidak memerlukan dimensi waktu, tetapi pada konsep yang kedua Nabi harus menerima dengan beragam kondisi karena faktor manusiawi, semisal kedinginan atau terasa seperti bunyi lonceng. Tidak semua orang dapat menangkap eksistensi wahyu Al-Qur’an kecuali Nabi Muhammad.

Baca juga: Sejarah Nabi Muhammad (2): Wahyu Pertama yang Menggetarkan
Menurut ulama ada tiga kategori proses turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad. Pertama dengan cara ilham. Cara ini adalah salah satu pengalaman Nabi ketika dalam keadaan terjaga maupun tidur seperti hadits Nabi yang diriwayatkan Aisyah, “Pertama kali Rasulullah menerima wahyu adalah dalam mimpi yang benar pada waktu tidur. Beliau tidak melihat mimpi itu, kecuali datang seperti cahaya subuh.

Adapun model kedua adalah secara langsung, dan hal ini hanya sekali ketika Nabi mi’raj, di mana Nabi menerima perintah langsung tanpa perantara malaikat Jibril. Dan, cara ketiga—yang sering Nabi terima—adalah melalui perantara malaikat Jibril. Jibril menyampaikan wahyu Allah berupa makna (“ide”), kemudian Nabi mengungkapkan sendiri sendiri lafadhnya. Dan ada pula yang makna dan redaksinya langsung datang dari malaikat Jibril. Meskipun demikian hal ini tidak mengurangi sedikitpun keaslian atau otentisitas wahyu Al-Qur’an yang diterima oleh Nabi Muhammad, karena secara tegas Al-Qur’an memberikan argumentasi bahwa Al-Qur’an telah tertanam dalam hati Nabi, sebagaimana QS as-Syu’ara ayat 192-195.

وَإِنَّهُ لَتَنزيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نزلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ، عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ، بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ 
 
Artinya: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”


Moh. Muhtador, Dosen Ushuluddin IAIN Kudus


Referensi
Al-Bukhari, Shahih Bukhari, kitab Bad’i al Wahyi (Dar Salam, Riyad 1997)
Jalal al Din al Syuyuti, al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an, juz II (Beirut: Dar al Fikr, 2012).
Ibnu Jarir al Thabari, Tafsir al Thabari (Beirut: Muassah Risalah, 2000)
Muhammad Abd al Azhim al Zarqani, Manahilul-Irfan fi Ulum Al-Qur’an, jilid I (Beirut: Darul Fikr, 1988)

Rabu 18 Juli 2018 19:0 WIB
Hukum, Waktu, dan Cara Membaca Ta’awudz atau Isti’adzah
Hukum, Waktu, dan Cara Membaca Ta’awudz atau Isti’adzah
Secara bahasa isti’adzah berarti doa untuk memohon perlindungan dan penjagaan. Secara istilah isti’adzah adalah kalimat yang dimaksudkan untuk memohon perlindungan dan penjagaan kepada Tuhan yang Maha Pelindung dari bisikan dan godaan syaitan.

Ia bagaikan tabir untuk menghalangi datangnya keburukan yang tidak tampak, keburukan yang bersifat batiniah. Nabi secara tegas mengajarkan kepada dua sahabat yang sedang bertikai untuk membaca isti’adzah agar amarah dan angkuh dalam jiwanya melebur menjadi ketenangan.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa membaca isti’adzah merupakan permohonan agar terhindar dari hal-hal negatif yang bersifat batiniah, dan untuk mendatangkan kebaikan. Membaca isti’adzah merupakah anjuran yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, ia boleh dibaca kapan saja, lebih-lebih dibaca saat membaca Al-Qur’an. 

Redaksi isti’adzah yang paling populer dan unggul menurut jumhur ulama dan praktisi ahli qira’at adalah (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ) karena sesuai dengan nash Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam Al-Qur’an tertera pada surat al-Nahl ayat 98, (فإِذَا قَرَأْتَ اْلقُرْأَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ). Sedangkan dalam hadits yaitu diriwayatkan oleh Nafi’ dari Jubair bin Mut’im dari bapaknya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, “Sesungguhnya Beliau membaca isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an persis seperti lafadz di atas”, (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ). Ada banyak ragam redaksi yang akan penulis ulas pada tulisan berikutnya dalam pandangan para ahli qira’at.

Para ulama sepakat bahwa isti’adzah bukan bagian dari Al-Qur’an. Meskipun demikian, jumhur ulama menganjurkan bagi orang yang hendak membaca Al-Qur’an untuk membacanya, baik ketika membaca di awal surat atau pertengahan surat. Tapi sebagian riwayat menyatakan bahwa anjuran di atas tidak sekadar anjuran yang bersifat tanpa tuntutan namun anjuran yang bersifat keharusan, yaitu wajib. 

Berangkat dari ayat 200 al-A’raf, ayat 98 Surat al-Nah, ayat 56 Surat Ghafir dan ayat 36 Surat Fussilat, (فَاسْتَعِذْ بِاللهِ), kiranya perlu dipetakan beberapa hal yang terkait dengan isti’adzah. Pertama, mengenai hukum membaca isti’adzah. Kedua waktu membaca isti’adzah; sebelum atau setelah membaca Al-Qur’an. Ketiga, cara membacanya; dikeraskan atau direndahkan suaranya saat membaca isti’adzah.

Hukum Membaca Isti’adzah

Mengenai hukum membaca isti’adzah para ulama berbeda pendapat. Hal ini didasarkan pada kalimat perintah (amr) yang terdapat pada ayat 98 Surat al-Nahl (فَاسْتَعِذْ بِاللهِ). Menurut jumhur ulama dan para ahli qira’at, kalimat amr (perintah) dalam ayat di atas mengindikasikan arti sunnah, maka tidak berdosa bagi orang yang tidak membaca isti’adzah. Sebab tidak ada tuntunan dari Nabi yang mengahruskan untuk membaca isti’adzah. Meskipun Nabi mengajarkan cara baca mengenai isti’adzah namun hal tersebut tidak diharuskan. Pendapat ini kemudian oleh banyak kalangan dianggap seperti ijma’. 

Sedangkan menurut sebagian ulama, membaca isti’adhah hukumnya wajib karena kalimat perintah dalam ayat di atas menunjukkan arti yang hakiki, yaitu harus dilaksanakan dan tidak ada petunjuk yang dapat merubah perintah tersebut. Menurut Ibnu Sirin kewajiban ini hanya cukup sekali seumur hidup. Oleh karena itu, apabila seorang telah membaca isti’adzah sekali saja dalam hidupnya, maka gugurlah kewajiban tersebut.

Namun Imam Fakhruddin al-Razi, ia bersikukuh berpendapat bahwa secara tekstual ayat di atas menunjukkan perintah yang harus dilaksanakan. Menurutnya, hal ini diperkuat bahwa Nabi tidak pernah meninggalkan membaca isti’adzah. Oleh karena itu, berdosalah bagi orang yang tidak membaca isti’adzah. Selain itu, sebagian riwayat juga menyatakan bahwa kewajiban membaca isti’adzah ini hanya berlaku untuk Nabi, bukan untuk ummatnya. 

Kapan Isti’adzah Dibaca?

Jika melihat pada ayat 98 Surat al-Nahl, maka membaca isti’adzah dilakukan setelah membaca Al-Qur’an, sebab menggunakan bentuk masa lampau (madhi). Namun hal demikian, menurut jumhur ulama bahwa membaca isti’adzah dilakukan sebelum membaca Al-Qur’an. Hal ini dianalogikan dengan ayat 6 Surat al-Maidah tentang wudhu’, meskipun dalam ayat di atas berbentuk masa lampau (madhi) namun kandungan artinya bermakna akan datang (mustaqbal), sebagaimana dalam ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ

“Jika engkau hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu.”

Meskipun demikian, ada yang berpendapat bahwa membaca isti’adzah dilakukan setelah membaca Al-Qur’an, karena melihat pada dhahir teks ayat. Untuk mengetengahkan pendapat yang saling bersebrangan di atas, ada yang berpendapat, sebaiknya isti’adzah dibaca sebelum dan sesudah membaca Al-Qur’an, karena untuk momohon penjagaan dari hal-hal yang buruk sebelum membaca dan menghilangkan rasa ujub ketika selesai membaca. Oleh karena itu, membaca isti’adzah dilakukan sebelum membaca Al-Qur’an, karena sesuai dengan petunjuk Nabi ketika menerima dari Jibril dan kemudian diajarkan kepada Ibnu Mas’ud.

Mengeraskan atau Merendahkan Suara?

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa seluruh ulama sepakat bahwa isti’adzah bukan bagian dari ayat Al-Qur’an. Berangkat dari pernyataan di atas, apakah boleh mengeraskan suara saat membaca isti’adzah, sementara ia bukan bagian dari ayat Al-Qur’an?

Para ulama berbeda pendapat tentang cara membaca isti’adzah. Sebagian ulama ada yang memilih untuk mengeraskan bacaan isti’dzah dan ada pula yang memilih untuk merendahkannya. Adapun sebagian besar ulama qira’at memilih untuk mengeraskan suara ketika membaca isti’adzah, kecuali Imam Nafi’ dan Imam Hamzah yang memilih untuk merendahkan suara ketika membacanya. 

Dari perbedaan di atas, Imam Khalaf al-Husainiy menjelaskan bahwa mengeraskan atau merendahkan suara saat membaca isti’adzah dapat dilakukan sesuai dengan kondisi tententu. Berikut penjelasannya. Seorang qari’ dianjurkan mengeraskan suara apabila: 

• Membaca dihadapan orang yang menyimak bacaannya, agar penyimak dapat memperhatikan secara seksama dan mengikuti bacaannya sejak awal,

• Hendak memulai mempedengarkan bacaan kepada seorang guru, supaya seorang guru dapat memperhatikannya dan membenarkan jika terdapat kesalahan,

• Tidak bermaksud untuk membaca Al-Qur’an dengan merendahkan suara.

• Tidak dalam keadaan sholat, karena membaca bacaan dalam sholat dianjurkan untuk merendahkan suara.

Sehubungan dengan penjelasan di atas, Imam Khalaf al-Hasaniy bersenandung lewat bait syair:
 
إذَا مَا أَرَدْتَ الدَّهْرَ تَقْرَأُ فَاسْتَعِذْ ** وَبالْجَهْرِ عِنْدَ الْكُلِّ فِى الْكُلِّ مُسْجَلاً
بشَرْطِ اسْــتِمَاعٍ وَابْتِدَاءِ دِرَاسَةٍ ** وَلاَ مُـخْفِيًا أَوْ فىِ الصَّلاَةِ فَفَصَّـــلاَ

Sementara merendahkan suara dianjurkan apabila:

• Seorang qori’ bermaksud membaca dengan suara rendah, baik dalam suatu majlis atau sendirian.

• Tidak dalam keramaian, baik hendak membaca dengan suara rendah atau tinggi.

• Jika berada dalam shalat, baik shalat jahriyah maupun sirriyah.

• Membaca ketika berada di tengah-tengah jama’ah yang belajar al-Quran. Misalnya membaca bergiliran dalam maqra’ah (majlis penghafal Al-Qur’an).


Moh. Fathurrozi, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo dan Dai PCINU Korea Selatan

Refrensi
Al-Hasany, Hasan Khalaf, Tahrir Masail al-Syatibiyah, Tanta: Dar al-Shahabah, 2004.
Al-Qadhiy, Abdul Fattah, Al-Buduruzzahirah, Bairut: Dar al-Kitab al-Arabiy, tt.
Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Adhim, tt.
Imam al-Qurtubiy, al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, tt.

Rabu 13 Juni 2018 15:0 WIB
Bolehkah Membaca Basmalah di Tengah-tengah Surat At-Taubah?
Bolehkah Membaca Basmalah di Tengah-tengah Surat At-Taubah?
Ilustrasi (alfagr.com)
Berangkat dari pertanyaan pada tulisan pertama, kenapa tidak diperkenankan membaca basmalah dalam surat At-Taubah, baik di awal surat maupun di tengah-tengah surat, apakah larangan ini mengandung arti hukum haram atau sekadar peringatan yang tidak berdampak dosa?

Baca: Mengapa Surat at-Taubah Tak Dimulai dengan Basmalah?
Pada tulisan ini, penulis akan memetakan cara baca antara Surat al-Anfal dengan At-Taubah dan hukum membaca ayat di tengah-tengah surat At-Taubah. 

Dalam ilmu qira'at, ada banyak pendapat tentang cara menyambung antara dua surat; ada yang membaca dengan waqf (berhenti sejenak untuk mengambil napas kira-kira dua detik), ada yang membaca washl (menyambung dua surat tanpa mengambil tarikan napas), ada pula yang membaca sakt (berhenti sejenak menahan tarikan napas kira-kira dua detik), bahkan ada pula yang menyambungnya dengan basmalah atau meninggalkannya. Semua tata cara (thariqah/metode) ini sahih dan mutawatir, baik bagi qurra' sab'ah atau asyrah. Misalnya, Imam Nafi', Imam al-Qurra' Madinah, memiliki kompleksitas bacaan seperti di atas melalui kedua muridnya yang masyhur: Imam Qalun dan Warsy. Berbeda dari Imam 'Ashim, beliau hanya memiliki satu cara baca (satu cara baca memiliki tiga operasional), yaitu menyambung kedua surat dengan basmalah. Meskipun demikian, untuk cara menyambung antara surat al-Anfal dan At-Taubah, para ulama, baik qurra sab'ah (qira'at tujuh) maupun qurra' asyrah (qira'at sepuluh) sepakat, baik secara metode maupun oprasionalnya, yaitu dengan tiga cara; waqaf, washal dan sakt. Ketiga oprasional bacaan ini tanpa membaca basmalah. Berikut contohnya.

Pertama, waqaf, cara mengoprasionalkan bacaan waqaf ini adalah berhenti pada ayat terakhir ( ان الله بكل شيء عليم)  mengambil napas kira-kira dua detik kemudian melanjutkan awal surat At-Taubah. Ketika dalam keadaan berhenti (antara dua surat: al-Anfal dan At-Taubah) seorang qari' boleh menambahkan bacaan isti'adzah. Dalam hal ini, membaca istiadzah dianjurkan.

Kedua, washal, cara mengoprasionalkan bacaan ini adalah menyambung antara kedua surat al-Anfal dan At-Taubah tanpa mengambil tarikan napas, sebagaimana menyambung antar dua ayat yang berdampingan. Dalam hal ini, seorang qari' tidak perlu membaca kalimat istia'adzah.

Ketiga, sakt, cara mengoprasionalkan bacaan ini adalah berhenti sejenak pada ayat terakhir surat al-Anfal dengan menahan napas kira-kira dua detik, kemudian melanjutkan awal surat At-Taubah. Dalam hal ini pula, seorang qari tidak perlu membaca kalimat isti'adzah. 

Demikian merupakan tata cara (motode) dan operasionalnya menyambung antara surat al-Anfal dan At-Taubah. 

Sebelum masuk pada pemetaan hukum membaca basmalah di tengah-tengah surat At-Taubah, terlebih dahulu sebaiknya dipaparkan membaca basmalah di tengah-tengah surat selain surat At-Taubah, agar kita dapat mengetahui secara komprehensif dan dapat menemukan perbandingan hukum.

Secara umum, ulama qurra' (ahli qira'at) sepakat membaca basmalah pada awal setiap surat kecuali surat At-Taubah. Sementara mengawali di tengah-tengah surat selain At-Taubah, ulama qurra' memberikan kelonggaran, yaitu boleh di awali dengan membaca basmalah atau meninggalkannya. Artinya, seorang qari' ketika hendak membaca ayat di tengah-tengah surat selain At-Taubah boleh memilih antara membaca basmalah atau meninggalkannya dengan membaca isti'adzah saja. Namun, alangkah baiknya bagi seorang qari untuk mengawali baca al-Quran dengan basmalah, baik di awal surat maupun di tengah-tengah surat, sebab menambah pembendaharaan pahala.

(Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan “tengah-tengah surat” adalah selain ayat pertama dalam surat).

Hukum Membaca Basmalah pada Surat At-Taubah

Adapun hukum membaca basmalah di tengah-tengah surat At-Taubah adalah sebagaimana berikut:

Pertama, haram membaca basmalah di awal surat al-Bara'ah atau at-Taubah, dan makruh membaca basmalah di tengah-tengah surat. Pendapat ini diutarakan oleh Imam Ibnu Hajar dan Imam al-Khatib. 

Dasar pengambilan hukum haram ini karena tidak mengikuti petunjuk bacaan yang mutawatir. Artinya, keluar dari pakem dan kesepakatan ulama qurra'. Sementara hukum makruh di tengah-tengah surat At-Taubah karena tidak ada petunjuk resmi larangannya, sehingga untuk mengantisipasi dilakukan larangan yang tidak mengikat, yaitu hukum makruh.

Kedua, makruh membaca basmalah di awal surat At-Taubah dan sunnah membaca basmalah di tengah-tengah surat, sebagaimana membaca basmalah di tengah-tengah surat selain surat At-Taubah. Pendapat ini diutarakan oleh Imam Ramli.

Dasar pengambilan hukum ini (makruh di awal surat) adalah karena tidak ada petunjuk (larangan) resmi dari Nabi maupun sahabat. Sedangkan pengambilan hukum sunnah di tengah-tengah surat adalah karena dianalogikan (qiyas) dengan membaca basmalah di tengah-tengah surat selain At-Taubah. 

Oleh karena itu, dari beberapa pemaparan di atas, dapat disimpulkan sebagaimana berikut:

Pertama, membaca basmalah pada awal surat merupakan sunnah yang sangat dianjurkan kecuali surat At-Taubah.

Kedua, membaca basmalah di tengah-tengah surat boleh dilaksanakan atau ditinggalkan. Namun sebaiknya membaca basmalah, sebagaimana tradisi yang berkembang, untuk pembendaharaan pahala.

Ketiga, membaca basmalah di awal surat At-Taubah tidak dianjurkan bahkan dilarang. Sebaiknya jika membaca awal surat At-Taubah cukup membaca isti'adzah saja.

Keempat, membaca basmalah di tengah-tengah surat At-Taubah sebaiknya ditinggalkan meskipun ada yang berpendapat membolehkannya. Hal ini didasarkan pada qiyas (analogi) tidak dianjurkannya membaca di awal surat. Di samping tidak ada petunjuk resmi dari nash.

Berkaitan dengan kesimpulan di atas, maka sebaiknya bagi khalayak umat Muslim yang biasa baca diba'an untuk tidak membaca basmalah ketika mengawali bacaan surat At-Taubah terakhir ayat 127, (لقد جاءكم رسول من انفسكم عزيز) cukup diawali dengan isti'adzah saja. Mengingat membaca basmalah di tengah-tengah surat At-Taubah tidak dianjurkan. Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.


Daftar Refrensi
Al Fadhliy, Abdul Hadi, Al-Qira'at al-Qur'aniyah; Tarikh wa Ta'rif. Beirut: Markas al-Ghadir, 2009.
Al-Dhobba', Al-Idhaah fi Bayan Ushul Al-Qira'at. Mesir: Al-Maktabah Al-Azhariyah li Al-Turats, 1999.
Al- Qadiy, Abd Al-Fattah, Al-Budur Al-Zahirah fi Al-Qira'at Al-Asyrah Al-Mutawatirah. Beirut: Dar Al-Kitab Al-Arabiy, tth.
Al- Qadiy, Abd Al-Fattah, Al-Budur Al-Zahirah fi Al-Qira'at Al-Sab'i. Jeddah: Maktabah Al-Suwadiy, 1992.
Al-Qurtubiy, Abu Abdillah Muhammad, Tafsir Al-Qurtubiy. Beirut, Dar Al-Arabiy, tth.
Al-Qatthan, Mabahits fi Ulum Al-Qur'an. Kairo: Maktabah Wahbah, 1995.


Moh Fathurrozi, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo dan Dai PCINU Korea Selatan