IMG-LOGO
Jumat

Syarat-syarat Khutbah dan Penjelasannya (I)

Sabtu 4 Agustus 2018 17:30 WIB
Syarat-syarat Khutbah dan Penjelasannya (I)
Khutbah Jumat merupakan salah satu ibadah yang menentukan keabsahan prosesi shalat Jumat. Karenanya, rukun, syarat dan segala ketentuannya harus terpenuhi agar pelaksanaan Jumat sah. Khutbah Jumat dilakukan dua kali, di antara khutbah pertama dan kedua dipisah dengan duduk. Khutbah Jumat memiliki lima rukun yang harus dipenuhi. Membaca hamdalah, shalawat Nabi dan wasiat bertakwa di kedua khutbah, membaca ayat suci al-Quran di salah satu dua khutbah serta membaca doa untuk umat Islam di khutbah kedua.

Baca juga: Rukun-rukun Khutbah dan Penjelasannya
Khutbah Jumat memiliki 12 syarat yang harus terpenuhi sebagai berikut:

Syarat pertama, khatib harus laki-laki.

Syarat ini–sebagaimana syarat diperdengarkan dan didengar jamaah serta berbahasa Arab- juga berlaku untuk selain khutbah Jumat, seperti khutbah shalat hari raya dan shalat gerhana. Sehingga tidak sah khutbah dilakukan oleh perempuan.

Syekh al-Qalyubi mengatakan:

ويشترط كون الخطيب ذكرا أو كونه تصح إمامته للقوم كما قاله شيخنا الرملي واعتمده شيخنا الزيادي الى ان قال وشرط الذكورة جار في سائر الخطب كالإسماع والسماع وكون الخطبة عربية

“Disyaratkan khathib seorang laki-laki atau orang yang sah menjadi imam bagi jamaah sebagaimana yang dikatakan Syekh al-Ramli dan dibuat pegangan oleh guru kami Syekh al-Zayadi. Syarat ini berlaku juga di selain khutbah Jumat sebagaimana syarat khutbah harus diperdengarkan dan didengar oleh jamaah serta syarat harus berbahasa Arab.” (Syekh al-Qalyubi, Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala al-Mahalli, juz 1, hal. 322).

Syarat kedua, khutbah harus diperdengarkan dan didengar oleh jamaah Jumat yang mengesahkan Jumat.

Khutbah disyaratkan harus dengan suara yang keras. Sekiranya dapat didengar oleh jama’ah jumat yang mengesahkan pelaksanaan Jumat, yaitu setiap muslim yang baligh, berakal, merdeka, berjenis kelamin laki-laki dan bertempat tinggal tetap (muqim mustauthin). 

Ulama berbeda pendapat mengenai standart memperdengarkan khutbah kepada Jamaah. Versi Imam Ibnu Hajar harus diperdengarkan secara nyata, sehingga andaikan ada suara-suara yang menghambat pendengaran jamaah kepada khutbah seperti ramai-ramai, maka tidak cukup, bahkan khatib harus lebih mengeraskan suaranya lagi sampai didengar oleh Jamaah.

Sedangkan menurut Imam al-Ramli, cukup memperdengarkan secara hukum saja, maksudnya khatib cukup membaca khutbah sekira didengar jamaah, meskipun mereka tidak mendengar karena ada keramaian yang menghambat pendengaran jamaah, namun andaikan tidak ada penghalang, jamaah tetap dapat mendengar isi khutbah. 

Menurut keduanya, tidak cukup penyampaian khutbah disertai dengan tidur atau tulinya jamaah.

Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri mengatakan:

ومن شروط الخطبتين أن يسمعهما أربعون ممن تنعقد بهم الجمعة واختلف ابن حجر والرملي حول الإسماع هل يلزم بالفعل أو بالقوة؟ ابن حجر يقول لا بد من الإسماع بالفعل معناه لو كان هناك ضجة أو طبول تضرب أو صياح وجب على الخطيب أن يرفع صوته حتى يسمعوا بالفعل. أما الرملي فيقول السماع بالقوة فقط يرفع الخطيب صوته بحيث لو زال المشوش لسمعوا. ولو نام واحد منهم أو كان أصم ولم يزل العدد عن أربعين بطلت الجمعة.

“Di antara syarat dua khutbah adalah didengar oleh 40 orang yang mengesahkan Jumat. Imam Ibnu Hajar dan Imam al-Ramli berbeda pendapat mengenai standar memperdengarkan kutba, apakah wajib diperdengarkan secara nyata atau cukup dengan hukum saja?. Imam Ibnu Hajar berkata harus diperdengarkan secara nyata. Maksudnya, bila ada kegaduhan, gendang yang ditabuh atau jeritan, wajib bagi khatib mengeraskan suaranya sampai mereka mendengar secara nyata. Sedangkan imam al-Ramli berkata cukup memperdengarkan secara hukum saja, khatib cukup mengeraskan suaranya, sekira apabila hilang perkara yang mengganggu, jamaah dapat mendengarnya. Apabila di antara jamaah ada yang tidur atau tuli, dan jamaah jumat tidak mencapai 40 orang, maka jumat batal. (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal 242).

Khatib atau jamaah tidak disyaratkan faham makna khutbah yang disampaikan, sebagaimana dikatakan oleh Syekh Nawawi sebagai berikut:

ولا يضر عدم فهم معناهما حتى في حق الخطيب كمن يؤم القوم ولا يعرف معنى الفاتحة

“Tidak bermasalah ketidakfahaman kepada makan dua khutbah, sekalipun khatibnya sendiri, sebagaimana orang yang mengimami kaum dan ia tidak faham makna al-Fatihah. (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Nihayah al-Zain, juz 1, hal.140).

Syarat ketiga, khutbah dibaca di kawasan bangunan rumah penduduk desa.

Penyampaian khutbah harus berada di kawasan tempat pelaksanaan Jumat. Maksudnya, posisi khatib harus berada di titik yang masih tergolong wilayah desa pelaksanaan Jumat. Meski Jamaah Jumat mendengarkan khutbah di luar kawasan Jumat, khutbah tetap sah, asalkan khatib menyampaikannya di kawasan pelaksanaan Jumat.

Syarat keempat, khatib harus suci dari dua hadats.

Syarat kelima, khatib harus suci dari najis.

Syarat keenam, khatib harus menutup aurat.

Syarat keempat, kelima dan keenam ini ditetapkan karena mempertimbangkan bahwa khutbah Jumat menempati posisi dua rakaat shalat. Sehingga syarat-syarat ini diperlukan sebagaimana menjadi syarat sah pelaksanaan shalat. Maka, tidak sah khutbah dilakukan oleh khatib yang berhadas, terbuka auratnya dan terkena najis pakaian, tempat atau sesuatu yang dibawanya.

Khatib yang batal (misalkan kentut) saat menyampaikan khutbahnya, diperbolehkan untuk mengganti dirinya dengan salah satu jamaah yang hadir. Dan pengganti khatib tersebut boleh meneruskan bacaan khatib yang awal asalkan tidak ada masa pemisah yang lama menurut standar ‘urf (keumuman) antara bacaan khatib pertama dan kedua. Namun jika melewati pemisah yang lama, maka khatib pengganti tersebut harus memulai khutbah dari awal.

Namun apabila tidak bermaksud menggantinya dengan khatib lain, maka setelah kembali bersuci, khatib tersebut harus mengulang khutbahnya dari awal, meskipun ia kembali dalam waktu yang singkat. Sebab khutbah merupakan satu bentuk kesatuan ibadah, sehingga tidak dapat dilakukan dengan dua kali bersuci seperti halnya shalat.

Syekh Sayyid Muhammad Abdullah al-Jordani mengatakan:

ومن أحدث في أثناء الخطبة أو بعدها واستخلف قبل طول الفصل من يبني على فعله ممن حضر جاز

“Khatib yang berhadas di pertengahan khutbah atau setelahnya dan menggantinya dengan jama’ah yang hadir dan ia meneruskan bacaan khutbahnya sebelum melewati pemisah yang lama, maka diperbolehkan.” (Syekh Sayyid Muhammad Abdullah al-Jordani, Fath al-‘Alam, juz.3, hal. 63, cetakan Dar al-Salam-Kairo, cetakan keempat tahun 1990).

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani mengatakan:

فلو أحدث في أثناء الخطبة استأنفها وإن سبقه الحدث وقصر الفصل لأنها عبادة واحدة فلا تؤدى بطهارتين كالصلاة

“Apabila khatib berhadas di pertengahan khutbah, ia wajib mengulangi khutbahnya (setelah ia bersuci), meskipun tidak sengaja berhadas dan pemisahnya sebentar, sebab khutbah adalah satu bentuk kesatuan ibadah, maka tidak dapat dilakukan dengan dua kali bersuci seperti halnya shalat.” (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Nihayah al-Zain, juz 1, hal. 141).

(M. Mubasysyarum Bih)

Bersambung...

Tags:
Share: