IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Empat Metode Membaca Ta’awudz-Basmalah yang Disusul Ayat

Senin 6 Agustus 2018 21:0 WIB
Share:
Empat Metode Membaca Ta’awudz-Basmalah yang Disusul Ayat
Ilustrasi (Freepik)
Dalam mengawali bacaan Al-Qur’an, seorang qari’ dianjurkan memulai dengan membaca isti’adzah/ta'awudz dan basmalah, sebab keduanya (isti’adzah dan basmalah) memiliki hubungan yang sangat erat, ibarat dua sisi mata uang.

Hal ini disampaikan oleh Ibnu Jarir Al-Thabariy, sebagaimana dikutip oleh Al-Allusy, bahwa ayat pertama yang dibawa oleh Jibril kepada Nabi Muhammad disertai kalimat isti’adzah dan basmalah. Artinya, Jibril ketika menyampaikan risalah wahyu pertama kali kepada Nabi, ia memulainya dengan membaca isti’adzah dan basmalah. 

Kalimat pertama, isti’adzah, sebagai ungkapan permohonan untuk dihindarkan dari godaan dan gangguan setan, sedangkan yang kedua, basmalah, sebagai ungkapan pujian dan pengagungan Dzat Maha Kasih dan Penyayang. Selain sebagai anjuran dalam memulai bacaan Al-Qur’an, ia juga sebagai adab dalam berinteraksi dengan kalam ilahi.

Diceritakan dari Ibnu Abbas, bahwa Jibril berkata kepada Nabi Muhammad: “Wahai Muhammad, bacalah ta’awwudz!” Kemudian Nabi membaca “ أَسْتَعِيْذُ بِاللهِ السَّمِيْعُ الْعَلِيْم مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم ”. Jibril berkata kembali: “bacalah basmalah”. Nabi pun membaca basmalah “ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ”. Kemudian dilanjutkan membaca surat Al-Alaq 1-5 (lihat: Jalaluddin Al-Allusy, Dirasat fi Al-Tafsir wa Ulumihi, Tunisia, Muassasah bin Asyur, 2006, halaman 182).

Oleh karena itu, dalam riwayat di atas, ada tiga potongan kalimat; isti’adzah, basmalah, dan ayat Al-Qur’an. Dalam ilmu qira’at, untuk membaca ketiga potongan kalimat di atas, ada empat metode; metode ini juga dikenal dengan metode qiyasiy. Berikut contoh dan cara bacanya:

Pertama, berhenti di setiap potongan kalimat: isti’adzah, basmalah, dan ayat Al-Qur’an. Metode ini dalam ilmu qira’at dikenal dengan qat’ul jami’, misalnya:

  

اِقْرَأْ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

Kedua, berhenti pada kalimat isti’adzah, kemudian menyambung basmalah dengan ayat Al-Qur’an. Metode ini dikenal dengan qat’ul ûlâ wa washluts tsânî, misalnya: 

  

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اِقْرَأْ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

Ketiga, menyambungkan kalimat isti’adzah dengan basmalah dan berhenti pada kalimat basmalah, kemudian memulai awal ayat. Metode ini dikenal dengan washlul ûlâ wa qat’uts tsânî, misalnya:

   

اِقْرَأْ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

  

Keempat, menyambungkan semua komponen kalimat; isti’adzah, basmalah dan awal ayat. Metode ini dikenal dengan “ washl Al-Jami’”, misalnya:

    

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اقْرَأْ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ


Keempat metode di atas dapat dioprasionalkan apabila seorang qari’ memulai bacaan Al-Qur’an di awal surat kecuali Surat Al-Taubah atau Al-Bara’ah.

Baca: Mengapa Surat at-Taubah Tak Dimulai dengan Basmalah?
Sedangkan apabila seorang qari’ memulai bacaan Al-Qur’an di tengah-tengah surat, seperti awal rubu’, atau awal kisah dalam Al-Qur’an, maka bagi seorang qari’ boleh membacanya dengan basmalah atau meninggalkannya (tak membaca basmalah). Apabila seorang qari’ memulai bacaan Al-Qur’an di tangah-tengah surat dengan membaca basmalah, maka ia boleh membacanya dengan menggunakan empat metode seperti di atas, tapi apabila tidak membaca basmalah, maka baginya hanya boleh dua metode saja, yaitu menyambung isti’adzah dengan ayat Al-Qur’an atau berhenti pada kalimat isti’adzah dan memulai pada awal ayat. Berikut contoh dan cara bacanya:

Contoh cara menyambung:

 

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا اْلمــُرْسَلُوْنَ

 

Contoh cara berhenti:

  

قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا اْلمــُرْسَلُوْنَ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

Sementara itu, apabila seorang qari’ memulai membaca Al-Qur’an dengan isti’adzah kemudian berhenti di tengah-tengah ayat karena percakapan atau menjawab salam, maka dianjurkan baginya untuk mengulang bacaan isti’adzah. Tapi apabila seorang qari’ berhenti (memutuskan bacaan) karena sesuatu yang terpaksa, seperti bersin, percakapan yang berhubungan dengan kemaslahatan bacaan, seperti ragu akan bacaannya (tepat atau tidak) kemudian ia bertanya kepada orang lain untuk memantapkan bacaannya atau belajar kepada orang lain, maka dalam hal ini seorang qari’ tidak perlu mengulang bacaan isti’adzahnya (lihat: Abdul Fattah Al-Qadhiy, Al-Budur Al-Zahirah fi Al-Qira’at Al-Asyr Al-Mutawatirah, Bairut, Dar al-Kitab al-Arabiy, tt., halaman 13).


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 


Share:
Selasa 31 Juli 2018 18:0 WIB
Pentingnya Asbabun Nuzul dalam Memahami Al-Qur’an
Pentingnya Asbabun Nuzul dalam Memahami Al-Qur’an
Ilustrasi (pixabay)
Memahami Al-Qur’an tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kesulitan tersebut tidak hanya dirasakan oleh kalangan non-Arab yang secara kasat mata bahasa ibunya bukan bahasa Arab, tetapi juga melanda masyarakat Arab sendiri yang keseharian menggunakan bahasa Arab.

Permasalah utama ialah karena Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang mempunyai nilai suci, sehingga tidak ada seorang pun dapat memahami dengan kebenaran mutlak tanpa adanya petunjuk dan hidayah. Pada saat yang sama, bahasa yang digunakan Al-Qur’an secara eksplisit adalah bahasa Arab yang merupakan bahasa ibu dari wilayah Timur Tengah.

Penggunaan bahasa Arab adalah suatu keniscayaan, melihat konteks turunnya wahyu Al-Qur’an yang berada di wilayah Arab. Sehingga secara historis Al-Qur’an terkait erat dengan peradaban Arab, tetapi hal ini tidak menjadi bagian penting secara menyeluruh dalam memahami Al-Qur’an, meskipun secara redaksional dan historis mempunyai hubungan. Karena, turunnya Al-Qur’an tidak selalu berhubungan dengan suatu peristiwa maupun pertanyaan yang berkaitan dengan kehidupan Arab.

Meski demikian, dalam memahami Al-Qur’an seorang harus mengetahui asbabun nuzul (konteks turunnya ayat). Latar belakang turunnya tidak hanya merespons masalah yang mengitari kehidupan Nabi dan masyarakat sekitar, tetapi juga mengandung pelajaran bahwa wahyu Al-Qur’an turun melalui proses dan melatih kesabaran.

Baca juga: Memahami Makna Wahyu dan Proses Turunnya Al-Qur’an
Begitu pentingnya asbabun nuzul dalam memahami ayat Al-Qur’an ditegaskan oleh Imam al-Wahidi:

لا يمكن معرفة تفسير الأية دون الوقوف على قصتها وبيان نزولها

 “Seorang tidak akan mengetahui tafsir (maksud) dari suatu ayat tanpa berpegang pada peristiwa dan konteks turunnya ayat. (Jalalud Din as-Syuyuti, Lubâb an-Nuqûl fî Asbâbin Nuzûl, Beirut: Darl al-Kutub al Ilmiah, 1971, hal. 3)

Pandangan al-Wahidi memberikan pengertian bahwa asbabun nuzul yang melatarbelakangi turunnya ayat adalah salah satu komponen penting yang harus diperhatikan bagi orang yang ingin memahami maksud Al-Qur’an, dan peringatan bahwa belajar Al-Qur’an tidak cukup hanya membaca terjemahan atau belajar sendiri dari teks-teks terjemahan. Karena tidak semua terjamahan atau kitab tafsir memuat asbabun nuzul secara keseluruhan, sehingga potensi untuk salah paham akan besar.

Imam al Syathibi dalam kitabnya yang berjudul al-Muwâfaqât fi Ushul asy-Syarî’ah memberikan peringatan keras kepada orang yang hanya belajar dan memahami al Qur’an hanya dari teksnya. Lebih lanjut, beliau berkatan bahwa seorang tidak boleh memahami al Qur’an hanya terpaku pada teksnya saja, tanpa melihat atau memperhatikan konteks turunnya ayat, karena asbab al nuzul adalah komponen dasar dalam memahami al Qur’an (Abi Ishaq al Syathibi, al-Muwâfaqât fî Ushûl asy-Syari’ah, vol. III Beirut: Bar al-Kutub al-Ilmiah, 2005, hal. 258).

Pendapat al Wahidi diperkuat oleh imam Ibn Daqiq al-Aid yang berpendapat bahwa salah satu yang penting dalam memahami ayat Al-Qur’an adalah mengetahui asbabun nuzul dari ayat itu sendiri, karena hal tersebut adalah cara untuk memperkuat dalam mengetahui makna Al-Qur’an. Beliau mengatakan:

بيان سبب النزول طريق قوي في فهم معاني القرأن

“Keterangan konteks turunnya ayat merupakan cara untuk memperkuat dalam memahami makna Al-Qur’an.” (Jalalud Din as-Syuyuti, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Beirut: Darl al Fikr, 2012, hal. 41)

Kedua argumentasi ulama tersebut mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an, karena Al-Qur’an bukan kitab biasa yang semua orang dapat memahami, tetapi setiap orang dapat mempelajari kepada ahlinya. Salah satu pelajaran dari Imam Ibnu Taimiyah bercerita bahwa pada jaman dahulu terdapat satu jemaah yang berselisih pandang tentang makna ayat dan bertanya kepada Ulama, lalu disebutkan satu peristiwa yang berkaitan dengan ayat tersebut sehingga semua memahaminya.

Lantas bagaimana cara mengetahui asbabun nuzul dari suatu ayat, dan kepada siapa kita bisa merujuknya?

Para ulama bersepakat ada dua metode untuk mengetahui asbabun nuzul; pertama, melalui jalur riwayat (transmisi). Kedua, melalui jalur mendengarkan riwayat langsung dari para sahabat yang menyaksikan peristiwa turunnya wahyu (Jalalud Din as-Syuyuti, Lubâb an-Nuqûl fî Asbâbin Nuzûl, Beirut: Darl al Kutub al Ilmiah, 1971, hal. 4). Metode pertama menunjukkan bahwa setiap orang dapat mengetahui peristiwa konteks turunnya Al-Qur’an tetapi dengan periwayatan yang panjang, dan hanya bisa didapatkan dari orang yang tsiqah, dlabith dan ‘adil. 

Sedangkan metode kedua, hanya orang tertentu yang bisa mengetahui, karena berkaitan dengan masa sahabat. Sehingga dapat dipastikan hanya sahabat awal yang mengetahui peristiwa wahyu, seperti turunnya QS al-Baqarah 120 yang menjelaskan tentang jima’. Sahabat Jabir meriwayatkan bahwa orang Yahudi mempunyai anggapan bahwa laki-laki yang mendatangi (bersetubuh dengan) istrinya dari belakang akan mendapatkan anak cacat (mata juling), sehingga turun ayat tersebut. Wallahu A’lam bi al Shawab


Moh. Muhtador, Dosen Ushuluddin IAIN Kudus

Kamis 26 Juli 2018 20:30 WIB
Ragam Bacaan Ta’awudz Menurut Qira’at Asyrah
Ragam Bacaan Ta’awudz Menurut Qira’at Asyrah
Ilustrasi (Twitter)
Isti’adzah atau ta’awudz sebagai doa dan pembuka dalam melantunkan Al-Qur’an memiliki banyak ragam redaksi. Ragam redaksi ini tidak lepas dari hasil ijtihad para ulama berdasarkan pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an.

Pertama, Surat al-A’raf ayat 200 (وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ). Kedua, Surat An-Nahl ayat 98 (فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْأَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ). Ketiga, Surat Ghafir ayat 56, (فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ). Keempat, Surat Fussilat ayat 36, (وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ). 

Sebagaimana telah disinggung pada artikel sebelumnya bahwa redaksi yang populer dan paling unggul menurut kebanyakan ulama adalah (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ). Menurut Abdul Fattah Al-Qadhiy, dalam komentarnya pada kitab Hirz Al-Amaniy wa Wajh Al-Tahaniy atau yang dikenal dengan matan Al-Syathibiy, redaksi ta’awwudz ini tidak hanya bergantung pada kalimat di atas, boleh mengurangi dari redaksi di atas atau menambahkannya, seperti contoh (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ) atau (أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ). (Lihat: Abdul Fattah Al-Qadhiy, al-Wafiy fi Syarh al-Syathibiyyah fi al-Qira’at al-Sab’i, Jeddah, Maktabah Al-Sawadiy, 1992, hlm, 43)

Baca: Hukum, Waktu, dan Cara Membaca Ta’awudz atau Isti’adzah
Profil Singkat Imam Qira’at Asyrah Beserta Para Perawinya

Sebelum menjelaskan redaksi yang dipakai oleh para imam qira’at, alangkah baiknya dijelaskan terlebih dahulu tentang profil imam-imam di atas berikut perawinya agar mudah dipahami dan terhindar dari keserupaan. Urutan profil imam-imam qira’at ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Imam Al-Qadhiy.

Pertama, Imam Nafi’ bin Abdurrahman (w. 169 H). Beliau juga dikenal dengan panggilan imam “Al-Madaniy”. Perawinya yang paling terkenal adalah: Imam Qalun (w. 220 H) dan Imam Warsy (w. 197 H). Kedua perawi ini belajar dan meriwayatkan langsung dari Imam Nafi’. Imam Qalun, menurut sebagian riwayat adalah anak tiri Imam Nafi’, sedangkan Imam Warsy adalah santri dari Mesir, yang sudah matang dalam ilmu qira’at sebelum datang ke Madinah. Meskipun keduanya belajar kepada satu guru, yaitu Imam Nafi’, namun dalam metode bacaan (ushul Al-Qira’at) banyak perbedaan. 

Kedua, Imam Abdullah bin Katsir (w. 120 H). Beliau lebih dikenal dengan panggilan Ibnu Katsir atau Imam “Al-Makkiy”. Perawinya yang paling terkenal adalah: Imam Al-Bazziy (w. 250 H) dan Imam Qanbul (w. 291). Kedua perawi ini tidak langsung meriwayatkan dari Imam Ibnu Katsir tapi melalui beberapa jalur perantara.

Ketiga, Imam Abu Amr Al-Bashriy (w. 154 H). Namanya adalah Zabban bin Al-Ala’. Beliau lebih sering disebut oleh kalangan ahli qurra’ sebagai imam “Al-Bashriy”. Kedua perawinya yang paling terkenal adalah: Imam Al-Duriy (w, 246 H) dan Imam Al-Susiy (w. 261 H). Kedua perawi ini meriwayatkan qira’at Imam Al-Bashriy melalui jalur perawi, yaitu dari Imam Yahya Al-Yazidiy. 

Keempat, Imam Ibnu Amir (w. 118 H). Nama beliau Abdullah bin Amir. Panggilan yang melekat pada beliau adalah Ibnu Amir atau “Al-Syamiy”. Kedua perawi yang meriwatkan bacaannya adalah: Hisyam (w. 245 H) dan Ibnu Dzakwan (w. 242 H). Kedua perawi ini meriwatkan qira’at Imam Ibnu Amir melalui jalur perantara.

Kelima, Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufiy (w. 128 H). Kedua perawinya yang paling terkenal adalah: Imam Syu’bah (w. 193 H) dan Imam Hafsh (180 H). Kedua perawi ini meriwayatkan langsung dari Imam Ashim tanpa melalui jalur perantara. Namun, Perawi yang kedua adalah paling terkenal dan banyak dibaca di belahan dunia Islam, utamanya di benua Asia. Pada artikel berikutnya, insyaAllah, penulis akan menguraikan tentang kronologis kemasyhuran riwayat ini.

Keenam, Imam Hamzah bin Al-Zayyat (w. 156 H). Imam Syatibiy menjulukinya dengan sebutan “Imam Shobur” (pemimpin yang sabar atau tahan menderita). Kedua perawinya yang paling terkenal adalah: Imam Khalaf (w. 229 H) dan Imam Khallad (w. 220 H). Kedua perawi ini tidak langsung belajar kepada Imam Hamzah tapi melalui jalur Imam Sulaim.

Ketujuh, Imam Ali bin Hamzah Al-Kisa’i (w. 189 H). Kedua perawi yang paling terkenal dan belajar langsung kepada beliau tanpa perantara perawi adalah: Imam Abi Al-Harits (w. 240 H) dan Imam Al-Duriy (telah disebutkan di atas; perawi Imam Abu Amr Al-Bashriy). Ketiganya ini (Imam Ashim, Hamzah dan Ali Al-Kisa;i) berasal dari Kufah (sekarang daerah Irak dan sekitarnya).

Kedelapan, Imam Abu Jakfar, namanya adalah Yazid bin Al-Qa’qa’ (w. 128 H). Beliau merupakan salah satu guru dari Imam Nafi’. Kedua perawinya yang terkenal adalah: Ibnu Wardan (w. 160 H) dan Ibnu Jammaz (w. 170 H).

Kesembilan, Ya’kub bin Ishaq bin Zaid Al-Hadramiy (w. 205 H). Kedua perawinya yang terkenal adalah: Imam Ruwais (238 H) dan Imam Rauh (w. 235 H).

Kesepuluh, Imam Khalaf Al-Asyir (w. 229 H). Namanya adalah Khalaf bin Hisyam bin Tsa’lab Al-Bazzar. Namun beliau lebih dikenal dengan sebutan “Khalaf al-Asyir”. Imam Khalaf ini selain sebagai Imam Qira’at juga sebagai perawi dari Imam Hamzah. Kedua perawinya adalah: Imam Ishaq Al-Warraq (w. 280 H) dan Imam Idris Al-Haddad (w. 290 H). (Lihat: Abdul Fattah Al-Qadhiy, Al-Budur Al-Zahirah, Beirut: Dar al-Kitab Al-Arabiy, tt) hlm 7-9.

Redaksi Ta’awudz Menurut Ahli Qurra’ Asyrah.

Ada beberapa redaksi isti’adzah atau ta’awwudz yang digunakan oleh ulama qira’at. Sebagian imam qira’at dengan imam qira’at lainnya memiliki redaksi isti’adzah yang sama, namun ada pula yang berbeda. Di samping itu juga, antara perawi dengan perawi yang lainnya meskipun satu guru ada yang berbeda redaksinya, sebab para imam qira’at tidak hanya mengajarkan dan meriwayatkan satu redaksi kepada murid-muridnya. Demikian inilah keindahan perbedaan dalam studi ilmu qira’at. Berikut adalah redaksi isti’adzah menurut ulama qira’at:

Pertama, Imam Abi Amr Al-Bashriy, Imam Ashim Al-Kufiy dan Imam Ya’kub Al-Hadhramiy memilih menggunakan redaksi sebagai berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم 

Redaksi ini, bagi mereka, sesuai dengan firman Allah ﷻ, dalam Surat an-Nahl ayat 98:

فَإِذَاقَرَأْتَ الْقُرْأَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ 

Sementara Imam Hafsh, perawi Imam Ashim, sebagaimana disampaikan oleh Imam Hubairah, memilih menggunakan redaksi isti’adzah sebagai berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم

Pemilihan redaksi ini karena menggabungkan tiga ayat, yaitu: Surat an-Nahl 98, al-Haqqah 33 dan Fusshilat 36.
 
Kedua, Imam Nafi’, Imam Jakfar Al-Qa’qa’, Imam Ibnu Amir Al-Syamiy, Imam Ali Al-Kisa’i dan Imam Khalaf Al-Asyir memilih menggunakan redaksi sebagai berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ 

Mereka memilih menggunakan redaksi ini karena menggabungkan dua ayat dalam dua surat yang berbeda: Surat Al-A’raf (وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ) dan surat Fusshilat (وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ).

Ketiga, Imam Ibnu Katsir memilih menggunakan redaksi sebagai berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم

Tambahan kata (العَظِيْمِ), sifat dari lafadz jalalah, ini karena sesuai dengan firman Allah yang termaktub dalam surat al-Haqqah ayat 33 (إِنَّهُ كَانَ لاَيُؤْمِنُ بِاللهِ العَظِيْمِ ). Dalam hal ini Imam Ibnu Katsir juga mengawinkan dua ayat, yaitu Surat An-Nahl 98 dan Al-Haqqah 33. Imam Al-Hadzaliy menambahkan satu riwayat dari jalur Al-Zinabiy, yaitu (أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ).

Keempat, Imam Hamzah menggunakan redaksi sebagai berikut:

أَسْتَعِيْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
 
Pada kalimat isti’adzahnya, Imam Hamzah menggunakan sesuai dengan versi lafadz yang tertera dalam empat surat di atas yang menjadi sumber utama penggalian redaksi ta’awwudz, yaiut: Al-A’raf 200, An-Nahl 98, Fusshilat 36 dan Ghafir 56. Menurut Imam Al-Hadzaliy, Imam Hamzah memiliki tiga redaksi, yaitu: (اِسْتَعَنْتُ بِاللهِ) (أَسْتَعِيْذُ بِاللهِ) (نَسْتَعِيْذُ بِاللهِ). (Lihat: Ahmad bin Al-Husain Al-Ashbahaniy, Al-Ghayat fi al-Qir’at Al-Asyr, Riyadh, Dar Al-Syawaf, 1990, halaman 453) 

Dari sembilan Imam Qira’at, semuanya menggunakan redaksi (أَعُوْذُ) kecuali Imam Hamzah menggunakan redaksi (أَسْتَعِيْذُ), padahal redaksi yang menjadi rujukan dalam Al-Qur’an berbunyi (فَاسْتًعِذْ ). Artinya jika kita mengikuti aturan sesuai teks yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang telah disebutkan di atas, maka yang tepat adalah menggunakan redaksi (أَسْتَعِيْذُ). Namun tidak demikian, para ulama dalam melakukan istimbath yang berhubungan dengan agama sangat hati-hati dan teliti. Tidak hanya berkutat pada satu teks, dan meninggalkan teks yang lain. 

Dalam hal ini ulama qira’at memilih redaksi (أًعُوْذُ) karena redaksi tersebut banyak digunakan dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah sebagai ungkapan permohonan dan doa. Dalam Al-Qur’an, redaksi (أًعُوْذُ) ini diulang setidaknya enam kali; surat Al-Baqarah, ayat 67 (أَعُوذُ بِاللهِ أَنْ أَكُوْنَ مِنَ الْجَاهِلِيْنَ), surat Hud, ayat 47 (أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ), surat Maryam ayat 18 (قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا), surat Al-Mu’minun ayat 97 (وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيِنِ), Surat Al-Falaq ayat 1 (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) dan Surat An-Nas ayat 1 (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ). (Lihat juga: Al-Idha’at fi Usul Al-Qira’at, Kairo, Maktabah Al-Azhariyah, 1999, halaman 7)

Sementara dalam sunnah, ada beberapa redaksi tersebut yang dipakai oleh Nabi, yaitu: pertama, diriwayatkan oleh Imam Turmudziy dari Said Al-Khudriy bahwa Nabi ketika bangun pada malam hari, beliau membaca (أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ). 

Kedua, dalam Shahih Ibnu Khuzaimah dijelaskan pula bahwa Nabi berdoa sebagai berikut: (اَلَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمْ وَهَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ). 

Ketiga, diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud membaca al-Qur’an kepada Nabi, dan membaca (أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم), kemudian Nabi berkata: “ wahai Ibnu Ummi Abd, bacalah (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم). 

Keempat, diriwayatkan dari Nafi’ dari Jubair bin Muth’im bahwa Nabi membaca (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم).  (Lihat: Abdul Fattah Al-Qadhiy, Al-Wafiy fi Syarh Al-Syathibiyyah fi Al-Qira’at Al-Sab’i, h.  42).

Kelima, diriwayatkan oleh Anas bahwa Nabi bersabda: “barang siapa yang membaca (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم) sepuluh kali, maka Allah akan mengirimkan kepadanya dua malaikat yang menjaga dari godaan syaitan.....”.

Keenam, diriwayatkan dari Sulaiman bin Sharad, ia berkata: “Ada dua laki-laki saling mencaci maki di samping Nabi, sementara kami berada disana. Saat keduanya saling mencaci maki dan meluapkan kemarahannya, hingga tampak merah pada wajahnya. Kemudian Nabi berkata: “sesugguhnya saya mengajarkan sebuah kalimat, yang barang siapa membacanya akan hilang (kemarahan) yang terdapat padanya, yaitu (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم). (Lihat: Ahmad bin al-Husain al-Ashbahaniy, Al-Ghayat fi Al-Qir’at Al-Asyr,...halaman 454.

Imam al-Dhabba’ dalam bukunya, Al-Idha’at fi Ushul Al-Qira’at, mengutip keterangan Imam Abi Amr al-Daniy, menjelaskan bahwa ada beberapa tambahan ragam redaksi isti’adzah selain yang disebutkan di atas, yaitu sebagai berikut: 

Pertama: (أَعُوْذُ بِاللهِ الْقَادِرِ مِنَ الشَّيْطَانِ الْفَاجِرِ)

Kedua: (أَعُوْذُ بِاللهِ الْقَوِيِّ مِنَ الْشَيْطَانِ الْغَوِيِّ)

Ketiga: (أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم)

Keempat: (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم الْخَبِيْثِ الْمُخْبِثِ وَالرِّجْسِ النَّجْسِ)

Kelima: (أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ)

Keenam: (أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ)

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, jika redaksi (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم) lebih sesuai dengan teks Al-Qur’an dan hadits, kenapa diperbolehkan memakai selain redaksi seperti di atas?

Dalam hal ini perlu diperjelas bahwa ayat-ayat yang terkait dengan anjuran membaca isti’adzah, sebagaimana disebutkan di awal, hanya sebatas anjuran membaca isti’adzah sebelum memulai membaca Al-Qur’an, bukan suatu tuntutan menggunakan redaksi seperti di atas. Oleh karena itu, membaca isti’adzah dengan berbagai varian redaksinya sangat dianjurkan sebelum membaca Al-Qur’an. Dalam hal ini, tidak diperkenankan seseorang memprotes atau menyalahkan orang lain apalagi sampai membid’ahkan hanya karena perbedaan bacaan isti’adzah. Wallahu a'lam.


Moh. Fathurrozi, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo dan Dai PCINU Korea Selatan
Rabu 25 Juli 2018 12:0 WIB
Memahami Makna Wahyu dan Proses Turunnya Al-Qur’an
Memahami Makna Wahyu dan Proses Turunnya Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan sumber dan pedoman utama bagi umat Islam yang diyakini sebagai wahyu Allah yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ. Al-Qur’an mempunyai hubungan erat dengan kehidupan Nabi dan masyarakat Arab pada masa awal, sehingga tidak mengherankan ketika ungkapan-ungkapan yang dinarasikan Al-Qur’an mengandung nilai sastra tinggi. Dalam pandangan Imam Jalaluddin As-Suyuti, penggunaan kalimat-kalimat yang indah dan ungkapan-ungkapan yang penuh dengan sastra itu adalah bentuk mu’jizat Al-Qur’an sebagai respons dari peradaban Arab pada masa Arab yang penuh dengan nilai sastra.

Meskipun diturunkan di daerah Arab dan berinteraksi dengan budaya Arab, bukan berarti Al-Qur’an menjadi bagian dari budaya Arab. Hal tersebut disebabkan orisinalitas dan otentisitas Al-Qur’an dijaga langsung oleh Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Surat al-Hijr 9, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Imam Ibnu Jarir at-Thabari dalam tafsirnya menafsirkan bahwa ayat tersebut menjelaskan kesucian Al-Qur’an dari penambahan dan pengurangan atas ayat yang ada di dalamnya, serta ayat Al-Qur’an tidak akan mengandung kebatilan. Yang demikian menandakan bahwa turunnya Al-Qur’an selalu dijaga dan terpelihara dari sifat-sifat negatif.

Berkaitan dengan otentisitas Al-Qur’an, muncul pertanyaan penting: bagaimana proses turunnya wahyu Al-Qur’an? Perihal transformasi wahyu menjadi objek kajian menarik yang banyak dilakukan oleh ulama. Secara tegas mereka menjelaskan makna wahyu dalam artian umum dan pengertian wahyu dalam konteks Al-Qur’an diturunkan pada Nabi Muhammad.

Imam Zarqani dalam karyanya Manahil Irfan fi Ulum Al-Qur’an menjelaskan bahwa ada empat karakter makna wahyu yang terdapat dalam Al-Qur’an. Pertama, wahyu mempunyai makna ilham yang bersifat fitri. Sebagaimana firman Allah dalam QS al-Qashash ayat 7:

وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِى ٱلْيَمِّ وَلَا تَخَافِى وَلَا تَحْزَنِىٓ، إِنَّا رَآدُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ

Artinya: “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; ‘Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul’.”

Kedua, kata wahyu dalam Al-Qur’an berkaitan dengan naluri pada binatang, seperti dalam QS an-Nahl 68-69:

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ، ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ 

Artinya: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia’.”

Ketiga, kata wahyu mempunyai arti bisikan jahat, baik bersumber dari setan, jin, maupun manusia. Surat al-An’am ayat 112 menyatakan:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Artinya: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”

Keempat, kata wahyu yang bermakna memberikan isyarat, tanda dan simbol yang terdapat dalam Surat al-Maryam ayat 11:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَىٰ إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

Artinya “Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang”.

Adapun wahyu yang diturunkan pada Nabi Muhammad mempunyai beberapa model atau cara, tetapi secara umum para ulama berpendapat bahwa proses turunnya wahyu pada Nabi melalui dua cara. Pertama adalah al-inzâl, yakni proses turunnya Al-Qur’an yang diyakini berasal dari lauhul mahfudh ke langit dunia. Kedua adalah at-tanzîl, yakni proses turunnya Al-Qur’an yang dilakukan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad ﷺ. 

Proses turunnya Al-Qur’an ini sekaligus menggambarkan tentang keasliannya yang tidak dapat dipalsukan, karena dikuatkan dengan hadits Nabi yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas, “Allah menurunkan Al-Quran sekaligus ke langit dunia, tempat turunnya secara berangsur-angsur. Lalu, Dia menurunkannya kepada Rasul-Nya ﷺ bagian demi bagian.” 

Konsep yang pertama (al-inzâl) merupakan proses di luar nalar karena tidak memerlukan dimensi waktu, tetapi pada konsep yang kedua Nabi harus menerima dengan beragam kondisi karena faktor manusiawi, semisal kedinginan atau terasa seperti bunyi lonceng. Tidak semua orang dapat menangkap eksistensi wahyu Al-Qur’an kecuali Nabi Muhammad.

Baca juga: Sejarah Nabi Muhammad (2): Wahyu Pertama yang Menggetarkan
Menurut ulama ada tiga kategori proses turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad. Pertama dengan cara ilham. Cara ini adalah salah satu pengalaman Nabi ketika dalam keadaan terjaga maupun tidur seperti hadits Nabi yang diriwayatkan Aisyah, “Pertama kali Rasulullah menerima wahyu adalah dalam mimpi yang benar pada waktu tidur. Beliau tidak melihat mimpi itu, kecuali datang seperti cahaya subuh.

Adapun model kedua adalah secara langsung, dan hal ini hanya sekali ketika Nabi mi’raj, di mana Nabi menerima perintah langsung tanpa perantara malaikat Jibril. Dan, cara ketiga—yang sering Nabi terima—adalah melalui perantara malaikat Jibril. Jibril menyampaikan wahyu Allah berupa makna (“ide”), kemudian Nabi mengungkapkan sendiri sendiri lafadhnya. Dan ada pula yang makna dan redaksinya langsung datang dari malaikat Jibril. Meskipun demikian hal ini tidak mengurangi sedikitpun keaslian atau otentisitas wahyu Al-Qur’an yang diterima oleh Nabi Muhammad, karena secara tegas Al-Qur’an memberikan argumentasi bahwa Al-Qur’an telah tertanam dalam hati Nabi, sebagaimana QS as-Syu’ara ayat 192-195.

وَإِنَّهُ لَتَنزيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نزلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ، عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ، بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ 
 
Artinya: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”


Moh. Muhtador, Dosen Ushuluddin IAIN Kudus


Referensi
Al-Bukhari, Shahih Bukhari, kitab Bad’i al Wahyi (Dar Salam, Riyad 1997)
Jalal al Din al Syuyuti, al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an, juz II (Beirut: Dar al Fikr, 2012).
Ibnu Jarir al Thabari, Tafsir al Thabari (Beirut: Muassah Risalah, 2000)
Muhammad Abd al Azhim al Zarqani, Manahilul-Irfan fi Ulum Al-Qur’an, jilid I (Beirut: Darul Fikr, 1988)