IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Sebenarnya Tak Ada Mazhab Asy’ariyah atau Maturidiyah

Jumat 10 Agustus 2018 19:0 WIB
Share:
Sebenarnya Tak Ada Mazhab Asy’ariyah atau Maturidiyah
Ketika membahas teologi Ahlussunnah wal Jama'ah, siapa pun tak akan bisa menghindar dari nama besar mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah sebab keduanya adalah representasi dari aqidah mayoritas ulama dari masa ke masa. Akan tetapi beberapa orang kemudian salah sangka ketika mendengar istilah "mazhab Asy'ariyah Maturidiyah". Mereka mengira bahwa kedua mazhab ini adalah ajaran baru atau aliran baru yang berbeda dari ajaran ulama salafus shâlih yang sudah ada sebelumnya. Benarkah demikian?

Baca juga: Perihal Kewajiban Mempelajari Ilmu Tauhid
Imam Abu Hasan al-Asy'ari lahir pada tahun 260H/873M dan wafat pada tahun 324 H/935 M. Sedangkan Imam Abu Mansur al-Maturidi diperkirakan lahir antara tahun antara 233-247 H dan wafat pada tahun 333 H/944 M. Dari tahun hidup keduanya dapat diketahui bahwa kedua imam besar Ahlussunnah wal Jama'ah ini baru lahir setelah era empat imam mazhab yang sudah tersohor namanya itu.  Sebelum mereka berdua juga ada deretan nama-nama besar yang menjadi representasi Ahlussunnah wal Jama'ah seperti Imam al-Auza'i (wafat 157 H), Sufyan ats-Tsauri (Wafat 161 H), Laits bin Sa'ad (wafat antara 170-175 H), Bukhari (wafat 256 H), Muslim (wafat 261 H), at-Thahawi (wafat 321 H) dan banyak lainnya. 

Karena itulah, ketika belakangan muncul Imam Abu Hasan al-Asy'ari di Baghdad dan Imam Abu Mansur al-Maturidi di Transoksania dengan argumen-argumen teologi yang mampu membungkam para ahli bid’ah, para ulama dari berbagai golongan kemudian menisbatkan diri pada mereka berdua sebagai bentuk dukungan. Akhirnya masyhurlah nama Asy’ariyah (pengikut Abu Hasan al-Asy’ary) dan nama Maturidiyah (pengikut Abu Mansur al-Maturidy). Saat itulah beberapa orang mengira ada mazhab baru yang berbeda dari sebelumnya, padahal faktanya tidak demikian.

Imam Tajuddin as-Subky (771 H) menjelaskan duduk perkaranya sebagai berikut:

اعْلَم أَن أَبَا الْحسن لم يبدع رَأيا وَلم ينش مذهبا وَإِنَّمَا هُوَ مُقَرر لمذاهب السّلف مناضل عَمَّا كَانَت عَلَيْهِ صحابة رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فالانتساب إِلَيْهِ إِنَّمَا هُوَ بِاعْتِبَار أَنه عقد على طَرِيق السّلف نطاقا وَتمسك بِهِ وَأقَام الْحجَج والبراهين عَلَيْهِ فَصَارَ المقتدى بِهِ فى ذَلِك السالك سَبيله فى الدَّلَائِل يُسمى أشعريا 

“Ketahuilah sesungguhnya Abu Hasan tak memulai sebuah pendapat baru dan tak memunculkan sebuah mazhab. Itu tak lain hanya merupakan penguatan terhadap mazhab salaf. Dia membela apa yang diyakini sahabat Rasulullah ﷺ. Maka penisbatan diri pada beliau tak lain hanyalah pengakuan bahwa beliau mengikuti jalan salaf, berbicara dan berpegang teguh dengannya, mendirikan hujjah dan bukti-bukti atasnya. Maka yang mengikuti beliau dan menempuh jalan beliau itu dalam dalil-dalil disebutlah seorang Asy’ariyah”. (Tajuddin as-Subky, Thabaqât as-Syâfi’iyah, juz III, halaman 365)

Jauh sebelumnya, Imam al-Hafidz Ibnu Asakir (571 H) juga menjelaskan hal serupa. Ia berkata:

فنسب من تعلق الْيَوْم بِمذهب أهل السّنة وتفقه فِي معرفَة أصُول الدّين من سَائِر الْمذَاهب إِلَى الْأَشْعَرِيّ لِكَثْرَة تواليفه وَكَثْرَة قِرَاءَة النَّاس لَهَا وَلم يكن هُوَ أول مُتَكَلم بِلِسَان أهل السّنة إِنَّمَا جرى على سنَن غَيره وعَلى نصْرَة مَذْهَب مَعْرُوف فَزَاد الْمَذْهَب حجَّة وبيانًا وَلم يبتدع مقَالَة اخترعها وَلَا مذهبا انْفَرد بِهِ ألا ترى أَن مَذْهَب أهل الْمَدِينَة ينْسب إِلَى مَالك بن أنس رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَمن كَانَ على مَذْهَب أهل الْمَدِينَة يُقَال لَهُ مالكي وَمَالك رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّمَا جرى على سنَن من كَانَ قبله وَكَانَ كثير الإتباع لَهُم إِلَّا أَنه زَاد الْمَذْهَب بَيَانا وبسطًا وَحجَّة وشرحًا وَألف كِتَابه الْمُوَطَّأ وَمَا أَخذ عَنهُ من الأسمعة والفتاوى فنسب الْمَذْهَب إِلَيْهِ لِكَثْرَة بَسطه لَهُ وَكَلَامه فِيهِ فَكَذَلِك أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَا فرق  

“Maka hari ini orang-orang yang bergantung pada mazhab Ahlussunnah dan belajar pengetahuan Ushuluddin dari semua mazhab disandarkan kepada al-Asy'ari karena banyaknya karya beliau dan banyaknya bacaan orang-orang terhadap karya tersebut. Dia bukanlah Ahli Kalam pertama yang berbicara dengan lidah Ahlussunnah akan tetapi dia hanya mengikuti tradisi orang-orang sebelumnya untuk menolong mazhab yang sudah diketahui (mazhab salaf) sehingga mazhab tersebut bertambah kekuatan argumen dan penjelasannya. Dia tidak membuat suatu pernyataan baru dan juga tidak membuat suatu mazhab independen. Bukankah engkau melihat bahwa mazhab Ahli Madinah disandarkan kepada Imam Malik bin Anas sehingga orang yang mengikuti mazhab Ahli Madinah disebut seorang Maliky, padahal Malik hanya mengikuti tradisi orang sebelumnya. Hanya saja beliau  menambah mazhab tersebut dengan keterangan dan penjelasan argumentatif dan juga mengarang kitab al-Muwatta. Dan apa yang dinukil dari Imam Malik meliputi ucapan atau fatwa kemudian disandarkan sebagai mazhab kepadanya karena ialah yang banyak menjelaskan dan berbicara tentang hal itu. Demikian juga Abu Hasan Al Asy'ari tiada bedanya”. (Ibnu Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftary fî Mâ Nusiba Ila al-Asy’ary, halaman 117-118)

Baca juga: Sumber Ilmu Tauhid dan Kedudukannya di Antara Ilmu-ilmu Lain
Satu abad sebelum Imam Ibnu Asakir, Imam al-Hafidz al-Baihaqy (458 H) juga menjelaskan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ary hanyalah membela mazhab para tokoh ulama salaf saja dengan menambahi berbagai keterangan sehingga memperkuat argumen mereka. Ia berkata:

إِلَى أَن بلغت النّوبَة إِلَى شيخنَا أَبِي الْحسن الْأَشْعَرِيّ رَحْمَة اللَّه فَلم يحدث فِي دين اللَّه حَدثا وَلم يَأْتِ فِيهِ ببدعة بل أَخذ أقاويل الصَّحَابَة وَالتَّابِعِينَ وَمن بعدهمْ من الْأَئِمَّة فِي أصُول الدّين فنصرها بِزِيَادَة شرح وتبيين وَأَن مَا قَالُوا فِي الْأُصُول وَجَاء بِهِ الشَّرْع صَحِيح فِي الْعُقُول خلاف مَا زعم أهل الْأَهْوَاء من أَن بعضه لَا يَسْتَقِيم فِي الآراء فَكَانَ فِي بَيَانه تَقْوِيَة مَا لم يدل عَلَيْهِ من أهل السّنة وَالْجَمَاعَة وَنَصره أقاويل من مضى من الْأَئِمَّة كَأبي حنيفَة وسُفْيَان الثَّوْريّ من أهل الْكُوفَة وَالْأَوْزَاعِيّ وَغَيره من أهل الشَّام وَمَالك وَالشَّافِعِيّ من أهل الْحَرَمَيْنِ وَمن نجا نَحْوهمَا من الْحجاز وَغَيرهَا من سَائِر الْبِلَاد وكأحمد ابْن حَنْبَل وَغَيره من أهل الحَدِيث وَاللَّيْث بن سعد وَغَيره وَأبي عبد الله مُحَمَّد بن اسمعيل البُخَارِيّ وَأبي الْحسن مُسلم بن الْحجَّاج النَّيْسَابُورِي إمامي أهل الْآثَار وحفاظ السّنَن الَّتِي عَلَيْهَا مدَار الشَّرْع رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُم أَجْمَعِينَ وَذَلِكَ دأب من تصدى من الْأَئِمَّة فِي هَذِهِ الْأمة وَصَارَ رَأْسا فِي الْعلم من أهل السّنة فِي قديم الدَّهْر 

“Kemudian sampailah giliran dakwah keturunan Sahabat Abu Musa Al Asy'ari pada guru kita, Abu Hasan Al Asy'ari. Dia tidak membuat hal baru dalam agama Allah dan juga tidak membawa suatu bid'ah, tetapi dia mengambil perkataan para Sahabat, Tabiin, dan orang-orang setelah mereka dari golongan para imam dalam masalah Ushuluddin kemudian membelanya dengan menambahi keterangan dan penjelasan. Dan [beliau membuktikan] bahwasanya apa yang mereka semua katakan dalam masalah aqidah dan apa yang sudah dibawa oleh syariat adalah benar menurut akal. Hal ini berbeda dari apa yang disangka oleh orang-orang menyimpang (ahlu al-Ahwa') yang mengatakan bahwa sebagian yang dibawa syariat tidak masuk akal. Maka dalam penjelasan beliau itu ada penguatan (taqwiyah)  yang sebelumnya tidak disadari oleh Ahlussunnah wal Jamaah.  Imam Abu Hasan Al Asy'ari juga ditolong oleh pernyataan-pernyataan para imam sebelumnya  seperti Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri dari penduduk Kufah, Al Auza'i dan lain-lain dari penduduk Syam,  Malik dan Syafi'i dari penduduk Haramain (Makkah-Madinah) dan sekelilingnya seperti Hijaz dan daerah-daerah lainnya.  Juga seperti Imam Ahmad bin hambal dan lain-lain dari kalangan ahli hadis dan Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari dan Abi Hasan Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, dua Imam ahli hadis dan juga para penghafal Kitab Sunan yang menjadi pondasi syariat, semoga Allah meridhai mereka semua.  Begitulah kebiasaan para Imam yang muncul ke permukaan di kalangan umat ini  dan menjadi pemimpin ilmu dari kalangan Ahlussunnah sejak dahulu kala”. (Ibnu Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftary fî Mâ Nusiba Ila al-Asy’ary, halaman 103)

Jadi, yang disebut sebagai mazhab Asy’ariyah atau Maturidiyah sebenarnya tak lain dari metodologi (manhaj) teologis yang basis argumen rasionalnya dibentuk oleh kedua imam tersebut. Secara ajaran, tak ada yang baru dari mereka berdua sebab keduanya hanya membela ajaran ulama salaf yang sudah ada sebelum mereka.

Demikian uraian ini, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Tags:
Share:
Kamis 9 Agustus 2018 19:30 WIB
Benarkah Asy’ariyah Menolak Banyak Sifat Allah? (II)
Benarkah Asy’ariyah Menolak Banyak Sifat Allah? (II)
Sebelumnya dijelaskan bahwa manhaj aqidah Asy’ariyah menetapkan semua sifat Allah yang ditetapkan keberadaannya dalam Al-Qur’an dan al-Hadits. Namun demikian, para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) menegaskan bahwa tak semua yang dikatakan Allah tentang Diri-Nya sendiri lantas dianggap sebagai sifat yang melekat pada Dzat-Nya sebab ada beberapa yang memang mustahil dimiliki atau disandarkan pada Tuhan. Misalnya saja sifat nisyân atau lupa. Keberadaan sifat ini dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya berikut:

فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا

“Hari ini Aku melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan perjumpaan dengan hari ini.” (QS. Al-A’raf: 51)

Meskipun Allah menyatakan bahwa Diri-Nya lupa terhadap orang kafir di hari akhirat nanti, namun ini tak bisa dipahami bahwa Allah mempunyai sifat lupa sebab lupa adalah mustahil bagi Tuhan. Karenanya, lupa di sini berarti mengabaikan mereka dan membiarkan mereka disiksa, bukan lupa dalam makna tidak ingat.

Baca juga: Benarkah Asy’ariyah Menolak Banyak Sifat Allah? (I)
Demikian juga sifat lain yang keberadaannya mustahil dimiliki Allah, seperti sifat jismiyah atau sifat fisikal bagi Dzat Alah. Sebagaimana sudah maklum bahwa Allah berbeda secara mutlak dengan seluruh makhluk-Nya, seperti dalam firmannya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tiada satupun yang serupa dalam hal apapun dengan Allah.” (QS. As-Syurâ: 11)

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا 

"Apakah kamu tahu ada yang sama dengan-Nya?" (QS. Maryam: 65)

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Tak ada yang setara dengan-Nya satu pun.” (QS. Al-Ikhlâs: 4)

Apabila Allah diyakini mempunyai bentuk fisikal, maka itu berarti banyak yang serupa, yang sama dan yang setara dengan Allah di dunia ini dan yang berbeda hanyalah bentuk fisiknya belaka. Dalam keyakinan seperti ini, dalam benak orang awam Allah hanya akan dibayangkan sebagai sosok raksasa yang ukurannya sangat besar. Keyakinan seperti ini merupakan penodaan terhadap kesucian Allah dan bertentangan dengan sekian banyak ayat dan hadits. Sebab itulah, seluruh ulama sepakat bahwa tidak ada satu pun dari sifat Allah yang mempunyai makna fisikal (jismiyah).

Para ulama menyatakan bahwa Allah mendengar tanpa organ pendengaran, Allah melihat tanpa organ penglihatan, Allah hidup tanpa bentuk fisikal (jasad), dan demikian seterusnya. Sedangkan sifat yad, wajh, dan seterusnya yang sepintas bermakna organ tubuh pada hakekatnya adalah sifat Allah yang hanya Allah yang tahu apa dan bagaimana itu tanpa boleh diyakini sebagai sebuah organ tubuh.

Imam al-Hafidz al-Baihaqy al-Asy’ary menegaskan aqidah ulama salaf seperti berikut:

وَفِي الْجُمْلَةِ يَجِبُ أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ اسْتِوَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَيْسَ بِاسْتِوَاءِ اعْتِدَالٍ عَنِ اعْوِجَاجٍ وَلَا اسْتِقْرَارٍ فِي مَكَانٍ، وَلَا مُمَّاسَّةٍ لِشَيْءٍ مِنْ خَلْقِهِ، لَكِنَّهُ مُسْتَوٍ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا أَخْبَرَ بِلَا كَيْفٍ بِلَا أَيْنَ، بَائِنٌ مِنْ جَمِيعِ خَلْقِهِ، وَأَنَّ إِتْيَانَهُ لَيْسَ بِإِتْيَانٍ مِنْ مَكَانٍ إِلَى مَكَانٍ، وَأَنَّ مَجِيئَهُ لَيْسَ بِحَرَكَةٍ، وَأَنَّ نُزُولَهُ لَيْسَ بِنَقْلَةٍ، وَأَنَّ نَفْسَهُ لَيْسَ بِجِسْمٍ، وَأَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِصُورَةٍ، وَأَنَّ يَدَهُ لَيْسَتْ بجَارِحَةٍ، وَأَنَّ عَيْنَهُ لَيْسَتْ بِحَدَقَةٍ، وَإِنَّمَا هَذِهِ أَوْصَافٌ جَاءَ بِهَا التَّوْقِيفُ، فَقُلْنَا بِهَا وَنَفَيْنَا عَنْهَا التَّكْيِيفَ

“Secara global harus diketahui bahwa istiwa’ nya Allah subhanahu wa ta'ala bukanlah istiwa’ bermakna lurus dari bengkok ataupun bermakna tinggal di suatu tempat juga bukan bermakna menyentuh satu dari sekian makhluk-Nya. Akan tetapi Allah istiwa’ atas Aras seperti yang Allah beritakan tanpa ada tata cara dan tanpa ada pertanyaan di mana, terpisah dari seluruh makhluk-Nya. Dan bahwasanya sifat ityân Allah bukan datang dalam arti perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain, sifat maji' bukan suatu gerakan, sifat nuzul bukan suatu perpindahan, sifat nafs bukan suatu jisim, sifat wajh bukan sebuah bentuk fisik, dan bahwa yad-Nya bukan sebuah organ, 'ain-Nya bukan sebuah organ penglihatan, tetapi Ini semua adalah sifat yang disebutkan oleh Nabi Muhammad tanpa bisa dipertanyakan (tawqif), maka kami menetapkan keberadaannya dan meniadakan tata cara atau makna leksikal (kaifiyah) darinya.” (Imam al-Hafidz al-Baihaqy al-Asy’ary, al-I’tiqâd, halaman 117)

Yang jadi polemik sebenarnya adalah pada keberadaan sifat fisikal bagi Dzat Allah. Golongan Mujassimah dan Musyabbihah menetapkan adanya bentuk fisik bagi Allah sedangkan seluruh ulama Ahlussunnah wal Jamaah (Asy'ariyah-Maturidiyah) menolaknya, sebagaimana riwayat dari Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Tak ada satu pun dari Asy'ariyah yang menolak keberadaan sifat yang datang dari Allah dan Rasulullah dengan jalur shahih, yang ditolak hanya penafsiran secara fisikal terhadap sifat-sifat itu saja sebab itu mustahil dan tak layak bagi Allah, sama dengan penafian mereka semua pada sifat lupa sebagaimana disebutkan di awal.

Demikian uraian ini, semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Kamis 9 Agustus 2018 9:30 WIB
Benarkah Asy’ariyah Menolak Banyak Sifat Allah? (I)
Benarkah Asy’ariyah Menolak Banyak Sifat Allah? (I)
Ilustrasi (shof.co)
Beberapa orang berkata bahwa Asy'ariyah-Maturidiyah, manhaj aqidah terbesar umat Islam, hanya mengakui sedikit sifat Allah dan menolak keberadaan banyak sifat yang lainnya, seperti sifat yad (secara literal bermakna tangan), wajh (secara literal bermakna wajah), ‘ain (secara literal bermakna mata) dan sebagainya. Menurut mereka, Asy'ariyah mengakui keberadaan tujuh sifat saja (sama’, bashar, kalâm, qudrah, irâdah, ‘ilmu, dan hayah) atau maksimal 20 sifat saja yang terkenal dengan nama sifat wajib 20.  Benarkah demikian?

Baca juga: Dalil dan Penjelasan tentang 20 Sifat Wajib bagi Allah
Apabila kita mempelajari kitab-kitab Asy'ariyah sendiri, bukan kitab-kitab golongan yang mengkritik mereka, maka akan kita ketahui dengan pasti bahwa anggapan seperti itu tidak benar. Bahkan tanpa mempelajari kitab mereka pun, sebenarnya sulit diterima akal bahwa aqidah yang dianut oleh mayoritas ulama ahli hadits, ahli tafsir, ahli fiqih dan berbagai cabang ilmu yang lain itu mengingkari keberadaan banyak sifat Allah yang dinyatakan dalam Al-Qur’an dan hadits. Kesalahan anggapan seperti di atas dapat dibuktikan melalui tiga hal berikut:

1. Asy'ariyah dikenal sebagai ahlul itsbat

Dalam klasifikasi aliran teologi Islam tentang sifat Allah, dikenal dua golongan besar  yang sangat bertolak belakang.  Yang pertama adalah ahlul itsbat, yakni golongan yang menetapkan keberadaan sifat-sifat Allah. Yang kedua adalah ahlut ta’thil yakni golongan yang menolak keberadaan sifat-sifat Allah.  Bagi  ahlul itsbat, Allah mempunyai banyak sifat seperti halnya yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits. Sedangkan bagi ahlut ta’thil yang dikenal juga dengan nama mu’atthilah,  Allah hanyalah eksistensi saja yang sama sekali tidak mempunyai sifat apa pun.  Asy'ariyah dalam hal ini termasuk dalam golongan ahlul itsbat,  bersama dengan para imam mazhab yang empat dan para ulama salaf as-shalih.

Pembelaan Asy'ariyah terhadap keberadaan sifat Allah tertulis dalam semua buku sejarah teologi yang ada. Asy'ariyah lah yang paling getol menentang teologi muktazilah, golongan ahlut ta’thil terbesar di masanya,  dan bahkan yang meruntuhkan seluruh pondasi logika mereka.  Hal ini adalah fakta yang tak bisa diingkari  oleh siapa pun.  Bahkan, Syaikh Ibnu Taimiyah yang terkenal dengan kritiknya yang luar biasa terhadap  Asy'ariyah juga mengakui bahwa mereka adalah ahlul itsbat. Dia berkata dalam Majmû’ al-Fatâwâ seperti berikut:

لَا رَيْبَ أَنَّ قَوْلَ ابْنِ كُلَّابٍ وَالْأَشْعَرِيِّ وَنَحْوِهِمَا مِنْ الْمُثْبِتَةِ لِلصِّفَاتِ لَيْسَ هُوَ قَوْلَ الْجَهْمِيَّة بَلْ وَلَا الْمُعْتَزِلَةِ بَلْ هَؤُلَاءِ لَهُمْ مُصَنَّفَاتٌ فِي الرَّدِّ عَلَى الْجَهْمِيَّة وَالْمُعْتَزِلَةِ وَبَيَانِ تَضْلِيلِ مَنْ نَفَاهَا بَلْ هُمْ تَارَةً يُكَفِّرُونَ الْجَهْمِيَّة وَالْمُعْتَزِلَةَ وَتَارَةً يُضَلِّلُونَهُمْ. لَا سِيَّمَا وَالْجَهْمُ هُوَ أَعْظَمُ النَّاسِ نَفْيًا لِلصِّفَاتِ بَلْ وَلِلْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى

“Tak diragukan bahwa pendapat Ibnu kullab dan Al-Asy'ari dan orang yang seperti keduanya dari golongan ahlul itsbat (orang yang menetapkan sifat bagi Allah) bukanlah pendapat Jahmiyah dan bukan juga Muktazilah, bahkan mereka ini mengarang berbagai kitab untuk menolak Jahmiyah dan Muktazilah dan menerangkan kesesatan orang yang menafikan adanya sifat Allah (mu'atthilah). Bahkan mereka kadang mengafirkan Jahmiyah dan Muktazilah dan kadang hanya menyesatkan mereka saja, apalagi Jahm adalah orang  yang paling besar pengingkarannya terhadap sifat bahkan terhadap Asmaul Husna". (Majmû’ al-Fatâwâ, Juz XII, halaman 202)

2. Tokoh tokoh Asy'ariyah menetapkan semua sifat yang warid dari Allah dan rasul-Nya.

Imam Abu Hasan al-Asy’ari sendiri menegaskan dengan sangat tegas:

ونصدق بجميع الروايات التي يثبتها أهل النقل عن النزول إلى سماء الدنيا، وأن الرب عز وجل يقول: (هل من سائل، هل من مستغفر) ، وسائر ما نقلوه وأثبتوه خلافا لما قاله أهل الزيغ والتضليل.

“Kami membenarkan seluruh riwayat yang telah ditetapkan oleh ahli hadits tentang turunnya Allah ke langit dunia dan bahwa Allah berfirman: “Apakah ada orang yang meminta? Apakah ada orang yang beristighfar?” dan juga membenarkan seluruh apa yang mereka nukil dan mereka tetapkan, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyimpang dan tersesat.” (Imam Abu Hasan al-Asy’ari, al-Ibânah ‘an Ushûlid Dîniyyah, hal. 29)

Senada dengan beliau, dalam kitab aqidah Asy’ariyah paling ringkas yang biasa diajarkan pada anak-anak dan siswa pemula, yakni kitab Aqidatul ‘Awâm karya Sayyid Ahmad al-Marzuqy, disebutkan:

وكل ما أتى به الرسول # فحقه التسليم والقبول

“Segala apa yang dibawa oleh Rasul # maka harus dipatuhi dan diterima” 

Justru penerimaan terhadap segala sifat yang dibawa oleh Rasulullah ini adalah salah satu pondasi manhaj aqidah Asy’ariyah. Berbeda dengan yang disangka sebagian orang yang tampaknya tidak membaca aqidah Asy’ariyah dari kitab-kitab Asy’ariyah sendiri.

3. Kitab-kitab Asy'ariyah memuat tentang keberadaan sifat khabariyah.

Seluruh kitab aqidah Asy’ariyah yang membahas sifat Allah secara lengkap selalu saja memuat keberadaan sifat-sifat khabariyah dan menetapkannya. Sifat khabariyah adalah sifat-sifat yang keberadaannya hanya bisa diketahui dari kabar wahyu saja tanpa bisa dijangkau oleh akal pikiran. Di antara sifat khabariyah ini adalah sifat yang sepintas bermakna organ seperti wajh, ‘ain, yad, janbun, anâmil, dan lain sebagainya serta sifat yang sepintas bermakna tindakan organ seperti yaqbidl, yanzil, jâ’a, istawâ, dan sebagainya. 

Penetapan seluruh sifat khabariyah ini dapat dilihat di berbagai kitab induk manhaj aqidah Asy’ariyah, semisal kitab al-Asmâ’ was-Shifât karya Imam al-Hafidz al-Baihaqi al-Asy’ary. Demikian pula kitab-kitab Asy’ariyah dari kalangan muta’akhirin membahas keberadaannya, misalnya saja kitab Umm al-Barâhin karya Imam as-Sanusi. Hal ini tak mengherankan sebab Imam Abu Hasan al-Asy’ary sendiri menetapkan keberadaan sifat-sifat tersebut seperti halnya bisa dilihat dalam kitab al-Ibânah karya beliau sendiri dan kitab Maqâlât al-‘Imâm al-Asy’ary karya Imam Ibnu Furak. Ini juga membuktikan kesalahan sebagian orang yang menyangka bahwa para pengikut Asy’ariyah berbeda aqidahnya dengan Imam Abu Hasan al-Asy’ary sendiri.

Baca juga: Hubungan 20 Sifat Wajib bagi Allah dengan al-Asma’ al-Husna
Penyebutan Sifat Wajib 20 Bukan Berarti Pembatasan

Tak akan pernah ditemukan satu pun pernyataan dari ulama Asy’ariyah dalam kitab-kitab mereka bahwa sifat Allah hanya 20 saja sebagaimana disangka sebagian orang. Yang ada hanyalah para ulama Asy’ariyah kontemporer mengklasifikasi atau membuat pemetaan seluruh sifat Allah menjadi empat kategori sebagai berikut: 

• Kategori pertama ada sifat-sifat yang pasti dimiliki sosok Tuhan yang keberadaannya menjadi syarat ketuhanan (syarth al-ulûhiyah). Kategori ini disebut sebagai sifat wâjib dan jumlahnya ada 20. 

• Kategori kedua adalah sifat yang tak mungkin dimiliki oleh sosok Tuhan. Apabila ternyata ada salah satu saja dari sifat ini, maka pemiliknya dipastikan bukan Tuhan. Ini disebut sifat mustahîl yang jumlahnya juga 20. 

• Kategori ketiga adalah sifat yang bisa saja dimiliki dan bisa saja tidak dimiliki oleh Tuhan tanpa ada pengaruhnya pada sifat ketuhanan. Ini disebut sifat jâ’iz yang jumlahnya tak terhitung karena mencakup seluruh tindakan Allah.

• Kategori keempat adalah sifat kesempurnaan (kamâlât), yakni sifat-sifat keutamaan yang tidak harus ada pada sosok Tuhan, akan tetapi keberadaannya menjadi atribut kesempurnaan Tuhan. Jumlah sifat ini juga tak terhitung.

Empat fakta di atas sudah cukup membuktikan bahwa tak ada satu pun sifat yang shahih datang dari Allah dan Rasulullah yang ditolak keberadaannya oleh para Ulama Asy’ariyah. Lalu bagaimana bisa muncul anggapan bahwa Asy’ariyah menolak keberadaan banyak sifat Allah kalau demikian? Ini akan kita bahas pada bagian selanjutnya dari tulisan ini.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Kamis 9 Agustus 2018 6:30 WIB
Penjelasan Soal Kesesatan Nabi Muhamad SAW sebelum Jadi Nabi
Penjelasan Soal Kesesatan Nabi Muhamad SAW sebelum Jadi Nabi
Umat Islam sejak kecil diajarkan soal dasar-dasar keimanan bahwa Rasulullah SAW dan para rasul lainnya bersifat makshum, yaitu terpelihara dari dosa. Dari sini, umat Islam kemudian meyakini bahwa Rasulullah SAW dipelihara oleh Allah SWT dari segala bentuk dosa, termasuk dosa besar syirik dan dosa kufur.

Meskipun demikian kita menemukan secara harfiah pada Surat Ad-Dhuha ayat 7 bahwa Rasulullah SAW ditemukan oleh Allah dalam keadaan tersesat, lalu Allah memberinya petunjuk sebagaimana ayat berikut ini:

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى

Artinya, “Allah menemuimu dalam kondisi tersesat, lalu Dia memberi petunjuk,” (Surat Ad-Dhuha ayat 7).

Ayat ini bisa saja dipahami secara harfiah. Dengan demikian, kita menyimpulkan bahwa Rasulullah memang awalnya kufur dan sesat. Sedikit ulama tafsir berpandangan demikian seperti dinukil oleh Fakhruddin Ar-Razi berikut ini:

فاعلم أن بعض الناس ذهب إلى أنه كان كافراً في أول الأمر، ثم هداه الله وجعله نبياً

Artinya, “Ketahuilah, sedikit ulama berpendapat bahwa Rasulullah SAW awalnya kufur, kemudian Allah memberikannya hidayah dan menjadinnya sebagai nabi,” (Lihat Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut, Darul Fikr: 1981 M/1401 H], juz XXXI, halaman 216).

Sedikit ulama tafsir yang berpandangan demikian didukung oleh Surat As-Syura ayat 52, Surat Yusuf ayat 3, dan Surat Az.-Zumar ayat 65 sebagaimana berikut ini:

مَا كُنتَ تَدْرِى مَا الكتاب وَلاَ الإيمان

Artinya, “Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) itu dan apakah iman itu,” (Surat As-Syura ayat 52).

وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِ لَمِنَ الغافلين

Artinya, “Kamu sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui,” (Surat Yusuf ayat 3).

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

Artinya, “Sungguh, jika kamu mempersekutukan (Allah), maka gugurlah amalmu,” (Surat Az-Zumar ayat 65).

Hanya saja pandangan sedikit ulama tafsir ini dibantah oleh mayoritas ulama. Mayoritas ulama memandang sifat makshum Rasulullah SAW dari segala dosa termasuk dosa besar syirik dan dosa besar kufur.

وأما الجمهور من العلماء فقد اتفقوا على أنه عليه السلام ما كفر بالله لحظة واحدة... وعند أصحابنا هذا غير ممتنع عقلاً لأنه جائز في العقول أن يكون الشخص كافراً فيرزقه الله الإيمان ويكرمه بالنبوة، إلا أن الدليل السمعي قام على أن هذا الجائز لم يقع وهو قوله تعالى مَا ضَلَّ صاحبكم وَمَا غوى [النجم : 2] ثم ذكروا في تفسير هذه الآية وجوهاً كثيرة

Artinya, “Sedangkan mayoritas ulama sepakat bahwa Rasulullah SAW tidak pernah kufur sedetik sekali pun... Menurut sebagian sebagian ulama kami, hal ini (kekufuran nabi) tidak terhalang secara hukum aqli karena hal itu jaiz atau boleh jadi sah menurut aqal bahwa seseorang awalnya kafir tetapi Allah mengaruniakannya keimanan dan memuliakannya dengan kenabian, tetapi dalil naqli menyatakan bahwa jaiz atau kemungkinan menurut aqli itu (perihal kekufuran Rasulullah SAW) tidak terjadi, yaitu Surat An-Najm ayat 2 yang berbunyi, ‘Sahabatmu (Nabi Muhammad SAW) tidak sesat dan (tidak) keliru.’ Mayoritas ulama memahami Surat Ad-Dhuha ayat 7 ini dengan pelbagai penafsiran,” (Lihat Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut, Darul Fikr: 1981 M/1401 H], juz XXXI, halaman 216).

Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan sejumlah dalil naqli yang menjelaskan dalam karyanya keimanan dan kesucian nenek moyang hingga kedua orang tua Nabi Muhammad SAW yang kami kutip sebagai berikut.

إذا علمت أن أهل الفترة ناجون على الراجح علمت أن أبويه صلى الله عليه وسلم ناجيان لكونهما من أهل الفترة بل جميع آبائه صلى الله عليه وسلم وأمهاته ناجون ومحكوم بإيمانهم لم يدخلهم كفر ولا رجس ولا عيب ولا شئ مما كان عليه الجاهلية بأدلة نقلية كقوله تعالى  وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ وقوله صلى الله عليه وسلم لم أزل أنتقل من الأصلاب الطاهرات إلى الأرحام الزكيات وغير ذالك من الأحاديث البالغة مبلغ التواتر

Artinya, “Kalau kau mengerti bahwa ahli fatrah itu selamat dari siksa neraka menurut pendapat rajih (yang kuat), maka tentu kamu mengerti bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari siksa neraka karena keduanya ahli fatrah. Bahkan semua bapak moyang Rasulullah SAW (hingga ke Nabi Adam AS) selamat dari siksa neraka. Kita memutuskan bahwa mereka adalah orang-orang beriman tanpa tercederai oleh kekufuran, perbuatan keji, perilaku aib, dan perilaku buruk apapun yang lazim di zaman Jahiliyah. Pendapat ini didasarkan pada dalil naqli seperti firman Allah SWT dalam Surat As-Syu‘ara ayat 219 yang berbunyi, ‘Dan ketika engkau bolak-balik dalam orang-orang yang sujud (sembahyang)’; dan sabda Rasulullah SAW ‘Aku senantiasa berpindah-pindah dari tulang-tulang sulbi yang murni ke rahim-rahim yang suci’, dan banyak hadits lain yang statusnya mutawatir,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabaiyah, tanpa tahun, halaman 19).

Dari keterangan mayoritas ulama ini, kita dapat menyimpulkan bahwa apa yang diajarkan kepada kita selama ini bahwa Rasulullah SAW itu makshum (tidak pernah kufur, musyrik, atau sesat) sudah benar adanya.

Sementara jumhur ulama memiliki banyak penafsiran perihal kata “sesat” dan “petunjuk” yang tersebut dalam Surat Ad-Dhuha ayat 7, salah satunya adalah ketidaktahuan dalam syariat, tersesat di salah satu jalan di kota Makkah saat Rasulullah kecil, dan belasan penafsiran lainnya yang tidak merujuk pada kemusyrikan atau kekufuran Rasulullah SAW.

Dari sini kita mengambil pelajaran betapa pentingnya memahami perangkat-perangkat ilmu yang diwariskan oleh para ulama seperti ilmu kalam terkait wajib, mustahil, dan jaiz, ulumut tafsir, ulumul hadits, ushulul fiqh yang salah satunya membahas ta‘arudh atau dua ayat yang tampak kontradiksi dan antinomi.

Semua itu merupakan perangkat yang diperlukan dalam memahami ayat Al-Quran dan hadits Rasulullah SAW agar kita berhati-hati dan tidak ceroboh dalam memutuskan perihal hukum agama atau masalah yang berkaitan dengan keyakinan, tauhid, aqidah, dan keimanan.

Semua perangkat ilmu pengetahuan tersebut juga sangat penting untuk menghindarkan kita salah satunya dari sikap su’ul adab terhadap Rasulullah SAW. Apalagi sampai mengatakan bahwa memperingati maulid Nabi Muhammad SAW adalah memperingati kesesatan dan kekufuran Nabi Muhammad SAW, Nau'dzu billah min dzalik, wa tabarra'na min kulli kalamin yukhalifu ma yaliqu bihi. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)