IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Pernyataan Kontroversial Ibnu Khuwaizi Mandad tentang Asy’ariyah

Ahad 12 Agustus 2018 16:0 WIB
Share:
Pernyataan Kontroversial Ibnu Khuwaizi Mandad tentang Asy’ariyah
Sebagaimana sudah maklum, manhaj teologi Asy’ariyah, bersama dengan Maturidiyah, diikuti oleh mayoritas ulama empat mazhab selama satu milenium terakhir. Namun, sejarah mencatat ada seorang tokoh bernama Ibnu Khuwaizi Mandad yang menyatakan bahwa dalam Mazhab Malikiyah, seorang Asy’ariyah tidak diterima persaksiannya, dikucilkan, dan dituntut untuk bertobat atas ajaran bid’ahnya. Pernyataan tersebut banyak dinukil oleh para pengkritik mazhab Asy’ariyah, misalnya Safar Hawali dalam bukunya yang berjudul Manhaj al-Asyâ’irah fî al-‘Aqîdah (halaman 70) dan juga dikutip di banyak artikel para pendaku Salafi yang bertebaran di internet saat ini. Bagaimanakah fakta sebenarnya?

Sebelum membahas pernyataannya tentang Asy’ariyah, perlu diketahui profil Ibnu Khuwaizi Mandad terlebih dahulu. Dalam Bahasa Arab, namanya ditulis sebagai ابن خُوَيْزِ مَنْدادُ. Al-Fairuzabadi dalam kamus al-Muhîth-nya menyebutkan ejaannya sebagai Ibnu Khuwaizi Mandad.

Dalam berbagai kitab profil tokoh, semisal Lisân al-Mîzan karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalany, al-Wâfi bi al-Wafâyât karya as-Shafady, Tartîb al-Madârik karya Qadli Iyadl dan lain-lain, tak ditemukan data yang cukup mendetail tentang tokoh ini, namun yang menjadi kesepakatan bahwa dia merupakan salah satu tokoh bermazhab Malikiyah yang berguru pada tokoh Malikiyah terkemuka saat itu, yakni al-Imam Abu Bakr al-Abhari al-Maliky (375 H). Disebutkan bahwa Ibnu Khuwaizi Mandad mempunyai beberapa kitab dan wafat di akhir abad ke empat hijriah. 

Pernyataan kontroversialnya dinukil oleh Syekh Ibnu Abdil Barr al-Maliky (463 H) dalam kitabnya yang berjudul Jâmi’ Bayân al-‘Ilmi Wafadlihi dengan sanad dari Ismail bin Abdirrahman dari Ibrahim bin Bakr. Disebutkan bahwa Ibnu Khuwaizi Mandad berkata:

أَهْلُ الْأَهْوَاءِ عِنْدَ مَالِكٍ وَسَائِرِ أَصْحَابِنَا هُمْ أَهْلُ الْكَلَامِ فَكُلُّ مُتَكَلِّمٍ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ وَالْبِدَعِ أَشْعَرِيًّا كَانَ أَوْ غَيْرَ أَشْعَرِيٍّ وَلَا تُقْبَلُ لَهُ شَهَادَةٌ فِي الْإِسْلَامِ وَيُهْجَرُ وَيُؤَدَّبُ عَلَى بِدْعَتِهِ، فَإِنْ تَمَادَى عَلَيْهَا اسْتُتِيبَ مِنْهَا

“Orang-orang yang tersesat (ahl al-ahwa’) menurut Imam Malik dan seluruh sahabat kami (Malikiyah) adalah ahli kalam. Maka seluruh ahli kalam adalah orang-orang yang tersesat dan Ahli Bid'ah, baik dia seorang Asy'ariyah atau bukan Asy'ariyah. Dan, tidak diterima persaksiannya dalam Islam, dikucilkan dan dibina atas bid'ahnya itu. Apabila ia meneruskan bid’ahnya tersebut maka dia dituntut untuk bertobat”. (Ibnu Abdil Barr, Jâmi’ Bayân al-‘Ilmi Wafadlihi, Juz II, halaman 932)

Pernyataan di atas dikutip oleh Syekh Ibnu Taymiyah (728 H) dalam Fatâwâ al-Kubrâ dan juga disinggung oleh Imam al-Ghazali (504 H) dalam Ihya’ Ulumiddîn sewaktu menukil kalangan Malikiyah yang menolak ilmu kalam. Imam Ibnu Hajar al-Haitamy (973 H) juga menukil pernyataan Ibnu Khuwaizi Mandad tersebut dalam kitab al-Fatâwâ al-Hadîtsiyah tanpa sanad namun dengan redaksi yang lebih lengkap. 

Meskipun banyak yang menukilnya, namun pernyataan Ibnu Khuwaizi Mandad tersebut mempunyai beberapa masalah serius, yaitu: 

• Profil Ibnu Khuwaizi Mandad dikenal bermasalah.

Tokoh ini dikenal sebagai tokoh yang mempunyai pendapat aneh, dikenal kurang menguasai fiqih dan bukan pemikir yang baik. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan profilnya sebagai berikut:

وعنده شواذ عن مالك واختيارات وتأويلات لم يعرج عليها حذاق المذهب كقوله: إن العبيد لا يدخلون في خطاب الأحرار وإن خبر الواحد يفيد العلم وإنه لا يعتق على الرجل سوى الآباء والأبناء. وقد تكلم فيه أبو الوليد الباجي ولم يكن بالجيد النظر، وَلا بالقوي في الفقه وكان يزعم أن مذهب مالك أنه لا يشهد جنازة متكلم، وَلا تجوز شهادتهم، وَلا مناكحتهم، وَلا أمانتهم. وطعن ابن عبد البر فيه أيضًا وكان في أواخر المِئَة الرابعة.

Dia punya beberapa riwayat aneh dari Imam Malik, pilihan pendapat serta tafsiran yang tidak dirujuk oleh tokoh mazhab yang cerdas; seperti pendapatnya bahwa seorang budak tidak termasuk dalam cakupan teks terhadap orang merdeka dan bahwa hadits Ahad bisa mendatangkan keyakinan dan bahwa yang bisa membebaskan seorang budak hanya Ayah atau anaknya. Syekh Abdul Walid al-Baji berkomentar tentangnya bahwa dia tidak mempunyai pemikiran yang baik dan juga tidak kuat dalam hal fiqih. Dia mengira bahwa dalam mazhab Malikiyah seorang ahli kalam tidak disaksikan jenazahnya, tidak boleh menyaksikannya, tidak boleh menikahkan mereka atau menerima titipan amanat mereka. Ibnu Abdul Barr juga mengkritiknya. Dia wafat pada akhir abad keempat hijriah. (Ibnu Hajar, Lisân al-Mîzân, V, halaman 359)

Karena itulah, maka setelah menukil pernyataan Ibnu Khuwaizi Mandad di atas, dengan redaksi yang lebih lengkap, Ibnu Hajar al-Haitamy kemudian berkomentar:

وَكَيف يرجع لِابْنِ خويز منداد وَيتْرك أقاويل أفاضل الْأمة وعلماء الْملَّة من الصَّحَابَة ومَنْ بعدهمْ كالأشعري والباهلي والقلانسي والمحاسبي وَابْن فورك والإسفرايني والباقلاني وَغَيرهم من أهل السّنة

“Bagaimana bisa merujuk pada Ibnu Khuwaizi Mindad dan meninggalkan pernyataan para pembesar umat dan ulama agama ini dari kalangan sahabat dan orang-orang semasanya semisal al-Asy’ari, al-Bahili, al-Qalanisi, al-Muhasiby, Ibnu Furak, al-Isfirayiny, al-Baqillany, dan lain-lain dari Ahlussunnah?”. (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatâwâ al-Hadîtsiyah, 147)

• Sanad riwayat yang bermasalah. 
Dalam sanad di atas ada Ibrahim bin Bakr yang tidak diketahui profilnya kecuali identitas dasar saja seperti nama, guru-guru, tempat tinggal dan tanggal wafatnya. Tak ada jarh dan ta’dîl yang bisa diperoleh dari tokoh ini yang menyebabkan kita tak bisa memastikan kredibilitasnya.

• Pernyataan tersebut bertentangan dengan kesaksian para ulama lain.

Imam Tajuddin As Subki dalam Thabaqât as-Syâfi’iyah menyatakan:

أئمة المالكية كانوا يناضلون عن مذهب الأشعرى ويبدعون من خالفه ولا حاجة إلى شرح ذلك فإن المالكية أخص الناس بالأشعرى إذ لا نحفظ مالكيا غير أشعري

“Sesungguhnya ulama malikiyah sangat membela mazhab Asy’ariyah dan membid’ahkan orang yang menentang mereka. Hal ini tidak perlu diterangkan lagi. Maka sesungguhnya Maliki adalah orang-orang yang paling khusus dengan mazhab asy’ariyah karena saya tidak mengingat ada seorang Maliki kecuali dia seorang Asy’ary”. (Tajuddin as-Subky, Thabaqât as-Syâfi’iyah, juz II, halaman 256) 

Kesaksian serupa juga dinukil oleh Imam Ibnu Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftary dan oleh tokoh-tokoh lain dalam berbagai kitab mereka. Namun terbatasnya ruang tak memungkinkan untuk menukil semuanya.


• Di masanya, ada Al-Baqillany (403) yang sangat terkenal dan terhormat di kalangan ulama Ahlussunnah. 

Beliau adalah pengikut mazhab fikih Malikiyah yang menjadi pejuang Asy’ariyah terhebat di masanya, bahkan dikenal sebagai pendiri kedua mazhab Asy’ariyah. Kehebatan al-Baqillany membuatnya dijuluki Saikh as-Sunnah (guru sunnah) dan Lisân al-Ummah (juru bicara umat). Ibnu Asakir dalam Tabyîn Kadzib al-Muftary (halaman 390) menceritakan bahwa Al-Baqillany bersama dengan Abu Bakr al-Abhary dan tokoh-tokoh terkemuka saat itu menghadiri majlis Syekh Abul Hasan Abdul Aziz at-Tamimy, seorang tokoh yang aqidahnya sama dengan Asy’ariyah. Qadli Iyadh dalam Tartîb al-Madârik (Juz VII, halaman 44) juga menukil pernyataan Abu Bakr al-Abhary yang menyatakan bahwa al-Baqillany seorang yang tsiqah (terpercaya). Bagaimana mungkin Ibnu Khuwaiz Mandad mengatakan bahwa Asy’ariyah ditolak dan dikucilkan, sedangkan gurunya sendiri, al-Abhary, ridha terhadap orang-orang Asy’ariyah dan bersama mereka?

Adz-Dhahaby dalam Siyar A’lâm an-Nubalâ’ (juz XIII, 204) juga menyebutkan bahwa al-Hafidz ad-Daraquthny (385 H) mencium kening al-Baqillany lalu memujinya sebagai Imamul muslimin. Hal itu membuat Abu Dzarr al-Harawi (434 H), murid al-Hafidz ad-Daraquthny berguru pada al-Baqillany dan menyatakan bahwa para ulama Ahlussunnah di Khurasan dan negara lain-lain di masa itu mengikuti jalan aqidah al-Baqillany. Bagaimana mungkin Ibnu Khuwaiz Mandad yang juga hidup di abad itu mengabaikan fakta ini?

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa pernyataan Ibnu Khuwaizi Mandad yang dinisbatkan pada Imam Malik dan ulama Malikiyah di atas tertolak secara ilmiah dan tak layak dijadikan pedoman. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Tags:
Share:
Sabtu 11 Agustus 2018 18:30 WIB
Menguji Tekstualitas Manhaj Teologi Asy’ariyah
Menguji Tekstualitas Manhaj Teologi Asy’ariyah
Teologi Ahlussunnah wal Jama’ah yang direpresentasikan oleh Asy’ariyah dan Maturidiyah dikenal dengan argumen rasionalnya ketika membahas persoalan aqidah. Mereka menyusun premis-premis logis secara sistematis sehingga menghasilkan kesimpulan yang sulit dibantah secara rasional. Namun, karena inilah justru ada beberapa orang yang mengira bahwa Asy’ariyah hanya membangun argumennya berdasarkan akal, bukan berdasarkan teks dari Allah atau Rasulullah ﷻ

Misalnya saja dalam hal penolakan keras para teolog Ahlussunnah pada makna fisikal Dzat Allah. Mereka menganggap Allah tak mungkin berupa jism (entitas fisik yang terdiri dari susunan materi) sebab seluruh jism adalah sama dan setara secara hakikat, hanya berbeda dalam hal bentuk dan karakternya saja. Selain itu, seluruh jism pastilah punya bentuk dan ukuran tertentu yang menempati ruang tertentu. Bentuk dan ukuran ini terwujud pasti karena ada pihak yang merancangnya atau karena berevolusi sendiri menjadi bentuk dan ukuran yang dimaksud. Bila hal ini diberlakukan pada Tuhan, itu berarti Tuhan punya oknum lain yang membentuknya atau berevolusi sendiri hingga menjadi bentuk terakhirnya sebagai Tuhan. Dua kesimpulan ini tentu tidak mungkin sebab yang sedemikian itu adalah ciri khas makhluk. Karena itulah, bisa disimpulkan bahwa Allah pastilah bukan jism sehingga seluruh makna teks ayat atau hadits yang mengarah pada jism tak boleh dipahami secara literal.

Bila pembaca pemula melihat argumen seperti itu, akan terkesan bahwa para teolog Ahlussunnah (Asy’ariyah-Maturidiyah) tidak tekstual tetapi murni rasional. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Argumen rasional di atas sebenarnya justru dibuat untuk meneguhkan teks ayat atau hadits yang muhkam (yang maknanya definitif sehingga menjadi patokan utama) yang menjadi rujukan dalam hal aqidah. Teks tersebut antara lain:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Tiada satupun yang serupa dalam hal apapun dengan Allah. Dia Maha Mendengar dan Melihat” (QS. As-Syurâ: 11)

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا 

"Apakah kamu tahu ada yang sama dengan-Nya?". (QS. Maryam: 65)

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Tak ada yang setara dengan-Nya satu pun”. (QS. Al-Ikhlâs: 4)

Seluruh jism pasti punya keserupaan dan kesamaan. Kalaupun berbeda struktur penyusunnya, seperti misalnya ular dan gajah berbeda, manusia dan kera berbeda, manusia dan batu berbeda, maka paling tidak ada kesetaraannya sebagai susunan materi yang bervolume. Selain itu, bentuk fisik juga pasti berupa susunan sehingga pasti ada yang menyusunnya, seperti disebutkan dalam firman Allah:

فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ

“Dalam bentuk fisik apa pun sesuai kehendak-Nya Allah menyusunmu”. (QS. al-Infithar: 8)

Karena itulah, maka argumen rasional untuk menolak makna jismiyah sebagaimana di atas sebenarnya untuk membela teks ayat-ayat kesucian Allah (tanzîh) tersebut. Dengan kata lain, justru mereka sangat tekstual sehingga menyusun argumen rasional untuk membela kebenaran teks yang disepakati kebenarannya. Metode dan juga kesimpulan seperti ini juga dilakukan oleh ulama salaf sebelum lahirnya manhaj (metode) teologi Asy’ariyah. Imam Ahmad bin Hanbal misalnya, sebagaimana dinukil oleh Imam Hanabilah terkemuka di masanya, yakni Abu Fadl at-Tamimy (410 H), beliau menegaskan:  

إِنَّ الأَسْمَاءَ مَأْخُوذَةٌ مِنَ الشَّرِيعَةِ وَاللُّغَةِ، وَأَهْلُ اللُّغَةِ وَضَعُوا هَذَا الاسْمَ – أَيِ الْجِسْمَ – عَلَى ذِي طِولٍ وَعَرْضٍ وَسَمْكٍ وَتَرْكِيبٍ وَصُورَةٍ وَتَأْلِيفٍ، وَاللهُ خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ – أي مُنزَّهٌ عَنْه – فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسمَّى جِسْمًا لِخروجِهِ عَنْ مَعْنَى الْجِسْمِيّةِ، وَلَمْ يَجِىءْ في الشَّرِيعَةِ ذَلِكَ فَبَطلَ

"Sesungguhnya istilah-istilah itu diambil dari peristilahan syariah dan peristilahan bahasa sedangkan ahli bahasa menetapkan istilah ini (jism) untuk sesuatu yang punya panjang, lebar, tebal, susunan, bentuk dan rangkaian, sedangkan Allah berbeda dari itu semua. Maka dari itu, tidak boleh mengatakan bahwa Allah adalah jism sebab Allah tak punya makna jismiyah. Dan, istilah itu juga tidak ada dalam istilah syariat, maka batal menyifati Allah demikian". (Abu al-Fadl at-Tamimy, I’tiqâd al-Imam al-Munabbal Ahmad bin Hanbal, 45).

Seperti telah dibahas sebelumnya, di antara prinsip teologi Ahlussunnah wal Jama’ah adalah menetapkan seluruh sifat yang disebutkan oleh al-Qur’an dan hadits sahih. Jadi apa pun yang disebutkan oleh Rasulullah tak ada yang ditolak, berapa pun banyaknya. Hanya saja bila ada suatu teks sifat Tuhan yang bertentangan dengan ayat-ayat muhkam, maka teks tersebut tetap diakui keberadaannya tetapi tidak boleh dipahami secara literal supaya tidak kontradiktif. Teks yang tak boleh dipahami secara literal itu adakalanya cukup dibaca ulang saja (imrâr) tanpa dibahas mendalam apa hakikat maknanya (tafwîdh) atau maknanya dialihkan ke makna yang layak bagi Allah yang juga benar secara kebahasaan (ta’wîl).

Untuk menguji konsistensi ulama Ahlussunnah dalam pembelaannya terhadap segala teks yang dibawa oleh Rasulullah itu, Imam Abu Hasan al-Asy’ari mengajukan pertanyaan provokatif; bagaimana sikap Ahlussunnah andai ada teks ayat atau hadits sahih yang justru menegaskan  bahwa Allah adalah jism? Apakah masih akan ditetapkan sifat jism sesuai teks tersebut ataukah ditolak sesuai tuntutan akal? 

Jawabannya bisa dibaca dari nukilan Imam Ibnu Furak (406 H) berikut:

إن قال قائل أتجيزون لو ورد الخبر بأنه جسم أو متحرك كما ورد بأنه له يدين ووجها وعينا؟ فأجاب بأن ذلك لو ورد على الوجه الذي يليق به لكان عير منكر، لا على معنى أنه محل للحركة وأنه مؤلف، بل على معنى أنه فعل الحركة وأنه قائم بنفسه مستغن عن غيره

“Apabila ada orang yang berkata: Apakah kalian memperbolehkan andai saja ada teks (al-Qur'an atau hadits) yang mengatakan bahwa Allah adalah jism atau Allah bergerak, seperti halnya ada teks yang menyatakan bahwa ia mempunyai yadain (dua tangan), wajh (wajah) dan ‘ain (mata)? Imam Abu Hasan al-Asy'ari menjawab bahwa andai saja memang ada teks tersebut sesuai dengan sifat yang layak bagi Allah, maka itu tidak diingkari. Namun tidak dengan makna bahwa Allah menjadi tempat bagi sebuah gerakan atau bahwa Allah itu tersusun dari beberapa unsur. Akan tetapi atas makna bahwa Allah “melakukan” gerakan dan bahwa Ia mandiri tidak butuh pada yang lain”. (Ibnu Furak, Maqâlât as-Syaikh Abi al-Hasan al-Asy’ary, 59) 

Ternyata, bahkan bila ada ayat atau hadits yang menyatakan bahwa Allah adalah jism, maka itu pun akan ditetapkan juga oleh Imam Asy’ari, tentu saja dengan makna yang disesuaikan sehingga tak kontradiktif dengan ayat-ayat muhkam. Ini adalah bukti bahwa sebenarnya teologi Asy’ariyah adalah teologi yang sangat tekstual. Hanya saja kemudian tekstualitas itu dipertahankan dengan argumen rasional di panggung diskusi dengan aliran-aliran menyimpang. Ini justru menjadi nilai tambah yang jarang dimiliki golongan lainnya.

Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember


Jumat 10 Agustus 2018 19:0 WIB
Sebenarnya Tak Ada Mazhab Asy’ariyah atau Maturidiyah
Sebenarnya Tak Ada Mazhab Asy’ariyah atau Maturidiyah
Ketika membahas teologi Ahlussunnah wal Jama'ah, siapa pun tak akan bisa menghindar dari nama besar mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah sebab keduanya adalah representasi dari aqidah mayoritas ulama dari masa ke masa. Akan tetapi beberapa orang kemudian salah sangka ketika mendengar istilah "mazhab Asy'ariyah Maturidiyah". Mereka mengira bahwa kedua mazhab ini adalah ajaran baru atau aliran baru yang berbeda dari ajaran ulama salafus shâlih yang sudah ada sebelumnya. Benarkah demikian?

Baca juga: Perihal Kewajiban Mempelajari Ilmu Tauhid
Imam Abu Hasan al-Asy'ari lahir pada tahun 260H/873M dan wafat pada tahun 324 H/935 M. Sedangkan Imam Abu Mansur al-Maturidi diperkirakan lahir antara tahun antara 233-247 H dan wafat pada tahun 333 H/944 M. Dari tahun hidup keduanya dapat diketahui bahwa kedua imam besar Ahlussunnah wal Jama'ah ini baru lahir setelah era empat imam mazhab yang sudah tersohor namanya itu.  Sebelum mereka berdua juga ada deretan nama-nama besar yang menjadi representasi Ahlussunnah wal Jama'ah seperti Imam al-Auza'i (wafat 157 H), Sufyan ats-Tsauri (Wafat 161 H), Laits bin Sa'ad (wafat antara 170-175 H), Bukhari (wafat 256 H), Muslim (wafat 261 H), at-Thahawi (wafat 321 H) dan banyak lainnya. 

Karena itulah, ketika belakangan muncul Imam Abu Hasan al-Asy'ari di Baghdad dan Imam Abu Mansur al-Maturidi di Transoksania dengan argumen-argumen teologi yang mampu membungkam para ahli bid’ah, para ulama dari berbagai golongan kemudian menisbatkan diri pada mereka berdua sebagai bentuk dukungan. Akhirnya masyhurlah nama Asy’ariyah (pengikut Abu Hasan al-Asy’ary) dan nama Maturidiyah (pengikut Abu Mansur al-Maturidy). Saat itulah beberapa orang mengira ada mazhab baru yang berbeda dari sebelumnya, padahal faktanya tidak demikian.

Imam Tajuddin as-Subky (771 H) menjelaskan duduk perkaranya sebagai berikut:

اعْلَم أَن أَبَا الْحسن لم يبدع رَأيا وَلم ينش مذهبا وَإِنَّمَا هُوَ مُقَرر لمذاهب السّلف مناضل عَمَّا كَانَت عَلَيْهِ صحابة رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فالانتساب إِلَيْهِ إِنَّمَا هُوَ بِاعْتِبَار أَنه عقد على طَرِيق السّلف نطاقا وَتمسك بِهِ وَأقَام الْحجَج والبراهين عَلَيْهِ فَصَارَ المقتدى بِهِ فى ذَلِك السالك سَبيله فى الدَّلَائِل يُسمى أشعريا 

“Ketahuilah sesungguhnya Abu Hasan tak memulai sebuah pendapat baru dan tak memunculkan sebuah mazhab. Itu tak lain hanya merupakan penguatan terhadap mazhab salaf. Dia membela apa yang diyakini sahabat Rasulullah ﷺ. Maka penisbatan diri pada beliau tak lain hanyalah pengakuan bahwa beliau mengikuti jalan salaf, berbicara dan berpegang teguh dengannya, mendirikan hujjah dan bukti-bukti atasnya. Maka yang mengikuti beliau dan menempuh jalan beliau itu dalam dalil-dalil disebutlah seorang Asy’ariyah”. (Tajuddin as-Subky, Thabaqât as-Syâfi’iyah, juz III, halaman 365)

Jauh sebelumnya, Imam al-Hafidz Ibnu Asakir (571 H) juga menjelaskan hal serupa. Ia berkata:

فنسب من تعلق الْيَوْم بِمذهب أهل السّنة وتفقه فِي معرفَة أصُول الدّين من سَائِر الْمذَاهب إِلَى الْأَشْعَرِيّ لِكَثْرَة تواليفه وَكَثْرَة قِرَاءَة النَّاس لَهَا وَلم يكن هُوَ أول مُتَكَلم بِلِسَان أهل السّنة إِنَّمَا جرى على سنَن غَيره وعَلى نصْرَة مَذْهَب مَعْرُوف فَزَاد الْمَذْهَب حجَّة وبيانًا وَلم يبتدع مقَالَة اخترعها وَلَا مذهبا انْفَرد بِهِ ألا ترى أَن مَذْهَب أهل الْمَدِينَة ينْسب إِلَى مَالك بن أنس رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَمن كَانَ على مَذْهَب أهل الْمَدِينَة يُقَال لَهُ مالكي وَمَالك رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّمَا جرى على سنَن من كَانَ قبله وَكَانَ كثير الإتباع لَهُم إِلَّا أَنه زَاد الْمَذْهَب بَيَانا وبسطًا وَحجَّة وشرحًا وَألف كِتَابه الْمُوَطَّأ وَمَا أَخذ عَنهُ من الأسمعة والفتاوى فنسب الْمَذْهَب إِلَيْهِ لِكَثْرَة بَسطه لَهُ وَكَلَامه فِيهِ فَكَذَلِك أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَا فرق  

“Maka hari ini orang-orang yang bergantung pada mazhab Ahlussunnah dan belajar pengetahuan Ushuluddin dari semua mazhab disandarkan kepada al-Asy'ari karena banyaknya karya beliau dan banyaknya bacaan orang-orang terhadap karya tersebut. Dia bukanlah Ahli Kalam pertama yang berbicara dengan lidah Ahlussunnah akan tetapi dia hanya mengikuti tradisi orang-orang sebelumnya untuk menolong mazhab yang sudah diketahui (mazhab salaf) sehingga mazhab tersebut bertambah kekuatan argumen dan penjelasannya. Dia tidak membuat suatu pernyataan baru dan juga tidak membuat suatu mazhab independen. Bukankah engkau melihat bahwa mazhab Ahli Madinah disandarkan kepada Imam Malik bin Anas sehingga orang yang mengikuti mazhab Ahli Madinah disebut seorang Maliky, padahal Malik hanya mengikuti tradisi orang sebelumnya. Hanya saja beliau  menambah mazhab tersebut dengan keterangan dan penjelasan argumentatif dan juga mengarang kitab al-Muwatta. Dan apa yang dinukil dari Imam Malik meliputi ucapan atau fatwa kemudian disandarkan sebagai mazhab kepadanya karena ialah yang banyak menjelaskan dan berbicara tentang hal itu. Demikian juga Abu Hasan Al Asy'ari tiada bedanya”. (Ibnu Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftary fî Mâ Nusiba Ila al-Asy’ary, halaman 117-118)

Baca juga: Sumber Ilmu Tauhid dan Kedudukannya di Antara Ilmu-ilmu Lain
Satu abad sebelum Imam Ibnu Asakir, Imam al-Hafidz al-Baihaqy (458 H) juga menjelaskan bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ary hanyalah membela mazhab para tokoh ulama salaf saja dengan menambahi berbagai keterangan sehingga memperkuat argumen mereka. Ia berkata:

إِلَى أَن بلغت النّوبَة إِلَى شيخنَا أَبِي الْحسن الْأَشْعَرِيّ رَحْمَة اللَّه فَلم يحدث فِي دين اللَّه حَدثا وَلم يَأْتِ فِيهِ ببدعة بل أَخذ أقاويل الصَّحَابَة وَالتَّابِعِينَ وَمن بعدهمْ من الْأَئِمَّة فِي أصُول الدّين فنصرها بِزِيَادَة شرح وتبيين وَأَن مَا قَالُوا فِي الْأُصُول وَجَاء بِهِ الشَّرْع صَحِيح فِي الْعُقُول خلاف مَا زعم أهل الْأَهْوَاء من أَن بعضه لَا يَسْتَقِيم فِي الآراء فَكَانَ فِي بَيَانه تَقْوِيَة مَا لم يدل عَلَيْهِ من أهل السّنة وَالْجَمَاعَة وَنَصره أقاويل من مضى من الْأَئِمَّة كَأبي حنيفَة وسُفْيَان الثَّوْريّ من أهل الْكُوفَة وَالْأَوْزَاعِيّ وَغَيره من أهل الشَّام وَمَالك وَالشَّافِعِيّ من أهل الْحَرَمَيْنِ وَمن نجا نَحْوهمَا من الْحجاز وَغَيرهَا من سَائِر الْبِلَاد وكأحمد ابْن حَنْبَل وَغَيره من أهل الحَدِيث وَاللَّيْث بن سعد وَغَيره وَأبي عبد الله مُحَمَّد بن اسمعيل البُخَارِيّ وَأبي الْحسن مُسلم بن الْحجَّاج النَّيْسَابُورِي إمامي أهل الْآثَار وحفاظ السّنَن الَّتِي عَلَيْهَا مدَار الشَّرْع رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُم أَجْمَعِينَ وَذَلِكَ دأب من تصدى من الْأَئِمَّة فِي هَذِهِ الْأمة وَصَارَ رَأْسا فِي الْعلم من أهل السّنة فِي قديم الدَّهْر 

“Kemudian sampailah giliran dakwah keturunan Sahabat Abu Musa Al Asy'ari pada guru kita, Abu Hasan Al Asy'ari. Dia tidak membuat hal baru dalam agama Allah dan juga tidak membawa suatu bid'ah, tetapi dia mengambil perkataan para Sahabat, Tabiin, dan orang-orang setelah mereka dari golongan para imam dalam masalah Ushuluddin kemudian membelanya dengan menambahi keterangan dan penjelasan. Dan [beliau membuktikan] bahwasanya apa yang mereka semua katakan dalam masalah aqidah dan apa yang sudah dibawa oleh syariat adalah benar menurut akal. Hal ini berbeda dari apa yang disangka oleh orang-orang menyimpang (ahlu al-Ahwa') yang mengatakan bahwa sebagian yang dibawa syariat tidak masuk akal. Maka dalam penjelasan beliau itu ada penguatan (taqwiyah)  yang sebelumnya tidak disadari oleh Ahlussunnah wal Jamaah.  Imam Abu Hasan Al Asy'ari juga ditolong oleh pernyataan-pernyataan para imam sebelumnya  seperti Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri dari penduduk Kufah, Al Auza'i dan lain-lain dari penduduk Syam,  Malik dan Syafi'i dari penduduk Haramain (Makkah-Madinah) dan sekelilingnya seperti Hijaz dan daerah-daerah lainnya.  Juga seperti Imam Ahmad bin hambal dan lain-lain dari kalangan ahli hadis dan Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari dan Abi Hasan Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, dua Imam ahli hadis dan juga para penghafal Kitab Sunan yang menjadi pondasi syariat, semoga Allah meridhai mereka semua.  Begitulah kebiasaan para Imam yang muncul ke permukaan di kalangan umat ini  dan menjadi pemimpin ilmu dari kalangan Ahlussunnah sejak dahulu kala”. (Ibnu Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftary fî Mâ Nusiba Ila al-Asy’ary, halaman 103)

Jadi, yang disebut sebagai mazhab Asy’ariyah atau Maturidiyah sebenarnya tak lain dari metodologi (manhaj) teologis yang basis argumen rasionalnya dibentuk oleh kedua imam tersebut. Secara ajaran, tak ada yang baru dari mereka berdua sebab keduanya hanya membela ajaran ulama salaf yang sudah ada sebelum mereka.

Demikian uraian ini, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Kamis 9 Agustus 2018 19:30 WIB
Benarkah Asy’ariyah Menolak Banyak Sifat Allah? (II)
Benarkah Asy’ariyah Menolak Banyak Sifat Allah? (II)
Sebelumnya dijelaskan bahwa manhaj aqidah Asy’ariyah menetapkan semua sifat Allah yang ditetapkan keberadaannya dalam Al-Qur’an dan al-Hadits. Namun demikian, para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) menegaskan bahwa tak semua yang dikatakan Allah tentang Diri-Nya sendiri lantas dianggap sebagai sifat yang melekat pada Dzat-Nya sebab ada beberapa yang memang mustahil dimiliki atau disandarkan pada Tuhan. Misalnya saja sifat nisyân atau lupa. Keberadaan sifat ini dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya berikut:

فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا

“Hari ini Aku melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan perjumpaan dengan hari ini.” (QS. Al-A’raf: 51)

Meskipun Allah menyatakan bahwa Diri-Nya lupa terhadap orang kafir di hari akhirat nanti, namun ini tak bisa dipahami bahwa Allah mempunyai sifat lupa sebab lupa adalah mustahil bagi Tuhan. Karenanya, lupa di sini berarti mengabaikan mereka dan membiarkan mereka disiksa, bukan lupa dalam makna tidak ingat.

Baca juga: Benarkah Asy’ariyah Menolak Banyak Sifat Allah? (I)
Demikian juga sifat lain yang keberadaannya mustahil dimiliki Allah, seperti sifat jismiyah atau sifat fisikal bagi Dzat Alah. Sebagaimana sudah maklum bahwa Allah berbeda secara mutlak dengan seluruh makhluk-Nya, seperti dalam firmannya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tiada satupun yang serupa dalam hal apapun dengan Allah.” (QS. As-Syurâ: 11)

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا 

"Apakah kamu tahu ada yang sama dengan-Nya?" (QS. Maryam: 65)

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Tak ada yang setara dengan-Nya satu pun.” (QS. Al-Ikhlâs: 4)

Apabila Allah diyakini mempunyai bentuk fisikal, maka itu berarti banyak yang serupa, yang sama dan yang setara dengan Allah di dunia ini dan yang berbeda hanyalah bentuk fisiknya belaka. Dalam keyakinan seperti ini, dalam benak orang awam Allah hanya akan dibayangkan sebagai sosok raksasa yang ukurannya sangat besar. Keyakinan seperti ini merupakan penodaan terhadap kesucian Allah dan bertentangan dengan sekian banyak ayat dan hadits. Sebab itulah, seluruh ulama sepakat bahwa tidak ada satu pun dari sifat Allah yang mempunyai makna fisikal (jismiyah).

Para ulama menyatakan bahwa Allah mendengar tanpa organ pendengaran, Allah melihat tanpa organ penglihatan, Allah hidup tanpa bentuk fisikal (jasad), dan demikian seterusnya. Sedangkan sifat yad, wajh, dan seterusnya yang sepintas bermakna organ tubuh pada hakekatnya adalah sifat Allah yang hanya Allah yang tahu apa dan bagaimana itu tanpa boleh diyakini sebagai sebuah organ tubuh.

Imam al-Hafidz al-Baihaqy al-Asy’ary menegaskan aqidah ulama salaf seperti berikut:

وَفِي الْجُمْلَةِ يَجِبُ أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ اسْتِوَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَيْسَ بِاسْتِوَاءِ اعْتِدَالٍ عَنِ اعْوِجَاجٍ وَلَا اسْتِقْرَارٍ فِي مَكَانٍ، وَلَا مُمَّاسَّةٍ لِشَيْءٍ مِنْ خَلْقِهِ، لَكِنَّهُ مُسْتَوٍ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا أَخْبَرَ بِلَا كَيْفٍ بِلَا أَيْنَ، بَائِنٌ مِنْ جَمِيعِ خَلْقِهِ، وَأَنَّ إِتْيَانَهُ لَيْسَ بِإِتْيَانٍ مِنْ مَكَانٍ إِلَى مَكَانٍ، وَأَنَّ مَجِيئَهُ لَيْسَ بِحَرَكَةٍ، وَأَنَّ نُزُولَهُ لَيْسَ بِنَقْلَةٍ، وَأَنَّ نَفْسَهُ لَيْسَ بِجِسْمٍ، وَأَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِصُورَةٍ، وَأَنَّ يَدَهُ لَيْسَتْ بجَارِحَةٍ، وَأَنَّ عَيْنَهُ لَيْسَتْ بِحَدَقَةٍ، وَإِنَّمَا هَذِهِ أَوْصَافٌ جَاءَ بِهَا التَّوْقِيفُ، فَقُلْنَا بِهَا وَنَفَيْنَا عَنْهَا التَّكْيِيفَ

“Secara global harus diketahui bahwa istiwa’ nya Allah subhanahu wa ta'ala bukanlah istiwa’ bermakna lurus dari bengkok ataupun bermakna tinggal di suatu tempat juga bukan bermakna menyentuh satu dari sekian makhluk-Nya. Akan tetapi Allah istiwa’ atas Aras seperti yang Allah beritakan tanpa ada tata cara dan tanpa ada pertanyaan di mana, terpisah dari seluruh makhluk-Nya. Dan bahwasanya sifat ityân Allah bukan datang dalam arti perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain, sifat maji' bukan suatu gerakan, sifat nuzul bukan suatu perpindahan, sifat nafs bukan suatu jisim, sifat wajh bukan sebuah bentuk fisik, dan bahwa yad-Nya bukan sebuah organ, 'ain-Nya bukan sebuah organ penglihatan, tetapi Ini semua adalah sifat yang disebutkan oleh Nabi Muhammad tanpa bisa dipertanyakan (tawqif), maka kami menetapkan keberadaannya dan meniadakan tata cara atau makna leksikal (kaifiyah) darinya.” (Imam al-Hafidz al-Baihaqy al-Asy’ary, al-I’tiqâd, halaman 117)

Yang jadi polemik sebenarnya adalah pada keberadaan sifat fisikal bagi Dzat Allah. Golongan Mujassimah dan Musyabbihah menetapkan adanya bentuk fisik bagi Allah sedangkan seluruh ulama Ahlussunnah wal Jamaah (Asy'ariyah-Maturidiyah) menolaknya, sebagaimana riwayat dari Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Tak ada satu pun dari Asy'ariyah yang menolak keberadaan sifat yang datang dari Allah dan Rasulullah dengan jalur shahih, yang ditolak hanya penafsiran secara fisikal terhadap sifat-sifat itu saja sebab itu mustahil dan tak layak bagi Allah, sama dengan penafian mereka semua pada sifat lupa sebagaimana disebutkan di awal.

Demikian uraian ini, semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember