IMG-LOGO
Doa

Doa ketika Melihat, Menyentuh, atau Mencium Hajar Aswad

Senin 13 Agustus 2018 15:30 WIB
Share:
Doa ketika Melihat, Menyentuh, atau Mencium Hajar Aswad
Haji merupakan ibadah yang istimewa. Tidak semua orang bisa mencapainya kecuali mereka yang dikehendaki oleh Allah ﷻ. Tak jarang kita melihat seseorang yang kecil secara finansial mampu berangkat ke Tanah Suci, namun sebaliknya sering pula kita temukan orang kaya yang belum bisa berangkat ke sana, dan semuanya sudah ditentukan oleh Allah ﷻ.

Ketika melaksanakan tawaf, kita akan melewati Hajar Aswad, batu istimewa yang diletakkan di sudut timur laut luar Ka’bah. Semua jamaah haji tentunya terobsesi untuk menciumnya. Bisa dibayangkan jika jamaah haji dari seluruh penjuru dunia memiliki obsesi yang sama, tentu harapan tersebut bukan hal yang mudah terkabul.

Menurut pengalaman orang yang pernah melaksanakan ibadah haji, ada beberapa teknik untuk berhasil sampai dan mencium Hajar Aswad. Salah satunya adalah dengan merapat ke dinding Ka’bah dan maju perlahan-lahan. Namun tak sedikit yang gagal meraihnya, apalagi ketika terjadi saling adu dorong, kaki terinjak-terinjak, bahkan ada yang sampai meninggal karena berhimpit-himpitan serta terinjak jamaah lain, hingga mengurungkan niatnya untuk mencapai Hajar Aswad.

Baca juga: Kisah Peletakan Hajar Aswad
Meskipun kita tidak dapat meraihnya, melihatnya secara langsung adalah kebahagiaan bagi umat Nabi Muhammad ﷺ sebab beliau pernah melakukannya.

Oleh karena itu kita dianjurkan berdoa ketika melihat, menyentuh, atau mencium Hajar Aswad dengan doa:

بِسْمِ اللهِ ، وَاللهُ أَكْبَر اللَّهُمَّ إِيمَاناً بِكَ ، وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ ، وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ ، وَاتِّبَاعاً لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عليه وسلم

Bismillâhi wa-Llâhu akbar allâhumma îmânan bika wa tashdîqan bikitâbika wa wafâ’an bi ‘ahdika wat tibâ‘an li sunnati nabiyyika muhammadin shallallâhu ‘alaihi wa sallam.  

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, Allah maha besar. Ya Allah, seraya iman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, menepati janji kepada-Mu, serta mengikuti sunah Nabi-Mu, Muhammad shalLallahu ‘alaihi wa sallam. (Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syato’ ad-Dimyâthi, Hasyiyah I’anah ath-Thâlibîn ‘ala Halli Alfâdzi Fathi al-Mu’în li Syarh Qurratil-‘Ain, Dar el-Fikr, Beirut, juz 2, halaman 337)

Demikian doa ketika melihat Hajar Aswad, doa ini bisa dibaca juga ketika awal memulai tawaf. Semoga mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji dapat mencium hajar aswad, dan semoga kita diberangkatkan oleh Allah untuk menjadi tamunya di tanah suci, Amiin… (Amien Nurhakim)

Tags:
Share:
Selasa 31 Juli 2018 10:30 WIB
Doa ketika Melihat Ka’bah
Doa ketika Melihat Ka’bah
Ilustrasi (muslimvillage.com)
Memasuki bulan Dzulhijah, jamaah haji dari Indonesia, maupun negara lainnya mulai berdatangan ke kota suci Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Bagi orang yang belum pernah melaksanakan haji tentu ibadah yang satu ini memiliki kesan istimewa dalam hidupnya.

Melihat sesuatu secara langsung dan tidak langsung, tentunya berbeda. Begitupun dengan melihat Ka’bah. Saat melihat sesuatu yang indah maka kita dianjurkan untuk bertasbih memuji sang Tuhan yang menciptakan segala sesuatu.

Dalam kitab Tuhfatu al-Ahwadziy bi Syarh Jâmi’ at-Tirmidzi Imam Abdurrahman al-Mubârakfûri menyebutkan:

روى الشافعي في مسنده عن ابن جريج أنّ النبيّ صلى الله عليه وسلم كان إذا رأى البيت رفع يديه، وقال: 

اللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ شَرّفَهُ وَكَرّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ وَاعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتَكْرِيمًا وَتَعْظِيمًا وَبِرًّا

Imam Syafi’i meriwayatkan dalam musnadnya dari Ibnu Juraij, bahwa Nabi Muhammad ﷺ jika melihat Ka’bah, maka beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa: 

Allahumma zid hâdzal baita tasyrîfan wa ta‘dzîman wa takrîman wa mahâbatan wa zid man syarafahu wa karamahu mim man hajjahu awi’tamarahu tasyrîfan wata’dzhîman watakîman wabirran.

(Ya Allah, tambahkan lah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya diantara mereka yang berhaji atau yang berumroh padanya dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran dan kebaikan).”

Hadits yang berisi doa diatas dikomentari oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab al-Talkhis:

وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم

Ini termasuk riwayat mu’dhal (dua rawi atau lebih gugur, red) ntara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Imam Abdurrahman al-Mubârakfûri, Tuhfatu al-Ahwadziy bi Syarh Jâmi’ at-Tirmidzi, Syirkah al-Quds, Kairo, cetakan kedua tahun 2013, juz 3, halaman 48)

Meski demikian, Imam Syafi’i mengatakan setelah meriwayatkan hadis diatas:

ليس في رفع اليدين عند رؤية البيت شيء فلا أكرهه ولا أستحبّه

"Mengangkat tangan ketika melihat Ka’bah bukanlah apa-apa, maka aku tidak memakruhkannya, juga tidak mensunnahkannya. (Imam Abdurrahman al-Mubârakfûri, Tuhfatu al-Ahwadziy bi Syarh Jâmi’ at-Tirmidzi, Syirkah al-Quds, Kairo, cetakan kedua tahun 2013, juz 3, halaman 48)

Maka dapat diambil kesimpulan dari perkataan imam Syafi’i bahwa mengangkat tangan saat melihat Ka’bah bukanlah suatu hal yang makruh, juga bukan sunnah. Demikian permasalahan mengangkat tangan ketika melihat Ka’bah. Adapun doa ketika melihat Ka’bah, dari kandungannya saja kita dapat melihat bahwa doa itu baik untuk kita amalkan. Wallahu a’lam. (Amien Nurhakim)

Rabu 18 Juli 2018 6:0 WIB
Doa Pengikut Nabi Musa agar Terhindar dari Fitnah dan Kezaliman
Doa Pengikut Nabi Musa agar Terhindar dari Fitnah dan Kezaliman
Perkembangan teknologi dan media sosial saat ini tak dapat dibendung. Tapi sebagian orang kadang memanfaatkan kemajuan itu untuk menyebar fitnah dan hoaks. Arus fitnah di media sosial yang begitu deras telah banyak merugikan orang. 

Orang dengan mudah membuat berita palsu untuk kepentingan sesaat. Untuk menaikkan popularitas, untuk menjatuhkan seseorang, seseorang bahkan bisa berani memfitnah para ulama. Hingga orang yang tak tahu pun ikut terbawa emosi sampai menghujat.

Maka, ada istilah fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Istilah itu menggambarkan besarnya dampak negatif fitnah. Banyak orang mencaci karena kita dituduh melakukan sesuatu yang tidak kita lakukan. Itu menyakitkan dan menjatuhkan harga diri. Agar kita terhindar dari fitnah dan kezaliman bacalah doa berikut.

رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Rabbanâ lâ taj‘alnâ fitnatal lil qaumidh dhâlimîn wa najjinâ birahmatika minal qaumil kâfirîn

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari (tipu daya) orang-orang kafir.”

Doa di atas diambil dari Surat Yunus ayat 85-86. Ayat sebelumnya menjelaskan para pengikut Nabi Musa yang sedikit merasa ketakutan. Karena Fir’aun kerap menfitnah dan menzalimi mereka. 

Ancaman-ancaman Fir’aun meresahkan orang-orang beriman. Firaun berhasil menekan rakyatnya untuk mengingkari kebenaran yang dibawa Nabi Musa. Di tengah kegelisahan yang dirasakan pengikutnya, Nabi Musa berkata kepada mereka, sebagaimana direkam dalam al-Qur’an.

وَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ، فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ، وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ 

Artinya: “Berkata Musa: ‘Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.’ Lalu mereka berkata: ‘Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim’.” (QS Yunus: 84-86)

Tawakal adalah tuntunan iman. Ketika kita sudah beriman kepada Allah maka kita harus menyerahkan semua persoalannya kepada-Nya. Dalam beragama kita harus memiliki tiga fondasi, yakni iman, islam, dan ihsan. Maka sikap tawakkal adalah buah dari itu semua.

Nabi Musa juga memohon agar diselamatkan dari tipu daya orang kafir dengan rahmat Allah. Kita juga harus selalu mengharapkan rahmat dari Allah dalam menggapai kehidupan di dunia dan akhirat. Dalam satu hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dijelaskan bahwa Nabi pernah bersabda:

“Tidaklah amalannya yang memasukkan salah seorang dari kamu ke dalam surga, dan tidak pula ia menjauhinya dari neraka; demikian juga dengan aku (Nabi Muhammad) kecuali rahmat dari Allah.”

Banyak cara untuk meraih rahmat Allah. Berdoa dengan memohon rahman dan rahim-Nya adalah cara yang paling mudah. Kita bisa mengikuti metode Nabi Musa dalam menghindarkan diri dari fitnah dengan membaca doa ini.

Kekhawatiran pengikut Nabi Musa atas perbuatan zalim yang gencar dilakukan Fir’aun. Nabi Musa mengikis kekhawatiran itu. Kunci ketenangan adalah tawakal. Setelah memaksimalkan usaha maka menyerahkan semuanya kepada Allah ﷻ.

KH Muhamad Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan, penggalan doa itu dinilai melebihi permohonan sebelumnya. Itu menunjukkan anugerah keselamatan dari keburukan akidah dan akhlak orang-orang kafir yang dapat mempengaruhi kaum beriman lebih tinggi kedudukannya daripada keselamatan dari siksa dan gangguan mereka.

Bagi Quraish Shihab, ayat ini menjelaskan pentingnya menjauh dari segala macam sumber kejahatan. Doa ini juga sebagai permohonan dibebaskan dari kelemahan dan kehinaan. Wallahu a’lam. (Suhendra)

Selasa 19 Juni 2018 17:15 WIB
Doa sebelum Masuk Rumah Sepulang Perjalanan Mudik
Doa sebelum Masuk Rumah Sepulang Perjalanan Mudik
(Foto: sindonews)
Sepulang dari perjalanan mudik atau perjalanan apapun, kita kembali di kota kediaman dan tentu saja di rumah kediaman kita. Sebelum melangkahkan kaki, kita dianjurkan untuk berdoa memohon ampunan kepada Allah SWT sebagaimana doa Rasulullah SAW berikut ini:

تَوْبًا تَوْبًا، لِرَبِّنَا أَوْبًا، لَا يُغَادِرُ حَوْبًا

Tauban, tauban, li rabbinâ, lâ yughâdiru hauban.

Artinya, “Terimalah tobat kami, terimalah. Kepada Tuhan kami, kami kembali. Pertobatan yang tidak menyisakan dosa.”

Doa ini dikutip Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar berikut ini:

روينا في كتاب ابن السني عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا رجع من سفره، فدخل على أهله قال: توبا توبا، لربنا أوبا، لا يغادر حوبا

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami di Kitab Ibnu Sinni dari Ibnu Abbas RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW sepulang dari perjalanan, lalu menemui keluarganya, berdoa, ‘Tauban, tauban, li rabbinâ, lâ yughâdiru hauban,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 194-195).

Tetapi persis saat membuka kunci pintu dan sebelum melangkahkan kaki, kita dianjurkan mengucapkan salam meskipun rumah dalam keadaan kosong sebagaimana salam Rasulullah SAW berikut ini:

السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ

Assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillahis shâlihîn

Artinya, “Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan untuk kami dan untuk para hamba Allah yang saleh.”

Doa ini mengandung permohonan yang bagus. Permohonan ampunan kepada Allah ini menjadi awal yang baik untuk mengisi kembali rumah setelah ditinggal sekian hari. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)