IMG-LOGO
Haji, Umrah, dan Kurban

Ini Larangan-larangan dalam Ibadah Haji

Kamis 16 Agustus 2018 19:0 WIB
Share:
Ini Larangan-larangan dalam Ibadah Haji
(Foto: news.at)
Jamaah haji dilarang melakukan beberapa hal ketika ia memasuki ihram. Apa yang seharusnya boleh dilakukan di luar ihram menjadi haram selama jamaah haji dalam keadaan ihram. Jamaah haji yang melanggar larangan tersebut kan terkena sanksi yang berkaitan dengan ibadah hajinya.

Syekh Abu Syuja dalam Taqrib menyebut sepuluh hal yang menjadi larangan sepanjang seseorang menunaikan ibadah haji di tanah suci. Semua larangan ini memiliki konsekuensi bila dilanggar oleh jamaah haji yang bersangkutan.

فصل ويحرم على المحرم عشرة أشياء لبس المخيط وتغطية الرأس من الرجل والوجه من المرأة  وترجيل الشعر وحلقه وتقليم الأظفار والطيب وقتل الصيد وعقد النكاح والوطء والمباشرة بشهوة

Artinya, “Pasal. Jamaah haji yang sedang ihram haram melakukan sepuluh hal: mengenakan pakaian berjahit, menutup kepala bagi laki-laki, menutup wajah bagi perempuan, mengurai rambut, mencukur rambut, memotong kuku, mengenakan wewangian, membunuh binatang buruan, melangsungkan akad nikah, dan berhubungan badan. Demikian juga dengan bermesraan dengan syahwat.”

Namun demikian, pandangan Abu Syuja diberi catatan oleh para ulama Syafiiyah sesudahnya. KH Afifuddin Muhajir mendokumentasikan catatan verifikasi para ulama Syafiiyah tersebut. Menurutnya, sebagian larangan haji yang disampaikan Syekh Abu Syuja masuk ke dalam makruh, bukan larangan haji.

ـ (وترجيل) أي تسريح (الشعر) وهذا ضعيف والمعتمد أنه مكروه

Artinya, “(Mengurai) melepas (rambut). Pendapat ini lemah. Pendapat yang muktamad menyatakan bahwa hokum mengurai rambut adalah makruh bagi jamaah haji yang sedang ihram,” (Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, [Situbondo, Al-Maktabah Al-Asadiyyah: 2014 M/1434 H] halaman 92).

Sedangkan Syekh Nawawi Banten menerangkan kelonggaran perihal larangan potong kuku dan rambut atau bulu yang keberadaannya cukup “mengganggu”. Ia menerangkan bahwa potong kuku atau potong sedikit rambut yang menghalangi mata dibolehkan tanpa konsekuensi sanksi.

والخامس  تقليم الأظفار أي إزالتها من يد أو رجل بتقليم أو غيره إلا إذا انكسر بعض ظفر المحرم وتأذى به فله إزالة المنكسر فقط) ولا فدية عليه وكذلك إذا طلع الشعر في العين وتأذى به فله إزالته

Artinya, “(Kelima memotong kuku. Maksudnya, menghilangkan kuku tangan dan kuku kaki dengan cara memotong atau cara lainnya. Tetapi , jika sebagian kuku jamaah haji yang sedang ihram tersebut terbelah dan ia menjadi sakit (terganggu) karenanya, maka ia boleh memotongnya) dan tidak perlu membayar fidyah. Demikian halnya dengan kemunculan rambut atau bulu di mata, dan ia menjadi terganggu karenanya, maka ia boleh mengguntingnya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Tausyih ala Ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, halaman 125).

Meskipun terdapat pengecualian, secara umum semua larangan ini mengandung konsekuensi. Pelanggaran terhadap larangan ini secara umum mengharuskan jamaah haji untuk membayar fidyah baik berupa kambing, puasa, atau sanksi lainnya.

Pelanggaran terberat adalah hubungan seksual yang berdampak pada kerusakan ibadah haji seorang jamaah di tahun tersebut dengan kewajiban meneruskan rangkaian ibadah hajinya hingga selesai, dan kewajiban mengqadhanya pada tahun selanjutnya.

وفي جميع ذلك الفدية إلا عقد النكاح فإنه لا ينعقد ولا يفسده إلا الوطء في الفرج ولا يخرج منه بالفساد في فاسده

Artinya, “Semua larangan itu (jika dilanggar) terdapat sanksi fidyah kecuali akad nikah, maka nikahnya tidak sah. Tidak ada yang merusak haji kecuali larangan hubungan badan melalui kemaluan. Jamaah haji yang melakukan hubungan badan tidak boleh keluar dari rangkaian ibadah haji karena telah rusak ibadahnya (tetapi menyelesaikannya hingga selesai).

Jadi larangan-larangan haji menurut pendapat ulama Syafi’iyah yang muktamad adalah sebagai berikut:
1. Mengenakan pakaian berjahit
2. Menutup kepala bagi laki-laki,
3. Menutup wajah bagi perempuan
4. Mencukur rambut atau bulu,
5. Memotong kuku,
6. Mengenakan wewangian,
7. Membunuh binatang buruan,
8. Melangsungkan akad nikah,
9. Berhubungan badan.
10.Bermesraan dengan syahwat. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Kamis 16 Agustus 2018 16:0 WIB
Inilah Sunnah-sunnah Ibadah Haji
Inilah Sunnah-sunnah Ibadah Haji
(Foto: delfi.ee)
Ibadah haji terdiri atas rukun haji, wajib haji, dan sunnah-sunnah haji. Semua ini yang membuat ibadah haji menjadi sempurna. Masing-masing semua itu memiliki konsekuensi yang berbeda-beda. Sebagian darinya berimplikasi serius bagi manasik haji jamaah yang bersangkutan.

Syekh Abu Syuja dari mazhab Syafi’i dalam Taqrib-nya menyebut tujuh hal yang menjadi sunnah-sunnah haji:
1. Ifrad, yaitu mendahulukan haji dibandingkan umrah.
2. Talbiyah, (membaca "Labbaik allahumma labbaik").
3. Thawaf qudum.
4. Mabit di Muzdalifah.
5. Shalat sunnah thawaf sebanyak dua rakaat.
6. Mabit di Mina.
7. Thawaf wada‘.

Namun demikian, pandangan Abu Syuja diberi catatan oleh para ulama Syafiiyah sesudahnya. KH Afifuddin Muhajir mendokumentasikan catatan verifikasi para ulama Syafiiyah tersebut. Menurutnya, sebagian sunnah haji yang disampaikan Syekh Abu Syuja masuk ke dalam wajib haji, bukan sunnah haji.

و) الرابعة (المبيت بمزدلفة) ليلة النحر. وعده من السنن مرجوح والمعتمد أنه واجب

Artinya, “Keempat (mabit di Muzdalifah) pada malam nahar (9 Dzulhijjah). Pendapat yang menganggap mabit di Muzdalifah ini lemah. Menurut pendapat yang muktamad, mabit di Muzdalifah itu masuk wajib haji,” (Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, [Situbondo, Al-Maktabah Al-Asadiyyah: 2014 M/1434 H] halaman 91).

Kiai Afif mengatakan bahwa pendapat yang memasukkan mabit di Muzdalifah sebagai sunnah haji lemah. Pendapat yang dapat diandalkan menempatkan mabit di Muzdalifah sebagai wajib haji. Catatan ini juga dinyatakan perihal kesunnahan mabit di Mina pada malam-malam hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

ـ (و) السادسة (المبيت بمنى) ليالي أيام التشريق الثلاثة والمعتمد أنه واجب

Artinya, “Keenam (mabit di Mina) pada malam-malam Tasyriq. Menurut pendapat yang muktamad, mabit di Mina itu masuk wajib haji,” (Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, [Situbondo, Al-Maktabah Al-Asadiyyah: 2014 M/1434 H] halaman 91).

Catatan Kiai Afif terakhir perihal sunnah-sunnah haji adalah tawaf wada‘. Thawaf wada‘ merupakan wajib haji menurut pandangan ulama syafi’iyah yang lebih shahih.

ـ (و) السابعة (طواف الوداع) عند إرادة الخروج من مكة، والمعتمد أن طواف الوداع واجب

Artinya, “Ketujuh (tawaf wada‘) ketika ingin meninggalkan Kota Makkah. Menurut pendapat yang muktamad, thawaf wada‘ itu masuk wajib haji,” (Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, [Situbondo, Al-Maktabah Al-Asadiyyah: 2014 M/1434 H] halaman 91).

Jadi sunnah-sunnah haji menurut pendapat ulama Syafi’iyah yang muktamad adalah sebagai berikut:
1. Ifrad, yaitu mendahulukan haji dibandingkan umrah.
2. Talbiyah.
3. Thawaf qudum.
4. Shalat sunnah thawaf sebanyak dua rakaat.

Adapun shalat sunnah thawaf sebanyak dua rakaat dilakukan setelah thawaf. Shalat sunnah thawaf dapat dilakukan di mana saja di tanah haram. Tetapi sedapat mungkin shalat sunnah thawaf ini dilakukan di belakang maqam Ibrahim. 

ـ (و) الخامسة (ركعتا الطواف) أي ركعتان بعد الفراغ من الطواف ويصليهما خلف المقام، فإن لم يتيسر ففي الحجر فإن لم يتيسر ففي المسجد فإن لم يتيسر فحيث شاء من الحرم

Artinya, “Kelima (shalat dua rakaat thawaf), yaitu dua rakaat setelah selesai thawaf. Shalat sunnah thawaf dilakukan di belakang maqam Ibrahim. Kalau tidak mungkin, maka shalat sunnah thawaf dilakukan di Hijir Ismail. Kalau tidak mungkin, shalat sunnah thawaf dilakukan di masjid. Kalau tidak mungkin, maka shalat sunnah thawaf dilakukan di mana saja di tanah haram,” (Lihat KH Afifuddin Muhajir, Fathul Mujibil Qarib, [Situbondo, Al-Maktabah Al-Asadiyyah: 2014 M/1434 H] halaman 91).

Adapun shalat sunnah thawaf dilakukan sebagaimana shalat sunnah pada umumnya. pembacaan Al-Qur’an dalam shalat sunnah thawaf juga dilakukan sebagaimana shalat pada lazimnya.

ـ (ويسر بالقراءة فيهما نهارا) إلا ما بعد الفجر (ويجهر بها ليلا) وما بعد طلوع الفجر إلى طلوع الشمس

Artinya, “(Al-Quran dibaca perlahan (sirr) pada shalat sunnah thawaf di siang hari) kecuali setelah fajar. (Al-Quran dibaca lantang (jahar) di malam hari) dan setelah terbit fajar hingga terbit matahari,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Tausyih ala Ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, halaman 123). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Jumat 3 Agustus 2018 18:0 WIB
Pelaksanaan Haji Sebelum dan Sesudah Datangnya Islam
Pelaksanaan Haji Sebelum dan Sesudah Datangnya Islam
Ilustrasi (via delfi.ee)
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah SWT.” (QS al-Baqarah: 196)

Haji merupakan rukun Islam yang kelima. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, haji diwajibkan kepada setiap umat Islam yang memiliki kemampuan (istitho’ah) untuk mengerjakannya, baik kemampuan materi (biaya untuk berangkat dan keluarga yang ditinggalkan) atau pun kemampuan fisik (sehat). Dengan demikian, istitho’ah menjadi syarat utama dalam pelaksanaan ibadah haji.

Ada banyak pendapat tentang kapan haji pertama kali diwajibkan bagi umat Islam. Pertama, haji menjadi syariat Islam dan wajib dilaksanakan pada tahun ke-9 Hijriyah. Kelompok pertama mendasarkan pendapatnya dengan turunnya QS. Ali-Imran ayat 97 tentang kewajiban menjalankan ibadah haji. Kedua, haji diwajibkan pada tahun ke-6 Hijriyah. Pendapat kedua ini merujuk QS. Al-Baqarah ayat 196 yang turun pada tahun ke-6 Hijriyah.

Di samping kedua pendapat di atas, ada yang berpandangan kalau haji diwajibkan bagi umat Islam sejak tahun ke-4 Hijriyah. Bahkan, ada yang berpendapat kalau pensyariatan haji terjadi pada tahun ke-10 Hijriyah. 

Namun yang pasti, jauh sebelum umat Islam diwajibkan melaksanakan haji, banyak umat terdahulu yang juga sudah mengerjakan praktik ibadah haji. Masyarakat Mekkah dan sekitarnya berbondong-bondong menunaikan haji di Ka’bah. Mereka juga menjadikan bulan Dzulhijjah sebagai salah satu bulan yang suci, selain bulan Rajab, dan tidak diperkenankan melakukan perang selama bulan suci tersebut. 

Tapi, apa perbedaan dan persamaan pelaksanaan ibadah haji antara sebelum ada Islam dan sesudah datangnya Islam?  

Merujuk buku Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim, setidaknya ada dua  perbedaan dalam pelaksanaan ibadah haji pada periode pra-Islam dan periode Islam. Pertama, tempat haji. Pada periode pra-Islam, orang yang mengerjakan ibadah haji hanya berpusat di Ka’bah. Mereka menganggap bahwa hanya Ka’bah lah yang sakral, sementara tempat lainnya tidak.

Sementara pada periode Islam, ibadah haji tidak hanya berpusat di Ka’bah, tapi juga di tempat-tempat lainnya seperti Arafah. Rasulullah menyebutkan secara eksplisit bahwa haji adalah Arafah. Maka tidak heran jika puncak dari pelaksanaan haji umat Islam (periode Islam) adalah menetap (wukuf) dan berdoa di Padang Arafah pada sembilan Dzulhijjah. Haji mereka tidak sempurna kalau tidak menetap di Padang Arafah.  

Selain itu, haji pada periode Islam juga mengunjungi situs-situs lainnya seperti Mina untuk melempar jumrah, Muzdalifah untuk daerah menginap (mabit), bukit Safa dan Marwah sebagai tempat Sa'i.

Kedua, waktu haji. Umat sebelum Islam melaksanakan ibadah haji pada saat musim panen. Alasannya, mereka bisa menunaikan ibadah haji sekaligus menjual hasil panennya di Mekkah. Perlu diketahui bahwa dulu orang datang ke Mekkah dengan berbagai macam tujuan; ada yang ingin berhaji, ada yang ingin berhaji dan berdagang, ada yang ingin menyebarkan agamanya, ada ada pula yang datang ke Mekkah untuk membaca puisi. Mereka yang berhaji pada musim panen biasanya datang dari wilayah Yaman dimana sektor pertaniannya lumayan berkembang.

Adapun haji pada periode Islam dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah. Yakni mulai dari tanggal delapan hingga 13 Dzulhijjah. Ini adalah waktu yang pakem dan sudah ditentukan oleh Allah. Tidak bisa dirubah-rubah lagi.

Selama itu, jamaah haji melaksanakan serangkaian ritual ibadah haji seperti tawaf di Ka`bah, berjalan-jalan kecil (sa`i) di Mas`a (Safa dan Marwa), menetap (wukuf) di Padang Arafah, menginap (mabit) di Muzdalifah, dan melempar jumrah di Mina. Singkatnya, pada saat Islam datang, ritual ibadah haji mengalami penyempurnaan. 

Sedangkan persamaannya adalah –haji pra-Islam dan periode Islam sama-sama, mampu membangkitkan gairah perekonomian, terutama masyarakat yang tinggal di sekitar Mekkah. Selain itu, haji juga menjadi ajang pertemuan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Meski beda bahasa, budaya, ras, etnik, dan warna kulit, namun mereka berkumpul di satu titik untuk menunaikan ibadah haji. (A Muchlishon Rochmat)
Jumat 27 Juli 2018 17:0 WIB
Mana Lebih Baik, Berkurban dengan Hewan Jantan atau Betina?
Mana Lebih Baik, Berkurban dengan Hewan Jantan atau Betina?
Ilustrasi (farmonline)
Saat membeli hewan kurban, kita diharuskan untuk memilih dan memastikan sendiri bahwa hewan yang akan kita jadikan sebagai hewan kurban tersebut memenuhi syarat-syarat sebagai hewan kurban, baik sapi, kambing, maupun unta (jika ada).

Namun beberapa orang terkadang bingung untuk memilih jenis kelamin hewan yang akan dijadikan kurban, baik jantan maupun betina. Terlebih, semua orang pasti menginginkan untuk melaksanakan keutamaan beribadah kurban.

Lalu bagaimana dengan jenis kelamin hewan yang akan dijadikan sebagai hewan kurban, mana yang lebih baik, jantan atau betina?

Secara eksplisit tidak dijelaskan dalam suatu nash, baik Al-Qur’an maupun hadits terkait pilihan dan keutamaan jenis kelamin tertentu untuk hewan kurban. Namun para ulama mengqiyaskan kasus jenis kelamin hewan kurban ini dengan hewan untuk aqiqah.

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmū’ Syarḥ al-Muhadzzab juga pernah menjelaskan terkait hal ini. Menurut An-Nawawi, jenis kelamin hewan kurban ini dianalogikan dengan hadits yang menjelaskan kebolehan untuk memilih jenis kelamin jantan maupun betina untuk aqiqah.

ويجوز فيها الذكر والانثى لما روت أم كرز عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: على الغلام شاتان وعلى الجارية شاة لا يضركم ذكرانا كن أو أناثا 

Artinya: “Dan diperbolehkan dalam berkurban dengan hewan jantan maupun betina. Sebagaimana mengacu pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Kuraz dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau pernah bersabda “(aqiqah) untuk anak laki-laki adalah dua kambing dan untuk perempuan satu kambing. Baik berjenis kelamin jantan atau betina, tidak masalah.” (Lihat: An-Nawawi, al-Majmū’ Syarḥ Muhazzab, Beirut: Dār al-Fikr, tt., j. 8, h. 392)

Menurut An-Nawawi, jika jenis kelamin jantan maupun betina dalam hal aqiqah saja tidak dipermasalahkan maka dalam konteks kurban juga sama. Tidak ada masalah.

وإذا جاز ذلك في العقيقة بهذا الخبر دل على جوازه في الاضحية ولان لحم الذكر أطيب ولحم الانثى أرطب

Artinya: “Jika dalam hal aqiqah saja diperbolehkan dengan landasan hadits tersebut, maka hal ini menunjukkan kebolehan untuk menggunakan hewan berjenis kelamin jantan maupun betina dalam kurban. Karena daging jantan lebih enak dari daging betina, dan daging betina lebih lembab.” (Lihat: An-Nawawi, al-Majmū’ Syarḥ Muhazzab, Beirut, Dār al-Fikr, tt., j. 8, h. 392)

Oleh karena itu, tidak ada keutamaan dalam memilih jenis kelamin untuk hewan kurban, baik jantan maupun betina, tidak ada yang lebih diutamakan. Karena yang paling penting adalah kesesuaian hewan-hewan yang akan digunakan untuk kurban dengan syarat-syarat sahnya hewan kurban. Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)