IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Hadiah dari Nabi Muhammad untuk Umatnya

Sabtu 18 Agustus 2018 21:30 WIB
Share:
Hadiah dari Nabi Muhammad untuk Umatnya
Rasa cinta Nabi Muhammad ﷺ untuk umatnya tak perlu dipertanyakan lagi. Kesabaran hati beliau dalam membimbing para sahabat dengan rasa cinta selalu menjadi teladan bagi umatnya. Cukuplah kita mendengar bahwa Baginda Nabi di penghujung waktu menuju ke haribaan Tuhan semesta alam sangat mengkhawatirkan umatnya. 

Saat detik-detik kewafatannya, Rasulullah ﷺ sangat peduli terhadap umatnya, beliau bertanya kepada malaikat, “Bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa pun, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” tegas malaikat Jibril kepada Nabi. 

Dalam kitab Sunan an-Nasa’i disebutkan suatu hadits yang berbunyi:

عَنْ أَبِي لَيْلَى قَالَ: قَالَ لِي كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ أَلَا أُهْدِي لَكَ هَدِيَّةً؟ قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ قَدْ عَرَفْنَا كَيْفَ السَّلَامُ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ قَالَ: قُوْلُوا اّللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى الِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ال مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى الِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Dari Ibnu Abi Laila, berkata, Ka'ab bin ‘Ujrah berkata padaku, "Maukah kau aku beri hadiah?” (Ka’ab pun menceritakan kisahnya ketika bersama Nabi), “Kami berkata, ‘Sungguh kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepadamu, tapi bagaimana bershalawat kepadamu?’ Rasulullah bersabda, ‘Katakanlah, 'Allâhumma shalli 'alâ Muhammad wa 'alâ âli Muhammad, kamâ shallaita 'alâ âli Ibrâhîm innaKa Hamîdun Majîd, Allâhumma bârik 'alâ Muhamad wa ‘alâ âli Muhamad kamâ bârakta 'alâ âli Ibrâhîm innKa Hamîdun Majîd (Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau memberi shalawat atas Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha-Terpuji dan Maha-Mulia. Ya Allah, berilah berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Engkau Maha-Terpuji dan Maha-Mulia.” (HR Nasa`i)

Hadits di atas mengindikasikan hadiah yang berbentuk shalawat untuk diamalkan oleh para Sahabat. Memang hadits ini bertema tentang shalawat yang dibaca ketika tahiyyat akhir. Dan shalawat ini sangat masyhur bagi kita, yaitu shalawat Ibrahimiyyah.

Kendati demikian, kita perlu renungi makna hadiah tersebut. Hadiah yang ditawarkan bukanlah berbentuk materi, atau sesuatu yang mewah dalam kacamata dunia. Namun jika ditinjau dari sisi hikmah dan filosofinya, betapa berharganya nilai hadiah ini.

Dalam kitab Mar’âh al-Mafâtîh Syarah Misykâh al-Mashâbîh, Syekh al-Mubârakfûri menjelaskan makna hadits ini, khususnya makna kata hadiah, beliau mendefinisikannya dengan:

وَالْهَدِيَّةُ مَا يَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى الْمُهْدَى إِلَيْهِ تَوَدُّدًا وَإِكْرَاماً.

“Hadiah adalah sesuatu yang mendekatkan kepada seorang yang diberi sebagai tanda cinta dan penghormatan.” (Al-Mubârakfûri, Mar’âh al-Mafâtîh Syarah Misykâh al-Mashâbîh, Idârah al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa ad-Da’wah wa al-Ifta`, cetakan ke-3, juz ke-3, halaman 249)

Jika melihat definisi diatas, betapa luar biasanya hadiah tersebut. Seakan-akan baginda Nabi mengisyaratkan pada kita semua, “Amalkanlah shalawat ini, aku berharap dapat mendekatkan kalian kepadaku.”Ya, meski pun khitab atau lawan bicara yang dihadapkan ketika itu adalah para sahabat, namun tidak menafikan himbauan beliau kepada kita untuk mengamalkannya.

Adapun mengenai keutamaan shalawat, Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيْئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda.”Barangsiapa yang bershalawat satu kali kepadaku, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, dan menghapus sepuluh kesalahan darinya, serta mengangkat derajatnya sepuluh kali.” (HR. an-Nasa`i)

Semoga kita dapat mengamalkan banyak shalawat setiap harinya, hingga menambahkan kedekatan kita kepada Rasulullah ﷺ, sehingga kita dapat menggapai syafa’at yang agung di hari kiamat nanti. Amiin. (Amien Nurhakim)

Tags:
Share:
Kamis 16 Agustus 2018 12:0 WIB
Jawaban Diplomatis Ibnu Al-Jauzi saat Sunni-Syiah Bersengketa
Jawaban Diplomatis Ibnu Al-Jauzi saat Sunni-Syiah Bersengketa
Ilustrasi (thesufi.com)
Tidak mudah untuk menjaga sikap bagi seorang figure publik. Perilakunya selalu menjadi sorotan publik. Tindak tanduknya kerap diikuti oleh banyak orang. Pernyataannya acap kali dijadikan referensi, baik untuk menyanjung atau menyerang. Sekali saja ia berbuat atau berucap yang provokatif, dampaknya akan menyebar luas di tengah masyarakat. Terlebih bagi seorang tokoh yang menjadi pemersatu umat, ia tidak boleh mengeluarkan statemen yang dapat menyudutkan kelompok tertentu. Segala ucapan, perbuatan dan langkahnya harus betul-betul diterima semua kalangan. Inilah yang dicontohkan oleh ulama besar, Syekh Ibnu al-Jauzi.

Nama lengkapnya adalah Syekh Abdurrahman Abu al-Faraj bin Ali bin Muhammad al-Jauzi al-Qurasyi al-Baghdadi. Beliau lahir pada tahun 508 H dan wafat tahun 597 H. Beliau lahir dan wafat di kota Baghdad. Seorang yang sangat alim di masanya terutama di bidang sejarah dan hadits. Di antara karyanya al-Adzkiya’ wa Akhbaruhum, Manaqib Umar bin Abdil Aziz, Tarikh Hukama’ al-Islam, dan lain sebagainya.

Suatu ketika Syekh Ibnu al-Jauzi tengah menyampaikan khutbah, lalu beliau didatangi dua rombongan dari kelompok besar, Asya’irah (Sunni) dan Syi’ah. Asya’irah adalah kelompok yang dalam teologi mengikuti Syekh Abu al-Hasan al-Asy’ari. Syi’ah adalah kelompok yang sangat fanatik dengan Sayyidina Ali dan para keturunannya.

Dua rombongan tersebut masing-masing membawa pedang layaknya orang yang hendak berperang. Perseteruan itu dipicu salah satunya oleh pandangan yang berbeda dari keduanya, berkaitan dengan sebuah keyakinan tentang manusia terbaik setelah Nabi Muhammad ﷺ. Kelompok Asya’irah meyakini bahwa sepeninggal Baginda Nabi Muhammad, yang terbaik adalah Sayyidina Abu Bakr Al-Shiddiq. Sementara bagi kaum Syi’ah, Sayyidina Ali yang paling utama. Kedua kelompok besar ini datang untuk meminta pendapat Syekh Ibnu al-Jauzi.

“Siapa yang lebih utama, lebih dekat dan lebih dicintai Rasulullah ﷺ wahai Syekh, Abu Bakr atau Ali?” demikian pertanyaan yang terlontar.

Pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh Ibnu al-Jauzi. Jika ia menjawab Abu Bakr yang lebih utama, pasti Syi’ah marah. Jika dijawab Ali lebih mulia, kelompok Asya’irah yang tidak terima.

Ibnu al-Jauzi sejenak berpikir untuk menemukan jalan keluar dari kondisi dilematis yang menimpanya, agar jawabannya dapat diterima kedua kelompok besar yang meminta fatwanya. Setelah berpikir, beliau menemukan jawabannya. Dengan cerdik, beliau melontarkan jawaban yang sangat diplomatis:

اَلْأَفْضَلُ مَنْ كَانَتْ بِنْتُهُ تَحْتَهُ

“Yang paling utama adalah dia yang putrinya menjadi istrinya.”

Sebuah jawaban yang sangat cerdik. Baik Asya’irah maupun Syi’ah masing-masing dapat menerimanya. Asya’irah memahami statemen Ibnu al-Jauzi di atas mengarah kepada Abu Bakr. Sebab menurut mereka, dlamir (kata ganti) yang ada pada redaksi “bintuhu” merujuk kepada Abu Bakr, sedangkan dlamir yang ada pada redaksi “tahtahu” mengarah kepada Nabi Muhammad ﷺ. Jadi menurut pemahaman mereka, maksud ucapan Ibnu al-Jauzi adalah “Yang paling utama adalah dia yang putrinya (Abu Bakr) menjadi istrinya (Nabi).” Seperti diketahui, Aisyah tidak lain adalah putri Abu Bakr yang menjadi istri Rasulullah.

Demikian pula dengan kelompok Syi’ah, mereka sangat puas dengan jawaban Ibnu al-Jauzi. Menurut mereka, jawaban Ibnu al-Jauzi di atas mengarah kepada Ali bin Abi Thalib. Mereka memahami kata ganti (dlamir) pada ucapan Ibnu al-Jauzi berbeda dengan yang dipahami Asya’irah. Menurut mereka, dlamir yang ada pada redaksi “bintuhu” merujuk kepada Nabi, sedangkan dlamir yang ada pada redaksi “tahtahu” mengarah kepada Sayyidina Ali. Menurut mereka, maksud ucapan Ibnu al-Jauzi di atas adalah “Yang paling utama adalah dia yang putrinya (Nabi Saw) menjadi istrinya (Sayyidina Ali).” Merupakan hal yang maklum, istri Ali adalah Fathimah, putri Nabi.

Karena jawaban Ibnu al-Jauzi yang multi tafsir, dua kelompok besar yang mengadu kepadanya memahami sesuai kecenderungan masing-masing. Letak perbedaannya ada pada marji’ dlamir yang ada pada kata “bintuhu” dan “tahtahu”.

Demikianlah selayaknya seorang publik figur bersikap, fatwanya dapat diterima semua kalangan tanpa menimbulkan perpecahan di tengah-tengah umat. (M. Mubasysyarum Bih)


Disarikan dari kitab al-Fawaid al-Mukhtarah karya Habib Ali bin Hasan Baharun, hal. 89)

Selasa 14 Agustus 2018 19:0 WIB
Tiga Keistimewaan Madinah
Tiga Keistimewaan Madinah
“Ya Allah anugerahilah kami cinta kepada Madinah, sebagaimana cinta kami pada Makkah, berkah cinta yang lebih kepada Madinah.” Demikian hadist riwayat Aisyah yang menunjukkan betapa Nabi Muhammad saw. sangat cinta pada Madinah.

Madinah berada 500 kilometer utara Kota Makkah. Madinah terletak di dataran tinggi dan di persimpangan tiga lembah yaitu lembah Aql, lembah Himd, dan lembah Aqiq. Madinah merupakan wilayah yang dikelilingi gunung. Di sebelah barat ada gunung Haji, di barat laut ada gunung Salaa, di bagian selatan ada gunung Ir, dan di utara ada gunung Uhud. 

Dulu wilayah ini dinamakan Yatsrib. Dikisahkan bahwa nama itu mengacu pada orang yang pertama kali menetap di wilayah itu yaitu Yatsrib bin Qaniyah bin Mahlail bin Iram bin Abil bin Iwadh bin Iram bin Sam bin Nuh as. sekitar tahun 2600 M. Dalam tradisi Arab, menamakan suatu wilayah dengan nama orang yang pertama kali tinggal di situ adalah sebuah penghargaan. 

Nama Yatsrib bertahan hingga berabad-abad lamanya. Hingga akhirnya Nabi Muhammad saw. mengganti namanya menjadi Madinah pada saat beliau hijrah ke wilayah itu pada tahun 622 M. Sampai akhir hayatnya, Nabi Muhammad saw. tinggal di Madinah selama 10 tahun. 

Nabi Muhammad saw. merubah nama Yatsrib menjadi Madinah bukan tanpa sebab. Ada komitmen untuk melahirkan sebuah peradaban dan tatanan baru di kota Madinah. Dan terbukti, Nabi Muhammad saw. dan umat Islam berhasil menjadikan Madinah sebagai pusat peradaban pada masanya. Nabi Muhammad saw. sukses menjadikan Madinah sebagai laboratorium toleransi dimana masyarakatnya hidup rukun di bawah konstitusi bersama, Piagam Madinah. 

Dari Madinah pula, dakwah Islam berkembang pesat ke seluruh jazirah Arab bahkan ke seluruh penjuru dunia. Tidak perlu meragukan lagi bahwa Madinah menyimpan banyak sejarah yang panjang, utamanya terkait dengan sejarah kebangkitan Islam. Ditambah, Madinah juga menyimpan banyak cerita tentang kehidupan Nabi Muhammad saw. 

Lalu, jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya, apa keistimewaan Madinah? Apa yang membuat orang-orang untuk datang ke sana? Dan apa yang membuat Madinah ‘beda’ dengan yang lainnya?

Merujuk buku Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad saw., setidaknya ada tiga keistimewaan kota Madinah. Pertama, Kota Nabi. Jika Makkah identik dengan Nabi Ibrahim as. karena telah membangun Ka’bah, maka Madinah identik dengan Nabi Muhammad saw. Iya, Nabi Muhammad saw. adalah orang yang mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah. Dia adalah orang yang berhasil menyatukan suku-suku yang terus berselisih dengan Piagam Madinah. Dia pula orang yang berhasil menjadikan Madinah sebagai pusat peradaban pada masanya. 

Di samping itu semua, Nabi Muhammad saw. menghabiskan sisa umurnya di Madinah. Meski berhasil menaklukkan Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah, tapi Nabi Muhammad saw. tidak lantas tinggal di sana. Ia memilih untuk kembali ke Madinah karena saking cintanya dengan kota ini. Hingga akhirnya ia wafat dan jasadnya dikebumikan di bumi Madinah. Maka tidak heran jika Madinah dikenal sebagai Kota Nabi. 

Nabi Muhammad saw. juga berhasil menjadikan Madinah sebagai kota suci kedua umat Islam setelah Makkah. Sehingga siapapun tidak diperkenankan untuk melangsungkan peperangan dan perbuatan-perbuatan kotor lainnya yang dapat mencemari kesucian Madinah. 

"Sesungguhnya keimanan akan berpusat di Madinah, sebagaimana ular berpusat di rongga-rongga lubang bumi," kata Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadist. 

Dikisahkan, saking menghormati kesucian Madinah, Imam Malik -salah satu imam madzhab empat- tidak mau mengendarai hewan apapun saat memasuki Kota Nabi itu. Alasannya, ia malu menginjak bumi Madinah dengan menggunakan kaki hewan. Hal yang sama juga dilakukan Imam Syafi’i. 

Kedua, Kota Ilmu. Sebuah peradaban besar tidak akan eksis tanpa adanya ilmu pengetahuan. Begitu pun peradaban Islam. Pada zaman Nabi Muhammad saw. ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang sangat penting. Ada banyak cerita soal ini. Salah satunya adalah cerita tentang tawanan perang yang akan dilepaskan manakala mereka bersedia mengajar baca tulis anak-anak Muslim. 

Masjid Nabawi menjadi pusat kegiatan pendidikan. Nabi Muhammad saw. memberikan pengajaran –utamanya ajaran-ajaran keislaman- kepada para sahabatnya di masjid ini. Di sini pula Nabi dan para sahabat berdiskusi tentang banyak hal. Mulai dari persoalan sosial hingga politik. Masjid Nabawi berubah menjadi pusat aktivitas umat Islam saat itu. Tidak hanya tempat ibadah saja. 

Aktifitas belajar mengajar di Masjdi Nabawi terus berkembang hingga ke generasi berikutnya. Tercatat, empat imam madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali juga pernah belajar di Masjid Nabawi. Tradisi keilmuan itu terus berkembang bahkan hingga hari ini. Saat ini ada beberapa universitas prestisius di Madinah, diantaranya Universitas Islam Madinah, Universitas Taibah, Sekolah Tinggi Teknologi Madinah, Sekolah Tinggi Industri Yanbu, dan lainnya. 

Ketiga, Kota Pertanian. Madinah dikenal sebagai kota yang subur dan banyak air. Lembah Aqiq menjadi lembah yang paling subur di Madinah karena dialiri air langsung dari sumur Rauma. Sehingga dari dulu banyak masyarakat Madinah yang bertani. Termasuk para sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan lainnya. 

Ada banyak sumur di Madinah yang berfungsi untuk pengairan lahan-lahan pertanian seperti sumur Rauma, A’waf, Bidha’ah, Birha, dan Gharas. Di samping itu, di Madinah juga ada banyak gunung berapi. Hal inilah yang menyebabkan tanah Madinah menjadi subur. 

Salah satu hasil pertanian Madinah yang terkenal adalah kurma. Tanah Madinah memang sangat cocok ditanami kurma.  Banyak orang yang menanam kurma sehingga Madinah menjadi salah satu kota yang memiliki ladang kurma terbesar. (A Muchlishon Rochmat)
Sabtu 11 Agustus 2018 6:30 WIB
Keutamaan Shalawat: Rasulullah Menolong Jenazah yang Wajahnya Menghitam
Keutamaan Shalawat: Rasulullah Menolong Jenazah yang Wajahnya Menghitam
Sufyan As-Sauri pernah menuturkan sebuah pengalamannya ketika sedang berada di Masjidil Haram.

Satu saat Sufyan As-Sauri berthawaf mengililingi ka’bah. Saat itu ia bertemu dengan seorang laki-laki yang juga sedang berthawaf. Yang menarik perhatiannya adalah bahwa setiap kali laki-laki itu mengangkat kakinya dan setiap kali ia meletakkan kembali kakinya di tanah pastilah ia barengi dengan membaca shalawat kepada Nabi.

Hal itu membuat Sufyan As-Sauri penasaran dan memberanikan diri bertanya kepadanya. “Saudara, aku lihat engkau tidak membaca tasbih dan tahlil, namun engkau selalu membaca shalawat Nabi. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada dirimu?”

Mendapat pertanyaan demikian laki-laki itu menjawab dengan bertanya, “Anda siapa? Semoga Allah mensejahterakan Anda.”

“Aku Sufyan As-Sauri,” jawab Sufyan.

Laki-laki itu berkata, “Kalau saja engkau bukan orang asing di masamu maka tak akan aku ceritakan keadaanku kepadamu dan tak akan aku perlihatkan rahasiaku kepadamu.”

Kemudian laki-laki itu bercerita:

“Dulu aku dan bapakku pergi berhaji ke Baitullah. Hingga ketika kami sampai di suatu tempat bapakku jatuh sakit dan aku berusaha untuk mengobatinya. Hinga pada satu malam ketika aku ada di sisinya bapakku meninggal dunia dan wajahnya berubah menjadi hitam. Aku berucap innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn, bapakku meninggal dan wajahnya berubah menjadi hitam. Lalu kututupkan kain ke mukanya.

Setelah itu aku diserang kantuk yang amat sangat. Dalam tidurku aku melihat seorang laki-laki yang belum pernah aku melihat orang yang setampan dia, sebersih pakaiannya, dan sewangi baunya. Ia melangkahkan kaki hingga mendekati bapakku dan menyingkap kain yang menutupi wajahnya. Kemudian ia usapkan telapak tangannya ke muka bapakku dan seketika muka itu menjadi putih. Lalu ia berpaling hendak kembali. Namun aku memegangi pakaiannya seraya berkata, “Siapakah Tuan yang Allah telah memberikan anugerah kepada bapakku melalaui tangan Tuan di negeri asing ini?”

“Engkau tak mengenaliku?” Laki-laki itu balik bertanya lalu berkata, “Aku Muhammad putra Abdullah, pemilik Al-Qur’an. Orang tuamu dahulu adalah orang yang berlebih-lebihan pada diri sendiri. Namun ia selalu memperbanyak membaca shalawat kepadaku. Maka ketika terjadi apa yang terjadi padanya ia meminta tolong kepadaku, dan aku adalah penolong orang yang memperbanyak bershalawat kepadaku.”

Aku terbangun dari tidurku, dan kulihat wajah bapakku telah berubah menjadi putih. Demikian Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani mengisahkan dalam kitabnya Afdlalus Shalawât ‘alâ Sayyidis Sâdât.

Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)