IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Kala Sumber Mata Air Zamzam Hilang

Ahad 19 Agustus 2018 6:0 WIB
Share:
Kala Sumber Mata Air Zamzam Hilang
Foto: kapl-hajj.org
“Air zamzam adalah panglima dari segala air, yang di dalamnya tersimpan kemuliaan, disukai setiap jiwa, tidak terbayarkan dan karenanya dicari setiap insan.” (Ibnu Qayyim al-Jawziyah)

Sumur zamzam berjarak 21 meter dari Ka'bah. Sementara lubang sumur berada di bawah Mataf (daerah sekeliling sekitar Ka'bah) di dekat hajar aswad (batu hitam). Air di sumur zamzam mengalir dari dua sisi: sisi Ka'bah dan sisi gunung Abu Kubais dan al-Safa.

Dewasa ini, air yang dipompa dari sumur zamzam mencapai 11 hingga 18 liter per detik. Ada dua pompa yang beroperasi selama 24 jam penuh. Selama hari-hari biasa, air zamzam yang dipompa sekitar 150 ribu liter. Sementara pada musim haji naik mencapai 450 liter. Air tersebut lalu dipindahkan ke Pusat Distribusi Air Raja Abdullah Zamzam di Kudy. Lalu kemudian didistribusikan ke tempat-tempat yang sudah ditetapkan kerajaan Saudi.

Seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim bahwa air zamzam adalah air yang sangat istimewa. Sehingga setiap orang yang datang ke Makkah, pasti mencari air zamzam. Tidak lain, hal itu datang dari sebuah keyakinan bahwa air zamzam mengandung banyak khasiat. Dengan meminumnya, mereka berharap akan mendapatkan tuahnya. 

Air zamzam memiliki sejarah yang panjang. Memang, ada beberapa versi tentang sejarah eksistensi mata air zamzam. Namun yang masyhur adalah cerita Ismail dan Hajar, istri Nabi Ibrahim as. 

Mata air zamzam adalah anugerah Allah untuk Ismail dan Hajar manakala mereka berada dalam krisis persediaan makanan dan air usai ditinggalkan Nabi Ibrahim saw. Dikisahkan, Hajar berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke Marwah untuk mencari makanan dan minuman. Ia juga berdoa kepada Tuhan untuk menolong mereka. Pada saat itu, Allah mengutus Jibril untuk menyelamatkan keduanya. Hingga akhirnya kaki Ismail yang masih kecil menggerak-gerakkan ke tanah dan keluar lah air. 

Sumber mata air hasil injakan kaki Ismail as. itu kemudian dikenal dengan mata air zamzam. Sebuah mata air yang tidak pernah kering hingga hari ini. Ia menjadi sumber kehidupan masyarakat Arab dan masyarakat luar yang datang ke Ka’bah untuk menunaikan haji atau umrah. 

Namun, tahukah kamu kalau mata air zamzam pernah hilang –ada yang mengatakan sengaja dihilangkan atau ditutupi? 

Ada banyak pandangan mengapa mata air zamzam bisa hilang. Pertama, faktor geografis. Pandangan ini menyebutkan kalau mata air zamzam hilang karena tertutup saat hujan. Kedua, faktor teologis. Kabilah Jurhum berbuat maksiat dan melakukan kedzaliman sehingga Allah mengazab mereka dengan menghilangkan air zamzam, sumber kehidupan masyarakat Arab. 
Pandangan lain mengatakan kalau mata air zamzam hilang karena musuh kabilah Jurhum sengaja menutupi mata air zamzam dengan barang bawaan mereka yang sangat banyak. Disebutkan bahwa mata air zamzam hilang tidak hanya setahun dua tahun, tapi sampai tiga tahun.  

Hilangnya mata air zamzam menyebabkan krisis di tengah masyarakat Makkah, utamanya para jamaah haji. Tidak sedikit pula dari mereka yang meninggalkan Makkah dan mengungsi ke Yaman. 

Masyarakat Makkah mulai menggali dan mencari mata air baru untuk memenuhi kebutuhan mereka dan para jamaah haji yang datang. Mereka memang akhirnya menemukan sumber mata air baru seperti mata air Maimun Hadhari, mata air Murrah, mata air al-Ghamr, dan lainnya. Namun, mata air tersebut berada di luar Makkah. Mereka harus membawa air tersebut ke Makkah untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji. Ini menjadi kesulitan yang amat. Ditambah datangnya musim kemarau panjang yang membuat mata air tersebut kering.

Menurut buku Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim, adalah  Abdul Muthalib yang akhirnya menemukan kembali sumber mata air zamzam. Di saat masyarakat Makkah mengalami krisis air yang panjang, Abdul Muthalib mengajak para pimpinan kabilah rapat untuk mengatasi persoalan itu. Forum rapat tersebut menyatakan kalau seandainya sumber mata air zamzam ditemukan, maka persoalan krisis air akan berakhir.

Singkat cerita, Abdul Muthalib menerima pesan dari langit untuk menggali sumber mata air zamzam saat tidur. Ia bermimpi dan mendapatkan perintah untuk menggali sumber mata air zamzam yang hilang bertahun-tahun itu. Bersama anaknya, Harits, Abdul Muthalib menggali sebidang tanah yang di atasnya berdiri berhala. 

Ia yakin, itulah tempat yang ada dalam mimpinya. Ia dan anaknya terus menggali hingga akhirnya menemukan banyak perkakas seperti emas, pedang, baju perang, dan benda lainnya. Setelah barang-barang itu diangkut, maka keluarlah air. Dan sumber mata air zamzam telah ditemukan kembali. (A Muchlishon Rochmat) 
Share:
Ahad 19 Agustus 2018 17:45 WIB
Delapan Fakta dan Keistimewaan Hajar Aswad
Delapan Fakta dan Keistimewaan Hajar Aswad
Ilustrasi (via aboutIslam.net)
Hajar Aswad merupakan batu hitam yang awal mulanya berasal dari surga. Sebelum berwarna hitam seperti yang dapat kita saksikan sekarang, Hajar Aswad berwarna putih. Namun karena dosa-dosa manusia, batu ini kemudian berubah menjadi hitam.
 
Ada beberapa fakta tentang kelebihan yang dimiliki Hajar Aswad sebagaimana diungkapkan oleh Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki dalam karyanya Al-Hajj Fadlail wa Ahkam, halaman 263 sebagai berikut:

Pertama, agama mensyariatkan mencium serta mengusapkan tangan pada batu hitam ini. Hal tersebut sesuai dengan kisah Sayyidina Umar radliyallahu anh, yang suatu saat mendatangi Hajar Aswad lalu menciumnya. Umar berkata:

إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ، لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

Artinya: “Sungguh, aku tahu, kamu hanya batu. Tidak bisa memberi manfaat atau bahaya apa pun. Andai saja aku ini tak pernah sekalipun melihat Rasulullah shallahu alaihi  wa sallam menciummu, aku pun enggan menciummu.” (HR Bukhari) 

Hadits di atas dapat kita pahami, Umar telah menyaksikan Rasul mencium Hajar Aswad dengan mata kepalanya sendiri, sehingga menjadikannya ingin meniru perilaku Nabi sebagaimana di atas. 

Meski secara kasat mata batu itu tidak bisa memberi manfaat dan bahaya sama sekali, menurut Musthafa Dib al-Bagha, Hajar Aswad tetap bisa memberi manfaat dari sisi mendatangkan pahala menciumnya. Sunnah Nabi-lah  yang mengakibatkan pahala itu bisa didapatkan. Bukan semata-mata Karena batu itu bertuah.

Kedua, Hajar Aswad menduduki tempat paling mulia di muka bumi ini. Terletak tepat di pojok Ka’bah pada bagian timur laut Ka’bah. Sudut ini yang dibangun pertama kalinya oleh Nabi Ibrahim bersama Ismail. 

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan Kami terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Al-Baqarah: 127) 

Ketiga, Hajar Aswad berada di tempat di mana posisinya selalu menjadi permulaan tawaf, yaitu terletak pada bagian sudut timur laut dari bangunan Ka’bah. Sedangkan semua orang tawaf selalu memulai tawafnya dari situ. 

Keempat, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Ubaid, Baginda Rasulullah mengkiaskan Hajar Aswad sebagai ‘tangan Allah’ di bumi. Barangsiapa yang mengusap Hajar Aswad, seolah-olah sedang bersalaman dengan Allah subhânahu wa ta’âlâ. Selain itu, ia dianggap seperti sedang berbaiat kepada Allah dan Nabi Muhammad shallallahu ‘allaihi wa sallam. Sesuai dengan sabda Baginda Nabi Muhammad: 

مَنْ فَاوَضَهُ، فَإِنَّمَا يُفَاوِضُ يَدَ الرَّحْمَنِ

Artinya: “Barangsiapa bersalaman dengannya (Hajar Aswad), seolah-olah ia sedang bersalaman dengan Allah yang maha pengasih.” (HR Ibnu Mâjah: 2957)

Kelima, Hajar Aswad mempunyai cahaya yang memancar besar. Namun Allah subhânahu wa ta’âla menutupnya sebagaimana dalam riwayat Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Hibbân. 

Keenam, pada hari kiamat, Hajar Aswad akan menjadi saksi bagi siapa saja yang pernah menyentuhnya dengan sungguh-sungguh sebagaimana hadits yang diriwayatkan dalam kitab as-Sunan karya at-Tirmidzi dan al-Ausath karya at-Thabrany. 

Ketujuh, Hajar Aswad akan memberikan syafaat dan syafaatnya diterima Allah subhânahû wa ta’âlâ sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat at-Thabrany. Meskipun hadits ini ada banyak tinjauan-tinjauan di sana.

Kedelapan, Hajar Aswad seolah-olah merupakan tangan Allah yang ada di muka bumi ini. Hadits berikut ini saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya, sehingga menjadi hadits hasan:

إِنَّ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ يَمِينُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، فَمَنْ لَمْ يُدْرِكْ بَيْعَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَسَحَ الْحَجَرَ، فَقَدْ بَايَعَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ»

Artinya: “Sesungguhnya Hajar Aswad merupakan (seolah) tangan Allah di muka bumi. Barangsiapa yang tidak bisa berbaiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian mengusap Hajar Aswad, maka ia sedang berbaiat kepada Allah dan Rasul-Nya. (Muhammad al-Azraqi, Akhbaru Makkah wa Mâ Jâa minal Âtsâr, Beirut, juz 1, halaman 325).

(Ahmad Mundzir)

Sabtu 18 Agustus 2018 21:30 WIB
Hadiah dari Nabi Muhammad untuk Umatnya
Hadiah dari Nabi Muhammad untuk Umatnya
Rasa cinta Nabi Muhammad ﷺ untuk umatnya tak perlu dipertanyakan lagi. Kesabaran hati beliau dalam membimbing para sahabat dengan rasa cinta selalu menjadi teladan bagi umatnya. Cukuplah kita mendengar bahwa Baginda Nabi di penghujung waktu menuju ke haribaan Tuhan semesta alam sangat mengkhawatirkan umatnya. 

Saat detik-detik kewafatannya, Rasulullah ﷺ sangat peduli terhadap umatnya, beliau bertanya kepada malaikat, “Bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa pun, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” tegas malaikat Jibril kepada Nabi. 

Dalam kitab Sunan an-Nasa’i disebutkan suatu hadits yang berbunyi:

عَنْ أَبِي لَيْلَى قَالَ: قَالَ لِي كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ أَلَا أُهْدِي لَكَ هَدِيَّةً؟ قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ قَدْ عَرَفْنَا كَيْفَ السَّلَامُ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ قَالَ: قُوْلُوا اّللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى الِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ال مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى الِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Dari Ibnu Abi Laila, berkata, Ka'ab bin ‘Ujrah berkata padaku, "Maukah kau aku beri hadiah?” (Ka’ab pun menceritakan kisahnya ketika bersama Nabi), “Kami berkata, ‘Sungguh kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepadamu, tapi bagaimana bershalawat kepadamu?’ Rasulullah bersabda, ‘Katakanlah, 'Allâhumma shalli 'alâ Muhammad wa 'alâ âli Muhammad, kamâ shallaita 'alâ âli Ibrâhîm innaKa Hamîdun Majîd, Allâhumma bârik 'alâ Muhamad wa ‘alâ âli Muhamad kamâ bârakta 'alâ âli Ibrâhîm innKa Hamîdun Majîd (Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau memberi shalawat atas Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha-Terpuji dan Maha-Mulia. Ya Allah, berilah berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Engkau Maha-Terpuji dan Maha-Mulia.” (HR Nasa`i)

Hadits di atas mengindikasikan hadiah yang berbentuk shalawat untuk diamalkan oleh para Sahabat. Memang hadits ini bertema tentang shalawat yang dibaca ketika tahiyyat akhir. Dan shalawat ini sangat masyhur bagi kita, yaitu shalawat Ibrahimiyyah.

Kendati demikian, kita perlu renungi makna hadiah tersebut. Hadiah yang ditawarkan bukanlah berbentuk materi, atau sesuatu yang mewah dalam kacamata dunia. Namun jika ditinjau dari sisi hikmah dan filosofinya, betapa berharganya nilai hadiah ini.

Dalam kitab Mar’âh al-Mafâtîh Syarah Misykâh al-Mashâbîh, Syekh al-Mubârakfûri menjelaskan makna hadits ini, khususnya makna kata hadiah, beliau mendefinisikannya dengan:

وَالْهَدِيَّةُ مَا يَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى الْمُهْدَى إِلَيْهِ تَوَدُّدًا وَإِكْرَاماً.

“Hadiah adalah sesuatu yang mendekatkan kepada seorang yang diberi sebagai tanda cinta dan penghormatan.” (Al-Mubârakfûri, Mar’âh al-Mafâtîh Syarah Misykâh al-Mashâbîh, Idârah al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa ad-Da’wah wa al-Ifta`, cetakan ke-3, juz ke-3, halaman 249)

Jika melihat definisi diatas, betapa luar biasanya hadiah tersebut. Seakan-akan baginda Nabi mengisyaratkan pada kita semua, “Amalkanlah shalawat ini, aku berharap dapat mendekatkan kalian kepadaku.”Ya, meski pun khitab atau lawan bicara yang dihadapkan ketika itu adalah para sahabat, namun tidak menafikan himbauan beliau kepada kita untuk mengamalkannya.

Adapun mengenai keutamaan shalawat, Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيْئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda.”Barangsiapa yang bershalawat satu kali kepadaku, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, dan menghapus sepuluh kesalahan darinya, serta mengangkat derajatnya sepuluh kali.” (HR. an-Nasa`i)

Semoga kita dapat mengamalkan banyak shalawat setiap harinya, hingga menambahkan kedekatan kita kepada Rasulullah ﷺ, sehingga kita dapat menggapai syafa’at yang agung di hari kiamat nanti. Amiin. (Amien Nurhakim)

Kamis 16 Agustus 2018 12:0 WIB
Jawaban Diplomatis Ibnu Al-Jauzi saat Sunni-Syiah Bersengketa
Jawaban Diplomatis Ibnu Al-Jauzi saat Sunni-Syiah Bersengketa
Ilustrasi (thesufi.com)
Tidak mudah untuk menjaga sikap bagi seorang figure publik. Perilakunya selalu menjadi sorotan publik. Tindak tanduknya kerap diikuti oleh banyak orang. Pernyataannya acap kali dijadikan referensi, baik untuk menyanjung atau menyerang. Sekali saja ia berbuat atau berucap yang provokatif, dampaknya akan menyebar luas di tengah masyarakat. Terlebih bagi seorang tokoh yang menjadi pemersatu umat, ia tidak boleh mengeluarkan statemen yang dapat menyudutkan kelompok tertentu. Segala ucapan, perbuatan dan langkahnya harus betul-betul diterima semua kalangan. Inilah yang dicontohkan oleh ulama besar, Syekh Ibnu al-Jauzi.

Nama lengkapnya adalah Syekh Abdurrahman Abu al-Faraj bin Ali bin Muhammad al-Jauzi al-Qurasyi al-Baghdadi. Beliau lahir pada tahun 508 H dan wafat tahun 597 H. Beliau lahir dan wafat di kota Baghdad. Seorang yang sangat alim di masanya terutama di bidang sejarah dan hadits. Di antara karyanya al-Adzkiya’ wa Akhbaruhum, Manaqib Umar bin Abdil Aziz, Tarikh Hukama’ al-Islam, dan lain sebagainya.

Suatu ketika Syekh Ibnu al-Jauzi tengah menyampaikan khutbah, lalu beliau didatangi dua rombongan dari kelompok besar, Asya’irah (Sunni) dan Syi’ah. Asya’irah adalah kelompok yang dalam teologi mengikuti Syekh Abu al-Hasan al-Asy’ari. Syi’ah adalah kelompok yang sangat fanatik dengan Sayyidina Ali dan para keturunannya.

Dua rombongan tersebut masing-masing membawa pedang layaknya orang yang hendak berperang. Perseteruan itu dipicu salah satunya oleh pandangan yang berbeda dari keduanya, berkaitan dengan sebuah keyakinan tentang manusia terbaik setelah Nabi Muhammad ﷺ. Kelompok Asya’irah meyakini bahwa sepeninggal Baginda Nabi Muhammad, yang terbaik adalah Sayyidina Abu Bakr Al-Shiddiq. Sementara bagi kaum Syi’ah, Sayyidina Ali yang paling utama. Kedua kelompok besar ini datang untuk meminta pendapat Syekh Ibnu al-Jauzi.

“Siapa yang lebih utama, lebih dekat dan lebih dicintai Rasulullah ﷺ wahai Syekh, Abu Bakr atau Ali?” demikian pertanyaan yang terlontar.

Pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh Ibnu al-Jauzi. Jika ia menjawab Abu Bakr yang lebih utama, pasti Syi’ah marah. Jika dijawab Ali lebih mulia, kelompok Asya’irah yang tidak terima.

Ibnu al-Jauzi sejenak berpikir untuk menemukan jalan keluar dari kondisi dilematis yang menimpanya, agar jawabannya dapat diterima kedua kelompok besar yang meminta fatwanya. Setelah berpikir, beliau menemukan jawabannya. Dengan cerdik, beliau melontarkan jawaban yang sangat diplomatis:

اَلْأَفْضَلُ مَنْ كَانَتْ بِنْتُهُ تَحْتَهُ

“Yang paling utama adalah dia yang putrinya menjadi istrinya.”

Sebuah jawaban yang sangat cerdik. Baik Asya’irah maupun Syi’ah masing-masing dapat menerimanya. Asya’irah memahami statemen Ibnu al-Jauzi di atas mengarah kepada Abu Bakr. Sebab menurut mereka, dlamir (kata ganti) yang ada pada redaksi “bintuhu” merujuk kepada Abu Bakr, sedangkan dlamir yang ada pada redaksi “tahtahu” mengarah kepada Nabi Muhammad ﷺ. Jadi menurut pemahaman mereka, maksud ucapan Ibnu al-Jauzi adalah “Yang paling utama adalah dia yang putrinya (Abu Bakr) menjadi istrinya (Nabi).” Seperti diketahui, Aisyah tidak lain adalah putri Abu Bakr yang menjadi istri Rasulullah.

Demikian pula dengan kelompok Syi’ah, mereka sangat puas dengan jawaban Ibnu al-Jauzi. Menurut mereka, jawaban Ibnu al-Jauzi di atas mengarah kepada Ali bin Abi Thalib. Mereka memahami kata ganti (dlamir) pada ucapan Ibnu al-Jauzi berbeda dengan yang dipahami Asya’irah. Menurut mereka, dlamir yang ada pada redaksi “bintuhu” merujuk kepada Nabi, sedangkan dlamir yang ada pada redaksi “tahtahu” mengarah kepada Sayyidina Ali. Menurut mereka, maksud ucapan Ibnu al-Jauzi di atas adalah “Yang paling utama adalah dia yang putrinya (Nabi Saw) menjadi istrinya (Sayyidina Ali).” Merupakan hal yang maklum, istri Ali adalah Fathimah, putri Nabi.

Karena jawaban Ibnu al-Jauzi yang multi tafsir, dua kelompok besar yang mengadu kepadanya memahami sesuai kecenderungan masing-masing. Letak perbedaannya ada pada marji’ dlamir yang ada pada kata “bintuhu” dan “tahtahu”.

Demikianlah selayaknya seorang publik figur bersikap, fatwanya dapat diterima semua kalangan tanpa menimbulkan perpecahan di tengah-tengah umat. (M. Mubasysyarum Bih)


Disarikan dari kitab al-Fawaid al-Mukhtarah karya Habib Ali bin Hasan Baharun, hal. 89)