IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Tiga Adab Utama saat Bencana

Senin 20 Agustus 2018 20:30 WIB
Share:
Tiga Adab Utama saat Bencana
Bencana alam gempa, banjir, angin topan, dan semisalnya, datang secara tiba-tiba. Tentu hal ini membuat panik orang yang mengalaminya. Yang terpikir hanya menyelamatkan diri dan keluarga bagaimana pun caranya.

Meskipun demikian, sebagai seorang Muslim dalam kondisi apapun tentu hendaknya tetap dapat mengambil sikap terbaik dan penuh adab islami. Demikian pula dalam kondisi bencana yang datang mendadak. Lalu apakah adab-adab utama saat terjadi bencana menurut Islam?

Adab pertama,adalah menyelamatkan diri. Bahkan orang yang dalam kondisi melaksanakan shalat fardhu pun boleh untuk membatalkan shalatnya demi menghindarkan dirinya dari ancaman bencana.  Dalam konteks ini terdapat riwayat:

إِذَا رَجُلٌ يُصَلِّي وَإِذَا لِجَامُ دَابَّتِهِ بِيَدِهِ فَجَعَلَتْ الدَّابَّةُ تُنَازِعُهُوَجَعَلَ يَتْبَعُهَا ...(رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Artinya, “Seketika itu ada seseorang (Sahabat Abu Barzah al-Aslami Ra) yang sedang shalat dan tali kendali hewan tunggangannya (dipengang) ditangannya, lalu tiba-tiba hewan itu menyeretnya dan ia pun mengikutinya ... (Riwayat al-Bukhari)

Dari hadits inilah kemudian para ulama memahami bahwa untuk menjaga keselamatan segala hal yang dikhawatirkan rusak, baik benda maupun lainnya maka seseorang boleh memutus atau membatalkan shalat. (Lihat Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqallani, Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, [Beirut, Darul Ma’rifah: 1379 H], juz III, halaman 82).

Bahkan menurut Syaikh Izzuddin Ibn Abdissalam (577-660 H/1181-1262 M) pakar fiqih Syafi’i asal Damaskus, upaya penyelamatan jiwa harus diprioritaskan daripada pelaksanaan shalat, sebab menyelamatkan jiwa lebih utama daripada shalat dan sebenarnya keduanya dapat tercapai dengan menyelamatkan jiwa terlebih dahulu kemudian baru melakukan shalat meskipun qadha. Sebab tidak diragukan lagi bahwa kemaslahatan shalat tepat waktu tidak lebih unggul, bahkan tidak bisa dianggap selevel dengan kemaslahatan penyelamatan jiwa seseorang. (Lihat ‘Izzuddin Abdul Aziz bin Abdissalam, Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, [Beirut, Darul Ma’arif: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 57).

Adab kedua, merendahkan diri kepada Allah dengan berdoa untuk keselamatan dan kebaikan sesuai dengan bencana yang terjadi, berdasarkan hadits:

كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَصَفَتِ الرِّيحُ قَالَ:اَللهم إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya, “Nabi Saw ketika ada angin bertiup sangat kencang beliau berdoa: ‘Ya Allah, sungguh aku memohon kepadamu kebaikan angin, kebaikan apa yang ada di dalamnya dan kebaikan apa yang dikirimkan dengannya; dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, dari keburukan apa yang ada di dalamnya dan keburukan apa yang dikirimkan dengannya,” (HR Muslim).

Adab ketiga, bila memungkinkan lakukanlah shalat sunnah mutlak dua rakaat secara sendirian berdasarkan hadits tersebut sesuai ijtihad para ulama, sebagaimana Ibn al-Muqri (755-837 H/1354-1433 M) pakar fiqih Syafi’i asal Yaman yang dikutip oleh Syekh Nawawi Al-Bantani:

يُسَنُّ لِكُلِّ أَحَدٍ أَنْ يَتَضَرَّعَ بِالدُّعَاءِ وَنَحْوِهِ عِنْدَ الزَّلَازِلِ وَنَحْوِهَا كَالصَّوَاعِقِ وَالرِّيحِ الشَّدِيدِ وَالْخُسُفِ، وَأَنْ يُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ مُنْفَرِدًا كَمَا قَالَهُ ابْنُ الْمُقْرِي لِئَلَّا يَكُونَ غَافِلًا، لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَصَفَتِ الرِّيحُ قَالَ:اَللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا

Artinya, “Disunnahkan bagi setiap orang untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa dan semisalnya, ketika terjadi gempa bumi dan semisalnya, seperti petir dan angin yang dahsyat dan gerhana; dan disunnahkan juga untuk shalat (sunnah) di rumahnya secara sendirian sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Muqri, agar tidak lalai, berdasarkan hadits bahwa Nabi SAW ketika ada angin bertiup sangat kencang ia berdoa, ‘Ya Allah, sungguh aku memohon kepadamu kebaikan angin...’” (Lihat Muhammad bin Umar bin Ali bin Nawawi Al-Jawi, Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi’in, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 105).

Demikian tiga adab utama bagai seorang Muslim ketika mengalami bencana yang datangnya tak disangka-sangka. Dalam kondisi apa pun idealnya seorang Muslim tetap ingat terhadap Allah SWT. Wallahu a‘lam. (Ahmad Muntaha AM, Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur)
Share:
Sabtu 18 Agustus 2018 14:30 WIB
Pentingnya Menyedekahkan Barang-barang Bekas kepada Pemulung
Pentingnya Menyedekahkan Barang-barang Bekas kepada Pemulung
Ilustrasi (capslocknet.com)
Sebagian orang berpikir bersedekah itu mesti dengan memberikan uang dalam jumlah yang cukup kepada orang lain. Anggapan ini tentu saja tidak benar sebab bersedekah sesungguhnya bisa dengan apa saja dalam jumlah berapa pun. Anggapan yang tidak benar ini terkadang membuat kita enggan melepas barang-brang bekas atau rongsok ke tempat sampah karena kita masih berpikir barang-barang itu bisa dijual. 

Seharusnya justru ketika kita berpikir bahwa barang-barang bekas atau rongsok itu masih memiliki nilai ekonomi, kita tidak berat hati membuangnya ke tempat sampah. Alasannya, jika hal itu diniati bersedekah kepada para pemulung yang setiap hari mengais rezeki di sana pastilah barang-barang itu menjadi sedekah kita yang tak kalah tinggi nilai ibadahnya dibandingkan sedekah dengan uang tunai. 

Bersedekah kepada mereka dengan barang-barang bekas seperti rongsokan perkakas rumah tangga, kardus, botol, kertas, plastik, dan sebagainya, sejatinya bukan semata-mata memberikan santunan tetapi sekaligus merupakan pemberdayaan ekonomi dan konservasi lingkungan. Disebut pemberdayaan ekonomi karena pihak penerima, yakni para pemulung yang secara ekonomi lemah, akan mendapatkan uang dengan terlebih dahulu harus memilah dan memilih sampah-sampah tertentu sebelum menjualnya ke pengepul. Upaya ini sekaligus untuk memenuhi prinsip 3R, yakni reduce, recycle, dan reuse.

Reduce berarti upaya mengurangi volume sampah tidak dengan cara dibakar yang hanya akan meningkatkan polusi udara, tetapi dengan recycle, yakni mendaur ulang hingga menjadi produk baru yang dapat digunakan kembali atau juga dikenal dengan istilah reuse. Dikatakan pula sebagai konservasi lingkungan karena kegiatan 3R ini sejatinya merupakan upaya manusia untuk menjaga kelestarian alam dengan mengurangi eksploitasi alam dan mengurangi tingkat pencemaran lingkungan. 

Dengan demikian, membuang barang-barang bekas atau rongsok ke tempat sampah dengan niat bersedekah tidak hanya merupakan kesalehan sosial tetapi sekaligus mendorong kesalehan ekologis. Disebut kesalehan sosial karena bersedekah merupakan ajaran agama untuk menolong sesama manusia yang membutuhkan. Disebut kesalehan ekologis karena prinsip 3R merupakan upaya manusia untuk menjaga kelestarian alam yang merupakan kepentingan bersama sesama makhluk di bumi. 

Upaya-upaya tersebut sangat penting dilakukan karena kerusakan lingkungan dari waktu ke waktu semakin menutut kesadaran dan gerakan bersama untuk menerapkan prinsip 3R sebagai diuraikan di atas. Allah subhabahu wata’ala di dalam Al-Qur’an, Surat Ar-Rûm, ayat 41 telah mengatakan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)."


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Sabtu 18 Agustus 2018 11:0 WIB
Empat Pesan Imam Al-Ghazali untuk Para Salik
Empat Pesan Imam Al-Ghazali untuk Para Salik
(Foto: shof.co)
Abu Hamid Imam Al-Ghazali memberikan tips untuk para salik yang sedang meniti jalan menuju ilahi. Imam Al-Ghazali berpesan empat hal kepada mereka agar mudah dan selamat selama perjalanan sampai di tujuan, yaitu Allah. Pesan ini dipandang penting mengingat banyaknya godaan dan rintangan di sepanjang perjalanan.

Empat hal yang dipesan Imam Al-Ghazali adalah
1. Akidah yang benar.
2. Tobat.
3. Bebas sangkutan dari hak anak Adam.
4. Ilmu syariat sesuai kebutuhan kewajiban.

Pesan ini disampaikan oleh Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ayyuhal Walad. Menurutnya, banyak hal yang perlu diperhatikan oleh para salik. Semua itu sudah ditulis secara rinci di karya lainnya, Ihya Ulumiddin. Tetapi empat hal ini, kata Imam Al-Ghazali, sudah memadai sebagai pegangan praktis bagi para salik.

قد وجب على السالك أربعة أمور: الأمر الأول اعتقاد صحيح لا يكون بدعة، والثاني توبة نصوح لا يرجع بعدها إلى الزلة، والثالث استرضاء الخصوم حتى لا يبقى لأحد عليك حق، والرابع تحصيل علم الشريعة قدر ما تؤدى به أوامر الله تعالى ثم من العلوم الاخرى ما تكون به النجاة

Artinya, “Seorang salik wajib memiliki empat hal. Pertama, akidah yang benar, tidak mengandung akidah bid’ah. Kedua, tobat nasuha yang tidak kembali pada kekhilafan sesudah itu. Ketiga, menyelesaikan pertikaian dengan pihak lain sehingga tidak ada hak orang lain lagi terhadap dirimu. Keempat, memahami ilmu syariat sebatas menunjang pelaksanaan perintah-perintah Allah, kemudian sejumlah ilmu lain yang menunjang keselamatan,” (Lihat Imam Abu Hamid Al-Ghazali, Ayyuhal Walad, [Indonesia, Al-Haramain: tanpa catatan tahun], halaman 10).

Pada buku kecil tersebut, Imam Al-Ghazali membawa riwayat As-Syibli RA yang telah berguru kepada 400 orang guru. As-Syibli RA berkata, “Aku telah mempelajari 4000 hadits. Dari semua itu, aku memilih dan mengamalkan satu hadits, serta mengabaikan hadits lainnya. Setelah kurenungkan, aku menemukan keselamatanku pada satu hadits tersebut. Hadits itu mengandung ilmu orang-orang terdahulu dan orang yang terkemudian. Aku merasa cukup dengan satu hadits itu.”

As-Syibli RA, tulis Imam Al-Ghazali, membaca hadits Rasulullah SAW berikut ini:

وذلك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لبعض أصحابه اعمل لدنياك بقدر مقامك فيها واعمل لآخرتك بقدر بقائك فيها واعمل لله بقدر حاجتك إليه واعمل للنار بقدر صبرك عليها

Artinya, “Dan hadits itu Rasulullah SAW berkata kepada sebagian sahabatnya, ‘Beramallah untuk duniamu sekadar lama mukimmu di dalamnya. Beramallah untuk akhiratmu sedakar lama kekalmu di dalamnya. Beramallah karena Allah sekadar banyak hajatmu kepada-Nya, dan beramallah untuk nerakamu sekadar kesabaranmu padanya,’” (Lihat Imam Abu Hamid Al-Ghazali, Ayyuhal Walad, [Indonesia, Al-Haramain: tanpa catatan tahun], halaman 10-11).

Uraian Imam Al-Ghazali ini bukan anjuran untuk meninggalkan dunia ilmu pengetahuan, termasuk pelbagai macam cabang ilmu pengetahuan agama yang begitu banyak, sebagaimana tuduhan sekelompok akademisi selama ini terhadap Imam Al-Ghazali sebagai actor pemicu kemunduran peradaban Islam.

Uraian Imam Al-Ghazali ini justru memberikan tips ringan atau semacam jalan pintas yang juga tidak dapat dibilang ringan untuk diamalkan bagi para salik. Imam Al-Ghazali menyeleksi banyak hal agar aktivitas para salik menjadi fokus dan efektif.

Adapun ilmu pengetahuan dengan pelbagai macam cabangnya, Imam Al-Ghazali tidak menutup pintu sebagaimana ia pun mempelajari banyak disiplin pengetahuan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Ahad 12 Agustus 2018 12:0 WIB
Al-HIKAM
Kenapa Harus Ada Kewajiban Ibadah untuk Manusia?
Kenapa Harus Ada Kewajiban Ibadah untuk Manusia?
(Foto: zozu)
Sekali waktu muncul pertanyaan di pikiran kita perihal kewajiban ibadah untuk manusia. Pertanyaan kenapa Allah mewajibkan sesuatu kepada manusia memang tampak konyol dan mungkin kurang ajar. Tetapi pertanyaan itu wajar saja muncul karena Allah memang menganugerahkan kita akal pikiran yang dapat bertanya.

Syekh Ibnu Athaillah mencoba menjawab kenapa Allah mewajibkan ibadah kepada manusia dalam Al-Hikam-nya berikut ini:

علم قلة نهوض العباد إلى معاملته فأوجب عليهم وجود طاعته فساقهم إليه بسلاسل الإيجاب

Artinya, “Allah memaklumi rendahnya semangat hamba-Nya untuk berinteraksi dengan-Nya, maka dari itu Dia mewajibkan adanya ketaatan untuk mereka sehingga Dia menggiring mereka kepada-Nya dengan belenggu kewajiban.”

Menerangkan hikmah ini, Syekh Syarqawi mengatakan bahwa manusia cukup berat untuk melakukan ibadah secara sukarela dan berdasarkan inisiatif sendiri karena kelemahan kemauan dan kemalasan merupakan watak pembawaan manusia.

علم قلة نهوض العباد إلى معاملته) أي الإقبال عليه بطاعته والقيام بحقوق ربوبيته طوعا منهم لما هم عليه من وجود الضعف ولما في نفوسهم من وجود الكسل

Artinya, “(Allah memaklumi rendahnya semangat hamba-Nya untuk berinteraksi dengan-Nya) maksudnya untuk menghadap-Nya melalui ibadah dan menunaikan hak ketuhanan lainnya secara sukarela karena adanya kelemahan semangat dan ada kemalasan di dalam diri mereka,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, [Indonesia, Al-Haramain: 2012 M], juz II, halaman 31).

Dari pembawaan manusia tersebut, Allah memutuskan kewajiban ibadah bagi para hamba-Nya sehingga dengan sejenis paksaan itu manusia dapat berkhidmah kepada-Nya.

فأوجب عليهم وجود طاعته) أي ألزمهم بذلك قهرا عنهم وخوفهم بدخول النار إن لم يفعلوا (فساقهم إليه) أي الإقبال عليه بطاعته (بسلاسل الإيجاب

Artinya, “(Maka dari itu Dia mewajibkan adanya ketaatan untuk mereka) Allah mewajibkan ibadah itu secara paksa untuk mereka dan Dia menakuti mereka dengan ancaman msuk neraka jika mereka tidak melaksanakan kewajiban tersebut. (sehingga Dia menggiring mereka kepada-Nya) untuk menghadap-Nya melalui ketaatan (dengan belenggu kewajiban),” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, [Indonesia, Al-Haramain: 2012 M], juz II, halaman 31).

Syekh Syarqawi mengatakan bahwa kewajiban ibadah itu seakan belenggu yang menggiring paksa tawanan untuk melakukan sesuatu yang manfaatnya di kemudian hari berpulang kepada mereka sendiri.

Hal ini serupa dengan kewajiban ibadah yang sekali lagi manfaat serta kebahagiaan kelak di kemudian hari kembali kepada makhluk-Nya. Syekh Syarqawi menyebut sikap seorang wali terhadap anak kecilnya sebagai ilustrasi kewajiban ibadah.

Menurutnya, seorang wali mendidik dan memberikan aturan bagi anak kecil yang mana itu berat dan tidak disukai oleh si kecil ketika itu. Tetapi aturan tersebut mengandung manfaat di kemudian hari bagi si kecil yang akan disadari maslahatnya kelak ketika ia telah dewasa.

Dengan kata lain, maslahat dan manfaat kewajiban ibadah itu akan disadari oleh manusia kelak di akhirat. Semua maslahat itu berpulang kepada manusia, bukan kepada Allah karena Allah tidak butuh pada ibadah hamba-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)