IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Aqidah Kontradiktif tentang Turunnya Tuhan

Rabu 22 Agustus 2018 15:30 WIB
Share:
Aqidah Kontradiktif tentang Turunnya Tuhan
Ilustrasi (kayipazar.com)
Dinyatakan dalam suatu hadits shahih bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ 

Tuhan kita yang Maha Agung dan Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika telah tersisa sepertiga malam terakhir. Ia berfirman: Siapakah yang berdoa kepadaku, maka aku akan mengabulkannya, Siapa yang meminta kepadaku, maka aku akan memberikannya. Siapa yang memohon ampun kepadaku maka akan Aku ampuni. (HR. Bukhari-Muslim)

Telah dibahas sebelumnya dalam artikel berjudul “Makna ‘Allah Turun ke Langit Dunia di Sepertiga Malam Terakhir’” bahwa menurut Ahlussunnah Wal Jamaah, kata “turun” dalam hadits itu tidak mungkin dimaknai secara hakikat dalam arti pergerakan Dzat Allah dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah sebab Allah bukanlah jisim sehingga keberadaan-Nya tidaklah terbatas (tahayyuz) dalam ruang. Penafsiran Ahlussunnah tersebut cocok sepenuhnya dengan berbagai dalil lainnya tentang sifat Allah dan sama sekali jauh dari kontradiksi.

Berbeda dengan itu, beberapa tokoh modern dari kalangan pendaku Salafi mengutarakan pendapat yang berbeda dan kontradiktif. Salah satunya adalah Syekh Ibnu Utsaimin yang dalam kitabnya menyatakan:

نزوله تعالى حقيقي ... ونقول: ينزل ربُّنا إلى السماء الدنيا، وهي أقرب السماوات إلى الأرض، والسماوات سبع، وإنما ينزل عزَّ وجلَّ في هذا الوقت من الليل للقرب من عباده جل وعلا ... أن المراد بالنزول هنا نزول الله نفسه 

“Turunnya Allah adalah secara hakikat (turun dalam makna bukan kiasan)… Kami berpendapat bahwa Tuhan kita turun ke langit dunia, langit tersebut adalah langit terdekat ke bumi, sedangkan jumlah langit ada tujuh. Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla turun di waktu ini tak lain karena agar dekat dari para hamba-Nya. … bahwa yang dimaksud dengan turun di sini adalah turunnya Allah sendiri." (Syarh al-‘Aqîdah al-Wâshithiyah, juz II, halaman 13-14).

Jadi, dia menafsirkan hadits tersebut sebagai turun dalam makna hakikat. Makna hakikat ini dia perjelas maksudnya adalah sebuah tindakan dari Allah untuk mendekat. Pernyataan ini tak bisa dimaknai lain selain dalam arti bahwa Allah bergerak sehingga jarak antara Allah dan para hamba-Nya semakin pendek; dari awalnya di atas langit ke tujuh menuju ke langit terdekat dari bumi (langit dunia). Di samping itu, ia menyatakan dengan amat jelas bahwa yang turun adalah Allah sendiri, bukan turunnya malaikat, kasih saying atau urusan Allah.

Syekh Ibnu Utsaimin tahu betul argumen ulama Ahlussunnah yang menyatakan bahwa makna turun adalah pergerakan (harakah wa intiqâl) sedangkan pergerakan adalah sifat baru dan Allah maha suci dari sifat-sifat baru sehingga harusnya hadits di atas tidak dimaknai secara literal. Menurutnya, argumen semacam ini adalah perdebatan yang bathil (jidâl bi al-bâthil) yang tak menghalangi dari hakikat turunnya Allah (nuzûl). Alasannya, para sahabat tak pernah mengatakan seperti ini sehingga yang mengatakannya dianggap seolah lebih tahu dari para sahabat. (Lihat: Syarh al-‘Aqîdah al-Wâshithiyah, juz II, halaman 15). 

Selanjutnya, Syekh Ibnu Utsaimin menegaskan makna turun yang dia maksud sebagai berikut:

فنقول: ينزل، لكنه عال عزَّ وجلَّ على خلقه؛ لأنه ليس معنى النزول أن السماء تُقِلُّه، وأن السماوات الأخرى تظلُّه؛ إذ إنه لا يحيط به شيء من مخلوقاته.

“Kami berkata: Allah turun, tetapi Ia Maha Tinggi di atas seluruh makhluknya, sebab sesungguhnya makna turun bukanlah dalam arti bahwa langit menyangganya sedangkan beberapa langit lain menaunginya karena Allah tak diliputi oleh satupun dari makhluk-Nya.” (Syarh al-‘Aqîdah al-Wâshithiyah, juz II, halaman 15).

Tampak sekali kontradiksi antara pernyataan sebelumnya yang mengatakan turun dalam arti sebenarnya ke langit dunia yang terendah, dengan pernyataan terakhir bahwa turun bukan dalam arti berada di bawah langit yang lebih tinggi. Pernyataan semacam ini tak dapat dipahami oleh akal sehat mana pun sebab secara rasional bila Allah disebut turun dalam arti sebenarnya, maka itu berarti Ia menuju ke tempat di mana enam langit berada di atasnya dan satu langit terendah, yakni langit dunia, berada tetap di bawahnya. Bila maknanya ternyata bukan demikian, berarti itu bukanlah makna hakikat yang dimengerti oleh manusia tetapi makna kiasan (takwil) atau memasrahkan makna hakikatnya kepada Allah semata (tafwîdh). Anehnya, Syekh Ibnu Utsaimin menolak keras takwil ataupun tafwidh sehingga penjelasannya di atas sama sekali tak bisa dipahami.

Makin kontradiktif lagi ketika Syekh Ibnu Utsaimin dan banyak tokoh pendaku salafi lainnya di satu sisi menegaskan bahwa Allah berada di atas Arasy secara hakikat setiap saat tetapi juga turun ke langit dunia yang mengalami sepertiga malam terakhir setiap saatnya juga secara hakikat. Ungkapan seperti ini sama sekali tak dapat dimengerti sebab ini berkaitan dengan Dzat Allah dan dua tempat fisikal yang berbeda. Lain halnya bila kasusnya adalah tindakan Allah (af’âl), semisal Allah dapat memberi rezeki seluruh makhluk dalam waktu bersamaan, dapat menghitung amal perbuatan seluruh manusia dan jin di akhirat secara bersamaan, dan perbuatan lainnya dari Allah. Perbuatan Allah atau af’âl bisa beragam dan serentak dalam satu waktu sebab Allah Maha Berkuasa, tetapi tentu saja berbeda halnya dengan Dzat Allah yang secara pasti dan meyakinkan hanya ada satu dan tak bertempat pula.

Sayangnya, penjelasan manusia bukanlah seperti ayat suci yang apabila tak bisa dinalar lantas tetap diimani tanpa dibahas. Akan tetapi, seluruh penjelasan tak masuk akal dari manusia selain Nabi mesti ditolak dan diabaikan, apalagi bila berkaitan dengan aqidah. Adapun argumennya bahwa pembahasan seperti ini adalah kebatilan sebab tak pernah dibahas oleh para Sahabat merupakan argumen yang rapuh. Betapa banyak pembahasan yang tak ada di masa Sahabat namun dibahas di masa berikutnya seiring tumbuhnya ilmu pengetahuan di segala bidang.

Sebenarnya kontradiksi tersebut akan hilang apabila mereka mau membuang jauh-jauh kata “hakikat” itu sebagaimana Rasulullah dan para sahabat juga tak pernah memakainya. Namun, sepertinya mereka enggan melakukannya dan terus menerus memilih redaksi yang secara lahiriyah mengarah pada makna fisikal, meski mereka sendiri menolak disebut Mujassimah atau Musyabbihah. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Tags:
Share:
Selasa 21 Agustus 2018 15:30 WIB
Makna ‘Allah Turun ke Langit Dunia di Sepertiga Malam Terakhir’
Makna ‘Allah Turun ke Langit Dunia di Sepertiga Malam Terakhir’
Ilustrasi (uworled.com)
Ada satu hadits shahih yang mengatakan bahwa Allah ﷻ turun ke langit dunia setiap sepertiga malam terakhir. Hadits tersebut adalah:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ 

Tuhan kita yang Maha Agung dan Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika telah tersisa sepertiga malam terakhir. Ia berfirman: Siapakah yang berdoa kepadaku, maka aku akan mengabulkannya, Siapa yang meminta kepadaku, maka aku akan memberikannya. Siapa yang memohon ampun kepadaku maka akan Aku ampuni. (HR. Bukhari-Muslim)

Di masa lalu, para teolog berdebat sengit tentang maksud hadits tersebut. Sebagian ada yang berpendapat bahwa kata “turun” di sana adalah turun dalam makna sebenarnya (makna hakikat) yang berarti pergerakan dari atas ke bawah. Dalam makna ini, hadits itu berarti Allah bergerak turun dari atas Arasy ke wilayah langit dunia. Sebaliknya, ada juga yang mengingkari hadits itu sebab dianggap mustahil. Imam para Ahli Hadits, Ibnu Hajar al-Asqalani, menceritakan perbedaan pendapat antara mereka sebagai berikut:

وَقَدِ اخْتُلِفَ فِي مَعْنَى النُّزُولِ عَلَى أَقْوَالٍ فَمِنْهُمْ مَنْ حَمَلَهُ عَلَى ظَاهِرِهِ وَحَقِيقَتِهِ وَهُمُ الْمُشَبِّهَةُ تَعَالَى اللَّهُ عَنْ قَوْلِهِمْ وَمِنْهُمْ مَنْ أَنْكَرَ صِحَّةَ الْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ جُمْلَةً وَهُمُ الْخَوَارِجُ وَالْمُعْتَزِلَةُ وَهُوَ مُكَابَرَةٌ وَالْعَجَبُ أَنَّهُمْ أَوَّلُوا مَا فِي الْقُرْآنِ مِنْ نَحْوِ ذَلِكَ وَأَنْكَرُوا مَا فِي الْحَدِيثِ إِمَّا جَهْلًا وَإِمَّا عِنَادًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَجْرَاهُ عَلَى مَا وَرَدَ مُؤْمِنًا بِهِ عَلَى طَرِيقِ الْإِجْمَالِ مُنَزِّهًا اللَّهَ تَعَالَى عَنِ الْكَيْفِيَّةِ وَالتَّشْبِيهِ وَهُمْ جُمْهُورُ السَّلَفِ 

“Ada beberapa perbedaan pendapat  tentang makna "turun":  Sebagian orang mengartikannya secara lahirnya dan secara hakikat (makna sebenarnya); mereka adalah kaum Musyabbihah. Allah maha suci dari perkataan mereka. Sebagian lagi mengingkari kesahihan seluruh hadits-hadits yang berbicara tentang nuzul; Mereka adalah Khawarij dan Mu'tazilah. Anehnya mereka mentakwil ayat dalam al-Qur’an yang seperti itu tetapi mengingkari Hadits, baik karena tidak tahu atau memang menentang. Sebagian lagi ada yang membacanya  sesuai redaksi yang ada sambil mengimaninya secara global dengan tetap menyucikan Allah Ta'ala dari tata cara dan penyerupaan. Mereka adalah  mayoritas Salaf."  (Fath al-Bâry, juz III, halaman 30)

Jadi, yang memaknai kata turun secara literal (makna hakikat atau makna yang bukan dalam arti kiasan) adalah kaum Musyabbihah. Bagaimanapun, kata turun dalam kamus adalah bergerak dari atas ke bawah. Kamus Besar Bahasa Indonesia misalnya, mendefinisikan kata “turun” sebagai bergerak ke arah bawah; bergerak ke tempat yang lebih rendah daripada tempat semula. Arti semacam ini mau tidak mau pasti mengandung pemberian tata cara (kaifiyah) dan penyerupaan antara Allah dan makhluk (tasybîh). 

Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah menolak keras arti leksikal seperti di atas sebab itu mustahil bagi Allah. Opsi pertama bagi Ahlussunnah adalah menerima hadis itu dengan tanpa perlu membahasnya secara mendalam, cukup membaca ulang sesuai redaksi yang ada tanpa mengubah konteksnya dan tanpa menentukan maknanya secara khusus serta menyucikan Allah dari makna yang tak layak baginya. Opsi kedua adalah menerima hadis itu tetapi mentakwil artinya ke arah selain makna “bergerak secara fisik ke arah bawah” yang lebih layak bagi Allah. 

Opsi pertama di atas adalah pilihan mayoritas salaf, sedangkan opsi kedua banyak dipilih oleh ulama di masa berikutnya (muta’akhirîn). Imam Ibnu Hajar menukil pernyataan al-Baidlawi, tokoh Ahlussunnah yang memilih opsi kedua, sebagai berikut:

وَقَالَ الْبَيْضَاوِيُّ وَلَمَّا ثَبَتَ بِالْقَوَاطِعِ أَنَّهُ سُبْحَانَهُ مُنَزَّهٌ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالتَّحَيُّزِ امْتَنَعَ عَلَيْهِ النُّزُولُ عَلَى مَعْنَى الِانْتِقَالِ مِنْ مَوْضِعٍ إِلَى مَوْضِعٍ أَخْفَضَ مِنْهُ فَالْمُرَادُ نُورُ رَحْمَتِهِ

“al-Baidlawi berkata: Tatkala sudah pasti dengan dalil-dalil yang tak terbantahkan (qath’i) bahwa Allah adalah Maha Suci dari sifat fisikal (jismiyah) dan sifat batasan (tahayyuz), maka tak mungkin kata turun bermakna pergerakan dari satu tempat ke tempat lain yang lebih rendah. Maka yang dimaksud adalah turunnya cahaya kasih sayang”. (Fath al-Bâry, juz III, halaman 31)

Di bagian lain, Ibnu Hajar juga menukil pendapat tokoh Ahlussunnah lainnya yang berkata:

النُّزُولُ مُحَالٌ عَلَى اللَّهِ لِأَنَّ حَقِيقَتَهُ الْحَرَكَةُ مِنْ جِهَةِ الْعُلُوِّ إِلَى السُّفْلِ وَقَدْ دَلَّتِ الْبَرَاهِينُ الْقَاطِعَةُ عَلَى تَنْزِيهِهِ عَلَى ذَلِكَ فَلْيُتَأَوَّلْ ذَلِكَ بِأَنَّ الْمُرَادَ نُزُولُ مَلَكِ الرَّحْمَةِ وَنَحْوُهُ أَوْ يُفَوَّضُ مَعَ اعْتِقَادِ التَّنْزِيهِ

“Turun adalah mustahil bagi Allah sebab hakikatnya adalah pergerakan dari atas ke bawah. Dan, dalil-dalil yang tak terbantahkan (qath’i) telah menunjukkan atas kemahasucian Allah dari itu semua, maka takwillah hadits itu bahwa yang dimaksud adalah turunnya malaikat kasih sayang dan sejenisnya atau maknanya dipasrahkan pada Allah (tafwîdh) serta diyakini kesucian Allah dari hal yang tak layak (tanzîh).” (Fath al-Bâry, juz XI, halaman 129).

Opsi kedua ini senada dengan pendapat Imam Malik yang diriwayatkan oleh adz-Dzahabi dengan sanadnya sebagai berikut:

وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بنُ هَارُوْنَ بنِ حَسَّانٍ، حَدَّثَنَا صَالِحُ بنُ أَيُّوْبَ، حَدَّثَنَا حَبِيْبُ بنُ أَبِي حَبِيْبٍ، حَدَّثَنِي مَالِكٌ، قَالَ:
يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا - تَبَارَكَ وَتَعَالَى - أَمْرُهُ، فَأَمَّا هُوَ، فَدَائِمٌ لاَ يَزُولُ.

“Dari Ibnu ‘Adiyy, telah bercerita pada kami Harun bin Hassan, telah bercerita pada kami Shalih bin Ayyub, telah bercerita pada kami Habib bin Abi Habib, telah bercerita pada kami Malik bin Anas. Malik berkata: Telah turun urusan Tuhan kita, adapun Tuhan kita maka tetap tak berubah.” (Siyar A’lâm an-Nubalâ’, juz VIII, halaman 105).

Demikianlah aqidah Ahlussunnah wal Jamaah dalam memahami hadits nuzûl atau hadits turunnya Tuhan tersebut. Makna hakikat sebagaimana dinyatakan di dalam kamus adalah ditolak sebab pergerakan adalah mustahil bagi Dzat Allah. Bergerak dan terbatas dalam tempat adalah ciri khas makhluk. Wallahu A’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember


Rabu 15 Agustus 2018 18:0 WIB
Sifat Kemahatinggian Allah Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah
Sifat Kemahatinggian Allah Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah
Di antara salah satu sifat Allah yang menggambarkan kemuliaan adalah sifat ‘uluw. Secara etimologis, ‘uluw bermakna ketinggian. Secara terminologis, kaum muslimin seluruhnya memaknai sifat ini sebagai sifat Kemahatinggian Allah di atas segalanya. Ungkapan-ungkapan sehari-hari yang biasa dipakai untuk menyebut sifat ini antara lain:

• Penggunaan kata Ta’âlâ setelah kata Allah. Istilah Allah Ta’âlâ berarti Allah Yang Mahatinggi. Adapun istilah Allah subhânahu wata’âlâ berarti Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi. 

• Bacaan subhâna rabbiy al-a’lâ dalam sujud bermakna Mahasuci Tuhanku yang Mahatinggi. 

• Salah satu Asmaul Husna yang biasa dipakai kaum muslimin adalah al-‘Aliyyu dan al-Muta’âl, keduanya berarti Yang Mahatinggi.

• Ungkapan-ungkapan yang menunjukkan ketinggian, seperti di langit, di atas Arasy dan semisalnya.

Berdasarkan kenyataan di atas, kita tahu secara pasti bahwa tak ada satu pun orang Islam yang menolak sifat ‘uluw ini sebab seluruhnya terbiasa dengan ungkapan di atas kecuali golongan Jahmiyah (penganut paham bahwa Allah tak punya sifat apa pun) yang kini telah musnah. Akan tetapi Ahlussunnah wal Jama’ah berbeda dalam memahami sifat ini dengan kelompok teologis lainnya seperti Mujassimah-Musyabbihah (penganut paham bahwa Allah punya sifat fisik) di satu sisi yang terlalu literalis dan Jahmiyah di sisi lain yang terlalu mendewakan akal. Dalam perspektif Aswaja, sifat ‘uluw bukanlah ketinggian dalam arti tempat, arah atau koordinat sebab Allah bukanlah jism (entitas fisikal-material) yang menempati ruang atau terbatas dalam arah.

Imam at-Thahawi al-Hanafi (321 H) dalam al-‘Aqîdah at-Thahâwiyah menuturkan aqidah Imam Abu Hanifah (148 H) sebagai berikut:

وتعالى عن الحدود والغايات ، والأركان والأعضاء والأدوات ، لا تحويه الجهات كسائر المبتدعات

“Mahasuci Allah dari adanya batasan-batasan ukuran dan ujung-ujung, juga dari adanya unsur-unsur dan anggota badan. Dia  tak diliputi berbagai arah seperti halnya seluruh hal yang baru.” 

Senada dengan aqidah Imam Abu Hanifah di atas, Imam Ibnul Jauzi al-Hanbali (597 H) menuturkan aqidah Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) sebagai berikut:

كان أحمدُ لاَ يقولُ بالجهةِ للباري لأن الجهات تخلى عما سواها

“Imam Ahmad tak mengatakan adanya arah bagi Allah sebab seluruh arah meniscayakan kekosongan dari selainnya.” (Ibnu al-Jauzi, Daf’u Syubah at-Tasybîh bi Akaffi at-Tanzîh, 135)

Adapun makna sifat ‘uluw yang dimaksud oleh al-Qur’an dan hadits tersebut dijelaskan oleh Imam al-Hafidz al-Baihaqi (458 H) sebagai berikut:

قَالَ الْحَلِيمِيُّ فِي مَعْنَى الْعَلِيِّ: إِنَّهُ الَّذِي لَيْسَ فَوْقَهُ فِيمَا يَجِبُ لَهُ مِنْ مَعَالِي الْجَلَالِ أَحَدٌ، وَلَا مَعَهُ مَنْ يَكُونُ الْعُلُوُّ مُشْتَرَكًا بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، لَكِنَّهُ الْعَلِيُّ بِالْإِطْلَاقِ

“Al-Halimi berkata tentang makna al-‘Aliyyu bahwasanya Allah adalah Dzat yang dalam hal keluhuran dan kemuliaan tak ada satupun yang di atasnya, dan tak ada yang bersamanya dan setara dalam hal ketinggian. Akan tetapi, itu adalah ketinggian yang mutlak (bukan ketinggian yang terbatas dalam arah).” (al-Baihaqi, al-Asmâ’ wa as-Shifât, juz I, halaman 52)

Jadi, menetapkan sifat ‘uluw bukan berarti menetapkan arah atas bagi Allah, sama sekali tidak. Begitu pula sebaliknya, Asy’ariyah tidak bisa disebut menafikan sifat ‘uluw dengan alasan mereka menafikan adanya arah bagi Allah, seperti yang gencar diwacanakan para pembenci manhaj aqidah mayoritas ulama ini. Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani (852 H), yang dikenal sebagai Imam para Ahli Hadits, menjelaskan kesalahpahaman ini sebagai berikut:

وَلَا يَلْزَمُ مِنْ كَوْنِ جِهَتَيِ الْعُلُوِّ وَالسُّفْلِ مُحَالٌ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُوصَفَ بِالْعُلُوِّ لِأَنَّ وَصْفَهُ بِالْعُلُوِّ مِنْ جِهَةِ الْمَعْنَى وَالْمُسْتَحِيلُ كَوْنُ ذَلِكَ مِنْ جِهَةِ الْحِسِّ وَلِذَلِكَ وَرَدَ فِي صِفَتِهِ الْعَالِي وَالْعَلِيُّ وَالْمُتَعَالِي وَلَمْ يَرِدْ ضِدُّ ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْء علما جلّ وَعز

"Kemustahilan arah atas dan bawah bagi Allah bukan berarti Dia tak bisa disifati dengan sifat al-‘uluw sebab penyifatan Allah sebagai ‘uluw adalah dari segi makna dan mustahil dari segi fisikal-inderawi. Karena itulah, ada ayat/hadits yang menyatakan sifat al-‘Âliy, al-‘Aliyyu dan al-Muta’âliy tetapi tak pernah ada kebalikannya meskipun Ilmu Allah Maha-Meliputi segalanya." (Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, juz VI, halaman 136)

Bila sifat ‘uluw bukan ketinggian dalam hal tempat, lalu bagaimana para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah memahami firman Allah yang menyatakan bahwa Allah di langit, di atas Arasy? Untuk menjawabnya, Imam al-Hafidz al-Baihaqi menegaskan:

وَلَيْسَ مَعْنَى قَوْلِ الْمُسْلِمِينَ: إِنَّ اللَّهَ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ، هُوَ أَنَّهُ مُمَاسٌّ لَهُ، أَوْ مُتَمَكِّنٌ فِيهِ، أَوْ مُتَحَيِّزٌ فِي جِهَةٍ مِنْ جِهَاتِهِ، لَكِنَّهُ بَائِنٌ مِنْ جَمِيعِ خَلْقِهِ، وَإِنَّمَا هُوَ خَبَرٌ جَاءَ بِهِ التَّوْقِيفُ فَقُلْنَا بِهِ، وَنَفَيْنَا عَنْهُ التَّكْيِيفَ، إِذْ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ "

"Pernyataan kaum muslimin bahwa Allah istawa atas Arasy bukan berarti bahwa Ia menyentuh Arasy, bertempat di Arasy atau terbatas dalam salah satu arah Arasy, akan tetapi Ia terpisah dari seluruh makhluknya. Hanya saja ada ayat/hadits yang menyatakan itu, maka kami mengatakan hal yang sama dan menafikan adanya mekanisme teknis sebab tiada satu pun yang sama dengan Allah sedikitpun dan Allah Maha-Mendengar dan Maha-Melihat." (al-Baihaqi, al-Asmâ’ wa as-Shifât, juz II, halaman 280)

Demikianlah aqidah Alussunnah wal Jamaah yang dijelaskan oleh para Imam Mazhab maupun para Imam Ahli Hadits terkemuka. Akan tetapi, golongan Mujassimah dan Musyabbihah, yang merupakan minoritas dalam tubuh kaum muslimin, meyakini bahwa sifat ‘uluw berarti ketinggian secara fisik di atas sana. Dalam benak mereka, untuk mengimani sifat ‘uluw harus meyakini keberadaan Allah di atas sana secara fisik. Tentu saja keyakinan seperti ini menyimpang sebab meniscayakan bentuk fisikal-material (jism) bagi Allah.

Dengan makna ala Mujassimah ini, selain mengotori kemuliaan Allah, sifat ‘uluw hanya akan bersifat temporer ketika alam semesta ada. Sebelum tercipta alam semesta, Allah berarti belum bersifat ‘uluw sebab Ia belum berada di atas apa pun. Begitu pula setelah alam semesta hancur, maka Allah sudah tidak bersifat ‘uluw lagi sebab semua yang di bawahnya sudah tiada sehingga otomatis Dia tak bisa disebut “di atas” lagi. Ini Keyakinan seperti ini nyata-nyata menyimpang sebab seluruh sifat Allah tak punya awal mula dan takkan pernah sirna. Wallahu A’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Selasa 14 Agustus 2018 15:0 WIB
Benarkah Ibnu Suraij Menyesatkan Asy’ariyah?
Benarkah Ibnu Suraij Menyesatkan Asy’ariyah?
Salah satu senjata andalan para kritikus Asy’ariyah untuk mengesankan bahwa manhaj teologi terbesar itu ditolak oleh para ulama adalah pernyataan Syekh Ibu Suraij as-Syafi’i, salah seorang ulama besar dalam mazhab Syafi’iyah yang juga dikenal dengan julukan Syafi’i kedua. Syekh Ibnu Qayyim menukil pernyataan Ibnu Suraij sebagai berikut:

لا نقول بتأويل المعتزلة والأشعرية والجهمية والملحدة والمجسِّمة والمشبِّهة والكرَّامية والمكيِّفة؛ بل نقبلها بلا تأويل، ونؤمن بها بلا تمثي 

“Kami tidak berkata dengan takwilnya Muktazilah, Asy’ariyah, Jahmiyah, Ateis, Mujassimah, Musyabbihah, Karramiyah dan Mukayyifah, tetapi kami menerimanya tanpa takwil dan kami mengimaninya tanpa menyerupakan.”  (Ibnu Qayyim, Ijtimâ’ al-Juyûsy al-Islâmiyah, 259)

Redaksi pernyataan Ibnu Suraij di atas dengan gamblang menyejajarkan Asy’ariyah dengan golongan yang disepakati sebagai ahli bid’ah yang seluruhnya ditolak oleh kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Redaksi tersebut ditulis oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah (751 H) dalam kitabnya yang dibuat khusus untuk menyerang para Jahmiyah (pengikut Jahm bin Shafwan yang mengatakan Allah tak punya sifat apa pun). Validkah pernyataan tersebut?

Ternyata nukilan tersebut tidak valid dari Syekh Ibnu Suraij as-Syafi’i. Diketahui bahwa Ibnu Suraij wafat pada tahun 306 H, sedangkan hampir seluruh ulama sepakat bahwa Imam al-Asy’ari baru bertobat dari ajaran Muktazilah di tahun 300 H. Sebagaimana dibahas sebelumnya, Imam al-Asy’ari tak pernah mendeklarasikan mazhab baru melainkan hanya membela mazhab para Imam yang ada saat itu. Dengan demikian, dalam selisih waktu enam tahun tersebut sama sekali belum ada istilah Asy’ariyah (pengikut Imam al-Asy’ari), bahkan kitab-kitab beliau belum seluruhnya dibuat pada masa itu. Adalah tak mungkin Ibnu Suraij menyatakan menolak takwilan Asy’ariyah tatkala “mazhab” Asy’ariyah belum terbentuk.

Bukti lain yang memperkuat ketidakvalidan pernyataan tersebut adalah pengakuan Ibnu Qayyim bahwa pernyataan tersebut berasal dari jalur sanad Abu al-Qasim Sa’ad bin Ali az-Zanjani dari Ibnu Suraij. Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubalâ’  (juz XVIII, halaman 385) mengatakan bahwa Syaikh az-Zanjani dilahirkan pada tahun 380 H, yang berarti 74 tahun setelah wafatnya Syekh Ibnu Suraij. Dengan demikian, maka sanadnya jauh terputus sehingga tak bisa diterima secara ilmiah.

Berbeda dengan Ibnu Qayyim, Syekh Adz-Dzahabi dalam al-‘Uluw-nya menukil pernyataan Ibnu Suraij tersebut dengan redaksi  berikut: 

وَلَا نتأولها بِتَأْوِيل الْمُخَالفين وَلَا نحملها على تَشْبِيه المشبهين

Kami tidak mentakwilnya dengan takwil orang-orang yang menyimpang dan tak membawanya sesuai makna penyerupaan orang-orang musyabbihah. (Syekh Adz-Dzahabi, al-‘Uluw li ‘Aliyy al-Ghaffâr, halaman 208)

Redaksi yang dinukil Syekh Adz-Dzahabi tersebut lebih masuk akal sebab tak menyebut kata “Asy’ariyah” yang memang belum ada di waktu itu. Sayangnya, redaksi tersebut juga dinukil dari az-Zanjani dari info yang dia ketahui dari Abu Sa’id Abdul Wahid bin Muhammad dari sebagian gurunya. Tak dinyatakan apakah az-Zanjani mendengar langsung dari Abu Sa’id dan tak juga dinyatakan siapa sebagian guru Abu Sa’id tersebut. Dengan demikian, redaksi terakhir ini sanadnya juga bermasalah. 

Namun, andai saja sanad redaksi versi Adz-Dzahabi tersebut dianggap sahih, maka orang-orang menyimpang (al-mukhâlifîn) yang dimaksud pastilah golongan yang dikenal sesat sebab takwilan mereka yang berujung pada penafian sifat-sifat Allah, yakni Jahmiyah-Muktazilah. Adapun Imam al-Asy’ari di masa itu, maupun murid-murid senior beliau hingga masa al-Baqillany justru tak terbiasa mentakwil sifat. Di masa tersebut, yang lebih populer adalah metode tafwîdh atau memasrahkan makna definitif suatu sifat kepada Allah tanpa membahas secara mendalam apa maksudnya sambil memastikan bahwa bukan makna jismiyah yang dimaksud. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember