IMG-LOGO
Trending Now:
Ubudiyah

Pesan Moral Ibadah Kurban Menurut Kiai Ali Mustafa Yaqub

Rabu 22 Agustus 2018 10:00 WIB
Pesan Moral Ibadah Kurban Menurut Kiai Ali Mustafa Yaqub
Salah satu ibadah yang dilaksanakan ketika hari raya Idul Adha adalah ibadah kurban. Sebagian umat Islam mampu melaksanakannya, sebagian lagi menunggu tahun-tahun selanjutnya dan tetap berdoa supaya diberi rezeki serta ridha dari Allah ﷻ.

Menyembelih hewan kurban tentunya bukan sekadar penyembelihan hewan-hewan tertentu, kemudian disantap dan selesai begitu saja. Ibadah ini memiliki pesan-pesan moral yang mesti kita teladani dan lakoni dalam kehidupan kita sebagai hamba Allah ﷻ.

Alm. Kiai Ali Mustafa Yaqub membeberkan beberapa pesan moral dalam ibadah kurban. Pesan tersebut dapat kita temui dalam tulisan beliau berjudul Idul Adha: Membunuh Kepentingan Pribadi yang terhimpun dalam buku Haji Pengabdi Setan. Melihat sekilas judulnya, kita dapat menangkap penjelasan beliau terkait pengorbanan atas kepentingan diri sendiri karena ada suatu kepentingan lain.

Dalam Al-Qur`an Allah ﷻ berfirman di Surat al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)

Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015 itu mengajak kita untuk merenungi ayat di atas, yang mana ibadah kurban adalah simbol ketakwaan dan keloyalitasan seorang hamba kepada Allah ﷻ. 

Ibadah kurban awal kali dilaksanakan dalam peristiwa Qabil dan Habil, dua putra Nabi Adam AS. Namun ibadah yang dijadikan syariat Islam ini lebih merupakan pelestarian ajaran yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Tatkala Nabi Ibrahim adalah seorang yang sudah berusia hampir satu abad namun belum dikaruniai anak,begitu dikaruniai anak yaitu Nabi Ismail beliau diperintah untuk menyembelihnya, bukankah sangat tidak masuk akal jika dipikirkan.

Apabila kita terlalu mendewakan akal, peristiwa ini tentunya tidak masuk akal. Maka dari itu dalam agama Islam ada suatu prinsip bahwa tidak semua perintah-perintah Allah dapat ditangkap secara rasional. Demikian karena ibadah terdiri dari dua kategori, ta’aqquli (dapat dipahami makusdnya oleh akal) dan ta’abbudi (simbol loyalitas semata).

Di sana Kiai Ali Mustafa mendeskripsikan ibadah yang bersifat ta’aqquli umumnya mempunyai dimensi sosial horizontal, yaitu aturan yang berkaitan dengan sesama manusia. Adapun kedua, ta’abbudi umumnya memiliki dimensi vertikal, yaitu aturan yang berhubungan dengan Allah ﷻ. 

Begitu pula dengan ibadah kurban yang berkaitan dengan peristiwa penyembelihan Nabi Ismail oleh Nabi Ibrahim. Selain termasuk kategori yang memiliki dimensi vertikal, bukan berarti ia tidak memiliki hubungan secara horizontal.

Dalam peristiwan Nabi Ibrahim, kita dapat melihat keloyalitasan seorang hamba terhadap Tuhannya. Memang terasa janggal jika dilihat sekilas, dimana Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail merupakan dua manusia pilihan Allah ﷻ, diangkat menjadi nabi, namun masih perlu diuji keloyalitasannya oleh Allah ﷻ. Namun perlu kita pahami bahwa salah satu tugas nabi-nabi yang diutus oleh Allah ﷻ adalah memberi suri tauladan kepada umatnya, salah satunya adalah bagaimana manusia untuk taat kepada Tuhannya dan sabar terhadap ketentuan yang sudah ditakdirkan oleh-Nya.

Ibadah kurban juga menjadi simbol ketauhidan. Pada masa Jahiliyyah orang-orang musyrik cenderung menghormati bahkan mengkultuskan hewan-hewan tertentu. Kita dapat menemukan kebiasaan buruk tersebut dalam Al-Qur’an Surat al-Maidah ayat 103:

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

“Allah sekali-kali tidak pernah mensyari'atkan adanya bahîrah, sâibah, washîlah dan hâm. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Maidah 103)

Menurut manusia pada zaman Jahiliyyah, nama-nama hewan dalam ayat tersebut tidak boleh diganggu, disembelih, apalagi dimakan dagingnya. Dalam rangka menghapus tradisi ini, Allah memerintahkan umat Islam untuk menyembelih hewan-hwan pilihan dan menyuruh untuk memakan daginya. Dengan adanya ibadah kurban, sirnalah tradisi Jahiliyyah di atas.

Selain simbol keloyalitasan dan ketauhidan, Kiai Ali juga menjelaskan bahwa anak dan istri merupakan ‘hiasan kehidupan dunia’ yang mana Allah tegaskan dalam Al-Qur’an:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi 46)

Juga dalam Surat al-Anfal ayat 28 Allah menegaskan:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS al-Anfal 46)

Dari peristiwa Nabi Ibrahim kita dapat menyimpulkan bahwa beliau telah berhasil mendahulukan kepentingan Allah ﷻ dibanding dirinya sendiri. Sehingga wajar jika peristiwa tersebut dijadikan syari’at Islam, yaitu agar umat Islam dapat menangkap pesan moral dan hikmah di balik ibadah kurban.

Ketika penyembelihan hewan kurban, orang-orang di sekelilingnya dianjurkan untuk bertakbir. Dalam takbir ada makna yang tersirat, Kiai Ali memberi makna Allahu Akbar bukan sebagai ucapan semata, melainkan adalah mengagungkan Allah dengan mendahulukan perintah-perintahNya, mengagungkan Allah dan memperhatikan rumahNya atas rumah kita sendiri.

Kiai Ali Mustafa mengajak kita untuk merenungi, apakah kita selama ini sudah bertakbir? Mengagungkan namaNya? Memakmurkan rumahNya dengan shalat berjamaah di dalamnya? Atau selama ini takbir kita hanya sebuah ucapan formalitas yang sering dikumandangkan dalam acara rutinitas saja. 

Di bagian terakhir, Kiai Ali mengajak pembaca untuk menangkap makna yang dalam dari ibadah kurban sebagaimana di atas, jangan sampai hari raya Idul Adha dijadikan rutinitas setahun sekali saja. Hendaknya kita meneladani Nabi Ibrahim yang mampu mendahulukan kepentingan Allah dari kepentingan pribadi. 

Bila pesan-pesan moral itu tidak dapat diserap, khawatir selama ini kita hanya mengumandangkan kalimat takbir, shalat berjamaah Idul Adha di masjid hingga membludak, namun dalam keseharian kita tak dapat mengimplementasikannya. 

Namun sebaliknya, jika makna kurban, takbir, serta Idul Adha dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka kita dapat merasakan ketakwaan kepadaNya bukan hanya di masjid saja, namun juga di rumah-rumah, kantor kerja, tempat-tempat umum dan lain-lain.


(Amien Nurhakim, mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences. Disarikan dari tulisan Alm. Prof. KH Ali Mustafa Yaqub "Idul Adha: Membunuh Kepentingan Pribadi" dalam buku "Haji Pengabdi Setan" , Jakarta, Pustaka Firdaus, 2015)

Tags:
Share: