IMG-LOGO
Haji, Umrah, dan Kurban

Hukum Titip Nama dalam Ibadah Kurban

Rabu 22 Agustus 2018 14:45 WIB
Share:
Hukum Titip Nama dalam Ibadah Kurban
(Foto: via pinterest)
Kurban merupakan ibadah yang dianjurkan rutin setiap tahun. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kurban merupakan ibadah yang perlu niat. Oleh karena itu, mereka yang sudah wafat tidak lagi dapat berkurban karena mereka tidak lagi bias berniat kecuali almarhum pernah berwasiat semasa hidup.

Yang perlu diperhatikan berikutnya adalah bahwa seekor sapi atau unta hanya memadai untuk ibadah kurban tujuh orang. Satu pendapat gharib menyatakan bahwa seekor sapi bisa memadai untuk ibadah kurban sepuluh orang. Sementara seekor kambing hanya memadai untuk ibadah kurban satu orang.

وتجزئ  البقرة عن سبعة كذلك) أي اشتركوا فيها (وتجزئ الشاة) الضأن أو المعز (عن شخص واحد) فقط من حصول التضحية حقيقة، فإن ذبحها عنه وعن أهله أو عنه وأشرك غيره معه في ثوابها جاز، ومع ذلك يختص الثواب به

Artinya, “(Seekor sapi memadai untuk tujuh orang. Demikian juga) bila mereka bersekutu di dalamnya. (Seekor kambing memadai) domba atau kambing kacang (untuk seorang) saja untuk hasil kurban sebenarnya. Tetapi kalau seseorang memotongnya untuk kurban dirinya dan keluarganya, atau untuk kurban dirinya dan melibatkan orang lain bersamanya dalam hal pahala ibadah kurban, maka boleh. Ia pun mendapat pahala khusus di samping itu,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Tausyih ala Ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, halaman 270).

Masalah kuota orang yang berkurban harus dipisahkan dari masalah untuk siapa saja pahala kurban itu ditujukan. Kuota ibadah kurban seekor sapi terbatas hanya untuk tujuh kurbanis. Sedangkan kuota ibadah kurban seekor kambing terbatas hanya untuk seorang kurbanis. Tetapi pahala ibadah kurban itu bisa ditujukan ke banyak orang di luar kurbanis itu sendiri.

Hal ini diterangkan oleh Syekh Ibrahim Al-Baijuri. Seperti sudah disinggung oleh Syekh Nawawi Banten dalam Tausyih ala Ibni Qasim sebelumnya, kurbanis dapat menyertakan orang lain untuk pahala kurbannya, tetapi bukan sebagai kurbanisnya. Rasulullah SAW melakukan hal ini ketika ia menyembelih dua ekor kambing yang pahalanya ditujukan untuk dirinya, keluarganya, dan umatnya.

وتجزئ  البقرة عن سبعة كذلك) أي اشتركوا في التضحية بها مع أن ذلك ليس بقيد كما علم مما مر (وتجزئ الشاة عن شخص واحد) أي لا عن أكثر منه فلو اشترك مع غيره فيها لم تكف، نعم لو ضحى عنه وأشرك غيره معه في ثوابها لم يضر، وكذلك لو ضحى عنه وعن أهله فلا يضر وعلى ذلك حمل خبر مسلم ضحى رسول الله صلى الله عليه بكبشين وقال اللهم تقبل من محمد وآل محمد وأمة محمد وظاهره شمول ذلك للفقراء والأغنياء

Artinya, “(Seekor sapi memadai untuk tujuh orang. Demikian juga) bila mereka bersekutu di dalam ibadah kurban pada hewan tersebut di samping bahwa yang demikian itu tidak terbatas (muqayyad) sebagaimana dimaklum pada yang telah lalu. (Seekor kambing memadai untuk seorang) tidak lebih dari jumlah itu. Kalau seseorang mengikut serta dengan orang lain dalam ibadah kurban (lebih dari jumlah tersebut), maka ibadah itu tidak memadai. Tetapi kalau seseorang berkurban untuk dirinya dan menyertakan orang lain bersamanya dalam soal pahalanya, maka tidak masalah. Demikian pula jika seseorang berkurban untuk dirinya dan untuk anggota keluarganya (dalam soal pahala), maka tidak masalah. Atas pandangan ini terdapat penafsiran dari hadits riwayat Muslim bahwa Rasulullah SAW menyembelih dua kambing sebagai hewan kurban. Ia berdoa ketika meyembelihnya, ‘Ya Allah, terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.’ Secara lahir, doa ini mencakup semua orang fakir dan orang kaya,” (Lihat Syekh M Ibrahim Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 306).

Adapun perihal titip nama sebagai kurbanis kepada pemilik sapi yang kuota kurbanisnya belum mencapai tujuh orang, maka hal ini boleh saja meskipun antara orang yang menitip nama dan pemilik sapi itu tidak memiliki hubungan keluarga.

Perihal titip nama bisa dilakukan terhadap pemilik sapi sebagai individu, perusahaan, atau lembaga yang menyumbangkan sapi ke masyarakat. Kita dapat meminta izin kepada pemilik sapi bila memungkinkan agar kuota ibadah kurban yang kosong itu dapat kita isi dengan maksud agar keutamaan sunnah ibadah kurban yang luar biasa itu tidak terlewatkan sia-sia.

فَرْعٌ تُجْزِئُ الْبَدَنَةُ أَوْ الْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ) كَمَا تُجْزِئُ عَنْهُمْ فِي التَّحَلُّلِ لِلْإِحْصَارِ وَلِخَبَرِ مُسْلِمٍ عَنْ جَابِرٍ نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَظَاهِرٌ أَنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ وَاحِدٍ

Artinya, “(Seekor unta atau sapi memadai untuk tujuh orang) sebagaimana seekor unta atau sapi memadai untuk mereka sahabat Rasulullah SAW sebagai dam haji sebab tahallul yang disebabkan blockade dan berdasarkan riwayat Muslim dari Sahabat Jabir RA, ‘Kami bersama Rasulullah SAW di Hudaibiyyah menyembelih unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang.’ Secara lahir, mereka semua bukan berasal dari satu keluarga,” (Lihat Syekh Abu Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun],  juz VI, halaman 474).

Dari pelbagai ketarangan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa kuota ibadah kurban (sapi atau unta untuk ibadah kurban tujuh orang dan seekor kambing untuk ibadah kurban satu orang) dan pahala ibadah kurban untuk siapa yang dikehendaki kurbanis adalah dua hal yang berbeda. Kuota ibadah kurban terbatas. Sedangkan pahala ibadah kurban untuk siapa tidak terbatas. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Rabu 22 Agustus 2018 21:30 WIB
Hukum Pengambilan Jatah Daging atau Kulit oleh Panitia Kurban
Hukum Pengambilan Jatah Daging atau Kulit oleh Panitia Kurban
(Foto: pinterest)
Panitia kurban di tengah masyarakat biasanya merangkap sebagai tim jagal yang menyembelih, menguliti, mencincang, dan membuat paketan hewan kurban yang baru disembelih yang siap didistribusikan ke masyarakat. Kalau panitia kurban dipandang sebagai tim jagal, maka mereka tidak berhak menerima bagian hewan kurban (baik kulit, daging, maupun bagian lainnya) dari orang yang menunaikan ibadah kurban sebagai upah.

Pasalnya, orang yang menunaikan ibadah kurban diharamkan untuk memberikan sebagian dari hewan kurbannya kepada tim jagal sebagai upah bagi mereka. Orang yang menunaikan ibadah kurban harus menyiapkan dana atau benda berharga lainnya di luar daging atau kulit hewan kurbannya sebagai upah untuk mereka.

Syekh Nawawi Banten menjelaskan alasan kenapa orang yang berkurban dilarang memberikan daging atau kulit hewan kurban kepada tim jagal sebagai upah. Tetapi jika orang yang berkurban itu memberikan daging atau kulit hewan kurban kepada panitia kurban yang merangkap tim jagal dengan niat sedekah, maka pemberian itu tidak dilarang.

ـ (ويحرم أيضا جعله) أي شيئ منها (أجرة للجزار) لأنه في معنى البيع (ولو كانت الأضحية تطوعا) فإن أعطى للجزار لا على سبيل الأجرة بل على سبيل التصدق جزءا يسيرا من لحمها نيئا لا غيره كالجلد مثلا، ويكفي الصرف لواحد منهم، ولا يكفي على سبيل الهدية

Artinya, “(Menjadikannya) salah satu bagian dari kurban (sebagai upah bagi penjagal juga haram) karena pemberian sebagai upah itu bermakna ‘jual’, (meskipun itu ibadah kurban sunnah). Jika kurbanis memberikan sebagian daging kurban mentah, bukan selain daging seperti kulit, kepada penjagal bukan diniatkan sebagai upah, tetapi diniatkan sebagai sedekah [tidak masalah]. Pemberian daging kurban kepada salah satu dari penjagal itu memadai, tetapi pemberian daging kepada penjagal tidak memadai bila diniatkan hadiah,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Tausyih ala Ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1417 H], halaman 272).

Berbeda dari Syekh M Nawawi Banten yang menganggap pemberian kepada tim jagal dengan niat hadiah itu tidak memadai, Syekh M Ibrahim Al-Baijuri berpendapat lain.

Menurut Al-Baijuri, orang yang berkurban dilarang memberikan sesuatu dari hewan kurban kepada tim jagal dengan niat sebagai upah mereka. Kalau pemberian itu diniatkan sebagai sedekah atau hadiah untuk mereka, maka hal itu tidak masalah.

ـ (ويحرم أيضا جعله أجرة للجزار) لأنه في معنى البيع فإن أعطاه له لا على أنه أجرة بل صدقة لم يحرم  وله إهداؤه وجعله سقاء أو خفا أو نحو ذلك كجعله فروة وله إعارته والتصدق به أفضل

Artinya, “(Menjadikan [daging kurban] sebagai upah bagi penjagal juga haram) karena pemberian sebagai upah itu bermakna ‘jual’. Jika kurbanis memberikannya kepada penjagal bukan dengan niat sebagai upah, tetapi niat sedekah, maka itu tidak haram. Ia boleh menghadiahkannya dan menjadikannya sebagai wadah air, khuff (sejenis sepatu kulit), atau benda serupa seperti membuat jubah dari kulit, dan ia boleh meminjamkannya. Tetapi menyedekahkannya lebih utama,” (Lihat Syekh M Ibrahim Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 311).

Dari pelbagai keterangan di atas, kita dapat menarik simpulan bahwa orang yang berkurban dilarang memberikan sesuatu dari hewan kurbannya kepada tim jagal dengan niat sebagai upah kerja mereka. Tetapi ketika tim jagal itu tidak lain adalah tim panitia kurban sendiri, orang yang berkurban tetap dapat memberikan daging atau kulit mereka dengan niat sedekah, bukan niat sebagai upah.

Dengan asumsi bahwa tim jagal itu tidak lain adalah tim panitia kurban sendiri dan pelbagai keterangan fiqih tersebut, kita dapat mengatakan bahwa panitia kurban tetap berhak menerima daging atau kulit hewan kurban yang diniatkan sedekah, bukan upah, oleh mereka yang berkurban. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Rabu 22 Agustus 2018 16:15 WIB
Hukum Menyimpan Daging Kurban
Hukum Menyimpan Daging Kurban
null
Rasulullah SAW pernah melarang sahabatnya melakukan penyimpanan daging kurban. Larangan ini berkaitan dengan orang-orang Arab yang datang dari desa-desa ke dalam kota. Lalu Rasulullah melarang penduduk Madinah untuk menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari. Hal ini dimaksudkan agar orang-orang Arab badui itu pulang ke kampungnya tanpa tangan hampa.

وَقَدْ كَانَ) الِادِّخَارُ (مُحَرَّمًا) فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ (ثُمَّ أُبِيحَ) بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا رَاجَعُوهُ فِيهِ كُنْت نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ مِنْ أَجْلِ الدَّافَّةِ وَقَدْ جَاءَ اللَّهُ بِالسَّعَةِ فَادَّخِرُوا مَا بَدَا لَكُمْ رَوَاهُ مُسْلِمٌ قَالَ الرَّافِعِيُّ وَالدَّافَّةُ جَمَاعَةٌ كَانُوا قَدْ دَخَلُوا الْمَدِينَةَ قَدْ أَقْحَمَتْهُمْ أَيْ أَهْلَكَتْهُمْ السَّنَةُ فِي الْبَادِيَةِ وَقِيلَ الدَّافَّةُ النَّازِلَةُ

Artinya, “(Dahulu) penyimpanan daging kurban sempat (diharamkan) lebih dari tiga hari, (tetapi kemudian penyimpanan itu dibolehkan) berdasarkan sabda Rasulullah SAW ketika para sahabat mendatanginya perihal ini, ‘Dahulu aku melarang kalian perihal ini (penyimpanan) karena tamu (dari desa-desa), tetapi Allah datang memberikan kelonggaran. Maka simpanlah apa (daging) yang tampak pada kalian,’ [HR Muslim]. Imam Ar-Rafi’i mengatakan bahwa kata ‘tamu’ yang dimaksud adalah sekelompok orang yang memasuki Kota Madinah. Mereka adalah orang yang mengalami kesulitan setahun di desa-desa. Ada ulama berpendapat bahwa mereka adalah tamu yang singgah atau mampir,” (Lihat Syekh Abu Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun],  juz VI, halaman 474).

Karena perubahan situasi, Rasulullah SAW kemudian mengizinkan para sahabatnya untuk menyimpan daging kurban. Hanya saja para ulama kemudian menyarankan bahwa penyimpanan itu berlaku untuk sepertiga maksimal daging kurban yang menjadi hak kurbanis (dalam pandangan qaul jadid Imam Syafi’i). Sedangkan dua pertiga daging kurban yang seharusnya disedekahkan tidak disarankan untuk disimpan, tetapi dibagikan kepada mustahiqnya.

فَرْعٌ، وَلَا يُكْرَهُ الِادِّخَار) مِنْ لَحْمِ الْأُضْحِيَّةِ وَالْهَدْيِ وَالتَّصْرِيحُ بِعَدَمِ الْكَرَاهَةِ مِنْ زِيَادَتِهِ (وَلْيَكُنْ) أَيْ وَيُسْتَحَبُّ إذَا أَرَادَ الِادِّخَارَ أَنْ يَكُونَ (مِنْ ثُلُثِ الْأَكْلِ) لَا مِنْ ثُلُثَيْ الصَّدَقَةِ وَالْهَدِيَّةِ 

Artinya, “(Ini cabang masalah. Penyimpanan) daging kurban dan hadiyah jamaah haji (tidak makruh). Penyampaian secara lugas frasa ‘ketidakmakruhan’ adalah tambahannya [Abu Ishak As-Syirazi]. (Hendaknya) maksudnya kalau seseorang ingin menyimpan daging kurban dianjurkan (sepertiga haknya yang untuk dikonsumsi), bukan dua pertiga yang menjadi hak sedekah dan hadiyah,” (Lihat Syekh Abu Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun],  juz VI, halaman 474).

Imam An-Nawawi dalam Al-Majemuk juga menyinggung perihal izin penyimpanan daging kurban oleh Rasulullah yang sebelumnya sempat diharamkan. Menurutnya, masalah ini ditetapkan dengan jelas dalam hadits shahih.

فرع) يجوز ان يدخر من لحم الاضحية وكان ادخارها فوق ثلاثة ايام منهيا عنه ثم اذن رسول الله صلى الله عليه وسلم فيه وذلك ثابت في الاحاديث الصحيحة المشهورة

Artinya, “(Ini satu cabang) penyimpanan daging kurban boleh. Dahulu penyimpanan daging kurban melebihi tiga hari sempat dilarang. Tetapi kemudian Rasulullah mengizinkannya. Hal ini sudah tetap di dalam hadits-hadits shahih yang masyhur,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majemuk Syarhul Muhadzdzab, [Jeddah, Maktabah Al-Irsyad: tanpa catatan tahun], juz VIII, halaman 395).

Menurut Imam An-Nawawi, ulama berbeda pendapat perihal penyimpanan daging kurban. Sebagian ulama menyatakan, makruh tahrim. Sebagian ulama lagi menyatakan, makruh tanzih. Imam An-Nawawi kemudian menyatakan bahwa penyimpanan daging kurban dibolehkan dalam syariat Islam.

والصواب المعروف انه لا يحرم الادخار اليوم بحال وإذا اراد الادخار فالمستحب ان يكون من نصيب الاكل لا من نصيب الصدقة والهدية

Artinya, “Yang benar dan terkenal, bahwa penyimpanan hewan kurban hari ini dalam situasi apa pun tidak haram. Daging yang disimpan dianjurkan adalah (sepertiga–pent) jatah yang dikonsumsi, bukan (dua pertiga–pent) kuota yang seharusnya disedekahkan dan menjadi hadiyyah (oleh jamaah haji),” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majemuk Syarhul Muhadzdzab, [Jeddah, Maktabah Al-Irsyad: tanpa catatan tahun], juz VIII, halaman 395-396).

Di sini pentingnya memahami hadits Rasulullah SAW secara utuh dengan menimbang konteks asbabul wurud, tarikh riwayat, dan kemungkinan riwayat lain.

Kita tidak dapat langsung mengamalkan sebuah riwayat hadits Rasulullah yang melarang sesuatu, dalam hal ini penyimpanan daging kurban tanpa membaca riwayat lain yang berkaitan dengan masalah ini dan pertimbangan lain di dalam memahami sebuah hadits Rasulullah SAW.

Perihal larangan dan izin penyimpanan daging kurban ini merupakan perhatian Rasulullah terkait distribusi serta pemerataan hewan kurban dan terkait hak daging kurbanis serta hak daging bagi mustahiq. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 21 Agustus 2018 23:30 WIB
Sembilan Syarat Tawaf yang Harus Dipenuhi
Sembilan Syarat Tawaf yang Harus Dipenuhi
Ilustrasi (pri.org)
Tawaf (thawaf) secara bahasa adalah berputar, sedangkan secara istilah adalah berputar mengelilingi Ka’bah. Tawaf ada lima macam. Pertama, tawaf ifadlah. Kedua, tawaf qudum. Ketiga, tawaf wada’. Keempat, tawaf sunnah. Kelima, tawaf umrah.

Tawaf ifadlah termasuk bagian dari rukun-rukun haji, andaikan ditinggalkan, hajinya tidak sah, tidak bisa diganti dengan denda (dam). Demikian pula dengan tawaf umrah, termasuk dari rukunnya ibadah umrah yang apabila ditinggalkan berkonsekuensi sama dengan tawaf ifadlah. 

Tawaf qudum hukumnya sunnah, dilakukan saat seseorang memasuki kota Makkah. Sedangkan tawaf wada’ termasuk dari kewajiban-kewajiban haji, andaikan ditinggalkan, maka berdosa dan wajib diganti dengan denda (dam), namun tidak sampai menyebabkan rusaknya haji. 

Sedangkan tawaf sunnah merupakan ibadah yang dianjurkan bagi setiap orang yang masuk Masjidil Haram sebagai bentuk penghoramatan kepada Masjidil Haram. Sebagaimana tawaf qudum, tawaf ini tidak wajib, andaikan ditinggalkan tidak berdampak rusaknya haji, tidak pula berkonsekuensi kewajiban membayar dam.

Dalam pelaksanaannya, tawaf harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

Pertama, suci dari najis dan hadats (kecil maupun besar)

Saat melakukan tawaf, harus suci dari hadats kecil dan besar. Demikian pula badan, pakaian dan tempat yang dilalui harus suci dari najis. Bila di tengah tawaf berhadats atau terkena najis, maka harus bersuci dan menghilangkan najisnya terlebih dahulu, kemudian melanjutkan putaran dari tempat ia mulai berhadats atau terkena najis. Dan lebih utama untuk mengulangi tawaf dari awal.

Kedua, menutup aurat.

Orang tawaf auratnya harus tertutup, bila di tengah putaran tawaf, auratnya terbuka, maka wajib untuk segera ditutup dan melanjutkan putaran tawaf dari titik saat auratnya terbuka. Bagi orang yang tidak mampu menutup aurat, boleh untuk tawaf dengan membuka auratnya dan tidak wajib mengulangi.

Ketiga, memulai tawaf dari hajar aswad

Start awal tawaf terhitung dari hajar aswad, sehingga tidak dianggap putaran tawaf yang sah jika memulai sebelum sampai hajar aswad, setelah sampai hajar aswad, putaran tawaf baru dianggap sah.

Keempat, menyejajarkan pundak kiri dengan hajar aswad di awal dan akhir putaran.

Memulai tawaf wajib dengan cara menyejajarkan pundak kiri dengan hajar aswad, tidak diperbolehkan saat memuali putaran tawaf, bagian dari pundak kiri lebih maju dari posisi hajar aswad. Demikian pula saat mengakhiri putaran tawaf, pundak kiri disejajarkan dengan hajar aswad sebagaimana saat memulai putaran tawaf atau lebih maju sedikit hingga sampai arah pintu Ka’bah, agar seluruh bagian Ka’bah secara yakin tawaf merata di seluruh bagian Ka’bah.

Kelima, menjadikan Ka’bah di sebelah kiri

Seseorang harus selalu memastikan bahwa Ka’bah berada di sebelah kirinya di setiap langkah tawafnya, sehingga jika di tengah putaran tidak sesuai posisi tersebut, wajib segera ke posisi yang benar dan melanjutkan hitungan putaran tawaf dari tempat tersebut.

Keenam, semua anggota badan dan pakaian berada di luar bangunan Ka’bah, Syadzarwan dan Hijr Isma’il.

Saat tawaf, semua anggota badan dan pakaian orang yang tawaf, harus berada di luar bangunan-bangunan tersebut. Apabila di pertengahan putaran tawaf anggota badan berada di dalam kawasan-kawasan tersebut, maka tidak dihitung putaran tawaf, ia wajib segera berada di posisi yang benar dan melanjutkan jumlah putaran tawafnya.

Ketujuh, tawaf sebanyak tujuh kali putaran

Tawaf harus dilakukan secara yakin sebanyak tujuh kali putaran, jika ragu-ragu, maka mengambil bilangan yang paling sedikit untuk selanjutnya menambah jumlah putarannya, sebagaimana keraguan dalam rakaat shalat. Keraguan yang timbul setelah selesai tawaf, tidak berpengaruh dalam keabsahan tawaf.

Kedelapan, tidak bertujuan selain tawaf saat berputar

Di sepanjang langkah putaran tawaf, tidak boleh ada tujuan lain yang mengalihkan dari tujuan tawaf, seperti berjalan dengan cepat untuk menghindari persentuhan dengan lawan jenis, menghindari penagih hutang dan semacamnya, maka tidak sah.

Kesembilan, berada di dalam Masjidil Haram

Posisi orang yang tawaf tidak boleh keluar dari bagian Masjidil Haram, meski terdapat perluasan masjid, hukumnya tetap sah melaksanakan tawaf di dalamnya asalkan masih termasuk bagian dari Masjidil Haram. Sebagian ulama menyaratkan juga tidak boleh keluar dari tanah haram saat tawaf, namun menurut Sebagian yang lain, di antaranya Syekh Ibnu Hajar al-Haitami tetap sah meski dilakukan di luar tanah haram asalkan masih berada di kawasan Masjidil Haram.

Bagi orang yang sedang berihram, tidak disyaratkan niat dalam pelaksanaan tawaf, karena sudah tercakup dalam niat ihram haji/ umrah, hukum niat tawaf adalah sunnah. Sedangkan untuk orang yang tidak sedang berihram, maka disyaratkan niat tawaf saat memulai putaran tawaf. (M. Mubasysyarum Bih)

Referensi: Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, al-Tsimar al-Yani’ah Syarh Riyadl al-Badi’ah, hal.128-129, Jakarta-Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama tahun 2010.