IMG-LOGO
Shalat

Bagaimana Sujud Shalat Orang yang Dahinya Diperban?

Kamis 23 Agustus 2018 8:30 WIB
Share:
Bagaimana Sujud Shalat Orang yang Dahinya Diperban?
Ilustrasi (eastbay-oec.org)
Suatu ketika, terkadang seorang yang shalat berada di luar kondisi normal. Misalnya sedang menderita luka sehingga mengalami kendala yang mengharuskannya bersikap khusus dan mendapat keringanan khusus dari syara’ (rukhshah) ketika menjalankan ibadah wajib.

Di antara kasus yang muncul dalam persoalan ini adalah seorang yang menderita luka di bagian dahinya sehingga harus dibalut dengan perban yang menutup salah satu anggota sujud, yaitu dahi. Pertanyaan yang sering terlontar adalah apakah sah sujud dengan kondisi ada balutan tersebut? Apakah perlu qadha (mengganti di waktu lain) shalat atau bahkan i'adah (mengulang) shalat bilamana kondisinya sudah sembuh?

Para pembaca yang budiman, alangkah beratnya syariat ini bila kondisi yang sedemikian rupa ini mengharuskannya untuk mengulang shalat saat kondisi mushalli (orang yang shalat) sudah sembuh. Demikian juga, alangkah beratnya bila ia harus melakukan qadha’ sejumlah shalat selama ia sakit. Padahal, ada prinsip yang harus dipegang dalam agama, yaitu:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْر 

Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan Ia tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS Al-Baqarah: 185)

Di dalam ayat lain, Allah berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ أن يُخَفِّفَ عَنكُمْ وَخُلِقَ الإنسَانُ ضَعِيفًا

Artinya: “Allah menghendaki untuk meringankan kalian. Telah diciptakan manusia dengan sifat lemah.” (QS. Al-Nisa’: 28)

Kedua ayat ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa yang dikehendaki syariat adalah kemudahan seorang hamba di dalam menjalankannya, dan di dalam menyatakan diri tunduk beribadah kepada Allah dalam segala kondisi. Allah Maha-Mengetahui bahwa manusia adalah lemah. Oleh karenanya, berlaku syariat rukhshah (keringanan) bagi seorang hamba untuk hal/kondisi yang memang ia harus mendapatkan perlakuan khusus dalam syara’.

Menjawab contoh permasalahan di atas adalah kita harus mengingat kembali dengan topik permasalahan shalatnya orang yang tidak bisa melakukan gerakan shalat dengan sempurna. Ketika shalat orang yang tidak bisa bergerak sama sekali dan harus dalam kondisi terbaring sakit, maka boleh baginya melakukan shalat dengan jalan memberi isyarat. Demikian pula dengan shalat orang yang terpaksa harus melaksanakan dengan tanpa bisa melakukan ruku’ dan sujud, maka ia diharuskan melakukan gerakan ruku’ dan sujud dengan jalan menunduk. Untuk posisi sujud, kondisi menunduk sedikit lebih rendah dibanding menunduk untuk posisi ruku’.

Shalat dengan tata cara sebagaimana dijelaskan di atas dipandang sah oleh syariat, sehingga tidak perlu lagi melakukan qadha’ shalat, atau bahkan i’adah shalat. Lantas bagaimana dengan shalatnya orang yang dahinya diperban? Bilamana gerakan shalat sambil isyarat saja dipandang sah, tentu gerakan shalat orang dengan perban menutup dahi adalah lebih sah. Logika semacam ini dalam usul fiqh disebut qiyas aulawi

Alasan inilah kemudian yang mendorong Syekh Taqiyuddin Abu Bakar al-Husni dalam kitab Kifâyatul Akhyâr menyebutkan bahwa:

لو كان على جبهته جراحة وعصبها وسجد على العصابة أجزأه ولا قضاء عليه على المذهب لأنه إذا سقطت الإعادة مع الإيماء بالسجود فهنا أولى ولو عجز عن السجود لعلة أومأ برأسه فإن عجز فبطرفه ولا إعادة عليه

Artinya: “Seandainya ada luka menutup dahi seseorang sehingga mengharuskan diperban, kemudian ia melakukan gerakan sujud dengan tetap di atas perban itu, maka hal tersebut adalah mencukupi. Menurut mazhab Imam Syafi’i, ia tidak perlu qadha’ sebab jika mengulang shalat (i’adah) saja tidak diperlukan untuk orang yang shalat dengan isyarat ketika sujud, maka kondisi mushalli dengan perban seperti ini adalah lebih utama untuk mendapatkan keringanan gugurnya wajib i’adah. Bahkan disebutkan seandainya ada seseorang terkendala melakukan sujud disebabkan karena adanya penyakit, lalu ia sujud dengan memberi isyarat dengan tundukan kepalanya, atau dengan kedipan matanya, maka baginya tidak ada keharusan i’adah shalat.” (Lihat: Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Hushni, Kifâyatu al-Akhyar fi hilli Ghâyati al-Ikhtishâr, Surabaya, Al-Hidayah, 1993: 1/108)

Dengan bahasa lain, apabila i’adah shalat saja tidak diperlukan bagi “mushalli dengan gerakan isyarat”, apalagi qadha’ shalat. Tentu lebih tidak diperlukan. Dengan demikian, kesimpulan hukum dari permasalahan orang yang shalat dengan kondisi luka balutan menutupi anggota sujud, namun ia tidak atau belum bisa melakukan gerakan sempurna ruku’ dan sujud, adalah boleh dan sah shalatnya. Lakukanlah ruku’ atau sujud dengan cara sesuai kemampuan. Baginya juga tidak perlu qadla’ shalat setelah sembuh serta tidak perlu i’adah (mengulangi shalat). Wallâhu a’lam bish shawâb. (Muhammad Syamsudin)

Tags:
Share:
Sabtu 28 Juli 2018 3:45 WIB
Hukum Shalat Gerhana Bersama Keluarga di Rumah
Hukum Shalat Gerhana Bersama Keluarga di Rumah
Shalat sunnah gerhana termasuk salah satu shalat yang dianjurkan untuk dilakukan secara berjamaah di masjid sebagaimana shalat istisqa, dan shalat sejenis lainnya. Shalat sunnah gerhana yang dilakukan berjamaah di masjid mengandung keutamaan tersendiri di samping ada khutbah gerhana setelah shalat.

والسنة أن تصلّى في الجامع موضع صلاة الجمعة وينادى لها الصلاة جامعة فيصلى بهم الإمام ركعتين

Artinya, “Shalat sunnah gerhana dianjurkan dilaksanakan di masjid Jami tempat shalat Jumat dan diseru oleh bilal atau muazin dengan panggilan ‘as-shalatu jami‘ah’. Lalu jamaah masjid itu melakukan shalat berjamaah dua rakaat bersama imam,” (Lihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Ghuniyah, [Tanpa catatan kota, Darul Kutub Al-Islamiyyah: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 129).

Sebagaimana shalat istisqa (shalat minta air hujan), shalat sunnah gerhana adalah shalat sunnah yang dianjurkan dengan khutbah gerhana setelah shalat sebagaimana sunnah Rasulullah SAW. Syekh Taqiyuddin Al-Hishni dari Mazhab Syafi’i mengutip riwayat kesunnahan khutbah gerhana dari Imam Muslim.

ويسن أن يخطب بعد الصلاة خطبتين كخطبتي الجمعة لفعله صلى الله عليه وسلم رواه مسلم وفيه (قام فخطب فأثنى على الله تعالى) إلى أن قال (يا أمة محمد هل من أحد أغير من الله أن يرى عبده أو أمته يزنيان يا أمة محمد والله لو تعلمون ما أعلم لبكيتم كثيرا ولضحكتم قليلا ألا هل بلغت

Artinya, “Dianjurkan menyampaikan dua khutbah gerhana seperti khutbah Jumat setelah shalat sunnah gerhana sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat Imam Muslim. Di dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW berdiri lalu berkhutbah, memuji Allah SWT (sampai gilirannya beliau mengatakan) ‘Wahai ummat Muhammad, apakah ada yang lebih cemburu daripada Allah ketika melihat hamba laki-laki dan hamba perempuan-Nya berzina? Wahai ummat Muhammad, demi Allah, kalau sekiranya kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian lebih banyak menangis dan lebih sedikit tertawa. Ketahuilah, sudahkah kusampaikan?’” (Lihat Taqiyyiddin Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 128).

Kendati demikian, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menyebutkan kebolehan orang yang ingin melakukan shalat sunnah gerhana sendiri atau berjamaah bersama keluarga  di rumahnya. Tetapi Syekh Abdul Qadir menjelaskan bahwa shalat sunnah gerhana yang lebih utama dilakukan di masjid.

ومن أراد أن يصليها وحده في بيته أو مع أهله جاز. والأولى ما ذكرنا

Artinya, “Tetapi orang yang ingin melakukan shalat sunnah sendiri sendiri atau bersama keluarganya di rumahnya, boleh. Tetapi yang lebih utama adalah (shalat sunnah gerhana di masjid) sebagaimana telah kami utarakan,” (Lihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Ghuniyah, [Tanpa catatan kota, Darul Kutub Al-Islamiyyah: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 130).

Mereka yang shalat sendiri di rumah tentu saja tidak perlu berkhutbah. Syekh Taqiyyiddin Al-Hishni dalam Kifayatul Akhyar menyebutkan masalah ini sebagai berikut:

ومن صلى منفردا لم يخطب

Artinya, “Orang yang shalat sunnah gerhana bulan sendiri (tidak berjamaah) tidak perlu berkhutbah,” (Lihat Taqiyyiddin Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 128).

Meskipun tanpa khutbah, kami menyarankan mereka yang mengerjakan shalat sunnah gerhana di rumah baik sendiri maupun berjamaah bersama keluarga untuk merenungkan (tafakur atau muhasabah) pesan Rasulullah SAW dalam khutbah gerhana yang disampaikan di depan para sahabatnya.

Hanya saja kalau tanpa ada uzur, kami menyarankan masyarakat mendatangi masjid yang menyelenggarakan shalat sunnah gerhana berjamaah. Wallahu a‘lam. (Alahfiz K)
Sabtu 28 Juli 2018 3:0 WIB
Waktu Shalat Gerhana menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Waktu Shalat Gerhana menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
(Foto: youtube)
Shalat sunnah gerhana merupakan shalat sunnah dua rakaat yang dianjurkan untuk dilakukan karena sebab terjadinya peristiwa gerhana. Pada shalat sunnah gerhana bulan, kita dianjurkan melantangkan bacaan Al-Qur’an. Sebaliknya, kita cukup menyembunyikan bacaan (sirr) pada shalat sunnah gerhana matahari.

Kapan waktu shalat sunnah gerhana masuk? Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menerangkan bahwa ketika bumi mulai gelap karena matahari atau bulan mulai beringsut, maka waktu shalat sunnah gerhana tiba.

فمن حين يبتدئ ظهور السواد والكدر ونقصان الشعاع يدخل وقت الصلاة إلى أن يزول ذلك فإذا زال زال وقت الصلاة

Artinya, “Ketika mulai gelap dan suram serta cahaya berkurang, shalat sunnah gerhana telah tiba hingga kegelapan itu lenyap. Bila kegelapan itu lenyap, maka habis sudah waktu shalat sunnah gerhana,” (Lihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Ghuniyah, [Tanpa catatan kota, Darul Kutub Al-Islamiyyah: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 129).

Karena shalat sunnah gerhana adalah shalat sunnah yang dianjurkan karena sebab gerhana, maka kesunnahan shalat itu pun berhenti seketika sebab tersebut selesai. Dengan kata lain, shalat gerhana tidak lagi disunnahkan ketika peristiwa gerhana usai.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tengah melakukan sembahyang sunnah gerhana lalu peristiwa gerhana berlalu seketika?

Mereka yang tengah melakukan sembahyang sunnah gerhana tidak perlu panik apalagi membatalkan sembahyangnya. Mereka tetap dianjurkan untuk merampungkan sembahyang sunnah gerhananya.

وإن انجلى والناس في الصلاة استحبّ تخفيفها ولا يقطعونها

Artinya, “Ketika mulai terang sementara orang masih melangsungkan shalat sunnah gerhana, maka mereka dianjurkan untuk mempercepatnya dan tidak perlu membatalkannya,” (Lihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Ghuniyah, [Tanpa catatan kota, Darul Kutub Al-Islamiyyah: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 130).

Keterangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani ini cukup membantu bagi mereka yang memulai shalat sunnah gerhana ketika peristiwa gerhana matahari sudah berlangsung setengahnya.

Adapun khutbah setelah shalat gerhana tidak masalah dilakukan setelah gerhana usai. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Sabtu 28 Juli 2018 2:0 WIB
Hukum Baca Jahar pada Shalat Gerhana Bulan setelah Subuh
Hukum Baca Jahar pada Shalat Gerhana Bulan setelah Subuh
(Foto: bulannasa.gov)
Ketika terjadi gerhana bulan, kita dianjurkan untuk melakukan ibadah shalat sunnah muakkadah gerhana bulan. Pada saat membaca Al-Quran di dalam shalat sunnah gerhana, kita dianjurkan melantangkan bacaan Al-Quran tersebut (secara jahar).
 
ومن صلى منفردا لم يخطب ويستحب الجهر بالقراءة في خسوف القمر والإسرار في كسوف الشمس جاءت به السنة أما الجهر في القمر ففي الصحيحين وأما الإسرار ففي الترمذي وقال إنه حسن صحيح وصححه ابن حبان والحاكم وقال إنه على شرط الشيخين والله أعلم

Artinya, “Orang yang shalat sunnah gerhana bulan sendiri (tidak berjamaah) tidak perlu berkhutbah. Ia dianjurkan untuk melantangkan bacaan Al-Qur’an (jahar) pada shalat sunnah gerhana bulan dan menyembunyikan bacaan bacaan Al-Qur’an (sirr) pada shalat sunnah gerhana matahari sebagaimana tuntunan sunah Nabi Muhammad SAW. Perihal bacaan jahar pada shalat sunnah gerhana bulan, terdapat riwayat pada Bukhari dan Muslim. Perihal bacaan sirr pada sunnah gerhana matahari, terdapat riwayat pada Shahih At-Tirmidzi. Menurut At-Tirmidzi, kualitas riwayatnya perihal bacaan jahar adalah hasan shahih. Riwayat itu juga dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Kata Al-Hakim, riwayat At-Tirmidzi perihal jahar itu shahih menurut syarat periwayatan Bukhari dan Muslim. Wallahu a‘lam,” (Lihat Taqiyyiddin Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 128).

Ketentuan bacaan jahar untuk shalat gerhana bulan dan bacaan sirr untuk shalat gerhana matahari didasarkan pada sunnah Rasulullah SAW. Siti Aisyah RA meriwayatkan bacaan Rasulullah SAW ketika shalat sunnah gerhana bulan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَهَرَ فِي صَلَاةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ

Artinya, “Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW melantangkan bacaan Al-Quran pada shalat sunnah gerhana bulan,” (HR Bukhari dan Muslim).

Syekh Nawawi Banten dari kalangan Mazhab Syafi’i menegaskan bahwa bacaan Al-Qur’an pada shalat sunnah gerhana bulan bersifat lantang (jahar) meskipun shalat sunnah gerhana bulan dilakukan setelah shalat Subuh.

ويجهر بالقراءة في خسوف القمر) إجماعا إن لم تطلع الشمس وهو فيها لأنها ليلية أو ملحقة بها إذا كانت بعد الفجر

Artinya, “(Seseorang membaca lantang pada shalat sunnah gerhana bulan) berdasarkan ijmak ulama. Sekiranya matahari belum terbit, maka bacaan Al-Qura’an pada shalat sunnah gerhana bulan tetap bersifat lantang (jahar) karena ketika itu terbilang masih malam atau dikategorikan masih malam jika shalat sunnah gerhana dilakukan setelah fajar (subuh),” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Tausyih ala Ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, halaman 87).

Dari pelbagai keterangan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa bacaan shalat sunnah gerhana bulan bersifat lantang atau jahar. Ketentuan ini berlaku baik shalat sunnah gerhana bulan dilakukan pada malam hari sebelum shalat Subuh maupun dilakukan setelah shalat Subuh. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)