IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Maksud ‘Keterpisahan Allah dari Seluruh Makhluk’

Jumat 24 Agustus 2018 16:30 WIB
Share:
Maksud ‘Keterpisahan Allah dari Seluruh Makhluk’
Dalam banyak sekali pernyataan ulama salaf, ditemukan suatu keterangan bahwa Allah ﷻ terpisah (bâ’in) dari seluruh makhluk. Beberapa orang salah paham dengan makna kata “terpisah” ini. Mereka menyangka bahwa terpisah berarti terpisah secara fisik atau ada jarak fisikal antara Tuhan dan makhluk. Di antara yang salah paham adalah Syekh Ibnu Taymiyah yang menyatakan:

وَقَدْ اتَّفَقَ سَلَفُ الْأُمَّةِ وَأَئِمَّتُهَا: عَلَى أَنَّ الْخَالِقَ تَعَالَى بَائِنٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ لَيْسَ فِي ذَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ وَلَا فِي مَخْلُوقَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ ذَاتِهِ. وَالسَّلَفُ وَالْأَئِمَّةُ كَفَّرُوا الْجَهْمِيَّة لَمَّا قَالُوا إنَّهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَكَانَ مِمَّا أَنْكَرُوهُ عَلَيْهِمْ: أَنَّهُ كَيْفَ يَكُونُ فِي الْبُطُونِ وَالْحُشُوشِ والأخلية؟ تَعَالَى اللَّهُ عَنْ ذَلِكَ. فَكَيْفَ بِمَنْ يَجْعَلُهُ نَفْسَ وُجُودِ الْبُطُونِ وَالْحُشُوشِ والأخلية وَالنَّجَاسَاتِ وَالْأَقْذَارِ؟

“Sudah menjadi kesepakatan umat dan ulama salaf bahwa Allah Ta’ala terpisah dari makhluknya. Tak ada dalam Dzat-Nya sesuatu pun dari makhluk-makhluknya dan tak ada dalam makhluk-makhluknya sesuatu pun dari Dzat-Nya. Para Salaf dan para Imam mengafirkan Jahmiyah tatkala mereka berkata bahwa Allah ada di setiap tempat. Dan, di antara argumen mereka untuk menolak Jahmiyah adalah: Bagaimana Allah bisa berada di dalam perut, kebun dan toilet? Maha Suci Allah dari itu semua. Maka bagaimana dengan orang yang menjadikan Allah sebagai perut, kebun, toilet, najis dan kotoran itu sendiri?”. (Ibnu Taymiyah, Majmû’ al-Fatâwâ, juz II, halaman 126)

Jadi, dalam pandangan Ibnu Taymiyah di atas, dan juga pandangan kelompok pendaku salafi dewasa ini, keterpisahan (mubâyanah) Allah adalah keterpisahan secara fisik antara Dzat Allah dan Dzat makhluk. Dalam benak mereka, bila Allah tak terpisah dari makhluk berarti Allah berada di dalam diri makhluk, termasuk di dalam toilet, dalam kotoran dan sebagainya yang mustahil bagi Allah. Pengertian ini tentu bermasalah sebab berarti Allah dianggap sebagai jism (susunan materi) sehingga bisa terpisah secara fisik dengan makhluk yang seluruhnya berbentuk fisik pula. Hanya dua jism yang mampu membuat jarak satu sama lain sehingga bisa disebut terpisah.

Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah sama sekali menolak makna demikian sebab ini merupakan kemustahilan bagi Allah. Seperti dibahas sebelumnya, Allah tak bisa dikatakan tersambung atau terpisah dengan alam sebab Allah bukanlah jism sehingga tak relevan mengatakan itu. Secara spesifik tentang sifat keterpisahan (mubâyanah) ini, Imam al-Baihaqi (458 H) menukil dan membenarkan pernyataan sebagian ulama sebagaimana berikut:

وَالْقَدِيمُ سُبْحَانَهُ عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ لَا قَاعِدٌ وَلَا قَائِمٌ وَلَا مُمَاسٌّ وَلَا مُبَايَنٌ عَنِ الْعَرْشِ، يُرِيدُ بِهِ: مُبَايَنَةَ الذَّاتِ الَّتِي هِيَ بِمَعْنَى الِاعْتِزَالِ أَوِ التَّبَاعُدِ، لِأَنَّ الْمُمَاسَّةَ وَالْمُبَايَنَةَ الَّتِي هِيَ ضِدُّهَا، وَالْقِيَامُ وَالْقُعُودُ مِنْ أَوْصَافِ الْأَجْسَامِ، وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَحَدٌ صَمَدٌ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ [ص:309] يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، فَلَا يَجُوزُ عَلَيْهِ مَا يَجُوزُ عَلَى الْأَجْسَامِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

“Allah Yang Maha Qadim, Tinggi di atas Arasy, tidak duduk dan tak berdiri, tak menyentuh dan tak terpisah dari Arasy. Yang dia maksud adalah keterpisahan Dzat dalam makna menjauh secara fisik karena menyentuh dan terpisah sebagai kebalikannya, begitu pula berdiri dan duduk adalah sifat-sifat jism. Sedangkan Allah Maha Esa, tak beranak dan tak diperanakkan dan tak ada yang setara satu pun dengan-Nya. Maka tak boleh dikatakan baginya apa yang boleh dikatakan bagi jism”. (Imam al-Baihaqi, al-Asmâ’ wa as-Shifât, juz 2, halaman 308)

Bagi yang tak terbiasa dengan kajian ilmu tauhid, tentu hal ini agak membingungkan. Untuk menyederhanakan masalah, sebenarnya kata بائن atau مباينة dalam bahasa Arab mempunyai dua arti yang berbeda. Arti pertama adalah terpisah secara fisik. Makna inilah yang ditolak oleh Ahlussunnah wal Jamaah sebab Allah tidak berbentuk fisik. Arti kedua adalah berbeda dalam arti betul-betul tak sama. Makna kedua inilah yang dikehendaki ulama salaf dari kalangan Ahlussunnah ketika mereka mengatakan bahwa Allah bâ’in ‘an al-khalq (terpisah/berbeda dari makhluk).

Syekh Ibnu Khaldun (808 H), menjelaskan perbedaan makna ini dalam kitab Târîkh-nya sebagai berikut:

إنّ المباينة تقال لمعنيين: أحدهما المباينة في الحيّز والجهة، ويقابله الاتّصال. ونشعر هذه المقابلة على هذه التّقيّد بالمكان إمّا صريحا وهو تجسيم، أو لزوما وهو تشبيه من قبيل القول بالجهة. وقد نقل مثله عن بعض علماء السلف من التّصريح بهذه المباينة، فيحتمل غير هذا المعنى. ومن أجل ذلك أنكر المتكلّمون هذه المباينة وقالوا: لا يقال في البارئ أنّه مباين مخلوقاته، ولا متّصل بها، لأنّ ذلك إنّما يكون للمتحيّزات ... وأمّا المعنى الآخر للمباينة، فهو المغايرة والمخالفة فيقال: البارئ مباين لمخلوقاته في ذاته وهويّته ووجوده وصفاته. ويقابله الاتّحاد والامتزاج والاختلاط. وهذه المباينة هي مذهب أهل الحقّ كلّهم من جمهور السّلف وعلماء الشّرائع والمتكلّمين والمتصوّفة الأقدمين كأهل الرّسالة ومن نحا منحاهم

“Sesungguhnya mubâyanah dimaksudkan bagi dua makna. Makna yang pertama adalah keterpisahan dalam batasan dan arah, ini adalah lawan kata dari ketersambungan fisik. Kita menyadari ungkapan ini dari keterkaitannya dengan tempat, apabila secara gamblang dinyatakan maka berarti tajsîm (meyakini Allah adalah jism). Atau hanya berupa konsekuensi, maka itu adalah tasybîh dari sisi menetapkan adanya arah bagi Tuhan. Telah dinukil dari sebagian salaf yang menyatakan mubâyanah ini, maka kemungkinan bukan makna ini yang dimaksud. Karena itulah, para ahli kalam mengingkari mubâyanah dalam arti ini dan berkata: Allah tak boleh dibilang terpisah dari makhluk-Nya dan tak juga tersambung dengan mereka sebab hal itu hanya berlaku bagi hal-hal yang punya batasan fisik. ... Adapun makna yang lain bagi mubâyanah adalah perbedaan dan ketidaksamaan. Maka dikatakan bahwa Allah berbeda dari makhluk-makhluk-Nya dalam hal Dzat, hakikat, keberadaan dan sifat-sifatnya. Makna ini adalah lawan kata menyatu, bercampur, dan larut. Mubâyanah dalam makna ini adalah mazhab orang-orang yang benar, yaitu dari kalangan mayoritas salaf, ulama ahli fikih, ahli kalam, dan ahli tasawuf yang awal-awal seperti pengarang kitab Risâlah (Imam al-Qusyairi) dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka”. (Ibnu Khaldun, Târîkh Ibnu Khaldûn, juz I, halaman 615).

Dengan demikian, jelaslah bahwa ungkapan Allah “terpisah” dari makhluk dimaksudkan sebagai pernyataan bahwa Allah berbeda dalam hal Dzat, hakikat, keberadaan dan sifat-sifatnya dari seluruh makhluk yang ada. Bukan berarti ada jarak fisik yang bisa diukur dengan satuan jarak (seperti kilometer, mil, dan sebagainya) antara Allah dan makhluk. Begitu pula, dengan arguentasi yang sama, keyakinan sebagian kecil orang yang menyangka bahwa Allah menyatu dengan manusia adalah keyakinan yang keliru. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Tags:
Share:
Kamis 23 Agustus 2018 15:30 WIB
Pertanyaan Jebakan: Apakah Allah di Luar Alam ataukah di Dalamnya?
Pertanyaan Jebakan: Apakah Allah di Luar Alam ataukah di Dalamnya?
Ada satu pertanyaan yang populer di kalangan para teolog Muslim. Pertanyaan ini menjadi kontroversi sebab berhubungan dengan aqidah dan bahkan menjadi salah satu poin pembeda antara Ahlussunnah wal Jama’ah dan golongan lain. Pertanyaannya adalah: Apakah Allah berada di luar alam ataukah di dalamnya?

Pertanyaan ini sebenarnya adalah jebakan yang apabila dijawab dengan salah satu dari jawaban yang tersedia, maka pasti akan salah. Bila kita mengatakan bahwa Allah berada di dalam alam, itu sama saja dengan mengatakan bahwa Allah bertempat dan bercampur dengan makhluk-Nya di alam dunia ini. Akan tetapi ketika kita mengatakan bahwa Allah di luar alam, maka sama saja kita mengatakan bahwa Allah terbatas dalam ruang dan arah tertentu. Jadi, kedua jawaban tersebut bisa dipastikan salah dan mustahil bagi Tuhan yang keberadaan-Nya tak terbatas dalam ruang atau waktu.

Karena itulah para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa Allah tidak di luar alam dan tidak juga di dalamnya. Imam Ibnul Jauzi (597 H) menjelaskan:

وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه لأن الدخول والخروج من لوازم المتحيزات 

“Demikian juga sebaiknya dikatakan bahwa Allah tidak berada di dalam alam dan juga tidak berada di luarnya karena di dalam atau di luar keduanya termasuk konsekuensi dari adanya batasan-batasan”. (Imam Ibnul Jauzi, Daf’u Syubahi at-Tasybîh, 130)

Senada dengan itu, Imam Abu al-Mudhaffar al-Isfirayini (471 H) juga mengatakan:

وأن تعلم أن الحركة والسكون والاتصال والانفصال .. كلها لا تجوز عليه تعالى لأن جميعها يوجب الحد والنهاية 

“Engkau harus tahu bahwa gerakan, diam, bersambung, berpisah seluruhnya tidak mungkin bagi Allah Ta'ala sebab semua itu mewajibkan adanya batasan dan ujung”. (Imam Abu al-Mudhaffar al-Isfirayini, at-Tabshîr fî ad-Dîn, 97) 

Meski banyak ulama yang menjelaskannya, namun banyak juga orang yang tidak dapat memahami penjelasan di atas sehingga menyangka bahwa ucapan “tak di dalam dan tak di luar” berkonsekuensi pada penafian terhadap eksistensi Tuhan. Bagi mereka, kalau tak di dalam alam dan tak di luarnya berarti sama saja dengan mengatakan tak ada. Akhirnya mereka menolak pernyataan ini sekuat tenaga, seperti yang juga dilakukan oleh pelaku Salafi di era modern ini dalam buku-buku mereka.

Sebenarnya bukan hanya orang sekarang yang bingung, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (504 H) menjelaskan bahwa di masanya juga ada orang yang bingung terhadap istilah ini sehingga menolaknya. Beliau berkata:

إن الله تعالى مقدس عن المكان ومنزه عن الأقطار والجهات وأنه ليس داخل العالم ولا خارجه ولا هو متصل ولا منفصل عنه ؛ قد حير عقول أقوام حتى أنكروه إذ لم يطيقوا سماعه ومعرفته 

“Sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Suci dari tempat, ujung, arah dan bahwasanya Allah tidak di dalam alam dan juga tidak di luarnya. Tidak juga Ia bersambung dan tidak juga terpisah dari alam. Akal sebagian kelompok menjadi bingung sehingga mereka mengingkarinya karena mereka tidak mampu mendengar dan mengetahuinya”. (Imam Al-Ghazali, Ihyâ’ Ulûm ad-Dîn, juz IV, halaman 434)

Meskipun mengetahui bahwa Allah tak berada di dalam alam atau di luarnya adalah aqidah yang sangat penting, namun ulama Ahlussunnah wal Jama’ah tetap memaklumi orang-orang pada umumnya yang tidak paham sebab ini adalah perkara yang memang tak dapat dijangkau oleh orang dengan kemampuan rasio yang standar. Imam Izzuddin bin Abdissalam (660 H), yang terkenal dengan julukan Sultanul Ulama, mengatakan:

فَإِنَّ اعْتِقَادَ مَوْجُودٍ لَيْسَ بِمُتَحَرِّكٍ وَلَا سَاكِنٍ وَلَا مُنْفَصِلٍ عَنْ الْعَالَمِ وَلَا مُتَّصِلٍ بِهِ، وَلَا دَاخِلٍ فِيهِ وَلَا خَارِجٍ عَنْهُ لَا يَهْتَدِي إلَيْهِ أَحَدٌ بِأَصْلِ الْخِلْقَةِ فِي الْعَادَةِ، وَلَا يَهْتَدِي إلَيْهِ أَحَدٌ إلَّا بَعْدَ الْوُقُوفِ عَلَى أَدِلَّةٍ صَعْبَةِ الْمُدْرَكِ عَسِرَةِ الْفَهْمِ فَلِأَجْلِ هَذِهِ الْمَشَقَّةِ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا فِي حَقِّ الْعَادِي.

“Sesungguhnya meyakini ada eksistensi yang tidak bergerak juga tidak diam, tidak bertempat di dalam dan juga tidak terpisah dari alam ,tidak bersambung dengan alam, tidak di dalamnya dan tidak juga di luarnya, adalah ucapan yang tidak dapat dimengerti oleh seseorang dengan kecerdasan bawaannya. Juga takkan ada yang mengerti kecuali setelah mengetahui dalil-dalil yang sulit dijangkau dan dipahami. Karena kesulitan inilah, maka Allah mengampuni orang pada umumnya yang tak mengerti”. (Izzuddin bin Abdissalam, Qawâ’id al-Ahkâm fî Mashâlih al-Anâm, juz I, halaman 201)

Padahal kalau mau berpikir sederhana saja, tidak ada yang rumit dari istilah ini. Allah tidak bisa dikatakan di dalam alam atau di luar alam atau bersambung atau terpisah dengan alam sebab Allah memang bukan jism (materi) sehingga tidak relevan mengatakan itu semua yang menjadi ciri khas jism.

Ini sama saja dengan pertanyaan “apakah sebongkah batu adalah lelaki atau perempuan?” Dijawab lelaki salah, dijawab perempuan juga salah sebab memang sebongkah batu tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin. Sama juga dengan pertanyaan “Apakah seekor kambing cerdas atau bodoh?” Menjawab cerdas atau bodoh dua-duanya salah sebab kambing memang tidak punya rasio. Jadi, yang salah dari semua ini adalah pertanyaannya. Andai sejak awal dipahami bahwa Allah ﷻ bukan jism, maka pertanyaan seperti itu tak akan membingungkan. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember
Kamis 23 Agustus 2018 10:30 WIB
Apakah Allah Bergerak?
Apakah Allah Bergerak?
Ketika membicarakan sifat Allah yang berupa tindakan (af’âl), semisal sifat istiwâ’, nuzûl (turun), majî’ (datang) dan sebagainya, ada beberapa orang yang memahami bahwa Allah itu bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini bukan hanya terjadi dewasa ini, namun sudah dimulai dari era klasik di sebagian kecil kalangan ahli hadits. Ibnu Rajab al-Hanbali (795 H) menceritakan bahwa sebagian ahli hadits di masa belakangan dari kalangan Hanabilah (pengikut Imam Ahmad) secara gamblang mengatakan bahwa Allah bergerak, dan bahkan mereka menisbatkannya pada Imam Ahmad sendiri, sayangnya semuanya tidak benar. Ia berkata:

ومنهم من يصرح بلوازم ذلك من إثبات الحركة. وقد صنف بعض المحدثين المتأخرين من أصحابنا مصنفاً في إثبات ذلك، ورواه عن الامام أحمد من وجوه كلها ضعيفة، لا يثبت عنه منها شيء.

“Sebagian ahli hadits ada yang terus terang menetapkan konsekuensi dari hakikat turunnya Allah, yakni penetapan adanya gerakan. Para ahli Hadits di masa belakangan dari kalangan kami (Hanabilah) membuat karangan untuk menetapkan itu dan mereka meriwayatkannya dari Imam Ahmad dari sanad-sanad yang seluruhnya lemah, tak ada satu pun dari sanad itu yang valid”. (Ibnu Rajab, Fath al-Bâry, juz IX, halaman 494).

Jadi, sebagian ulama ahli hadits bermazhab Hanbali memang mengatakan bahwa Allah bergerak. Mereka tampaknya acuh pada fakta bahwa sama sekali tak ada ayat atau hadis yang mengatakan bahwa Allah bergerak, dan bahwasanya bergerak adalah tindakan yang hanya bisa dilakukan oleh jism (susunan materi) yang terbatas dalam ruang. Sebab merekalah akhirnya muncul pernyataan sebagian orang bahwa banyak pengikut Imam Ahmad di masa belakangan beraqidah tajsîm (meyakini bahwa Allah berbentuk fisik).

Berbeda dengan mereka, para ulama Ahlussunnah menyatakan dengan jelas bahwa Allah tidak bergerak dan bahkan mustahil bergerak sebab Allah memang bukanlah jism. Mengatakan bahwa Allah bergerak hanya akan menodai kesucian Allah sebab melekatkan sifat yang menjadi ciri khas makhluk kepada Allah. Berikut ini adalah beberapa pernyataan mereka:

Imam Ahmad bin Hanbal (241 H), sebagaimana dinukil oleh Ibnu al-Banna’ al-Hanbali (471 H):

ونقل عن ابن البناء في اعتقاد الإمام أحمد قوله: ولا يقال بحركة ولا انتقال

“Ibnu al-Banna’ berkata tentang hadis Nuzûl dalam aqidah Imam Ahmad: Tak boleh dikatakan turun dengan bergerak atau berpindah”. (Ahmad bin Hamdan, Nihâyat al-Mubtadi’în, 32)

Imam al-Thabari (310 H):

علا عليها علوّ مُلْك وسُلْطان، لا علوّ انتقال وزَوال.

“Allah Maha Tinggi di atas Arasy, seperti tingginya Raja dan Sultan, bukan tinggi dalam arti berpindah atau bergerak”. (Imam al-Thabari, Tafsîr at-Thabary, juz I, halaman 430)

Imam al-Baihaqi (458 H):

وَأَفْعَالُ اللَّهِ تَعَالَى تُوجَدُ بِلَا مُبَاشَرَةٍ مِنْهُ إِيَّاهَا وَلَا حَرَكَةٍ

“Tindakan Allah Ta’ala ada tanpa sentuhan dari-Nya kepada objek dan tanpa adanya pergerakan”. (Imam al-Baihaqi, al-Asmâ’ wa as-Shifât, juz II, halaman 308).

Imam al-Qurthuby (671 H):

والقاعدة تنزيهه عز وجل عَنِ الْحَرَكَةِ وَالِانْتِقَالِ وَشَغْلِ الْأَمْكِنَةِ.

“Kaidahnya adalah menyucikan Allah ﷻ dari gerakan, perpindahan, dan bertempat”. (Imam al-Qurthuby, Tafsîr al-Qurthuby, VI, 390)

Ibnu Abdil Barr (461 H):

وَقَدْ قَالَتْ فِرْقَةٌ مُنْتَسِبَةٌ إِلَى السُّنَّةِ إِنَّهُ يَنْزِلُ بِذَاتِهِ! وَهَذَا قَوْلٌ مَهْجُورٌ لِأَنَّهُ تَعَالَى ذِكْرُهُ لَيْسَ بِمَحَلٍّ لِلْحَرَكَاتِ وَلَا فِيهِ شَيْءٌ مِنْ عَلَامَاتِ الْمَخْلُوقَاتِ

“Kelompok yang menisbatkan diri pada sunnah telah berkata bahwa Allah turun dengan Dzat-Nya!. Ini adalah perkataan yang tertolak sebab Allah yang Maha Tinggi penyebutannya bukanlah tempat bagi pergerakan dan tak ada dalam diri-Nya satu pun tanda-tanda kemakhlukan”. (Ibnu Abdil Barr, al-Istidzkâr, juz II, halaman 530).

Dalam kitab at-Tamhîd, Ibnu Abdil Barr menjelaskan alasan kemustahilan adanya gerakan dari Allah agak terperinci sebagai berikut:

وَقَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا وَلَيْسَ مَجِيئُهُ حَرَكَةً وَلَا زَوَالًا وَلَا انْتِقَالًا لِأَنَّ ذَلِكَ إِنَّمَا يَكُونُ إِذَا كَانَ الْجَائِي جِسْمًا أَوْ جَوْهَرًا فَلَمَّا ثَبَتَ أَنَّهُ لَيْسَ بِجِسْمٍ وَلَا جَوْهَرٍ لَمْ يَجِبْ أَنْ يَكُونَ مَجِيئُهُ حَرَكَةً وَلَا نَقْلَةً

“Allah ﷻ telah berfirman ‘dan telah datanglah Tuhanmu dan para Malaikat berbaris-baris’, kedatangan-Nya bukanlah sebuah gerakan, pergeseran atau perpindahan sebab semua itu hanya terjadi apabila yang dating adalah susunan materi (jism) atau materi tunggal (jauhar). Ketika telah valid bahwa Allah bukanlah susunan materi atau materi tunggal, maka kedatangannya bukan berarti gerakan atau perpindahan”. (Ibnu Abdil Barr, at-Tamhîd limâ fî al-Muwattha’ Min al-Ma’ânî wa al-Asânîd, juz VII, halaman 137)

Imam an-Nawawi (676 H):

هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ أحَادِيثِ الصِّفَاتِ وَفِيهِ مَذْهَبَانِ مَشْهُورَانِ لِلْعُلَمَاءِ سَبَقَ إِيضَاحُهُمَا فِي كِتَابِ الْإِيمَانِ وَمُخْتَصَرُهُمَا أَنَّ أَحَدُهُمَا وَهُوَ مَذْهَبُ جُمْهُورِ السَّلَفِ وَبَعْضِ الْمُتَكَلِّمِينَ أَنَّهُ يُؤْمِنُ بِأَنَّهَا حَقٌّ عَلَى مَا يَلِيقُ بِاللَّهِ تَعَالَى وَأَنَّ ظَاهِرَهَا الْمُتَعَارَفُ فِي حَقِّنَا غَيْرُ مُرَادٍ وَلَا يَتَكَلَّمُ فِي تَأْوِيلِهَا مَعَ اعْتِقَادِ تَنْزِيهِ اللَّهِ تَعَالَى عَنْ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِ وَعَنِ الِانْتِقَالِ والحركات وسائر سمات الخلق

“Hadits nuzûl ini termasuk hadits-hadits tentang sifat Allah. Di dalamnya ada dua mazhab yang terkenal di kalangan ulama, yang telah diterangkan sebelumnya di bab kitab al-Îmân. Secara ringkas, salah satunya adalah mazhab mayoritas ulama Salaf dan sebagian ahli kalam bahwasanya hadis tersebut diyakini bahwa itu benar sesuai dengan pengertian yang layak bagi Allah Ta'ala dan bahwa makna lahirnya yang telah dikenal dalam diri kita bukanlah yang dimaksud, dan tidak juga ditakwil serta diyakini bahwa Allah Maha Suci dari sifat-sifat makhluk, perpindahan dan pergerakan dan seluruh tanda-tanda ke makhlukan”. (Imam an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘alâ Muslim, juz VI, halaman 36)

Ibnu Hajar al-Asqalâni (852 H):

فَمُعْتَقَدُ سَلَفِ الْأَئِمَّةِ وَعُلَمَاءِ السُّنَّةِ مِنَ الْخَلَفِ أَنَّ اللَّهَ مُنَزَّهٌ عَنِ الْحَرَكَةِ وَالتَّحَوُّلِ وَالْحُلُولِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْء

“Maka aqidah para imam Salaf dan ulama sunnah dari kalangan belakangan (khalaf) adalah bahwa sesungguhnya Allah disucikan dari pergerakan, perubahan dan bertempat. Tiada satu pun yang sama dengan-Nya”. (Ibnu Hajar al-Asqalâni, Fath al-Bâry, juz VII, 124). 

Demikianlah, tak terhitung jumlah pernyataan para ulama yang menjelaskan bahwa Allah tak bergerak sebab Allah bukanlah jism. Bahkan Qadli Abu Ya’la (458 H), yang oleh banyak ulama dikenal sebagai salah satu tokoh bermazhab Hanbali yang sangat terpengaruh aqidah tajsîm, mengatakan dengan tegas bahwa Allah tak bergerak. Ia berkata:

وقد وصفه النبي بالنزول إلى السماء الدنيا والعلو، لا على جهة الانتقال والحركة، كما جازت رؤيته، لا في جهة، وتجلی للجبل، لا على وجه الحركة والانتقال

“Nabi telah menyifati dengan nuzûl (turun) ke langit dunia dan sekaligus ‘uluw (Maha Tinggi), tetapi bukan dalam arti berpindah dan bergerak, seperti halnya bisa saja Allah dilihat tak dalam arah tertentu dan menampakkan diri pada gunung (dalam kisah Nabi Musa) bukan dalam arti bergerak dan berpindah”. (Ahmad bin Hamdan, Nihâyat al-Mubtadi’în, 32)

Masih banyak lagi yang bisa ditampilkan sebab ini adalah aqidah mayoritas ulama. Namun kadar ini sudah sangat cukup bagi mereka yang mencari kebenaran. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember


Rabu 22 Agustus 2018 15:30 WIB
Aqidah Kontradiktif tentang Turunnya Tuhan
Aqidah Kontradiktif tentang Turunnya Tuhan
Ilustrasi (kayipazar.com)
Dinyatakan dalam suatu hadits shahih bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ 

Tuhan kita yang Maha Agung dan Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika telah tersisa sepertiga malam terakhir. Ia berfirman: Siapakah yang berdoa kepadaku, maka aku akan mengabulkannya, Siapa yang meminta kepadaku, maka aku akan memberikannya. Siapa yang memohon ampun kepadaku maka akan Aku ampuni. (HR. Bukhari-Muslim)

Telah dibahas sebelumnya dalam artikel berjudul “Makna ‘Allah Turun ke Langit Dunia di Sepertiga Malam Terakhir’” bahwa menurut Ahlussunnah Wal Jamaah, kata “turun” dalam hadits itu tidak mungkin dimaknai secara hakikat dalam arti pergerakan Dzat Allah dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah sebab Allah bukanlah jisim sehingga keberadaan-Nya tidaklah terbatas (tahayyuz) dalam ruang. Penafsiran Ahlussunnah tersebut cocok sepenuhnya dengan berbagai dalil lainnya tentang sifat Allah dan sama sekali jauh dari kontradiksi.

Berbeda dengan itu, beberapa tokoh modern dari kalangan pendaku Salafi mengutarakan pendapat yang berbeda dan kontradiktif. Salah satunya adalah Syekh Ibnu Utsaimin yang dalam kitabnya menyatakan:

نزوله تعالى حقيقي ... ونقول: ينزل ربُّنا إلى السماء الدنيا، وهي أقرب السماوات إلى الأرض، والسماوات سبع، وإنما ينزل عزَّ وجلَّ في هذا الوقت من الليل للقرب من عباده جل وعلا ... أن المراد بالنزول هنا نزول الله نفسه 

“Turunnya Allah adalah secara hakikat (turun dalam makna bukan kiasan)… Kami berpendapat bahwa Tuhan kita turun ke langit dunia, langit tersebut adalah langit terdekat ke bumi, sedangkan jumlah langit ada tujuh. Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla turun di waktu ini tak lain karena agar dekat dari para hamba-Nya. … bahwa yang dimaksud dengan turun di sini adalah turunnya Allah sendiri." (Syarh al-‘Aqîdah al-Wâshithiyah, juz II, halaman 13-14).

Jadi, dia menafsirkan hadits tersebut sebagai turun dalam makna hakikat. Makna hakikat ini dia perjelas maksudnya adalah sebuah tindakan dari Allah untuk mendekat. Pernyataan ini tak bisa dimaknai lain selain dalam arti bahwa Allah bergerak sehingga jarak antara Allah dan para hamba-Nya semakin pendek; dari awalnya di atas langit ke tujuh menuju ke langit terdekat dari bumi (langit dunia). Di samping itu, ia menyatakan dengan amat jelas bahwa yang turun adalah Allah sendiri, bukan turunnya malaikat, kasih saying atau urusan Allah.

Syekh Ibnu Utsaimin tahu betul argumen ulama Ahlussunnah yang menyatakan bahwa makna turun adalah pergerakan (harakah wa intiqâl) sedangkan pergerakan adalah sifat baru dan Allah maha suci dari sifat-sifat baru sehingga harusnya hadits di atas tidak dimaknai secara literal. Menurutnya, argumen semacam ini adalah perdebatan yang bathil (jidâl bi al-bâthil) yang tak menghalangi dari hakikat turunnya Allah (nuzûl). Alasannya, para sahabat tak pernah mengatakan seperti ini sehingga yang mengatakannya dianggap seolah lebih tahu dari para sahabat. (Lihat: Syarh al-‘Aqîdah al-Wâshithiyah, juz II, halaman 15). 

Selanjutnya, Syekh Ibnu Utsaimin menegaskan makna turun yang dia maksud sebagai berikut:

فنقول: ينزل، لكنه عال عزَّ وجلَّ على خلقه؛ لأنه ليس معنى النزول أن السماء تُقِلُّه، وأن السماوات الأخرى تظلُّه؛ إذ إنه لا يحيط به شيء من مخلوقاته.

“Kami berkata: Allah turun, tetapi Ia Maha Tinggi di atas seluruh makhluknya, sebab sesungguhnya makna turun bukanlah dalam arti bahwa langit menyangganya sedangkan beberapa langit lain menaunginya karena Allah tak diliputi oleh satupun dari makhluk-Nya.” (Syarh al-‘Aqîdah al-Wâshithiyah, juz II, halaman 15).

Tampak sekali kontradiksi antara pernyataan sebelumnya yang mengatakan turun dalam arti sebenarnya ke langit dunia yang terendah, dengan pernyataan terakhir bahwa turun bukan dalam arti berada di bawah langit yang lebih tinggi. Pernyataan semacam ini tak dapat dipahami oleh akal sehat mana pun sebab secara rasional bila Allah disebut turun dalam arti sebenarnya, maka itu berarti Ia menuju ke tempat di mana enam langit berada di atasnya dan satu langit terendah, yakni langit dunia, berada tetap di bawahnya. Bila maknanya ternyata bukan demikian, berarti itu bukanlah makna hakikat yang dimengerti oleh manusia tetapi makna kiasan (takwil) atau memasrahkan makna hakikatnya kepada Allah semata (tafwîdh). Anehnya, Syekh Ibnu Utsaimin menolak keras takwil ataupun tafwidh sehingga penjelasannya di atas sama sekali tak bisa dipahami.

Makin kontradiktif lagi ketika Syekh Ibnu Utsaimin dan banyak tokoh pendaku salafi lainnya di satu sisi menegaskan bahwa Allah berada di atas Arasy secara hakikat setiap saat tetapi juga turun ke langit dunia yang mengalami sepertiga malam terakhir setiap saatnya juga secara hakikat. Ungkapan seperti ini sama sekali tak dapat dimengerti sebab ini berkaitan dengan Dzat Allah dan dua tempat fisikal yang berbeda. Lain halnya bila kasusnya adalah tindakan Allah (af’âl), semisal Allah dapat memberi rezeki seluruh makhluk dalam waktu bersamaan, dapat menghitung amal perbuatan seluruh manusia dan jin di akhirat secara bersamaan, dan perbuatan lainnya dari Allah. Perbuatan Allah atau af’âl bisa beragam dan serentak dalam satu waktu sebab Allah Maha Berkuasa, tetapi tentu saja berbeda halnya dengan Dzat Allah yang secara pasti dan meyakinkan hanya ada satu dan tak bertempat pula.

Sayangnya, penjelasan manusia bukanlah seperti ayat suci yang apabila tak bisa dinalar lantas tetap diimani tanpa dibahas. Akan tetapi, seluruh penjelasan tak masuk akal dari manusia selain Nabi mesti ditolak dan diabaikan, apalagi bila berkaitan dengan aqidah. Adapun argumennya bahwa pembahasan seperti ini adalah kebatilan sebab tak pernah dibahas oleh para Sahabat merupakan argumen yang rapuh. Betapa banyak pembahasan yang tak ada di masa Sahabat namun dibahas di masa berikutnya seiring tumbuhnya ilmu pengetahuan di segala bidang.

Sebenarnya kontradiksi tersebut akan hilang apabila mereka mau membuang jauh-jauh kata “hakikat” itu sebagaimana Rasulullah dan para sahabat juga tak pernah memakainya. Namun, sepertinya mereka enggan melakukannya dan terus menerus memilih redaksi yang secara lahiriyah mengarah pada makna fisikal, meski mereka sendiri menolak disebut Mujassimah atau Musyabbihah. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember