IMG-LOGO
Shalat

Kapan Orang dengan Luka Diperban Wajib Mengulang Shalatnya?

Jumat 24 Agustus 2018 11:30 WIB
Share:
Kapan Orang dengan Luka Diperban Wajib Mengulang Shalatnya?
Ilustrasi (pixabay)
Selalu ada saja kejadian di dunia ini. Secara tidak disangka-sangka, seseorang berangkat kerja di pagi hari untuk mencari nafkah bisa saja tiba-tiba terkena musibah. Kecelakaan yang hebat tiba-tiba terjadi sehingga mengakibatkan luka atau bahkan cacat fisik. Kesemua itu membutuhkan perawatan yang intensif. Tak jarang kemudian terpaksa salah satu anggota badan harus dipasang gips atau dibalut dengan perban.

Apabila lukanya berupa luka lecet, maka tidak begitu berbahaya. Namun apabila lukanya berupa luka patah tulang, atau luka bakar yang serius, tentu hal ini akan melahirkan masalah baru, utamanya adalah masalah dalam menjalankan syariat shalat. Persoalan pertama yang berhubungan langsung dengan luka barangkali adalah bagaimana cara kita bersuci?

Sebuah luka, ada kalanya perlu dibalut dengan perban, dan adakalanya tidak. Untuk luka yang tidak dibalut dengan perban, bisa jadi karena luka tersebut tidak terlalu serius. Atau bisa jadi pula sebenarnya lukanya serius, akan tetapi nekad untuk tidak dibalut. Ketika bagian yang luka terkena air, efeknya luar biasa kesakitannya bagi si sakit.

Demikian pula dengan luka yang dibalut dengan perban, ada kalanya benar-benar tidak bisa dibuka bilamana kondisinya belum sembuh benar, namun adakalanya pula, si orang sakit hanya menghindarkan luka dari udara terbuka agar tidak berujung infeksi. Seandainya dibuka pun tidak masalah. Lantas, bagaimana solusi fiqihnya terhadap tata cara bersuci bagi orang dengan luka-luka sebagaimana dimaksudkan?

Untuk setiap kondisi luka, kita bedakan saja dalam kesempatan ini sebagai luka ringan dan luka berat. Untuk kondisi luka ringan, para ulama fiqih sepakat menyatakan tidak ada perlakuan khusus terhadapnya. Bahkan, apabila luka itu dibalut dengan perban, maka wajib bagi si sakit untuk membuka perban tersebut sehingga tidak menghalangi sampainya air ke kulit yang sehat dan bagian yang tampak dari luka.

Syekh Taqiyuddin Abu Bakar al-Hushny dalam Kifâyatul Akhyâr menjelaskan bahwa:

إن قدر على نزعها عند الطهارة من غير ضرر من الأمور المتقدمة في المرض وجب النزع وغسل الصحيح وغسل موضع العلة إن أمكن وألا مسحه بالتراب إن كان موضع التيمم

Artinya: "Jika perban bisa dilepas ketika menghendaki bersuci karena ketiadaan bahaya pada bagian yang sakit, maka wajib melepas perban itu. Selanjutnya, bila memungkinkannya, maka bagian anggota yang sehat dan sekaligus bagian yang sakit dibasuh dengan air. Namun, bila tidak memungkinkan (karena timbul rasa sakit yang sangat), maka khusus bagian yang sakit diusap dengan debu, bilamana luka itu berada di bagian tubuh anggota tayammum." (Lihat: Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Hushny, Kifâyatul Akhyâr fi hilli Ghâyati al-Ikhtishâr, Surabaya: Al-Hidayah, 1993: juz 1, halaman 61)

Apa maksud dari mengusap luka dengan debu?

Pembaca mungkin bertanya, apa maksud dari mengusap bagian anggota yang sakit ini? Apakah cukup dengan mengambil debu, kemudian ditabur pada bagian luka? Ataukah ada tata caranya untuk mengusapkan debu itu pada bagian yang dimaksud?

Jawabnya, tentu dalam mengusap debu pada bagian yang sakit ini bukan sekadar mengusap saja. Namun, yang dimaksud dengan mengusap debu di sini adalah debu yang bersama-sama dalam rangkaian tayammum. Dengan demikian, bilamana seseorang yang luka menghendaki bersuci, maka tata cara bersucinya adalah dilakukan dengan jalan dua cara, yaitu: berwudhu yang disusul dengan tayammum. Pendapat ini didasarkan pada pernyataan Abi Syuja’ sebagaimana termaktub dalam Kitab Kifayatul Akhyar, yaitu:

وصاحب الجبائر يمسح عليها ويتيمم ويصلي ولا إعادة عليه إن وضعها على طهر

Artinya: "Orang dengan luka perban, bersuci dengan jalan mengusap air wudhu di atasnya, kemudian dilanjutkan dengan tayammum. Kemudian ia shalat, dan tidak perlu melakukan i'adah shalat jika menaruh perban tadi dalam kondisi suci." (Lihat: Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Hushny, Kifâyatul Akhyâr fi hilli Ghâyati al-Ikhtishâr, Surabaya: Al-Hidayah, 1993: 1/60)

Baca juga:
Ada’, Qadha' dan I’adah dalam Shalat
Cara Berwudlu Anggota Badan yang Diperban
Dua Konsekuensi: Mengulang Shalat dan Tidak

Apa yang dimaksud dengan kata menaruh perban dalam kondisi suci di atas?

Ada dua pengertian terkait dengan kondisi suci sebagaimana disampaikan dalam bunyi pernyataan Syekh Taqiyuddin al-Hushny di atas. Pertama, ia bermakna suci secara sempurna baik dari hadats kecil maupun hadats besar. Pemberian makna ini diambil berdasarkan qiyas musawy dengan khuf (muzah), yaitu semacam sepatu untuk menghadapi cuaca ekstrem, yang bentuknya menutup mata kaki dan telapak kaki. Dengan demikian, seandainya ada perban yang dipasang menutup luka, maka kondisi si sakit harus dalam keadaan suci dari hadats kecil dan hadats besar. Pendapat ini didukung oleh Syekh Abu Al-Fadlal Abdullah al-Ghumary dalam kitabnya al-Istiqsha’. Apa konsekuensi hukum dari pendapat ini?

Ada konsekuensi hukum apabila kita mengikuti pendapat yang pertama ini, yaitu apabila si sakit menaruh perban atau pembalut luka dalam kondisi ia sedang menyandang hadats kecil atau hadats besar, maka ia terkena hukum wajib mengulangi shalatnya (i’adah shalat) ketika ia sudah sembuh

Tentu dalam hal ini ada banyak perincian diperlukan. Namun secara garis besar, semua perincian itu didasarkan pada bisa atau tidaknya si penderita membasuh bagian tubuh lukanya saat bersuci dari hadats besar. Bila si penderita mampu menyempurnakan cara bersucinya, maka ia tidak perlu melakukan i’adah shalat saat ia sudah sembuh. Dan, apabila si penderita tidak bisa bersuci dengan sempurna, maka ia terkena hukum wajib melakukan i’adah shalat. 

Lantas apa status shalat penderita saat kondisi masih sakit? Jawabnya, adalah shalat yang dilakukan penderita selama ia sakit dan belum bisa menyempurnakan sucinya, disebut dengan shalat li hurmati al-waqti, yakni shalat untuk menghormati waktu. Pendapat ini didasarkan pada mafhum pendapat berikut ini:

وقوله ولا إعادة عليه إن وضعها على طهر مفهومه أنه إذا وضعها على غير طهر أنه يعيد

“Maksud pernyataan “tak perlu tidak perlu melakukan i'adah shalat jika menaruh perban dalam kondisi suci” adalah harus mengulangi shalat bila perban ditaruh dalam kondisi tidak suci.” (Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Hushny, Kifâyatul Akhyâr fi hilli Ghâyati al-Ikhtishâr, Surabaya: Al-Hidayah, 1993: 1/61)

Sebenarnya masih ada konsekuensi hukum yang lain yang bisa digali dari mengikuti pendapat pertama. Namun untuk sementara kita cukupkan sampai di sini terlebih dahulu. Adanya kewajiban i’adah shalat bila membalut tidak dalam kondisi suci, disebabkan karena luka sedemikian ini dianggap sebagai amrun nadirun (perkara yang jarang terjadi).

Pendapat kedua, yang dimaksud menaruh perban dalam kondisi suci adalah suci bagian anggota tubuh yang terluka saja. Maksud dari suci di sini adalah, suci dari najis saat perban dipasang, dan bukan suci dari hadats. Pada sebagian kondisi, darah yang berada di sekitar luka harus diupayakan pembersihannya. Untuk darah yang tidak bisa dibersihkan, kemudian mengering, maka darah ini statusnya dima’fu. Pendapat ini didukung oleh Syekh Jalaluddin al-Suyuthy.

Baca juga: Ini Perbedaan Hadats dan Najis
Konsekuensi logis dari mengikuti pendapat kedua ini, adalah meskipun perban ditutupkan ke luka dalam kondisi si sakit sedang tidak dalam keadaan suci dari hadats, maka “tayammum” si sakit sudah cukup sebagai pengganti wudhu dan mandinya. Adapun wudhu yang dilakukan, dianggap sebagai “keutamaan” bagi si sakit dalam menyempurnakan bersucinya ketika hendak shalat. 

Konsekuensi hukum lainnya, adalah apabila saat luka ditutup dengan perban, kondisi si sakit sedang menyandang hadats besar, maka ia wajib melakukan tayammum untuk setiap kali shalat fardlu, dengan ketentuan: satu tayammum dipergunakan untuk shalat fardlu, ditambah dengan shalat-shalat sunnahnya. Termasuk shalat yang harus diiringi dengan satu kali tayammum dalam kondisi sedemikian rupa ini adalah shalat sunnah yang dinadzarkan dan shalat jum’ah. Dan bilamana kondisi musholli sudah sembuh dari sakitnya, maka ia tidak perlu melakukan i’adah shalat, atau bahkan mengqadla’ shalatnya, karena tayammum sudah menjadi pencukup bagi semua shalat-shalat yang dilaksanakannya selama penderita mengalami sakit. 

Sebagai penutup dari tulisan ini, adalah bahwa kondisi saat menutup luka dengan perban/pembalut adalah memiliki konsekuensi hukum terhadap mushalli. Dasar pemikiran yang disepakati oleh ulama adalah bahwa menutup luka dengan perban hendaknya dilakukan dalam kondisi suci.

Namun demikian, ulama berbeda pendapat dalam memahami maksud suci ini. Di satu sisi ada yang berpendapat bahwa harus suci dari hadats kecil dan hadats besar. Namun di sisi yang lain, ada yang berpendapat bahwa hanya harus suci dari najis saja. Keduanya memiliki konsekuensi hukum. Akan tetapi, dari kedua pendapat di atas, pendapat yang paling hati-hati (ahwath) adalah pendapat yang pertama. Sementara itu, para ulama juga menyatakan bahwa pendapat yang paling maslahat adalah pendapatnya Syekh Jalaluddin Al-Suyuthy (pendapat kedua). Wallahu a’lam. (Muhammad Syamsudin)

Share:
Kamis 23 Agustus 2018 8:30 WIB
Bagaimana Sujud Shalat Orang yang Dahinya Diperban?
Bagaimana Sujud Shalat Orang yang Dahinya Diperban?
Ilustrasi (eastbay-oec.org)
Suatu ketika, terkadang seorang yang shalat berada di luar kondisi normal. Misalnya sedang menderita luka sehingga mengalami kendala yang mengharuskannya bersikap khusus dan mendapat keringanan khusus dari syara’ (rukhshah) ketika menjalankan ibadah wajib.

Di antara kasus yang muncul dalam persoalan ini adalah seorang yang menderita luka di bagian dahinya sehingga harus dibalut dengan perban yang menutup salah satu anggota sujud, yaitu dahi. Pertanyaan yang sering terlontar adalah apakah sah sujud dengan kondisi ada balutan tersebut? Apakah perlu qadha (mengganti di waktu lain) shalat atau bahkan i'adah (mengulang) shalat bilamana kondisinya sudah sembuh?

Para pembaca yang budiman, alangkah beratnya syariat ini bila kondisi yang sedemikian rupa ini mengharuskannya untuk mengulang shalat saat kondisi mushalli (orang yang shalat) sudah sembuh. Demikian juga, alangkah beratnya bila ia harus melakukan qadha’ sejumlah shalat selama ia sakit. Padahal, ada prinsip yang harus dipegang dalam agama, yaitu:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْر 

Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan Ia tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (QS Al-Baqarah: 185)

Di dalam ayat lain, Allah berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ أن يُخَفِّفَ عَنكُمْ وَخُلِقَ الإنسَانُ ضَعِيفًا

Artinya: “Allah menghendaki untuk meringankan kalian. Telah diciptakan manusia dengan sifat lemah.” (QS. Al-Nisa’: 28)

Kedua ayat ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa yang dikehendaki syariat adalah kemudahan seorang hamba di dalam menjalankannya, dan di dalam menyatakan diri tunduk beribadah kepada Allah dalam segala kondisi. Allah Maha-Mengetahui bahwa manusia adalah lemah. Oleh karenanya, berlaku syariat rukhshah (keringanan) bagi seorang hamba untuk hal/kondisi yang memang ia harus mendapatkan perlakuan khusus dalam syara’.

Menjawab contoh permasalahan di atas adalah kita harus mengingat kembali dengan topik permasalahan shalatnya orang yang tidak bisa melakukan gerakan shalat dengan sempurna. Ketika shalat orang yang tidak bisa bergerak sama sekali dan harus dalam kondisi terbaring sakit, maka boleh baginya melakukan shalat dengan jalan memberi isyarat. Demikian pula dengan shalat orang yang terpaksa harus melaksanakan dengan tanpa bisa melakukan ruku’ dan sujud, maka ia diharuskan melakukan gerakan ruku’ dan sujud dengan jalan menunduk. Untuk posisi sujud, kondisi menunduk sedikit lebih rendah dibanding menunduk untuk posisi ruku’.

Shalat dengan tata cara sebagaimana dijelaskan di atas dipandang sah oleh syariat, sehingga tidak perlu lagi melakukan qadha’ shalat, atau bahkan i’adah shalat. Lantas bagaimana dengan shalatnya orang yang dahinya diperban? Bilamana gerakan shalat sambil isyarat saja dipandang sah, tentu gerakan shalat orang dengan perban menutup dahi adalah lebih sah. Logika semacam ini dalam usul fiqh disebut qiyas aulawi

Alasan inilah kemudian yang mendorong Syekh Taqiyuddin Abu Bakar al-Husni dalam kitab Kifâyatul Akhyâr menyebutkan bahwa:

لو كان على جبهته جراحة وعصبها وسجد على العصابة أجزأه ولا قضاء عليه على المذهب لأنه إذا سقطت الإعادة مع الإيماء بالسجود فهنا أولى ولو عجز عن السجود لعلة أومأ برأسه فإن عجز فبطرفه ولا إعادة عليه

Artinya: “Seandainya ada luka menutup dahi seseorang sehingga mengharuskan diperban, kemudian ia melakukan gerakan sujud dengan tetap di atas perban itu, maka hal tersebut adalah mencukupi. Menurut mazhab Imam Syafi’i, ia tidak perlu qadha’ sebab jika mengulang shalat (i’adah) saja tidak diperlukan untuk orang yang shalat dengan isyarat ketika sujud, maka kondisi mushalli dengan perban seperti ini adalah lebih utama untuk mendapatkan keringanan gugurnya wajib i’adah. Bahkan disebutkan seandainya ada seseorang terkendala melakukan sujud disebabkan karena adanya penyakit, lalu ia sujud dengan memberi isyarat dengan tundukan kepalanya, atau dengan kedipan matanya, maka baginya tidak ada keharusan i’adah shalat.” (Lihat: Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Hushni, Kifâyatu al-Akhyar fi hilli Ghâyati al-Ikhtishâr, Surabaya, Al-Hidayah, 1993: 1/108)

Dengan bahasa lain, apabila i’adah shalat saja tidak diperlukan bagi “mushalli dengan gerakan isyarat”, apalagi qadha’ shalat. Tentu lebih tidak diperlukan. Dengan demikian, kesimpulan hukum dari permasalahan orang yang shalat dengan kondisi luka balutan menutupi anggota sujud, namun ia tidak atau belum bisa melakukan gerakan sempurna ruku’ dan sujud, adalah boleh dan sah shalatnya. Lakukanlah ruku’ atau sujud dengan cara sesuai kemampuan. Baginya juga tidak perlu qadla’ shalat setelah sembuh serta tidak perlu i’adah (mengulangi shalat). Wallâhu a’lam bish shawâb. (Muhammad Syamsudin)

Sabtu 28 Juli 2018 3:45 WIB
Hukum Shalat Gerhana Bersama Keluarga di Rumah
Hukum Shalat Gerhana Bersama Keluarga di Rumah
Shalat sunnah gerhana termasuk salah satu shalat yang dianjurkan untuk dilakukan secara berjamaah di masjid sebagaimana shalat istisqa, dan shalat sejenis lainnya. Shalat sunnah gerhana yang dilakukan berjamaah di masjid mengandung keutamaan tersendiri di samping ada khutbah gerhana setelah shalat.

والسنة أن تصلّى في الجامع موضع صلاة الجمعة وينادى لها الصلاة جامعة فيصلى بهم الإمام ركعتين

Artinya, “Shalat sunnah gerhana dianjurkan dilaksanakan di masjid Jami tempat shalat Jumat dan diseru oleh bilal atau muazin dengan panggilan ‘as-shalatu jami‘ah’. Lalu jamaah masjid itu melakukan shalat berjamaah dua rakaat bersama imam,” (Lihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Ghuniyah, [Tanpa catatan kota, Darul Kutub Al-Islamiyyah: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 129).

Sebagaimana shalat istisqa (shalat minta air hujan), shalat sunnah gerhana adalah shalat sunnah yang dianjurkan dengan khutbah gerhana setelah shalat sebagaimana sunnah Rasulullah SAW. Syekh Taqiyuddin Al-Hishni dari Mazhab Syafi’i mengutip riwayat kesunnahan khutbah gerhana dari Imam Muslim.

ويسن أن يخطب بعد الصلاة خطبتين كخطبتي الجمعة لفعله صلى الله عليه وسلم رواه مسلم وفيه (قام فخطب فأثنى على الله تعالى) إلى أن قال (يا أمة محمد هل من أحد أغير من الله أن يرى عبده أو أمته يزنيان يا أمة محمد والله لو تعلمون ما أعلم لبكيتم كثيرا ولضحكتم قليلا ألا هل بلغت

Artinya, “Dianjurkan menyampaikan dua khutbah gerhana seperti khutbah Jumat setelah shalat sunnah gerhana sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat Imam Muslim. Di dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW berdiri lalu berkhutbah, memuji Allah SWT (sampai gilirannya beliau mengatakan) ‘Wahai ummat Muhammad, apakah ada yang lebih cemburu daripada Allah ketika melihat hamba laki-laki dan hamba perempuan-Nya berzina? Wahai ummat Muhammad, demi Allah, kalau sekiranya kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian lebih banyak menangis dan lebih sedikit tertawa. Ketahuilah, sudahkah kusampaikan?’” (Lihat Taqiyyiddin Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 128).

Kendati demikian, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menyebutkan kebolehan orang yang ingin melakukan shalat sunnah gerhana sendiri atau berjamaah bersama keluarga  di rumahnya. Tetapi Syekh Abdul Qadir menjelaskan bahwa shalat sunnah gerhana yang lebih utama dilakukan di masjid.

ومن أراد أن يصليها وحده في بيته أو مع أهله جاز. والأولى ما ذكرنا

Artinya, “Tetapi orang yang ingin melakukan shalat sunnah sendiri sendiri atau bersama keluarganya di rumahnya, boleh. Tetapi yang lebih utama adalah (shalat sunnah gerhana di masjid) sebagaimana telah kami utarakan,” (Lihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Ghuniyah, [Tanpa catatan kota, Darul Kutub Al-Islamiyyah: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 130).

Mereka yang shalat sendiri di rumah tentu saja tidak perlu berkhutbah. Syekh Taqiyyiddin Al-Hishni dalam Kifayatul Akhyar menyebutkan masalah ini sebagai berikut:

ومن صلى منفردا لم يخطب

Artinya, “Orang yang shalat sunnah gerhana bulan sendiri (tidak berjamaah) tidak perlu berkhutbah,” (Lihat Taqiyyiddin Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 128).

Meskipun tanpa khutbah, kami menyarankan mereka yang mengerjakan shalat sunnah gerhana di rumah baik sendiri maupun berjamaah bersama keluarga untuk merenungkan (tafakur atau muhasabah) pesan Rasulullah SAW dalam khutbah gerhana yang disampaikan di depan para sahabatnya.

Hanya saja kalau tanpa ada uzur, kami menyarankan masyarakat mendatangi masjid yang menyelenggarakan shalat sunnah gerhana berjamaah. Wallahu a‘lam. (Alahfiz K)
Sabtu 28 Juli 2018 3:0 WIB
Waktu Shalat Gerhana menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Waktu Shalat Gerhana menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
(Foto: youtube)
Shalat sunnah gerhana merupakan shalat sunnah dua rakaat yang dianjurkan untuk dilakukan karena sebab terjadinya peristiwa gerhana. Pada shalat sunnah gerhana bulan, kita dianjurkan melantangkan bacaan Al-Qur’an. Sebaliknya, kita cukup menyembunyikan bacaan (sirr) pada shalat sunnah gerhana matahari.

Kapan waktu shalat sunnah gerhana masuk? Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menerangkan bahwa ketika bumi mulai gelap karena matahari atau bulan mulai beringsut, maka waktu shalat sunnah gerhana tiba.

فمن حين يبتدئ ظهور السواد والكدر ونقصان الشعاع يدخل وقت الصلاة إلى أن يزول ذلك فإذا زال زال وقت الصلاة

Artinya, “Ketika mulai gelap dan suram serta cahaya berkurang, shalat sunnah gerhana telah tiba hingga kegelapan itu lenyap. Bila kegelapan itu lenyap, maka habis sudah waktu shalat sunnah gerhana,” (Lihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Ghuniyah, [Tanpa catatan kota, Darul Kutub Al-Islamiyyah: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 129).

Karena shalat sunnah gerhana adalah shalat sunnah yang dianjurkan karena sebab gerhana, maka kesunnahan shalat itu pun berhenti seketika sebab tersebut selesai. Dengan kata lain, shalat gerhana tidak lagi disunnahkan ketika peristiwa gerhana usai.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tengah melakukan sembahyang sunnah gerhana lalu peristiwa gerhana berlalu seketika?

Mereka yang tengah melakukan sembahyang sunnah gerhana tidak perlu panik apalagi membatalkan sembahyangnya. Mereka tetap dianjurkan untuk merampungkan sembahyang sunnah gerhananya.

وإن انجلى والناس في الصلاة استحبّ تخفيفها ولا يقطعونها

Artinya, “Ketika mulai terang sementara orang masih melangsungkan shalat sunnah gerhana, maka mereka dianjurkan untuk mempercepatnya dan tidak perlu membatalkannya,” (Lihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Ghuniyah, [Tanpa catatan kota, Darul Kutub Al-Islamiyyah: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 130).

Keterangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani ini cukup membantu bagi mereka yang memulai shalat sunnah gerhana ketika peristiwa gerhana matahari sudah berlangsung setengahnya.

Adapun khutbah setelah shalat gerhana tidak masalah dilakukan setelah gerhana usai. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)