IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Makna Kemahabesaran Allah Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah

Sabtu 25 Agustus 2018 17:0 WIB
Share:
Makna Kemahabesaran Allah Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah
Seluruh kaum Muslimin sepakat bahwa Allah Mahabesar. Kemahabesaran Allah diucapkan berkali-kali dalam sehari dengan bacaan “Allahu Akbar” yang menunjukkan ikrar bahwa tak ada yang lebih besar dari Allah. Tapi bagaimanakah kemahabesaran ini harus dimaknai?

Salah satu kaidah dalam membahas sifat Allah adalah larangan membahasnya seperti membahas tentang materi (jism). Kemahabesaran Allah adalah salah satu sifat Allah yang mutlak dimiliki-Nya tanpa bisa diukur dengan perbandingan rasio dengan makhluk mana pun. Allah sudah Mahabesar sejak waktu belum berjalan dan sejak seluruh alam tercipta, tetap Mahabesar saat makhluk-makhluk tercipta dan tetap Mahabesar hingga kapanpun. Kemahabesaran Allah tidak boleh dimaknai sebagai ukuran fisik sebagaimana kita memaknai seluruh hal di jagat raya ini yang semuanya serba materi.

Bila kita membahas besarnya materi, maka suatu materi dibilang besar ketika ukurannya lebih banyak menghabiskan ruang dibanding materi lain. Dari sinilah muncul rasio perbandingan antara besarnya materi yang satu dengan materi yang lain. Kita bisa membandingkan rasio antara besarnya mikroba dengan besarnya manusia, antara manusia dan planet bumi, antara planet bumi dengan sistem tata surya, antara sistem tata surya dengan galaksi, antara ini dan itu. Demikianlah cara kita membahas kebesaran seluruh materi di dunia ini; seluruhnya dari perspektif ukuran fisikal atau volume.

Namun apa mulianya besar dalam arti ukuran fisik? Bukankah semua ukuran itu merupakan batasan? Pertanyaan ini esensial untuk ditanyakan ketika membahas soal "besar". Kita tahu bahwa besar secara fisik tak lebih dari sekedar volume saja tanpa ada kemuliaannya, apalagi hak untuk disembah. Kalau sesuatu berhak diagungkan dan disembah hanya karena ukurannya yang besar, maka tentu mikroba dibenarkan untuk menyembah manusia; Manusia juga dibenarkan ketika menyembah matahari dan bintang-bintang sebab hal itu memang jauh lebih besar atau dengan kata lain Mahabesar “rasio ukurannya” dibanding manusia. Tapi sayangnya, semua ini salah mutlak menurut Al-Qur'an dan Hadits yang memvonis penyembah segala yang ukurannya besar itu sebagai sesat. Sebesar apapun sebuah entitas fisik (jism), ia tetaplah terbatas dan ada ujungnya.

Bila kita memaknai kebesaran Tuhan dengan perspektif material ini, maka sama saja kita mengatakan bahwa Allah punya batasan ukuran dari ujung ke ujung. Kalau Allah punya batasan ukuran lalu siapa yang membatasi ukurannya atau yang mendesainnya seperti itu? Bila yang membatasi ukurannya adalah entitas lain berarti Allah punya sekutu, bahkan punya Tuhan yang membentuknya. Bila yang membatasi adalah diri-Nya sendiri maka berarti Allah berevolusi. Bila berevolusi berarti pastilah bukan Tuhan. Ini bukanlah pertanyaan mengada-ada, melainkan pertanyaan naluriah seperti yang diajarkan al-Qur’an agar kaum muslimin kritis terhadap berbagai objek sesembahan.

Ibnu Mandhur, seorang pakar bahasa terkemuka dalam kitab Lisân al-‘Arab-nya mengartikan batasan fisik (hadd) sebagai berikut:

وَمُنْتَهَى كُلِّ شَيْءٍ: حَدُّه

"Ujung segala sesuatu adalah hadd/batasannya". (Ibnu Mandhur, Lisân al-‘Arab, juz III, 140)

Lantas kalau demikian pengertiannya, apakah Allah punya batasan fisik? Ahlusussunnah Wal Jama'ah sepakat mengatakan: Tidak!. Imam Ahmad, sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abu Fadl at-Tamimi yang menjadi salah satu Imam Hanabilah di masanya, yang berkata:

والله تعالى لا يلحقه تغير ولا تبدل ولا تلحقه الحدود قبل خلق العرش ولا بعد خلق العرش ، وكان ينكر- الإمام أحمد – على من يقول إن الله في كل مكان بذاته لأن الأمكنة كلها محدودة. 

Allah Ta'ala tak mengalami perubahan dan pergantian. Juga tak mempunyai batasan-batasan fisik sebelum terciptanya Arasy dan tidak juga setelah terciptanya Arasy. Imam ahmad juga mengingkari orang yang berkata bahwa Dzat Allah ada di segala tempat sebab semua tempat adalah terbatas ukuran". (Abu Fadl at-Tamimi, I’tiqâd Imâm Ahmad, 41)

Senada dengan itu, Imam at-Thahawi ini yang merupakan rujukan standar Ulama Asy'ariyah (Ahlussunnah Wal Jamaah) juga menegaskan:

وتعالى عن الحدود والغايات ، والأركان والأعضاء والأدوات ، لا تحويه الجهات كسائر المبتدعات

"Maha suci Allah dari adanya batasan-batasan ukuran dan ujung-ujung, juga dari adanya unsur-unsur dan anggota badan. Dia tak diliputi berbagai arah seperti halnya seluruh hal yang baru". (at-Thahawi, Matn al-‘Aqîdah at-Thahâwiyah)

Banyak sekali para ulama yang juga menafikan adanya batasan fisik, baik besar atau kecil, atas Allah. Di antara mereka ada Imam ar-Razi, al-Baji, Ibnul Arabi, Ibnul Jauzi, al-Qurthuby, al-Baidhawi, an-Nawawi dan lain-lain yang merupakan rujukan umat.

Lalu apabila kemahabesaran Allah tidak bisa dipahami dalam perspektif ukuran fisik yang pasti terbatas, lalu bagaimana Ahlussunnah memahaminya? Berikut penjelasan Imam al-Ghazali dalam al-Maqshad al-Asna tentang makna sifat al-Kabir:

الْكَبِير هُوَ ذُو الْكِبْرِيَاء والكبرياء عبارَة عَن كَمَال الذَّات وأعني بِكَمَال الذَّات كَمَال الْوُجُود 

"Al-Kabîr (Mahabesar) maksudnya adalah yang mempunyai keagungan (kibriya'). Keagungan sendiri adalah ungkapan bagi kesempurnaan dzat. Yang saya maksud kesempurnaan Dzat adalah kesempurnaan eksistensi". (Imam al-Ghazali, al-Maqshad al-Asnâ, 109)

Kesempurnaan Dzat atau eksistensi sebagaimana diterangkan oleh Imam al-Ghazali itu mencakup dua pengertian sebagai berikut:

a. Al-Kabîr dalam arti sudah lama ada. Dalam konteks manusia, mereka disebut kabîr ketika wujudnya sudah ada lama atau dengan kata lain sudah tua. Dalam makna inilah istilah "syaikhun kabîr" dalam al-Qur'an 28:23, maksudnya adalah orang yang sudah tua. Adapun ketika membahas Allah, maka makna ini berarti setara dengan sifat al-Qadîm atau al-Awwal, yakni keberadaan-Nya jauh sekali sudah ada sebelum semua keberadaan yang lain sebab keberadaan Allah memang tidak punya awal mula. Dalam makna ini, Allah jelas adalah Akbar (paling kabîr) dari semua hal di jagat ini, dalam artian paling lama keberadaannya.

b. Al-Kabîr dalam arti hebat. Istilah ini dipakai dalam peristilahan berbagai bahasa di dunia. Istilah "orang besar" dalam bahasa indonesia maksudnya adalah orang hebat. Demikian juga dengan istilah "big boss" dalam bahasa Inggris. Makna ini juga yang dimaksud oleh QS. Yusuf:80, yang mana kata "kabîruhum" di sana bukan berarti paling besar fisiknya atau yang paling tua umurnya, tetapi paling hebat ilmu dan akalnya. Besar di dalam makna ini sama sekali tak ada kaitannya dengan ukuran fisik. Dalam makna ini, sudah jelas bahwa Allah adalah yang Akbar (paling Kabîr) dari semua hal yang ada, dalam artian paling hebat dan paling berkuasa.

Demikianlah makna kemahabesaran Allah dalam perspektif Aswaja. Berbeda dengan orang-orang yang memaknai kata besar secara fisik, makna ini sekali tak punya cacat, baik secara nash, secara bahasa atau secara akal. Wallahu a’lam


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember


Tags:
Share:
Jumat 24 Agustus 2018 16:30 WIB
Maksud ‘Keterpisahan Allah dari Seluruh Makhluk’
Maksud ‘Keterpisahan Allah dari Seluruh Makhluk’
Dalam banyak sekali pernyataan ulama salaf, ditemukan suatu keterangan bahwa Allah ﷻ terpisah (bâ’in) dari seluruh makhluk. Beberapa orang salah paham dengan makna kata “terpisah” ini. Mereka menyangka bahwa terpisah berarti terpisah secara fisik atau ada jarak fisikal antara Tuhan dan makhluk. Di antara yang salah paham adalah Syekh Ibnu Taymiyah yang menyatakan:

وَقَدْ اتَّفَقَ سَلَفُ الْأُمَّةِ وَأَئِمَّتُهَا: عَلَى أَنَّ الْخَالِقَ تَعَالَى بَائِنٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ لَيْسَ فِي ذَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ وَلَا فِي مَخْلُوقَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ ذَاتِهِ. وَالسَّلَفُ وَالْأَئِمَّةُ كَفَّرُوا الْجَهْمِيَّة لَمَّا قَالُوا إنَّهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَكَانَ مِمَّا أَنْكَرُوهُ عَلَيْهِمْ: أَنَّهُ كَيْفَ يَكُونُ فِي الْبُطُونِ وَالْحُشُوشِ والأخلية؟ تَعَالَى اللَّهُ عَنْ ذَلِكَ. فَكَيْفَ بِمَنْ يَجْعَلُهُ نَفْسَ وُجُودِ الْبُطُونِ وَالْحُشُوشِ والأخلية وَالنَّجَاسَاتِ وَالْأَقْذَارِ؟

“Sudah menjadi kesepakatan umat dan ulama salaf bahwa Allah Ta’ala terpisah dari makhluknya. Tak ada dalam Dzat-Nya sesuatu pun dari makhluk-makhluknya dan tak ada dalam makhluk-makhluknya sesuatu pun dari Dzat-Nya. Para Salaf dan para Imam mengafirkan Jahmiyah tatkala mereka berkata bahwa Allah ada di setiap tempat. Dan, di antara argumen mereka untuk menolak Jahmiyah adalah: Bagaimana Allah bisa berada di dalam perut, kebun dan toilet? Maha Suci Allah dari itu semua. Maka bagaimana dengan orang yang menjadikan Allah sebagai perut, kebun, toilet, najis dan kotoran itu sendiri?”. (Ibnu Taymiyah, Majmû’ al-Fatâwâ, juz II, halaman 126)

Jadi, dalam pandangan Ibnu Taymiyah di atas, dan juga pandangan kelompok pendaku salafi dewasa ini, keterpisahan (mubâyanah) Allah adalah keterpisahan secara fisik antara Dzat Allah dan Dzat makhluk. Dalam benak mereka, bila Allah tak terpisah dari makhluk berarti Allah berada di dalam diri makhluk, termasuk di dalam toilet, dalam kotoran dan sebagainya yang mustahil bagi Allah. Pengertian ini tentu bermasalah sebab berarti Allah dianggap sebagai jism (susunan materi) sehingga bisa terpisah secara fisik dengan makhluk yang seluruhnya berbentuk fisik pula. Hanya dua jism yang mampu membuat jarak satu sama lain sehingga bisa disebut terpisah.

Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah sama sekali menolak makna demikian sebab ini merupakan kemustahilan bagi Allah. Seperti dibahas sebelumnya, Allah tak bisa dikatakan tersambung atau terpisah dengan alam sebab Allah bukanlah jism sehingga tak relevan mengatakan itu. Secara spesifik tentang sifat keterpisahan (mubâyanah) ini, Imam al-Baihaqi (458 H) menukil dan membenarkan pernyataan sebagian ulama sebagaimana berikut:

وَالْقَدِيمُ سُبْحَانَهُ عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ لَا قَاعِدٌ وَلَا قَائِمٌ وَلَا مُمَاسٌّ وَلَا مُبَايَنٌ عَنِ الْعَرْشِ، يُرِيدُ بِهِ: مُبَايَنَةَ الذَّاتِ الَّتِي هِيَ بِمَعْنَى الِاعْتِزَالِ أَوِ التَّبَاعُدِ، لِأَنَّ الْمُمَاسَّةَ وَالْمُبَايَنَةَ الَّتِي هِيَ ضِدُّهَا، وَالْقِيَامُ وَالْقُعُودُ مِنْ أَوْصَافِ الْأَجْسَامِ، وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَحَدٌ صَمَدٌ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ [ص:309] يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، فَلَا يَجُوزُ عَلَيْهِ مَا يَجُوزُ عَلَى الْأَجْسَامِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

“Allah Yang Maha Qadim, Tinggi di atas Arasy, tidak duduk dan tak berdiri, tak menyentuh dan tak terpisah dari Arasy. Yang dia maksud adalah keterpisahan Dzat dalam makna menjauh secara fisik karena menyentuh dan terpisah sebagai kebalikannya, begitu pula berdiri dan duduk adalah sifat-sifat jism. Sedangkan Allah Maha Esa, tak beranak dan tak diperanakkan dan tak ada yang setara satu pun dengan-Nya. Maka tak boleh dikatakan baginya apa yang boleh dikatakan bagi jism”. (Imam al-Baihaqi, al-Asmâ’ wa as-Shifât, juz 2, halaman 308)

Bagi yang tak terbiasa dengan kajian ilmu tauhid, tentu hal ini agak membingungkan. Untuk menyederhanakan masalah, sebenarnya kata بائن atau مباينة dalam bahasa Arab mempunyai dua arti yang berbeda. Arti pertama adalah terpisah secara fisik. Makna inilah yang ditolak oleh Ahlussunnah wal Jamaah sebab Allah tidak berbentuk fisik. Arti kedua adalah berbeda dalam arti betul-betul tak sama. Makna kedua inilah yang dikehendaki ulama salaf dari kalangan Ahlussunnah ketika mereka mengatakan bahwa Allah bâ’in ‘an al-khalq (terpisah/berbeda dari makhluk).

Syekh Ibnu Khaldun (808 H), menjelaskan perbedaan makna ini dalam kitab Târîkh-nya sebagai berikut:

إنّ المباينة تقال لمعنيين: أحدهما المباينة في الحيّز والجهة، ويقابله الاتّصال. ونشعر هذه المقابلة على هذه التّقيّد بالمكان إمّا صريحا وهو تجسيم، أو لزوما وهو تشبيه من قبيل القول بالجهة. وقد نقل مثله عن بعض علماء السلف من التّصريح بهذه المباينة، فيحتمل غير هذا المعنى. ومن أجل ذلك أنكر المتكلّمون هذه المباينة وقالوا: لا يقال في البارئ أنّه مباين مخلوقاته، ولا متّصل بها، لأنّ ذلك إنّما يكون للمتحيّزات ... وأمّا المعنى الآخر للمباينة، فهو المغايرة والمخالفة فيقال: البارئ مباين لمخلوقاته في ذاته وهويّته ووجوده وصفاته. ويقابله الاتّحاد والامتزاج والاختلاط. وهذه المباينة هي مذهب أهل الحقّ كلّهم من جمهور السّلف وعلماء الشّرائع والمتكلّمين والمتصوّفة الأقدمين كأهل الرّسالة ومن نحا منحاهم

“Sesungguhnya mubâyanah dimaksudkan bagi dua makna. Makna yang pertama adalah keterpisahan dalam batasan dan arah, ini adalah lawan kata dari ketersambungan fisik. Kita menyadari ungkapan ini dari keterkaitannya dengan tempat, apabila secara gamblang dinyatakan maka berarti tajsîm (meyakini Allah adalah jism). Atau hanya berupa konsekuensi, maka itu adalah tasybîh dari sisi menetapkan adanya arah bagi Tuhan. Telah dinukil dari sebagian salaf yang menyatakan mubâyanah ini, maka kemungkinan bukan makna ini yang dimaksud. Karena itulah, para ahli kalam mengingkari mubâyanah dalam arti ini dan berkata: Allah tak boleh dibilang terpisah dari makhluk-Nya dan tak juga tersambung dengan mereka sebab hal itu hanya berlaku bagi hal-hal yang punya batasan fisik. ... Adapun makna yang lain bagi mubâyanah adalah perbedaan dan ketidaksamaan. Maka dikatakan bahwa Allah berbeda dari makhluk-makhluk-Nya dalam hal Dzat, hakikat, keberadaan dan sifat-sifatnya. Makna ini adalah lawan kata menyatu, bercampur, dan larut. Mubâyanah dalam makna ini adalah mazhab orang-orang yang benar, yaitu dari kalangan mayoritas salaf, ulama ahli fikih, ahli kalam, dan ahli tasawuf yang awal-awal seperti pengarang kitab Risâlah (Imam al-Qusyairi) dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka”. (Ibnu Khaldun, Târîkh Ibnu Khaldûn, juz I, halaman 615).

Dengan demikian, jelaslah bahwa ungkapan Allah “terpisah” dari makhluk dimaksudkan sebagai pernyataan bahwa Allah berbeda dalam hal Dzat, hakikat, keberadaan dan sifat-sifatnya dari seluruh makhluk yang ada. Bukan berarti ada jarak fisik yang bisa diukur dengan satuan jarak (seperti kilometer, mil, dan sebagainya) antara Allah dan makhluk. Begitu pula, dengan arguentasi yang sama, keyakinan sebagian kecil orang yang menyangka bahwa Allah menyatu dengan manusia adalah keyakinan yang keliru. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Kamis 23 Agustus 2018 15:30 WIB
Pertanyaan Jebakan: Apakah Allah di Luar Alam ataukah di Dalamnya?
Pertanyaan Jebakan: Apakah Allah di Luar Alam ataukah di Dalamnya?
Ada satu pertanyaan yang populer di kalangan para teolog Muslim. Pertanyaan ini menjadi kontroversi sebab berhubungan dengan aqidah dan bahkan menjadi salah satu poin pembeda antara Ahlussunnah wal Jama’ah dan golongan lain. Pertanyaannya adalah: Apakah Allah berada di luar alam ataukah di dalamnya?

Pertanyaan ini sebenarnya adalah jebakan yang apabila dijawab dengan salah satu dari jawaban yang tersedia, maka pasti akan salah. Bila kita mengatakan bahwa Allah berada di dalam alam, itu sama saja dengan mengatakan bahwa Allah bertempat dan bercampur dengan makhluk-Nya di alam dunia ini. Akan tetapi ketika kita mengatakan bahwa Allah di luar alam, maka sama saja kita mengatakan bahwa Allah terbatas dalam ruang dan arah tertentu. Jadi, kedua jawaban tersebut bisa dipastikan salah dan mustahil bagi Tuhan yang keberadaan-Nya tak terbatas dalam ruang atau waktu.

Karena itulah para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa Allah tidak di luar alam dan tidak juga di dalamnya. Imam Ibnul Jauzi (597 H) menjelaskan:

وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه لأن الدخول والخروج من لوازم المتحيزات 

“Demikian juga sebaiknya dikatakan bahwa Allah tidak berada di dalam alam dan juga tidak berada di luarnya karena di dalam atau di luar keduanya termasuk konsekuensi dari adanya batasan-batasan”. (Imam Ibnul Jauzi, Daf’u Syubahi at-Tasybîh, 130)

Senada dengan itu, Imam Abu al-Mudhaffar al-Isfirayini (471 H) juga mengatakan:

وأن تعلم أن الحركة والسكون والاتصال والانفصال .. كلها لا تجوز عليه تعالى لأن جميعها يوجب الحد والنهاية 

“Engkau harus tahu bahwa gerakan, diam, bersambung, berpisah seluruhnya tidak mungkin bagi Allah Ta'ala sebab semua itu mewajibkan adanya batasan dan ujung”. (Imam Abu al-Mudhaffar al-Isfirayini, at-Tabshîr fî ad-Dîn, 97) 

Meski banyak ulama yang menjelaskannya, namun banyak juga orang yang tidak dapat memahami penjelasan di atas sehingga menyangka bahwa ucapan “tak di dalam dan tak di luar” berkonsekuensi pada penafian terhadap eksistensi Tuhan. Bagi mereka, kalau tak di dalam alam dan tak di luarnya berarti sama saja dengan mengatakan tak ada. Akhirnya mereka menolak pernyataan ini sekuat tenaga, seperti yang juga dilakukan oleh pelaku Salafi di era modern ini dalam buku-buku mereka.

Sebenarnya bukan hanya orang sekarang yang bingung, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (504 H) menjelaskan bahwa di masanya juga ada orang yang bingung terhadap istilah ini sehingga menolaknya. Beliau berkata:

إن الله تعالى مقدس عن المكان ومنزه عن الأقطار والجهات وأنه ليس داخل العالم ولا خارجه ولا هو متصل ولا منفصل عنه ؛ قد حير عقول أقوام حتى أنكروه إذ لم يطيقوا سماعه ومعرفته 

“Sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Suci dari tempat, ujung, arah dan bahwasanya Allah tidak di dalam alam dan juga tidak di luarnya. Tidak juga Ia bersambung dan tidak juga terpisah dari alam. Akal sebagian kelompok menjadi bingung sehingga mereka mengingkarinya karena mereka tidak mampu mendengar dan mengetahuinya”. (Imam Al-Ghazali, Ihyâ’ Ulûm ad-Dîn, juz IV, halaman 434)

Meskipun mengetahui bahwa Allah tak berada di dalam alam atau di luarnya adalah aqidah yang sangat penting, namun ulama Ahlussunnah wal Jama’ah tetap memaklumi orang-orang pada umumnya yang tidak paham sebab ini adalah perkara yang memang tak dapat dijangkau oleh orang dengan kemampuan rasio yang standar. Imam Izzuddin bin Abdissalam (660 H), yang terkenal dengan julukan Sultanul Ulama, mengatakan:

فَإِنَّ اعْتِقَادَ مَوْجُودٍ لَيْسَ بِمُتَحَرِّكٍ وَلَا سَاكِنٍ وَلَا مُنْفَصِلٍ عَنْ الْعَالَمِ وَلَا مُتَّصِلٍ بِهِ، وَلَا دَاخِلٍ فِيهِ وَلَا خَارِجٍ عَنْهُ لَا يَهْتَدِي إلَيْهِ أَحَدٌ بِأَصْلِ الْخِلْقَةِ فِي الْعَادَةِ، وَلَا يَهْتَدِي إلَيْهِ أَحَدٌ إلَّا بَعْدَ الْوُقُوفِ عَلَى أَدِلَّةٍ صَعْبَةِ الْمُدْرَكِ عَسِرَةِ الْفَهْمِ فَلِأَجْلِ هَذِهِ الْمَشَقَّةِ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا فِي حَقِّ الْعَادِي.

“Sesungguhnya meyakini ada eksistensi yang tidak bergerak juga tidak diam, tidak bertempat di dalam dan juga tidak terpisah dari alam ,tidak bersambung dengan alam, tidak di dalamnya dan tidak juga di luarnya, adalah ucapan yang tidak dapat dimengerti oleh seseorang dengan kecerdasan bawaannya. Juga takkan ada yang mengerti kecuali setelah mengetahui dalil-dalil yang sulit dijangkau dan dipahami. Karena kesulitan inilah, maka Allah mengampuni orang pada umumnya yang tak mengerti”. (Izzuddin bin Abdissalam, Qawâ’id al-Ahkâm fî Mashâlih al-Anâm, juz I, halaman 201)

Padahal kalau mau berpikir sederhana saja, tidak ada yang rumit dari istilah ini. Allah tidak bisa dikatakan di dalam alam atau di luar alam atau bersambung atau terpisah dengan alam sebab Allah memang bukan jism (materi) sehingga tidak relevan mengatakan itu semua yang menjadi ciri khas jism.

Ini sama saja dengan pertanyaan “apakah sebongkah batu adalah lelaki atau perempuan?” Dijawab lelaki salah, dijawab perempuan juga salah sebab memang sebongkah batu tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin. Sama juga dengan pertanyaan “Apakah seekor kambing cerdas atau bodoh?” Menjawab cerdas atau bodoh dua-duanya salah sebab kambing memang tidak punya rasio. Jadi, yang salah dari semua ini adalah pertanyaannya. Andai sejak awal dipahami bahwa Allah ﷻ bukan jism, maka pertanyaan seperti itu tak akan membingungkan. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember
Kamis 23 Agustus 2018 10:30 WIB
Apakah Allah Bergerak?
Apakah Allah Bergerak?
Ketika membicarakan sifat Allah yang berupa tindakan (af’âl), semisal sifat istiwâ’, nuzûl (turun), majî’ (datang) dan sebagainya, ada beberapa orang yang memahami bahwa Allah itu bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini bukan hanya terjadi dewasa ini, namun sudah dimulai dari era klasik di sebagian kecil kalangan ahli hadits. Ibnu Rajab al-Hanbali (795 H) menceritakan bahwa sebagian ahli hadits di masa belakangan dari kalangan Hanabilah (pengikut Imam Ahmad) secara gamblang mengatakan bahwa Allah bergerak, dan bahkan mereka menisbatkannya pada Imam Ahmad sendiri, sayangnya semuanya tidak benar. Ia berkata:

ومنهم من يصرح بلوازم ذلك من إثبات الحركة. وقد صنف بعض المحدثين المتأخرين من أصحابنا مصنفاً في إثبات ذلك، ورواه عن الامام أحمد من وجوه كلها ضعيفة، لا يثبت عنه منها شيء.

“Sebagian ahli hadits ada yang terus terang menetapkan konsekuensi dari hakikat turunnya Allah, yakni penetapan adanya gerakan. Para ahli Hadits di masa belakangan dari kalangan kami (Hanabilah) membuat karangan untuk menetapkan itu dan mereka meriwayatkannya dari Imam Ahmad dari sanad-sanad yang seluruhnya lemah, tak ada satu pun dari sanad itu yang valid”. (Ibnu Rajab, Fath al-Bâry, juz IX, halaman 494).

Jadi, sebagian ulama ahli hadits bermazhab Hanbali memang mengatakan bahwa Allah bergerak. Mereka tampaknya acuh pada fakta bahwa sama sekali tak ada ayat atau hadis yang mengatakan bahwa Allah bergerak, dan bahwasanya bergerak adalah tindakan yang hanya bisa dilakukan oleh jism (susunan materi) yang terbatas dalam ruang. Sebab merekalah akhirnya muncul pernyataan sebagian orang bahwa banyak pengikut Imam Ahmad di masa belakangan beraqidah tajsîm (meyakini bahwa Allah berbentuk fisik).

Berbeda dengan mereka, para ulama Ahlussunnah menyatakan dengan jelas bahwa Allah tidak bergerak dan bahkan mustahil bergerak sebab Allah memang bukanlah jism. Mengatakan bahwa Allah bergerak hanya akan menodai kesucian Allah sebab melekatkan sifat yang menjadi ciri khas makhluk kepada Allah. Berikut ini adalah beberapa pernyataan mereka:

Imam Ahmad bin Hanbal (241 H), sebagaimana dinukil oleh Ibnu al-Banna’ al-Hanbali (471 H):

ونقل عن ابن البناء في اعتقاد الإمام أحمد قوله: ولا يقال بحركة ولا انتقال

“Ibnu al-Banna’ berkata tentang hadis Nuzûl dalam aqidah Imam Ahmad: Tak boleh dikatakan turun dengan bergerak atau berpindah”. (Ahmad bin Hamdan, Nihâyat al-Mubtadi’în, 32)

Imam al-Thabari (310 H):

علا عليها علوّ مُلْك وسُلْطان، لا علوّ انتقال وزَوال.

“Allah Maha Tinggi di atas Arasy, seperti tingginya Raja dan Sultan, bukan tinggi dalam arti berpindah atau bergerak”. (Imam al-Thabari, Tafsîr at-Thabary, juz I, halaman 430)

Imam al-Baihaqi (458 H):

وَأَفْعَالُ اللَّهِ تَعَالَى تُوجَدُ بِلَا مُبَاشَرَةٍ مِنْهُ إِيَّاهَا وَلَا حَرَكَةٍ

“Tindakan Allah Ta’ala ada tanpa sentuhan dari-Nya kepada objek dan tanpa adanya pergerakan”. (Imam al-Baihaqi, al-Asmâ’ wa as-Shifât, juz II, halaman 308).

Imam al-Qurthuby (671 H):

والقاعدة تنزيهه عز وجل عَنِ الْحَرَكَةِ وَالِانْتِقَالِ وَشَغْلِ الْأَمْكِنَةِ.

“Kaidahnya adalah menyucikan Allah ﷻ dari gerakan, perpindahan, dan bertempat”. (Imam al-Qurthuby, Tafsîr al-Qurthuby, VI, 390)

Ibnu Abdil Barr (461 H):

وَقَدْ قَالَتْ فِرْقَةٌ مُنْتَسِبَةٌ إِلَى السُّنَّةِ إِنَّهُ يَنْزِلُ بِذَاتِهِ! وَهَذَا قَوْلٌ مَهْجُورٌ لِأَنَّهُ تَعَالَى ذِكْرُهُ لَيْسَ بِمَحَلٍّ لِلْحَرَكَاتِ وَلَا فِيهِ شَيْءٌ مِنْ عَلَامَاتِ الْمَخْلُوقَاتِ

“Kelompok yang menisbatkan diri pada sunnah telah berkata bahwa Allah turun dengan Dzat-Nya!. Ini adalah perkataan yang tertolak sebab Allah yang Maha Tinggi penyebutannya bukanlah tempat bagi pergerakan dan tak ada dalam diri-Nya satu pun tanda-tanda kemakhlukan”. (Ibnu Abdil Barr, al-Istidzkâr, juz II, halaman 530).

Dalam kitab at-Tamhîd, Ibnu Abdil Barr menjelaskan alasan kemustahilan adanya gerakan dari Allah agak terperinci sebagai berikut:

وَقَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا وَلَيْسَ مَجِيئُهُ حَرَكَةً وَلَا زَوَالًا وَلَا انْتِقَالًا لِأَنَّ ذَلِكَ إِنَّمَا يَكُونُ إِذَا كَانَ الْجَائِي جِسْمًا أَوْ جَوْهَرًا فَلَمَّا ثَبَتَ أَنَّهُ لَيْسَ بِجِسْمٍ وَلَا جَوْهَرٍ لَمْ يَجِبْ أَنْ يَكُونَ مَجِيئُهُ حَرَكَةً وَلَا نَقْلَةً

“Allah ﷻ telah berfirman ‘dan telah datanglah Tuhanmu dan para Malaikat berbaris-baris’, kedatangan-Nya bukanlah sebuah gerakan, pergeseran atau perpindahan sebab semua itu hanya terjadi apabila yang dating adalah susunan materi (jism) atau materi tunggal (jauhar). Ketika telah valid bahwa Allah bukanlah susunan materi atau materi tunggal, maka kedatangannya bukan berarti gerakan atau perpindahan”. (Ibnu Abdil Barr, at-Tamhîd limâ fî al-Muwattha’ Min al-Ma’ânî wa al-Asânîd, juz VII, halaman 137)

Imam an-Nawawi (676 H):

هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ أحَادِيثِ الصِّفَاتِ وَفِيهِ مَذْهَبَانِ مَشْهُورَانِ لِلْعُلَمَاءِ سَبَقَ إِيضَاحُهُمَا فِي كِتَابِ الْإِيمَانِ وَمُخْتَصَرُهُمَا أَنَّ أَحَدُهُمَا وَهُوَ مَذْهَبُ جُمْهُورِ السَّلَفِ وَبَعْضِ الْمُتَكَلِّمِينَ أَنَّهُ يُؤْمِنُ بِأَنَّهَا حَقٌّ عَلَى مَا يَلِيقُ بِاللَّهِ تَعَالَى وَأَنَّ ظَاهِرَهَا الْمُتَعَارَفُ فِي حَقِّنَا غَيْرُ مُرَادٍ وَلَا يَتَكَلَّمُ فِي تَأْوِيلِهَا مَعَ اعْتِقَادِ تَنْزِيهِ اللَّهِ تَعَالَى عَنْ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِ وَعَنِ الِانْتِقَالِ والحركات وسائر سمات الخلق

“Hadits nuzûl ini termasuk hadits-hadits tentang sifat Allah. Di dalamnya ada dua mazhab yang terkenal di kalangan ulama, yang telah diterangkan sebelumnya di bab kitab al-Îmân. Secara ringkas, salah satunya adalah mazhab mayoritas ulama Salaf dan sebagian ahli kalam bahwasanya hadis tersebut diyakini bahwa itu benar sesuai dengan pengertian yang layak bagi Allah Ta'ala dan bahwa makna lahirnya yang telah dikenal dalam diri kita bukanlah yang dimaksud, dan tidak juga ditakwil serta diyakini bahwa Allah Maha Suci dari sifat-sifat makhluk, perpindahan dan pergerakan dan seluruh tanda-tanda ke makhlukan”. (Imam an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘alâ Muslim, juz VI, halaman 36)

Ibnu Hajar al-Asqalâni (852 H):

فَمُعْتَقَدُ سَلَفِ الْأَئِمَّةِ وَعُلَمَاءِ السُّنَّةِ مِنَ الْخَلَفِ أَنَّ اللَّهَ مُنَزَّهٌ عَنِ الْحَرَكَةِ وَالتَّحَوُّلِ وَالْحُلُولِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْء

“Maka aqidah para imam Salaf dan ulama sunnah dari kalangan belakangan (khalaf) adalah bahwa sesungguhnya Allah disucikan dari pergerakan, perubahan dan bertempat. Tiada satu pun yang sama dengan-Nya”. (Ibnu Hajar al-Asqalâni, Fath al-Bâry, juz VII, 124). 

Demikianlah, tak terhitung jumlah pernyataan para ulama yang menjelaskan bahwa Allah tak bergerak sebab Allah bukanlah jism. Bahkan Qadli Abu Ya’la (458 H), yang oleh banyak ulama dikenal sebagai salah satu tokoh bermazhab Hanbali yang sangat terpengaruh aqidah tajsîm, mengatakan dengan tegas bahwa Allah tak bergerak. Ia berkata:

وقد وصفه النبي بالنزول إلى السماء الدنيا والعلو، لا على جهة الانتقال والحركة، كما جازت رؤيته، لا في جهة، وتجلی للجبل، لا على وجه الحركة والانتقال

“Nabi telah menyifati dengan nuzûl (turun) ke langit dunia dan sekaligus ‘uluw (Maha Tinggi), tetapi bukan dalam arti berpindah dan bergerak, seperti halnya bisa saja Allah dilihat tak dalam arah tertentu dan menampakkan diri pada gunung (dalam kisah Nabi Musa) bukan dalam arti bergerak dan berpindah”. (Ahmad bin Hamdan, Nihâyat al-Mubtadi’în, 32)

Masih banyak lagi yang bisa ditampilkan sebab ini adalah aqidah mayoritas ulama. Namun kadar ini sudah sangat cukup bagi mereka yang mencari kebenaran. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember