IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Dua Sikap Ahlussunnah tentang Sifat Khabariyah Allah

Senin 27 Agustus 2018 16:30 WIB
Share:
Dua Sikap Ahlussunnah tentang Sifat Khabariyah Allah
Ilustrasi (g-1.com)
Dalam Al-Qur’an dan hadits, ditemukan banyak ayat atau hadits yang menyinggung tentang sifat yang sepintas bermakna organ tubuh Tuhan. Misalnya ayat “yadullah fauqa aydîhim” yang secara literal bermakna “tangan Allah di atas tangan-tangan mereka”, “tajrî bia’yuninâ” yang secara literal bermakna “perahu itu berjalan dengan banyak mata kami” dan banyak teks lain yang menyebut adanya wajh (wajah), shûrah (bentuk), ‘ashâbi‘ (jari jemari) dan sebagainya. Sifat dalam ayat-ayat atau hadits yang menyatakan demikian itu disebut sebagai sifat khabariyah atau sifat Allah yang keberadaannya hanya bisa diketahui melalui teks Al-Qur’an atau hadits semata, tak bisa melalui akal. Bagaimanakah seorang Muslim seharusnya menyikapi sifat khabariyah ini? 
 
Imam Tajuddin as-Subki, salah satu ulama Asy'ariyah terkemuka menjelaskan pandangan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah (Asy’ariyah) dalam menetapkan sifat khabariyah tersebut sebagai berikut: 
 
للأشاعرة قولان مشهوران في إثبات الصفات، هل تمر على ظاهرها مع اعتقاد التنزيه، أو تئول؟ والقول بالإمرار مع اعتقاد التنزيه هو المعزو إلى السلف، وهو اختيار الإمام في الرسالة النظامية. وفي مواضع من كلامه، فرجوعه معناه الرجوع عن التأويل إلى التفويض، ولا إنكار في هذا، ولا في مقابله، فإنها مسألة اجتهادية، أعني مسألة التأويل أو التفويض مع اعتقاد التنزيه. إنما المصيبة الكبرى والداهية الدهياء الإمرار على الظاهر، والاعتقاد أنه المراد، وأنه لا يستحيل على الباري، فذلك قول المجسمة عباد الوثن 
 
"Para ulama Asy’ariyah mempunyai dua pendapat yang masyhur dalam menetapkan adanya sifat (khabariyah) Allah (bukan malah meniadakannya/ta'thîl); Apakah dimaknai sesuai makna lahiriahnya dengan disertai keyakinan menyucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk ataukah ditakwil? Pendapat yang membiarkan lafaz apa adanya sesuai lahiriahnya tetapi menyucikan Allah (dari sifat makhluk) adalah yang dinukil dari ulama salaf. Itulah pilihan Imam al-Haramain dalam risalah Nidhamiyah dan dalam beberapa tempat dari kitab-kitabnya. Rujuknya Imam al-Haramain maknanya adalah rujuk dari takwil menuju tafwidh. Hal ini tak boleh diingkari (disalahkan), begitu juga kebalikannya (yang mentakwil). Sesungguhnya ini adalah masalah, ijtihadiyah, yakni soal takwil dan tafwidh beserta tanzih (menyucikan Allah dari sifat yang tak layak). Sesungguhnya musibah besar dan petaka yang parah adalah meyakini makna lahiriyah lalu meyakini bahwa itulah yang dimaksud dan bahwa itu tak mustahil bagi Allah. Itu adalah keyakinan para Mujassimah, yaitu para penyembah berhala." (Tajuddin as-Subki, Thabaqât as-Syafi’iyah al-Kubrâ, juz V, halaman 191)
 
Senada dengan beliau, Imam al-Hafidzan-Nawawi juga menjelaskan:
 
اعلم أن لأهل العلم في أحاديث الصفات وآيات الصفات قولين أحدهما وهو مذهب معظم السلف أو كلهم أنه لا يتكلم في معناها بل يقولون يجب علينا أن نؤمن بها ونعتقد لها معنى يليق بجلال الله تعالى وعظمته مع اعتقادنا الجازم أن الله تعالى ليس كمثله شيء وأنه منزه عن التجسم والانتقال والتحيز في جهة وعن سائر صفات المخلوق وهذا القول هو مذهب جماعة من المتكلمين واختاره جماعة من محققيهم وهو أسلم والقول الثاني وهو مذهب معظم المتكلمين أنها تتأول على مايليق بها على حسب مواقعها
 
“Ketahuilah bahwa ahli ilmu mempunyai dua pendapat tentang hadits-hadits dan ayat-ayat sifat: Salah satunya adalah pendapat mayoritas ulama salaf atau bahkan seluruhnya bahwasanya maknanya tidak boleh diperbincangkan tetapi wajib bagi kita untuk mengimani dan meyakini makna yang layak bagi keagungan Allah Ta'ala dan kebesarannya serta dengan keyakinan yang mantap bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah dan bahwa Allah disucikan dari sifat jism (bentuk fisik, (pergerakan, batasan arah serta seluruh sifat-sifat makhluk. Pendapat ini adalah tahap sebagian ahli Kalam dan juga dipilih oleh ahli tahqîq dari mereka dan ini adalah yang paling selamat. Pendapat kedua yaitu pendapat sebagian besar ahli kalam bahwa sifat-sifat tersebut ditakwil sesuai makna yang layak bagi Allah sesuai dengan konteksnya masing-masing.” (Imam an-Nawawi, Syarhan-Nawawi ‘ala Muslim, juz III,halaman 19) 
 
Dari penjelasan ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) terbagi menjadi dua kelompok dalam menyikapi teks sifat khabariyah sebagai berikut:
 
• Kelompok yang memilih untuk membiarkan teks tersebut apa adanya tanpa ditakwil (dimaknai secara metaforis), namun dengan diyakini bahwa tak satu pun dari sifat itu yang bermakna fisik sebagai anggota tubuh, bermakna pergerakan dan pergeseran, atau bermakna adanya batasan-batasan fisikal sebab Allah memang maha suci dari semua hal tersebut. Tindakan ini dikenal dengan nama tafwidh atau memasrahkan hakikat maknanya hanya kepada Allah tanpa dibahas lebih lanjut. Kelompok ini diwakili oleh mayoritas ulama salaf (ulama di tiga kurun pertama hijriah) dan tokoh-tokoh ahli kalam yang teliti.
 
• Kelompok yang memilih untuk mentakwil (memaknai secara metaforis) teks sifat tersebut dan memaknainya sesuai konteksnya masing-masing, sesuai dengan makna yang memang berlaku di kalangan orang Arab. Kelompok ini diwakili oleh mayoritas ulama ahli kalam dan ulama khalaf (pasca-tiga kurun pertama hijriah).
 
Kedua pilihan di atas adalah hal yang bersifat ijtihadiyah, dalam arti memang ranah perbedaan pendapat tanpa ada yang perlu dicela atau dianggap sesat. Yang benar-benar tepat di sisi Allah nanti akan mendapat dua pahala dan yang kurang tepat akan mendapat satu pahala. Tak pernah ada satu pun ayat atau hadits yang secara gamblang memerintahkan atau melarang untuk melakukan tafwidh atau pun takwil
 
Keduanya mempunyai persamaan bahwa seluruh sifat khabariyah mustahil dimaknai dengan makna yang menjadi ciri khas jism, seperti: makna organ tubuh, makna bergerak, berpindah, diam, mempunyai diameter, mempunyai volume, bertempat dalam ruang dan sebagainya. Seluruh makna ini tidak mungkin dimiliki Tuhan sebab ini semua adalah ciri khas makhluk. Adapun perbedaannya, golongan pertama yang diwakili mayoritas ulama salaf memilih diam tak menentukan apa makna sifat tersebut sedangkan golongan kedua memilih menentukan maknanya secara metaforis.
 
Bila dipraktikkan, misalnya pada ayat berikut:
 
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
 
“Tuhan yang Mahapengasih istawa atas Arasy”. (QS. Thaha: 5)
 
Golongan ahli tafwidh akan memilih diam tak membahas apa yang dimaksud istawa tersebut. Mereka akan menolak semua arti fisik dari kata istawa seperti: duduk bersemayam, berdiam, melayang di atas atau makna fisikal lainnya sebab itu mustahil bagi Allah. Mereka juga akan menolak arti metaforis, seperti makna menguasai, menundukkan dan sebagainya sebab bagi mereka makna ini hanya praduga semata. Mereka lebih suka tak menentukan makna apa pun selain membaca ulang dengan redaksi asalnya (imrâr). Kalaupungolongan ini memberi makna, maka mereka hanya akan menjelaskan bahwa istawa adalah sebuah tindakan Allah yang Dia namai sebagai istawa dan hanya Allah yang tahu bagaimana tindakan tersebut sebenarnya.
 
Adapun golongan ahli takwil akan memilih mengartikan kata istawa itu dengan makna metaforis, misalnya menguasai mutlak (qahhara) sesuai sifat Allah yang memang al-Qahhâr (Maha-Menguasai secara mutlak tanpa perlu memaksa atau menaklukkan). Dalam makna ini, ayat itu bermakna Allah menguasai Arasy secara mutlak, apalagi makhluk yang lebih kecil dari itu. Sebagian lagi memaknai istawa sebagai mengurus/memelihara (dabbara) sesuai dengan sifat Allah yang memang al-Mudabbir (Maha-Memelihara). Dalam makna ini, ayat tersebut bermakna Allah telah mengurus Arasy, makhluk terbesar di dunia, apalagi hanya yang lebih kecil.
 
Demikianlah aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah tentang sifat khabariyah. Wallahua’lam.
 
 
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember
 
 
Tags:
Share:
Ahad 26 Agustus 2018 12:30 WIB
Bolehkah Mengatakan Allah Bersemayam di Atas Arasy?
Bolehkah Mengatakan Allah Bersemayam di Atas Arasy?
Telah maklum dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah bahwa Allah bukanlah jisimatau eksistensi fisikal yang mempunyai volume. Tak dapat dihitung jumlah ulama yang memustahilkan makna fisikal (jismiyah) dari Allah, salah satunya adalah Imam Ahmad bin Hanbal yang dengan tegas berkata:

إِنَّ الأَسْمَاءَ مَأْخُوذَةٌ مِنَ الشَّرِيعَةِ وَاللُّغَةِ، وَأَهْلُ اللُّغَةِ وَضَعُوا هَذَا الاسْمَ – أَيِ الْجِسْمَ – عَلَى ذِي طِولٍ وَعَرْضٍ وَسَمْكٍ وَتَرْكِيبٍ وَصُورَةٍ وَتَأْلِيفٍ، وَاللهُ خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ – أي مُنزَّهٌ عَنْه – فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسمَّى جِسْمًا لِخروجِهِ عَنْ مَعْنَى الْجِسْمِيّةِ، وَلَمْ يَجِىءْ في الشَّرِيعَةِ ذَلِكَ فَبَطلَ

"Sesungguhnya istilah-istilah itu diambil dari peristilahan syariah dan peristilahan bahasa sedangkan ahli bahasa menetapkan istilah ini (jisim) untuk sesuatu yang punya panjang, lebar, tebal, susunan, bentuk dan rangkaian, sedangkan Allah berbeda dari itu semua. Maka dari itu, tidak boleh mengatakan bahwa Allah adalah jisim sebab Allah tak punya makna jismiyah. Dan, istilah itu juga tidak ada dalam istilah syariat, maka batal menyifati Allah demikian". (Abu al-Fadl at-Tamimy, I’tiqâd al-Imam al-Munabbal Ahmad bin Hanbal, 45).

Lalu bagaimana dengan suatu ungkapan yang terbilang lumrah di telinga penduduk Indonesia bahwa Allah bersemayam di atas Arasy? Bolehkah mengatakan Allah bersemayam meskipun bersemayam adalah sebuah tindakan fisikal yang hanya bisa dilakukan oleh jism (materi)?

Apabila kita membaca Al-Qur’an terjemahan Kementerian Agama dari surat at-Taha ayat 5 berikut:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Maka akan kita dapati terjemahannya adalah: “Tuhan yang Mahapemurah yang bersemayam di atas ‘Arasy”. Terjemahan ini diberi catatan sebagai berikut: “Bersemayam di atas ‘Arasy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya”. (Lihat: Al Qur’an dan Terjemahnya terbitan Kementerian Agama)

Bila kita terima begitu saja terjemahan tersebut berarti jawabannya sudah jelas: Ya, Allah bersemayam. Tetapi masalahnya tak sesederhana ini. Kita tak boleh membahas masalah aqidah hanya berdasarkan pada terjemahan saja sebab bisa jadi terjemahannya tidak tepat. Dan, tentu saja cara seseorang menerjemah tergantung pada mazhab yang ia anut sehingga terjemahan satu orang bisa berbeda dengan lainnya, apalagi ini terkait dengan ayat Al-Qur’an yang memang kaya makna.

Ayat tersebut menggunakan redaksi istawayang diterjemahkan sebagai “bersemayam”. Bila kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersemayam berarti: duduk, berkediaman, tinggal atau bila konteksnya adalah bersemayam dalam hati, maka maknanya adalah terpatri dalam hati. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa dalam peristilahan bahasa Indonesia, kalimat “bersemayam di atas ‘Arasy” artinya adalah duduk, berdiam atau tinggal di atas Arasy. Kesemua makna ini tanpa diragukan adalah makna jismiyah yang seharusnya dibuang jauh-jauh dari Allah sebab tak layak bagi kesucian-Nya.

Makna duduk sendiri secara tegas dikecam sangat keras oleh Imam Syafi’i, bahkan hingga level dianggap kafir. Imam Syafi’i sebagaimana diriwayatkan oleh Qadli Husain menjelaskan bahwa di antara yang dianggap kafir adalah sebagai berikut:

ومن كفرناه من أهل القبلة: كالقائلين بخلق القرآن، وبأنه لا يعلم المعدومات قبل وجودها، ومن لا يؤمن بالقدر، وكذا من يعتقد أن الله جالس على العرش؛ كما حكاه القاضي الحسين هنا عن نص الشافعي.

“Orang yang kami kafirkan dari kalangan orang yang shalat adalah: mereka yang berkata bahwa al-Qur’an adalah makhluk, bahwa Allah tak mengetahui sesuatu sebelum terjadinya, juga orang yang tak percaya takdir, demikian juga orang yang mengatakan bahwa Allah duduk di atas Arasy. Seperti diriwayatkan oleh Qadli Husain dari penjelasan literal Imam Syafi’i.” (Ibnu ar-Rif’ah, Kifâyat al-Nabîh fî Syarh at-Tanbîh, juz IV, halaman 23).

Tentang vonis kafir terhadap aliran sesat di atas sebenarnya bukanlah hal yang disepakati di kalangan ulama, namun setidaknya semua sepakat bahwa pendapat seperti di atas adalah sesat. Bagaimana tidak sesat, mengatakan Allah duduk di Arasy sama saja dengan mengatakan bahwa Allah punya pantat yang menempel di atas Arasy; mengatakan Allah tinggal atau berdiam di Arasy sama saja dengan mengatakan bahwa Allah punya volume dan ukuran fisik sehingga pasti Allah juga makhluk. Kesemuanya sama sekali mustahil bagi Allah dan Maha Suci Allah dari semua itu. 

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa mengatakan Allah bersemayam di atas Arasy adalah ungkapan yang tidak tepat. Tim penerjemah dari Kementerian Agama tampaknya sadar akan celah ini sehingga mereka memberi catatan “Bersemayam di atas ‘Arasy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya” seolah mau menjelaskan bahwa bersemayam yang mereka maksud bukanlah bersemayam dalam arti duduk, tinggal atau berdiam yang kesemuanya tidak layak bagi kebesaran dan kesucian Allah, tetapi makna lain yang layak bagi-Nya.

Namun bagaimanapun harus diakui bahwa diksi yang dipilih oleh tim penerjemah Kementerian Agama tersebut kurang tepat sebab kata bersemayam tak punya arti lain dalam kamus bahasa Indonesia selain makna jismiyah tersebut. Diksi yang kurang tepat ini rawan menimbulkan salah paham bagi orang awam. Padahal, dalam bahasa Arab kata istawa tak selalu bermakna jismiyah, namun bisa diartikan bermacam-macam sesuai konteksnya. 

Hal ini berbeda kasusnya dengan kata “yad” yang oleh Kementerian Agama diterjemah sebagai “tangan”. Meskipun kata “tangan” juga berkonotasi jismiyah, namun dalam KBBI kata ini tak hanya bermakna tangan sebagai organ tubuh tetapi bisa juga bermakna non-jismiyah seperti makna kekuasaan, perintah dan sebagainya sehingga penerjemahan kata “yad” menjadi “tangan” lebih bisa dimaklumi. Yang justru paling aman adalah tidak menerjemah kata-kata berupa sifat khabariyah ini tetapi membiarkannya apa adanya lalu diberi catatan berbagai kemungkinan makna yang layak bagi Allah.Wallahua’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember &Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Sabtu 25 Agustus 2018 17:0 WIB
Makna Kemahabesaran Allah Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah
Makna Kemahabesaran Allah Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah
Seluruh kaum Muslimin sepakat bahwa Allah Mahabesar. Kemahabesaran Allah diucapkan berkali-kali dalam sehari dengan bacaan “Allahu Akbar” yang menunjukkan ikrar bahwa tak ada yang lebih besar dari Allah. Tapi bagaimanakah kemahabesaran ini harus dimaknai?

Salah satu kaidah dalam membahas sifat Allah adalah larangan membahasnya seperti membahas tentang materi (jism). Kemahabesaran Allah adalah salah satu sifat Allah yang mutlak dimiliki-Nya tanpa bisa diukur dengan perbandingan rasio dengan makhluk mana pun. Allah sudah Mahabesar sejak waktu belum berjalan dan sejak seluruh alam tercipta, tetap Mahabesar saat makhluk-makhluk tercipta dan tetap Mahabesar hingga kapanpun. Kemahabesaran Allah tidak boleh dimaknai sebagai ukuran fisik sebagaimana kita memaknai seluruh hal di jagat raya ini yang semuanya serba materi.

Bila kita membahas besarnya materi, maka suatu materi dibilang besar ketika ukurannya lebih banyak menghabiskan ruang dibanding materi lain. Dari sinilah muncul rasio perbandingan antara besarnya materi yang satu dengan materi yang lain. Kita bisa membandingkan rasio antara besarnya mikroba dengan besarnya manusia, antara manusia dan planet bumi, antara planet bumi dengan sistem tata surya, antara sistem tata surya dengan galaksi, antara ini dan itu. Demikianlah cara kita membahas kebesaran seluruh materi di dunia ini; seluruhnya dari perspektif ukuran fisikal atau volume.

Namun apa mulianya besar dalam arti ukuran fisik? Bukankah semua ukuran itu merupakan batasan? Pertanyaan ini esensial untuk ditanyakan ketika membahas soal "besar". Kita tahu bahwa besar secara fisik tak lebih dari sekedar volume saja tanpa ada kemuliaannya, apalagi hak untuk disembah. Kalau sesuatu berhak diagungkan dan disembah hanya karena ukurannya yang besar, maka tentu mikroba dibenarkan untuk menyembah manusia; Manusia juga dibenarkan ketika menyembah matahari dan bintang-bintang sebab hal itu memang jauh lebih besar atau dengan kata lain Mahabesar “rasio ukurannya” dibanding manusia. Tapi sayangnya, semua ini salah mutlak menurut Al-Qur'an dan Hadits yang memvonis penyembah segala yang ukurannya besar itu sebagai sesat. Sebesar apapun sebuah entitas fisik (jism), ia tetaplah terbatas dan ada ujungnya.

Bila kita memaknai kebesaran Tuhan dengan perspektif material ini, maka sama saja kita mengatakan bahwa Allah punya batasan ukuran dari ujung ke ujung. Kalau Allah punya batasan ukuran lalu siapa yang membatasi ukurannya atau yang mendesainnya seperti itu? Bila yang membatasi ukurannya adalah entitas lain berarti Allah punya sekutu, bahkan punya Tuhan yang membentuknya. Bila yang membatasi adalah diri-Nya sendiri maka berarti Allah berevolusi. Bila berevolusi berarti pastilah bukan Tuhan. Ini bukanlah pertanyaan mengada-ada, melainkan pertanyaan naluriah seperti yang diajarkan al-Qur’an agar kaum muslimin kritis terhadap berbagai objek sesembahan.

Ibnu Mandhur, seorang pakar bahasa terkemuka dalam kitab Lisân al-‘Arab-nya mengartikan batasan fisik (hadd) sebagai berikut:

وَمُنْتَهَى كُلِّ شَيْءٍ: حَدُّه

"Ujung segala sesuatu adalah hadd/batasannya". (Ibnu Mandhur, Lisân al-‘Arab, juz III, 140)

Lantas kalau demikian pengertiannya, apakah Allah punya batasan fisik? Ahlusussunnah Wal Jama'ah sepakat mengatakan: Tidak!. Imam Ahmad, sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abu Fadl at-Tamimi yang menjadi salah satu Imam Hanabilah di masanya, yang berkata:

والله تعالى لا يلحقه تغير ولا تبدل ولا تلحقه الحدود قبل خلق العرش ولا بعد خلق العرش ، وكان ينكر- الإمام أحمد – على من يقول إن الله في كل مكان بذاته لأن الأمكنة كلها محدودة. 

Allah Ta'ala tak mengalami perubahan dan pergantian. Juga tak mempunyai batasan-batasan fisik sebelum terciptanya Arasy dan tidak juga setelah terciptanya Arasy. Imam ahmad juga mengingkari orang yang berkata bahwa Dzat Allah ada di segala tempat sebab semua tempat adalah terbatas ukuran". (Abu Fadl at-Tamimi, I’tiqâd Imâm Ahmad, 41)

Senada dengan itu, Imam at-Thahawi ini yang merupakan rujukan standar Ulama Asy'ariyah (Ahlussunnah Wal Jamaah) juga menegaskan:

وتعالى عن الحدود والغايات ، والأركان والأعضاء والأدوات ، لا تحويه الجهات كسائر المبتدعات

"Maha suci Allah dari adanya batasan-batasan ukuran dan ujung-ujung, juga dari adanya unsur-unsur dan anggota badan. Dia tak diliputi berbagai arah seperti halnya seluruh hal yang baru". (at-Thahawi, Matn al-‘Aqîdah at-Thahâwiyah)

Banyak sekali para ulama yang juga menafikan adanya batasan fisik, baik besar atau kecil, atas Allah. Di antara mereka ada Imam ar-Razi, al-Baji, Ibnul Arabi, Ibnul Jauzi, al-Qurthuby, al-Baidhawi, an-Nawawi dan lain-lain yang merupakan rujukan umat.

Lalu apabila kemahabesaran Allah tidak bisa dipahami dalam perspektif ukuran fisik yang pasti terbatas, lalu bagaimana Ahlussunnah memahaminya? Berikut penjelasan Imam al-Ghazali dalam al-Maqshad al-Asna tentang makna sifat al-Kabir:

الْكَبِير هُوَ ذُو الْكِبْرِيَاء والكبرياء عبارَة عَن كَمَال الذَّات وأعني بِكَمَال الذَّات كَمَال الْوُجُود 

"Al-Kabîr (Mahabesar) maksudnya adalah yang mempunyai keagungan (kibriya'). Keagungan sendiri adalah ungkapan bagi kesempurnaan dzat. Yang saya maksud kesempurnaan Dzat adalah kesempurnaan eksistensi". (Imam al-Ghazali, al-Maqshad al-Asnâ, 109)

Kesempurnaan Dzat atau eksistensi sebagaimana diterangkan oleh Imam al-Ghazali itu mencakup dua pengertian sebagai berikut:

a. Al-Kabîr dalam arti sudah lama ada. Dalam konteks manusia, mereka disebut kabîr ketika wujudnya sudah ada lama atau dengan kata lain sudah tua. Dalam makna inilah istilah "syaikhun kabîr" dalam al-Qur'an 28:23, maksudnya adalah orang yang sudah tua. Adapun ketika membahas Allah, maka makna ini berarti setara dengan sifat al-Qadîm atau al-Awwal, yakni keberadaan-Nya jauh sekali sudah ada sebelum semua keberadaan yang lain sebab keberadaan Allah memang tidak punya awal mula. Dalam makna ini, Allah jelas adalah Akbar (paling kabîr) dari semua hal di jagat ini, dalam artian paling lama keberadaannya.

b. Al-Kabîr dalam arti hebat. Istilah ini dipakai dalam peristilahan berbagai bahasa di dunia. Istilah "orang besar" dalam bahasa indonesia maksudnya adalah orang hebat. Demikian juga dengan istilah "big boss" dalam bahasa Inggris. Makna ini juga yang dimaksud oleh QS. Yusuf:80, yang mana kata "kabîruhum" di sana bukan berarti paling besar fisiknya atau yang paling tua umurnya, tetapi paling hebat ilmu dan akalnya. Besar di dalam makna ini sama sekali tak ada kaitannya dengan ukuran fisik. Dalam makna ini, sudah jelas bahwa Allah adalah yang Akbar (paling Kabîr) dari semua hal yang ada, dalam artian paling hebat dan paling berkuasa.

Demikianlah makna kemahabesaran Allah dalam perspektif Aswaja. Berbeda dengan orang-orang yang memaknai kata besar secara fisik, makna ini sekali tak punya cacat, baik secara nash, secara bahasa atau secara akal. Wallahu a’lam


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember


Jumat 24 Agustus 2018 16:30 WIB
Maksud ‘Keterpisahan Allah dari Seluruh Makhluk’
Maksud ‘Keterpisahan Allah dari Seluruh Makhluk’
Dalam banyak sekali pernyataan ulama salaf, ditemukan suatu keterangan bahwa Allah ﷻ terpisah (bâ’in) dari seluruh makhluk. Beberapa orang salah paham dengan makna kata “terpisah” ini. Mereka menyangka bahwa terpisah berarti terpisah secara fisik atau ada jarak fisikal antara Tuhan dan makhluk. Di antara yang salah paham adalah Syekh Ibnu Taymiyah yang menyatakan:

وَقَدْ اتَّفَقَ سَلَفُ الْأُمَّةِ وَأَئِمَّتُهَا: عَلَى أَنَّ الْخَالِقَ تَعَالَى بَائِنٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ لَيْسَ فِي ذَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ وَلَا فِي مَخْلُوقَاتِهِ شَيْءٌ مِنْ ذَاتِهِ. وَالسَّلَفُ وَالْأَئِمَّةُ كَفَّرُوا الْجَهْمِيَّة لَمَّا قَالُوا إنَّهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَكَانَ مِمَّا أَنْكَرُوهُ عَلَيْهِمْ: أَنَّهُ كَيْفَ يَكُونُ فِي الْبُطُونِ وَالْحُشُوشِ والأخلية؟ تَعَالَى اللَّهُ عَنْ ذَلِكَ. فَكَيْفَ بِمَنْ يَجْعَلُهُ نَفْسَ وُجُودِ الْبُطُونِ وَالْحُشُوشِ والأخلية وَالنَّجَاسَاتِ وَالْأَقْذَارِ؟

“Sudah menjadi kesepakatan umat dan ulama salaf bahwa Allah Ta’ala terpisah dari makhluknya. Tak ada dalam Dzat-Nya sesuatu pun dari makhluk-makhluknya dan tak ada dalam makhluk-makhluknya sesuatu pun dari Dzat-Nya. Para Salaf dan para Imam mengafirkan Jahmiyah tatkala mereka berkata bahwa Allah ada di setiap tempat. Dan, di antara argumen mereka untuk menolak Jahmiyah adalah: Bagaimana Allah bisa berada di dalam perut, kebun dan toilet? Maha Suci Allah dari itu semua. Maka bagaimana dengan orang yang menjadikan Allah sebagai perut, kebun, toilet, najis dan kotoran itu sendiri?”. (Ibnu Taymiyah, Majmû’ al-Fatâwâ, juz II, halaman 126)

Jadi, dalam pandangan Ibnu Taymiyah di atas, dan juga pandangan kelompok pendaku salafi dewasa ini, keterpisahan (mubâyanah) Allah adalah keterpisahan secara fisik antara Dzat Allah dan Dzat makhluk. Dalam benak mereka, bila Allah tak terpisah dari makhluk berarti Allah berada di dalam diri makhluk, termasuk di dalam toilet, dalam kotoran dan sebagainya yang mustahil bagi Allah. Pengertian ini tentu bermasalah sebab berarti Allah dianggap sebagai jism (susunan materi) sehingga bisa terpisah secara fisik dengan makhluk yang seluruhnya berbentuk fisik pula. Hanya dua jism yang mampu membuat jarak satu sama lain sehingga bisa disebut terpisah.

Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah sama sekali menolak makna demikian sebab ini merupakan kemustahilan bagi Allah. Seperti dibahas sebelumnya, Allah tak bisa dikatakan tersambung atau terpisah dengan alam sebab Allah bukanlah jism sehingga tak relevan mengatakan itu. Secara spesifik tentang sifat keterpisahan (mubâyanah) ini, Imam al-Baihaqi (458 H) menukil dan membenarkan pernyataan sebagian ulama sebagaimana berikut:

وَالْقَدِيمُ سُبْحَانَهُ عَالٍ عَلَى عَرْشِهِ لَا قَاعِدٌ وَلَا قَائِمٌ وَلَا مُمَاسٌّ وَلَا مُبَايَنٌ عَنِ الْعَرْشِ، يُرِيدُ بِهِ: مُبَايَنَةَ الذَّاتِ الَّتِي هِيَ بِمَعْنَى الِاعْتِزَالِ أَوِ التَّبَاعُدِ، لِأَنَّ الْمُمَاسَّةَ وَالْمُبَايَنَةَ الَّتِي هِيَ ضِدُّهَا، وَالْقِيَامُ وَالْقُعُودُ مِنْ أَوْصَافِ الْأَجْسَامِ، وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَحَدٌ صَمَدٌ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ [ص:309] يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، فَلَا يَجُوزُ عَلَيْهِ مَا يَجُوزُ عَلَى الْأَجْسَامِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

“Allah Yang Maha Qadim, Tinggi di atas Arasy, tidak duduk dan tak berdiri, tak menyentuh dan tak terpisah dari Arasy. Yang dia maksud adalah keterpisahan Dzat dalam makna menjauh secara fisik karena menyentuh dan terpisah sebagai kebalikannya, begitu pula berdiri dan duduk adalah sifat-sifat jism. Sedangkan Allah Maha Esa, tak beranak dan tak diperanakkan dan tak ada yang setara satu pun dengan-Nya. Maka tak boleh dikatakan baginya apa yang boleh dikatakan bagi jism”. (Imam al-Baihaqi, al-Asmâ’ wa as-Shifât, juz 2, halaman 308)

Bagi yang tak terbiasa dengan kajian ilmu tauhid, tentu hal ini agak membingungkan. Untuk menyederhanakan masalah, sebenarnya kata بائن atau مباينة dalam bahasa Arab mempunyai dua arti yang berbeda. Arti pertama adalah terpisah secara fisik. Makna inilah yang ditolak oleh Ahlussunnah wal Jamaah sebab Allah tidak berbentuk fisik. Arti kedua adalah berbeda dalam arti betul-betul tak sama. Makna kedua inilah yang dikehendaki ulama salaf dari kalangan Ahlussunnah ketika mereka mengatakan bahwa Allah bâ’in ‘an al-khalq (terpisah/berbeda dari makhluk).

Syekh Ibnu Khaldun (808 H), menjelaskan perbedaan makna ini dalam kitab Târîkh-nya sebagai berikut:

إنّ المباينة تقال لمعنيين: أحدهما المباينة في الحيّز والجهة، ويقابله الاتّصال. ونشعر هذه المقابلة على هذه التّقيّد بالمكان إمّا صريحا وهو تجسيم، أو لزوما وهو تشبيه من قبيل القول بالجهة. وقد نقل مثله عن بعض علماء السلف من التّصريح بهذه المباينة، فيحتمل غير هذا المعنى. ومن أجل ذلك أنكر المتكلّمون هذه المباينة وقالوا: لا يقال في البارئ أنّه مباين مخلوقاته، ولا متّصل بها، لأنّ ذلك إنّما يكون للمتحيّزات ... وأمّا المعنى الآخر للمباينة، فهو المغايرة والمخالفة فيقال: البارئ مباين لمخلوقاته في ذاته وهويّته ووجوده وصفاته. ويقابله الاتّحاد والامتزاج والاختلاط. وهذه المباينة هي مذهب أهل الحقّ كلّهم من جمهور السّلف وعلماء الشّرائع والمتكلّمين والمتصوّفة الأقدمين كأهل الرّسالة ومن نحا منحاهم

“Sesungguhnya mubâyanah dimaksudkan bagi dua makna. Makna yang pertama adalah keterpisahan dalam batasan dan arah, ini adalah lawan kata dari ketersambungan fisik. Kita menyadari ungkapan ini dari keterkaitannya dengan tempat, apabila secara gamblang dinyatakan maka berarti tajsîm (meyakini Allah adalah jism). Atau hanya berupa konsekuensi, maka itu adalah tasybîh dari sisi menetapkan adanya arah bagi Tuhan. Telah dinukil dari sebagian salaf yang menyatakan mubâyanah ini, maka kemungkinan bukan makna ini yang dimaksud. Karena itulah, para ahli kalam mengingkari mubâyanah dalam arti ini dan berkata: Allah tak boleh dibilang terpisah dari makhluk-Nya dan tak juga tersambung dengan mereka sebab hal itu hanya berlaku bagi hal-hal yang punya batasan fisik. ... Adapun makna yang lain bagi mubâyanah adalah perbedaan dan ketidaksamaan. Maka dikatakan bahwa Allah berbeda dari makhluk-makhluk-Nya dalam hal Dzat, hakikat, keberadaan dan sifat-sifatnya. Makna ini adalah lawan kata menyatu, bercampur, dan larut. Mubâyanah dalam makna ini adalah mazhab orang-orang yang benar, yaitu dari kalangan mayoritas salaf, ulama ahli fikih, ahli kalam, dan ahli tasawuf yang awal-awal seperti pengarang kitab Risâlah (Imam al-Qusyairi) dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka”. (Ibnu Khaldun, Târîkh Ibnu Khaldûn, juz I, halaman 615).

Dengan demikian, jelaslah bahwa ungkapan Allah “terpisah” dari makhluk dimaksudkan sebagai pernyataan bahwa Allah berbeda dalam hal Dzat, hakikat, keberadaan dan sifat-sifatnya dari seluruh makhluk yang ada. Bukan berarti ada jarak fisik yang bisa diukur dengan satuan jarak (seperti kilometer, mil, dan sebagainya) antara Allah dan makhluk. Begitu pula, dengan arguentasi yang sama, keyakinan sebagian kecil orang yang menyangka bahwa Allah menyatu dengan manusia adalah keyakinan yang keliru. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember