IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Ada Apa di Atas Arasy?

Jumat 31 Agustus 2018 9:0 WIB
Share:
Ada Apa di Atas Arasy?
Pertanyaan ada apa di atas arasy cukup menggelitik bagi bayak orang. Ada yang tergelitik karena menganggap jawabannya sudah sangat jelas, yakni Allah, tapi kenapa masih ditanyakan? Ada juga yang merasa tergelitik sebab di atas Arasy dianggap tak ada apa-apa sama sekali. Sebagian lagi tergelitik sebab merasa bahwa itu adalah pertanyaan tentang hal ghaib yang kita tak tahu sama sekali sehingga tabu untuk dibicarakan.

Sebelum menjawab, perlu diketahui bahwa pertanyaan ini bukan hal tabu yang tak boleh dibahas sebab kita menanyakan tentang sebuah makhluk yang bernama Arasy, bukan tentang Sang Khaliq yang kekuasaan mutlaknya mencakup Arasy dan apalagi yang di bawahnya. Pertanyaan soal hal ghaibsemacam ini bisa diketahui melalui riwayat sahih yang menjelaskannya. Jadi, kata kuncinya adalah riwayat.

Langsung saja, jawaban pertanyaan itu ada dalam riwayat sahih yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim (muttafaq 'alaihi) berikut:

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي 

"Ketika Allah menentukan nasib manusia, Ia menulis di kitab-Nya yang berada di sisi-Nya di atas Arasy. Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan marah-Ku.”

Hadits tersebut menyatakan bahwa di atas Arasy ada Lauh mahfûdh di sisi Allah. Mengomentari hadits tersebut di atas, Imam Ibnu Hajar mengatakan:

وَلَا مَحْذُورَ فِي إِجْرَاءِ ذَلِكَ عَلَى ظَاهِرِهِ لِأَنَّ الْعَرْشَ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ أَيْ ذِكْرُهُ أَوْ عِلْمُهُ فَلَا تَكُونُ الْعِنْدِيَّةُ مَكَانِيَّةٌ بَلْ هِيَ إِشَارَةٌ إِلَى كَمَالِ كَوْنِهِ مَخْفِيًّا عَنِ الْخَلْقِ مَرْفُوعًا عَنْ حَيِّزِ إِدْرَاكِهِمْ

"Tak masalah memahami hadits tersebut secara dhahir (bahwa Lauh mahfûdh benar-benar di atas Arasy) sebab sesungguhnya Arasy adalah salah satu makhluk dari makhluk-makhluk Allah. Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan "di sisi-Nya" adalah di sisi ilmu Allah. Jadi penyebutan sisi di sini bukanlah dalam makna tempat tetapi itu adalah isyarat bagi kesempurnaan Lauh mahfûdh yang tersembunyi dari makhluk dan tinggi terangkat dari batas pengetahuan mereka.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, juz VI, halaman 291)

Di kitab yang sama, Imam Ibnu Hajar juga berkomentar:

وَالْغَرَضُ مِنْهُ الْإِشَارَةُ إِلَى أَنَّ اللَّوْحَ الْمَحْفُوظَ فَوْقَ الْعَرْشِ

"Maksud hadits itu adalah mengisyaratkan bahwa Lauh mahfûdh berada di atas Arasy." (Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, juz XIII, halaman 526)

Senada dengan keterangan Ibnu Hajar tersebut, Imam al-Hafidz Badruddin al-Aini juga menyatakan:

الْكتاب عِنْده، والعندية لَيست مكانية بل هُوَ إِشَارَة إِلَى كَمَال كَونه مكنوناً عَن الْخلق مَرْفُوعا عَن حيّز إدراكهم

"Lauh mahfûdh di sisi Allah. Penyebutan sisi di sini bukan dalam perspektif tempat, tetapi itu adalah isyarat tentang kesempurnaan keberadaannya dibanding makhluk lainnya, terangkat dari batas pengetahuan mereka.” (Badruddin al-Aini, ‘Umdatal-Qâry, juz XV, halaman 111)

Lebih jelasnya tentang posisi Lauh mahfûdh ini, al-Imam Ibnu Furak menjelaskan:

وَيحْتَمل أَن يكون ذَلِك الْكتاب مَوْضُوعا على الْعَرْش على معنى المماسة لَهُ وَيكون عِنْد الله على معنى إحاطة علمه بِمَا فِيهِ من حَدِيث لَا يخفى عَلَيْهِ مِنْهُ شَيْء

"Memungkinkan bahwa Lauh mahfûdh itu diletakkan di atas Arasy dengan makna menyentuh Arasy. Dan, penyebutan "di sisi Allah" maknanya adalah pengetahuan Allah meliputi segala apa yang ada di dalamnya dan tak ada satu hal pun yang samar bagi Allah.” (Ibnu Furak, Musykilal-Hadîtswabayâhunu, halaman 455)

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa yang berada di atas Arasy adalah sebuah makhluk yang disebut sebagai Lauh mahfûdh. Di Lauh mahfûdh inilah catatan takdir seluruh semesta tertulis.

Lalu bila di atas Aras ada Lauh mahfûdh, bagaimana dengan pernyataan popular bahwa Allah istawa atas Arasy? Setelah menjelaskan seperti penjelasan para imam di atas, Imam al-Baihaqi menjelaskan soal makna istawa sebagai berikut:

وَلَيْسَ مَعْنَى قَوْلِ الْمُسْلِمِينَ: إِنَّ اللَّهَ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ، هُوَ أَنَّهُ مُمَاسٌّ لَهُ، أَوْ مُتَمَكِّنٌ فِيهِ، أَوْ مُتَحَيِّزٌ فِي جِهَةٍ مِنْ جِهَاتِهِ، لَكِنَّهُ بَائِنٌ مِنْ جَمِيعِ خَلْقِهِ، وَإِنَّمَا هُوَ خَبَرٌ جَاءَ بِهِ التَّوْقِيفُ فَقُلْنَا بِهِ، وَنَفَيْنَا عَنْهُ التَّكْيِيفَ، إِذْ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Makna perkataan orang Islam bahwa Allah istawa atas Arasy bukanlah berarti Allah menyentuh Arasy, bertempat di Arasy atau terbatas dalam arah Arasy. Akan tetapi, Allah itu terpisah dari seluruh makhluknya. Ungkapan tersebut tak lain merupakan ayat/hadits yang datang dari petunjuk wahyu sehingga kita mengatakan seperti itu juga, dan kita menafikan mekanisme teknis (kaifiyah) dari Allah sebab tak ada satu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (al-Baihaqi, al-Asmâ’ was-Shifât, juz II, halaman 279).

Dengan penjelasan Imam al-Baihaqi tersebut, maka terlihat tak ada kontradiksi antara meyakini Allah istawa atas Arasy dan antara meyakini bahwa di atas Arasy ada Lauh mahfûdh. Dalam konteks inilah ungkapan sebagian ulama salaf yang mengatakan bahwa Arasy tidaklah kosong. Di atasnya ada Lauh mahfûdh dan juga ada tindakan Allah yang disebutnya sebagai istawa, namun tindakan ini bukan berarti bertempat secara fisik. Wallahua’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Tags:
Share:
Jumat 31 Agustus 2018 20:30 WIB
Ada Apa di Bawah Allah?
Ada Apa di Bawah Allah?
Ilustrasi (via eliosh.info)
Ada apa di bawah Allah adalah sebuah pertanyaan simple tentang Allah tetapi banyak orang awam akan salah menjawabnya. Bila ini ditanyakan kepada orang Islam secara umum, tampaknya akan banyak yang menjawab bahwa di bawah Allah ada alam dunia beserta seluruh isinya atau di bawahnya ada langit.

Jawaban tersebut salah sebab mengesankan bahwa Allah bertempat di lokasi yang tinggi di atas langit sedangkan di bawahnya ada semua hal. Ini adalah keyakinan yang keliru menurut Ahlussunnah wal Jama'ah sebab Allah bukanlah jism (keberadaan yang punya bentuk fisik atau volume) sehingga menempati ruang tertentu di alam semesta. 

Adapun jawaban yang benar untuk pertanyaan tersebut adalah sesuai redaksiliteraldalam hadits shahih berikut ini:

وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ

“Engkaulah Yang Maha Nampak, maka tak adasesuatu pun di atasmu. Dan, Engkaulah Yang Maha Samar, maka tak ada sesuatu pun yang di bawahmu.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad).

Mengomentari hadits ini, Imam al-Hafidzal-Baihaqi, mengatakan:

وَالَّذِي رُوِيَ فِي آخِرِ هَذَا الْحَدِيثِ إِشَارَةٌ إِلَى نَفْيِ الْمَكَانِ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى، وَأَنَّ الْعَبْدَ أَيْنَمَا كَانَ فَهُوَ فِي الْقُرْبِ وَالْبُعْدِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى سَوَاءٌ، وَأَنَّهُ الظَّاهِرُ، فَيَصِحُّ إِدْرَاكُهُ بِالْأَدِلَّةِ؛ الْبَاطِنُ، فَلَا يَصِحُّ إِدْرَاكُهُ بِالْكَوْنِ فِي مَكَانٍ. وَاسْتَدَلَّ بَعْضُ أَصْحَابِنَا فِي نَفْيِ الْمَكَانِ عَنْهُ بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ» . وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ ". وَإِذَا لَمْ يَكُنْ فَوْقَهُ شَيْءٌ وَلَا دُونَهُ شَيْءٌ لَمْ يَكُنْ فِي مَكَانٍ

"Yang diriwayatkan di bagian akhir hadits ini mengisyaratkan tiadanya tempat bagi Allah dan bahwa seorang hamba di mana pun berada jaraknya sama saja dari Allah. Dia adalah ad-Dhâhir (Yang Tampak) sehingga bisa dimengerti dengan dalil. Tapi Dia juga al-Bâthin (Yang Tak Nampak) sehingga tak bisa dipahami berada di suatu tempat pun. Sebagian sahabat kami berdalil untuk menafikan adanya tempat Allah dengan hadits tersebut. Kalau di atasnya tidak ada sesuatu pun dan dibawahnya juga tidak ada sesuatu pun, maka berarti Allah tidak ada di satu tempat pun." (al-Baihaqi, al-Asmâ’ was-Shifât, juz II, halaman 289).

Dengan demikian, sebagai muslim kita harus mengikuti Rasulullah dan meyakini bahwa di atas dan di bawah Allah tak ada sesuatu apapun. Adapun kebiasaan kaum muslimin menghadap dan menengadahkan tangan ke arah atas ketika berdoa bukanlah sebuah bukti bahwa manusia ada di bawah Allah, melainkan karena langit adalah kiblatnya doa sebagaimana Ka’bah adalah kiblatnya shalat, demikian para ulama Ahlussunnah menjelaskan. Wallahua’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Jumat 31 Agustus 2018 14:2 WIB
Pengertian Takdir Mubram dan Takdir Muallaq
Pengertian Takdir Mubram dan Takdir Muallaq
Pada usia belasan dulu kami sering mendengar doa dan sedekah sebagai tolak bala. Pada nisfyu Sya’ban, dari dulu masyarakat kami juga mengajukan tiga permintaan kepada Allah SWT. Bagaimana memahami semua pengertian itu di tengah tuntutan keimanan pada takdir?

Dari semua itu kemudian kami sering mendengar bahwa doa bermanfaat bagi putusan atau takdir Allah yang masih menggantung di Lauh Mahfuzh.

Terkait ini, kami selanjutnya mendengar istilah takdir mubram dan takdir muallaq di kalangan ustadz-ustadz kami di mana doa dapat “mengubah” putusan atau takdir Allah.

Doa atau permintaan masyarakat dalam nisfu Syaban atau melalui bentuk sedekah dipercaya masyarakat dapat “mengubah” bala yang ditakdirkan Allah SWT akan menimpa mereka, terutama takdir muallaq yang realisasinya sangat berkaitan erat dengan doa.

والدعاء ينفع مما نزل ومما لم ينزل وإن البلاء لينزل ويتلقاه الدعاء فيتعالجان إلى يوم القيامة. والدعاء ينفع في القضاء المبرم والقضاء المعلق. أما الثانى فلا استحالة في رفع ما علق رفعه منه على الدعاء ولا في نزول ما علق نزوله منه على الدعاء

Artinya, “Doa bermanfaat terhadap apa yang datang dan apa yang belum datang (dari langit). Bala pun akan datang dan bertemu dengan doa. Keduanya (bala dan doa) senantiasa ‘berperang’ hingga hari qiamat. Doa bermanfaat pada qadha mubram dan qadha muallaq. Perihal yang kedua (qadha muallaq), maka tidak mustahil menghilangkan apa (putusan) yang penghilangannya digantungkan pada doa dan tidak mustahil mendatangkan apa (putusan) yang penghadirannya digantungkan pada doa,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 91).

Situasi takdir muallaq berlainan dengan takdir mubram. Doa tidak dapat mengubah kenyataan yang digariskan dalam takdir mubram. Meskipun demikian, doa dipercaya dapat meminimalisir dampak bala yang timbul karena takdir mubram.

وأما الأول فالدعاء وإن لم يرفعه لكن الله تعالى ينزل لطفه بالداعى كما إذا قضى عليه قضاء مبرما بأن ينزل عليه صخرة فإذا دعا الله تعالى حصل له اللطف بأن تصير الصخرة متفتتة كالرمل وتنزل عليه

Artinya, “Adapun perihal pertama (qadha mubram), (peran) doa meskipun tidak dapat menghilangkan bala, tetapi Allah mendatangkan kelembutan-Nya untuk mereka yang berdoa. Misalnya, ketika Allah menentukan qadha mubram kepada seseorang, yaitu kecelakaan berupa tertimpa batu besar, ketika seseorang berdoa kepada Allah, maka kelembutan Allah datang kepadanya, yaitu batu besar yang jatuh menimpanya menjadi remuk berkeping-keping sehingga dirasakan olehnya sebagai butiran pasir saja yang jatuh menimpanya,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 91).

Meskipun takdir terbagi dua, muallaq dan mubram, kita sebagai manusia tidak mengetahui mana takdir muallaq dan takdir mubram. Oleh karena itu, ahlusunnah wal jamaah memandang doa sebagai ikhtiar manusiawi yang tidak boleh ditinggalkan sebagaimana pada umumnya aliran ahlusunnah wal jamaah memandang perlunya ikhtiar dalam segala hal, bukan menyerah begitu saja pada putusan takdir.

Dari sini, kita dapat memahami tiga permintaan atau doa yang lazim diamalkan masyarakat Indonesia di malam nisfu Syaban sebagai bentuk ikhtiar dalam menolak bala dan ikhtiar dalam mendatangkan kemaslahatan.

وانقسام القضاء إلى مبرم ومعلق ظاهر بحسب اللوح المحفوظ وأما بحسب العلم فجميع الأشياء مبرمة لأنه إن علم الله حصول المعلق عليه حصل المعلق ولا بد وإن علم الله عدم حصوله لم يحصل ولا بد لكن لا يترك الشخص الدعاء اتكالا على ذلك كما يترك الأكل اتكالا على إبرام الله الأمر فى الشبع

Artinya, “Pembagian qadha menjadi mubram dan muallaq itu tampak pada Lauh Mahfuzh. Adapun dari sisi ilmu Allah, semua putusan itu bersifat mubram karena ketika Allah mengetahui datangnya putusan muallaq, maka hasillah muallaq tersebut, dan tidak boleh tidak ketika Allah mengetahui ketiadaan putusan muallaq, maka tiadalah muallaq tersebut. Tetapi manusia tiada jalan lain, seseorang tidak boleh meninggalkan doa hanya karena bersandar pada putusan qadha tersebut sebagaimana larangan seseorang untuk meinggalkan makan karena bersandar pada putusan Allah perihal kenyang,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Sementara aliran muktazilah tidak mempercayai peran dan manfaat doa karena kata ‘doa’ dalam Al-Quran itu adalah ibadah secara umum. “Siapa saja yang beribadah, niscaya Allah akan menerimanya,” menurut mereka. Mereka tidak mengartikan ayat itu demikian, “Siapa saja yang berdoa, niscaya Allah akan mengabulkannya.” 

وأما عند المعتزلة فالدعاء لا ينفع ولا يكفرون بذلك لأنهم لم يكذبوا القرآن كقوله تعالى ادعوني أستجب لكم بل أولوا الدعاء بالعبادة والإجابة بالثواب

Artinya, “Bagi kalangan muktazilah, doa tidak memberikan manfaat. Tetapi mereka tidak jatuh dalam kekufuran dengan pandangan demikian karena mereka tidak mendustakan Al-Quran perihal ini seperti ayat ‘Serulah Aku, niscaya Aku membalasnya.’ Mereka menakwil kata ‘seruan’ dengan ibadah, dan ‘balasan’ dengan pahala,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Meskipun demikian, kelompok ahlusunnah wal jamaah asy’ariyah tidak menempatkan aliran muktazilah ke dalam aliran kufur karena mereka masih meyakini Al-Quran sebagai wahyu Allah.

Semua pengertian yang diangkat oleh pendukung kelompok ahlusunnah wal jamaah asy’ariyah ini dimaksudkan agar umat Islam tidak salah paham menempatkan signifikansi doa, peran ikhtiar manusia, dan dapat meningkatkan keimanan terhadap takdir di tengah peran atau ikhtiar manusiawi.

Semua ini dijelaskan oleh pendukung kelompok ahlusunnah wal jamaah asy’ariyah agar masyarakat sunni tidak bersikap su'ul adab dan su'uzzhan kepada Allah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 27 Agustus 2018 16:30 WIB
Dua Sikap Ahlussunnah tentang Sifat Khabariyah Allah
Dua Sikap Ahlussunnah tentang Sifat Khabariyah Allah
Ilustrasi (g-1.com)
Dalam Al-Qur’an dan hadits, ditemukan banyak ayat atau hadits yang menyinggung tentang sifat yang sepintas bermakna organ tubuh Tuhan. Misalnya ayat “yadullah fauqa aydîhim” yang secara literal bermakna “tangan Allah di atas tangan-tangan mereka”, “tajrî bia’yuninâ” yang secara literal bermakna “perahu itu berjalan dengan banyak mata kami” dan banyak teks lain yang menyebut adanya wajh (wajah), shûrah (bentuk), ‘ashâbi‘ (jari jemari) dan sebagainya. Sifat dalam ayat-ayat atau hadits yang menyatakan demikian itu disebut sebagai sifat khabariyah atau sifat Allah yang keberadaannya hanya bisa diketahui melalui teks Al-Qur’an atau hadits semata, tak bisa melalui akal. Bagaimanakah seorang Muslim seharusnya menyikapi sifat khabariyah ini? 
 
Imam Tajuddin as-Subki, salah satu ulama Asy'ariyah terkemuka menjelaskan pandangan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah (Asy’ariyah) dalam menetapkan sifat khabariyah tersebut sebagai berikut: 
 
للأشاعرة قولان مشهوران في إثبات الصفات، هل تمر على ظاهرها مع اعتقاد التنزيه، أو تئول؟ والقول بالإمرار مع اعتقاد التنزيه هو المعزو إلى السلف، وهو اختيار الإمام في الرسالة النظامية. وفي مواضع من كلامه، فرجوعه معناه الرجوع عن التأويل إلى التفويض، ولا إنكار في هذا، ولا في مقابله، فإنها مسألة اجتهادية، أعني مسألة التأويل أو التفويض مع اعتقاد التنزيه. إنما المصيبة الكبرى والداهية الدهياء الإمرار على الظاهر، والاعتقاد أنه المراد، وأنه لا يستحيل على الباري، فذلك قول المجسمة عباد الوثن 
 
"Para ulama Asy’ariyah mempunyai dua pendapat yang masyhur dalam menetapkan adanya sifat (khabariyah) Allah (bukan malah meniadakannya/ta'thîl); Apakah dimaknai sesuai makna lahiriahnya dengan disertai keyakinan menyucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk ataukah ditakwil? Pendapat yang membiarkan lafaz apa adanya sesuai lahiriahnya tetapi menyucikan Allah (dari sifat makhluk) adalah yang dinukil dari ulama salaf. Itulah pilihan Imam al-Haramain dalam risalah Nidhamiyah dan dalam beberapa tempat dari kitab-kitabnya. Rujuknya Imam al-Haramain maknanya adalah rujuk dari takwil menuju tafwidh. Hal ini tak boleh diingkari (disalahkan), begitu juga kebalikannya (yang mentakwil). Sesungguhnya ini adalah masalah, ijtihadiyah, yakni soal takwil dan tafwidh beserta tanzih (menyucikan Allah dari sifat yang tak layak). Sesungguhnya musibah besar dan petaka yang parah adalah meyakini makna lahiriyah lalu meyakini bahwa itulah yang dimaksud dan bahwa itu tak mustahil bagi Allah. Itu adalah keyakinan para Mujassimah, yaitu para penyembah berhala." (Tajuddin as-Subki, Thabaqât as-Syafi’iyah al-Kubrâ, juz V, halaman 191)
 
Senada dengan beliau, Imam al-Hafidzan-Nawawi juga menjelaskan:
 
اعلم أن لأهل العلم في أحاديث الصفات وآيات الصفات قولين أحدهما وهو مذهب معظم السلف أو كلهم أنه لا يتكلم في معناها بل يقولون يجب علينا أن نؤمن بها ونعتقد لها معنى يليق بجلال الله تعالى وعظمته مع اعتقادنا الجازم أن الله تعالى ليس كمثله شيء وأنه منزه عن التجسم والانتقال والتحيز في جهة وعن سائر صفات المخلوق وهذا القول هو مذهب جماعة من المتكلمين واختاره جماعة من محققيهم وهو أسلم والقول الثاني وهو مذهب معظم المتكلمين أنها تتأول على مايليق بها على حسب مواقعها
 
“Ketahuilah bahwa ahli ilmu mempunyai dua pendapat tentang hadits-hadits dan ayat-ayat sifat: Salah satunya adalah pendapat mayoritas ulama salaf atau bahkan seluruhnya bahwasanya maknanya tidak boleh diperbincangkan tetapi wajib bagi kita untuk mengimani dan meyakini makna yang layak bagi keagungan Allah Ta'ala dan kebesarannya serta dengan keyakinan yang mantap bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah dan bahwa Allah disucikan dari sifat jism (bentuk fisik, (pergerakan, batasan arah serta seluruh sifat-sifat makhluk. Pendapat ini adalah tahap sebagian ahli Kalam dan juga dipilih oleh ahli tahqîq dari mereka dan ini adalah yang paling selamat. Pendapat kedua yaitu pendapat sebagian besar ahli kalam bahwa sifat-sifat tersebut ditakwil sesuai makna yang layak bagi Allah sesuai dengan konteksnya masing-masing.” (Imam an-Nawawi, Syarhan-Nawawi ‘ala Muslim, juz III,halaman 19) 
 
Dari penjelasan ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) terbagi menjadi dua kelompok dalam menyikapi teks sifat khabariyah sebagai berikut:
 
• Kelompok yang memilih untuk membiarkan teks tersebut apa adanya tanpa ditakwil (dimaknai secara metaforis), namun dengan diyakini bahwa tak satu pun dari sifat itu yang bermakna fisik sebagai anggota tubuh, bermakna pergerakan dan pergeseran, atau bermakna adanya batasan-batasan fisikal sebab Allah memang maha suci dari semua hal tersebut. Tindakan ini dikenal dengan nama tafwidh atau memasrahkan hakikat maknanya hanya kepada Allah tanpa dibahas lebih lanjut. Kelompok ini diwakili oleh mayoritas ulama salaf (ulama di tiga kurun pertama hijriah) dan tokoh-tokoh ahli kalam yang teliti.
 
• Kelompok yang memilih untuk mentakwil (memaknai secara metaforis) teks sifat tersebut dan memaknainya sesuai konteksnya masing-masing, sesuai dengan makna yang memang berlaku di kalangan orang Arab. Kelompok ini diwakili oleh mayoritas ulama ahli kalam dan ulama khalaf (pasca-tiga kurun pertama hijriah).
 
Kedua pilihan di atas adalah hal yang bersifat ijtihadiyah, dalam arti memang ranah perbedaan pendapat tanpa ada yang perlu dicela atau dianggap sesat. Yang benar-benar tepat di sisi Allah nanti akan mendapat dua pahala dan yang kurang tepat akan mendapat satu pahala. Tak pernah ada satu pun ayat atau hadits yang secara gamblang memerintahkan atau melarang untuk melakukan tafwidh atau pun takwil
 
Keduanya mempunyai persamaan bahwa seluruh sifat khabariyah mustahil dimaknai dengan makna yang menjadi ciri khas jism, seperti: makna organ tubuh, makna bergerak, berpindah, diam, mempunyai diameter, mempunyai volume, bertempat dalam ruang dan sebagainya. Seluruh makna ini tidak mungkin dimiliki Tuhan sebab ini semua adalah ciri khas makhluk. Adapun perbedaannya, golongan pertama yang diwakili mayoritas ulama salaf memilih diam tak menentukan apa makna sifat tersebut sedangkan golongan kedua memilih menentukan maknanya secara metaforis.
 
Bila dipraktikkan, misalnya pada ayat berikut:
 
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
 
“Tuhan yang Mahapengasih istawa atas Arasy”. (QS. Thaha: 5)
 
Golongan ahli tafwidh akan memilih diam tak membahas apa yang dimaksud istawa tersebut. Mereka akan menolak semua arti fisik dari kata istawa seperti: duduk bersemayam, berdiam, melayang di atas atau makna fisikal lainnya sebab itu mustahil bagi Allah. Mereka juga akan menolak arti metaforis, seperti makna menguasai, menundukkan dan sebagainya sebab bagi mereka makna ini hanya praduga semata. Mereka lebih suka tak menentukan makna apa pun selain membaca ulang dengan redaksi asalnya (imrâr). Kalaupungolongan ini memberi makna, maka mereka hanya akan menjelaskan bahwa istawa adalah sebuah tindakan Allah yang Dia namai sebagai istawa dan hanya Allah yang tahu bagaimana tindakan tersebut sebenarnya.
 
Adapun golongan ahli takwil akan memilih mengartikan kata istawa itu dengan makna metaforis, misalnya menguasai mutlak (qahhara) sesuai sifat Allah yang memang al-Qahhâr (Maha-Menguasai secara mutlak tanpa perlu memaksa atau menaklukkan). Dalam makna ini, ayat itu bermakna Allah menguasai Arasy secara mutlak, apalagi makhluk yang lebih kecil dari itu. Sebagian lagi memaknai istawa sebagai mengurus/memelihara (dabbara) sesuai dengan sifat Allah yang memang al-Mudabbir (Maha-Memelihara). Dalam makna ini, ayat tersebut bermakna Allah telah mengurus Arasy, makhluk terbesar di dunia, apalagi hanya yang lebih kecil.
 
Demikianlah aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah tentang sifat khabariyah. Wallahua’lam.
 
 
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember