IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Perhatikan Lima Etika Ini saat Ziarah ke Makam Rasulullah

Jumat 31 Agustus 2018 21:45 WIB
Share:
Perhatikan Lima Etika Ini saat Ziarah ke Makam Rasulullah
Ilustrasi (muslims.com)
Jamaah haji regular asal Indonesia, selain menunaikan rangkaian ibadah haji di Makkah, umumnya juga berkunjung ke Madinah untuk meziarahi makam Rasulullah ﷺ dan melakukan shalat empat puluh waktu secara berjamaah di Masjid Nabawi atau yang dikenal dengan sebutan shalat arba’în.

Madinah adalah tempat hijrah Baginda Nabi. Di situ pula jasad manusia paling mulia dikebumikan. Setiap berada di Madinah, Imam Malik tidak pernah memakai terompah atau sandalnya. Beliau berharap, ada debu yang dulu pernah menempel ke tubuh Rasulullah, sebagian di antaranya menempel juga di kaki Imam Malik.
 
Selain itu, Imam Malik tidak berkenan menunggangi hewan kendaraannya. Beliau beralasan, “Bagaimana aku berani menaiki tungganganku, sedang di dalam tanah Madinah ini terdapat jasad Rasul yang sangat mulia?” Begitu kira-kira alasan Imam Malik.

Baca juga: Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah
Nabi Muhammad ﷺ saat ini hidup. Kita wajib meyakini itu. Namun hidupnya adalah hayâtan barzakhiyyatan (kehidupan alam kubur), tidak hidup sebagaimana kehidupan kita di alam dunia seperti ini. Nabi Muhammad derajatnya di atas orang-orang yang mati syahid. Karena itu penting sekali bagi siapa saja yang berada di depan makam beliau menjaga etika berziarah.

Berikut ini adalah adab atau etika ziarah ke makam Rasulullah ﷺ yang disarikan dan dikembangkan dari kitab Al-Hajj-Fadlâil wa Ahkâm karya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliky halaman 284-287:

Pertama, makam Rasulullah berada di kompleks Masjid Nabawi. Saat mulai memasuki masjid, hendaknya seseorang bersikap tenang, penuh adab yang mulia. Umar bin Khattab pernah menegur dua orang pria yang bersuara keras waktu di sana. Bersuara keras di dalam Masjid Nabawi merupakan kemungkaran yang paling buruk.
 
Kedua, memang tidak ada kalimat khusus yang diajarkan Rasulullah yang harus dibaca. Namun jika ada yang bershalawat dan salam, maka itu cukup. Misalnya dengan kalimat berikut: 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا اَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيْقْ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا اَبَا حَفْصٍ عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابْ

Artinya: “Salam sejahtera bagi engkau, wahai Rasulallah. Salam sejahtera bagi engkau, wahai Abu Bakar ash-Shiddiq. Salam sejahtera bagi engkau, wahai ayah Hafsh, Umar bin Khattab.”

Berziarah kepada Nabi tidak sebagaimana orang ziarah di Tanah Air yang bisa duduk, membersihkan kuburan, atau aktivitas lainnya. Di sana, ziarah dilakukan sambil berjalan dan berlalu. Putra dari Umar bin Khattab yang bernama Abdullah bin Umar, dalam satu riwayat diceritakan, saat beliau ziarah membaca:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا اَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيْقْ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا اَبَتْ 

Artinya: “Salam sejahtera bagi engkau, wahai Rasulallah. Salam sejahtera bagi engkau, wahai Abu Bakar ash-Shiddiq. Salam sejahtera bagi engkau, wahai ayahku.”

Setelah salam sebagaimana di atas, Ibnu Umar lalu pergi meninggalkan lokasi makam. 

Mengutip dari Ibnu Taimiyyah, Sayyid Muhammad menyampaikan, hendaknya orang yang berziarah, tidak menyentuh pusara makam Rasul, tidak mengecupnya serta tidak thawaf atau memutar mengelilinya. Hal ini berdasar doa Rasul ﷺ:

اللهم لا تجعل قبري وثنا يعبد

Artinya: “Ya Allah, semoga Engkau tidak menjadikan pekuburanku sebagai berhala yang disembah.”

Ziarah tetap dianjurkan. Namun Sayyid Muhammad memperingatkan peziarah agar tetap mengikuti aturan ziarah, sehingga tauhid masyarakat tetap terjaga dengan baik.

Ketiga, para peziarah hendaknya menjaga adab. Berkeyakinan bahwa ia sedang merasa bersama Baginda Nabi serta Nabi mengetahui atas kedatangan para peziarah, mengetahui posisi tempat masing-masing peziarah. Sesungguhnya menghormati Nabi Muhammad ﷺ ketika sudah wafat sama halnya dengan menghormati beliau saat jasad beliau masih hidup di dunia. Bahkan Ibnul Qayyim, dalam syairnya mengaku, setiap kali ia akan berziarah ke makam Rasulullah, sebelumnya ia shalat tahiyyatal masjid terlebih dahulu di Masjid Nabawi.

Keempat, bagi siapa saja yang sudah mulai menginjakkan kakinya di tanah kota Madinah al-Munawwarah, sebaiknya untuk menata niat secara sungguh-sungguh, akan menjaga shalat dengan melaksanakannya di Masjid Nabawi karena keutamaan shalat di Masjid Nabawi sebagaimana yang disampaikan Rasulullah, shalat di Masjid Nabawi lebih baik daripada shalat seribu rakaat di selain masjid tersebut dan Masjidil Haram. 

Adapun lokasi yang termasuk kategori Masjid Nabawi adalah semua bangunan yang dibangun sebagai masjid Nabawi, termasuk pemekarannya. Hal ini mengingat, Rasul bersabda bahwa jika masjid tersebut dibangun hingga San’a, Yaman, itu masih sebagaimana masjidnya baginda Nabi.

Kelima, sebaiknya tidak meninggalkan shalat di Raudlah, jika memungkinkan. (Ahmad Mundzir)

Tags:
Share:
Selasa 21 Agustus 2018 7:30 WIB
12 Adab Menyambut Hari Raya Menurut Imam Al-Ghazali
12 Adab Menyambut Hari Raya Menurut Imam Al-Ghazali
Di dalam Islam terdapat dua hari raya yang sangat dimuliakan, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Pada kedua hari raya ini kita disunnahkan melaksanakan Shalat Id. Imam Al-Ghazali dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, t.th., halaman 437), menyebutkan adab-adab menyambut hari raya  sebagai berikut:

آداب العيد: إحياء ليلة والاغتسال فى صبيحة يومه، ونظافة البدن، وطيب الرائحة، وإدامة التكبير، وكثرة الذكر، واستعمال الخشوع، والتسبيح والحمد بين تضاعف التكبير، والإنصات للخطبة بعدالصلاة، وأكل اليسير قبل الخروج إن كان فطرا، والذهاب فى طريق والرجوع فى اخرى، والانصراف بالإشفاق خوف الغيبة. 

Artinya: “Adab merayakan Hari Raya (Id), yakni: mengidupkan malam sebelumnya dan mandi pagi di hari itu, membersihkan badan, memakai wewangian, selalu bertakbir, memperbanyak dzikir, bersikap khsyu’, membaca tasbih dan hamdalah di antara takbir yang diulang-ulang, aktif mendengarkan khutbah yang dilaksanakan setelah shalat Id, menyantap makanan ringan sebelum meninggalkan rumah jika itu adalah hari Idul Fitri, berangkat melewati jalan yang berbeda dengan ketika pulang, dan bertegur sapa dengan ramah agar tidak digunjing orang.”

Dari kutipan di atas, dapat diuraikan dua belas adab menyambut Hari Raya (Id) sebagai berikut:

1. Menghidupkan suasana di malam hari sebelumnya. 

Menjelang Hari Raya (Id), umat Islam dianjurkan menghidupkan suasana di malam hari sebelumnya. Artinya umat Islam tidak sebaiknya tidur awal, tetapi menyibukkan diri terlebih dahulu dengan hal-hal yang berkaitan dengan persiapan pelaksanaan Shalat Id di pagi harinya. Kegiatan menabuh bedug dan takbiran di masjid, misalnya, merupakan contoh menghidupkan suasana menyambut Hari Raya (Id). 

2. Mandi di pagi hari.

Sebelum shalat Id, disunnahkan mandi di pagi hari dengan mengguyur seluruh tubuh dan anggota badan, yakni dari rambut di kepala hingga telapak kaki dengan air. Adapun bacaan niatnya sebagai berikut:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِعِيْدِ اْلاَضْحَى/لِعِيْدِ اْلفِطْرِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى

(Nawaitul ghusla li‘îdil adha/li‘îdil fithri sunnatan lillâhi ta’âlâ)

Artinya: “Aku niat mandi untuk merayakan Idul Adha/Idul Fitri sebagai sunnah karena Allah taála.”

3. Membersihkan badan dan memakai wewangian.

Setalah mandi diajurkan juga membersihkan anggota badan seperti memotong dan membersihkan kuku, memakai pakaian bersih dan memakai wewangian seperti parfum atau bedak wangi. Atau cukup dengan memakai sabun wangi ketika mandi.

4. Khusus di hari Idul Fitri dianjurkan menyantap makanan ringan sebelum berangkat menuju tempat dilaksanakannya shalat Id. Hal ini sekaligus untuk menandai bulan Ramadhan benar-benar telah berakhir dengan tibanya bulan Syawal. 

5. Berangkat ke tempat shalat Id melewati jalan yang berbeda dengan ketika pulang. 

Dari awal sebaiknya sudah ada niatan untuk melewati jalan yang berbeda dengan ketika pulang. Dengan cara seperti ini dimungkinkan untuk bertemu dengan lebih banyak orang sehingga menambah teman dan menyambung silaturrahim dengan teman-teman lama atau saudara yang lama tidak berjumpa. 

6. Selalu membaca takbir: اللَّهُ أَكْبَرُAllâhu akbar” (Allah Mahabesar).

7. Memperbanyak bacaan dzikir: ُلاَ إِلَهَ إِلاَّ الله "Lâ ilâha illallâh” (tiada Tuhan selain Allah).

8. Membaca tasbih:  سُبْحَانَ اللَّهِSubhânallâh” (Mahasuci Allah). 

9. Membaca hamdalah di antara takbir yang diulang-ulang seperti berikut: 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَر وللهِ الْحَمْدُ

(Allâhu akbar, Allâhu akbar, Allâhu akbar, Lâ ilâha illallâh, Allâhu akbar, wa lillâhil hamdu

Artinya: “Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, tiada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, dan segala puji bagi Allah.”

Butir nomor 6-9 dibaca secara khusyuk dan umumnya dilakukan secara bersama-sama sambil menunggu dimulainya shalat Id. 

10. Aktif mendengarkan khutbah setelah Shalat Id. 

Aktif mendengarkan khutbah dilakukan tidak hanya dengan tidak berbicara kepada orang lain tetapi juga mendengarkan dengan seksama. Berbeda dengan khutbah Shalat Jumát, khutbah Shalat Id dilaksanakan seusai shalat. Oleh karena itu seusai shalat tidak sebaiknya meninggalkan tempat. 

11. Pulang melewati jalan yang berbeda dengan ketika berangkat.

Pulang melewati jalan yang berbeda dengan ketika berangkat sebetulnya tidak jauh berbeda dengan shalat sunnah ba’diyah di tempat yang berbeda dari tempat kita melaksanakan shalat fardhu. Hal ini tentu memiliki hikmah agar semakin banyak tanah terdapat jejak-jejak kita melaksanakan shalat yang diyakini sangat berguna kaitannya dengan hisab dan kesaksian di akherat. 

12. Bertegur sapa dengan ramah agar tidak digunjing orang.

Selama dalam perjalanan pulang menuju rumah hendaknya kita bertegur sapa dengan ramah. Hal ini pertanda sebagai kegembiraan umat Islam di hari raya sekaligus untuk menghindari gunjingan, misalnya karena dianggap bersikap sombong dan sebagainya.  

Demikianlah kedua belas adab menyambut Hari raya (Id). Keseluruhannya sebaiknya kita perhatikan dan jalankan dengan baik sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali. Semakin banyak adab yang bisa kita jalankan, semakin banyak kebaikan dan pahala kita dapatkan. Jika kita perhatikan dari kedua belas adab tersebut, kita ketahui bahwa butir nomor 1- 9 kita laksanakan sebelum shalat Id. Sedangkan butir nomor 10-12 kita laksanakan setelahnya. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta
Senin 20 Agustus 2018 20:30 WIB
Tiga Adab Utama saat Bencana
Tiga Adab Utama saat Bencana
Bencana alam gempa, banjir, angin topan, dan semisalnya, datang secara tiba-tiba. Tentu hal ini membuat panik orang yang mengalaminya. Yang terpikir hanya menyelamatkan diri dan keluarga bagaimana pun caranya.

Meskipun demikian, sebagai seorang Muslim dalam kondisi apapun tentu hendaknya tetap dapat mengambil sikap terbaik dan penuh adab islami. Demikian pula dalam kondisi bencana yang datang mendadak. Lalu apakah adab-adab utama saat terjadi bencana menurut Islam?

Adab pertama,adalah menyelamatkan diri. Bahkan orang yang dalam kondisi melaksanakan shalat fardhu pun boleh untuk membatalkan shalatnya demi menghindarkan dirinya dari ancaman bencana.  Dalam konteks ini terdapat riwayat:

إِذَا رَجُلٌ يُصَلِّي وَإِذَا لِجَامُ دَابَّتِهِ بِيَدِهِ فَجَعَلَتْ الدَّابَّةُ تُنَازِعُهُوَجَعَلَ يَتْبَعُهَا ...(رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Artinya, “Seketika itu ada seseorang (Sahabat Abu Barzah al-Aslami Ra) yang sedang shalat dan tali kendali hewan tunggangannya (dipengang) ditangannya, lalu tiba-tiba hewan itu menyeretnya dan ia pun mengikutinya ... (Riwayat al-Bukhari)

Dari hadits inilah kemudian para ulama memahami bahwa untuk menjaga keselamatan segala hal yang dikhawatirkan rusak, baik benda maupun lainnya maka seseorang boleh memutus atau membatalkan shalat. (Lihat Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqallani, Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, [Beirut, Darul Ma’rifah: 1379 H], juz III, halaman 82).

Bahkan menurut Syaikh Izzuddin Ibn Abdissalam (577-660 H/1181-1262 M) pakar fiqih Syafi’i asal Damaskus, upaya penyelamatan jiwa harus diprioritaskan daripada pelaksanaan shalat, sebab menyelamatkan jiwa lebih utama daripada shalat dan sebenarnya keduanya dapat tercapai dengan menyelamatkan jiwa terlebih dahulu kemudian baru melakukan shalat meskipun qadha. Sebab tidak diragukan lagi bahwa kemaslahatan shalat tepat waktu tidak lebih unggul, bahkan tidak bisa dianggap selevel dengan kemaslahatan penyelamatan jiwa seseorang. (Lihat ‘Izzuddin Abdul Aziz bin Abdissalam, Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, [Beirut, Darul Ma’arif: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 57).

Adab kedua, merendahkan diri kepada Allah dengan berdoa untuk keselamatan dan kebaikan sesuai dengan bencana yang terjadi, berdasarkan hadits:

كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَصَفَتِ الرِّيحُ قَالَ:اَللهم إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya, “Nabi Saw ketika ada angin bertiup sangat kencang beliau berdoa: ‘Ya Allah, sungguh aku memohon kepadamu kebaikan angin, kebaikan apa yang ada di dalamnya dan kebaikan apa yang dikirimkan dengannya; dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, dari keburukan apa yang ada di dalamnya dan keburukan apa yang dikirimkan dengannya,” (HR Muslim).

Adab ketiga, bila memungkinkan lakukanlah shalat sunnah mutlak dua rakaat secara sendirian berdasarkan hadits tersebut sesuai ijtihad para ulama, sebagaimana Ibn al-Muqri (755-837 H/1354-1433 M) pakar fiqih Syafi’i asal Yaman yang dikutip oleh Syekh Nawawi Al-Bantani:

يُسَنُّ لِكُلِّ أَحَدٍ أَنْ يَتَضَرَّعَ بِالدُّعَاءِ وَنَحْوِهِ عِنْدَ الزَّلَازِلِ وَنَحْوِهَا كَالصَّوَاعِقِ وَالرِّيحِ الشَّدِيدِ وَالْخُسُفِ، وَأَنْ يُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ مُنْفَرِدًا كَمَا قَالَهُ ابْنُ الْمُقْرِي لِئَلَّا يَكُونَ غَافِلًا، لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَصَفَتِ الرِّيحُ قَالَ:اَللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا

Artinya, “Disunnahkan bagi setiap orang untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa dan semisalnya, ketika terjadi gempa bumi dan semisalnya, seperti petir dan angin yang dahsyat dan gerhana; dan disunnahkan juga untuk shalat (sunnah) di rumahnya secara sendirian sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Muqri, agar tidak lalai, berdasarkan hadits bahwa Nabi SAW ketika ada angin bertiup sangat kencang ia berdoa, ‘Ya Allah, sungguh aku memohon kepadamu kebaikan angin...’” (Lihat Muhammad bin Umar bin Ali bin Nawawi Al-Jawi, Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi’in, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 105).

Demikian tiga adab utama bagai seorang Muslim ketika mengalami bencana yang datangnya tak disangka-sangka. Dalam kondisi apa pun idealnya seorang Muslim tetap ingat terhadap Allah SWT. Wallahu a‘lam. (Ahmad Muntaha AM, Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur)
Sabtu 18 Agustus 2018 14:30 WIB
Pentingnya Menyedekahkan Barang-barang Bekas kepada Pemulung
Pentingnya Menyedekahkan Barang-barang Bekas kepada Pemulung
Ilustrasi (capslocknet.com)
Sebagian orang berpikir bersedekah itu mesti dengan memberikan uang dalam jumlah yang cukup kepada orang lain. Anggapan ini tentu saja tidak benar sebab bersedekah sesungguhnya bisa dengan apa saja dalam jumlah berapa pun. Anggapan yang tidak benar ini terkadang membuat kita enggan melepas barang-brang bekas atau rongsok ke tempat sampah karena kita masih berpikir barang-barang itu bisa dijual. 

Seharusnya justru ketika kita berpikir bahwa barang-barang bekas atau rongsok itu masih memiliki nilai ekonomi, kita tidak berat hati membuangnya ke tempat sampah. Alasannya, jika hal itu diniati bersedekah kepada para pemulung yang setiap hari mengais rezeki di sana pastilah barang-barang itu menjadi sedekah kita yang tak kalah tinggi nilai ibadahnya dibandingkan sedekah dengan uang tunai. 

Bersedekah kepada mereka dengan barang-barang bekas seperti rongsokan perkakas rumah tangga, kardus, botol, kertas, plastik, dan sebagainya, sejatinya bukan semata-mata memberikan santunan tetapi sekaligus merupakan pemberdayaan ekonomi dan konservasi lingkungan. Disebut pemberdayaan ekonomi karena pihak penerima, yakni para pemulung yang secara ekonomi lemah, akan mendapatkan uang dengan terlebih dahulu harus memilah dan memilih sampah-sampah tertentu sebelum menjualnya ke pengepul. Upaya ini sekaligus untuk memenuhi prinsip 3R, yakni reduce, recycle, dan reuse.

Reduce berarti upaya mengurangi volume sampah tidak dengan cara dibakar yang hanya akan meningkatkan polusi udara, tetapi dengan recycle, yakni mendaur ulang hingga menjadi produk baru yang dapat digunakan kembali atau juga dikenal dengan istilah reuse. Dikatakan pula sebagai konservasi lingkungan karena kegiatan 3R ini sejatinya merupakan upaya manusia untuk menjaga kelestarian alam dengan mengurangi eksploitasi alam dan mengurangi tingkat pencemaran lingkungan. 

Dengan demikian, membuang barang-barang bekas atau rongsok ke tempat sampah dengan niat bersedekah tidak hanya merupakan kesalehan sosial tetapi sekaligus mendorong kesalehan ekologis. Disebut kesalehan sosial karena bersedekah merupakan ajaran agama untuk menolong sesama manusia yang membutuhkan. Disebut kesalehan ekologis karena prinsip 3R merupakan upaya manusia untuk menjaga kelestarian alam yang merupakan kepentingan bersama sesama makhluk di bumi. 

Upaya-upaya tersebut sangat penting dilakukan karena kerusakan lingkungan dari waktu ke waktu semakin menutut kesadaran dan gerakan bersama untuk menerapkan prinsip 3R sebagai diuraikan di atas. Allah subhabahu wata’ala di dalam Al-Qur’an, Surat Ar-Rûm, ayat 41 telah mengatakan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)."


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta