IMG-LOGO
Ubudiyah

Dosa yang Dibarengi Sombong Tidak Akan Diampuni Allah

Selasa 4 September 2018 17:0 WIB
Share:
Dosa yang Dibarengi Sombong Tidak Akan Diampuni Allah
Setiap keturunan Nabi Adam pasti pernah melakukan kesalahan, kecuali para nabi yang memang dijaga (ma’shûm) oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ. Selain syirik (menyekutukan Allah), dosa selainnya terdapat potensi akan diampuni oleh Allah. Dosa syirik tidak akan pernah diampuni oleh Allah kecuali jika pelakunya melakukan pertaubatan khusus. Perlu menjadi catatan, di sini hanya disampaikan “ada potensi”. Kalau saja Allah tidak mengampuni selama-lamanya, itu hak preogatif Allah sendiri. Wallahu a’lam. Hal ini diungkapkan oleh Ibnu Khuzaiman dalam kitab at-Tauhîd:

وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ يَشَاءُ غُفْرَانَ كُلِّ مَعْصِيَةٍ يَرْتَكِبُهَا الْمُسْلِمُ دُونَ الشِّرْكِ، وَإِنْ لَمْ يَتُبْ مِنْهَا، لِذَاكَ أَعْلَمَنَا فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِهِ فِي قَوْلِهِ: وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Artinya: “Allah  azza wa jalla terkadang berkenan mengampuni segala macam maksiat yang dilakukan oleh orang Muslim, selain syirik, meskipun orang tidak pernah bertaubat dari dosanya. Oleh karena itu, Allah mengajari kita dalam Al-Qur’an ‘dan mengampuni selain dosa itu (syirik) kepada siapa pun yang dikehendaki (Allah)’ (QS an-Nisa: 48).” (Muhammad bin Khuzaimah, at-Tauhîd wa Itsbâti Shifâtir Rabb, [Riyadh, Maktabah ar-Rusyd], juz 2, halaman 832)

Dosa selain syirik, meskipun berpotensi diampuni Allah, menurut Sufyan ats-Tsauri, masih ada satu syarat lagi, yaitu saat melakukan dosa, pelakunya tidak melakukan dosa tersebut dengan dibarengi hati yang sombong. 

Artinya, apabila ada orang melakukan dosa, semata-mata ia larut, melakukan dosa hanya untuk mengikuti hawa nafsunya, ia masih punya secercah harapan akan diampuni Allah suatu saat nanti. Adapun pelaku dosa sombong, tidak punya harapan sekali untuk diampuni Allah.

Mengapa dosa yang dilakukan orang Muslim dengan sombong tidak akan diampuni? Karena dosa disertai sombong merupakan perbuatan Iblis. Pada saat Allah memerintah Iblis untuk bersujud (hormat) kepada Adam, Iblis tidak sudi melakukannya lantaran sombong.

Dosa disertai kesombongan berarti maksiat dalam dua sisi. Secara lahiriah memang melakukan maksiat. Dari sudut batin, orang tersebut juga bermaksiat. Sifat sombong merupakan sifat yang hanya berhak dimiliki Allah. Tidak ada makhluk satu pun yang berhak memakai. Berbeda dari sifat ar-Rahmân, Mahakasih, misalnya. Selain Allah mempunyai sifat ini, manusia diberi sifat kasih pula oleh Allah. 

Adapun kesalahan yang hanya dalam rangka mengikuti syahwat atau menuruti hawa nafsu saja tanpa dibarengi rasa sombong dalam hati, seperti kesalahan Nabi Adam ketika beliau makan buah khuldi yang menjadikannya dikeluarkan dari surga. Meskipun sampai dikeluarkan begitu, Nabi Adam pada akhirnya diampuni oleh Allah karena beliau hanya mengikuti keinginan, bukan dalam rangka sombong. Yang perlu menjadi catatan, cerita Nabi Adam tersebut tidak menunjukkan bahwa Nabi Adam maksiat sebagaimana kita maksiat. 

Hal ini diungkapkan oleh Sufyan ats-Tsauri, seorang pembesar tabi’in, pembesar ulama hadits. Beliau menjadi rujukan sebagaimana Abu Bakar dan Umar dalam masanya.

وَعَنْ سُفْيَان الثَّوْرِيْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: كُلُّ مَعْصِيَةٍ عَنْ شَهْوَةٍ فَإِنَّهُ يُرْجَى غُفْرَانُهَا، وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عَنْ كِبْرٍ فَاِنَّهُ لَا يُرْجَى غُفْرَانُهَا، لِاَنَّ مَعْصِيَةَ اِبْلِيْسَ كَانَ اَصْلُهَا مِنَ الْكِبْرِ، وَزِلَّةَ آدَمَ كَانَ اَصْلُهَا مِنَ الشَّهْوَةِ. 

Artinya: “Dari Sufyan ats-Tsauri radliyallahu anh, ‘Setiap maksiat yang dilakukan dari unsur syahwat atau keinginan, pengampunan dari Allah layak diharapkan. Setiap maksiat yang timbul dari kesombongan, tidak bisa diharapkan ampunannya dari Allah. Karena maksiat iblis, bertumpu atas dasar kesombongan, dan kesalahan Adam pondasinya adalah mengikuti keinginan saja.” (Syihabuddin Ibnu Hajar al-Asqalani, Nashâihul ‘Ibâd [Lebanon, DKI], halaman 11). Wallahu a'lam bish shawab(Ahmad Mundzir)

Tags:
Share:
Jumat 31 Agustus 2018 15:0 WIB
Penjelasan Al-Qur'an tentang Sosok Ahli Dzikir
Penjelasan Al-Qur'an tentang Sosok Ahli Dzikir
Ilustrasi (mawdoo3.com)
Secara harfiah, dzikir diartikan mengingat Allah SWT melalui berbagai macam bacaan dan kalimat-kalimat thayyibah. Dalam praktiknya, dzikir dalam upaya mengingat Allah bukan merupakan proses instan, melainkan diperoleh melalui ilmu sehingga dzikirnya tersambung (wushul) dengan Tuhannya.

Uraian tentang dzikir ini banyak dijelaskan di dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an termasuk mengenai keterangan ahli dzikir. Lalu, siapakah ahli dzikir itu? Pertanyaan ini salah satunya bisa dijawab melalui keterangan QS Al-Anbiya’ ayat 7:

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya, “Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.”

Dalam ayat di atas, disebutkan secara sharih (terang, jelas) mengenai siapakah ahli dzikir itu, ialah orang-orang yang berilmu. Pertanyaan selanjutnya, lalu siapakah orang-orang berilmu itu?

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dalam bukunya Secercah Tinta (2014) menjelaskan tentang siapakah ahli dzikir itu. Ia menyatakan bahwa ahli dzikir adalah para wali dan para ulama yang dalam hatinya terdapat rasa takut (khasyyah) kepada Allah SWT.

Dengan demikian, jika dinisbatkan bahwa wali dan ulama juga manusia, maka manusia yang mempunyai ketaatan dan rasa takut kepada Allah juga termasuk ahli dzikir.

Karena dalam ayat di atas disebutkan bahwa ahli dzikir adalah orang-orang berilmu, maka perlu dipahami bahwa ahli dzikir bukan sekadar orang yang pintar. Itu artinya semua orang pintar bukan berarti ahli dzikir.

Ahli dzikir ialah orang yang ‘arif, rijalul ‘arif. Habib Luthfi menyebutkan, kalau orang ‘arif sudah dipastikan ibadahnya baik. Itu semua disaksikan dan diakui oleh Allah yang menciptakan.

Para wali, ulama, dan orang-orang ‘arif itulah sumber-sumber akidah, bagaimana umat Islam bisa memahami agama dengan sumber-sumber mutawatir, dapat dipertanggungjawabkan, dan tersambung hingga kepada Nabi Muhammad SAW kemudian sampai kepada seluruh umat. Sebab, orang-orang yang disebutkan di atas mendapatkan kesaksian dalam Al-Qur’an yang disaksikan oleh Nabi Muhammad sekaligus diangkat oleh Baginda Nabi.

Menurut Habib Luthfi, kebesaran Al-Qur’an pertama kali disaksikan pertama kali oleh Nabi Muhammad. Kemudian Al-Qur’an menjadi syahadah (saksi) kebesaran Baginda Nabi. Baginda Nabi menjadi saksi bagi kebesaran sahabat yang diangkat oleh Allah.

Karena kebesaran Al-Qur’an pertama kali disaksikan oleh Nabi Muhammad, maka kebesaran ulama yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an tersebut dengan sendirinya disaksikan oleh Baginda Nabi. Dengan demikian, semuanya saling menyaksikan. Wallahu’alam bisshowab. (Fathoni)
Rabu 29 Agustus 2018 21:45 WIB
Apakah Memakai Peci Sama Sunnahnya dengan Mengenakan Imamah?
Apakah Memakai Peci Sama Sunnahnya dengan Mengenakan Imamah?
Banyak kita jumpai, sebagian habâib, kiai, maupun tokoh Muslim dunia melilitkan sehelai kain di atas kepala mereka. Lilitan ini dikenal sebagai imâmah. Di Indonesia, Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Maemun Zubair, Habib Luthfi bin Yahya, KH Musthafa Bisri serta ulama lain tampak memakai imâmah, meskipun ada yang tidak terus-menerus—terkadang memakai peci, kopiah maupun penutup kepala sejenis.

Memakai imâmah hukumnya adalah sunnah baik untuk shalat atau sekadar sebagai perhiasan. Hal ini berdasar atas beberapa hadits Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun hadits-hadits tersebut dinilai dlaif, namun karena jumlahnya yang banyak, antara satu hadits dengan yang lain menjadi saling menguatkan. Demikian diungkapkan oleh Sulaiman al-Jamal dalam kitabnya Hâsyiyah al-Jamal

Salah satu hadits yang menyebutkan bagaimana Rasul memakai imâmah adalah sebagai berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ وَعَلَيْهِ عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ berkhutbah di hadapan masyarakat sedangkan beliau mengenakan imâmah berwarna hitam.” (HR Muslim: 452) 

Ada yang berpandangan, imamah adalah pakaian adat. Ia mempunyai kedudukan seperti halnya bagaimana Rasulullah mengenakan baju, memakai terompah, buang air kecil, dan lain sebagainya. Apakah kemudian menggunakan baju, terompah, buang air kecil itu menjadi sunnah karena Rasulullah memakainya atau melakukannya? Jika Baginda Nabi makan dan minum, apakah otomatis sunnah bagi kita melakukan kegiatan yang sama? 

Terdapat definisi sunnah yang mempunyai makna bahasa (lughatan), yaitu semua jenis perilaku Rasulullah. Hanya bermakna perilaku. Istilah ini lebih lekat dengan dalam disiplin hadits. Dalam ilmu fiqih, sunnah bermakna satu hal yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala, apabila ditinggalkan tidak mengakibatkan dosa. Dalam konteks makna sunnah sebagai perilaku Rasul itu, posisi sunnah tak ubahnya adat atau kebiasaan manusia pada umumnya.

Lain dari pandangan di atas, menurut kalangan Syafiiyyah, menggunakan imâmah adalah sunnah baik secara istilah hadits maupun secara kaca mata fiqih. Artinya, menggunakannya mendapatkan pahala, jika tidak menjalankan, tidak mendapatkan dosa. Berikut penjelasan Syekh Sulaiman al-Jamal: 

وَتُسَنُّ الْعِمَامَةُ لِلصَّلَاةِ وَلِقَصْدِ التَّجَمُّلِ لِلْأَحَادِيثِ الْكَثِيرَةِ فِيهَا

Artinya: “Disunnahkan memakai imâmah untuk shalat dan dalam rangka berhias diri karena banyak hadits yang menyebut hal tersebut.” (Sulaiman al-Jamal, Hâsyiyah al-Jamal, [Beirut, Ihyâut Turats al-Arabiy: tanpa catatan tahun], juz 2, halaman 89) 

Masih dalam kitab yang sama, Syekh Sulaiman juga mengatakan, sunnah pula memakai kopiah/peci di dalam imâmah maupun memakai peci saja tanpa menggunakan imâmah. 

Pernyataan Syekh Sulaiman tersebut senada dengan perkataan mufti Hadramaut, Sayyid Abdurrahman Ba Alawi dalam karyanya Bughyatul Mustarsyidîn sebagai berikut:

وَتَحْصُلُ سُنَّةُ الْعِمَامَةِ بِقَلَنْسُوَةٍ وَغَيْرِهَا

Artinya: “Kesunnahan memakai imâmah dapat pula dicapai dengan memakai peci atau sejenisnya.” (Sayyid Abdurrahman Ba Alawi, Bughyatul Mustarsyidîn, [Beirut, Dârul Fikr, 1994), halaman 144).

Dengan demikian dapat disimpulkan, memakai peci, kopiah ataupun penutup kepala sejenis merupakan kesunnahan secara fiqih karena dianggap sama dengan imamah, serta Rasulullah juga menggunakan itu. 

Sebagaimana kesunnahan yang mirip dengan adat yang lain, seperti gosok gigi, i’tikaf dan lain sebagainya, memakai imamah ataupun peci, bagi pemakainya akan mendapatkan pahala jika disertai dengan niat melakukannya dalam rangka melaksanakan kesunnahan atau meniru perilaku Rasulullah ﷺ. (Ahmad Mundzir)

Selasa 28 Agustus 2018 16:0 WIB
Ini Delapan Adab Perjalanan Pulang Jamaah Haji
Ini Delapan Adab Perjalanan Pulang Jamaah Haji
(Foto: saudi gazette)
Imam An-Nawawi menulis tema haji dan umrah secara khusus melalui karyanya Al-Idhah fi Manasikil Hajj. Di akhir karyanya ini, Imam An-Nawawi menulis sejumlah hal yang perlu diperhatikan terkait proses perjalanan pulang jamaah haji dan keluarga yang menyambutnya di tanah air.

Menurutnya, sejumlah hal yang perlu diperhatikan saat perjalanan pulang haji itu sebenarnya sudah disebutkan di awal karyanya terkait awal perjalanan jamaah haji. Tetapi ada beberapa tambahan yang perlu diperhatikan.

اعلم أن معظم الآداب المذكورة في الباب الأول في سفره مشروعة في رجوعه من سفره ويزاد هنا آداب

Artinya, “Ketauhilah, mayoritas adab yang tersebut pada bab pertama perihal awal perjalanan haji juga disyariatkan pada proses perjalanan pulang dari ibadah haji. Tetapi di sini ada sejumlah tambahan adab,’” (Lihat An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasikil Hajj, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 247).

Sejumlah hal yang perlu diperhatikan, kata Imam An-Nawawi, terdiri atas delapan hal.
Pertama, sunnah meneladani Rasulullah SAW, yaitu bertakbir sebanyak 3 kali sepulang naik haji bila melewati jalan menanjak atau perbukitan. Setelah takbir, jamaah haji dianjurkan membaca doa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim berikut ini:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ، آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ، سَاجِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ، صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Lâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîka lahû, lahul mulku, wa lahul hamdu, wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîrun. Âyibûna, tâ’ibûna, ‘âbidûna, sâjidûna li rabbinâ, hâmidûn. Shadaqallâhu wa‘dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal ahzâba wahdahû.

Artinya, “Tiada tuhan selain Allah yang esa. Tiada sekutu bagi-Nya. Segala puji bagi-Nya. Dia kuasa atas segala sesuatu. (Kami) kembali, bertobat, menyembah, bersujud kepada Tuhan kami, dan memuji. Maha benar Allah akan janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan pasukan musuh sendiri.”

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Sahabat Anas RA bahwa Rasulullah bersama para sahabatnya sepulang haji membaca doa ini sepanjang jalan hingga tiba di kota kediaman, Kota Madinah. Berikut ini doanya: 

آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ، سَاجِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ

Âyibûna, tâ’ibûna, ‘âbidûna, sâjidûna li rabbinâ, hâmidûn.

Artinya, “(Kami) kembali, bertobat, menyembah, bersujud kepada Tuhan kami, dan memuji.”

Kedua, jamaah haji yang belakangan pulang dianjurkan mengamanatkan jamaah haji yang pulang lebih dahulu untuk mengabarkan kepada keluarga jamaah di kampung halaman agar kedatangan mereka yang belakangan tidak tampak mendadak.

Ketiga, ketika mendekat dengan kota kediaman, jamaah haji disarankan membaca doa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ أَهْلِهَا وَخَيْرِ مَا فِيْهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا

Allâhumma innî as’aluka min khairihâ, wa khairi ahlihâ, wa khairi mâ fîhâ. Wa a‘ûdzu bika min syarrihâ, wa syarri ahlihâ, wa syarri mâ fîhâ.

Artinya, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan kota ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan kota ini, kejahatan penduduknya, dan kejahatan apa yang ada di dalamnya.”

Sebagian ulama menganjurkan jamaah haji membaca doa berikut ini:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا بِهَا قَرَارًا أَوْ رِزْقًا حَسَنًا اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا جَنَاهَا وَأَعِذْنَا مِنْ وَبَاهَا وَحَبِّبْنَا إِلَى أَهْلِهَا وَحَبِّبْ صَالِحِيْ أَهْلِهَا إِلَيْنَا

Allâhummaj‘al lanâ bihâ qararan, au rizqan hasanan. Allâhummarzuqnâ janâhâ, wa a‘idznâ min wabâhâ, wa habbib shâlihî ahlihâ ilainâ.

Artinya, “Ya Allah, jadikanlah ketetapan bagi kami pada kota ini atau rezeki yang baik. Ya Allah, anugerahilah kami buahnya (buah di kota ini), lindungilah kami dari wabahnya, tanamkan cinta di hati kami kepada penduduknya, dan tanamkan cinta di hati penduduk yang saleh di kota kepada kami.”

Keempat, bila tiba di kota kediaman pada malam hari, jamaah haji tidak dianjurkan memasuki kediamannya seketika. Mereka disarankan memasuki desanya pada pagi hari.

Kelima, ketika tiba di desa atau kompleks kediamannya, jamaah haji dianjurkan mencari masjid terdekat dan shalat dua rakaat di dalamnya sebelum pulang ke rumah. Sampai di rumah, mereka juga dianjurkan untuk menunaikan shalat dua rakaat, berdoa, dan bersyukur kepada Allah. 

Keenam, keluarga, kerabat, kolega, atau tetangga yang menyambut kepulangan jamaah haji dianjurkan membaca doa berikut ini:

قَبَّلَ اللهُ حَجَّكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَأَخْلَفَ نَفَقَتَكَ

Qabballallâhu hajjaka, wa ghafara dzanbaka, wa akhlafa nafaqataka.

Artinya, “Semoga Allah menerima ibadah hajimu, mengampuni dosamu, dan mengganti pengeluaranmu.”

Mereka juga dianjurkan untuk mendoakan jamaah haji yang baru pulang dari tanah suci dengan doa berikut ini:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الحَاجُّ

Allâhummaghfir lil hâjj, wa li man istaghfara lahul hâjj.

Artinya, “Ya Allah, ampunilah dosa jamaah haji ini dan dosa orang yang dimintakan ampun oleh jamaah haji ini.”

Ketujuh, ketika memasuki rumah dan menemui keluarganya, jamaah haji disarankan membaca doa berikut ini:

تَوْبًا تَوْبًا، لِرَبِّنَا أَوْبًا، لَا يُغَادِرُ حُوْبًا

Tauban, tauban, li rabbinâ awban, lâ yughâdiru hûban.

Artinya, “Kami sungguh memohon pertobatan. Kepada Tuhan kami, kami kembali, tobat yang tidak menyisakan dosa.”

Kedelapan, jamaah haji yang pulang dari tanah suci seyogianya menjalani hidup lebih baik dari sebelumnya. Kualitas hidup yang lebih baik dari segi ibadah, sikap terhadap orang lain, dan sikap terhadap alam semesta, menjadi tanda penerimaan ibadah haji.

Semua amalan ini tidak sepenuhnya dengan relevan mengingat kompleksitas situasi, waktu perjalanan pulang, kemajuan teknologi informasi terkait kirim kabar, dan situasi kampung halaman jamaah haji asal Indonesia. Tetapi sebagian besar adab yang disebutkan oleh Imam An-Nawawi ini masih relevan bagi jamaah haji sekarang ini. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)