IMG-LOGO
Zakat

Inilah Ketentuan Zakat bagi Atlet Asian Games Peraih Medali

Rabu 5 September 2018 23:21 WIB
Share:
Inilah Ketentuan Zakat bagi Atlet Asian Games Peraih Medali
Perhelatan Asian Games 2018 telah berlangsung dengan sukses. Banyak raihan prestasi yang diraih oleh para atlet dari berbagai cabang olahraga yang dipertandingkan. Tak ketinggalan atlet tuan rumah, Indonesia tercinta. 

Semula pemerintah lewat Kementerian Olahraga yang dikomandani oleh Imam Nahrawi hanya menargetkan 15 raihan medali emas. Target ini menimbang dari berbagai raihan medali emas dalam tiga laga olahraga serupa sebelumnya (2006, 2010, dan 2014). Akhirnya, Indonesia bisa melampaui target tersebut. Berikut perbandingan raihan medali dari selama beberapa pertandingan terakhir.

• Tahun 2006, Indonesia berada di peringkat 22, dengan 2 medali emas dari bulutangkis dan bowling (total medali 20). 

• Tahun 2010, Indonesia berada di peringkat 15, dengan 4 medali emas dari perahu dan bulutangkis (total medali 26).

• Tahun 2014, Indonesia berada di peringkat 17, dengan 4 emas dari atletik dan bulutangkis (total medali 20).

• Tahun 2018, Indonesia berada di peringkat 4, dengan 30 emas dari berbagai cabang olahraga (total medali 89)

Keberhasilan yang luar biasa dalam ajang prestasi olahraga ini tidak luput dari tawaran bonus yang disampaikan oleh Pemerintah sejak satu tahun terakhir bagi seluruh atlet yang berhasil meraih emas sebesar 1 miliar yang kemudian direvisi menjadi 1,5 M per emas per atlet yang diinformasikan sebelum perhelatan tersebut berlangsung. Sungguh sebuah nilai yang sangat besar untuk menghargai prestasi atlet di tengah ketiadaan bonus bagi para atlet lain di negaranya. Bagaimanapun juga, bonus yang ditawarkan tersebut, disadari ataupun tidak, menjadi salah satu faktor pemicu bagi atlet untuk berprestasi. Bonus ini adalah hak atlet dan halal baginya memanfaatkan harta itu dengan baik.

Fokus kajian kita kali ini adalah pada dialektika fiqih yang khusus membahas mengenai kewajiban/hak yang melekat pada besaran bonus tersebut. Bagaimanapun juga dalam setiap perolehan harta, baik harta itu diperoleh dari hasil kasab (bekerja) atau yang diperoleh dari hasil hadiah, asalkan ia diperoleh dengan jalan yang halal, maka ada hak orang lain yang melekat padanya. Islam mengajarkan dua hal berkaitan dengan penyaluran hak masyarakat lain bagi harta tersebut, antara lain (1) dengan shadaqah tathawwu’ (shadaqah sunnah) sebagai wujud rasa bersyukur, dan (2) dengan zakat. Dari kedua model penyaluran ini, zakat merupakan hal yang pertama kali harus diperhatikan oleh semua orang, karena statusnya adalah wajib dan melekat ke semua individu. 

Lantas, kewajiban apa yang berlaku bagi atlet yang mendapatkan raihan medali emas, perak dan perunggu di atas? Bagaimana pula dengan kewajiban terhadap besaran bonusnya?

Zakat Medali Emas dan Perak

Emas dan perak adalah dua jenis harta zakawi. Pada keduanya berlaku zakat nuqudain, yaitu zakat emas dan perak. Namun, ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan terhadap kewajiban mengeluarkan zakat nuqud ini, antara lain:

1. Nishab emas murni (dzahab), adalah 20 mitsqal (85 gram). 1 mitsqal setara dengan 24 qirâth atau setara dengan jumlah 72 biji gandum (sya’îr) utuh. 

2. Nishab perak murni (fidlah) adalah setara dengan 200 dirham (595 gram). 1 dirham setara dengan 16,8 qirath. Dengan demikian 200 dirham adalah setara dengan 3.360 qirâth

Untuk kedua jenis harta zakawi tersebut, maka wajib dikeluarkan zakatnya manakala telah mencapai 1 tahun, yakni sebesar 2,5% (rub’u al-usyri). Pengeluarannya boleh diberikan dengan jalan mempercepat sebelum tiba 1 tahun (ta’jîl). Tentu atlet yang memiliki kewajiban dalam hal ini adalah atlet yang Muslim. Adapun untuk atlet yang bukan Muslim, maka tidak wajib mengeluarkan zakatnya, kecuali sebatas apa yang ditetapkan oleh pemerintah, semisal pajak dan lain sebagainya.

Zakat Bonus

Maksud dari zakat bonus ini adalah zakat harta simpanan. Syarat mengeluarkannya secara fiqih juga ditetapkan setelah mencapai simpanan 1 tahun. Tentu dalam hal ini, yang wajib dikeluarkan adalah harta yang dibiarkan mengendap di tabungan, semisal deposito atau rekening tabungan. Uang yang tersisa di rekening dan tabungan adalah wajib dikeluarkan zakatnya. 

Ada ikhtilaf fiqih terkait jenis zakat dari uang tabungan ini. Ada yang menyebut sebagai zakat emas, dan ada juga yang menyebut sebagai zakat dagang (zakat tijârah). Untuk zakat emas, dilandaskan pada anggapan bahwa setiap keping mata uang adalah menyatakan simpanan kepemilikan emas. Oleh karenanya, menyimpan uang dalam tabungan adalah diqiyaskan dengan menyimpan emas. Nishab zakatnya menyerupai nishab emas, yaitu setara dengan kurang lebih nilai 48 juta rupiah untuk emas dengan harga kasar 500 ribu rupiah per gram. 

Ulama kontemporer, setelah melakukan penelitian terhadap status uang, menyatakan bahwa zakat yang wajib dikeluarkan adalah zakat tijârah atau lebih dikenal dengan istilah zakat dagang. Zakat ini dilandaskan pada pemikiran bahwa mata uang modern (mata uang fiat dan giral), keduanya tidak lagi menyatakan kepemilikan aset atas suatu emas. Dan hal ini sudah berlaku sejak akhir kisaran tahun 1960-an. Jika para ulama salaf dan ulama khalaf sebelum dekade 1960-an menyatakan bahwa uang dinyatakan sama dengan kepemilikan emas disebabkan karena memang pada waktu itu menyatakan simpanan emas.

Sementara pasca-1960-an, uang tidak lagi ditentukan pada kepemilikan cadangan emas, melainkan ia ditentukan oleh tingkat kepercayaan pasar (tijary) di pasaran global. Inilah yang melatarbelakangi mengapa wajib dikeluarkannya zakat tijarah untuk uang simpanan. Uang simpanan dianggap sebagai urûdlu al-tijârah (modal dagang). Untuk itu, bila telah mencapai satu tahun, ia wajib dikeluarkan zakatnya sebagai zakat tijaarah, yakni sebesar 2,5% dari ‘urudlu al-tijaarah yang berupa uang tabungan.  

Kesimpulan 

Zakat merupakan ibadah wajib yang ditentukan oleh Allah SWT sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya dan mensyukuri nikmat dan anugerah yang telah diberikan. Selain itu, zakat juga merupakan bentuk solidaritas sosial seorang hamba kepada lingkungan sosial tempat ia berada. 

Dalam setiap harta yang diperoleh oleh seorang hamba, baik dengan jalan bekerja maupun hadiah adalah wajib dikeluarkan zakatnya manakala telah mencapai 1 tahun. Kewajiban ini berlaku untuk semua individu manusia, asalkan ia muslim, termasuk di dalamnya adalah para atlet muslim profesional yang mendapatkan medali emas dan perak serta bonus. Untuk atlet yang mendapatkan medali emas dan perak, maka ia wajib mengeluarkan zakat emas dan perak setelah medali itu genap dimilikinya selama satu tahun, yaitu sebesar 2,5%. Untuk bonus yang diperolehnya, zakat yang wajib dikeluarkan adalah sejumlah 2,5% dari total sisa bonus yang belum dipergunakannya dan masih tersimpan di tabungan selama satu tahun tersebut. Boleh juga ia mengeluarkan zakatnya sebelum mencapai satu tahun, yang mana dalam fiqih dikenal dengan istilah ta’jil zakat. Adapun untuk atlet yang mendapatkan medali perunggu dan mendapatkan bonus, maka ia hanya wajib memenuhi satu kewajiban terhadap sisa bonus yang didapatkannya setelah genap berusia 1 tahun mengendap di dalam tabungan. 

Wallahu a’lam bish shawab

Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim

Tags:
Share:
Rabu 13 Juni 2018 20:0 WIB
Uang Simpanan, Apakah Kena Kewajiban Zakat?
Uang Simpanan, Apakah Kena Kewajiban Zakat?
Banyak masuk atensi kepada penulis beberapa hari terakhir yang menanyakan seputar zakat uang. Beberapa dari penanya ingin diberitahu tentang apakah uang simpanan mereka termasuk yang wajib dikenai zakat apa tidak. Kali ini pengkaji akan mencoba mengupas masalah ini dengan menimbang segi teori uang yang pernah kita kupas sebelumnya dalam forum ini. 

Pertama yang harus kita perhatikan adalah bahwa kewajiban zakāt māl adalah berlaku pada harta yang tersimpan (kanzun) yang terdiri atas emas dan perak. Ayat yang menjelaskan hal ini adalah QS at-Taubah ayat 34: “Orang-orang yang menyimpan emas dan perak kemudian ia tidak menafkahkannya di jalan Allah (mengeluarkan zakatnya), maka berilah kabar gembira terhadap mereka akan azab yang teramat pedih.” 

Kita bicara tentang emas dan perak. Ada dua jenis emas dan perak yang saat ini beredar di masyarakat, yaitu pertama berupa emas murni yang biasanya berwujud emas batangan, dan kedua berupa emas yang dicetak. Untuk emas yang dicetak umumnya disebut sebagai huliyyin mubāh, yaitu perhiasan mubah. Ada kalanya emas yang ada dalam bentuk cetak ini berupa kalung, cincin, atau berupa mata uang seperti dinar dan dirham.

Nishab dari huliyyin mubah ini adalah 20 mitsqāl, setara dengan 20 dinar, atau kurang lebih 425 gram. Sementara nishab emas murni adalah setara 85 gram. Masing-masing dari emas murni dan emas yang dicetak ini wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% (rub’u al-‘ushr). Untuk nishab perak dalam bentuk huliyyin mubah, adalah sama dengan 200 dirham atau setara dengan kadar 2.975 gram. Adapun bila dalam bentuk perak murni (batangan), maka nishabnya setara dengan ukuran timbangan 595 gram. Zakat yang wajib dikeluarkan dari perak ini juga sama yaitu 2,5%-nya. Catatan yang perlu diperhatikan dari keberadaan zakat emas dan perak tadi adalah bahwa keduanya telah disimpan (kanzun) selama kurang lebih 1 tahun, baik dalam bentuk batangan murni atau dalam bentuk cetak (Lihat KH. Afifuddin Muhadjir, Fathu al-Mudjīb al-Qarīb fi hilli Alfādhi al-Taqrīb, Situbondo: Ibrahimy Press, 2014, hal. 48). 

Lantas apa hubungannya keberadaan emas dan perak ini dengan uang? Jawabnya adalah hubungannya sangat erat. Mengapa? Karena sejarah mata uang di dunia ini erat hubungannya dengan emas dan perak. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih klasik pun juga disebutkan adanya relasi antara mata uang dengan emas dan perak. Bahkan dalam Keputusan Muktamar ke-8 Nahdlatul Ulama di Jakarta, tanggal 12 Muharram 1352 H./ 7 Mei 1933 M juga menyamakan kedudukan uang ini sama dengan emas dan perak. Namun menilik dari tahun dihasilkannya keputusan, keputusan ini tidak bisa disalahkan karena memang pada tahun itu kedudukan uang masih memiliki simpanan berupa cadangan emas yang terletak di Bank Indonesia.

Baca: Sejarah Mata Uang Logam dan Uang Kertas
Pasca dihasilkannya keputusan Muktamar NU yang ke-8 ini berlaku hukum bahwa setiap uang yang disimpan oleh masyarakat, adalah bernilai cadangan emas dan perak. Karena ia bernilai cadangan emas, maka bila uang tersebut disimpan selama satu tahun, baik disimpan sendiri atau disimpan di bank, dengan catatan yaitu asal tidak dipergunakan sama sekali, maka dari uang ini berlaku nishab zakat.

Nishab ini ditentukan kadarnya berdasar nishab emas dan perak murni. Bila dalam 1 gram emas murni bernilai 500 ribu (misalnya), maka harga 85 gram emas adalah setara dengan Rp42.500.000. Dengan demikian, zakat yang wajib dikeluarkan adalah menjadi sebesar 2,5%-nya sehingga bernilai Rp1.062.000. Arti lain dari hal ini adalah, setiap masyarakat yang memiliki uang simpanan sebesar Rp. 42.500.000 adalah sudah setara dengan memiliki 85 gram emas sehingga wajib dikeluarkan zakatnya.

Keberadaan uang ini adalah baik yang disimpan sendiri maupun yang disimpan dalam unit niaga seperti perbankan dan lembaga/tempat penyimpanan lainnya. Akan tetapi, keputusan ini adalah berlaku ketika mata uang masih memiliki simpanan cadangan emas di bank, yaitu tepatnya era sebelum tahun 1970-an. Lantas bagaimana dengan uang dewasa ini?

Seiring dengan perkembangan zaman, kedudukan mata uang telah berubah. Negara sekarang memakai jenis mata uang fiat yang mana nilainya tidak ditentukan berdasarkan cadangan emas yang tersimpan, melainkan ia ditentukan berdasarkan hasil neraca perdagangan. Makna uang sudah bergeser menjadi makna niaga karena setiap satuan mata uang ditentukan nilainya dari hasil perniagaan. Syarat dari niaga (tijarah) adalah perputaran mata uang di unit niaga dan adanya ‘urudlu al-tijarah (modal niaga). Oleh karena itu, untuk mata uang yang tidak berada dalam satuan unit niaga ini, maka uang tersebut tidak bisa disebut mengalami perputaran. Lantas, dimanakah letak unit niaganya?

Baca: Mata Uang Fiat dan Unsur Penyusunnya
Suatu misal, ada orang yang menyimpan uang secara konvensional yaitu menyimpan uang secara klasik di rumah. Selama satu tahun uang tersebut tidak dipakai untuk suatu jenis usaha tertentu, maka secara tidak langsung uang masyarakat seperti ini disebut tidak mengalami perputaran. Karena tidak mengalami perputaran, maka tidak ada yang disebut 'urudlu al-tijarah (modal niaga). Padahal, keberadaan 'urudlu al-tijarah inilah yang menjadi dasar utama ditetapkannya zakat, yakni zakat tijarah (zakat niaga).

Berbeda halnya bila uang masyarakat disimpan di bank. Sebagaimana yang dahulu juga kita bahas bahwa pada dasarnya uang yang disimpan di bank dalam bentuk deposito dan reksadana adalah diawali dengan akad serah terima modal antara nasabah dengan perbankan sebagai wakil nasabah untuk menyalurkan ke unit niaga yang aman bagi dana nasabah. Oleh karena itu, uang yang dititipkan ke bank oleh nasabah bisa disebut sebagai urudlu al-tijarah, karena ada unsur serah terima modal tersebut. Karena adanya unsur serah terima modal, maka berlaku pula hukum zakat niaga sebesar 2,5% bilamana uang tersebut telah mencapai haul (satu tahun). 

Sebagai ilustrasi misalnya Pak Ahmad mendepositokan uangnya sebesar 10 juta rupiah pada 5 Syawal 1438 H. Pada saat kalender sudah menunjuk 5 Syawal 1439 H, ternyata uang Pak Ahmad telah mencapai 12 juta rupiah. Berapakah zakat yang harus dikeluarkan oleh Pak Ahmad? Jawabnya adalah dengan mendasarkan pada hitungan urudlu al-tijarah sebesar 10 juta maka dihitung bahwa besarnya zakat Pak Ahmad adalah sebesar 250 ribu rupiah. Hal ini tentu tidak berlaku bilamana Pak Ahmad menyimpan uang tersebut di rumah sendiri, karena uang sebesar 10 juta tidak mengalami perputaran dalam unit niaga.

Semoga uraian singkat ini bisa menghapus silang sengkarut soal apakah uang simpanan dan tabungan wajib dikeluarkan zakatnya apa tidak. Sebagai garis besar jawabnya adalah apakah uang tersebut dipergunakan dalam unit niaga atau tidak. Bila dipergunakan, maka wajib dikeluarkan zakatnya, dan bila tidak digunakan dan hanya disimpan sendiri, maka tidak wajib dikeluarkan. Wallahu a’lam bi al-shawab. 


Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh PP Hasan Jufri Putri, P. Bawean

Sabtu 19 Mei 2018 16:0 WIB
Tujuh Etika Membayar Zakat
Tujuh Etika Membayar Zakat
Selain mengetahui berbagai hukum zakat, hendaknya seorang muzakki  (orang yang hendak membayar zakat) juga memperhatikan berbagai etikanya sehingga pembayaran zakatnya diterima dan diridhai Allah SWT. Lalu apa saja etika membayar zakat yang harus diperhatikannya?

1. Segera Membayar Zakat Setelah Waktu Wajibnya Tiba
Ini dilakukan karena beberapa pertimbangan, yaitu: a) menampakkan rasa senang menaati perintah Allah SWT dan Rasul-Nya; b) membahagiakan orang yang menerimanya; c) sadar bahwa kalau ditunda bisa saja ada hal lain yang menghalanginya; dan d) menjadi maksiat apabila sampai habis waktunya zakat belum jadi dikeluarkan.

2. Merahasiakan Pembayaran Zakat
Merahasiakan zakat lebih dapat menghindarkan seseorang dari riya’ (pamer) dan sum’ah (mencari popularitas). Allah berfirman:

... وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ... (البقرة: 271

Artinya, “... Dan apabila kalian menyembunyikan (pembayaran) zakat dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagi kalian ...” (Al-Baqarah ayat 271).

Bahkan segolongan ulama salaf secara sungguh-sungguh berupaya merahasikan zakatnya, yaitu dengan menyalurkannya lewat perantara, sehingga penerima zakat tidak mengetahui siapa pemberi sebenarnya. Hal itu dilakukan tidak lain karena menghindari sifat riya’ dan sum’ah. Sebab, ketika sifat riya' mendominasi pembayaran zakat, maka ia akan meleburnya, meskipun secara fiqh zakatnya sah.

3. Membayar Zakat Secara Terang-terangan
Allah SWT berfirman:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ...

Artinya, “Jika kalian menampakkan zakat kalian, maka itu baik sekali ...” (Al-Baqarah ayat 271).

Etika ini dilakukan ketika situasi dan kondisi mendukungnya. Yaitu ada kalanya agar ditiru atau karena ada seseorang yang meminta zakat secara terang-terangan di depan orang lain. Dalam kondisi seperti ini, hendaknya muzakki tidak menghindar dari memberikan zakatnya dengan alasan khawatir riya’. Namun seharusnya ia tetap memberikan zakat serta menjaga hati dari riya’ semampunya. Sebab, dalam membayar zakat secara terang-terangan, selain terdapat riya’ dan al-mann (menyebut kebaikan), terdapat unsur yang tercela lain, yaitu menampakkan kefakiran orang lain. Karena terkadang seseorang merasa hina ketika dirinya terlihat membutuhkan.

Sebab itu, orang yang terang-terangan meminta, ia telah merusak rahasianya sendiri, dan unsur tercela (menampakkan kefakiran orang lain) yang ada dalam pembayaran zakat secara terang-terangan tadi sudah tidak berarti lagi.

4. Tidak Merusak Zakat
Maksudnya tidak merusak zakat dengan al-mann dan al-adza. Allah berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) zakat kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) ...”  (Al-Baqarah ayat 264).

Al-Mann adalah menyebut-nyebut amal saleh (dalam hal ini zakat) dan menceritakannya, mengeksploitasi si penerimanya, atau takabur kepadanya karena zakat yang diberikan. Sementara al-adza adalah menampak-nampakkan zakat, mencela kefakiran, membentak-bentak, atau mencerca si penerima karena meminta-minta zakat kepadanya.

5. Menganggap Zakatnya Sebagai Hal Kecil
Hendaknya orang yang membayar zakat menilai zakatnya sebagai hal kecil dan tidak membesar-besarkannya. Sebab bila dibesar-besarkan maka akan melahirkan sifat ‘ujub (kagum terhadap diri sendiri). Padahal ‘ujub termasuk perkara yang melebur amal. Allah berfirman:

وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا ... (التوبة: 25

Artinya, “Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat sedikitpun bagi kalian ...” (At-Taubah ayat 25).

6. Zakat dengan Harta Terbaik
Mengeluarkan zakat dengan harta yang terbaik dan yang paling disukai. Sebab, Allah adalah Dzat Yang Maha Baik dan tidak menerima kecuali harta yang baik. Bila yang dikeluarkan bukan harta yang terbaik maka termasuk su`ul adab kepada Allah SWT. Dalam Al-Qur`an disebutkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ... (البقرة: 267)

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kalian yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian, dan janganlah kalian memilih yang buruk-buruk lalu kalian menafkahkan daripadanya, padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata padanya.” (Al-Baqarah ayat 267).

7. Selektif Memilih Penerima Zakat
Yaitu dengan memprioritaskan orang-orang yang mempunyai sifat-sifat berikut ini; bertakwa, ahli ilmu agama, benar tauhidnya, merahasiakan dari membutuhkan zakat, punya keluarga, sedang sakit dan semisalnya, dan merupakan keluarga atau kerabat. (Jamaluddin Al-Qasimi, Mauizhatul Mu`minin, juz I, halaman 95-99).

Dengan memenuhi tujuh etika ini, harapannya zakat yang dilakukan dapat diterima dan diridhai Allah SWT, serta mendapatkan balasan pahala yang sangat sempurna. (Ahmad Muntaha AM, Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur)
Jumat 18 Mei 2018 13:0 WIB
Lima Ganjaran Ilahi bagi Pembayar Zakat
Lima Ganjaran Ilahi bagi Pembayar Zakat
Sebagai ibadah yang sangat penting dalam agama Islam, zakat menjadi media untuk meraih berbagai pahala yang dijanjikan bagi para pembayarnya. Baik pahala di dunia maupun pahala di akhirat kelak. Tulisan ini berupaya mengupas lima (5) pahala zakat sekaligus dalil al-Qur’an dan haditsnya.

A. Mendatangkan Hidayah atau Petunjuk dalam Segala Urusan
Zakat dapat mendatangkan hidayah dan petunjuk dari Allah Swt bagai parfa pembayarnya, sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ    

Artinya, “Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (pada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharap termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah ayat 18).

Merujuk Tafsir Al-Imam Fakhruddin Ar-Razi, dengan ayat ini Allah menjelaskan bahwa para pembayar zakat dapat berharap mendapat hidayah dalam segala urusan mereka. (Al-Fakhrur Razi, Tafsir Al-Fakhrur Razi, [Beirut, Dar Ihya`it Turats al-’Arabi, tanpa catatan tahun], juz I, halaman 2189).

B. Dimasukkan ke Surga
Dengan membayar zakat seseorang dijanjikan pahala yang sangat besar yaitu masuk ke surga, sesuai firman Allah:

لَكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أُولَئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا 

Artinya, “Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (al-Qur`an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” (An-Nisa` ayat 162).

Maksud pahala besar dalam ayat tersebut adalah jaminan surga bagi orang yang patuh membayar zakat, sebagaimana hal ini pernah dijanjikan oleh Allah SWT kepada Bani Israil.

Demikian penjelasan Imam At-Thabari dalam kitab tafsirnya. (Lihat At-Thabari, Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an, [Muassisatur Risalah, 2000 M], juz IX, halaman 399).

C. Mendatangkan Ampunan
Membayar zakat juga berguna untuk mendatangkan ampunan dari Allah Swt atas berbagai kesalahan yang telah dilakukan, seperti disebutkan dalam Al-Qur`an:

... لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآَتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنْتُمْ بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ 

Artinya, “... Sesungguhnya jika kalian mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada Rasul-RasulKu, kalian bantu mereka dan kalian pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, sungguh Aku akan melebur dosa-dosa kalian, dan sungguh kalian akan Ku masukkan ke surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai ...” (Al-Ma`idah ayat 12)

Dengan ayat ini Allah SWT menjanjikan ampunan dari berbagi dosa bagi orang yang membayar zakat sekaligus menjanjikan jaminan surga sebagaimana ayat sebelumnya. (Lihat Abul ‘Abbas Al-Fasi, Al-Bahrul Madid, [Beirut: Darul Kutub Al-‘Ilmiah, 2002 M], juz IX, halaman 399).

D. Mendatangkan Rahmat dan Kasih Sayang Allah SWT
Zakat juga akan mendatangkan rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada pembayarnya, sebagaimana difirmankan:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ 

Artinya, “Dan dirikan shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Rasul, agar kamu diberi rahmat.” (An-Nur ayat 56).

E. Mendatangkan Keberkahan
Menjadikan hartanya barakah, berkembang semakin baik dan banyak, seperti dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللهِ  قَالَ: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya, “Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, ia bersabda, ‘Sedekah (zakat) tidak akan mengurangi harta, tidaklah Allah menambah seorang hamba sebab pengampunannya (bagi orang lain) kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah melainkan Allah angkat derajatnya,’”  (HR Muslim).

Dalam hadits ini Rasulullah SAW menegaskan, zakat seseorang tidak akan mengurangi hartanya sedikitpun. Artinya, meskipun harta seseorang berkurang karena digunakan membayar zakat, namun setelah dizakati hartanya akan menjadi penuh barakah dan bertambah banyak. (Lihat An-Nawawi, Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, [Beirut, Daru Ihya`it Turats Al-’Arabi, 1392 H], juz XXVI, halaman 141).

Inilah lima pahala zakat di antara berbagai pahala yang dijanjikan Allah SWT bagi orang-orang yang patuh membayarkannya: mendatangkan hidayah, ampunan, kasih sayang dan keberkahan dari Allah SWT serta dijanjikan masuk ke dalam surga-Nya. Sangat menarik bukan? Wallahu a‘lam. (Ahmad Muntaha AM, Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur)