IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Status Keimanan Abu Thalib dan Syafaat Nabi Muhammad

Kamis 6 September 2018 8:15 WIB
Share:
Status Keimanan Abu Thalib dan Syafaat Nabi Muhammad
Abu Thalib adalah paman yang sangat mencintai Rasulullah SAW. Abu Thalib mengawal pertumbuhan fisik sejak kecil dan pada waktunya melindungi dakwah Islam yang dikembangkan oleh Rasulullah SAW. Meski demikian, Abu Thalib enggan mengucapkan dua kalimat syahadat di akhir hayatnya.

Keengganan Abu Thalib mengucapkan dua kalimat syahadat itu bukan karena keingkarannya. Ayah Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini mengakui kenabian Rasulullah SAW melalui syairnya berikut ini:

ولقد علمت بأنَّ دين محمد ... من خير أديان البرية ديناً

Artinya, “Aku yakin bahwa agama Muhammad adalah agama terbaik umat manusia yang pernah ada.”

Dari sini ulama kemudian menetapkan kekufuran Abu Thalib. Para ulama mendasarkan pandangannya pada hadits riwayat Muslim perihal siksa atau azab neraka paling ringan yang diterima Abu Thalib kelak berikut ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

Artinya, "Dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib, ia memakai dua sandal neraka yang cukup mendidihkan otaknya,’" (HR Muslim).

Tetapi sebagian ulama mengatakan bahwa Abu Thalib termasuk orang yang beriman karena Allah SWT memuliakan Abu Thalib karena jasa pemeliharaan dan cintanya kepada Rasulullah SAW dengan menghidupkan kembali setelah wafatnya untuk menyatakan dua kalimat syahadat sebagaimana keterangan Syekh Abdul Wahhab As-Sya’rani dari As-Subki berikut ini:

والثالث أبو طالب) وأمه فاطمة بنت عمرو بن عابد وهي أم عبد الله أبي رسول الله والصحيح أنه مات كافرا واسمه عبد مناف وأما أبو طالب فهو كنيته وقيل اسمه كنيته قال اليراوي والذي نقله سيدي عبد الوهاب الشعراني عن السبكي أن عمه صلى الله عليه وسلم أبا طالب بعد أن توفي على الكفر أحياه الله تعالى وآمن به صلى الله عليه وسلم قال شيخنا العلامة السجيني وهذا هو اللائق بحبه صلى الله عليه وسلم وهو الذي اعتقده وألقى الله به وأما إحياء الله تعالى لأبويه صلى الله عليه وسلم فللدخول في أمته فقط وإن كانا من الناجين لأنهما من أهل الإسلام

Artinya, “(Ketiga Abu Thalib). Ibunya Abu Thalib bernama Fathimah binti Amr bin Abid. Abu Thalib dan Abdullah, ayah Rasulullah SAW, memiliki ibu yang sama. Pendapat yang shahih mengatakan bahwa Abu Thalib wafat dalam keadaan kufur. Nama Abu Thalib adalah Abdu Manaf. Sedangkan Abu Thalib adalah nama julukannya. Ada ulama yang mengatakan bahwa nama Abu Thalib tidak lain julukannya itu sendiri. Al-Yarawi mengatakan, pendapat yang dinukil oleh Syekh Abdul Wahhab As-Syarani dari As-Subki menyebutkan bahwa paman Rasulullah SAW, Abu Thalib, setelah wafat dalam keadaan kufur dihidupkan kembali oleh Allah SWT lalu beriman kepada Rasulullah SAW. Guru kami As-Sujaini mengatakan, ini cukup layak berkat cintanya kepada Rasulullah SAW. Pendapat ini diyakini olehnya dan menyerahkannya kepada Allah. Adapun kedua orang tua Rasulullah SAW dihidupkan kembali oleh Allah SWT hanya karena untuk memasukkan keduanya ke dalam barisan umat Rasulullah SAW. Kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk orang yang selamat dari neraka karena keduanya termasuk umat Islam,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 36-37).

Pandangan As-Subki ini didasarkan pada hukum aqli (jaiz aqli) yang memberikan tempat bagi kuasa Allah atau qudrah pada kemungkinan (mumkinat) yang bukan mustahil. Pandangan As-Subki ini bisa menjadi dasar agar umat Islam tetap menjaga adab terhadap mereka yang mencurahkan hidupnya untuk Rasulullah dan tidak mengecilkan kuasa Allah SWT.

Terlepas dari perbedaan pandangan ulama perihal keimanan Abu Thalib, yang jelas disepakati ulama adalah bahwa Abu Thalib termasuk orang yang menerima syafaat Rasulullah SAW sebagaimana dipahami secara harfiah dari hadits riwayat Muslim di atas.

Syekh Al-Baijuri mengatakan, syafaat Rasulullah SAW ini dimaksudkan antara lain untuk pamannya, Abu Thalib:

ومنها شفاعته في تخفيف العذاب عن بعض الكافرين كعمه أبي طالب على القول بأن الله لم يحيه فآمن به صلى الله عليه وسلم وهو المشهور والذي يحب أهل البيت يقول بأن الله أحياه وآمن به صلى الله عليه وسلم والله قادر على كل شيء

Artinya, “Di antaranya adalah syafaat Rasulullah SAW dalam meringankan siksa dari sejumlah orang kafir seperti pamannya, Abu Thalib, yang menurut satu pendapat ulama, Allah tidak menghidupkannya kembali agar ia beriman. Ini pendapat masyhur. Sementara para pecinta ahlul bait berpendapat Allah menghidupkan kembali Abu Thalib, lalu ia beriman kepada Rasulullah. Allah kuasa atas segala sesuatu,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 23).

Lalu bagaimana dengan Surat Ali Imran ayat 88 yang menyatakan bahwa siksa orang kafir tidak akan diringankan? Syekh Ibrahim Al-Baijuri menjelaskan bahwa ayat ini tidak menafikan syafaat Rasulullah SAW sebagai berikut ini:

ولا ينافي شفاعته صلى الله عليه وسلم في تخفيف العذاب عن بعض الكافرين قوله تعالى ولا يُخَفَّفُ لأن المنفي انما هو تخفيف عذاب الكفر فلا ينافي أنه يخفف عنهم عذاب غير الكفر على أحد الأجوبة في ذلك

Artinya, “Firman Allah pada Surat Ali Imran ayat 88, ‘Tidak diringankan siksa mereka’ tidak menafikan syafaat Rasulullah SAW dalam meringankan siksa sejumlah orang kafir karena yang dinafikan ayat itu adalah siksa kekufuran sehingga ayat ini tidak menafikan peringanan siksa atas dosa selain kekufuran, dalam salah satu jawaban perihal ini,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 23).

Semoga Allah memelihara kita, keluarga, dan masyarakat lingkungan kita dari segala kekufuran dan kemusyrikan baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Kita juga berharap agar Allah memasukkan nama kita dan nama keluarga kita sebagai penerima syafaat Rasulullah SAW.

Kita juga berharap Allah memasukkan kita termasuk orang yang mencintai Rasulullah SAW, keturunan, sahabat, umat, dan mereka yang mencintainya. Allahumma shalli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa shabihi ajma'in. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Selasa 4 September 2018 18:45 WIB
Pengertian Doa Pasti Terkabul dalam Kajian Aqidah
Pengertian Doa Pasti Terkabul dalam Kajian Aqidah
(Foto: mawdooo3com)
Hampir setiap kita bertanya-tanya terkait doa yang kita baca setiap hari dan janji ijabah (pengabulan) doa oleh Allah SWT. Sebagian dari kita bahkan berburuk sangka karena menanti janji Allah perihal pengabulan doa kita. Padahal, kita perlu memahami keterbatasan diri kita terkait bentuk pengabulan doa itu sendiri.

Dalam aqidah ahlussunnah wal jamaah, kita diajarkan bahwa ijabah (pengabulan) doa oleh Allah SWT bisa mengambil bentuk yang mungkin saja sesuai dengan permohonan kita dan bisa jadi tidak sesuai dengan yang kita minta.

Ijabah (pengabulan) doa oleh Allah SWT bisa terjadi dalam waktu dekat, tetapi juga bisa terjadi dalam waktu yang tidak dekat sebagaimana keterangan Syekh M Ibrahim Al-Baijuri dalam Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid berikut ini:

واعلم) أن الإجابة تتنوع فتارة يقع المطلوب بعينه على الفور وتارة يقع ولكن يتأخر لحكمة فيه

Artinya, “(Ketahuilah) bentuk ijabah (pengabulan) doa itu bermacam-macam. Terkadang, doa terkabul segera dengan bentuk sesuai permintaan. Tetapi lain kesempatan, doa terkabul agak lambat dengan bentuk sesuai permintaan karena hikmah tertentu,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Selain soal waktu, ijabah (pengabulan) doa manusia berkaitan dengan bentuk pengabulan doa itu sendiri. Allah SWT bisa mengabulkan permintaan kita persis dengan harapan yang kita mohonkan. Tetapi, Allah juga berkuasa mengabulkan doa kita dalam bentuk lain yang tidak kita minta dalam lafal doa.

وتارة تقع الإجابة بغير المطلوب حيث لا يكون في المطلوب مصلحة ناجزة وفي ذلك الغير مصلحة ناجزة أو يكون في المطلوب مصلحة وفي ذلك الغير أصلح منها

Artinya, “Terkadang, doa terkabul dengan bentuk tidak sesuai permintaan karena permintaan tersebut tidak mengandung maslahat yang kontan, tetapi sesuatu yang tidak diminta mengandung maslahat yang kontan. Atau bisa jadi karena pada permintaan tersebut mengandung maslahat, tetapi sesuatu yang tidak diminta mengandung jauh lebih maslahat daripada ,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Sebagian dari kita mungkin menunggu-nunggu kapan Allah mengabulkan doa kita. Padahal doa kita sudah dikabulkan dalam bentuk yang lain. Tetapi sebenarnya yang perlu diingat bahwa ijabah atau pengabulan doa itu berkaitan erat kehendak Allah SWT sebagai penguasa alam raya.

على أن الإجابة مقيدة بالمشيئة كما يدل عليه قوله تعالى فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ فهو مقيد لإطلاق الآيتين السابقين فالمعنى ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إن شئت وأجيب دعوة الداعي إن شئت

Artinya, “Atas dasar bahwa ijabah atau pengabulan doa terkait dengan kehendak-Nya sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah SWT, ‘Maka Dia mengangkat bahaya yang mana kalian berdoa kepada-Nya jika Dia menghendaki,’ (Surat Al-An’am ayat 41). Pengabulan doa ini bersifat muqayyad karena kemutlakan dua ayat terdahulu. Maknanya dapat dikatakan, ‘Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permintaan kalian,’ jika Aku menghendakinya, (Surat Ghafir ayat 60) dan Aku mengabulkan permintaan mereka yang berdoa jika Aku menghendakinya,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Semua pengertian ini dijelaskan oleh ulama ahlussunnah wal jamaah bukan dalam rangka mengecilkan arti doa. Semua ini dimaksudkan agar umat Islam sekali lagi giat berdoa sebagai bentuk ibadah, menyadari diri sebagai makhluk yang lemah, mengakui kehendak dan kuasa Allah, dan selalu bersikap baik sangka kepada-Nya bahwa Allah mengabulkan doa kita. Menjaga adab terhadap Allah merupakan hal paling utama. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 3 September 2018 21:15 WIB
Menurut Aswaja, Sejauh Mana Menganggap Kafir Diperbolehkan?
Menurut Aswaja, Sejauh Mana Menganggap Kafir Diperbolehkan?
Telah maklum bahwa agama Islam terpecah menjadi sekian banyak golongan keyakinan (firqah) dari masa ke masa. Berbagai macam golongan keyakinan tersebut ada yang dianggap benar dan tak bermasalah meskipun mempunyai nama beraneka ragam, semisal golongan Asy’ariyah (pengikut konsep teologi Imam Abu Hasan al-Asy’ari), golongan Maturidiyah (pengikut konsep teologi Imam Abu Manshur al-Maturidi) dan Thahawiyah (pengikut konsep teologi Imam at-Thahawi).

Kesemua nama tersebut hanyalah sekedar perbedaan nama tokoh yang dijadikan guru utama, tetapi ajarannya tidak berbeda kecuali dalam perincian-perincian yang memang ijtihadiyah yang sama sekali tak berujung pada penyesatan. Sama seperti dalam dunia fiqih dikenal mazhab empat yang sebenarnya tak berbeda kecuali dalam perincian yang bersifat ijtihadiyah. Semuanya sepakat menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai pijakan utama.

Di sisi lain, ada kelompok yang dianggap sebagai golongan sesat oleh Ahlusunnah wal Jamaah (Asy’ariyah-Maturidiyah), seperti misalnya: Syi’ah, Khawarij, Jabariyah, Qadariyah, Murji’ah, Mujassimah, Musyabbihah, dan lain sebagainya. Mereka dianggap sebagai kelompok menyimpang oleh mayoritas umat Islam dalam lintas sejarah.

Pertanyaannya kemudian, apakah golongan-golongan teologis yang berbeda dengan mayoritas ulama tersebut dianggap kafir? Siapakah di antara aliran sesat yang layak dikafirkan dan siapakah yang tak layak dikafirkan tetapi hanya dianggap salah dalam hal aqidah?

Perlu diketahui bahwa sejarah mencatat Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja; Asy’ariyah-Maturidiyah) sebagai golongan yang paling toleran terhadap semua golongan di luar mereka. Hanya Aswaja sajalah yang dengan tegas menyatakan bahwa mayoritas golongan di luar mereka tidaklah kafir meskipun mempunyai keyakinan yang berbeda dengan Aswaja. Pendapat yang populer di kalangan Aswaja tentang batas kafir tidaknya aliran sesat adalah seperti yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitamy berikut:

والمختار الذي عليه جمهور المتكلمين والفقهاء: أنه لا يكفر أحدٌ من المخالفين في غير الضروري. والجهل به تعالى من بعض الوجوه غير مكفر، وليس أحدٌ من أهل القبلة يجهله تعالى إلا كذلك؛ فإنهم على اختلاف مذاهبهم اعترفوا بأنه تعالى قديمٌ أزليٌّ، عالمٌ قادر، موجدٌ لهذا العالَم

“Pendapat yang dipilih, yang diikuti oleh mayoritas ulama ahli kalam dan ahli fiqih, adalah bahwasanya tak seorang pun dari golongan luar dianggap kafir dalam hal selain yang sudah diketahui bersama (dlarûriy). Ketidaktahuan terhadap Allah Ta’ala dari satu sisi tidaklah membuat jadi kafir. Tak ada seorang pun dari ahli kiblat (orang-orang yang shalat) yang tidak mengetahui Allah kecuali dalam hal itu saja. Mereka semua, dalam berbagai mazhabnya, mengakui bahwa Allah Ta’ala Qadîm tanpa awal mula, Maha-Mengetahui, Maha-Berkuasa, Yang Mencipta alam dunia.” (Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Fath al-Mubîn, halaman 164).

Dalam bahasan teologi, Aswaja terkenal sangat keras menentang teologi Muktazilah yang berlebihan dalam menyucikan Allah hingga tidak mengakui seluruh sifat-Nya dan terhadap teologi Musyabbihah yang berlebihan menetapkan sifat Allah hingga menyerupakannya dengan makhluk. Namun demikian, seperti dinyatakan Imam al-Ghazali berikut ini, Aswaja tidaklah memvonis kafir mereka melainkan masih bisa memaklumi kesalahpahaman hasil pemikiran mereka.
 
المعتزلة والمشبهة والفرق كلها سوى الفلاسفة، وهم الذين يصدقون ولا يجوزون الكذب لمصلحة وغير مصلحة، ولا يشتغلون بالتعليل لمصلحة الكذب بل بالتأويل ولكنهم مخطئون في التأويل، فهؤلاء أمرهم في محل الاجتهاد. والذي ينبغي أن يميل المحصل إليه الاحتراز من التكفير ما وجد إليه سبيلاً.

“Muktazilah, Musyabbihah, dan sekte-sekte lain seluruhnya selain penganut filsafat ketuhanan Yunani, mereka adalah orang yang membenarkan [risalah Nabi] dan tak menoleransi adanya kebohongan untuk alasan maslahat atau selain maslahat. Mereka tak menyibukkan diri untuk berapologi membela maslahat kebohongan melainkan mereka mentakwil. Akan tetapi mereka salah dalam takwilnya. Maka, mereka semua berada dalam ruang lingkup ijtihad. Yang selayaknya dilakukan oleh peneliti adalah menjauhi vonis kafir selama ada jalan untuk itu”. (al-Ghazali, al-Iqtishad fî al-I’tiqâd, 135)

Jadi, yang dianggap kafir hanyalah seseorang yang mengingkari pengetahuan yang telah umum bagi Tuhan, misalnya mengingkari bahwa Tuhan itu ada, tak berawal, Maha-Kekal, Maha-Melihat, Maha-Mendengar, Maha-Mengetahui terhadap hal-hal detail dan seterusnya. Demikian juga orang yang mengingkari adanya kenabian dan adanya alam akhirat. Pengingkaran terhadap pengetahuan umum seperti ini tidaklah dimiliki oleh umat Islam, baik yang terpelajar maupun yang bodoh, sehingga relatif sulit ditemukan adanya orang atau golongan yang divonis kafir secara mutlak.

Baca juga: Memahami Amar Ma’ruf Nahi Munkar secara Benar
Berbeda dengan Aswaja, golongan lainnya saling mengafirkan apabila melihat ada perbedaan pendapat, bahkan itu dianggap sebagai kewajiban dari agama untuk berlepas diri dan mengutuk kesesatan. Imam al-Hafidz Ibnu Asakir mencatat bagaimana pihak di luar Aswaja saling mengafirkan sebagai berikut:

فَأَما الْأَصْحَاب فَإِنَّهُم مَعَ اخْتلَافهمْ فِي بعض الْمسَائِل مجمعون على ترك تَكْفِير بَعضهم بَعْضًا بِخِلَاف من عداهم من سَائِر الطوائف وَجَمِيع الْفرق فَإِنَّهُم حِين اخْتلفت بهم مستشنعات الْأَهْوَاء والطرق كفر بَعضهم بَعْضًا وَرَأى تبريه مِمَّن خَالفه فرضا وَظَهَرت مِنْهُم أَمَارَات المعاداة والتباغض كَمَا عرف من فرق الْمُعْتَزلَة والخوارج وَالرَّوَافِض وَمَا ذَلِك إِلَّا من أَمر الله عزوجل عَلَيْهِم وإحسانه فِي الائتلاف مَعَ وجود الِاخْتِلَاف إِلَيْهِم 

“Adapun kawan-kawan kami (Asy’ariyah), meskipun mereka berbeda pendapat dalam beberapa masalah, mereka sepakat untuk meninggalkan saling vonis kafir. Berbeda dengan kelompok selain mereka dan sekte-sekte islam, ketika mereka berbeda dalam hal pandangan dan metode yang dianggap buruk, maka mereka saling mengafirkan satu sama lain. Mereka menganggap berlepas diri dari dari orang selain kelompok mereka adalah wajib. Dari mereka nampak tanda-tanda permusuhan dan kemarahan seperti diketahui dari kelompok Muktazilah, Khawarij dan Syi’ah. Toleransi dalam Aswaja itu tak lain karena perintah dan kebaikan Allah ﷻ terhadap mereka agar tetap rukun dalam perbedaan.” (Ibnu Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftarî, halaman 409)

Dengan ini dapat disimpulkan bahwa yang dianggap kafir hanyalah aliran yang nyata-nyata mengingkari hal-hal pokok yang diketahui secara umum dalam ajaran Islam. Adapun dalam hal yang masih membuka ruang penafsiran, maka pendapat yang populer di kalangan Aswaja adalah tidak mengafirkannya. Wallahu A’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Ahad 2 September 2018 20:45 WIB
Dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits Bahwa Allah Tak Bertempat
Dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits Bahwa Allah Tak Bertempat
Ilustrasi (Pinterest)
Berikut ini adalah sebagian dalil Al-Qur’an dan Hadits yang menyebabkan Ahlussunnah wal Jamaah (Asy’ariyah-Maturidiyah) berkesimpulan bahwa Allah ada tanpa tempat. 

Dalil pertama, sabda Rasulullah ﷺ:

كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

“Allah sudah ada dan tak ada apa pun selain Dia.” (HR. Bukhari)

Hadits shahih ini menegaskan bahwa Allah telah ada sebelum apa pun. Di manakah Allah saat itu? Ini pertanyaan tak relevan sebab semua tempat belum tercipta saat itu. Apakah tidak bisa dikatakan bahwa sebelumnya Allah memang tak bertempat lalu kemudian menciptakan tempat lalu menempati tempat itu? Tentu tidak bisa, sebab kesimpulan seperti ini tak ada dalilnya, baik secara naqli atau aqli. Karenanya, Ahlussunnah meyakini bahwa sejak awal Allah tak bertempat dan selamanya demikian.

Dalil kedua, firman Allah ﷻ:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Nampak dan Yang Samar.” (QS: Al-Hadid: 3)

Ayat di atas ditafsiri oleh Nabi Muhammad ﷺ sebagai berikut:

اللهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ

"Ya Allah, Engkau adalah yang awal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun. dan Engkau adalah yang akhir maka tidak ada setelah-Mu sesuatu apa pun. Dan Engkau adalah Yang Nampak maka tidak ada di atas-Mu sesuatu apa pun dan engkau adalah Yang Tak Tampak maka tidak ada di bawah-Mu sesuatu apa pun.” (HR. Muslim) 

Hadits ini dengan amat jelas menyatakan bahwa di atas atau di bawah Allah tak ada apa pun. Berbeda dengan hadits pertama di atas yang bercerita tentang asal mula penciptaan, hadits ini adalah bagian dari doa Nabi ketika hendak tidur. Ini menunjukkan bahwa keberadaan Allah yang ada tanpa bertempat di mana pun tetap berlangsung selamanya, bukan hanya saat awal mula sebelum Allah menciptakan seluruh hal.

Dalil ketiga, Firman Allah ﷻ:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ  

“Tak ada sesuatu pun yang serupa sedikit pun dengan-Nya.” (QS. As-Syura: 11) 

Ayat ini menafikan semua bentuk keserupaan secara mutlak. Seluruh alam materi yang kita kenal seluruhnya bertempat. Bertempat berarti punya dimensi tertentu, massa tertentu, batasan tertentu dan dalam ruang tertentu. Bila Allah tak sama sedikit pun dengan apa pun berarti tak mungkin Allah bertempat sebab yang bertempat pasti menempati ruang. Ruang itu sendiri harus lebih besar, lebih kokoh, dan ada sebelum keberadaan-Nya atau paling tidak, ada bersamaan dengan diri-Nya dan tetap kekal bersama-Nya. Ini tentu bermasalah sebab berarti mengatakan ada dua hal yang qadîm, yakni Allah dan ruang tempat Allah.

Dalil keempat, Firman Allah ﷻ:

اللَّهُ الصَّمَدُ

"Allah yang Maha Dibutuhkan.” (QS. Al-Ikhlas: 2)

فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ 

“Sesungguhnya Allah Maha-tak butuh pada apa pun selain Diri-Nya.” (QS. Ali Imran: 97)

Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa segala sesuatu selain Allah ('alam) membutuhkan Allah yang menciptakan, mendesain, merawat dan menentukan segala sesuatu terkait keberadaannya. Sedangkan Allah sendiri sama sekali tak butuh semua itu. Ruang dan waktu adalah salah satu ciptaan Allah yang didesain serta diatur cara kerjanya sesuai kehendak Allah tanpa sedikit pun Allah berada di dalamnya atau terpengaruh oleh keduanya. Allah telah ada sebelum semua itu ada dan tak berubah setelah semua ada dan terus ada setelah semua binasa. 

Bila dipahami bahwa keberadaan Allah haruslah bertempat di suatu ruang, maka itu berarti keberadaan Allah membutuhkan adanya ruang. Kebutuhan Allah akan apa pun adalah mustahil bagi Allah, sesuai dengan ayat di atas.

Dalil kelima adalah segala pengungkapan Allah tentang lokasi diri-Nya yang berbeda-beda, baik dalam Al-Qur’an dan dalam hadits. 

Kadang keberadaan Allah diungkapkan seolah di atas langit, kadang seolah di bumi bersama manusia dalam semua aktivitasnya, kadang seolah persis di depan manusia, kadang seolah meliputi kita, kadang seolah dekat sekali bahkan lebih dekat dengan urat leher kita, kadang diungkapkan bahwa posisi terdekat dengan Allah adalah saat sujud, dan banyak ungkapan lainnya. Ini semua kalau dibaca secara objektif hanyalah sekedar ungkapan saja akan eksistensi Allah yang Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Dekat, Maha Mengetahui dan Maha Mengawasi.

Memaknai semua ungkapan tersebut sebagai lokasi secara fisik merupakan kemustahilan sebab akan terlihat bahwa ayat dan hadits akan saling bertentangan. Sedangkan membagi-bagi sekehendak hati dengan memahami seluruh dalil yang mengungkapkan seolah di atas sebagai lokasi Allah secara fisik sedangkan seluruh dalil yang  seolah di bumi sebagai ungkapan kiasan berupa ilmu dan pengawasan, adalah tindakan yang tak ada satu pun dalilnya dari al-Qur'an dan hadits. 

Syekh Ibnu Abdil Barr secara objektif berkata:

وَفِيهِ الرَّدُّ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ عَلَى الْعَرْشِ بِذَاتِهِ وَمهما تُؤُوِّلَ بِهِ هَذَا جَازَ أَنْ يُتَأَوَّلَ بِهِ ذَاكَ

“Dalam hadits [yang menyebutkan Allah berada di depan orang shalat], ada gugatan bagi orang yang menyangka bahwa Allah ada di atas Arasy dengan Dzat-Nya. Ketika dalil ini [yang mengatakan Allah di depan orang shalat] boleh ditakwil dengan dalil itu [yang mengatakan Allah di atas Arasy], maka demikian juga dalil ini boleh dibuat untuk mentakwil dalil yang itu.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, juz I, halaman 508).

Itulah beberapa dalil naqli dari Al-Qur’an hadits yang menjadi bukti bahwa Allah ada tanpa tempat. Adapun pernyataan manusia biasa, siapa pun itu, yang bertentangan dengan dalil di atas, maka dapat dipastikan tidak tepat. Selain dalil-dalil aqli, kesimpulan bahwa Allah tak bertempat juga didukung oleh dalil-dalil rasional yang tak terbantahkan. Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember