IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak
MUHARRAM

Rahasia di Balik Yatimnya Nabi Muhammad SAW Kecil

Sabtu 8 September 2018 5:0 WIB
Share:
Rahasia di Balik Yatimnya Nabi Muhammad SAW Kecil
Nabi Muhammad SAW terlahir dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthallib, wafat di Madinah sepulang dari perjalanan dagang di Ghazzah pada usia 18 tahun. Tetapi ahli sejarah berbeda pendapat menyebut usia Abdullah ketika itu 20, 25, 28, atau 30 tahun. Sementara ibunya wafat beberapa tahun kemudian.

Keadaan yatim yang dihadapi Nabi Muhammad SAW saat kecil ini diratapi oleh malaikat. Mereka mengadu kepada Allah SWT perihal situasi yatim yang dialami oleh Rasulullah SAW.

Ratapan malaikat ini berangkat dari keprihatinan atas nasib anak-anak yatim pada umumnya yang tanpa perlindungan, tanpa bimbingan, tanpa pengayoman, dan tanpa sentuhan kasih sayang ayah. Tetapi Allah SWT menjamin pemeliharaan Nabi Muhammad SAW kecil di tengah situasi yatimnya.

وعن ابن عباس أنه لما توفي عبد الله قالت الملائكة إلهنا وسيدنا بقي نبيك يتيما فقال الله تعالى أنا حافظ له ونصير

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA, ia bercerita ketika ayah Rasulullah, Abdullah, wafat, malaikat mengadu, ‘Wahai Tuhan dan Tuan kami, nabimu tinggal dalam keadaan yatim.’ Allah menjawab, ‘Aku yang akan menjaga dan membelanya,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 26).

Para ulama mencoba mencari jawaban atas kondisi yatim yang diciptakan oleh Allah untuk Rasulullah SAW, makhluk yang paling dicintai-Nya. Syekh M Nawawi Banten menginventarisasi sejumlah pandangan ulama perihal hikmah di balik situasi yatim yang dialami Rasulullah SAW.

Syekh M Nawawi Banten mengutip pandangan Sayyid Ja‘far As-Shadiq RA perihal ini sebagai awalan.

وسئل جعفر الصادق عن حكمة ذلك فقال لئلا يكون عليه صلى الله عليه وسلم حق واجب لمخلوق

Artinya, “Ja‘far As-Shadiq ketika ditanya perihal hikmah di balik keyatiman Rasulullah SAW menjawab, ‘Agar Rasulullah SAW tidak memiliki kewajiban terhadap makhluk-Nya (kedua orang tua),’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 26).

Syekh M Nawawi Banten juga menukil pendapat Ibnul Imad yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW dipersiapkan oleh Allah untuk menjadi orang besar di kemudian hari. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW ditempatkan dalam situasi yatim agar kelak di kemudian hari ia menyadari bahwa kemuliaannya dirinya berasal Allah SWT, bukan karena orang tua atau hartanya.

وقال ابن العماد لينظر النبي صلى الله عليه وسلم إذا وصل إلى مدارج عزه إلى أوائل أمره ويعلم أن العزيز من أعزه الله تعالى وأن قوته ليست من الآباء والأمهات ولا من المال بل قوته من الله تعالى

Artinya, “Ibnul Imad mengatakan bahwa hikmah di balik keyatiman Nabi Muhammad SAW adalah agar ia memandang awal perjalanannya ketika sampai di tangga-tangga kemuliaannya, agar Rasulullah SAW menyadari bahwa manusia dapat menjadi mulia hanya karena diangkat menjadi mulia oleh Allah, dan agar Rasulullah SAW menyadari bahwa kekuatannya bukan berasal dari ayah, ibu, dan hartanya, tetapi kekuatannya berasal dari Allah SWT,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 26-27).

Pengalaman Nabi Muhammad SAW kecil menjadi yatim sebagai kelompok mustadhafin dalam masyarakat merupakan pengalaman berharga agar Nabi Muhammad SAW kelak dapat berempati terhadap kelompok masyarakat yang terpinggirkan.

وأيضا ليرحم الفقراء والأيتام وقال صلى الله عليه وسلم ارحموا اليتامى وأكرموا الغرباء فإني في حال الصغر كنت يتيما وفي الكبر غريبا إن الله لينظر للغريب كل يوم ألف نظرة

Artinya, “Situasi yatim saat Nabi Muhammad SAW kecil dimaksudkan agar Rasulullah SAW kelak berbelas kasih terhadap orang-orang fakir dan anak-anak yatim. Rasulullah SAW bersabda, ‘Kasihanilah anak-anak yatim dan muliakanlah orang-orang asing karena aku saat kecil dahulu juga mengalami situasi yatim dan saat dewasa menjadi orang asing. Allah memandang kasihan orang asing setiap hari seribu kali pandangan,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 27).

Pengalaman Nabi Muhammad SAW kecil menjadi yatim menyimpan banyak hikmah yang belum terungkap. Tetapi hasil bacaan yang dikemukakan oleh sejumlah ulama melalui Syekh M Nawawi Banten ini menjadi informasi penting.

Sejumlah hikmah yang diungkapkan ini menjadi pelajaran penting bagi kita untuk meneladani Rasulullah SAW perihal sikapnya terhadap kelompok mustadhafin atau kelompok pinggiran di masyarakat termasuk anak yatim, orang lansia, kelompok fakir dan miskin, pekerja serabutan, buruh kontrak, dan mereka dilemahkan dalam struktur sosial. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Rabu 5 September 2018 16:0 WIB
Tata Cara Doa agar Terkabul
Tata Cara Doa agar Terkabul
(Foto: pinterest)
Semua dari kita berharap doa yang kita minta kepada Allah SWT diterima oleh-Nya, dalam arti dikabulkan. Kita untuk itu dianjurkan untuk menjaga adab-adab atau sejenis tata cara yang seharusnya dilakukan oleh orang yang meminta sesuatu dari Allah SWT.

Syekh M Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan sejumlah syarat dan adab bagi orang yang berdoa. Menurutnya, orang yang berdoa disyaratkan untuk memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsi olehnya.

Orang yang berdoa juga harus yakin akan ijabah atau pengabulan doanya. Orang yang berdoa juga harus menjaga kesadaran. Jangan sampai berdoa dalam keadaan hati lalai dari Allah,  (Lihat Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Syekh M Ibrahim Al-Baijuri mengatakan bahwa permintaan dalam doa tidak mengandung dosa atau pemutusan hubungan silaturahmi. Doa seyogianya tidak berisi harapan atas terwujudnya penyia-nyiaan terhadap hak umat Islam.

Selebihnya, Al-Baijuri menganjurkan orang yang berdoa untuk memanfaatkan waktu-waktu ijabah di mana pintu langit dibuka. Orang yang berdoa dianjurkan untuk berdoa dalam keadaan suci dan menghadap kiblat.

ومن آدابه أن يتحرى الأوقات الفاضلة كان يدعو في السجود وعند الأذان والإقامة ومنها تقديم الوضوء والصلاة واستقبال القبلة ورفع الأيادي إلى جهة السماء وتقديم التوبة والاعتراف بالذنب والإخلاص وافتتاحه بالحمد والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم وختمه بها وجعلها في وسطه أيضا

Artinya, “Salah satu adabnya adalah menggunakan waktu-waktu yang utama, yaitu berdoa saat sujud, berdoa saat jeda antara azan dan iqamah. Salah satu adabnya lagi adalah bersuci terlebih dahulu, shalat, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan ke arah langit, bertobat terlebih dahulu, pengakuan dosa terlebih dahulu, ikhlas dalam berdoa, membuka doa dengan tahmid dan shalawat nabi, mengakhiri doa dengan shalawat nabi, dan juga membaca shalawat nabi di tengah doa,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Secara ringkas, adab dan tata cara berdoa dapat dikatakan sebagai berikut ini:

1. Memakan yang halal.

2. Meyakini ijabah doanya.

3. Menjaga hati agar tidak lalai saat berdoa.

4. Tidak meminta sesuatu yang mengandung dosa.

5. Tidak meminta sesuatu yang dapat memutuskan silaturahmi.

6. Tidak meminta sesuatu yang dapat menyia-nyiakan hak umat Islam.

7. Tidak meminta sesuatu yang mustahil secara umum.

8. Memanfaatkan waktu-waktu yang afdhal dalam berdoa, yaitu waktu sujud dan waktu jeda antara azan dan iqamah.

9. Wudhu dan shalat terlebih dahulu sebelum berdoa.

10.Menghadap kiblat dan mengangkat tangan saat berdoa.

11.Tobat dan mengakui dosa terlebih dahulu sebelum berdoa.

12.Ikhlas dalam berdoa.

13.Membuka doa dengan tahmid dan shalawat nabi.

14.Mengakhirinya dengan shalawat nabi.

15.Membaca shalawat nabi di tengah doa.

Semua adab dan syarat ini dianjurkan untuk diamalkan oleh mereka yang ingin berdoa. Semua adab dan syarat ini diharapakan dapat mendekatkan doa dan ijabah atau pengabulan doa itu sendiri. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Jumat 31 Agustus 2018 21:45 WIB
Perhatikan Lima Etika Ini saat Ziarah ke Makam Rasulullah
Perhatikan Lima Etika Ini saat Ziarah ke Makam Rasulullah
Ilustrasi (muslims.com)
Jamaah haji regular asal Indonesia, selain menunaikan rangkaian ibadah haji di Makkah, umumnya juga berkunjung ke Madinah untuk meziarahi makam Rasulullah ﷺ dan melakukan shalat empat puluh waktu secara berjamaah di Masjid Nabawi atau yang dikenal dengan sebutan shalat arba’în.

Madinah adalah tempat hijrah Baginda Nabi. Di situ pula jasad manusia paling mulia dikebumikan. Setiap berada di Madinah, Imam Malik tidak pernah memakai terompah atau sandalnya. Beliau berharap, ada debu yang dulu pernah menempel ke tubuh Rasulullah, sebagian di antaranya menempel juga di kaki Imam Malik.
 
Selain itu, Imam Malik tidak berkenan menunggangi hewan kendaraannya. Beliau beralasan, “Bagaimana aku berani menaiki tungganganku, sedang di dalam tanah Madinah ini terdapat jasad Rasul yang sangat mulia?” Begitu kira-kira alasan Imam Malik.

Baca juga: Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah
Nabi Muhammad ﷺ saat ini hidup. Kita wajib meyakini itu. Namun hidupnya adalah hayâtan barzakhiyyatan (kehidupan alam kubur), tidak hidup sebagaimana kehidupan kita di alam dunia seperti ini. Nabi Muhammad derajatnya di atas orang-orang yang mati syahid. Karena itu penting sekali bagi siapa saja yang berada di depan makam beliau menjaga etika berziarah.

Berikut ini adalah adab atau etika ziarah ke makam Rasulullah ﷺ yang disarikan dan dikembangkan dari kitab Al-Hajj-Fadlâil wa Ahkâm karya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliky halaman 284-287:

Pertama, makam Rasulullah berada di kompleks Masjid Nabawi. Saat mulai memasuki masjid, hendaknya seseorang bersikap tenang, penuh adab yang mulia. Umar bin Khattab pernah menegur dua orang pria yang bersuara keras waktu di sana. Bersuara keras di dalam Masjid Nabawi merupakan kemungkaran yang paling buruk.
 
Kedua, memang tidak ada kalimat khusus yang diajarkan Rasulullah yang harus dibaca. Namun jika ada yang bershalawat dan salam, maka itu cukup. Misalnya dengan kalimat berikut: 

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا اَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيْقْ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا اَبَا حَفْصٍ عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابْ

Artinya: “Salam sejahtera bagi engkau, wahai Rasulallah. Salam sejahtera bagi engkau, wahai Abu Bakar ash-Shiddiq. Salam sejahtera bagi engkau, wahai ayah Hafsh, Umar bin Khattab.”

Berziarah kepada Nabi tidak sebagaimana orang ziarah di Tanah Air yang bisa duduk, membersihkan kuburan, atau aktivitas lainnya. Di sana, ziarah dilakukan sambil berjalan dan berlalu. Putra dari Umar bin Khattab yang bernama Abdullah bin Umar, dalam satu riwayat diceritakan, saat beliau ziarah membaca:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا اَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيْقْ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا اَبَتْ 

Artinya: “Salam sejahtera bagi engkau, wahai Rasulallah. Salam sejahtera bagi engkau, wahai Abu Bakar ash-Shiddiq. Salam sejahtera bagi engkau, wahai ayahku.”

Setelah salam sebagaimana di atas, Ibnu Umar lalu pergi meninggalkan lokasi makam. 

Mengutip dari Ibnu Taimiyyah, Sayyid Muhammad menyampaikan, hendaknya orang yang berziarah, tidak menyentuh pusara makam Rasul, tidak mengecupnya serta tidak thawaf atau memutar mengelilinya. Hal ini berdasar doa Rasul ﷺ:

اللهم لا تجعل قبري وثنا يعبد

Artinya: “Ya Allah, semoga Engkau tidak menjadikan pekuburanku sebagai berhala yang disembah.”

Ziarah tetap dianjurkan. Namun Sayyid Muhammad memperingatkan peziarah agar tetap mengikuti aturan ziarah, sehingga tauhid masyarakat tetap terjaga dengan baik.

Ketiga, para peziarah hendaknya menjaga adab. Berkeyakinan bahwa ia sedang merasa bersama Baginda Nabi serta Nabi mengetahui atas kedatangan para peziarah, mengetahui posisi tempat masing-masing peziarah. Sesungguhnya menghormati Nabi Muhammad ﷺ ketika sudah wafat sama halnya dengan menghormati beliau saat jasad beliau masih hidup di dunia. Bahkan Ibnul Qayyim, dalam syairnya mengaku, setiap kali ia akan berziarah ke makam Rasulullah, sebelumnya ia shalat tahiyyatal masjid terlebih dahulu di Masjid Nabawi.

Keempat, bagi siapa saja yang sudah mulai menginjakkan kakinya di tanah kota Madinah al-Munawwarah, sebaiknya untuk menata niat secara sungguh-sungguh, akan menjaga shalat dengan melaksanakannya di Masjid Nabawi karena keutamaan shalat di Masjid Nabawi sebagaimana yang disampaikan Rasulullah, shalat di Masjid Nabawi lebih baik daripada shalat seribu rakaat di selain masjid tersebut dan Masjidil Haram. 

Adapun lokasi yang termasuk kategori Masjid Nabawi adalah semua bangunan yang dibangun sebagai masjid Nabawi, termasuk pemekarannya. Hal ini mengingat, Rasul bersabda bahwa jika masjid tersebut dibangun hingga San’a, Yaman, itu masih sebagaimana masjidnya baginda Nabi.

Kelima, sebaiknya tidak meninggalkan shalat di Raudlah, jika memungkinkan. (Ahmad Mundzir)

Selasa 21 Agustus 2018 7:30 WIB
12 Adab Menyambut Hari Raya Menurut Imam Al-Ghazali
12 Adab Menyambut Hari Raya Menurut Imam Al-Ghazali
Di dalam Islam terdapat dua hari raya yang sangat dimuliakan, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Pada kedua hari raya ini kita disunnahkan melaksanakan Shalat Id. Imam Al-Ghazali dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, t.th., halaman 437), menyebutkan adab-adab menyambut hari raya  sebagai berikut:

آداب العيد: إحياء ليلة والاغتسال فى صبيحة يومه، ونظافة البدن، وطيب الرائحة، وإدامة التكبير، وكثرة الذكر، واستعمال الخشوع، والتسبيح والحمد بين تضاعف التكبير، والإنصات للخطبة بعدالصلاة، وأكل اليسير قبل الخروج إن كان فطرا، والذهاب فى طريق والرجوع فى اخرى، والانصراف بالإشفاق خوف الغيبة. 

Artinya: “Adab merayakan Hari Raya (Id), yakni: mengidupkan malam sebelumnya dan mandi pagi di hari itu, membersihkan badan, memakai wewangian, selalu bertakbir, memperbanyak dzikir, bersikap khsyu’, membaca tasbih dan hamdalah di antara takbir yang diulang-ulang, aktif mendengarkan khutbah yang dilaksanakan setelah shalat Id, menyantap makanan ringan sebelum meninggalkan rumah jika itu adalah hari Idul Fitri, berangkat melewati jalan yang berbeda dengan ketika pulang, dan bertegur sapa dengan ramah agar tidak digunjing orang.”

Dari kutipan di atas, dapat diuraikan dua belas adab menyambut Hari Raya (Id) sebagai berikut:

1. Menghidupkan suasana di malam hari sebelumnya. 

Menjelang Hari Raya (Id), umat Islam dianjurkan menghidupkan suasana di malam hari sebelumnya. Artinya umat Islam tidak sebaiknya tidur awal, tetapi menyibukkan diri terlebih dahulu dengan hal-hal yang berkaitan dengan persiapan pelaksanaan Shalat Id di pagi harinya. Kegiatan menabuh bedug dan takbiran di masjid, misalnya, merupakan contoh menghidupkan suasana menyambut Hari Raya (Id). 

2. Mandi di pagi hari.

Sebelum shalat Id, disunnahkan mandi di pagi hari dengan mengguyur seluruh tubuh dan anggota badan, yakni dari rambut di kepala hingga telapak kaki dengan air. Adapun bacaan niatnya sebagai berikut:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِعِيْدِ اْلاَضْحَى/لِعِيْدِ اْلفِطْرِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى

(Nawaitul ghusla li‘îdil adha/li‘îdil fithri sunnatan lillâhi ta’âlâ)

Artinya: “Aku niat mandi untuk merayakan Idul Adha/Idul Fitri sebagai sunnah karena Allah taála.”

3. Membersihkan badan dan memakai wewangian.

Setalah mandi diajurkan juga membersihkan anggota badan seperti memotong dan membersihkan kuku, memakai pakaian bersih dan memakai wewangian seperti parfum atau bedak wangi. Atau cukup dengan memakai sabun wangi ketika mandi.

4. Khusus di hari Idul Fitri dianjurkan menyantap makanan ringan sebelum berangkat menuju tempat dilaksanakannya shalat Id. Hal ini sekaligus untuk menandai bulan Ramadhan benar-benar telah berakhir dengan tibanya bulan Syawal. 

5. Berangkat ke tempat shalat Id melewati jalan yang berbeda dengan ketika pulang. 

Dari awal sebaiknya sudah ada niatan untuk melewati jalan yang berbeda dengan ketika pulang. Dengan cara seperti ini dimungkinkan untuk bertemu dengan lebih banyak orang sehingga menambah teman dan menyambung silaturrahim dengan teman-teman lama atau saudara yang lama tidak berjumpa. 

6. Selalu membaca takbir: اللَّهُ أَكْبَرُAllâhu akbar” (Allah Mahabesar).

7. Memperbanyak bacaan dzikir: ُلاَ إِلَهَ إِلاَّ الله "Lâ ilâha illallâh” (tiada Tuhan selain Allah).

8. Membaca tasbih:  سُبْحَانَ اللَّهِSubhânallâh” (Mahasuci Allah). 

9. Membaca hamdalah di antara takbir yang diulang-ulang seperti berikut: 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ اللَّهُ أَكْبَرُ،اللَّهُ أَكْبَر وللهِ الْحَمْدُ

(Allâhu akbar, Allâhu akbar, Allâhu akbar, Lâ ilâha illallâh, Allâhu akbar, wa lillâhil hamdu

Artinya: “Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, tiada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, dan segala puji bagi Allah.”

Butir nomor 6-9 dibaca secara khusyuk dan umumnya dilakukan secara bersama-sama sambil menunggu dimulainya shalat Id. 

10. Aktif mendengarkan khutbah setelah Shalat Id. 

Aktif mendengarkan khutbah dilakukan tidak hanya dengan tidak berbicara kepada orang lain tetapi juga mendengarkan dengan seksama. Berbeda dengan khutbah Shalat Jumát, khutbah Shalat Id dilaksanakan seusai shalat. Oleh karena itu seusai shalat tidak sebaiknya meninggalkan tempat. 

11. Pulang melewati jalan yang berbeda dengan ketika berangkat.

Pulang melewati jalan yang berbeda dengan ketika berangkat sebetulnya tidak jauh berbeda dengan shalat sunnah ba’diyah di tempat yang berbeda dari tempat kita melaksanakan shalat fardhu. Hal ini tentu memiliki hikmah agar semakin banyak tanah terdapat jejak-jejak kita melaksanakan shalat yang diyakini sangat berguna kaitannya dengan hisab dan kesaksian di akherat. 

12. Bertegur sapa dengan ramah agar tidak digunjing orang.

Selama dalam perjalanan pulang menuju rumah hendaknya kita bertegur sapa dengan ramah. Hal ini pertanda sebagai kegembiraan umat Islam di hari raya sekaligus untuk menghindari gunjingan, misalnya karena dianggap bersikap sombong dan sebagainya.  

Demikianlah kedua belas adab menyambut Hari raya (Id). Keseluruhannya sebaiknya kita perhatikan dan jalankan dengan baik sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali. Semakin banyak adab yang bisa kita jalankan, semakin banyak kebaikan dan pahala kita dapatkan. Jika kita perhatikan dari kedua belas adab tersebut, kita ketahui bahwa butir nomor 1- 9 kita laksanakan sebelum shalat Id. Sedangkan butir nomor 10-12 kita laksanakan setelahnya. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta